Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Oktober 2017

Karya yang Berselancar di Arus Zaman

Sabrank Suparno *

Manusia wajib menikahi zamannya, hidup satu rumah sebagai suami-istri. Sementara zaman sebagai pasangan, adalah sosok yang tak bisa tua, sedangkan manusia sosok yang terbatas usia. Lantas bagaimanakah pergolakan bathin menyikapi pasangan yang konstanta?

Senin, 09 April 2012

Replikasi Kebudayaan Jawa

Sabrank Suparno*
Radar Surabaya, 26 Des 2010

Kebudayaan dalam perkembangan peradaban, selalu dilongok serius sebagai indikator corak yang mewarnai strukturalisasinya. Apa dan bagaimana kadar kebudayaan dalam kurun waktu tertentu, tak lepas dari proses sinergial yang memungkinkan terbentuknya power heterogensi kapasitas kualitatif ataupun kuantitatif.

Jumat, 27 Januari 2012

Gerilya Negri Sungsang I

(Catatan perjalanan di Desa Jono, Temayang, Bojonegoro)
Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

1. Keberangkatan

Setelah melakukan latihan ‘terakhir’ dalam proses naskah teater Negri Sungsang pada 20 Januari 2012, seluruh awak Komunitas Suket Indonesia berdiskusi khusus mengenai pementasan dua hari berikutnya tanggal 22 Januari di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro dan 23 Januari 2012 di Desa Maibit, Kecamatan Rengel-Tuban.

Gerilya Negri Sungsang II

(Catatan Pementasan di Desa Maibit, Kecamatan Rengel-Tuban pada 23 Januari 2012)
Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Ketika para aktor Negri Sungsang ikut berdiskusi seusai pementasan di desa Jono, personel KSI yang lain membongkar properti. Setelah dirasa perlengkapan terselesaikan, seluruh awak KSI berpamitan kepada tuan rumah. Secara tekhnis tidak ada perbedaan dengan kedatangan di Jono, begitu sampai di Balai Desa Maibit, Kecamatan Rengel-Tuban jam 24.30 malam, beberapa awak rombongan membantu setting panggung dan lighting. Persis ketika di Jono, dengan harapan esok harinya waktu hanya untuk istirahat total, kecuali jalan-jalan dan atau tugas lain yang terjadwal.

Jumat, 21 Oktober 2011

Tertikam Pena

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Juli selalu datang tepat waktu. Tak sedetik pun ia terlambat. Entah apa daya talentanya, yang jelas kedatangannya selalu diarak angin. Meski tak pasti bahwa angin adalah kekasih sejatinya, setidaknya angin mempunyai rencana sendiri! Yang benar-benar tau rahasia angin adalah Agus. Ya, Agus. Lelaki berambut ikal dan menyukai warna hijau daun. Beberapa hari ini Agus sibuk menyiapkan megaparty: memasang lampion, penjor, baleho, umbul-umbul, serta aksesoris perias ruangan. Agus sosok perjaka desa yang rutin merayakan ulang tahun kelahiranya.

Sejak bertemu pejuang bersimbah darah di tepi sungai sore itu, Angin merasa ada amanat diembankan ke pundaknya. Sekitar lima jam lalu pertempuran di balik bukit, usai. Peluru Belanda berondong semburat. Dada dan sarung pejuang robek. Darah mengucur, luka pun menganga. Angin mendapati sesobek surat wasiat untuk anak-istri yang terselip di saku celana. Kertas bercak darah itu tertulis // Aku membela negara. Putih kertas ini adalah perjuanganku. Jika aku mati, merah adalah darahku. Untuk mengingatku, pasanglah merah putih di halaman rumah tiap ulang tahunku. Jika aku kembali, dan negara damai, kita besarkan anak-anak dan menikahkannya //. Kedatangan angin sesungguhnya hendak menyampaikan surat tak beralamat itu.

Juli berjalan menunduk. Orang yang mengenalnya selalu mengahiri kata’gadis baik nan sopan’ di ujung prasangka. Juli terkesan murah senyum. Apalagi saat ia melangkah dengan sepatu kebanggaannya. Hanya sepatu butut. Bukan sepatu kaca Cinderella, atau hadiah kekasih tercinta.

Akhirnya terwujut juga keinginan Juli, yakni memakai sepatu yang diidamkan sejak kecil. Saat di bangku sekolah dasar, Juli kerap dilempar Bu Guru kapur tulis. Manakala guru menangkap basah tatapan mata Juli tak tertuju ke papan. Juli kecil itu membayangkan suatu saat menjadi guru dan memakai sepatu

Pulang-pergi ke kampus, Juli melewati ruas jalanan yang sama. Namun ketika di bulan Juli, rindang jalanan berbalik fakta. Dedaunan lebat memayung yang senantiasa menghalau garang matahari, kini pongah. Klorofilnya tak tampak. Tinggallah jelagar ranting meruncing di pepohonan gundul.

Ilalang melambaikan tegur sapa. Andai bersuara, pasti berteriak memanggil dengan pucuknya. ”Juli, di sepanjang jalanan ini, dulu kau gadis belia, kini sudah perawan, hingga sekarang nona, walau belum dipanggil nyonya, tetap saja engkau wanita yang memiliki perempuan.” Canda ilalang sedari mengamati Juli tiap hari. Dedaunan pun senada ilalang. Ungkapkan perasaan serupa. ”Sejak berupa saripati tanah, aku sudah mencintaimu. Aku memasuki cela pembulu akar dan protoplasma hingga membentuk hijau daun, namun tak jua engkau kunjung menjamah. Maka aku menguning pada kesempatan yang hanya sekali ini, rontok di musim gugur. Tak lebih yang aku inginkan, dapat jatuh melayang menerpa rambutmu. Kalau pun tak menyentuh, esok aku berharap tersandung sepatumu atau kau injak. Cukup puas bagiku.” Ujaran daun yang gerguguran.

***

Samber bersandar di kursi putar. Sejak 20 tahun lalu ia menjadi lelaki dingin. Bermata dingin. Tubuhnya kerap menggigil hingga usia pertengahan abad. Cairan darah Samber tak sepenuhnya merah. Sepertiga endapan terdapat homoglobin menghitam pekat.

Dahi lelaki itu bergurat parit kecil. Dimana aliran kekecewaan mengalir gemercik dari hulu kegagalannya meraih sarjana. Malam-malam kesendirian Samber seringkali menggumpal. Terbang menjelma awan, mendung, dan deras hujan. Lengkaplah kedinginan Samber. Apalagi saat memori masa mudanya terputar ulang. Masa tatkala gairah menulisnya gencar menyerbu alamat editor koran harian. Tulisan tulisan yang ia kirim sukses masuk keranjang recyikle sampah editor. Sejak itu ia membenci kata’editor’. Tubuh dinginnya seketika panas. Kepalanya menjadi kuwali di atas tungku perapian. Otaknya umup, gejolak, munclak-munclak. Sesibuk apa pun Samber menyempatkan tangannya mencoret sebaris kata itu. Redamlah dendamnya.

Tak selamanya mendung terus merundung. Bibir tebal Samber sesekali tersenyum. Meskipun lelaki setegah abad itu tak tau persis jenis senyumnya, cengir, sinis, ramah atau kecut. Yang ia tau bahawa kursi putar dan rumah seharga 1 milyar murni hasil kerja kerasnya.

Tiga puluh tahun silam Samber nyelinap dalam kamar bapaknya. Tak sulit bagi orang serumah menggeledah barang sembunyian. Pthok D, tanah. Berbekal sebidang sawah di timur desa, ia jual. Kini samber menjabat direktur utama sebuah percetakannya sendiri.

Hari-hari dingin Samber tak terlalu menggigil. Manakala kesibukan menangani percetakan terbukti mencuri kekosongan waktunya. Saat mengenaskan baginya adalah ketika Desember tiba. Hujan tak hanya mengguyur mobil mewahnya. Kasur dan seisi ruangan pun turut basah. Tidurnya tak tetap. Perjalanan launching keberbagai wilayah tepaksa memboking kamar hotel.

Laptop baru dinyalakan. Kursor bergeser ke satu file. Dimana data para penulis wanita sudah dicawang. Deretan foto-foto dikomentari berbagai macam: keunikan, kelebihan, berapa lama saat dengan mereka dan berapa banyak alokasi biaya untuk masing-masing wajah.

***

Juli lunglai di kamar. Tugas kuliah kembali menimbun. Apalagi beberapa dosen binal kadang minta dibelikan buku yang mereka cari. Kantong saku Juli pasti terogoh. Tugas dan sekaligus nambahi koleksi perpustakaan sang dosen. Maklum, Mahasiswi kadang tak banyak membantah.

Mata lelah Juli berselancar menatap pantat buku-buku koleksinya yang hampir seribu biji. Lima puluh diantaranya ia beli dari koceknya sendiri. Dari pantat buku-buku itu, memori Juli terurai. Apa judulnya? Warna sampulnya? Siapa pangarangnya? Tentang apa tulisanya? Dan berapa tebal halamannya? Buku sebanyak itu bagaikan hamburger ketika Juli mengeledahnya.

Tiap helai lampiran buku baginya sebilah pedang yang tak henti menyayat dan mencerca. Ia mengejar para penulis di pantat buku itu, dengan gamang. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ternyata tidak menjadi jaminan. Belum satu pun pantat buku itu tertulis namanya. Dihadapan buku memang serasa terpendam gunung ilmu beratus-ratus-abad.

Sejak percetakan konvensional merasa bunuh diri jika menerbitkan buku satra, Juli kehilangan harapan. Beberapa karya yang usai ditulisnya, tak bermasa depan, suram dan muram. Percetakan gurem memang merajak. Tetapi baru mencetak sesuai uang pribadi penulis. Tak mungkin percetakan gurem dia tempuh. Sedang Tunggakan bayar kuliah saja ia harus membuka laundry di samping rumahnya.

Kelelahan Juli tersentak nada sms. Nada polyponik yang tak pernah dirubah. Nada itu terasa menggema. Sebab, nada itulah saat-saat Juli menunggu kata cinta mantan kekasihnya. Meski tak mungkin bersama, ingin rasanya waktu berputar kembali. Ada galau, rindu, benci, penasaran, harapan, dan takut kehilangan berbaur menjadi irama pembusukan. Irama yang sering ia rasakan. Lima lelaki sudah hengkang dari cintanya. Demi ambisi perlahan mereka didepak minggir.”Maaf, lelaki bagiku nomer sekian. Aku ingin jadi orang ternama dulu.” Sumbar prinsipnya. Demi prinsip kadang seseorang rela terhempas gundah gulana nan kering kerontang. Jenis cinta yang mengalir dalam tubuh moleknya bukanlah cinta sepenuh hati. Cinta sepatah yang tak memiliki militansi. Cinta hanya sekedar, dan lalu bubar.

Wanita cukup usia itu menghela nafas. Sms dibaca ulang tiga kali. Seraya tangan mengepal da..n ”yess.” Expresi wajah khas kegirangan. Handphon berlayar kuning Juli memuat sebaris kata, ” Saya direktur sebuah percetakan. Merekomendasikan tulisan anda untuk kami cetak. ttd: Samber.” Belum usai keriangan, sms berikutnya nyeruduk.” Untuk memfollouw up percetakan buku anda, dua hari lagi kita bertemu di Café Pringgodani pojok kota.” Sms itu bagai kerlip bintang jatuh ke tengah mesyia. Bagaimana pun harapan adalah hal yang menjenuhkan. Apalagi jika tak pasti.

Dua hari terasa lamban bagi Juli. Ingin rasanya ia menjaring matahari lalu menenggelamkan ke dasar senja.

Juli tersanjung di Café itu. Ia ditemui direktur percetakan bermobil mewah. Setelah 20 menit bercakap,” ini uang saku cuma-cuma, soal tanda tangan kontrak kita selesaikan hari berikutnya,” tukas direktur sembari menyodorkan 3 gebok uang satu jutaan.

Wanita lembab itu tak percaya. Kepakan sayap jurnalis yang tertancapkan di dadanya, patah. Tenyata karya tak harus bermutu, cukup gethol gaet relasi, koncoisme, dan cukup uang, gampang terkenal.

Sebentar lagi foto Juli dipastikan memenuhi cover halaman beberapa surat kabar. Dia akan duduk sederet dalam undangan seminar, workshop, pelatihan bersama Ayu Utami, Lang Fang, Abidah El Khaleiqy, Habiburrahman. AA.Navis dll. Ia juga akan sibuk mondar-mandir ke airphot membeli tiket, take of dan boarding keluar pulau.

Selamat tinggal masa lalu. Januar, Febri, Martin, Junaid dan rekan sejawat yang mendukung cita-citanya benar-benar lanyap. Bagi Juli adalah Samber. Dialah yang segera menerbitkan bukunya. Juli tetaplah Juli. Wanita. Ia berparas Hawa, berbedak Shinta. Ia melompati pagar Lesmana demi mengejar kijang emas kancana. Tangannya memegang Jemparing Jentik Gumala Netra.

Deras hujan menghapus siang awal Desember. Kemarau yang lambat membuat petir beringas. Cambuk kilat menyala dari celah rongga langit, dan menggores tepian mendung. Orang orang sering bergurau tentang Geledek yang menabrak apa saja. Maklum geledek / petir cuma ada sopir, tak ada kernek / pengawalnya.

Di depan laptop Samber mengocok kartu. Gambling tiga juta baginya sudah biasa. Tinggal menunggu waktu antara menang atau kalah. Data penulis wanita sudah dicentang semua. Sejumlah helai jenggotnya. Sisah data terbaru hanya dikomentari tanda tanya.

***

Juli dan motor bututnya melaju kencang membelah rintik hujan. Bagi dia urusan kepenulisan adalah panggilan jiwa. Apalagi mencetak sebuah buku, dibutuhkan militansi tersendiri. Hingga petir hanyalah petasan meletus di bulan ramadhon.

Sejam lalu sms direktur Samber menyusup ke handphon Juli. Meminta ia segera menemui di hotel pojok kota. Pasti perihal percetakan buku. Sesampai di Hall Balai Room Lobby Hotel, direktur Samber telah menunggu. Meja di hadapannya tertuang segelas kopi, dan di sandingnya sebuah buku. Cover depan tertulis jelas nama’ Penulis Juli’. Tangan Juli segera menyabet impian yang didamba bertahun-tahun. “Ahh, ahirnya tertulis juga namaku di pantat buku,” ujarnya girang.

Samber mengajak Juli mengambil satu kardus buku lainnya. Direktur Samber hanya membawa beberapa saja buat contoh. Juli berfikir wajar. Tak mungkin direktur membopong kardus ke Balai Room. Mereka menuju kardus di kamar yang dicek-in sejam lalu. Canda keakraban mewarnai keduanya. Layaknya patner kerja yang baru saja mengegolkan popularitas. Keakraban penulis dan penerbit. Ini suatu kehormatan bagi Juli. Rasa sungkannya menebal. Bahkan ketika bos penerbitan menyodorkan softdrink kalengan. Juli serasa diperlakukan seperti anak sendiri. Di kamar itu mereka memperbincangkan banyak hal. Tentu tentang poin marketing bukunya di beberapa komunitas sastra. Mengenai apa dan bagaimananya.

Tertangkap basah hujan, Juli masuk angin. Keringat dingin mengucur, mual, kepala pening, ribuan kunang tiba-tiba beterbangan penuhi ruangan. Tumben, masuk angin begitu mendadak. Yang janggal dari rasa mualnya disertai rangsangan. Kesadaran Juli melayang, dan tubuh wanita itu tergeletak. Antara sadar dan tidak, Juli merasakan rangsangan hebat. Ia seperti kembali saat menulis di meja kamarnya. Kala senggang menunggu ide, ujung pena digoreskan ke bibirnya. Terasa geli memang, tapi ia menyukainya. Ujung lancip pena dimasukkan ke mulut dan dengan lincahnya lidah Juli segera mengulum lumat batang keras bolpoin yang ia genggam.

Ia pernah berfikir sejenak. Apa kelebihan tulisannya? Hingga direktur Samber membidik mencetak. Padahal diantara penulis lain, jauh lebih layak untuk dicetak. Mungkin faktor keberuntungan saja. Pada suatu acara temu jurnalis, Juli pernah dikritik penulis senior. Perihal tulisan dia kurang greget, suspans yang ia bangun, tidak menggetarkan buhul persendian pembaca. Sejak itu Juli kerap menyisipkan paragraf aroma wangi selakangan yang didalami saat di bilik kecil warnet. Bahkan ketika marak kasus heboh Aril-Luna, Aril-Cut Tari, tak disia-siakannya. Agaknya direktur Samber memang sepesial penyadap tulisan berbau hot. Penulis tak mungkin jauh dari tulisannya.

***

Selaku aktor utama yang sekaligus sutradara cerita ini, Samber segera melakonkan perannya. Tubuh lunglai Juli dibopong ke atas ranjang. Jari-jemarinya cekatan menguliti tabir, da..n! Baju mereka berserakan di lantai. Samber gemetar juga. Meskipun hal yang sama pernah dilakukan pada mangsa yang lain. Ia terpukau pada eksotik pemandangan luas terbentang dari sabang sampai merauke. Samber segera menjadi pejalan jauh. Dilintasinya bukit, gunung, lembah dan goa. Dalam dinginya, bibir tabal Samber berdesir, ”penulis, tak selamanya harus menulis. Ada saatnya penulis juga harus ditulisi, hobi editor adalah menyetubuhi tulisan,” ujar kekurangajaran Samber.

***

Dua belas tahun sudah berlalu. Sejak kejadian itu nomor handphon Samber tak bisa dihubungi. Tinggallah Juli sendiri dalam luka yang ia rawat hingga mengangah. Ilalang dan dedaunan tetap menyapa. ” Dulu kau gadis belia, kini sudah perawan, dan sekarang nona, meski kau belum dipanggil nyonya, tetap saja engkau wanita yang memiliki perempuan.”

(Jombang, Juli-Agustus, Jombang 2010)

Jumat, 26 Agustus 2011

Sastra di Titik Persilangan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Memimpikan kata ‘perubahan’ di Indonesia, sama halnya mengidamkan hadirnya sebuah revolusi. Tentu banyak pilihan di dalamnya untuk berkiblat, ada revolusi yang berdarah-darah (simak detik-detik terhangat revolusi Mesir), ada pula revolusi ‘aman saja’ (sluman, slumun, slamet yang terjadi di Iran). Revolusi sesungguhnya bermakna membongkar keburukan ‘kita’secara menyeluruh dari berbagai segi.

Setiaknya ada dua syarat yang bisa menyebabkan terjadinya revolusi menurut pakar politik DR. Ruslan Abdul Gani. Pertama: Tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap hukum, hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kedua: Terjadinya gab, kesenjangan yang akut antar dua kubu. Revolusi adalah hasil perkalian dua syarat tersebut.

Kilas tahun 80-an, ketika Indonesia ingin menyamai Malaysia dengan pendapatan 2000 dolar/kapita/tahun, Polandia sudah mencapai 20.000 dolar/kapita/tahun.,Artinya secara perekonomian Polandia berada pada taraf kemapanan, namun karena terjadi gab dengan pemerintah, maka terjadilah demonstrasi buruh besar-besaran yang menggulingkan pemerintahan setempat. Samahalnya dengan Rhu Tai Wu yang berkorupsi tidak lebih dari 50 juta, beresiko digulingkan rakyat Korea Utara. Kedua permasalahan di atas, terjadi semata karena kesadaran masyarakat yang tinggi serta terjadinya suatu gab.

Indonesia yang multikultural dengan basis wilayah kepulauan terpencar, tidak memungkinkan terjadinya revolusi, ada banyak sekat yang berpotensi sebagai hambatan. Sebab, dasar revolusi sendiri bertumpu pada demokrasi, sedangkan demokrasi yang mampu diterapkan di Indonesia hanyalah demokrasi ‘godokan’ yang tak pernah matang. Jargon demokrasi perlementer atau demokrasi terpimpin yang dipopulerkan Soekarno hingga demokrasi ala orba, mokal bisa menampung aspirasi beragam pada segilintir orang. Yang terjadi kemudian adalah peluang distorsi dan penyalahgunaan kepercayaan yang disebut pseudo demokrasi. Titik kerancuhan demokarasi pada negara multikultural tersebab sistem baku, yakni adopsi menguniversal, sementara di sisi lain mempertahankan nilai lokal. Inilah kesulitan tersendiri di Indonesia.

Demokrasi godokan ialah tawaran para teoritikus seperti pengamat politik Affan Gaffar (1999) yang mengintroduksi gagasan demokrasi tak lumrah (un-common democracy). Demokrasi yang berpilar pada kekuatan dominan (partai-non partai) dengan setidaknya didukung 60% kekuatan suara. Indonesia dengan pemilahan dan segregasi aspek sosial-budaya, berbeda bentuk dengan model Amerika, Australia, Kanada, Inggris dan Perancis (Pengantar: Richard M. Ketchum. Demokrasi. Niagara 2004).

Buku ‘Indonesia Tanpa Muhammadiyah dan NU’ yang ditulis oleh Teguh Santoso dan Harianto menjadi sumbangsih besar bagi generasi muda Indonesia. Kalau Indonesia ditakdir ber-revolusi damai seperti Iran, maka Teguh Santoso-Harianto jasanya sejajar Murtadha Mutohari. Di mana ketika Ayatulloh Khomaini mengambil alih seluruh aset dan simpati masyarakat atas rezim Reza Pahlevi, adalah Murtadha Mutohari yang jauh sebelumnya menjadi rausyanfikr (intelektual muslim) dengan karya-karya bukunya.

Berangkat dari kegelisahan penulis ketika mengamati dua organisasi keislaman terbesar di Indonesia yang acapkali berseteru, berebut pengakuan sebagai ponak ane GustiAlloh, menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar di hadapan Alloh, dan jika tidak menganut ajarannya maka tidak akan mereka (salah satu organisasi antara NU-Muhammadiya) masukkan ke surga. Sedang di sisi lain, terbentuknya NU-Muhammadiyah merupakan ekspresi masing-masing golongan untuk memaknai demokratisasi yang memuat hak asasi manusia. Berangkat dari sanalah buku ini lahir, sebagai alternatif menyisir kemubadziran kiprah ke dua belah pihak.

Buku setebal 171 halaman ini menyerupai novel yang tersusun menjadi 20 sub judul. Meski pun berupa karya ilmiah yang syarat dengan analisa dan data otientik, buku ini masuk dalam kategori sastra, sebab penulis menuangkan penceritaannya dengan gaya dialog imajiner. Penulis membangun ‘ceritanya’dengan intensitas teks ke dalam bingkai rasionalisasi sastra. Penulis apapun sesungguhnya adalah pencerita, ia menceritakan kepada pembaca dengan berbagai metode: esai, opini, artikel, puisi, cerpen, novel dll. Namun bentuk sastra semacam ini, belum berkembang di Indonesia sebagai genre.

Kelebihan buku Indonesia Tanpa Muhammadiyah dan NU ialah memuat multidisipliner, sastra dan agama (Islam) yang memungkinkan bertempat di rak pembaca. Sastra: karena disusun berdasar metode dialog imajiner. Agama Islam: karena dikhususkan bagi warga NU-Muhammadiyah yang tertulis jelas pada lembaran awal /dipersembahkan bagi semua yang merindukan bersatunya Umat Islam /(hal.ix).

Pada dialog pertama yang berjudul ‘Muhammadiyah dan NU meng-Global’, kedua penulis menghadirkan dua tokoh K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari yang hadir dalam Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogja. Kedua tokoh kondang di Indonesia itu duduk dan ngobrol di angkringan (warung khas Jogja). “Selamat ber-Muktamar ya Kang. Wah, aku nggak ngira sudah seabad usia Muhammadiyah.” Kedua tokoh ini memang pernah berguru pada Syeikh Ahmad Katib Minangkabawi, ulama besar madzhab Syafi’i di Makkah. Mereka berdua bahkan pernah sekamar ketika berguru pada K.H Sholeh Darat di Semarang. “Iya Cak. Maturnuwun. Se-abad memang usianya, tapi pemikirannya, gerakannya…” “Lho, La piye to kang? (hal.9)

Dari percakapan di atas alur buku ini dimulai. Ke dua tokoh dikemas dengan rasionalisasi kebudayaan berbahasa Jawa Timuran dan Jogja dengan nuansa paseduluran yang angglek. Ke dua tokoh yang digambarkan sebagai momentum padatan ulang baik fisik maupun psikologis K.H Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari kemudian memasuki wilayah perbincangan panjang-lebar seputar carapandang mereka berdua terhadap organisasi yang meraka dirikan dari kontek (praktek) kekinian. Beberapa alur suspansi terbangun dengan perdebatan kedua tokoh yang saling mengkritisi, menyarankan, mengkaji kelemahan serta kekurangan masing-masing. Sungguh, pembuka teks dengan kemasan alur yang mengesankan.

Kedua tokoh NU-Muhammadiyah tersebut digambarkan berada di tengan kerumunan massa Muktamar. Namun penulis seperti menceritakan hal lain di luar teks, yakni baik aktivis NU maupun Muhammadiyah, tidak ada yang mengenali wajah sesepuh pendiri organisasi yang mereka takdzimkan. Ada apa sesungguhnya dengan ke dua aktivis organisasi besar NU-Muhammadiyah sekarang ini? Lebih jauh terjawab kemungkinannya adalah penyelewengan gerakan yang berorientasi pada kepentingan individu atau golongan semata. Tidak murni mengenali pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari dengan hati nurani, jelaslah terhijab.

Buku ini menggambarkan potret ijtihat penulis yang mendamba pada dua hal pokok. Pertama: Metodologi formil sastra relegius. Kedua: Menawarkan genre sastra baru yang berbeda tekhnik penarasian dengan cerpen dan novel. Sastra relegius yang dianut penulis sedikit mencair dari sekedar kaidah Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim) yang menjadi poros tengah dari pertentangan kubu Lekra vc Manikebu. Lesbumi yang diproklamirkan Asrul Sani, Djamaludin Malik, Umar Ismail, tahun 1962, tegas menolak jargon’Politik sebagai Panglima (kebudayaan) . Lesbumi tidak menyepakati konsep Lekra jika sastra hanya sebagai budak tunggangan realisme sosial semata. Begitu juga tidak mengamini Manikebu dengan manipulasi tanggungjawab bahwa sastra hanya berkutat pada ‘seni untuk seni’. Keduanya dicakup Lesbumi dengan rel yang tidak melepaskan sastra dari fungsi sosial dan komunikatifnya dalam penuangan intern sastra. Lesbumi juga menegaskan bahwa’isme’dalam berkesenian tidak penting, kecuali sejauh mana berkesenian mampu menyertakan nilai ke-tuhanan (baca Lesbumi Strategi Politik Kebudayaan LKiS 2008. hal.61).

Cara tematik yang diusung penulis setelah wareg meriset berbagai kebobrokan sistem, dan khatam nyawang dedikasi yang dihasilkan para petarung aliran 60 tahun silam. Semua tahu! Bahwa dedengkot sastra hingga tahun 2000 ke atas, kelakuannya tidak kunjung menempati makom ke-tua-annya sebagai anutan generasi muda bangsa, kian tua, kian dancuk an. Al khasil, jika yang bernilai agama saja masih kebobolan nafsu, apalagi yang lepas dari tuntutan nilai, meskipun tak tentu. Andai pun terlepas dari kesusasteraan Indonesia, buku ini hanyalah upaya penulis untuk ndandani perselisihan rumahtangganya-NU-Muhammadiyah.

Ketegangan membaca alur buku ini akan terjedahkan tekhnik humor penulis. Pada dialog ke empat misalnya, perbincangan serius KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asy’ari terhenti gara-gara seorang copet yang tertangkap dan digebuki beramai-ramai. Si copet, kaosnya bertuliskan Muktamar NU. Tak lama kemudian tertangkap seorang penodong, dan dikeroyok massa. Si penodong, kaosnya bertuliskan Muhammadiyah Gerkanku. Disusul anekdot berikutnya yang memerankan para pentolan NU-Muhammdiyah menjalin hubungan damai. Di mana PBNU dan PP Muhammadiya menggabungkan pertai baru bernama NUMU atau MUNU, Dien Syamsudin dan Said Agil Sirodj membentuk Partai Bumi Matahari (PBM), Ulil Abshar dan Daruqutni membentuk Partai ANUMU, Gus Mus dan Abdul Munir Mulkan membentuk Partai Independent NU Muhammadiyah, Muhaimin Iskandar dan Hatta Rajasa membentuk Partai Kebangkitan Nasional (PKN), sedang Yeni Wahid dan Hanif Rais membentuk Partai Gus Amin (PGA).

Wacana akan terus berpolah dari sekedar teks naratif. Berikutnya, nasib buku ini dihadapkan pada dua tataran. Pertama: Menjadi irama pembusukan militansi dari sekedar berorganisasi dan kemudian menuju damai. Kedua: Senasib dengan cerpen ‘Anjing dari Titwal’ karya Sa’adat Husein Manto yang diterjemahkan Anton Kurnia (Jalasutra 2003). Cerpen yang mengisahkan seekor anjing dengan aman blusukan ke kamp militer Pakistan dan kamp militer India di perbatasan. Namun ke dua moncong senapan segera saling membidik ketika anjing persis berada di garis perbatasan. Jangan-jangan! Anjing mata-mata? Padahal hewan tak sepantasnya dijadikan manusia.

*) Sabrank Suparno, esais, cerpenis Jombang. Bergiat di Lincak Sastra Dowong.
*) Makalah bedah buku Indonesia Tanpa Muhammadiyah dan NU, karya Teguh Santoso-Harianto di KOMA Tambakberas, pada 22 Juni 2011.

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Banyak waktu untuk masalah kecil. Banyak waktu untuk masalah besar.
Sedikit waktu untuk masalah kecil. Sedikit waktu untuk masalah besar.”

Puisi adalah hasil sadapan peristiwa alam semesta, di mana permasalahan yang amat gigantik dirangkum dan diperas sedemikian rupa menjadi santan, hingga sedemikian ringkas, padat, kental dalam satu rasa dan makna. Dari seribu permasalahan misalnya, puisi bisa merekam efektif mendekati target nominal yang sulit dicerpenkan, apalagi dinovelkan. Itu sebab, puisi kerap sebagai jalur paling ramai dilintasi sastrawan pemula sebelum merambah ke wilayah yang lebih lebar cakupannya: cerpen, novel.

Sastra (puisi) seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaimana perjalanan sejarah, sastra tak luput dari pertarungan ‘trik-intrik’pengibaran bendera: sebutlah yang paling dikenal dengan aliran realis dan surealis, keduanya gigih menyiapkan jala untuk menjaring alasan mengenai siapa yang paling mendekati (limite) fungsi sastra ketika dihadapkan pada disiplin ilmu lain. Namun, terlepas dari pengibaran bendera dimaksut, sastra tetap lahir laksana gaung pertapa dari dalam goa, ia nyaring dari gesekan ‘sreekk’ tapak kaki perantau di bebatuan cadas, ‘nyess’ lesapan air di padang gersang, atau ‘creass’ dari clorotan jatuhnya meteor di angkasaraya.

Usahlah sastra dituntut berdisiplin dengan ilmu lain, sebab ia merupakan unsur kelembutan, serupa ‘sel lentik’ dalam berbagai keilmuan. Hanya saja, sejauh mana pengudalan sastra dilakukan secara singkronik dalam ilmu lain.

Kehilangan sastra dalam berbagai lini keilmuan, samahalnya melempar segumpal kerinduan jauh ke lorong hal paling sunyi. Keadaan demikain, disadari atau tidak, pada kadar dan kurun waktu tertentu akan terserap oleh daya gravitasi pertemuan atas berlangsungnya kelayakan sebuah ekstase. Kenyataannya, tidak ada yang terputus dalam sastra, seumpama snapsot, berdiri di tepian tebing dan beberapa detik kemudian terjungkal bersama lengkingan selamat tinggal dan terjerembab ke jurang kematian sejarah. Di mana pun, tidak ada pedang bersilang linier yang memenggal urat nadi sastra secara tragis dan menggelepar, yang terjadi adalah tangis siklikal jabang bayi sebagai pananda kelahiran sastra garda depan dari rahim senja artistik silam (Esai Nostalgia Pengantin Sastra).

Membaca buku Antologi Puisi ‘Mobilisasi Warung Kopi’ karya Aditya Ardi Nugroho (Genjus), mengingatkan saya ketika nyeruput segelas kopi di beberapa warung. Ada kata kunci di sana: namanya tetap sama, yaitu kopi, tetapi berbeda rasa. Di kawasan panas pantai Kuta (Bali), tidak senyamleng pegunungan Trunyan-Kintamani dan Bedugul. Atau di perbukitan Asta Tinggi (Sumenep), berbeda dengan sekitaran industri Krakatau Still (Merak). Bahkan di tanah kelahiran sendiri (Jombang), antara warkop Yudar (Nglele), Mak Siti (Ringin Contong), Mak Muhsini (Gebangmalang), berbeda dengan warkop P. Tris (depan kampus SKIP Jombang), warkop Assalamu’alaikaum (gerbang UNMUH Malang). Ada banyak faktor pembeda yang berkaitan dengan seduhan, kemurnian, campuran serta suasana. Di sini Genjus berperan dalam 96 tuangan puisinya yang dikemas hingga 106 halaman.

Sebagaimana Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum selaku pengantar buku ini, saya tersentak. Apa yang misterius dari sosok Genjus, mahasiswa jebolan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang, hingga kumpulan puisinya tidak bisa dibilang pemula. Genjus meyeduh kerja puitika sedemikian tulus dan ulet untuk di persembahkan ke pembaca. Kerja puitika dimaksut ialah bagaimana Genjus mencari atau mewadahi intuisi, menentukan stilistika, tema, pencitraan, serta meramu berbagai genre puisinya.

Ada sekitar 20 jenis lirik puisi Genjus jika ditinjau dari 35 jenis lirik yang dikategorikan oleh Sutejo dan Sugianto dosen STKIP Ponorogo (Apreseasi Puisi, Pustaka Felicha, 2010). Banyaknya jenis lirik dalam buku ini, penulis sengaja menjebol sekat-sekat aliran dari gawang perpuisian yang kian rusuh dengan pertentangan. Bagi Genjus, pertengkaran kubu yang terus menerus, tak ubahnya orang yang bersikukuh berebut ‘benar’ dan ‘tua’ hingga eyel-eyelan sampai mengeluarkan KTP. Lucu.

Mantabnya, semua jenis puisi Genjus berdisiplin dengan A. Teeuw yang mengikat puisi tidak lepas dari kode bahasa, kode sastra dan kode budaya.

Puisi berjenis Hukla yang enak dipanggungkan, dapat kita temukan pada Surat Kaleng (hal.85), Sri Nangis Lagi (hal.86), Orang-Orang Panggung (hal.105). Puisi ini setara dengan Kembalikan Indonesia Padaku (MAJO, Taufik Ismail). Ratapan batin Genjus, terekam dalam warna elegis / karena aku hanya tembakau murahan / digulung dalam papir lusuh, beringsut, baunya kecut (Bersetubuh Siksa). Sedang yang paling privacy disembunyikan dalam puisi kamar / hening cipta / mati rasa (Yang Maha Sepi,hal.24) persis dengan puisi M. Fauzi Madura /di Sinai, ayat ayat itu mentasbih perjumpaan kita / rindu yang lahir berabad, berbetahbetah di ujung batumu (Horison, April 2006). Ada pun jenis lirik yang lain tersebar dan larat di sepanjang lanskap buku ini, semisal: Prismatis (Titik Habis, hal. 81), Diafan (Sri Nangis Lagi), Dramatis (Global Warning, hal. 91), Didaktis (Jagal Raya), Humoris (Gegar Otak), Romantis (Dia Wanita Militan), Metafisikal (Reaktor), Ode (Ibu, Ode Buat Aku), Kontemporer (Sepenggal Gerimis Untukmu), Naratif (Karnaval), Parodi (Kremasi Puisi).

Kejanggalan beberapa puisi dalam buku ini, seperti cerminan usia penulis yang masih dituntut sublimitasi karya, di mana hal yang adonis sekali pun tidak harus diungkap secara vulgar. Dalam Ode Buat Aku, penulis bertingkah narsis dengan mempahlawankan dirinya, tidak seperti Ode Buat Gus Durnya D. Zawawi Imron. Pengaruh usia juga terlihat dari lemahnya puisi bernada Parnasian yang menggarap puisi atas pertimbangan ilmu dan peningkatan ekonomi. Demikian juga tanda Platonik yang memasuki wilayah Tuhan dengan sangat mesra seperti Hamid Jabbar dalam judul puisinya Ke Puncak Diam / setiap langkah adalah darah / mengucap kejadian pasrah / yang bersipongah ngngngnggg / dari lengang ke lengang ngngg / ke dalam jeram / alirkan salam ke puncak diam.

Kepedulian buku ‘Mobilisasi Warung Kopi’ terhadap ketimpangan sosial, dapat dianalisa dari perbandingan puisi Satire yang mendominasi keseluruhan tema hingga 62 % dibanding puisi lainnya yang berjenis romantis, elegis, epigram, liris dll. Satire bukan puisi bisu yang tak andil merubah rezim Suharto hingga pergolakan Nazaruddin di tubuh Partai Demokrat. Di sini Genjus menempatkan barisan bersama Rendra dan Wiji Tukul yang menyorong puisinya ke mobilisasi pemberontakan dengan pamflet (Peniup Peluit, Harakiri, Haru Biru Air Matamu, Kesaksian Cacing, Surat Kaleng, Sebatang Paradoks). Meski pun masih mengekor, akan berbeda suguhannya jika Genjus menggeser bentuk budaya puisinya dari puisi Rendra. Sebab kebudayaan sebagaimana kekekalan energi tidak akan hilang dari naluri manusia, tetapi bisa berubah bentuk (Setya Yuwana Sudikan, makalah seminar di STKIP Ngawi 18 Januari 2011).

Buku ini penting bagi pembelajar sastra. Pembaca dapat mengutip bagaimana cara penulisnya merefleksi kejadian sesaat menjadi rekaman abadi secara baik dan benar. Sikap brilian penyair ialah ketepatan menguasai situasi dalam perubahan dadakan: Sesaat yang mempertaruhkan nilai. Itulah Genjus dengan karyanya.

*). Sabrank Suparno. Esais Jombang. Bergiat di Lincak Sastra Dowong. Tim pengelola media web: www.Sastra Indonesia.com.
*) Makalah bedah buku Antologi Puisi Mobilisasi Warung Kopi, karya Genjus, di HMP Bahtra Indonesia STKIP PGRI Jombang, pada 18 Juni 2011.

Kamis, 09 Juni 2011

Ufuk Mentari Fajar di Kampus Undar

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Malam pelataran kampus UNDAR tanggal 4 Oktober 2010, berbalik fakta dari malam-malam sebelumnya. Pasalnya keheningan terpecah oleh lalu-lalang deru mesin di tikungan Jl. Gatot Subroto dan Jl. Merdeka ditambahi riuh mahasiswa baru yang mungkasi prosesi ospek dengan penghujung acara inagurasi.

Sebagai endosmen, rekan Ani Rahma, Loly dkk selaku mahasiswa senior menggembleng 498 calon pembelajar jagat baru di UNDAR tersebut dengan atribut ORMADU (Orientasi Mahasiswa Darul Ulum). Penggemblengan dimaksudkan agar calon mahasisiwa benar-benar berkepribadian tangguh dalam menyikapi tuntutan jaman dengan problematika gigantiknya. Seperti dilangsir Jawa Pos Radar Mojokerto-Jombang tanggal 3 Oktober 2010, rektor UNDAR dr. Ma’murotus Sa’diyah M Kes mengatakan” kebebasab ber-ekspresi dan beropini mahasiswa sangat kita dukung. Bahkan untuk berdemo sekalipun.” Motifator tersebut didasarkan kiprah Helmi Faishal mantan domonstran UNDAR yang kini menjabat menteri Pembangunan Daerah Tertinggal.

Panitia memuncaki malam inagurasi dengan penampilan ‘puisi teatrikal’ yang diperankan Ani dan Ulfa atas binaan Mentari: peteater lawas yang pernah bercokol di UNDAR pra2007an. Teater Mentari ini didirikan Tito Kadarisman pada 9 Nopember 1999 dengan angota awal 9 orang.

Mahasiswa senior sengaja mendatangkan personil jebolan teater Mentari, dengan gagasan menghidupkan kembali perteateran di UNDAR yang vokum sejak tahun 2007. Meski tak sepadan Robohnya Surau Kami novel karya A.A. Navis, sanggar tempat mangkal teater Mentari mulai didengser, dan jadikan ruang perkuliahan. Sejak itulah Mentari seperti beranjak menghampiri senja dan menziarahi malam. Selain terputusnya regenerasi juga dukungan pihak kampus yang berangsur luntur. Pegiat teater Mentari kemudian melakonkan sutradara alam semesta sebagai alur teater kehidupan. Bagaimana pun juga, hidup ini merupakan teater yang harus dimainkan dengan ‘diri’ sebagai aktor utama sekaligus pendamping dalam kecimpung bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Puing reruntuhan teater Mentari ibarat ambrolnya tembok surga. Ini terbukti dari beberapa awak personil seperti Latif kini menjadi sesepuh teater di Tuban. Bersama naskah Euthanasianya, Latif pernah manggung persahabatan di kandang teater Ringin Conthong (RC-STKIP Jombang). Sedang Tohari kini menjadi pialang teater Roda di UNISDA Lamongan. Personil lainnya seperti Glewo, Sinyo, Saiful, Gamblis, Hadi Sutawijaya, Erina dll, tercecer dan sesekali meluangkan waktunya mendiklat perteateran atas undangan. Di antara ceceran awak teater Mentari yang paling aktif dan menjadi muara konsultasi rekannya adalah Hadi Sutawijaya yang kini mengabdikan diri sebagai pengajar psikologi anak, dan tinggal di perum SD Mojokrapak Tembelang. Semangat berteater yang tak pupus, sampai sekarang ia menjalin link perteateran Jatim wilayah barat. Terbukti dengan undangan yang dihadirinya pada Diesnatalis ke 7 para teatrik se eks keresidenan Kediri tanggal 12 Juni 2010 lalu.

Sebagai langkah awal menjejakkan kembali di lanskap perteareran UNDAR, bakat yang terpendam mencorong kembali. Penampilan malam inagurasi kemarin, digarap alur yang berseberangan dengan garapan Samuel Beckett (Perancis) yang dimainkan oleh kelompok Company of San Fransisco Actors Workshop pada tanggal 19 November 1957 di hadapan 1400 narapidana San Quentin. Naskah Samuel yang berjudul Menunggu Godot itu mampu menggugah ketidak sabaran para napi yang kecele` dengan provokasi dua aktor yang dijanjikan, yaitu 2 lelaki kekar, perkasa, berperawakan bina rangka dengan berat badan sekitar 3 kwintal, sedang memarkir tubuhnya di trotoar sambil menunggu sang gadis. Keinginan penonton menyaksikan si Godot keluar sejak awal pertunjukan. Namun penasaran mereka justru terjawab di ahir cerita.

Tidak mudah memang menampilkan naskah drama di hadapan penonton berintelektualitas tinggi seperti calon mahasiswa UNDAR ini. Logika puitik dan kesamaran menjadi pilihan alternatif ploting. Apalagi pada dwi peran ganda: berpuisi bersadur teater. Ani dan Ulfa, keduanya berperan bagai gelombang samudera, yang satu tenang menghanyutkan, yang satunya meledak bergulung menyibak dan menghempas celah-celah karang penonton. Puisi bernuansa filsafat sunyi ditabrakkan dengan puisi pemberontakan nasionalisme yang berkoar-koar. Ulfa memulai dengan suara mantap. //Darimana harus di mulai // demi sebuah cita // aku telah menjadi orang yang tak ku kenal // sendiri dari hanya ke percuma //, kemudian disahut Ani yang memberontak. // dimana pemimpin yang diharapkan bisa meronce butiran nasib//. Kedua aktor ini menyelesaikan puisi tetrikalnya selama durasi 23 menit.

Keutamaan garapan teater Mentari ini adalah kekokohannya menancapkan idealis. Meski tergolong teater gurem, tidak segera kepincut alur menJogjakan atau menJakartakan model. Puisi yang diteatrikalkan adalah antologi bersama komunitas Mentari sendiri. Pembauran puisi teatrikal yang menghasilkan akting datar dan melunjak, mirip orasi puisi panjangnya Emha Ainun Najib saat pementasan ‘Presiden Balkadaba’ pada 9-10 Juni 2009 di gedung utama Balai Pemuda Surabaya.

Teater Mentari di UNDAR bukanlah yang pertama. Sebelumnya ada teater ‘Brengsek’dan teater Kongkrit yang vokum. Kedua teater tersebut merupakan aliran anak sungai yang dari hulu perteateran UNMUH Malang. Meski hidup di Universitas yang tak ada prodi khusus bahasa dan sastra, teater Mentari terbukti tumbuh subur. Kekuatan teater Mentari di UNDAR karena sikap kebersamaan yang dijalin dengan teater lain. Dengan teater Suket misalnya asuhan Cak Kepik dan Lek Hamat/ Lek Mujib (adik ragil Emha) yang kini mengelolah tuan rumah pengajian Padhang mBulan di Mentoro Sumobito tiap bulan. Walau pun teater Suket berstatus teater luar kampus, hubungan harmoninya dengan teater Mentari ibarat dulur kethok kunir, podo kuninge.

Puncak gemilang teater Mentari bahwa pernah menyelenggarakan ‘Gebyar Malam 1001 Puisi’ dengan menghadirkan penyair papan atas Indonesia seperti Sosiawan Leak (si babi jantan) yang membaca Bogambolanya, D. Zawawi Imron (si celurit emas) membaca puisi yang berjudul’Ibu’ dan Max Arifin (si rambut putih almarhum) membaca 2 puisi panjang: Zeggrits dan Jalan Berliku Indonesiaku.

Kesuksesan teater Mentari selain Gebyar Malam 1001 Puisi adalah mengadakan pementasan gabungan dengan tajuk TuKeJo: Tulungagung-Kediri-Jombang. Peran arek Mentari di TuKeJo ini meminta teater ‘Kongkrit’ berpentas serial agenda tahunan. TuKeJo diawali di auditorium UNDAR tahun 2001, di STAIN Kediri tahun 2002 dan di STAIN Tulungagung tahun2003.

Hal yang terkenang bagi teater Mentari ketika mengadakan Malam Pentas 1001 Puisi adalah harga sebuah konsekwensi sebagai seniman. Biaya operasional yang mencapai 7 jutaan terhitung nominal uang tahun 2003 itu digali dari menggadaikan BPKB sepeda motor. Selebihnya disokong Porbupora Jombang (kini ganti Disporabudpar).

Bagi senior UNDAR sekarang, kebanggaan menjadi besar tak cukup hanya bernostalgia dengan kenangan lama. Namun memulai dengan sungguh-sungguh, tak ada kata tidak bisa. Kuncinya: bukan kita tidak tahu, tapi kita tidak mau.

Selasa, 22 Februari 2011

Sastra Singo Edan Meraung Gemontang

(Reportase, bedah “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri.

Mungkin demikian kenyataannya. Sambatan serupa juga kita temukan di wilayah mana pun ketika aktivitas kesusastraan mengalami stagnan. Akan tetapi terlalu kerdil, jika sumbatan yang pada akhirnya berakibat kemampatan kesusastraan tersebut dipahami sebagai satu-satunya dikhotomi baku. Sedangkan situasi yang sebenarnya hanya kondisional, untuk merubah lebih sumringah, bukan karena pelakunya tidak mampu, melainkan tak mau.

Menilik lebih jeli perihal geliat sastra yang ada di Malang sekarang, tidaklah separah gambaran di atas. Komunitas Pelangi Sastra Malang yang dipandegani rekan Denny Mizhar, terbukti mampu meng-agen-da-kan kecipak kesusastraan yang rutin tiap bulan. Itu terhitung satu komunitas. Sedang dalam lingkup wilayah Malang, ada puluhan bahkan ratusan pegiat sastra dari berbagai jebolan kampus, baik yang bergerak di komunitas pun independent.

Bukti adanya geliat sastra di kota pendidikan ini terlihat pada tanggal 23 Januari 2011 pukul 9;00 pagi. Dimana Komunitas Pelangi Sastra mengadakan bedah kumpulan puisi “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono. Acara yang diadakan di Aula Perpustakaan pusat Kota Malang JL. Raya Ijen 30A itu mampu menarik perhatian pengunjung perpus yang setiap hari berjubel. Maklum bertepatan hari Minggu yang di sekitar kawasan itu digelar pasar dadakan; pasar Minggu pagi.

Sepanjang tergelarnya acara tampak lebih rampak dengan iringan alunan Swara Akustik garapan dua musisi sepuh yang masih bersemangat, mBah Antok dan Pak Abi. Denting dawai kedua misisi inilah yang menghantarkan Grace Forevah membacakan larik-larik puisi guratan Tengsoe. Sastra seperti menyatu dalam jiwanya. Power suaranya menunjang, membuat Grace mampu membacakan puisi tersebut lebih hidup.

Yang tak kalah mengesankankan ialah gadis sepantaran Grace, Maria Dini anak perempuan Tengsoe. Meski tak sepiawai Grace, pengunjung seperti merasakan jalinan kemesraan bersastra antara bapak dengan anaknya. Tampak mata Tengsoe berkerling kaca ketika anaknya membacakan puisi karyanya.

Setelah diulas lebih komprehensif oleh sastrawan muda Yusri Fajar yang telah menyelesaikan kuliahnya di Jerman dan kini mengajar di FIB Univ Brawijaya, buku “Salam Mempelai” berubah menjadi secawan anggur. Tak heran jika banyak pengunjung segera meneguk sejudul puisi untuk dibaca sebagai sela acara berlangsung. Sebut saja Nanang penyair Malang dkk, Alex dari Komunitas Rebo Sore Surabaya yang sengaja nimbrung pagi itu. Pun Ibu Faradina, selaku pecinta sastra yang berdomisili di Malang ini, turut kesemsem untuk membacakan secara spontan dengan lihainya. Sedang Bonari Nabonenar juga sempat menjenguk acara yang digagas kaum muda tersebut. Nurel Javissyarqi (penyair Lamongan) membaca puisi yang berjudul “Pengantin Pagi,” dan Denny Mizhar berhasil menuntaskan pembacaan puisi terpanjang dalam buku itu dengan judul “Lia dan Rambutnya.”

Menurut Yusri Fajar, penyair seusia Tengsoe Tjahjono masih terkesan optimis membangun reruntuhan sejarah Indonesia. Terbukti dari beberapa puisinya dipenuhi nuansa akulirik-romantis yang dituangkan secara hati-hati sebagai bentuk rekaman perjalanan merantaui ke berbagai wilayah di Nusantara. Padahal setiap penyair selalu dihadapkan tiga permasalahan mendasar selama hidupnya; politik, eksistensi dan metafisik. Sedang keprihatinan Tengsoe terhadap ketimpangan sosial, digambarkan dalam puisi “Rembang Dolly” yang digurat secara stereotype yang dinilai berhasil tak membuat PSK tersinggung.

Selain Denny Mizhar, geliat sastra di Malang juga bisa kita jumpai kegetolan mBak Ratna (Cerpenis kawakan) yang hingga kini rutin menumbuhkembangkan potensi berkesenian kawula muda. Sebagai konsekwensi seniman, yang meski pun tidak wajib hukumnya, mBak Ratna pada tanggal 23 Januari jam 7 malam, sibuk melangsungkan acara rutinan yang dikenal ‘Musik Arbanat’, ramuan aransemen dari beberapa biolis muda.

Predikat Malang sebagai kota pendidikan, otomatis disertai pembludakan berbagai jenis kampus, fakultas dengan segala macam perkuliahannya yang diamberi pembelajar sejagat berduyun-duyun dari seantero Tanah Air. Meski masyarakat Malang bercorak urbanisme; wilayah potensial untuk membangun imperium kesusastraan setara kota-kota megapolitan lain di Indonesia.

Malang, dengan psikologi kota yang dihuni penduduk rata-rata berintelektualitas tinggi, keberadaan sastra cukup berarti. Walau sastra hanya setara garam, yang dipandang remeh-temeh dengan disiplin ilmu hidup lainnya, ternyata menjadi bumbu penyedap kebuntuan, kegersangan, kepenatan jiwa seluruh kaum profesional ketika mentok pada titik kejenuhan. Seringkali sms atau facebook dari para dosen, mahasiswa non sastra, ”Cak! Ajari aku bersastra. Ampang rasanya keilmuanku tanpa disertai sastra.” Menggauli sastra berarti membiasakan diri berperilaku lembut, menjaga kearifan bersikap sosial, mengasah ketajaman intuisi, merangsang kepekaan perasaan, menyelami kedalaman jiwa, mengembangkan wawasan luas, bahkan menuju spiritualitas (Budaya Tanding Emha).

Keberadaan Pelangi Sastra Malang hanyalah Gogor (anak macan) mungil yang pada saatnya tumbuh besar sebagai Singa nan lantang berkoar. Kapan? Tak butuh waktu lama. Asal para pecintanya segera merapat rukun dan guyup. Diawali kebersediaan para singa sastra untuk bertengger di pelataran kampus. Kemudian berlompatan antar ubung-ubung kampus lain. Barulah segera ancang raungan ke delapan penjuru mata angin.

*) Lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02. Desa Plosokerep, Sumobito, Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com

Jumat, 21 Januari 2011

Sabda Thok Thok Ugel: Wacana Bencana Nasional

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang membuat Gunawan Maryanto (Penulis dari teater Garasi Yogyakarta) dan Henri Nurcahyo (Esais Surabaya) kesemsem dengan penampilan Teater Tirto Agung? Selama terselenggaranya Dana Hiba Teater Kompetitif 2-6 Januari 2011 di gedung PSBR yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jombang, dua pegiat seni di atas didapuk menjadi juri. Tentu minim untuk disangkal soal keakuratannya dalam menilai sebuah akting pementasan. Saya yakin. Gunawan Maryanto dan Henri Nurcahyo adalah orang yang tengik di bidang perteateran. Tentu sudah mendaur matang dari berbagai cara pandang sebelum memutuskan siapa yang menang dalam kempetisi awal tahun 2011 lalu.

Pada kategori mahasiswa dan umum, yang ditentukan dalam satu paket kemenangan, dewan juri menetapkan teater yang berjuluk Padepokan Tirto Agung sebagai juara satu. Berbeda dengan peteater lain dalam kompetisi lalu, Padepokan Tirto Agung (PTA) yang dipimpin Eko Kriwil, menyuguhkan konsep akulturasi antara teater modern dengan teater tradisi (dalam hal ini ludruk). Sepintas, seolah menonton ludruk. Husiknya pun berbada.Menurut Heru, pengendali musik dalam PTA, sengaja mengaransemen musik yang berbeda dengan musik melo sinetron.

PTA didirikan pada 7 Juni 2007 oleh tiga aktor beken Eko, Haris dan Rudi. Kegigihan mereka telah membuahkan hasil dengan memboyong 2 kali berturut turut festival teater se-kecamatan Mojoagung sebagai juara I. Selain itu, untuk mematangkan komunitasnya, Eko Kriwil mencari terobosan dengan bergabung Lawak Srimulat dan sering tayang di JTV Surabaya.

Dalam usia tiga tahun lebih, komunitas ini sudah menunjukkan ketangguhannya. Mereka tidak pesimis. Termasuk yang mendukung kekuatan PTA sebagai bayi sesar yang lahir dari ketidakbersenyawaan dengan konsep perteateran yang digabungi sebelumnya adalah menejemen program komuntasnya kedepan. PTA ini membagi rutinitas kegiatannya menjadi 4 devisi, yakni musik, tari, teater dan kepenulisan. Mereka berprinsip bahwa hal kecil yang termenejemen, akan mengalahkan hal besar yang tanpa dimenejemen.

PTA yang terjadwal pentas tanggal 5 Januari jam 15:30, mengangkat lakon’ Sabdo Dadi’. Sutradara Haris Sutikno sengaja menghadirkan nuansa tradisi. Sehingga selama pementasan yang berdurasi 96 menit itu, full dengan bahasa nJombangan.

Panggung mulai jadi sorotan mata pengunjung setelah rekanita Yuni Anitasari menghentakkan kakinya sembari menyabetkan liak liuk selendang merah, dengan dandanan ala lelaki ksatria, sedang memainkan tari remo. Berikutnya penonton dibuat garr.. gerr.. oleh dagelan Cak Eko dan Cak Ganda.

Adalah adegan yang tak bisa dipisah dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur. Yakni menjalani hidup dengan diselingi lelucon. Asumsinya agar tidak terlalu sepaneng, tegang dan stress dalam mengatasi peroblematika hidup yang teramat gigantik ini. Tradisi lelucon di Jawa Timur sudah berkembang sejak tahun 760 M. Dimana raja Gajayana Kanyuruhan (Malang) adalah seorang seniman yang meninggalkan teori lelucon dengan membangun candi Badhut (S. Wojowasito 1984). Tradisi guyonan / ludrukan itu langgeng terus dan sempat terekam dalam penelitiannya Saripan Hadi Hutomo yang menemukan rumus kata

‘Javananch Nederduiticch Woordenboek’karya Genke dan T. Roorda (1847), ludrukan atau guyonan artinya Grappermaker. Begitu juga WJS. Poerwadarminta dalam bukunya BPE Sastra (1930).

Lakon Sabdo Dadi yang ditulis Tulus Asmoro mengisahkan hukum keseimbangan metablisme alam. Dimana perbuatan baik dan buruk pasti ditagih akibatnya (becik ketitik, olo ketoro, Gusti Alloh gak turu).

Berawal dari kisah asmara bersyarat antara tokoh yang bernama Thok Thok Ugel yang dicintai Dewi anak seorang Adipati yang sekaligus juragan Ugel. Selama menjadi porang (pekerja tetap untuk menangani sawah) Adipati, ketulusan Ugel membuat Dewi kesemsem. Mungkin juga karena sering bertemu maka tumbuhlah benih benih cinta (tresno jalaran soko gelibet). Akhirnya sang Adipati tidak menyetujui cinta mereka berdua berlanjut ke pelaminan. Adipati pun memainkan politiknya untuk menyingkirkan Ugel. Adipati bersedia merestui dengan syarat, Ugel membawa intan sebesar telur buaya.

Menyaksikan ibunya dimarai, diejek, diludahi Adipati, Ugel merasa terpanggil untuk menunjukkan bagwa ada kekuatan besar dari segala kekuatan, yakni kekuatan Tuhan. Sedangkan orang yang diutus Tuhan untuk melahirkan, merawat, serta melangsungkan kehidupan seseorang adalah sang ibu, yang dijuluki pangeran katon (Tuhan yang tampak). Ugel pun meminta ibunya merestui dirinya. Supaya, hajat Ugel yang berat terkabulkan. Betapa terhenyak Henri Nurcahyo dan Gunawan Maryanto, apalagi para penonton, begitu menyaksikan seorang aktris yang didapuk sebagai ibunya Ugel, melakukan ritual dahsyat yang zaman sekarang tak mungkin dijumpai lagi, yakni melangkahi (nyawani) Ugel hingga tiga kali. “ Tak sembadani urepmu nak, sak tibo tibomu jek blahi selamet. Asale teko gua garbanku, balek nang sua garbanku.” Seketika itu tubuh Ugel menjadi berkapasitas kuantum. Denyut jantungnya beradhesi dengan gelombang energi alam semesta. Karena manusia yang menjadi makri kosmos, maka tunduklah rotasi seluruh planet kepada Ugel.

Ugel lalu pergi ke pantai mencari intan yang diinginkan Adipati. Setelah keteguhannya memuncak di tepi pantai, Ugel pun menyabda lautan agar mengering. Seketika lautan pun mengering. Namun yang menjadi permasalahan baru ialah bagaimana kelangsungan habitat laut. Demi menyelamatkan semuanya, ahirnya Danyang (hantu) laut menuruti apa yang diinginkan Ugel, yakni lautan memberikan intannya kepada Ugel.

Sesungguhnya tidak ada kesaktian atau kekuatan apa pun bagi Ugel. Hanya sepeleh. Pada posisi kuantum (nol), berbarengan dengan energi yang memusat, saat itulah Alloh memperkenankan do’a Ugel. Cerita Ugel ini persis yang dialami Nabi Musa. Ketika dalam posisi terjepit, seketika idzrib bi ashokal bahr (pukulkan tongkatmu ke lautan), saat itulah momentum perkenan Alloh terjadi. Dan hal itu tidak akan bisa diulang pada sedetik berikutnya. Hanya moment itu.

Setelah memperoleh intan, Ugel pun mengajak ibunya melamar Dewi. Namun kenyataan kadang tak sejalan dengan apa yang diharapkan. Sesudah intan ditangan Adipat yang waktu itu diperankan Aris, na’as bagi Ugel dan ibunya. Ia malah dituding mencuri intan sang Adipati. Ugel dan ibunya diusir secara hina. Saat itulah Ugel merasa kesabaran ada batasnya. Cacing saja diinjak berkeliat kok! Apalagi manusia yang setiap hemoglobin aliran darahnya diurus serius oleh tuhan dalam tata kosmos keseimbanganNya.

Ugel kembali ke pantai. Namun tidak meminta lautan memberi intan lagi. Tetapi meminta laut memberinya gelombang tsunami yang menenggelamkan keluarga Adipati. Yang dalam pementasan sore itu, digambarkan dengan piastik selebar panggung yang digulung seperti gelombang.

Membaca tulisn rekan Hadi Sutarno yang dimuat Radar Mojokerto 16 Januari 2011, kurator seni dari teater Mentari Undar ini lebih menyerahkan nasib Ugel dan Dewi kepada penonton. Namun lebih jauh, naskah ini merupakan sarkastik terhadap bencana nasional yang tak kunjung redah. Adipati adalah simbol penguasa yang menjelang pemilu meminta rakyat membawa suara untuknya, namun setelah menjadi penguasa, hak rakyat diambil alih. Yakni hak untuk menjadi juragan yang diwakili suaranya. Sedang penguasa adalah buruhnya rakyat, jongosnya rakyat yang telah mewakilkan suaranya kepada penguasa.

Menyaksikan PTA dengan lakon Sabdo Dadi, penonton seperti dibawa kebelantara nusantara. Dimana potret kehidupan beserta pernik pernik angkaramurkanya adalah gambaran sebuah negeri yang indah dan kaya termasuk beragam juga jenis jenis kedzolimannya.

Prahara yang mendera nasional bukanlah gejala spontanitas. Melainkan jauh sebelum penguasa, pemilik modal dan jabatan berserakah, alam sudah mempersiapkan lempengan bumi yang sewaktu waktu bisa bergerak.bersama do’a rakyat yang teraniaya. Dalam lakon sebuah pertunjukan, kisah gampang diahiri oleh sutradaranya. Tetapi dalam lakon keindonesiaan, siapa yang akan menghentikan?

Jumat, 14 Januari 2011

Sasana Elegi Sebuah Negeri

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Lain lubuk lain belalang…
…lain pula ikan dan pemancingnya.”

Menapaki awal tahun baru 2011, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang menorehkan catatan tersendiri dalam percaturan perteateran Indonesia. Program pementasan’Elegi Sebuah Negeri’ yang di gebyakkan oleh angkatan 2008 di Aula Depag Jombang selama 3 hari lalu seolah penyambung tongkat estafet adik kelasnya (angkatan 2009) yang menuntaskan pementasan ‘Teatrikalisasi- Puisi pada 6 Januari 2011 di gedung PSBR Jombang.

Elegi Sebuah Negeri ialah serangkaian serial pementasan teater yang terinci sebagai berikut: Tanggal 7 Januari mementaskan ‘Gerr’ karya Putu Wijaya, tanggal 8 Januari melakonkan ‘Opera Primadona’ karya N. Riantiarno, dan terahir tanggal 9 Januari memainkan ‘ Orkes Madun II Atawa Umang Umang.

Pengemasan tiga naskah teater di atas sebagai sarana penggemblengan (bolding) mahasiswa STKIP. Yang mana, untuk menanamkan loyalitas cinta tanah air, tidak harus diekspresikan dengan protes kekerasan. Ada banyak cara. Terutama bagi kaum intelektual muda mendatang, diperlukan pergeseran teori ke arah radikalisme meruang (inheren, terutama krisis diri).

Dengan berteater, kepribadian akan terbentuk secara akselerativ. Dimana pemaknaan hidup disinaui secara ecrytur tubuh, ketatagan dialek, ketepatan fluktuasi intonasi serta eksplorasi segala gerak-posisi. Bahkan ketika meramu selingkup akting saja, tak lepas dari olah rasa (nyetem roso, yoga, mereflexikan vibrasi getaran dalam tubuh dengan yang di luar tubuh). Perpaduan keseluruhan berpentas menjadi pararel jagat panggung yang berpengaruh pada kwalitas kekhusyukan sikap. Pada tataran kekhusyukan inilah jiwa menjelma serupa (basis) tanggung jawab handal. Ya, tanggung jawab yang dahsyat akan mampu bersikap tegas pada diri sendiri sekali pun.

Khatam bagi generasi 2000an untuk mengaji kondisi Sosial-Politik di Indonesia. Marah memerah pun tidak akan digubris, sebab pelaku sejarah yang berlangsung masih dihuni sang tokoh yang budek kesadaran. Tokoh yang dilahirkan pra 65. Pemimpin masa ini lebih merealisasikan kecekaman jiwanya dalam bayang bayang komunis. Yang mosi, was was, iri pada sesama telah terpupuk sejak dalam kandungan.

Pun juga demo atas berbagai keselentangan kebijakan ‘penguasa’di negeri ini. Mogok makan sampai mati pun tidak akan direspon. Sebab pemimpin serta aparat, berkarakter tidak siap didemo. Atau tidak memahami arti demo. Maka, demo dianggap mengganggu keamanan negara yang harus diblackklise. Sungguh! Kebobrokan negara yang sempurna. Yang dianggap mengusik kedudukan penguasa akan segera dicarikan keranjang sampah untuk dibuang. Sementara yang seolah tak bermasalah, sewaktu waktu bisa dicutat jika kemudian berseberangan dengan penguasa.

Pada naskah ‘Gerr’ misalnya, karya Putu Wijaya, seluruh awak teater dari pemain hingga bagian lighting tak hanya obsesi demam panggung, namun secara langsung mereka meniti tiap sesi peralihan adegan yang langsung diflourkan dengan tubuh dan suara. Naskah seperti menggelitik, meresap ke guratan relung-relung jiwa. Bagaimana mereka harus tanggap menerima perubahan hidup yang mendadak dan janggal. Bima sebagai sosok upnormal (melampaui kewajaran alamiah) sebagai sosok orang yang hidup lagi, setelah mati. Betapa tidak. Keluarga Bima sulit menerima kenyataan untuk berdampingan dengan Bima yang sudah pernah mengalami kematian. Sebuah proses (takdir) tersendiri. Substansi lakon naskah Gerr ini berusaha menyelipkan satu kata’kemungkinan’ dalam rencana panjang menejemen hidup. Sisi baliknya, agar manusia tidak terjebak menuhankan diri dengan kekuatan programnya, bahwa tetap ada hal yang tak terduga.

Lain Gerr, lain pula Opera Primadona. Naskah karya N. Riantiarno yang didalangkan sutradara Gunari Anggariono, diadaptasikan dengan teater tradisi Gambus Misri. Yang mana Gambus Misri merupakan salah satu teater tradisi yang pernah berjaya di Jombang sekitar 1957 hingga 1990. Konon, Gambus Misri ini menelorkan aktor Srimulat kawakan di antaranya Cak Asmuni.

Dari Opera Primadona ini, pemain dipahamkan perihal trik-intrik perhelatan di atas panggung dengan apa yang terjadi dibelakang pentas sekaligus. Diana sebagai primadona dalam aktris Gambus Mawar Bersemi tak rela jika posisinya tergeser oleh akting Susana dengan segala kelebihan auranya. Diana pun melakukan segala cara untuk menyingkirkan Susana. Sebagaimana tradisi masyarakat yang under intelek, tidak memiliki politik jitu, melainkan lebih ke dukun membeli santet. Anding cerita ini mengerucut pada rumus kebenaran dan ketulusan pasti menang dan kekal hingga usia senja. Bahkan sampai berumur nenek peot pun, Susana masih bermegalomania- ekstas dengan kebesarannya zaman muda dulu.

Pementasan tiga lakon teater awal tahun baru 2011 lalu, diharapkan sebagai wahana pemantik kreativitas mahasiswa STKIP lebih lanjut. Satu joule energi saja yang mereka jalin bersama kawan dalam rangka menuntaskan lakon, akan menjadi tungku bara yang menggodok intelektual-moral lebih matang. Dalam skala besar, mereka bersama sedang mengkontruksi sejarah Indonesia mendatang dari keterbengkelaian dekontruksi besar besaran dari para pemimpin sekarang yang dibiarkan pun akan segera mati.

Berteater artinya merumuskan bahwa hal yang tak bisa dikatan harus dijaga dengan diam. Juga menguak adanya obyek yang tampak dalam cermin sesungguhnya lebih dekat. Agar tidak tercipta suatu generasi yang berpijak pada kepingsangan masa lalu yang kemudian berada pada budaya kemarahan dan penyesalan yang membahayakan (Saduran Galaksi Simulacra: Jean Baudrillard. Terjemahan Galuh E Akoso dan Ninik Rochani Sjam. LKiS).

Pada saatnya kebenara pasti datang. Berteater, seperti menabung gerak tubuh dan suara yang elevasi-voltasenya akan meledak jauh di zaman mendatang. Saat itulah tabungan virtual akan mengambil alih hal yang realita.

*) Sabrank Suparno, lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02, desa Plosokerep, Sumobito, Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com

Sabtu, 18 Desember 2010

10 Nopember dan Kekuatan Lokalitas

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

1. Sinopsis 10 November

Kesan yang hilang dari peringatan 10 Nopember ialah tidak dijadikannya pemikiran utama bahwa pertempuran sekitar tanggal 10 Nopember 1945 murni didukung kekuatan santri dari ponpes seJawa Timur. Kesan yang justru menebal seolah bahwa pertempuran yang melahirkan hari pahlawan itu murni perjuangan Arek Surobayo (kota).

Selang 2 bulan setelah proklamasi, pasukan Inggris datang dengan pasukan Ghurka-nya berjumlah 6000 orang pada 25 Oktober 1945 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Malaby, dengan tujuan merebut kembali daerah jajahan Jepang di kawasan Asia. Bersamaan pada itu, pemimpin Indonesia pusat (Jakarta) sedang memberlakukan genjatan senjata dengan pihak Sekutu.

Ketidakjelasan pemimpin pusat (Sukarno) pascagenjatan senjata, sedang di sisi lain pasukan Sekutu sudah bersandar di pelabuhan Tanjung Perak, membuat mosi bagi seluruh pejuang Jawa Timur.

Keadaan demkian kemudian direspon KH. Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar NU dengan mengumpulkan ulama seJawa-Madura untuk melangsungkan rapat raksasa 22 Oktober 1945. Dari pertemuan ulama tersebut tercetuslah Resolusi Jihat: Yaitu setiap kiai seJawa Timur dimohon menggalang, memobilisasi santrinya untuk berjihat melawan pasukan Sekutu di Surabaya. Tertunjuk dalam rapat KH. Wahid Hasyim mengorganisir wilayah Surabaya. KH. Abdullah Siddiq wilayah Besuki, KH. Bisri Syamsuri barisan para kiai, KH. Muhammad, Kiai Halim dan Siddiq memimpin wilayah Jember. Kiai As’ad dan Kiai Sukri membawahi wilayah Kediri. Sementara ponpes Tebuireng Jombang sebagai pusat perjuangan yang dihadiri Jenderal Sudirman, Kolonel Sungkono, Mustopo, Bung Tomo dll.

Situasi Surabaya memanas sejak tanggal 28 Oktober, dikarenakan pasukan Inggris menangkap sekitar 30 kendaraan rakyat sipil dan beberapa mobil yang kedapatan membawa senjata. Puncak kemarahan warga Surabaya bermula sejak bendera Belanda berkibar lagi di Hotel Yamato yang dianggap tidak menghormati pemerintah setempat. Pemicu pertempuran terbuka mulai tanggal 30 Oktober setelah AWS Mallaby terbunuh. Herannya, tanggal 31 Oktober Sukarno berpidato di corong radio menginstruksikan genjatan senjata. Hingga sampai tanggal 9 November Jenderal Manserg mengultimatum Surabaya agar menyerahkan senjata sebelum jam 06.00 sekalian bertanggung jawab atas terbunuhnya AWS Malaby.

Menyikapi Ultimatum pihak Sekutu tersebut, para pemimpin pejuang Jawa Timur segera menelpon Jakarta, meminta ketegasan pusat. Namun pusat melimpahkan bahwa urusan itu kewenangan Surabaya. Maka pada jam 23.00, Gubernur Jawa Timur / Suryo mengumumkan perihal penolakan terhadap ultimatum Sekutu lewat radio yang menginstruksikan segenap rakyat Surabaya dimohon bertempur melawan sekutu sampai titik darah penghabisan.

Pukul 06.00 tanggal 10 November pasukan Sekutu mulai menyerang di sekitaran Tanjung Perak. Maka pukul 09.00 Komando Petempuran Indonesia (KPI) segera melakukan perlawanan di jalan Gresik, Kebalen, Kalimas Timur, Jembatan Merah, Sawah Pulo, Nyamplungan, Benteng Miring, Pegirikan, Sidotopo, Stasiun Prins Hendrik dan Kenjeran. Sedang komando perlawanan diserukan Bung Tomo tepat pukul 09.30 di corong radio pemberontakan di jalan Mawar. Itulah saat Bung Tomo membangkitkan militansi TKR, Pelajar, Polisi, Hisbullah / Sabilillah dengan seruan “ Allohu Akbar! Merdeka! Atau Mati!”

Hisbullah dalam kota (Surabaya) bernaung di Markas Oelama Djawa Timur (MODT) jalan Kepanjen yang dipimpin KH. Abdun Nafik Akhyar, KH. Thohir Bakri, selaku kordinator Hisbullah Surabaya Tengah dipimpin Husaini Tiawai dan Muh Muhajir, bermarkas di Madrasah NU Kawatan, Hisbullah Surabaya Barat dipimpin Damiri Ihksan dan A. Hamid Has bermarkas di Kembang Kuning, Hisbullah Surabaya Timur dipimpin Mustakim Hakim, Abdul Manan dan Akhyat bermarkas di Sidopaksan.

Awa pertempuran di Surabaya tersebut, menurut laporan Inggris, korban tewas pihak Indonesia 6.315 orang dan pihak Inggris 4.000 orang. Sedang total pertempuran selama 24 hari menewaskan korban seluruhnya 20.000 orang.

2. Selilit 10 November

Menurut Emha, tidak ada bahasa kusus yang mengartikan makna ‘selilit’. Ia setara kotoran kecil atau gudal di sela gigi, yang keberadaannya mengganggu kenyamanan. Selilit pada teks bagian kedua ini sengaja saya hadirkan sebagai pelebaran wacana eksiklopedi dari teks pertama. Sebab ilmu haruslah tetap dibongkar walaupun pahit.

Gereget KH. Hasyim Asy’ari dan para pemimpin pejuang Jawa Timur mengambil inisiatif memobolisasi santri, sebagai reaksi lamban presiden Sukarno dalam memutuskan persoalan pendudukan Indonesia kembali oleh Sekutu. Kenapa Sukarno Lamban dan tidak tegas? Hal yang sama juga dilakukan Sukarno saat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Herosima dan Nagasaki Jepang dibom Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Sementara, proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 (tiga hari kemudian). Selang waktu 3 hari adalah hal yang ‘lama’ketika suatu negara dalam keadaan vocum. Apalagi Indonesia yang memang sangat merindukan terbebas dari penjajah. Kesengsaraan ditindih penjajahan Belanda selama 350 tahun dan 3 setengah tahun pengekangan Jepang, semestinya Indonesia geragap segera bangkit ketika jatah waktu merdeka telah tiba. Secara memang yang diidamkan, dikoarkan selama perjuangan. Namun tidak demikian halnya dengan Indonesia. Sukarno dan seluruh friksi aliran politik yang berintrik-ria seperti tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan secepetnya. Hal ini dapat dilihat dari teks proklamasi yang terkesan ditulis mendadak dan kurang sempurna, serta pembacaan proklamasi dengan nada kalem. Padahal Sukarno yang dijuluki ‘singa podium’itu selalu berpidato lantang di mana mana. Pertanyaannya adalah: Apakah mereka sungguh sungguh ingin mendirikan negara? Kelemahan niat awal tersebut berakibat melemahkan keadaan Indonesia hingga sekarang. Pemerintah tidak sungguh sungguh komitmen menjadikan Indonesia sebagai suatu negara. Rekaman pembacaan teks proklamasi yang selama ini kita dengar adalah hasil rekaman ulang, dan bukan rekaman langsung dari jalan Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945 lalu.

Tidak hanya Sukarno yang tidak serius menjadikan negara Indonesia. Lebih parah lagi pada masa Suharto. Sukarno dan Bung Tomo dianggap sebagai imperialis dalam kekuasaanya.

Tahun 1981 Bung Tomo menunaikan ibadah haji dengan kloter penerbangan 50 A yang berjumlah 250 jamaah. Keberangkatan kloter Bung Tomo ini dijebak halus oleh penyelenggara haji Jakarta. Syeikh Abdurrahman Fuad Bugis yang ditunjuk Depag Jakarta, ternyata kemampuannya menampung jamaah tidak sesuai dengan keterangan Depag. Bung Tomo dan 250 anggotanya telunta karena rumah Syeikh Abdurrahman Fuad Bugis sempit dan hanya ada 2 kamar kosong. Kerena kelelahan bertanazzul (mencari tempat lain) demi anggotanya, ahirnya Bung Tomo jatuh sakit. Dan tepat di Arafah tanggal 7 Oktober 1981 Bung Tomo menghembuskan nafas terahirnya di negeri jauh dari tanah air yang telah dibelanya. Inilah bukti ketidakbecusan pemerintah Indonesia memberlakukan para pahlawan.

Hal yang sama juga terjadi pada KH Yusuf Karim Tebuireng, KH. Musta’in Romli Rejoso, sabutase penabrakan terhadap rombongan Gus Dur yang berakibat melumpuhkan Ibu Shinta Nuriah Wahid dll. Mereka dijabung halus dengan dalih diberangkatkan beribadah haji, namun diincar kematiannya.

Hingga sekarang pemerintah Indonesia selalu menafikan peran para santri dalam menjadikan Indonesia. Umat Islam seperti dikebiri hak kepemilkannya terhadap negara yang telah mereka bela. Muslim dimarginalkan dari posisi penting segala bidang dengan dalih anti terorisme.

Jika hendak adil, ketahuilah! Indonesia bukanlah Jakarta. Dan keberhasilan 10 Nopember bukanlah perjuangan Arek Suroboyo semata. Melainkan kekuatan lokal yang berduyun duyun ke satu titik kekuatan militansi untuk mengorbankan dirinya demi Indonesia. Tanpa para kiai, tanpa santri, Indonesia hanya kisah dalam cita cita sebagai suatu negara.

Senin, 15 November 2010

Maha Karya Sastra di Bumi Majapahit

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

1. Buku Sastra Raksasa.
Ruang sastra, yang turut membentuk berlangsungnya kebudayaan pasti mengalami titik klimaks dan titik nisbi. Kapan sastra berkulminasi, ia akan mendominasi kadar warna kebudayaan pada suatu komunitas atau negara. Sebaliknya sastra pada titik nisbi cenderung termarginalkan kekuasaan dan hanya menjadi keranjang luapan keluh bagi pecintanya.

Sepanjang meruangnya sastra dalam sejarah keindonesiaan, kembang kempisnya kesusastraan juga dipengaruhi pertarungan antar sekterianisme sastra. Yang mana dalam perhelatan itu tiap sempalan (golongan) justru mengamalkan kilas balik nilai pluralisme kebangsaan.

Sumpah Pemuda yang mengikat ke satu bangsa, satu bahasa, resmi melibas spora lokalitas. Padahal, keindonesiaan itu sendiri terbentuk dari berbagai lokalitas. Dalam wacana ini, sang ‘ibu sastra’ sebagai inti lokalitas didurhakai dengan mengagungkan ‘sastra pasar’ yang menjual dagangan di lapak media yang berbasis komunal sekterianistik. Disinilah inti lokalitas sebagai akar kesusastraan pluralitas tercerabut. Akibatnya kiblat sastra kehilangan arah. Di satu sisi menJogjakan genre sastra, di sisi lain menJakartakan atau meMelayukan. Pluralitas yang semestinya ialah mempertgas identitas masing-masing, dan bukan menggeneralisasikan.

Sumpah Palapa Gajah Mada di bumi Majapahit seolah menyembul kembali dan sekaligus menjawab perpecahan antar sekte sastra kontemporer. Terbukti Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto tanggal 23 Oktober 2010 nekat melauncing antologi puisi dan cerpen dengan tajuk ‘Majapahit dalam Sastra’. Tentu bukan gejala megalomania paranoid pihak penyelenggara ke arah MURI buku sastra. Kita tau! Sejarah kesusastraan Indonesia sejak Zaman Balai Pustaka yang lahir 1908 hingga kini belum tercatat adanya kemonceran sejarah sastra. Apalagi era-sekarang, percetakan akan gulung modal jika menerbitkan buku sastra. Inilah kegilaan sastrawan bumi Majapahit yang menerbitkan 94 judul cerpen setebal 706 halaman dan 620 judul puisi setebal 825 halaman.

Siapa pun bisa berpendapat gebyah uyah perihal proyek penerbitan buku yang ketebalannya melibas Das Kapitalisnya Karl Mark. Namun sejarah akan mencatat lain jika melongok beberapa poin yang berkaitan dengan terciptanya buku antologi Majapahit dalam Sastra tersebut. Pertama: Alokasi dana untuk biro sastra di Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto hanya 2,5 juta / tahun. Sedang kekurangannya disokong dana pribadi pegiatnya termasuk DKJT senilai 1,5 juta. Bisa dibayangkan hiruk pikuk yang terjadi dalam sebuah proyek pengadaan buku yang bersandar’ati karep, bondo cupet’ini. Kedua: Awak kurator biro sastranya yang menyisir hingga 6 rem cetakan pengirim email dari seluruh pelosok nusantara. Ketiga: Bagaimana kerja team dalam merumuskan standarisasi pengkategorian karya yang dimuat. Poin ketiga inilah yang perlu dicuatkan sebagai alegori kerja sastra / kerja puitik ke tengah bergelimangnya kesusastraan Indonesia.

2. Sastra Perawan.
Awal pencetakan buku Antologi Puisi dan Cerpen Majapahit dalam Sastra ini mencapai total: 1531 lembar. Sedangkan agenda ini digagas rutin tiap tahun. Bisa dibayangkan proyek sastra raksasa tersebut pada tahun-tahun berikutnya. Pekerja sastra yang terlibat akan dihadapkan pada persoalan teknis-adsministratif yang amat gigantik ketika menangani karya sastra senusantara.

Berbeda dengan buku cetakan Jurnal Cerpen atau Puisi Indonesia yang diterbitkan tiap tahun. Jurnal Indonesia, hanya memuat puluhan karya sastrawan yang dinilai kelas kakap saja. Sedang antologi Majapahit dalam Sastra ini memuat karya penulis dari pelosok ‘deso kluthuk’ sekalipun, yang dimungkinkan luput dari incaran kesusastraan pusat sebagai data base analisis. Dengan sendirinya, kehadiran karya senusantara akan mendominasi unsur lokal dalam membentuk pluralitas yang bukan sentralitas.

Dominasi lokal dalam buku ini efektif jika dijadikan kajian kesusastraan Indonesia dalam menganalisa perubahan gen sastra kontemporer. Sebab karya sastra lokalitas pelosok adalah sastra yang masih ‘perawan’ sebelum dijamahi kecimpung pandangan sastra media yang notabenenya terbentuk hanya segelintir editor.

Penampungan gen sastra perawan yang apalagi se-nusantara, yang apalagi dilakukan pegiat sastra di area bumi Majapahit (biro sastra setempat) merupakan pengulangan gelombang waktu momental Sumpah Palapa Gajah Mada: Dimana kekuatan ekonomi pertanian pedalaman dirubah menjadi kekuatan ekonomi maritim federal yang bukan maritim sentralistik. Demikian agaknya rumusan yang melandasi terbitnya buku ini. Yaitu keberaniannya menampung indikasi perubahan genologi sastra nusantara. Orientasi yang diterapkan adalah merubah kekuatan sastra lokal pedalaman menuju kekuatan sastra maritim federal. Berbeda dengan konsep pusat yang menggeneralisasikan potensi lokal menuju karakter sentral.

Contoh kongkrit pergerakan sastra berbasis maritim federal dalam Antologi Majapahit dalam Sastra ditandai barisan nama dari belahan nusantara yang antara lain: Naqiyyah Syam (Lampung Timur), Maryam Zakaria (Gorontalo), Lola Giovani (Payakumbuh), Gracia Asri (asal Jogja tinggal di Perancis), Bambang Kariyawan (Pekanbaru), Yuli Duryat (asal Pemalang tinggal di Hongkong) dll. Nama nama ini tidak ditemukan dalam barisan sastrawan Indonesia. Sebagai sastrawan, nilai karya mereka sulit dideteksi secara individu ataupun komunitas. Namun memahami kesusastraan Indonesia secara komperehensif, karya mereka pasti membentuk karakter entitas teks serta entitas ruang tersendiri. Buku tebal dengan 94 judul cerpen dan 602 judul puisi telah tercetak. Silahkan menandingi!

Kamis, 07 Oktober 2010

Geladak Sastra, Saat Menapaki Sebuah Rezim

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Masih lekat dalam ingatan kita tantang partai Golkar, partai yang awalnya hanya digerakkan beberapa gelintir orang saja dan dalam waktu seumur jagung telah mampu menjadi kekuatan yang menyeluruh sebagai suatu ‘gerakan’ dari semua lapisan masyarakat. Dan kekuatan itu telah nyata ditunjukkan dengan adanya indikator tampuk kekuasaan yang mewarnai corak hegemoni wacana sosial di zamannya. Dan bahkan tidak tanggung-tanggung, kekuatan itu mampu mendekami tiga perempat setengah abad sejak kemerdekaan Republik Indonesia sebagai suatu Negara. Meskipun pada ahirnya juga hancur di-revolt berdasarkan kebutuhan waktu.

Gambaran ringan mengenai kondisi keberadaan rezim Golkar tersebut dapat kita lirik dari puisi pendeknya Gus Mus {Bisri Mustofa} yang berjudul ‘Negriku telah menguning’. Disebut puisi pendek karena judul puisi yang pernah dibaca Gus Mus sendiri saat datang di acara padhang mbulan di kediaman Emha Ainun Najib sekitar tahun 1997 lalu itu sekaligus merupakan isi dari puisi tersebut. Dan hanya terdiri dari ‘tiga’ kata itu.

Warna kuning yang diibaratkan Gus Mus dalam puisi tersebut merupakan gambaran keberhasilan Golkar saat tampil sebagai suatu rezim yang dengan ‘yellowingnya,’seolah menemukan bentuk viuwalidasi Nasional. Visualitas yang tergambar sederhana hanya dari proses hampir panennya petani yang menunggu panen setelah pascatanam.

Hal yang sama juga dapat kita amati dengan merebaknya bonek mania yang ‘menghijaukan’ suporter massal Persebaya. Atau mungkin jika anda berkeliaran di sekitaran Tunjungan Plaza Surabaya pada malam minggu, kita akan terkesan dengan menjamurnya anak Punk-kers yang melakoni tingkah teatrikal Arie Papank seorang pemuda Inggris yang berhasil dianut ribuan pemuda Indonesia sebagai guidens kolosal.

Rezim sastra? Kenapa tidak! Kalau Golkar, Bonek, dan Punk-ker saja yang nota-bene-nya tidak menanamkan cara dan budaya santun dalam bersosial-masyarakat ,’nyata’mampu dianut menjadi gerakan besar, kenapa sastra tidak?

Alangkah syahdunya jika suatu saat gerakan sastra ini mampu menjadi warna hidup dan pola prilaku kehidupan masyarakat ber-Bangsa dan ber-Negara! Wujud neosintaktika-dialektik sastra yang terkesan sinergik-embat embatan-antara wujud instrinsik dan ekstrinsik atau yang dalam istilah Emha Ainun Najib dalam Budaya Tandingnya dikenal dengan ‘unsur dalam’dan ‘unsur luar’ dalam bersastra tentu merupakan arti lebih ketika kahidupan dilakonkan.

Geladak sastra 2 yang membedah cerkak(cerita cekak) Sabrank Suparno yang berjudul Bobok Suruh Bodeh, sejak awal diperkirakan bakal ramai diperdebatkan. Selain judul dan alur ceritanya yang kental dengan problematika sensitif dengan prilaku kehidupan sehari-hari warga ndeso klutuk, cerkak ini juga ditulis dengan bahasa jawa nJombangan yang nota-bene-nya berbeda tehnik penulisannya dengan bahasa jawa pada umumnya. Tentu saja hal ini menimbulkan kontroversi tersendiri. Terlebih jika ditilik dari sudut pandang kaidah penulisan bahasa jawa.

Geladak sastra 2, diadakan di dusun Dowong Plosokerep. Sebuah dusun yang amat ‘kluthuk’tanah rahim kelahiran penulisnya. Agenda sastra tersebut mendapat apresiasi dari warga desa yang berbondong-bondong membawa ‘suguhan’. Sedikit banyak ini menandakan awal berjejaknya sebuah rezim sastra, dimana orang-orang ‘petani kuni’(sebutan petani tulen) antusiasmenya ter-urik dengan keberadaan sastra. Berkumpulnya massa yang kemudian melakukan sesuatu-agreegate- secara kolektif inilah selaksa merajut mozaik menjadi lukisan alam.

Jarak pandang Anjra Lelono Broto (novelis, pakar bahasa jawa)
Cerpen Bobok Suruh Bodeh ini terdapat kerancuhan struktur bentuk global yang berhubungan dengan bahasa ‘lisan’ dan bahasa ‘tulisan’. DR CC. Berg, ahli bahasa dari Belanda yang mengamati dialektikum bahasa yang di pakai masyarakat jawa, menemukan sebanyak 3800 jenis dialek. Keberagaman jenis inilah yang menyebabkan scub pemfokusan sentral mengenai titik-titik kaidah penulisan bahasa jawa-nJombangan-sulit dijadikan pedoman secara jelas.

Dalam teori kepenulisan ada istilah ‘alih kode’dan ‘campur kode’. Istilah ini jika ditarik dari gejala sosiomistik. Sebagai bahan banding, Anjra Lelono Broto melontarkan satu pertanyaan mendasar. Apakah Sabrank Suparno akan tetap menulis dengan model adetrasi seperti ini?

Menanggapi prospek penulis yang mempertahankan dialek asli lokal, Anjra menghimbau agar penulis tidak usah kawatir dengan rejeki dari penulisan tersebut. Bagaimanapun setiap penulisan pasti menimbulkan ‘efek’dari proses kreatifnya. Efek inilah yang akan mendatangkan rejeki’min khaistu la yahtasib, yang tak terduga. Namun apapun jalan yang dipilih oleh penulis untuk menentukan bentuk cerpenya, diharapkan bersikap sebagai subyek dalam masyarakat. Sehingga perannya mampu ‘mewarnai’ gejala masyarakat. Dalam istilah lain: lebih baik kita ndalangno wong, dari pada kita didalangkan orang.

Cara pandang Nurel Javissyarqi (sastrawan, penulis Lamongan)
Cerpen Bobok Suruh Bodeh ini memiliki kekuatan yang ditimbulkan dari ketulusan uri-uri menghidupkan budaya lokal. Tehnik penuangan tulisan seperti ini cenderung lebih kuat maknanya untuk menghantarkan pengenalan lebih jauh terhadap kualitas sastra Indonesiaan. Bahasa nJomangan yang kuat, difahami sebagai ‘simbol’ pemberontakan terhadap aturan penulisan, dan memang harus ada yang tampil sebagai ‘tumbal’ dari terkuaknya kurungan aturan yang telah ada. Diharapkan tehnik penulisan bahasa nJombangan yang asli berfungsi memudarkan kesempitan yang telah ditentukan sistem kesusastraan Jawa.

Sudut pandang Suliadi (penyair Mojokerto yang bercokol di komunitas Umpak Songo)
Diperlukannya kekayaan sastra lokal untuk menambahi kekayaan sastra Indonesia. Bagaimanapun ada banyak hal yang tidak tertampung di dalam wadah kesusastraan Indonesia.

Cara pandang Bapak Dasar (warga ndeso)
Cerpen ini mempunyai unsur instrinsik yang mengarah lebih ke-pesan moral agar pembaca menemukan cara untuk mengatasi problem rumah tangganya seperti yang penulisnya idekan.

Jarak pandang Bapak Sudarsono (pecinta seni, warga Deso Dowong)
Isi dari cerpen ini justru berbalik fakta. Bobok suruh bodeh dalam cerpen tersebut sesungguhnya tidak ada dalam istilah masyarakat. Yang ada justru istilah ‘bobok suruh temu ros’.

Sudut pandang Iin Puspita Ningsih (pengamat bahasa jawa, pengajar SMPN-3 Jombang).
Cerpen Bobok Suruh Bodeh tersebut cenderung beraliran bahasa lisan. Hal ini memang sah sah saja secara kebebasan ber-ekspresi sebagai suatu karya. Tetapi bentuk bahasa nJombangan itu sendiri yang amat beragam, acap kali membuat kreator lain sulit menemukan formula yang jelas. Seharusnya ada lembaga ‘pelatihan’ dan ‘media’ kusus tentang bahasa nJombangan. Majalah khusus yang memuat bahasa jawa semisal’ Joyoboyo’ dan’ Penyebar Semangat’, terbukti tidak memuat bahasa nJombangan. Lebih jauh, Iin Puspita Ningsih bersedia mengawali apreseasinya dengan memperkenalkan bahasa nJombangan sebagai bahasa khas daerah yang berbeda bentuk dengan bahasa jawa umumnya, kepada siswanya.

Alur pandang Hadi Sutawijaya (sastrawan, dan pemain teater Suket UNDAR Jombang)
Diperlukannya jejak pijakan awal untuk berganti model dalam pemahaman sastra baru di Indonesia. Hal ini didasarkan atas kelemahan khasanah kesusastraan Indonesia, dan sekaligus diperlukannya apreseasi khusus terhadap budaya lokal. Yang esensi dari sebuah sastra adalah pesan yang disampaikan, dan bukannya sekedar ‘frame’ struktur penulisan semata.

Tanggap pandang Fahrudin Nasrulloh (penulis, editor lepas dari komunitas Lembah Pring)
Dalam cerpen ini ada semacam kekuatan cahaya yang meletup, meskipun dalam arus yang terkesan tidak mendesak Setara dalam film Splandaur yang menghadirkan inspirasi dalam berbagai lintasan peristiwa. Cerpen ini lebih bersifat prilaku sosok ‘ular weling’yang tidak banyak bergerak namun mengandung bisa yang mematikan. Pola cerpen semacam ini juga banyak terdapat dalam bebrapa cerpennya Jakop Sumarjono dan Bagus Subagiyo. Sementara menanggapi soal jenis bahasa nJombangan atau tidak, itu hanya soal stempel almamater yang hendak dicomot oleh arus tertentu. Toh, sudah tersedia kamus Thesaurus yang merangkum berbagai jenis bahasa di Jawa.

Jarak pandang Rahmat Sularso (Mahasiswa jurusan bahasa STKIP Jombang)
Cerpen ini terkesan mengambang. Hal itu di sebabkan karena tidak di temukannya kedetailan dan klimaks kontroversi yang memuncak sebagai plot antagonis. Namun cerpen ini tetap mempunyai ciri khas tersendiri.

Alur pandang Rangga D.P.K. ( Mahasiswa STKIP Jombang)
Ciri khas bahasa yang original tertuang dalam cerpen ini. Lebih lanjut Rangga meminta agar penulis bersedia membimbing tantang pendalaman bahasa nJombangan kepada mahasiswa bahasa untuk mendukung program kampus yang hendak turut nguri-uri budaya lokal.

Penjabaran Koko Sake (penggiat sastra kampus)
Sebagai moderator acara, Koko melebarkan pertanyaan kepada peserta. Apakah mungkin dalam cerpen ini mengandung arti ‘keliaran’semacam ‘neo fuck animals’yang garang di tengah ganasnya belantara.

Tanggapan Jabar Abdulloh ( Aktifis sastra dari DKKM Mojokerto)
Adanya keberanian yang tampil sebagai pendobrak warna baru dalam kesusastraan jawa. Kemerdekaan ini merupakan simbol kebebasan berekspresi dari setiap penulis, meskipun kemerdekaan tidak selamanya diartikan se-bebas-bebasnya. Jabar juga menghimbau agar penulis tidak sekedar ‘bilang akan mandi’, tetapi yang dilakukan hanyalah sekedar bertayammum.

Senin, 27 September 2010

Ma’iyah: Kepemimpinan Bani Syari’at

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Sepeninggal bapak pluralisme (KH. Abdurrahman Wahid), para sejarawan mulai me-nganalisa rumusan pemikiran baru. Rumusan baru itu ditarik berdasarkan gelombang waktu yang mengalami padatan momental. Dimana warna kepemimpinan yang berhasil dan membuat nama besar kerajaan, ditandai dengan lahirnya sosok pemimpin dari kalangan bawah.

Kebesaran Majapahit sesungguhnya bukan pengaruh nama raja-raja yang sedang bertahta, melainkan karena konsep kepemimpinan seorang patih gajah Mada. Karir politik dan militer Gajah Mada berwal sejak pemerintahan Prabu Jaya Negara (1309-1328). Kedudukannya di Majapahit terus melejit sampai era kepemimpinan Jaya Wisnu Wardhani (1328-1360).

Menurut kitab Usana Jawa yang dipercaya orang Bali, Gajah Mada adalah putra Bali yang tak berayah-ibu. Ia terpancar dari dalam buah kelapa, jelmaan Sang Hyang Narayana. Gajah Mada diperkirakan lahir awal abad 14, yakni tahun 1300 M. sebab tahun 1321 ia sudah diangkat menjadi Mahapatih dan meninggal tahun 1364. Menurut sebagian cerita, Gajah Mada lahir di pedesaan sungai Brantas yang mengalir di antara Gunung Kawi dan Gunung Arjuno.

Sebagaimana Majapahit, Singosari juga menjadi kerajaan besar saat dipimpin oleh Ken Arok yang lahir dari kaum proletarian.

Munculnya kerajaan Mataram di alas Mantaok (daerah Yogyakarta) juga dipimpin oleh dinasti ploretarian anak cucu Ki Gede Pemanahan. Pada tahun 1575 Ki Gede Pemanahan sendiri hanyalah sesepuh masyarakat desa. Pola kepemimpinannya merombak dogma dan konvensi feodal, terbukti berpengaruh terhadap kepesatan kerajaan secara universal.

Keterangan yang menunjukkan bahwa dinasti Mataram keturunan petani di katakan oleh Trunojoyo saat perang dengan anak turunan Mataram saat pemerintahan Amangkurat II (1677-1703). “Raja Mataram iku diumpamakake’ tebu : pucuke maneh yen lagi, senajan bongkote ing biyen yo adhem ayem bae, sebab raja trahing wong tetanen, angur maculo bae bari angon sapi”(Mainsma, 1941).

Sebutan “Ki Gede/Ki Ageng” dan bukan “Raden” menunjukkan dari kelas bawah. Perombakan yang dilakukan oleh pemimpin dari kalangan petani lebih bersifat pluralistik yang membongkar sistem sentralistik. Sistem sentralistik dinilai hanyalah bilik kamar mandi kaum feodal untuk ber-ekstase onani. Penandaan perombakan diawali dengan merubah tatakrama bahasa. Saat Jaka Tingkir (Raja Pajang 1568 dengan gelar Sultan Hadiwijaya) menantang Arya Penangsang (Adi Pati Jipang). Dalam surat tantangan itu Jaka Tingkir menuliskan kata “Kakang” di depan nama Arya Penangsang. Padahal Arya Penangsang lebih tinggi derajatnya karena keturunan asli Demak, sedangkan Jaka Tingkir hanyalah menantu Demak.

Dalam tatanan teologi Islam ada beberapa pendapat yang memposisikan hubungan antara makhluk dengan Alloh di dasarkan pada fase nilai. Nilai terendah disebut hubungan (abadah) syari’at, niali ke II hubungan secara hakikat, dan nilai ke III hubungan ma’rifat. Penilaian semacam ini tepat jika yang menilai tingkatan itu adalah Alloh sendiri sebagai hak prerogatif Tuhan. Tetapi jika yang menilai manusia, hanyalah sebagai sarana pengkotaan nilai antara dirinya yang harus dijunjung dengan kaum rendah.

Syari’at adalah aturan riel yang harus dijalani hamba dalam mengabdi pada Alloh: syahadat, sholat, zakat, puasa, haji. Syari’at harus dilakukan secara nyata yang menyangkut syarat dan rukunnya. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali membedakan tingkatan syari’at dan hakikat. Puasanya orang-orang syariat adalah tidak makan dan minum. Puasanya orang-orang hakikat adalah zuhud (menjahui dunia). Puasanya orang ma’rifat adalah percintaan terus menerus dengan Alloh. Dari sini jelas bahwa yang dimaksud “Bani Syari’at” adalah orang-orang yang mengerjakan sesuatu secara nyata.

Cak Nun dan Totok Rahajo dalam pengajian Padhang mBulan tangal 26 Juli 2010 mengungkap bahwa posisi syari’at, hakikat, ma’rifat adalah satu kesatuan yang tidak bisa lepas. Ketiganya merupakan aransemen nilai yang berkesinambungan untuk memperbaiki nilai pada tiap-tiap hamba. Toto Raharjo menjelaskan contoh konkrit dalam menjalankan syari’at. Untuk menjalankan partai misalnya, harus dipenuhi hukum/ketentuan syari’atnya: anggaran dasar, anggaran rumah tangga, ketua dan angotanya.

Selama ini yang dilakukan orang-orang Maiyah adalah kontribusi riel terhadap permasalahan sosial, agama dan negara, dan bukan hanya pengajian semata. Secara pribadi, Cak Nun mencontohkan perihal perilaku syari’at dalam rumah tangganya. Bahwa dalam persoalan kecil berumah tangga, Cak Nun harus menyuci baju, nyapu, bersih-bersih rumah sendiri, tidak harus menyuruh istri dan anak. Namun hal demikian disyukuri Cak Nun sebagai nikmat, sebab banyak kalangan pejabat dan orang-orang yang sudah terkenal, justru tidak mampu melampaui masa-masa mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Sejauh ini para presiden di Indonesia adalah orang-orang yang sejak kecil menghuni rumah kebesaran orang tuanya atau institusinya. Keseharian mereka tidak pernah terlibat langsung dengan permasalahan-permasalahan dasar yang terjadi di masyarakat. Mereka tidak mengetahui betul berapa harga cabe, garam, dan trasi, yang tiap harga kebutuhan pokok itu harus didapat masyarakat dengan bekerja keras seharian. Ketidaktahuan para presiden tentang kebutuhan masyarakat secara detail ini mempengaruhi presiden ketika menggulirkan transaksi-transaksi pasar berskala besar. Semisal monopoli, oligopoli, pasar bebas dan lain sebagainya, seringkali tidak berpihak pada ekonomi rakyat.

Senin, 20 September 2010

Embriologi Peradapan

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Pernakah kita berfikir tentang asal-muasal atau apa sebab, dan bagaimana, dan seterusnya, mengapa bisa terjadi adanya peradaban? Taruklah manusia jaman sekarang menganggap telah menemukan titik sentral atau sumbu koordinat peradaban tertinggi. Ambil satu contoh dengan penemuan teknologi sekelas google, yang dengan serta merta membentangkan provider yang benar-benar menjadikan kecepatan informasi dan ngerumpi-nya manusia dari berbagai belahan dunia.

Sisi kenyamanan akibat terkuaknya ilmu pengetahuan dan teknologi memang tak perlu dipertanyakan. Sebab jawabannya pasti hanya satu kata’idem’yakni –kemudahan-efisiensi. Tetapi kelemahan akibat yang ditimbulkan belum tentu disikapi pemakai-fasilitas kecanggihan iptek secara cermat dan bijak.

Untuk menggambarkan perkembangan peradaban kita dapat ilustratifkan pada hal yang sepele misalnya : sebuah balon yang belum tertiup, kita dapat noktahkan banyak titik. Setelah balon ditiup dan makin besar perkembangan balon, makin jauh pula jarak antar titik yang satu dengan yang lain. Titik itu bisa kita tarik ke berbagai idiom sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Pengembalian titik ke jarak posisi semula hanya akan terjadi saat balon dikempeskan lagi dan atau pada posisi kuantum.

Tak tanggung-tanggung meledaknya peradaban yang akhirnya disematkan sebagai titik sentral nilai. Munculnya astrofisikawan semisal Hughross (Amrik), Denis Yanura, Servid Hugo (Inggris) dan bahkan Steven Hoki yang dalam kancah penelitian luar angkasanya menemukan adanya kandungan hidrogen yang selalu berjumlah sama dengan unsur helium sebagai sisa ledakan besar -big bang- awal terjadinya alam semesta.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai “ruh”, peradaban akan melaju. Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 30, atau Adzariat ayat 47 telah meletakkan dasar utama sebagai referensi setiap gejala peradaban. Tahun 1948 John Gemon dari Amerika menandai adanya sisa radiasi dari ledakan besar (big bang). Tahun 1965, Penzia mengemukakan teori alumbenzias yang menyimpulkan bahwa kehidupan berasal dari keajaiban yang tersibak. Sampai pada tahun 1985 pusat penelitian luar angkasa NAZA sanggup menggemparkan kalangan astrofisikawan dengan temuan radiasinya dengan istilah “alsion” yang akan bertemu dalam satu fokus tahun 2012 nanti. Yang kesemua indikator gejala alam tersebut dapat diunduh sebagai bahan dasar replikasi bangkitnya peradaban.

Kembali pada pertanyaan di atas, apa asal-muasal atau yang menjadi genre peradaban, sehingga manusia mampu merambah peradaban yang amat mutakhir? Mungkin kita tidak menyangka dengan apa yang kemukakan Emha Ainun Nadjib dalam pertemuan Padhang Mbulan, bahwa awal terjadinya peradaban hanya karena manusia di anugerahi tulang rahang yang lemah dan dan pita suara yang lembut. Cak Nun menggambarkan secara ilustratif beda antara manusia (yang bertulang rahang lemah) dengan hewan (kera) yang bertulang rahang kuat. Kera akan memakan setiap jenis makanan berdasarkan kekuatan rahang, sehingga dalam dunia kera tidak melahirkan cara yang lebih mudah untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan. Disinilah hewan tidak memerlukan peradaban. Karena rahangnya sudah cukup untuk menjadi alat memenuhi kebutuhannya. Berbeda dengan manusia, tulang rahangnya yang lemah membuat manusia mencerdiki suatu cara untuk mengolah makanan agar mudah dikonsumsi.

Dari rahang yang lemah inilah kemudian berkualitas pada pita suara. Timbre -warna suara- mudah di aransemen menjadi berbagai bentuk yang menghasilkan nada-nada yang indah. Tak pelak jikalau akhirnya nada itu kemudian menjadi kekuatan penunjang atas lahirnya peradaban. Keterkaitan bentuk dalam wujud yang dipengaruhi “maka” dan “karena” ini juga disinggung Emha dalam buku “Budaya Tandingnya”.

Pengelolaan rima agar serasi, pada akhirnya menusia menciptakan rumus-rumus khusus. Dalam budaya pondok pesantren dikenal dengan ilmu urud-kitab yang mempelajari tentang kerancakan nada. Dalam ilmu Urud, dapat kita tumukan istilah syair yang bersajak bahar kamil, bahar majaz dan lain-lain. Dalam ilmu jawa disebut –cengkok- atau lekuk peralihan nada.

Menurut penjelasan Mas Blotong, yang hadir dalam rekaman sholawat dengan jama’ah padhang mbulan tanggal 30 Maret 2010 mengatakan bahwa pada dasarnya penggalian ilmu nada dibedakan atas 3 dasar utama, yakni nada dasar, tangga nada, dan ritme. Blotong yang sedang mendalami ilmu seni di ISI Yogyakarta, dan sedang menempuh S2 itu juga menambahkan bahwa ilmu nada dasar diatonik yang dirumuskan dengan do, re, mi, fa, sol (7 nada dasar). Berbeda dengan ilmu nada bagi orang Timur (Asia). Orang-orang Asia mengembangkan nada diatonik ini menjadi warna baru yang disebut pentatonik (pengembangan dari diatonik). Sedangkan ukuran mayor dan minor hanyalah nada-nada bentukan.

Nada pentatonik ini tidak terdapat di dunia Barat. Dalam hubungannya dengan musik Kyai Kanjeng, Mas Jijid yang hadir di padhang mbulan juga melengkapi komentar Mas Blotong. Sebagai pakar seni, mereka menemukan keunikan dalam nada yang diperankan musisi Kyai Kanjeng. Menurut dua pakar seni dari Yogyakarta ini, Kyai Kanjeng mampu tampil atau mengalami perubahan nada dari diatonik ke pentatonik dalam perubahan yang lentur dan serasi namun padat. Kelebihan semacam inilah yang tidak ditemukan dalam alur musikalisasi pada umumnya. Artinya di dalam peramuan aransemen saja, Kyai Kanjeng kental dengan syarat pruralisme rima. Belum lagi dengan jenis musik yang digarap. Aliran musik modern –pop- hingga etnis, diusung juga oleh Kyai Kanjeng. Hal ini sebagai tanda penghubung dua kutub alur permusikan. Perlompatan tangga nada terjadi secara cepat, binal, melunjak-lunjak namun tetap menempuh ruag estetik dan etiknya. Percepatan semacam ini berbeda dengan puisi art yang dirancang Afrizal Malna. Sebagaimana golongan sastrawan yang memilih jalur penuangan puisi dengan teori percepatan, justru tidak memberikan kesempatan audiens sedikitpun mengejar pemahaman atas apa yang dibacakan. Percepatan yang diperankan Kyai Kanjeng, tetap runtut dari tiap peralihan yang memungkinkan pemirsa mampu memetik tujuan aspirasi seni yang digebyarkan.

Keunikan aransemen Kyai Kanjeng ini selaras dengan teori penyelarasan cepat yang ditemukan astrofisikawan George Elis dan Prof John Nagiv. Sebagaimana Al-Furqon ayat 2 mereka mengatakan bahwa “ serpihan yang melaju dengan percepatan tinggi akan segera menjauh”. Ada semacam pergeseran jarak yang dengan sendirinya menjauhi terjadinya benturan. Per-bentur-an yang dimaksud adalah semacam cauvimisme rujukan filsafat yang hanya baku dan ditemukan dengan cara yang sempit. Disinilah Kyai Kanjeng membeberkan keluasan pandang di berbagai lini, agar peradaban berkembang menempati ruang yang luas dan beraneka ragam.

Seniman Barat tentu tidak akan sanggup mengejar seniman Timur yang syarat dengan laras-laras pentatoniknya. Hal ini bukan sekedar nada dasar mereka yang tidak memadai, akan tetapi juga proses eliomentary Yahudi yang merasuki proses ilmu Barat. Dalam pertemuan rutin sastrawan Jombang yang penulis catat, Robin al Kautsar seorang S1 ekonom pernah mengatakan hal eliomentary Yahudi ini dalam lingkup seni (art hemogeni). Contoh sederhana semisal film-film barat selalu mengambil background orang arab atau asia sebagai peran abdi (kawula) atau peran pecundang.

Dalam kesempatan sempit diantara rekaman beberapa tembang sholawat koor yang diambil dengan jama’ah padhang mbulan, Cak Nun menyarankan pada jama’ah agar tetap rapi memenejemen lalu lintas rohani dengan intelektualitas. Manajemen demikian dimaksudkan agar dalam kreatifitas apapun kita tetap menarik hubungannya dengan nilai ke Allohan. Sesuatu yang tidak menyertakan Alloh hanya berakibat “kakean cocot”omong kosong belaka.

Pruralisme aransemen musik Kyai Kanjeng ini selaras dengan apa yang ditulis Andrew Banjamin dalam buku –Pluralism the Cosmopolitan and the Avant Garde- estetikus Inggris ini mengatakan bahwa dalam kreatifitas pluralitas terdapat dua hal sekaligus dalam satu ruang, yaitu “penyatuan” dan “esensi”. Dari sini dapat dicerna bahwa –Barat- yang hanya memiliki nada dasar diatonik itu terlalu hibridity semata.

Keunikan musik Kyai Kanjeng ini tak pelak mampu diapresiasi sebagai musisi yang tour terbanyak dalam melantunkan tembang-tembang aransemennya dan terbanyak pula negara-negara didunia yang dikunjungi dari pada kelompok musik manapun/apapun didunia.

Pemerintah Indonesia sendiri tidak banyak yang merespon musik Kyai Kanjeng. Sebab pemerintah sudah mengawali kegagalannya dengan memandang sesuatu berdasarkan teori -barat- yang nota bene-nya tolok ukur barat belum tentu cocok dengan teori yang dikembangkan oleh orang-orang Timur. Pemerintah dan pelaku sejarah telah sukses menjadi tangan panjang (tentakel global) dunia –Barat di dalam melakukan pencucian otak ke-timuran.

Dari rahang manusia yang lemah sampai nada-nada pentatonik, sesungguhnya, siapapun, termasuk ilmuan barat mengetahui jikalau Timur adalah peradaban asal muasal dari segala peradaban atau dikenal dengan istilah “sangkan paran dumadi”. Tetapi barat terus menerus membalikkan fakta dengan cara mengakui bahwa Barat adalah awal lahirnya peradaban. Keberadaan inilah yang disebut bahwa orang-orang Barat terus berupaya menerbitkan matahari dari Barat. Barat selalu menentang nochturn kesadaran dan kewajaran alamiah bahwa bagaimanapun matahari hanya akan terbit dari Timur.

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir