Naskah Teater karya : Rakai Lukman *
SINOPSIS
Sahdan di suatu masa, ada seorang pendekar yang sakti madraguna, bernama Jaka Slining yang tertarik dengan puteri seorang punggawa desa. Yang mana sang putri tidak tertarik dengan cinta yang ditawarkan sang pendekar. Putri itu bernama Dewi Kabunan, permohonan cinta itu akan dikabulkan dengan syarat dibuatkan 41 sumber mata air dalam satu malam di atas bukit. Kemudian Dewi Kabunan, mencoba menggagalkan, usaha Jaka Slining dalam menyelesaikan 41 sumber itu. Dengan membuat ulah, memanggil bala bantuan dari para pengikut ayahnya. Dengan memukul lesung dan membakar hutan, sehingga memberi efek seolah-olah fajar telah tiba. Karena ulah itu, Jaka slining menjadi murka.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Agustus 2019
Senin, 09 April 2012
Orang Asing, Sebuah Naskah Teater
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Tokoh
Lurah Guru Modin Orang asing Perempuan Warga
Sinopsis
Adalah konspirasi orang asing dengan lurah. Orang asing membantu lurah untuk merealisasikan janji-janjinya dalam memimpin kampungnya untuk mensejahterakan rakyatnya. Rencana itu disambut baik oleh kebanyakan warga. Terlebih untuk pendidikan gratis, kesejahteraan guru dan modin.
http://sastra-indonesia.com/
Tokoh
Lurah Guru Modin Orang asing Perempuan Warga
Sinopsis
Adalah konspirasi orang asing dengan lurah. Orang asing membantu lurah untuk merealisasikan janji-janjinya dalam memimpin kampungnya untuk mensejahterakan rakyatnya. Rencana itu disambut baik oleh kebanyakan warga. Terlebih untuk pendidikan gratis, kesejahteraan guru dan modin.
Sabtu, 21 Januari 2012
KIBAR BENDERA SI SARTO DI HALAMAN RUMAH
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Para Tokoh;
Sartib, lelaki kampung yang berusia 40-an. Hari-harinya dirundung sedih karena belum genap seratus harinya ditinngal istri tercintanya.
Sarto, Bocah laki-laki berusia belasan tahun. Ia bisu dan kurang normal pikiranya, tapi ia punya semangat hidup yang tinggi.
http://sastra-indonesia.com/
Para Tokoh;
Sartib, lelaki kampung yang berusia 40-an. Hari-harinya dirundung sedih karena belum genap seratus harinya ditinngal istri tercintanya.
Sarto, Bocah laki-laki berusia belasan tahun. Ia bisu dan kurang normal pikiranya, tapi ia punya semangat hidup yang tinggi.
Jumat, 20 Januari 2012
Naskah Teater Anak: Bunglon Dan Kupu-Kupu
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis
Pada sebuah taman bunga, Kupu-Kupu berterbangan. Bunga-Bunga menyambut mesrah tarian Kupu-Kupu yang datang di pagi itu. Bunga dan Kupu-Kupu hidup saling menghargai dan menolong. Mereka hidup saling bergantung antar sesama.
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis
Pada sebuah taman bunga, Kupu-Kupu berterbangan. Bunga-Bunga menyambut mesrah tarian Kupu-Kupu yang datang di pagi itu. Bunga dan Kupu-Kupu hidup saling menghargai dan menolong. Mereka hidup saling bergantung antar sesama.
Kamis, 07 April 2011
Opera Jaran Goyang
Naskah berasal dari sandiwara rakyat cirebon “Putra Sangkala”
Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis :
Sebuah kisah tentang dua anak manusia yang dibedakan oleh status ekonomi. Baridin putra dari Mbok Wangsih dilahirkan di keluarga yang miskin. Ratminah putri dari Bapak Dam terlahir di keluarga kaya. Pertemuan Baridin dan Suratminah menumbuhkan benih-benih cinta di hati baridin. Tapi sayang cinta bertepuk sebelah tangan, suratminah menolak cinta dan lamaran baridin. Bahkan Mbok Wangsih yang mengantarkan lamaran baridin dihina dan dicaci maki oleh Suratminah dan bapak Dam.
Disinilah timbul dendam Baridin kepada suratminah atas kesombongan dan perilakunya kepada Ibunya, Mbok Wangsih.
Atas bantuan Gemblung dengan cara memberikan sebuah mantra kuno bernama “Ajian Jaran Goyang”, Baridin mengamalkan mantra tersebut demi balas dendamnya kepada suratminah.
Sampai akhirnya Suratminah terkena rapalan mantra itu, bukan berbalik cinta kepada baridin, tapi suratminah menjadi gila oleh mantra itu sampai menemui ajalnya.
Bagaimana dengan baridin apakah dia puas dengan pembalasan dendamnya ? Baridin yang terbebani oleh dendam dan cinta kepada suratminah tidak kuat mengatasi kehebatan dari mantra jaran goyang, sehingga baridin ikut juga menemui ajalnya.
Hingga saat ini baridin dan suratminah dimakamkan dalam satuliang lahat.
Inilah kisah dari cirebon.
Babak 1
Sebuah setting panggung di rumah sangat sederhana berdindingkan bambu. Seorang laki-laki tengah tergolek tidur di balai bamboo. Kemudian datang seorang perempuan dari dalam berumur sekitar 45 tahun sedang menyapu lantai.
Mbok wangsih :
Din… Baridin… bangun din ! hari sudah siang begini kamu masih tidur. Kamukan mau membajak sawahnya mang Bunawas.
Baridin Cuma mengeliat-liat dan berganti posisi tidur ketika dibngunkan ibumya.
Mbok wangsih:
Heh din ! bangun ! bangun ! sawah mang Bunawas bagaimana heh!!
Kemudian ada seseorang yang datang
Mang Bunawas :
Punten ! Punten!
Mbok Wngsih :
Eh .. mang bunawas
Mang Bunawas :
Baridin ada mbok?
Mbok Wangsih:
Ada mang….. Din ! ada mang bunawas !
Mendengar siapa yang datang Baridin segera bangun sambil menggosok matanya yang masih ngantuk.
Baridin :
Eh… Mang Bunawas..
Mang Bunawas :
He din ! hari sudah siang kamu masih tidur ! Niat kerja nggak ?!
Baridin :
Minta maaf mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangun kesiangan.
Mang bUnawas :
Jadi maumu apa ?
Baridin :
Kalau besok saja bagaimana mang?
Mang Bunawas :
Hei din ! yang benar saja, depan belakang sawah sudah dibajak. Masa sawah saya saja yang belum diapa-apakan. Pokoknya saya gak mau ! tahu hari ini harus selesai. Sanggup gak kamu din?
Baridin :
Ya sudah mang kalau begitu . Tapi saya belum jelas dimana sawah mang Bunawas?
Mang Bunawas :
Disebelah timurnya bukit dekat kelurahan. Tahu gak kamu.
Baridin :
Ya ya mang. Kalau begitu saya kesana.
Mang bunawas :
Ya sudah saya duluan. Saya tunggu lho din ! Mbok ! Mbok saya permisi dulu
Mbok wangsih :
Lho .. kok buru-buru mang ? belum saya buatkan minuman kok…
Mang Bunawas :
Trima kasih… lain kali waktu aja. Masih ada keperluan.. Mangga mbok..
Mbok Wangsih :
Mangga.. mang
Kemudian baridin keluar berangkat ke sawah
Baridin :
Kalo begitu baridin berangkat dulu. Minta doa restunya semoga cepat selesai pekerjaan baridin hari ini.
Mbok wangsih ;
Ya ya ..mbok doakan… Hati-hati dijalan din.
Baridin :
Ya mbok !..
Babak 2
Setting tempat disebuah jalan menuju pasar dekat jembatan. Seorang gadis sedang komat kamit mengingat sesuatu. Tak jauh dari tempatnya berdiri, 3 orang pemuda sedang asyik ngobrol dan kemudian melihat kearah gadis itu muncul keinginan untuk menggoda.
Suratminah :
Aduuh…. Apa ya pesanan bapak tadi ? kok lupa ya…nggg…tak ingat-ingat dulu, tadi bapak pesan kopi , gula, ikan tongkol, …terus bawang merah, bawang putih, teruss..
Para pemuda :
Haaaa !!!!
Ratminah kaget dibuatnya
Pemuda 1 :
Latah ya ? masih muda kok latah
Pemuda 2:
Bocah cantik… bocah denok… nang-ning-nang-ning…
Ratminah :
Hei ! hei ! kebiasaan sih ! setiap pergi kepasar pasti ada saja yang iseng. Apa kalian tidak tahu kalau saya ini anak orang kaya !
Pemuda 2 :
Hei nok, jadi anak orang kaya itu ya jangan sombong..
Pemuda 3:
Hei dengarkan ini, beli manggis di pasar tanjung, naik ojek bayarnya mahal.. gadis manis yang kusanjung, jadi cewek jangan jual mahal !
Ratminah :
Hei ! dengarkan ini juga ya! Naik ojek sambil jalan-jalan, beli cuka dapatnya garam… orangnya jelek gak karuan ! ngomong suka gak punya uang !
Pemuda 1 :
He nok.. jagan malu-malu..sama aku saja. Ini aku punya kumis…. Lebat lagi kumisnya..
Para pemuda :
Seratus untuk kumis !!
Ratminah :
Hei dengarkan !! rujak manis rujak asem, rambutan manis terkelupas isinya.. punya kumis bau asem!! Rambutnya lebat banyak lalatnya !! sudah pergi sana!! Sana!! Tak bilangin bapak tahu rasa !!
Musik berkumandang lagu dinyanyikan
Para pemuda :
“lenggak-lenggok goyang jalannya
gadis denok tinggi omongannya
disapa malah marah-marah
apa gak ngerti… marah itu bisa jadi malah berbahaya “
Ratminah :
“dasar mata keranjang lihat gadis sintal
colak colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
tidak malu sama orang
dasar kamu orang pengangguran “
Para pemuda :
“hei ! jangan bilang gitu !“
Ratminah ;
“sebab menghina aku …”
Para pemuda :
“Inikan intermezzo “
ratminah :
“dasar hidung belang beraninya keroyokan !”
Kemudian datang baridin mengganggu para pemuda yang menggoda Ratminah
Baridin :
Mang.. mang… permisi mau nanya, dimana sawahnya mang bunawas ?
Pemuda 3 :
Sawahnya mang bunawas luruuuss…ini luruus saja
Baridin :
Sebelah mananya bukit mang ?
Pemuda 3 :
Timurnya bukit. Sudah ya, sana pergi, pergi… ganggu orang saja..
Para pemuda itu kembali mengganggu ratminah selepas kepergian baridin.
Para pemuda :
Bocah manis.. bocah denok…. Blakthuk…blakthuk…
Ratminah :
Hei ! masih ganggu terus sih !
Pemuda 3 :
Buah salak, buah kedondong…. Jangan galak dong !
Ratminah :
Dasar gak punya aturan ! beraninya hanya di jalan ! kalian semua itu ya coba ngaca ! Ngaca ! Apa kalian tidak tahu ! yang suka sama suratminah itu orang-orang yang ber-dasi, ber-jas, ber-kaliber, ber-uang !
Para pemuda :
Hah ! jadi yang suka sama kamu itu B-E-R-U-A-N-G !!
“cepon-cepon kayu…oleh wadon asal ayu…
kayu-kayu crème…wong ayu manis eseme..
crème sipongpongan ayo pada jaipongan”
“nona manis jangan menangis
sendirian apa butuh teman
kalo boleh kami temani
bisa tinggal pilih….jangan takut banyak duwit asal minta cubit..”
Ratminah :
“Dasar mata keranjang ! makin macam-macam
colak-colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
dasar lelaki kampungan
tak malu kalo kemps kantongnya
Para pemuda :
“hei jangan bilang gitu !”
Ratminah :
“ biar kamunya mikir”
Para pemuda :
“tapi aku tersindir”
Ratminah :
“dasar hidung belang lihat gadis ngomong senang”
kemudian tiba-tiba datanglah Baridin mengganggu lagi. Dan Ratminah yang melihat kesempatan itu menyelinap pergi.
Baridin :
Mang… Mang… belum ketemu mang, sawah mang bunawas,cari ditimur..ke barat gak ketemu.
Pemuda 3 :
Aduuuh… ini mengganggu saja.
Pemuda 1 :
Ceweknya hilang..
Pemuda 2 :
Waduuuh… ini gara-gara kamu..waaaah…
Para pemuda itu pergi mencari ratminah.
Kemudian Ratminah datang lagi dengan ketiga kawannya.
Suratminah :
Trima kasih atas pertolongannya tadi
Baridin :
Pertolongan apa ya ?
Suratminah :
Ya tadi para berandalan itu, tidak tahu kalo saya pergi, karena ada kamu. Ngomong-ngomong kamu jualan apa sih ?
Baridin :
Oh ini…saya bukan mau jualan, ini saya mau membajak sawahnya mang bunawas.
Suratminah :
Kamu kok lucu…
Musik berkumandang.
Baridin :
“tiba-tiba aku terkejut …. Lihat gadis langsung kepincut
lirikannya senyumannya sangat maut
bikin hatiku kalang kabut
perkenalkan aku baridin
hidup sedang menderita batin
tiap hari merasa dingin
sebab ingin merasakan kawin”
Ratminah :
“mau dingin mau kawin gak mikirin
sebab banyak gadis yang lain
bunga anggrek hidup di pohon
baridin :
“apa wong ganjen?”
Ratminah :
“Orang jelek tampangnya bloon
Tiba-tiba bicara soal kawin
Kalo ngomong harus piker-pikir
Kunci gembok kunci gerendel
Orang goblok mirip ondel-ondel”
Baridin :
“kalau mau ngomong jangan sembarangan
nanti bisa jadi bengong
jangan jingkrak-jingkrak kalau mau nolak
nanti bisa malah ngajak”
Suratminah :
“idih ! jangan asal ngomong
begitu juga ngajak gak apa ngajaknya
ngajaknya kamu aduh sangat lah percuma
sebabnya kamu orang gak punya
gak pantes ratminah jodohnya “
Baridin :
“kalo ditolak nanti dukun yang bertindak”
Suratminah :
“biar gilapun aku tidak akn mundur”
Baridin :
“ngomong begitu apa beneran “
Suratminah :
“biar sumpah tujuh turunan”
Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”
Baridin :
“nok-nok bocah denok bokong semok
nok-nok baridin suka tidak kapok
biarpun kamu lari kegunung kukejar walau kesandung”
Ratminah :
“ kepingin aku… aduh sabar dulu
apa gak tahu kau orang tak mampu..”
Baridin :
“kalo niat..”
Suratminah :
“orang yang niat, harus yang kuat
kalau benar kamu suka aku apa yang jadi lamaran ?”
Baridin :
“nih terimalah “
Ratminah :
“Apa? “
Baridin :
“Lamaran aku”
Ratminah ;
“Bajak ? !”
Baridin :
“Jangan mencibir, Ku ngarti kamu nolak jangan marah……. jangan murka….”
Ratminah :
”Orang jelek celananya sobek…. Omongannya kaya’ bebek”
Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”
kemudian Baridin ditinggal menggerutu sendirian.
Babak 3
Dirumah baridin, mbok wangsih sedang bingung menunggu kepulangan anaknya yang belum pulang juga.
Mbok Wangsih :
Hari sudah sore anakkku baridin masih belum pulang juga. Ada halangan apa ya ? tidak seperti biasanya..
Kemudian datang Mang Bunawas dengan marah-marah :
Mang Bunawas :
Mbok ! Mbok ! Anak kamu itu waras ?! apa gak waras ?!
Mbok Wangsih :
Ya waras mang… Memangnya ada apa mang ?
Mang Bunawas :
Coba kamu pikir, aku nunggu dari pagi sampai sore, eh dia gak datang-datang ! Kemana dia mbok !
Mbok Wangsih :
Dia sudah berangkat dari pagi tadi mang… Saya juga bingung, sudah sesore ini baridin belum pulang. saya pikir dia membajak sawahnya mang bunawas.
Mang Bunawas :
Mbajak sawah ?! bajak sawah bagaimana ? la wong dari pagi dia tidak kelihatan batang hidungnya !!
Mbok Wangsih ;
Tapi benar dia tadi berangkat…
Tiba-tiba baridin datang mengagetkan semuanya dengan melempar alat bajaknya.
Mang bunawas ;
Lihat Mbok ! anakmu ini memang gak waras ! Hei din, dari mana saja kamu ? aku tunggu dari pagi sampai sore, eh malah tidak datang. Ada apa din ?
Baridin ;
Maafkan saya Mang Bun, soalnya tadi di jalan saya mendapat halangan.
Mang Bunawas :
Halangan apa ?
Mbok wangsih :
Iya din, ada halangan apa ?
Baridin :
Halangan berat pokoknya !
Mang Bunawas :
Halangan apa ?
Baridin :
Pokoknya halangan saja ! Mang… bagaimana kalau membajak sawahnya besok saja ?
Mang Bunawas :
Hei din, kamu yang benar saja, kanan kiri, depan belakang sawah sudah siap ditanami padi, masa’ tinggal sawah saya saja yang belum diapa-apakan ? hei din saya percaya sama kamu, karena itu saya suruh kamu membajak sawah saya.. eh malah kamu gak karuan gitu !! Ya sudah ! saya cari orang lain saja ! Permisi mbok !
Baridin :
Maafkan saya Mang Bun..
Mbok Wangsih :
Maafkan anak saya mang ..
Mang bunawas :
Sudah ! Sudah ! (mang bunawas pergi)
Mbok wangsih hanya mengelus dada melihat tingkah laku anaknya.
Mbok wangsih :
Sebenarnya ada masalah apa din ? coba ceritakan sama mbok..
Baridin :
“Mbok wangsiiih… sebelum aku kesawah disebelah pasar dekat jembatan aku mendapat halangan..
halanganya ..bikin pusing pikiran.. bertemu gadis cantik suratminah namanya … bocah denok, bocah montok yang bikin orang suka..
aduh..aduh..aduuuuh…. aku jatuh cinta…”
Mbok wangsih :
Hemm … jadi halangan itu perempuan din ?
Baridin ;
Iya mbok..
Mbok Wangsih :
Kalau itu bukan halangan din
Baridin :
Bukan halangan bagaimana ? karena bertemu dia saya jadi malas kesawah. Selalu kepikiran terus. Mbok saya ingin melamarnya..
Mbok wangsih :
Melamrnya ?
Baridin :
Dia anaknya Bapak Dam
Mbok Wangsih :
Bapak Dam ? Ratminah ? bapak Dam kan yang terkenal kaya raya itu. Coba dengar, kita ini orang miskin. Kok, gak pantas kamu ingin gadis seperti suratminah.
Baridin :
Tapi mbok, sejak pertemuan itu, baridin ingin memilikinya.
Mbok Wangsih :
He din ! sadar din ! Sadar ! Kita ini orang miskin ! Gak pantas kamu ingin kawin sama Suratminah !
Baridin :
Pokonya saya ingin kawin dengan Suratminah !
Mbok wangsih :
Din ! mikir din ! mikir ! otaknya di pake ! kamu itu anake wong miskin. Sedang Suratminah Anake wong sugihan, wong gedean. Gak mungkin Bapak Dam ngasihkan anaknya ke kamu !
Baridin :
Kalau mbok wangsih gak mau, biar baridin bunuh diri saja !
Mbok wangsih :
Apa din ? Bunuh diri ? biar matipun kamu gak bakalan kawin sama suratminah.
Baridin :
Baiklah mbok , baridin bunuh diri saja. Lebih baik mati jika baridin tidak kawin dengan suratminah. Selamat tinggal mbok !
Baridin mengikatkan kain sarung ke lehernya, seolah-olah ingin bunuh diri. Mbok Wangsih mencegah.
Mbok Wangsih :
Din ! din ! Jangan din !din.. kamu anak mbok satu-satunmya jgan bikin susah mbok ya…Dari pada kamu bunuh diri, mbok akan melamar suratminah
Baridin ;
Yang bener mbok ?
Mbok Wangsih :
Tapi kamu jangan berharap lamarannya akan diterima.
Baridin :
Tidak mbok, baridin akan selalu berdo’a semoga lamaran kita diterima.
Mbok Wangsih :
Ya sudah, mbok kebelakang dulu..jangan bunuh diri din..
Mbok wangsih masuk.
Baridin :
Ya mbok !..
Babak 4
Setting di sebuah teras rumah yang lebih bagus, tampak seorang laki-laki berumur sekitar 50-an tahun, tampak gelisah menunggu sesuatu.
Bapak Dam :
Aduh… Aduuh… Ratminah pergi ke pasar sampai sekarang belum pulang juga. Ana halangan apa ini ya? Tadi malam saya bermimpi aneh…… ada halangan apa ya ?… macem-macem…
Kemudian yang ditunggu-tunggu datang.
Ratminah :
Pak ! Bapak !…
Bapak dam :
Hei ! darimana saja kamu ! sudah jam berapa sekarang ?
Ratminah :
Anu pak … tadi ratminah dapat halangan..
Bapak Dam :
Halangan apa ayoo…
Ratminah :
Itu tadi di jalan ratminah dicegat berandalan. Untung Ratminah bisa lolos.
Bapak dam ;
Dikejar-kejar berandalan ? terus..terus.. gak ada yang hilang ?
Ratminah :
Hilang apanya ?
Bapak Dam :
Hilang onderdilnyaa.. ya sudah masuk dulu.
Kemudian Ratminah masuk kedalam rumah sedang Bapak Dam duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang 2 orang yang berniat melamar.
Para Pelamar :
Assalamualaikum……
Bapak Dam ;
Waalaikum salam.. eh ada tamu…
Pelamar 1 :
Apa benar ini rumah Bapak Dam ?
Bapak Dam :
Benar-benar silahkan masuk..masuk.. silahkan duduk.. Rat ada tamu !
Ratminah keluar. Musik berkumandang
Bapak dam :
“silahkan maunya apa?…”
Pelamar 1 :
“ Kalau mau tahu, aku juragan nelayan
tiap kali pulang uangnya pasti dolaran
tidak kurang sandang pangan.. anak bapak kenyang ikan “
Ratminah :
“tidak mau.. tidak mau.. sebab aku sudah tahu
katanya yang dulu-dulu
pelaut sukanya gitu
gak mau aku dirayu..gak mau aku di madu..
nanti dulu jangan harap dapat aku”
Bapak dam :
Sama juragan nelayan gak mau ? nanti kenyang ikan ?
Ratminah :
Nggak bapak
Bapak dam :
Ya sudah silahkan duduk..
“silahkan maunya apa ?’
Pelamar 2 :
“jangan macem-macem sama aku bintang filem
aku sudah yakin Ratmianh pasti kesengsem
hidup tentrem adem ayem siap pakai luar dalem”
Bapak Dam :
“saya suga seneng dapat mantu bintang filem
asal jangan sampai dapat peran macem-macem
mata melek merem-merem.. urusannya jadi runyem “
Ratminah :
“ memang serem-memang serem.. punya suami bintang filem
sering pulang larut malem.. alasannya macem-macem
bilangnya ada sutingan, bialangnya urusan peran
padahal sih diluar banyak simpanan..”
Bapak Dam :
Sama bintang filem gak mau juga ? nanti di suting ?
Suratminah :
Enggak bapak
Bapak Dam :
Ya sudah bikinkan minum tamunya. Maaf ya anak saya belum cocok dengan saudara-saudara. Jadi mohon maklum apa adanya..
Pelamar 2 :
Yaaa… kalau tidak cocok tidak apa-apa… tapi tadi kami naik becak ongkosnya 2000
Bapak Dam :
Terus..
Pelamar 2 :
Jadi mangga mriki… ganti ongkos..
Bapak Dam :
Heh ganti ongkos ?! sebentar-sebentar sampean kesini disuruh siapa ?
Pelamar 1+2 :
Yaaa … disuruh kami sendiri !
Bapak dam :
Nah.. terus..terus..
Pelamar 2 :
Nah..tadi kan saya naik becak ongkosnya 2000..
Bapak dam yang mendengar itu jadi marah dan menggebrak meja
Bapak Dam :
Heh !!! Apa sampeyan tidak tahu, Bapak dam mantan jawara. Sampean kesini mau ngrampok !! Ayo !! Ayo !! (bapak dam seperti mau ngajak berkelahi) ayo ! Tak jotos kupinge getien !!
Para pelamar itu lalu kabur. Kemudian Ratminah keluar sambil membawa air miinum.
Ratminah :
Lho ?? mana tamunya pak ??
Bapak Dam :
Tamu penipu !!
Ratminah :
Ya sudah buat bapak saja minumnya. Saya kebelakang dulu.
Bapak Dam kembali ke tempat duduknya. Kemudian datanglah pelamar berikutnya yaitu Mbok wangsih.
Mbok wangsih :
Waaah… rumah Ratminah besar dan indah. Baridin kok gak ngukur ya ..
Kemudian muncul suara anjing
Bapak Dam :
Rat ! Rat ! siapa ! siapa diluar !
Ratminah keluar melihat siapa yang ada diluar :
Ratminah : apa pak ?
Bapak Dam :
Biasa.. boby..lihat diluar siapa ?
Ratminah :
Oooh .. ada pengemis pak
Bapak Dam ;
Kasih..kasih..
Ratminah :
Berapa ?
Bapak Dam :
Seket !
Ratminah :
Seket ? Nih mbok skeet !
Mbok Wangsih :
Nok…. Tidak nok..mbok bukan mau ngemis..
Ratminah :
Idiiih gak mau ! gak mau pak!
Bapak dam :
Paling munggah-munggah
Suratminah :
Berapa ?
Bapak Dam :
Satus !
Ratminah :
Nih mbok satus !
Mbok wangsih :
Bukan nok mbok tidak mengemis, tapi mbok mau ada perlu…
Ratminah :
Pak ! gak ngemis katanya. Mau ada perlu..
Bapak Dam :
Ada perlu ? aduuh siapa ya ?
Setelah bapak dan tahu siapa yang menemuinya
Musik kembali berkumandang
Bapak Dam :
“silahkan maunya apa?”
Mbok Wangsih :
“sebelum di usir coba bapak pikir-pikr
walau hati nangis saya tidak mau ngemis
saya mau ada perlu suratminah calon mantu”
Bapak Dam :
“coba ngomonglah.. sebenarnya siapa ?
Ratminah :
“coba ngomonglah… kau maunya apa?”
Mbok Wangsih :
“diriku ini nama Mbok Wangsih
mau minta suratminah dari bapak dam
baridin ingin melamar”
Bapak Dam :
Ngarti..ngarti… jadi sampean kesini mau melamar anak saya ? mau meminang suratminah ? Surat mianah anak saya satu-satunya mau dilamar wong macem sampeyan ?! menghina ya ?! Ngece ?! tak jotos kupinge getien sira !!
Ratminah :
Apa pak ?! mau melamar ? iiih.. he mbok ! Mbok melamar buat siapa ?!
Mbok Wangsih :
Buat… buat anak mbok nok.
Ratminah :
Iya siapa ?!
Mbok wangsih :
Ba.. ba… baridin nok….
Ratminah :
Baridin ?
Bapak Dam :
Bridin.. bridin –bridin sapa ?
Ratminah :
Oooh…. Baridin yang bawa wluku ? yang celananya tambalan ? idiiih…. Amit-amit mbok.. siapa yang mau ?
Bapak Dam :
Hei! Hei ! Hei ! apa sampaean gak ngerti, tamunya bapak dam nembe pating kluyur.. wong gedean, wong sugihan… wong nggowo motor –mobil-sepur ! berani-beraninya nglamar ! wis ambune blenak !!
Ratminah :
Baunya Asem !!
Bapak Dam :
Rambute Ruwet !!
Ratminah :
Klambine dowal-dawul !! Apa mbok itu gak mikir ! gak mikir !
Bapak dam :
Usir! Usir Rat ! Usir ! Siram Rat !!
Ratmainah :
Pergi mbok ! pergi !
Mbok wangsih menangis setelah diludahi dan disiram ratminah.
Ratminah :
Orang Gila pak ..
Bpak Dam :
Iyaa…
Bapak dam suratminah masuk.
Babak 5
Setting panggung berada di rumah baridin. Tampak baridin gelisah menunggu kedatangan mbok wangsih.
Baridin :
Mbok wangsih kemana ini ya ? berangkat dari tadi kok belum pulang… (kemudian dia merasa senang) tidak disangka sebentar lagi baridin jdi pengantin…duduk bersanding dengan suratminah …uhuy !!
Kemudian datanglah kawan Baridin, Gemblung bertamu ke rumah baridin.
Gemblung :
Din ? din ?…
Baridin :
Eeeh… gemblung, sudah lama kita tidak bertemu…dari mana saja blung ?
Gemblung :
Emangnya kenapa din ? dari tadi saya lihat cengar-cengir terus.
Baridin :
Kamu itu blung, kalo saya ibaratkan seperti ular maranin pentungan.
Gemblung :
Maksudnya apa ?
Baridin :
Maksudnya, kebetulan sekali. Sekalian undangan, saya mau kawin ! kawin !
Gemblung :
Syukur kalo mau kawin…. Tapi kawin sama siapa din ?
Baridin :
Ah gak ah… takut kamu ngiri
Gemblung :
Alaah !! Paling kamu kawin sama markonah !
Baridin :
Uuuu… markonah mah budheg blung
Gemblung :
Ah ! paling sama saritem ya?!
Baridin :
Saritem anake wong adol srabi ?
Gemblung :
Iyaaa !
Baridin :
Heee .. bukan blung. Kamu mau tahu ? Tapi ada syaratnya, kamu jangan ngirin ya..
Gemblung :
Iyaa..
Baridin :
Yang jadi calon pengantinnya baridin…ayune ..ayu. sugihe.. sugih. Namanya Suratminah Blung.
Gemblung ;
Suratminah ?! Apa saya gak salah dwengar ? Suratminah anaknya bapak dam yang kaya raya itu ?! apa kamu gak ngaca! Ngaca ! coba ngaca !
Baridin :
o-o-o-o… gemblung kliru. Hei blung, orang yang mencuri boleh kamu salahkan, orang yang membunuh boleh kamu salahkan. Tapi orang yang jatuh cinta jangan sekali-kali kamu menyalahkannya, kadang-kadang ada suami istri yang laki-lakinya muda, perempuannya sudah tua. Kadang-kadang ada suami istri laki-lakinya mlarat perempuannya kaya raya.
Gemblung :
Kalo saya terserah kamu saja, sebagai teman saya bahagia kalo lihat teman bahagia.
Baridin :
Terima kasih blung.
Gemblung :
Eh .. din saya pulang dulu ya..
Baridin :
Tapi jangan lupa kamu sering-sering datang kesini, siapa tahu saya butuh tenagamu.
Gemblung :
Ya ya.. ya sudah saya pulang dulu…(gemblung keluar)
Kesenangan baridin tiba-tiba berhenti ketika mbok wangsih datang dengan menangis.
Baridin :
Lho?1 Mbok?! Aduuuh… ditunggu dari tadi pulang-pulang malah nangis ada apa mbok. Ini terong empat dibawa lagi. Aduuh… kenapa mbok ? ngomong ?! Ngomong?!
Mbok Wangsih :
Ini gara-gara kamu din…
Baridin :
Iya ! kenapa ? ngomong ! ngomong !
Mbok Wangsih :
Lamarannya di tolak….
Baridin :
Lamarannya ditolak ?
Mbok wangsih :
Iya din.. malahan mbok di hina habis-habisan… dari pertama mbok sudah katakana, kamu terlalu muluk din.. tapi kamu tetap memaksa. Mbok diperlakukan seperti binatang. Sakit hati mbok din.. sampai kapan kamu menyusahkan mbok din ?
Baridin :
Maafkan baridin mbok… Baridin memang tidak berguna
Mbok Wangsih :
Bosan mbok dengar ucapan itu din ! kamu memang tidak berguna. Bisanya hanya menyakiti mbok! Kamu tahu din…saat ditolak mbok diusir seperti binatang, disiram air, bahkan meludaho muka embok !
Baridin :
Ratminah meludahi muka embok ?! biar kutampar mulutnya mbok !!
Mbok Wangsih :
Suada din ! Percuma ! Sudah cukup kamu menyusahkan embok ! mBok piker daripada kamu terus-terusan menusahkan embok, lebih baik kamu pergi dari rumah ini din..
Baridin :
Mbok….
Mbok Wangsih :
.Mbok cukup menderita dengan kelakuanmu
Baridin :
Mbok…
Mbok Wangsih :
Pergi din ! Pergi ! sebelum mbok memaksamu !
Baridin :
Baiklah mbok, baridin menerima keputusan ini… baridin minta maaf belum bisa membalas jerih payah mbok… baridin berjanji tak akan pulang sebelum membalas sakit hati mbok.
Mbok Wangsih :
Sudah ! cukup ! pergi sana Din ! pergi !
Baridin :
Tega mbok ?…
Mbok Waqngsih :
Tega ..
Baridin :
Mbok…
Bridin pergi dan mbok wangsih tak sanggup menyaksikan kepergian anaknya.
Babak 6
Setting panggung disebuah jembatan dekan pasar. Tampak baridin duduk melamun dekat jembatan, kemudian datanglah kawan baridin , gemblung menemuinya.
Gemblung :
e-e-e-e… dicari kemana-mana ternyata ada disini rupanya. Hei din !
Baridin ;
Huh ! Gemblung ! sana-sana blung ! Baridin lagi selon nih !!
Gemblung :
Ngapain kamu di sini ? ayo pulang ! ayo pulang !
Baridin :
Tidak Blung ! Baridin anak yang tidak berguna ! Sampai mbok Wangsih ega ngusir saya !
Gemblung :
He dengarkan ! Sekarang Mbok Wangsih sudar sadar. Malah saya disuruh mbokmu ngajak kamu pulang. Ayo Pulang ! Pulang !
Baridin :
Tidak blung ! Hidup Baridin sudah tidak berarti ! Hidup hanya jadi hinaan suratminah ! sudah lamrannya ditolah Bapak Dam, suratminah blung, suratminah meludahi Mbok Wangsih !!
Gemblung :
Surat minah meludahi mbok wangsih ?! Kurang ajar suratminah !!
Baridin :
Di caci maki, diusir, sakiit hati ini blng !! sudah hidup miskin jadi hinaan orang, lebih baik baridin mati saja !! (mau melompat dari jembatan ).
Gemblung :
Hei jangan ! Jangan !! kalau baridin mati gemblung siapa temannya.! Ayo pulang !
Baridin :
Tidak ! Baridin tidak akan pulang sebelum mambalas sakit hati mbok wangsih !
Gemblung :
Baiklah kalo mau kamu begitu…
Gemblung ragu meninggalkan Baridin, tiba-tiba gemblung ada sesuatu.
Gemblung :
Hei din ! sini ! sini ! kamu tahu gak kalo aku mendapat warisan ? (berbisik)
Baridin :
Huu!! Kita itu sudah berteman sejak lama blung! dari kecil sampai sekarang,saya tahu waktu bapak kamu mati ketabrak kereta, krieg ! Lalu ibu kamu mati di sambar petir, jgerr ! Bahkan mayatnya diinjak-injak jagir kerbau saya. Trus waktu geger dikelurahan soal warisan, warisan apa ?! warisan cowek bolong ! Warisan cowek bolong diomong-omong !!
Gemblung :
Hei din ! Ini bukan warisan harta. Bukan warisan cowek bolong. Tapi warisan do’a !
Baridin ;
Do’a blung ?
Gemblung :
Iya, do’a bukan sembarang do’a…. do’a aji kemat jaran goyang.. (berbisik)
Baridin :
Jangan macem-macem kamu blung !! Kalo mau bohong sana sama orang lewat !! Jangan sama teman !!
Gemblung :
e-e-e-… tidak macem-macem ini din! Mau bukti ? ini..ini ini din, selalu saya bawa terus. Ini kalo tidak percaya (sebuah kertas lapuk diberikan kepada Baridin)
Baridin :
Ajian …kemat…jaran ..guyang.. tulisannya jawa kuno ya blung..kertasnya sudah lapuk lagi..
Gemblung :
Bagaimana percaya tidak ?
Baridin :
Percaya ! Percaya !
Gemblung :
Kamu mau tahu caranya ? (kemudian gemblung berpikir sebentar ) tapi.. ini berbahaya din..berbahaya ! lebih baik jangan ya !! Jangan !
Baridin :
Eh ! eh ! demi membalas sakit hati mbok wangsih, saya terima resikonya !
Gemblung :
Ngggg….. baiklah maumu begitu. Begini din, kamu harus puasa 40 hari dan ini di baca tengah malam pas jam 12 tepat.
Baridin :
Boleh saya membacanya ? arepan ..ma..ca… ke..mat jaran…gu…yang….
Babak 7
Setting panggung disebuah teras rumah Bapak dam. Tamapak bapak dam bingung memikirkan jodoh anaknya.
Bapak Dam :
Aduuuh… jodoh suratminah apa sudah dekat apa masih jauh ya ? Semua lamaran ditolak.
Ratminah keluar.
Ratminah :
Bapak…
Bapak Dam :
Hei sini-sini.. bapak mau ngomong pemuda yang kamu cari itu seperti apa sih ?
Ratminah :
Iiih …bapak soal itu aja.. wong ratminah belum ada niat kok..
Bapak Dam :
Kamu kan sudah besar, sudah waktunya berumah tangga. Wajarkan bapak tanya itu ?
Ratminah :
Iya benar, ratminah juga ngerti. Begini deh pak, ratminah tahu selera bapak, ya pak ya ?
Tiba-tiba ada suara tokek.
Bapak Dam :
Suara tokek nok ! Nasib baik datang..
Ratminah :
Di hitung pak.
Bapak Dam :
(tokek) …Rejeki (tokek)…. Blai (tokek)…. Rejeki (tokek)….. Blai…
Rayminah :
Kok blai pak.. mestinya dihitung dari blai dulu pak.
Bapak Dam :
Oh ya ya… mungkin besok ada..
Tiba-tiba suara tokek muncul lagi.
Bapak dam :
Nah itu tokek lagi nok !…
Ratminah :
Dihitung dari blai pak ..
Bapak Dam :
Ya ya… (tokek)….. Blai… rejek….. lho ! Tekek kurang ajar ! Njaluk sogok ! Ning ndi iki ya …
Kemudian ada suara-suara orang ronda malam.
Bapak dam :
Kok sudah ada orang ronda ya..?
Ratminah :
Sudah malam pak
Bapak Dam :
Yo wis, bapak masuk istirahat dulu. Jangan lupa kunci jendela sama pintu.
Ratminah :
Iya pak..
Bapak dam kemudian masuk, suratminah yang masih ada diluar tiba-tiba merasa suasana menjadi menyeramkan. Ratminah ketakutan dan segera masuk kedalam.
Dipanggung digambarkan siluet ratminah yang masuk kekamarnya dan tidur. Kemudian terdengar suara seseorang yang membacakan mantra..
“niat ingsun arepan maca kemat jaran guyang…dudu ngemat-ngemat tangga..dudu ngemat wong liwat dalan…sing tak kemat anakke bapak dam kang aran suratminah… kang demen drajad desa milangkori..sing lagi turu gageh nglilira..yen wis nglilir gageh jagonga.. yen wis jagong gageh ngadeka…yen wis ngadek mblayua..mbrenginginga..kaya’ jaran… teka welas ..teka asih.. atine suratminah welas asih.. ning badan ingsun…”
Babak 8
Setting diteras rumah Bpak dam, suasana pagi hari. Bapak dam keluar ke depak teras.
Bapak dam :
Nok !! Bangun nok !! Ratminah bangun !! sekolah !! Ayoo bangun ! bangun!! sekolah !!
Kemudian ratminah keluar dengan agak sempoyongan.
Bapak Dam :
He sudah siang ! Ayo adus ! sekolah !
Ratminah :
Emoh bapak !
Bapak Dam :
Emoh ! emoh ! kena apa Sekolah emoh ?!
Suratminah :
Emoh bapak…
Bapak dam :
Yo wis adus..adus..sudah siang..
Ratminah :
Emoh bapak..
Bapak dam :
Sekolah emoh ! adus emoh ! kena apa rat ? … yowis gawekno bapak wedang… wedang..
Ratminah :
Wedang bapak ?…
Bapak Dam :
Iyaa..wedang.. nok !
Kemudiasn suratminah masuk.
Bapak Dam :
Heh ! ana apa ya ? macem-macem… sekolah gak mau adus gak mau…
Kemudian suratminah masuk bawa golok.
Suratminah :
Ini bapak…
Bapak Dam :
Heh !! wedang nok !! wedang!! Kenapa dibawakan golok !! budheg ya ?! wedang sama golok beda ! wedang-golok ! Wedang – golok ! beda jauh !…
Ratminah :
Wedang bapak..
Bapak dam :
Ya ! Wedang !
Kemudian Ratminah masuk lagi.
Bapak dam :
Aduuuh ! ana apa ya… ratmianah..ratminah…apa sakit ?..
Kemudian ratminah keluar lagi dan semakain sempoyongan, tidak sadar kakinya terantuk kursi dan terjatuh sambil latah menyebut nama seseorang.
Ratminah :
Kang Baridin !! Kang Baridin !!!
Bapak Dam :
Heh nok !! Nyebut ! Nyebut ! ada apa nok !! Kang baridin sapa ?!!
Ratminah :
Kang baridin pak…. Kang baridin lagi wluku pak..
Bapak Dam :
Heh nok ! kang baridin sapa ! lagi ngluku di sawah sapa ?!! heh !! Nok eling nok !! eling !!
Ratminah :
Kang baridin pak.. ayo pak nyusul kang baridin..kang baridin lagi di sawah pak…
Bapak Dam :
Nook…eling nook..eliiiing…
Ratminah :
Kang Baridiiiiinnn!!!….
Ratminah berlari keluar rumah dikejar oleh Bapak Dam.
Babak 9
Disebuah jalan desa tampak Gemblung seorang diri sedang mencari temannya baridin.
Gemblung :
Aduuh… baridin ini kemana ya ? dicari berhari-hari.. kok tidak kelihatan.. heh macem-macem.. kemana anak itu…Berhasil apa tidak ya ? tapi Baridin kemana ? saya jadi pengen tahu..
Tanpa sepengetahuan Gemblung muncul Suratminah yang sudah gila memegang tangan gemblung.
Suratminah :
Nah ! ini kang baridinnya !! Ayo kawing kang..
Gemblung :
Heh ! Orang gila ! mask kawin sama orang gila !
Suratminah :
Ayo kang baridin kawin.. lho ! kang baridin nya kok jelak ?
Gembleng :
Huuu !! enak saja ! dasar orang gila ! (kemudian gemblung sadar siapa yang sedang gila ) eh ..ini ratminah… waah.. ratmianah sudah gila..berarti baridin sudah berhasil..
Suratmianah :
Ayo kang kawin … kang baridin ..hik hik hik..
Gemblung :
Ratminah gila !! Ratminah gilaaaa !!
Gemblung lari dari pegangan suratminah.
Babak 10
Setting di sebuah jembatan tampak baridin, berdiri merenung, kemudian tiba-tiba Gemblung datang mendekati baridin.
Gemblung :
Din ! Hei Din ! (terengah-engah ) Bagaimana hebat tidak ?
Baridin :
Hebat apaan ?
Gemblung :
Yaa aji kemat jaran goyang itu.. bagaimana?
Baridin :
Kamu ngomong apa blung ?
Gemblung :
Kemarin saya lihat ratminah sudah gila
Baridin :
Yang bener kamu blung ?
Gemblung :
Bener din. Ratminah gila karena ajian kemat jaran guyang itu.
Baridin :
Saya tidak percaya.. kalo ratminah sudah gila, sebelum lihat dengan mata kepala saya sendiri
Gemblung :
Lho ini bener din
Baridin ;
kamu pasti bohong….
Gemblung :
Huuu !! dikasih tahu bener-bener malah nuduh saya bohong ! kepret siah !!
Tanpa diketahui Baridin ratmianah berjalan kearahnya. Kemudian baridin menyadari siapa yang datang. Dia tampak kaget ternyata yang datang adalah suratminah yang telah menjadi gila.
Suratminah :
Kang… ayo kawin kang..kang baridin… ayo..ayoo kawin kang.. kang baridin jadi kamajaya-nya, ratmianh jadi dewi kamaratih-nya .. ya kang.. ayo kang kawin…
Baridin yang sudah lemah karena mengamalkan ajian jaran goyang itu dan ratminah yang gila, tak bisa menguasai kesimbangan tubuhnya, dan kemudian mereka terjatuh.
Ratminah :
Kang !
Baridin :
Apa rat ? kawin ? ratminah ! ratminah ! gak pantas Ratminah kawin sama baridin. Baridin anake mbok wangsih ! wong ora duwe ! celanane tambalan ! wong gowo wluku ! Tidak Rat ! kamu kan sudah bilang, orang yang suka sama kamu itu wong gedeanm wong sugihan, wong nggowo motor ! mobil ! sepur ! Kapal ! kenapa kamu ngejar-ngejar saya ?!
Suratminah semakin lemah.
Suratminah :
Kaaang… ratminah sudah gak kuat kaang…kang baridiin..
Baridin menyadari sesuatu
Baridin :
Wah.. ini pasti akibat ajian jaran guying, ratminah sudah gila. Ratminah ! Ratminah ! Masak baridain kawin sama orang gila ! Baridin malu sama tetangga ! Bagaimana denganteman-teman baridin ? mereka pasti bilang, hoi ! baridin kawin sama ratminah anaknya bapak dam perempuan gila ! Ratminah ! ratminah ! perempuan gila itu kawinnya sama laki-laki gila !
Ratminah yang semakin lemah kemudian terjatuh dan mati menabrak dan di tangkap bariadin. Baridin menjadi bingung dan semakin kalut dibuatnya.
Ratminah :
Kaaang !!!….
Baridin :
Rat….. ratminah !!…. Ratminah!!..rat !!!….
Baridin yang juga lemah semakin kalut dan tak bisa mgatasi kelemahan fisik dan psikoliginya, sehingga dia mati didekat suratminah sambil mnyebut gemblung dan ajian jaran guying.
Baridin :
Blung !! Gemblung !! Ajian kemat Jaran Goyang Bluuung !!!!!!……….
Baridin dan suratminah telah mati. Tanpa disangka Gemblung kembali ketempat itu dan terkaget melihat kenyataan atas kedua anak manusia itu. Dia mencoba bangunkan baridin.
Gemblung :
Din ! din ! ( Baridin tidak terbangun )Ini….ini…. ini pasti akibat ajian kemat jaran goyang !!!
Takut akan terjadi sesuatu Gemblung lari meninggalkan mayat keduanya.
Selesai…….. !!!
Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis :
Sebuah kisah tentang dua anak manusia yang dibedakan oleh status ekonomi. Baridin putra dari Mbok Wangsih dilahirkan di keluarga yang miskin. Ratminah putri dari Bapak Dam terlahir di keluarga kaya. Pertemuan Baridin dan Suratminah menumbuhkan benih-benih cinta di hati baridin. Tapi sayang cinta bertepuk sebelah tangan, suratminah menolak cinta dan lamaran baridin. Bahkan Mbok Wangsih yang mengantarkan lamaran baridin dihina dan dicaci maki oleh Suratminah dan bapak Dam.
Disinilah timbul dendam Baridin kepada suratminah atas kesombongan dan perilakunya kepada Ibunya, Mbok Wangsih.
Atas bantuan Gemblung dengan cara memberikan sebuah mantra kuno bernama “Ajian Jaran Goyang”, Baridin mengamalkan mantra tersebut demi balas dendamnya kepada suratminah.
Sampai akhirnya Suratminah terkena rapalan mantra itu, bukan berbalik cinta kepada baridin, tapi suratminah menjadi gila oleh mantra itu sampai menemui ajalnya.
Bagaimana dengan baridin apakah dia puas dengan pembalasan dendamnya ? Baridin yang terbebani oleh dendam dan cinta kepada suratminah tidak kuat mengatasi kehebatan dari mantra jaran goyang, sehingga baridin ikut juga menemui ajalnya.
Hingga saat ini baridin dan suratminah dimakamkan dalam satuliang lahat.
Inilah kisah dari cirebon.
Babak 1
Sebuah setting panggung di rumah sangat sederhana berdindingkan bambu. Seorang laki-laki tengah tergolek tidur di balai bamboo. Kemudian datang seorang perempuan dari dalam berumur sekitar 45 tahun sedang menyapu lantai.
Mbok wangsih :
Din… Baridin… bangun din ! hari sudah siang begini kamu masih tidur. Kamukan mau membajak sawahnya mang Bunawas.
Baridin Cuma mengeliat-liat dan berganti posisi tidur ketika dibngunkan ibumya.
Mbok wangsih:
Heh din ! bangun ! bangun ! sawah mang Bunawas bagaimana heh!!
Kemudian ada seseorang yang datang
Mang Bunawas :
Punten ! Punten!
Mbok Wngsih :
Eh .. mang bunawas
Mang Bunawas :
Baridin ada mbok?
Mbok Wangsih:
Ada mang….. Din ! ada mang bunawas !
Mendengar siapa yang datang Baridin segera bangun sambil menggosok matanya yang masih ngantuk.
Baridin :
Eh… Mang Bunawas..
Mang Bunawas :
He din ! hari sudah siang kamu masih tidur ! Niat kerja nggak ?!
Baridin :
Minta maaf mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangun kesiangan.
Mang bUnawas :
Jadi maumu apa ?
Baridin :
Kalau besok saja bagaimana mang?
Mang Bunawas :
Hei din ! yang benar saja, depan belakang sawah sudah dibajak. Masa sawah saya saja yang belum diapa-apakan. Pokoknya saya gak mau ! tahu hari ini harus selesai. Sanggup gak kamu din?
Baridin :
Ya sudah mang kalau begitu . Tapi saya belum jelas dimana sawah mang Bunawas?
Mang Bunawas :
Disebelah timurnya bukit dekat kelurahan. Tahu gak kamu.
Baridin :
Ya ya mang. Kalau begitu saya kesana.
Mang bunawas :
Ya sudah saya duluan. Saya tunggu lho din ! Mbok ! Mbok saya permisi dulu
Mbok wangsih :
Lho .. kok buru-buru mang ? belum saya buatkan minuman kok…
Mang Bunawas :
Trima kasih… lain kali waktu aja. Masih ada keperluan.. Mangga mbok..
Mbok Wangsih :
Mangga.. mang
Kemudian baridin keluar berangkat ke sawah
Baridin :
Kalo begitu baridin berangkat dulu. Minta doa restunya semoga cepat selesai pekerjaan baridin hari ini.
Mbok wangsih ;
Ya ya ..mbok doakan… Hati-hati dijalan din.
Baridin :
Ya mbok !..
Babak 2
Setting tempat disebuah jalan menuju pasar dekat jembatan. Seorang gadis sedang komat kamit mengingat sesuatu. Tak jauh dari tempatnya berdiri, 3 orang pemuda sedang asyik ngobrol dan kemudian melihat kearah gadis itu muncul keinginan untuk menggoda.
Suratminah :
Aduuh…. Apa ya pesanan bapak tadi ? kok lupa ya…nggg…tak ingat-ingat dulu, tadi bapak pesan kopi , gula, ikan tongkol, …terus bawang merah, bawang putih, teruss..
Para pemuda :
Haaaa !!!!
Ratminah kaget dibuatnya
Pemuda 1 :
Latah ya ? masih muda kok latah
Pemuda 2:
Bocah cantik… bocah denok… nang-ning-nang-ning…
Ratminah :
Hei ! hei ! kebiasaan sih ! setiap pergi kepasar pasti ada saja yang iseng. Apa kalian tidak tahu kalau saya ini anak orang kaya !
Pemuda 2 :
Hei nok, jadi anak orang kaya itu ya jangan sombong..
Pemuda 3:
Hei dengarkan ini, beli manggis di pasar tanjung, naik ojek bayarnya mahal.. gadis manis yang kusanjung, jadi cewek jangan jual mahal !
Ratminah :
Hei ! dengarkan ini juga ya! Naik ojek sambil jalan-jalan, beli cuka dapatnya garam… orangnya jelek gak karuan ! ngomong suka gak punya uang !
Pemuda 1 :
He nok.. jagan malu-malu..sama aku saja. Ini aku punya kumis…. Lebat lagi kumisnya..
Para pemuda :
Seratus untuk kumis !!
Ratminah :
Hei dengarkan !! rujak manis rujak asem, rambutan manis terkelupas isinya.. punya kumis bau asem!! Rambutnya lebat banyak lalatnya !! sudah pergi sana!! Sana!! Tak bilangin bapak tahu rasa !!
Musik berkumandang lagu dinyanyikan
Para pemuda :
“lenggak-lenggok goyang jalannya
gadis denok tinggi omongannya
disapa malah marah-marah
apa gak ngerti… marah itu bisa jadi malah berbahaya “
Ratminah :
“dasar mata keranjang lihat gadis sintal
colak colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
tidak malu sama orang
dasar kamu orang pengangguran “
Para pemuda :
“hei ! jangan bilang gitu !“
Ratminah ;
“sebab menghina aku …”
Para pemuda :
“Inikan intermezzo “
ratminah :
“dasar hidung belang beraninya keroyokan !”
Kemudian datang baridin mengganggu para pemuda yang menggoda Ratminah
Baridin :
Mang.. mang… permisi mau nanya, dimana sawahnya mang bunawas ?
Pemuda 3 :
Sawahnya mang bunawas luruuuss…ini luruus saja
Baridin :
Sebelah mananya bukit mang ?
Pemuda 3 :
Timurnya bukit. Sudah ya, sana pergi, pergi… ganggu orang saja..
Para pemuda itu kembali mengganggu ratminah selepas kepergian baridin.
Para pemuda :
Bocah manis.. bocah denok…. Blakthuk…blakthuk…
Ratminah :
Hei ! masih ganggu terus sih !
Pemuda 3 :
Buah salak, buah kedondong…. Jangan galak dong !
Ratminah :
Dasar gak punya aturan ! beraninya hanya di jalan ! kalian semua itu ya coba ngaca ! Ngaca ! Apa kalian tidak tahu ! yang suka sama suratminah itu orang-orang yang ber-dasi, ber-jas, ber-kaliber, ber-uang !
Para pemuda :
Hah ! jadi yang suka sama kamu itu B-E-R-U-A-N-G !!
“cepon-cepon kayu…oleh wadon asal ayu…
kayu-kayu crème…wong ayu manis eseme..
crème sipongpongan ayo pada jaipongan”
“nona manis jangan menangis
sendirian apa butuh teman
kalo boleh kami temani
bisa tinggal pilih….jangan takut banyak duwit asal minta cubit..”
Ratminah :
“Dasar mata keranjang ! makin macam-macam
colak-colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
dasar lelaki kampungan
tak malu kalo kemps kantongnya
Para pemuda :
“hei jangan bilang gitu !”
Ratminah :
“ biar kamunya mikir”
Para pemuda :
“tapi aku tersindir”
Ratminah :
“dasar hidung belang lihat gadis ngomong senang”
kemudian tiba-tiba datanglah Baridin mengganggu lagi. Dan Ratminah yang melihat kesempatan itu menyelinap pergi.
Baridin :
Mang… Mang… belum ketemu mang, sawah mang bunawas,cari ditimur..ke barat gak ketemu.
Pemuda 3 :
Aduuuh… ini mengganggu saja.
Pemuda 1 :
Ceweknya hilang..
Pemuda 2 :
Waduuuh… ini gara-gara kamu..waaaah…
Para pemuda itu pergi mencari ratminah.
Kemudian Ratminah datang lagi dengan ketiga kawannya.
Suratminah :
Trima kasih atas pertolongannya tadi
Baridin :
Pertolongan apa ya ?
Suratminah :
Ya tadi para berandalan itu, tidak tahu kalo saya pergi, karena ada kamu. Ngomong-ngomong kamu jualan apa sih ?
Baridin :
Oh ini…saya bukan mau jualan, ini saya mau membajak sawahnya mang bunawas.
Suratminah :
Kamu kok lucu…
Musik berkumandang.
Baridin :
“tiba-tiba aku terkejut …. Lihat gadis langsung kepincut
lirikannya senyumannya sangat maut
bikin hatiku kalang kabut
perkenalkan aku baridin
hidup sedang menderita batin
tiap hari merasa dingin
sebab ingin merasakan kawin”
Ratminah :
“mau dingin mau kawin gak mikirin
sebab banyak gadis yang lain
bunga anggrek hidup di pohon
baridin :
“apa wong ganjen?”
Ratminah :
“Orang jelek tampangnya bloon
Tiba-tiba bicara soal kawin
Kalo ngomong harus piker-pikir
Kunci gembok kunci gerendel
Orang goblok mirip ondel-ondel”
Baridin :
“kalau mau ngomong jangan sembarangan
nanti bisa jadi bengong
jangan jingkrak-jingkrak kalau mau nolak
nanti bisa malah ngajak”
Suratminah :
“idih ! jangan asal ngomong
begitu juga ngajak gak apa ngajaknya
ngajaknya kamu aduh sangat lah percuma
sebabnya kamu orang gak punya
gak pantes ratminah jodohnya “
Baridin :
“kalo ditolak nanti dukun yang bertindak”
Suratminah :
“biar gilapun aku tidak akn mundur”
Baridin :
“ngomong begitu apa beneran “
Suratminah :
“biar sumpah tujuh turunan”
Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”
Baridin :
“nok-nok bocah denok bokong semok
nok-nok baridin suka tidak kapok
biarpun kamu lari kegunung kukejar walau kesandung”
Ratminah :
“ kepingin aku… aduh sabar dulu
apa gak tahu kau orang tak mampu..”
Baridin :
“kalo niat..”
Suratminah :
“orang yang niat, harus yang kuat
kalau benar kamu suka aku apa yang jadi lamaran ?”
Baridin :
“nih terimalah “
Ratminah :
“Apa? “
Baridin :
“Lamaran aku”
Ratminah ;
“Bajak ? !”
Baridin :
“Jangan mencibir, Ku ngarti kamu nolak jangan marah……. jangan murka….”
Ratminah :
”Orang jelek celananya sobek…. Omongannya kaya’ bebek”
Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”
kemudian Baridin ditinggal menggerutu sendirian.
Babak 3
Dirumah baridin, mbok wangsih sedang bingung menunggu kepulangan anaknya yang belum pulang juga.
Mbok Wangsih :
Hari sudah sore anakkku baridin masih belum pulang juga. Ada halangan apa ya ? tidak seperti biasanya..
Kemudian datang Mang Bunawas dengan marah-marah :
Mang Bunawas :
Mbok ! Mbok ! Anak kamu itu waras ?! apa gak waras ?!
Mbok Wangsih :
Ya waras mang… Memangnya ada apa mang ?
Mang Bunawas :
Coba kamu pikir, aku nunggu dari pagi sampai sore, eh dia gak datang-datang ! Kemana dia mbok !
Mbok Wangsih :
Dia sudah berangkat dari pagi tadi mang… Saya juga bingung, sudah sesore ini baridin belum pulang. saya pikir dia membajak sawahnya mang bunawas.
Mang Bunawas :
Mbajak sawah ?! bajak sawah bagaimana ? la wong dari pagi dia tidak kelihatan batang hidungnya !!
Mbok Wangsih ;
Tapi benar dia tadi berangkat…
Tiba-tiba baridin datang mengagetkan semuanya dengan melempar alat bajaknya.
Mang bunawas ;
Lihat Mbok ! anakmu ini memang gak waras ! Hei din, dari mana saja kamu ? aku tunggu dari pagi sampai sore, eh malah tidak datang. Ada apa din ?
Baridin ;
Maafkan saya Mang Bun, soalnya tadi di jalan saya mendapat halangan.
Mang Bunawas :
Halangan apa ?
Mbok wangsih :
Iya din, ada halangan apa ?
Baridin :
Halangan berat pokoknya !
Mang Bunawas :
Halangan apa ?
Baridin :
Pokoknya halangan saja ! Mang… bagaimana kalau membajak sawahnya besok saja ?
Mang Bunawas :
Hei din, kamu yang benar saja, kanan kiri, depan belakang sawah sudah siap ditanami padi, masa’ tinggal sawah saya saja yang belum diapa-apakan ? hei din saya percaya sama kamu, karena itu saya suruh kamu membajak sawah saya.. eh malah kamu gak karuan gitu !! Ya sudah ! saya cari orang lain saja ! Permisi mbok !
Baridin :
Maafkan saya Mang Bun..
Mbok Wangsih :
Maafkan anak saya mang ..
Mang bunawas :
Sudah ! Sudah ! (mang bunawas pergi)
Mbok wangsih hanya mengelus dada melihat tingkah laku anaknya.
Mbok wangsih :
Sebenarnya ada masalah apa din ? coba ceritakan sama mbok..
Baridin :
“Mbok wangsiiih… sebelum aku kesawah disebelah pasar dekat jembatan aku mendapat halangan..
halanganya ..bikin pusing pikiran.. bertemu gadis cantik suratminah namanya … bocah denok, bocah montok yang bikin orang suka..
aduh..aduh..aduuuuh…. aku jatuh cinta…”
Mbok wangsih :
Hemm … jadi halangan itu perempuan din ?
Baridin ;
Iya mbok..
Mbok Wangsih :
Kalau itu bukan halangan din
Baridin :
Bukan halangan bagaimana ? karena bertemu dia saya jadi malas kesawah. Selalu kepikiran terus. Mbok saya ingin melamarnya..
Mbok wangsih :
Melamrnya ?
Baridin :
Dia anaknya Bapak Dam
Mbok Wangsih :
Bapak Dam ? Ratminah ? bapak Dam kan yang terkenal kaya raya itu. Coba dengar, kita ini orang miskin. Kok, gak pantas kamu ingin gadis seperti suratminah.
Baridin :
Tapi mbok, sejak pertemuan itu, baridin ingin memilikinya.
Mbok Wangsih :
He din ! sadar din ! Sadar ! Kita ini orang miskin ! Gak pantas kamu ingin kawin sama Suratminah !
Baridin :
Pokonya saya ingin kawin dengan Suratminah !
Mbok wangsih :
Din ! mikir din ! mikir ! otaknya di pake ! kamu itu anake wong miskin. Sedang Suratminah Anake wong sugihan, wong gedean. Gak mungkin Bapak Dam ngasihkan anaknya ke kamu !
Baridin :
Kalau mbok wangsih gak mau, biar baridin bunuh diri saja !
Mbok wangsih :
Apa din ? Bunuh diri ? biar matipun kamu gak bakalan kawin sama suratminah.
Baridin :
Baiklah mbok , baridin bunuh diri saja. Lebih baik mati jika baridin tidak kawin dengan suratminah. Selamat tinggal mbok !
Baridin mengikatkan kain sarung ke lehernya, seolah-olah ingin bunuh diri. Mbok Wangsih mencegah.
Mbok Wangsih :
Din ! din ! Jangan din !din.. kamu anak mbok satu-satunmya jgan bikin susah mbok ya…Dari pada kamu bunuh diri, mbok akan melamar suratminah
Baridin ;
Yang bener mbok ?
Mbok Wangsih :
Tapi kamu jangan berharap lamarannya akan diterima.
Baridin :
Tidak mbok, baridin akan selalu berdo’a semoga lamaran kita diterima.
Mbok Wangsih :
Ya sudah, mbok kebelakang dulu..jangan bunuh diri din..
Mbok wangsih masuk.
Baridin :
Ya mbok !..
Babak 4
Setting di sebuah teras rumah yang lebih bagus, tampak seorang laki-laki berumur sekitar 50-an tahun, tampak gelisah menunggu sesuatu.
Bapak Dam :
Aduh… Aduuh… Ratminah pergi ke pasar sampai sekarang belum pulang juga. Ana halangan apa ini ya? Tadi malam saya bermimpi aneh…… ada halangan apa ya ?… macem-macem…
Kemudian yang ditunggu-tunggu datang.
Ratminah :
Pak ! Bapak !…
Bapak dam :
Hei ! darimana saja kamu ! sudah jam berapa sekarang ?
Ratminah :
Anu pak … tadi ratminah dapat halangan..
Bapak Dam :
Halangan apa ayoo…
Ratminah :
Itu tadi di jalan ratminah dicegat berandalan. Untung Ratminah bisa lolos.
Bapak dam ;
Dikejar-kejar berandalan ? terus..terus.. gak ada yang hilang ?
Ratminah :
Hilang apanya ?
Bapak Dam :
Hilang onderdilnyaa.. ya sudah masuk dulu.
Kemudian Ratminah masuk kedalam rumah sedang Bapak Dam duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang 2 orang yang berniat melamar.
Para Pelamar :
Assalamualaikum……
Bapak Dam ;
Waalaikum salam.. eh ada tamu…
Pelamar 1 :
Apa benar ini rumah Bapak Dam ?
Bapak Dam :
Benar-benar silahkan masuk..masuk.. silahkan duduk.. Rat ada tamu !
Ratminah keluar. Musik berkumandang
Bapak dam :
“silahkan maunya apa?…”
Pelamar 1 :
“ Kalau mau tahu, aku juragan nelayan
tiap kali pulang uangnya pasti dolaran
tidak kurang sandang pangan.. anak bapak kenyang ikan “
Ratminah :
“tidak mau.. tidak mau.. sebab aku sudah tahu
katanya yang dulu-dulu
pelaut sukanya gitu
gak mau aku dirayu..gak mau aku di madu..
nanti dulu jangan harap dapat aku”
Bapak dam :
Sama juragan nelayan gak mau ? nanti kenyang ikan ?
Ratminah :
Nggak bapak
Bapak dam :
Ya sudah silahkan duduk..
“silahkan maunya apa ?’
Pelamar 2 :
“jangan macem-macem sama aku bintang filem
aku sudah yakin Ratmianh pasti kesengsem
hidup tentrem adem ayem siap pakai luar dalem”
Bapak Dam :
“saya suga seneng dapat mantu bintang filem
asal jangan sampai dapat peran macem-macem
mata melek merem-merem.. urusannya jadi runyem “
Ratminah :
“ memang serem-memang serem.. punya suami bintang filem
sering pulang larut malem.. alasannya macem-macem
bilangnya ada sutingan, bialangnya urusan peran
padahal sih diluar banyak simpanan..”
Bapak Dam :
Sama bintang filem gak mau juga ? nanti di suting ?
Suratminah :
Enggak bapak
Bapak Dam :
Ya sudah bikinkan minum tamunya. Maaf ya anak saya belum cocok dengan saudara-saudara. Jadi mohon maklum apa adanya..
Pelamar 2 :
Yaaa… kalau tidak cocok tidak apa-apa… tapi tadi kami naik becak ongkosnya 2000
Bapak Dam :
Terus..
Pelamar 2 :
Jadi mangga mriki… ganti ongkos..
Bapak Dam :
Heh ganti ongkos ?! sebentar-sebentar sampean kesini disuruh siapa ?
Pelamar 1+2 :
Yaaa … disuruh kami sendiri !
Bapak dam :
Nah.. terus..terus..
Pelamar 2 :
Nah..tadi kan saya naik becak ongkosnya 2000..
Bapak dam yang mendengar itu jadi marah dan menggebrak meja
Bapak Dam :
Heh !!! Apa sampeyan tidak tahu, Bapak dam mantan jawara. Sampean kesini mau ngrampok !! Ayo !! Ayo !! (bapak dam seperti mau ngajak berkelahi) ayo ! Tak jotos kupinge getien !!
Para pelamar itu lalu kabur. Kemudian Ratminah keluar sambil membawa air miinum.
Ratminah :
Lho ?? mana tamunya pak ??
Bapak Dam :
Tamu penipu !!
Ratminah :
Ya sudah buat bapak saja minumnya. Saya kebelakang dulu.
Bapak Dam kembali ke tempat duduknya. Kemudian datanglah pelamar berikutnya yaitu Mbok wangsih.
Mbok wangsih :
Waaah… rumah Ratminah besar dan indah. Baridin kok gak ngukur ya ..
Kemudian muncul suara anjing
Bapak Dam :
Rat ! Rat ! siapa ! siapa diluar !
Ratminah keluar melihat siapa yang ada diluar :
Ratminah : apa pak ?
Bapak Dam :
Biasa.. boby..lihat diluar siapa ?
Ratminah :
Oooh .. ada pengemis pak
Bapak Dam ;
Kasih..kasih..
Ratminah :
Berapa ?
Bapak Dam :
Seket !
Ratminah :
Seket ? Nih mbok skeet !
Mbok Wangsih :
Nok…. Tidak nok..mbok bukan mau ngemis..
Ratminah :
Idiiih gak mau ! gak mau pak!
Bapak dam :
Paling munggah-munggah
Suratminah :
Berapa ?
Bapak Dam :
Satus !
Ratminah :
Nih mbok satus !
Mbok wangsih :
Bukan nok mbok tidak mengemis, tapi mbok mau ada perlu…
Ratminah :
Pak ! gak ngemis katanya. Mau ada perlu..
Bapak Dam :
Ada perlu ? aduuh siapa ya ?
Setelah bapak dan tahu siapa yang menemuinya
Musik kembali berkumandang
Bapak Dam :
“silahkan maunya apa?”
Mbok Wangsih :
“sebelum di usir coba bapak pikir-pikr
walau hati nangis saya tidak mau ngemis
saya mau ada perlu suratminah calon mantu”
Bapak Dam :
“coba ngomonglah.. sebenarnya siapa ?
Ratminah :
“coba ngomonglah… kau maunya apa?”
Mbok Wangsih :
“diriku ini nama Mbok Wangsih
mau minta suratminah dari bapak dam
baridin ingin melamar”
Bapak Dam :
Ngarti..ngarti… jadi sampean kesini mau melamar anak saya ? mau meminang suratminah ? Surat mianah anak saya satu-satunya mau dilamar wong macem sampeyan ?! menghina ya ?! Ngece ?! tak jotos kupinge getien sira !!
Ratminah :
Apa pak ?! mau melamar ? iiih.. he mbok ! Mbok melamar buat siapa ?!
Mbok Wangsih :
Buat… buat anak mbok nok.
Ratminah :
Iya siapa ?!
Mbok wangsih :
Ba.. ba… baridin nok….
Ratminah :
Baridin ?
Bapak Dam :
Bridin.. bridin –bridin sapa ?
Ratminah :
Oooh…. Baridin yang bawa wluku ? yang celananya tambalan ? idiiih…. Amit-amit mbok.. siapa yang mau ?
Bapak Dam :
Hei! Hei ! Hei ! apa sampaean gak ngerti, tamunya bapak dam nembe pating kluyur.. wong gedean, wong sugihan… wong nggowo motor –mobil-sepur ! berani-beraninya nglamar ! wis ambune blenak !!
Ratminah :
Baunya Asem !!
Bapak Dam :
Rambute Ruwet !!
Ratminah :
Klambine dowal-dawul !! Apa mbok itu gak mikir ! gak mikir !
Bapak dam :
Usir! Usir Rat ! Usir ! Siram Rat !!
Ratmainah :
Pergi mbok ! pergi !
Mbok wangsih menangis setelah diludahi dan disiram ratminah.
Ratminah :
Orang Gila pak ..
Bpak Dam :
Iyaa…
Bapak dam suratminah masuk.
Babak 5
Setting panggung berada di rumah baridin. Tampak baridin gelisah menunggu kedatangan mbok wangsih.
Baridin :
Mbok wangsih kemana ini ya ? berangkat dari tadi kok belum pulang… (kemudian dia merasa senang) tidak disangka sebentar lagi baridin jdi pengantin…duduk bersanding dengan suratminah …uhuy !!
Kemudian datanglah kawan Baridin, Gemblung bertamu ke rumah baridin.
Gemblung :
Din ? din ?…
Baridin :
Eeeh… gemblung, sudah lama kita tidak bertemu…dari mana saja blung ?
Gemblung :
Emangnya kenapa din ? dari tadi saya lihat cengar-cengir terus.
Baridin :
Kamu itu blung, kalo saya ibaratkan seperti ular maranin pentungan.
Gemblung :
Maksudnya apa ?
Baridin :
Maksudnya, kebetulan sekali. Sekalian undangan, saya mau kawin ! kawin !
Gemblung :
Syukur kalo mau kawin…. Tapi kawin sama siapa din ?
Baridin :
Ah gak ah… takut kamu ngiri
Gemblung :
Alaah !! Paling kamu kawin sama markonah !
Baridin :
Uuuu… markonah mah budheg blung
Gemblung :
Ah ! paling sama saritem ya?!
Baridin :
Saritem anake wong adol srabi ?
Gemblung :
Iyaaa !
Baridin :
Heee .. bukan blung. Kamu mau tahu ? Tapi ada syaratnya, kamu jangan ngirin ya..
Gemblung :
Iyaa..
Baridin :
Yang jadi calon pengantinnya baridin…ayune ..ayu. sugihe.. sugih. Namanya Suratminah Blung.
Gemblung ;
Suratminah ?! Apa saya gak salah dwengar ? Suratminah anaknya bapak dam yang kaya raya itu ?! apa kamu gak ngaca! Ngaca ! coba ngaca !
Baridin :
o-o-o-o… gemblung kliru. Hei blung, orang yang mencuri boleh kamu salahkan, orang yang membunuh boleh kamu salahkan. Tapi orang yang jatuh cinta jangan sekali-kali kamu menyalahkannya, kadang-kadang ada suami istri yang laki-lakinya muda, perempuannya sudah tua. Kadang-kadang ada suami istri laki-lakinya mlarat perempuannya kaya raya.
Gemblung :
Kalo saya terserah kamu saja, sebagai teman saya bahagia kalo lihat teman bahagia.
Baridin :
Terima kasih blung.
Gemblung :
Eh .. din saya pulang dulu ya..
Baridin :
Tapi jangan lupa kamu sering-sering datang kesini, siapa tahu saya butuh tenagamu.
Gemblung :
Ya ya.. ya sudah saya pulang dulu…(gemblung keluar)
Kesenangan baridin tiba-tiba berhenti ketika mbok wangsih datang dengan menangis.
Baridin :
Lho?1 Mbok?! Aduuuh… ditunggu dari tadi pulang-pulang malah nangis ada apa mbok. Ini terong empat dibawa lagi. Aduuh… kenapa mbok ? ngomong ?! Ngomong?!
Mbok Wangsih :
Ini gara-gara kamu din…
Baridin :
Iya ! kenapa ? ngomong ! ngomong !
Mbok Wangsih :
Lamarannya di tolak….
Baridin :
Lamarannya ditolak ?
Mbok wangsih :
Iya din.. malahan mbok di hina habis-habisan… dari pertama mbok sudah katakana, kamu terlalu muluk din.. tapi kamu tetap memaksa. Mbok diperlakukan seperti binatang. Sakit hati mbok din.. sampai kapan kamu menyusahkan mbok din ?
Baridin :
Maafkan baridin mbok… Baridin memang tidak berguna
Mbok Wangsih :
Bosan mbok dengar ucapan itu din ! kamu memang tidak berguna. Bisanya hanya menyakiti mbok! Kamu tahu din…saat ditolak mbok diusir seperti binatang, disiram air, bahkan meludaho muka embok !
Baridin :
Ratminah meludahi muka embok ?! biar kutampar mulutnya mbok !!
Mbok Wangsih :
Suada din ! Percuma ! Sudah cukup kamu menyusahkan embok ! mBok piker daripada kamu terus-terusan menusahkan embok, lebih baik kamu pergi dari rumah ini din..
Baridin :
Mbok….
Mbok Wangsih :
.Mbok cukup menderita dengan kelakuanmu
Baridin :
Mbok…
Mbok Wangsih :
Pergi din ! Pergi ! sebelum mbok memaksamu !
Baridin :
Baiklah mbok, baridin menerima keputusan ini… baridin minta maaf belum bisa membalas jerih payah mbok… baridin berjanji tak akan pulang sebelum membalas sakit hati mbok.
Mbok Wangsih :
Sudah ! cukup ! pergi sana Din ! pergi !
Baridin :
Tega mbok ?…
Mbok Waqngsih :
Tega ..
Baridin :
Mbok…
Bridin pergi dan mbok wangsih tak sanggup menyaksikan kepergian anaknya.
Babak 6
Setting panggung disebuah jembatan dekan pasar. Tampak baridin duduk melamun dekat jembatan, kemudian datanglah kawan baridin , gemblung menemuinya.
Gemblung :
e-e-e-e… dicari kemana-mana ternyata ada disini rupanya. Hei din !
Baridin ;
Huh ! Gemblung ! sana-sana blung ! Baridin lagi selon nih !!
Gemblung :
Ngapain kamu di sini ? ayo pulang ! ayo pulang !
Baridin :
Tidak Blung ! Baridin anak yang tidak berguna ! Sampai mbok Wangsih ega ngusir saya !
Gemblung :
He dengarkan ! Sekarang Mbok Wangsih sudar sadar. Malah saya disuruh mbokmu ngajak kamu pulang. Ayo Pulang ! Pulang !
Baridin :
Tidak blung ! Hidup Baridin sudah tidak berarti ! Hidup hanya jadi hinaan suratminah ! sudah lamrannya ditolah Bapak Dam, suratminah blung, suratminah meludahi Mbok Wangsih !!
Gemblung :
Surat minah meludahi mbok wangsih ?! Kurang ajar suratminah !!
Baridin :
Di caci maki, diusir, sakiit hati ini blng !! sudah hidup miskin jadi hinaan orang, lebih baik baridin mati saja !! (mau melompat dari jembatan ).
Gemblung :
Hei jangan ! Jangan !! kalau baridin mati gemblung siapa temannya.! Ayo pulang !
Baridin :
Tidak ! Baridin tidak akan pulang sebelum mambalas sakit hati mbok wangsih !
Gemblung :
Baiklah kalo mau kamu begitu…
Gemblung ragu meninggalkan Baridin, tiba-tiba gemblung ada sesuatu.
Gemblung :
Hei din ! sini ! sini ! kamu tahu gak kalo aku mendapat warisan ? (berbisik)
Baridin :
Huu!! Kita itu sudah berteman sejak lama blung! dari kecil sampai sekarang,saya tahu waktu bapak kamu mati ketabrak kereta, krieg ! Lalu ibu kamu mati di sambar petir, jgerr ! Bahkan mayatnya diinjak-injak jagir kerbau saya. Trus waktu geger dikelurahan soal warisan, warisan apa ?! warisan cowek bolong ! Warisan cowek bolong diomong-omong !!
Gemblung :
Hei din ! Ini bukan warisan harta. Bukan warisan cowek bolong. Tapi warisan do’a !
Baridin ;
Do’a blung ?
Gemblung :
Iya, do’a bukan sembarang do’a…. do’a aji kemat jaran goyang.. (berbisik)
Baridin :
Jangan macem-macem kamu blung !! Kalo mau bohong sana sama orang lewat !! Jangan sama teman !!
Gemblung :
e-e-e-… tidak macem-macem ini din! Mau bukti ? ini..ini ini din, selalu saya bawa terus. Ini kalo tidak percaya (sebuah kertas lapuk diberikan kepada Baridin)
Baridin :
Ajian …kemat…jaran ..guyang.. tulisannya jawa kuno ya blung..kertasnya sudah lapuk lagi..
Gemblung :
Bagaimana percaya tidak ?
Baridin :
Percaya ! Percaya !
Gemblung :
Kamu mau tahu caranya ? (kemudian gemblung berpikir sebentar ) tapi.. ini berbahaya din..berbahaya ! lebih baik jangan ya !! Jangan !
Baridin :
Eh ! eh ! demi membalas sakit hati mbok wangsih, saya terima resikonya !
Gemblung :
Ngggg….. baiklah maumu begitu. Begini din, kamu harus puasa 40 hari dan ini di baca tengah malam pas jam 12 tepat.
Baridin :
Boleh saya membacanya ? arepan ..ma..ca… ke..mat jaran…gu…yang….
Babak 7
Setting panggung disebuah teras rumah Bapak dam. Tamapak bapak dam bingung memikirkan jodoh anaknya.
Bapak Dam :
Aduuuh… jodoh suratminah apa sudah dekat apa masih jauh ya ? Semua lamaran ditolak.
Ratminah keluar.
Ratminah :
Bapak…
Bapak Dam :
Hei sini-sini.. bapak mau ngomong pemuda yang kamu cari itu seperti apa sih ?
Ratminah :
Iiih …bapak soal itu aja.. wong ratminah belum ada niat kok..
Bapak Dam :
Kamu kan sudah besar, sudah waktunya berumah tangga. Wajarkan bapak tanya itu ?
Ratminah :
Iya benar, ratminah juga ngerti. Begini deh pak, ratminah tahu selera bapak, ya pak ya ?
Tiba-tiba ada suara tokek.
Bapak Dam :
Suara tokek nok ! Nasib baik datang..
Ratminah :
Di hitung pak.
Bapak Dam :
(tokek) …Rejeki (tokek)…. Blai (tokek)…. Rejeki (tokek)….. Blai…
Rayminah :
Kok blai pak.. mestinya dihitung dari blai dulu pak.
Bapak Dam :
Oh ya ya… mungkin besok ada..
Tiba-tiba suara tokek muncul lagi.
Bapak dam :
Nah itu tokek lagi nok !…
Ratminah :
Dihitung dari blai pak ..
Bapak Dam :
Ya ya… (tokek)….. Blai… rejek….. lho ! Tekek kurang ajar ! Njaluk sogok ! Ning ndi iki ya …
Kemudian ada suara-suara orang ronda malam.
Bapak dam :
Kok sudah ada orang ronda ya..?
Ratminah :
Sudah malam pak
Bapak Dam :
Yo wis, bapak masuk istirahat dulu. Jangan lupa kunci jendela sama pintu.
Ratminah :
Iya pak..
Bapak dam kemudian masuk, suratminah yang masih ada diluar tiba-tiba merasa suasana menjadi menyeramkan. Ratminah ketakutan dan segera masuk kedalam.
Dipanggung digambarkan siluet ratminah yang masuk kekamarnya dan tidur. Kemudian terdengar suara seseorang yang membacakan mantra..
“niat ingsun arepan maca kemat jaran guyang…dudu ngemat-ngemat tangga..dudu ngemat wong liwat dalan…sing tak kemat anakke bapak dam kang aran suratminah… kang demen drajad desa milangkori..sing lagi turu gageh nglilira..yen wis nglilir gageh jagonga.. yen wis jagong gageh ngadeka…yen wis ngadek mblayua..mbrenginginga..kaya’ jaran… teka welas ..teka asih.. atine suratminah welas asih.. ning badan ingsun…”
Babak 8
Setting diteras rumah Bpak dam, suasana pagi hari. Bapak dam keluar ke depak teras.
Bapak dam :
Nok !! Bangun nok !! Ratminah bangun !! sekolah !! Ayoo bangun ! bangun!! sekolah !!
Kemudian ratminah keluar dengan agak sempoyongan.
Bapak Dam :
He sudah siang ! Ayo adus ! sekolah !
Ratminah :
Emoh bapak !
Bapak Dam :
Emoh ! emoh ! kena apa Sekolah emoh ?!
Suratminah :
Emoh bapak…
Bapak dam :
Yo wis adus..adus..sudah siang..
Ratminah :
Emoh bapak..
Bapak dam :
Sekolah emoh ! adus emoh ! kena apa rat ? … yowis gawekno bapak wedang… wedang..
Ratminah :
Wedang bapak ?…
Bapak Dam :
Iyaa..wedang.. nok !
Kemudiasn suratminah masuk.
Bapak Dam :
Heh ! ana apa ya ? macem-macem… sekolah gak mau adus gak mau…
Kemudian suratminah masuk bawa golok.
Suratminah :
Ini bapak…
Bapak Dam :
Heh !! wedang nok !! wedang!! Kenapa dibawakan golok !! budheg ya ?! wedang sama golok beda ! wedang-golok ! Wedang – golok ! beda jauh !…
Ratminah :
Wedang bapak..
Bapak dam :
Ya ! Wedang !
Kemudian Ratminah masuk lagi.
Bapak dam :
Aduuuh ! ana apa ya… ratmianah..ratminah…apa sakit ?..
Kemudian ratminah keluar lagi dan semakain sempoyongan, tidak sadar kakinya terantuk kursi dan terjatuh sambil latah menyebut nama seseorang.
Ratminah :
Kang Baridin !! Kang Baridin !!!
Bapak Dam :
Heh nok !! Nyebut ! Nyebut ! ada apa nok !! Kang baridin sapa ?!!
Ratminah :
Kang baridin pak…. Kang baridin lagi wluku pak..
Bapak Dam :
Heh nok ! kang baridin sapa ! lagi ngluku di sawah sapa ?!! heh !! Nok eling nok !! eling !!
Ratminah :
Kang baridin pak.. ayo pak nyusul kang baridin..kang baridin lagi di sawah pak…
Bapak Dam :
Nook…eling nook..eliiiing…
Ratminah :
Kang Baridiiiiinnn!!!….
Ratminah berlari keluar rumah dikejar oleh Bapak Dam.
Babak 9
Disebuah jalan desa tampak Gemblung seorang diri sedang mencari temannya baridin.
Gemblung :
Aduuh… baridin ini kemana ya ? dicari berhari-hari.. kok tidak kelihatan.. heh macem-macem.. kemana anak itu…Berhasil apa tidak ya ? tapi Baridin kemana ? saya jadi pengen tahu..
Tanpa sepengetahuan Gemblung muncul Suratminah yang sudah gila memegang tangan gemblung.
Suratminah :
Nah ! ini kang baridinnya !! Ayo kawing kang..
Gemblung :
Heh ! Orang gila ! mask kawin sama orang gila !
Suratminah :
Ayo kang baridin kawin.. lho ! kang baridin nya kok jelak ?
Gembleng :
Huuu !! enak saja ! dasar orang gila ! (kemudian gemblung sadar siapa yang sedang gila ) eh ..ini ratminah… waah.. ratmianah sudah gila..berarti baridin sudah berhasil..
Suratmianah :
Ayo kang kawin … kang baridin ..hik hik hik..
Gemblung :
Ratminah gila !! Ratminah gilaaaa !!
Gemblung lari dari pegangan suratminah.
Babak 10
Setting di sebuah jembatan tampak baridin, berdiri merenung, kemudian tiba-tiba Gemblung datang mendekati baridin.
Gemblung :
Din ! Hei Din ! (terengah-engah ) Bagaimana hebat tidak ?
Baridin :
Hebat apaan ?
Gemblung :
Yaa aji kemat jaran goyang itu.. bagaimana?
Baridin :
Kamu ngomong apa blung ?
Gemblung :
Kemarin saya lihat ratminah sudah gila
Baridin :
Yang bener kamu blung ?
Gemblung :
Bener din. Ratminah gila karena ajian kemat jaran guyang itu.
Baridin :
Saya tidak percaya.. kalo ratminah sudah gila, sebelum lihat dengan mata kepala saya sendiri
Gemblung :
Lho ini bener din
Baridin ;
kamu pasti bohong….
Gemblung :
Huuu !! dikasih tahu bener-bener malah nuduh saya bohong ! kepret siah !!
Tanpa diketahui Baridin ratmianah berjalan kearahnya. Kemudian baridin menyadari siapa yang datang. Dia tampak kaget ternyata yang datang adalah suratminah yang telah menjadi gila.
Suratminah :
Kang… ayo kawin kang..kang baridin… ayo..ayoo kawin kang.. kang baridin jadi kamajaya-nya, ratmianh jadi dewi kamaratih-nya .. ya kang.. ayo kang kawin…
Baridin yang sudah lemah karena mengamalkan ajian jaran goyang itu dan ratminah yang gila, tak bisa menguasai kesimbangan tubuhnya, dan kemudian mereka terjatuh.
Ratminah :
Kang !
Baridin :
Apa rat ? kawin ? ratminah ! ratminah ! gak pantas Ratminah kawin sama baridin. Baridin anake mbok wangsih ! wong ora duwe ! celanane tambalan ! wong gowo wluku ! Tidak Rat ! kamu kan sudah bilang, orang yang suka sama kamu itu wong gedeanm wong sugihan, wong nggowo motor ! mobil ! sepur ! Kapal ! kenapa kamu ngejar-ngejar saya ?!
Suratminah semakin lemah.
Suratminah :
Kaaang… ratminah sudah gak kuat kaang…kang baridiin..
Baridin menyadari sesuatu
Baridin :
Wah.. ini pasti akibat ajian jaran guying, ratminah sudah gila. Ratminah ! Ratminah ! Masak baridain kawin sama orang gila ! Baridin malu sama tetangga ! Bagaimana denganteman-teman baridin ? mereka pasti bilang, hoi ! baridin kawin sama ratminah anaknya bapak dam perempuan gila ! Ratminah ! ratminah ! perempuan gila itu kawinnya sama laki-laki gila !
Ratminah yang semakin lemah kemudian terjatuh dan mati menabrak dan di tangkap bariadin. Baridin menjadi bingung dan semakin kalut dibuatnya.
Ratminah :
Kaaang !!!….
Baridin :
Rat….. ratminah !!…. Ratminah!!..rat !!!….
Baridin yang juga lemah semakin kalut dan tak bisa mgatasi kelemahan fisik dan psikoliginya, sehingga dia mati didekat suratminah sambil mnyebut gemblung dan ajian jaran guying.
Baridin :
Blung !! Gemblung !! Ajian kemat Jaran Goyang Bluuung !!!!!!……….
Baridin dan suratminah telah mati. Tanpa disangka Gemblung kembali ketempat itu dan terkaget melihat kenyataan atas kedua anak manusia itu. Dia mencoba bangunkan baridin.
Gemblung :
Din ! din ! ( Baridin tidak terbangun )Ini….ini…. ini pasti akibat ajian kemat jaran goyang !!!
Takut akan terjadi sesuatu Gemblung lari meninggalkan mayat keduanya.
Selesai…….. !!!
Selasa, 08 Maret 2011
Ibu Bumi
Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis:
Seorang ibu, bagi anak-anaknya adalah bumi. Wajahnya adalah dedauanan menyambut fajar, sejuk menyelimuti. Jiwanya adalah ladang berbenih, penuh dengan kicauan burung pagi.
Anak-anak kemudian bertanya tentang bapaknya. Ibu berkata bahwa bapaknya adalah matahari, pergi dalam gelap datang membawa cahaya. Anaka-anak terus menuntut jawaban yang lebih tentang ayah yang matahari itu. Ibu kemudian sulit bersikap, lalu dengan berat hati pergi meninggalkan anak-anaknya.
Lama ibu tak kembali. Anak-anak mencarinya. Kepergian ibu akan mencerabut akar-kar tumbuhan, padahal anak-anak masih ingin melihat taman di rumah yang bunganya bermekaran, kebun yang biji-bijiannya bisa dimakan. Kepergian ibu membuat anak-anak lunglai, dedaunan layu, tiada lagi nyanyian kumbang dan tarian kupu-kupu.
Anak-anak kemudian memutuskan untuk mencari ibu yang lama tak kembali. Mereka tak menemukannya. Yang mereka temukan hanyalah pertengkaran-pertengkaran tentang apa saja yang mereka temukan di pinggir jalan.
Setting:
Setting cerita ini adalah diawali di taman rumah yang penuh dengan bunga-bunga. Kemudian berlanjut di jalanan yang gersang.
Tokoh:
1. Ibu, mulai terlihat garis pada wajahnya, lantaran beban yang ditanggungnya.
2. Sia, anak perempuan yang paling kecil. Masih terlihat paling manja.
3. Bam, kakak laki-laki Sia yang gagap.
4. Mata, kakak Bam, anak perempuan yang paling cerewet dan kadang egois.
5. Manto, anak laki-laki yang agak jahil, juga tidak mau mengalah kalau berdebat.
6. Ifik, Anak laki-laki yang karakternya biasa-biasa saja
7. Ovan, saudara tertua. Anak laki-laki yang jiwanya sudah mulai dewasa.
Ibu Bumi
Karya: Rodli TL
Suara musik bertalu dalam gelap.
Nyanyian sluku bathok memanggil cahaya.
Cahaya temaram, cahaya terang menyisir gelap panggung,
menyirami kerumunan anak-anak berwajah putih.
Sumber dari musik, sumber dari nyanyian.
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elu
Si Romo menyang solo
Le-olee payung modo
Mak jentit loloba
Sing mati ora oba
Sing oba medeni bocah
Sing urip goleko duwit
Musik diam
Nyanyian diam
Tubuh-tubuh statis dengan tarian,
Wajah-wajah mengekpresikan nyanyian.
Hening
Seorang ibu muncul dengan nyanyiannya. Ia menari dengan menggendong bayi, Ia lambaikan selendang gendongan mengudang bayinya. Nyanyiannya sama seperti pembuka adegan.
1. Ibu : Anakku, kau adalah anak bumi dan matahari
Jiwamu akan tenang bersama ibu. Ibu adalah bumi yang mengandung sari patih, penuh dengan akar-akar tumbuhan
Sedangkan ayahmu
Ia adalah matahari,
Pergi dalam gelap datang membawa cahaya
(lalu Menyanyi)
Puk-upuk ubang
Gedindang nabo gendang
Percil nabo gender
Kodok mbegogok
Ceblong megal-megol
Tubuh-tubuh yang statis ikut bergoyang, ikut menyanyi dengan gemulai tubuh yang menggemaskan, seperti bayi yang sedang dikudang.
2. Anak-anak : (menyanyi mengikuti nyanyian Ibu)
Ibu diam pada satu tempat. Menyaksikan anak-anaknya yang sedang menyanyi dan menari dengan senyuman
3. Sia : Ibuku, kau adalah bumi
Wajahmu adalah dedauanan menyambut fajar,
Sejuk menyelimuti
Jiwamu adalah ladang berbenih,
Penuh dengan kicauan burung pagi
Aku menyusumu ibu, bagai samudra
Tidak pernah habis kasih sayangmu
Upuk-upuk ubang, engkau mengajakku bermain
Bagai anak-anak katak menyambut hujan
Anak-anak bermain dan menyanyi. ia bergerak berenang, melompat-lompat seperti anak katak dalam deras hujan.
4. Mata : Hujan telah reda, hujan telah reda…….!
Berhenti menyanyi!
5. Manto : Kenapa mesti berhenti?
6. Mata : Lihat langit, ia sedang meminta kita berhenti menyanyi
7. Bam : Apa bukti ia mengatakannya?
8. Mata : Lihat, langit tidak menurunkan hujan lagi, hujan telah reda
9. Manto : Justru katak-katak akan semakin nyaring bernyanyi kalau hujan mulai reda
10. Mata : Tapi kita bukan katak-katak, kita adalah anak-anak beribu bumi dan berayah matahari
Anak-anak kembali bernyanyi dan menari. tariannya mempertegas tentang keluasan kasih sayang ibu dan keperkasaan ayahnya.
Ibuku bumi
Ayahku matahari
Berhenti
11. Ifik : Ya, saya berpendapat, kita memang harus berhenti bernyanyi bila kita ingin bertemu dengan ayah kita
12. Ovan : Ya, bila jiwa-jiwa kita menjadi katak, ayah akan takut datang, bukan lantaran malu melihat kita yang kerdil, ayah yang matahari itu takut akan menyakiti kita. Katak adalah binatang yang takut akan sengatan matahari.
Tiba-tiba ibu muncul lagi dengan nyanyiannya. Lembut ia menyanyi. Ada rasa gundah menunggu sang ayah datang untuk menyinari jiwanya.
13. Bam : Lihat ibu, jiwanya berlinang ia harus dihibur dalam hujan jangan biarkan mendung terus menebal kita harus bernyanyi lagi seperti katak-katak dalam hujan
14. Mata : Tapi hujan telah berhenti
15. Manto : Apa, hujan telah berhenti?
Tidakkah engkau melihat bahwa ada gerimis pada mata ibu, ada mendung tebal dalam jiwanya
16. Bam : Dan kita akan menjadi katak-katak yang bernyayi.
Syairnya adalah dendang tawa riuh.
Rasa damai pada jiwa-jiwa yang mendengarkannya
17. Mata: Tidak, kita tidak boleh bernyanyi, kita tidak boleh tertawa bila ada satu bagian dari kita yang duka
18. Manto : Justru ibu akan bertambah sedih bila kita ikut bersedih.
19. Mata : Tapi, kita adalah satu tubuh dengan ibu, bila satu bagian ada yang sakit, maka bagian yang lain ikut merasakannya
20. Bam : Tapi, tidakkah kau tahu, bahwa kebahagiaan seorang ibu apabila melihat buah hatinya bahagia
21. Ifik : Akan tetapi, pantaskah kita bergembira ria sedangkan ibu menderita
22. Mata : Perlu saya tegaskan, kita adalah satu tubuh, dalam suka dan duka kita harus berbagi bersama
Ibu berjalan mendekati anak-anaknya. Ia membelainya satu bersatu dengan kasih sayang.
23. ibu : Menyanyilah anak-anaku!
Dirimu yang masih putih adalah deretan syair-syair keceriaan.
Kalian ciptakan menara-menara tawa. Kalian yang membuatku hidup penuh harap, berharap sang matahari datang, menyinari isi taman
rumah.
Daun-daun hijau menyambutnya dengan mekar bunganya.
Musik sedih
Ibu kemudian diam menerawang. Raut wajahnya mulai terlihat sedih. Lama-lama mengalir air matanya. Tiba-tiba ibu bergegas pergi meninggalkan anak-anaknya
24. Sia : (berteriak memanggil) Ibu……! Engkau kemana……!
Jangan tinggalkan kami ibu………..!
Sia berusaha mengejar ibu. suasana menjadi sepi, anak-anak saling berpandangan.
Tak lama kemudian, Sia kembali pada saudara-saudaranya.
25. Sia : Ibu, jangan kau tinggalkan kami!
Kepergianmu akan mencerabut akar-akar tumbuhan.
Aku masih ingin melihat taman di rumah yang bunganya bermekaran.
Kebun yang biji-bijiannya bisa dimakan.
Kepergianmu ibu, membuat kami lunglai.
Dedaunan akan layu.
Tiada lagi nyanyian kumbang dan tarian kupu-kupu.
Anak-anak menangis, mereka bergerak dengan tatapan mata yang sedih. tangisannya menjadi nyanyian duka.
Sia melantunkan nyanyian sedihdi iringi musik
26. Sia :
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
27. Manto : (berteriak marah) Ini semua gara-gara kamu!
28. Mata : Apa, gara-gara aku?
29. Manto : Ya, gara-gara kamu!
30. Mata : Justru kamu yang membuat gara-gara
31. Manto : Apa, justru aku yang membuat gara-gara?
Anak-anak mulai bertengkar lagi, mereka saling menyalakan. Mereka bergerak berkelompok menjadi dua. gerakanya menjadi tarian yang saling menyerang.
32. Mata : Gara-gara kamu!
33. Manto : Mukamu yang membuat gara-gara!
34. Mata : Gara-gara kamu
35. Manto : Mukamu!
36. Mata : Kamu!
37. Manto : Mukamu!
38. Mata : Kamu!
39. Mata : Mukamu!
Terus mereka bertengkar, semakin lama semakin bergejolak
Semakin lama kemudian mereka mengalami kelelahan
Anak-anak lalu memanggil ibu secara bergantian
40. Anak anak : Ibu, aku kehausan
Aku ingin menyusui kasih sayangmu. Berulangkali mereka memanggil-manggil ibunya, namun tak kunjung datang. Sia melantunkan nyanyian sedih
41. Sia :
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
42. Ovan : Saudaraku, kita sedang merasakan penderitaan yang sama.
Ibu yang merupakan ladang kasih sayang buat kita telah pergi. Kita menjadi itik yang kehilangan induknya. Kita harus mencari ibu sampai ketemu
Mereka bergerak bersama mencari ibunya. Lama kemudian mereka belum menemukan.
Malam hari terus mencarinya dengan membawa lenter. Mereka bergerak seperti perahu terombang-ambing ombak di malam hari
Pagi harinya mereka tertidur lelap.
Sia bangun lebih awal. lalu ia membangunkan saudaranya dengan nyanyian.
Nyanyiannya cukup ceria kali ini.
43. Sia :
Inilah pagi ayam jantan berkokok
Membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
Pada rerumputan
Anak-anak tersentak bangun. Ia seakan mendengar nyanyian yang seringkali dilantunkan ibunya ketika pagi hari.
44. Mata : Ibu, kau datang ibu
45. Manto : Ya ibu, aku rindu
46. Bam : Ibu, kemana saja engaku pergi
47. Ifik : Aku ingin memelukmu ibu
48. Ovan : Ayo kita pulang ibu
Anak-anak seakan betul-betul menemukan ibunya
49. Sia : Ibu masih belum kita temukan
50. Mata : Tapi aku sudah menemukan, aku menemukan suarahnya
51. Manto : Ya, ia melantunkan tembang yang biasa ia nyanyikan ketika membangunkan kita
52. Mata : Dimana ibu, dimana ia sekarang?
53. Sia : Aku yang menyanyikan tembang itu untuk membangunkan kalian. Aku ingin kalian segera bangun dan cepat melanjutkan pencarian. Aku sungguh merindukan ibu. (melamun)
54. Ovan : Ayo kita kemasi barang-barang dan melanjutkan perjalanan
55. Mata : Sebelum berangkat, saya berpendapat sebaiknya kita berpencar
56. Bam : Ya, saya setuju. Kita harus berpencar, bergerak ke empat Penjuru, dan disini adalah titik poros dimana kita berpisah dan bertemu
57. Manto : ya, mulai hari ini kita bergerak mencari ibu ke beberapa penjuru yang berbeda.
Anak-anak bergerak dengan memanggil-manggil ibunya. Pencarian itu berlangsung beberapa waktu.
Tiba-tiba Mata dan Manto bertemu pada satu tempat.
58. Manto : Hai, kenapa kau berada di sini?
59. Mata : Ini wilayahku
60. Manto : Wilayah ini adalah mata angin yang kutujuh
61. Mata : Kamu salah arah. kamu mungkin menikung dalam perjalanan
62. Manto : Kamu yang mungkin tidak konsisten dalam pencarian, sehingga kau kini berada di wilayaku
63. Mata : Tidak, kau yang salah. Ini adalah arah yang aku tujuh
64. Manto : Tidak, kau yang salah. ini adalah arah mata anginku. ini daerah kekuasaanku
65. Mata : Arah mata anginku
Mereka berdua terus berdebat merebutkan kebenaran mata angin yang masing-masing mereka tujuh.
Tiba-tiba satu persatu muncul pada tempat yang sama, yaitu daerah yang kini sedang dipersengketakan.
66. Ifik : Hai, kenapa kalian bertengkar di sini?
Mata dan Manto berhenti berdebat, dan saling menatap dengan tatapan tanya.
67. Mata : Kenapa kalian semua kemari
68. Ifik : Kalian juga kenapa berada di sini?
69. Ovan : Pertanyaan itu sama seperti apa yang ada dalam benakku, kenapa kalian berada di wilayah di mana kita berada. Pasti diantara kita ada yang tidak konsisten dalam melakukan pencarian. Tidak setia pada tujuan masing-masing. Peristiwa semacam inilah yang merupakan awal dari pertengkaran, penyebab perang saudara. Ingat, pasti diantara kita semua mengalaminya. Kita pernah berbelok dalam meniti arah tujuan. kita pernah lengah.
70. Ifik : Ya, aku akui itu. semacam ada godaan yang membuatku lengah. Aku menemukan banyak wajah di jalan-jalan, di perempatan-perempatan.
71. Bang : Sama, aku juga menemukannya
72. Ifik : Itu persis terjadi pada diriku, kemudian aku berfikir, pasti diantara wajah-wajah yang dipamerkan itu ada wajah ayah kita
73. Manto : Pasti, pasti. ya aku bisa memastikan
74. Mata : Maksud kamu?
75. Manto : Pasti diantara wajah-wajah itu tidak ada wajah ibu, karena aku mengenal betul wajah ibu.
76. Mata : Pikiran yang tolol itu jangan diutarakan
77. Manto : Maksud kamu?
78. Mata : Siapa yang tidak mengenal ibu diantara kita. Ibu bukanlah
Politkus murahan yang dipamerkan di perempatan-perempatan.
Ibu tidak memiliki banyak wajah apalagi banyak rupa. Ibu kita adalah satu bumi yang memiliki akar-akar kasih sayang, yang jiwanya terus-menerus menjadi tempat tinggal anak-anaknya.
79. Manto : Dosa besar kamu, melakukan apa yang kamu larang
80. Mata : Maksud kamu?
81. Manto : Kamu mengatakan bahwa fikiran-fikiran itu adalah ketololan, sedangkan yang kamu ungkapkan tadi apa, apa bukan ketololan juga?
82. Mata : Ketololan itu adalah kita yang masih berusaha membandingkan ibu kita dengan para perempuan yang hanya ingin menjadi selebritis di jalan-jalan. Sekali lagi, ibu kita hanya ingin anak-anaknya punya cita-cita besar dan berakhlaqul karimah, berani menolak yang dholim karena akan mendapat lebih dari sepuluh kebaikan dari yang ia tolak.
83. Manto : Pandai juga kamu berdeplomasi. Apa yang kau sampaikan tidak sama dengan tabiat yang kamu perbuat. Jangan-jangan kau iri dengan para politikus-politikus itu yang berkesempatan memamerkan wajahnya di slokan-slokan tempat sampah. Terus terang aja, irilantaran tidak punya kendaraan, iri lantaran tidak punya uang.
84. Mata : Shut up! tutup mulutmu. Aku anak ibu bumi dan ayah matahari. Aku adalah saudaramu seibu dan seayah. kamu tahu sendiri. Ibu dan ayah tidak pernah mengajari anak-anaknya tentang kemunafikan. Ibu dan ayah tidak pernah mengajari anak-anaknya menggunakan segala cara untuk menggapai keinginannya.
85. Ovan : Hentikan!……… hentikan semua omong kosong itu!
Selama ini aku adalah orang yang paling kuat menahan amarah. Namun kali ini dadaku terasa membuncah, telingaku mau pencah mendengar ocehan-ocehan itu. Sungguh amarahku ingin meledak setiap kali mendengar kemunafikan yang terus-menerus diperdagangkan, terlebih lagi kemunafikan itu mulai menyusup dalam darah dan fikiran kita. Ini adalah penyakit yang paling akut. (berteriak-teriak dengan menangis) Aku benci! Aku muak! Aku marah! Aku tak mau lagi omong kosong itu!
Tiba-tiba semua anak ikut berteriak histeris
86. Anak-anak : Hentikan omong kosong kemunafikan. Aku, juga saudara-saudaraku tak mau menderita penyakit yang paling nista, menjadi pembohong, menjadi penipu. Aku masih ingin setia pada ibu yang mengajari kasih sayang. Aku masih ingin setia pada ayah yang matahari, yang mengajariku dengan tegas menolak segala cara dusta dan tipu daya. hentikan omong kosong kemunafikan itu!”
kalimat-kalimat itu bersahut-sahutan seperti halilintar, menyerbu pohon-pohon, menara-menara, gedung-gedung terbang menjadi mendung gelap.
87. Sia:
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
Suasana pelan mulai diam. diam-diam merenungi diri, diam-diam mengaliri isi hati.
TAMAT
Lamongan, Januari 2009
http://sastra-indonesia.com/
Sinopsis:
Seorang ibu, bagi anak-anaknya adalah bumi. Wajahnya adalah dedauanan menyambut fajar, sejuk menyelimuti. Jiwanya adalah ladang berbenih, penuh dengan kicauan burung pagi.
Anak-anak kemudian bertanya tentang bapaknya. Ibu berkata bahwa bapaknya adalah matahari, pergi dalam gelap datang membawa cahaya. Anaka-anak terus menuntut jawaban yang lebih tentang ayah yang matahari itu. Ibu kemudian sulit bersikap, lalu dengan berat hati pergi meninggalkan anak-anaknya.
Lama ibu tak kembali. Anak-anak mencarinya. Kepergian ibu akan mencerabut akar-kar tumbuhan, padahal anak-anak masih ingin melihat taman di rumah yang bunganya bermekaran, kebun yang biji-bijiannya bisa dimakan. Kepergian ibu membuat anak-anak lunglai, dedaunan layu, tiada lagi nyanyian kumbang dan tarian kupu-kupu.
Anak-anak kemudian memutuskan untuk mencari ibu yang lama tak kembali. Mereka tak menemukannya. Yang mereka temukan hanyalah pertengkaran-pertengkaran tentang apa saja yang mereka temukan di pinggir jalan.
Setting:
Setting cerita ini adalah diawali di taman rumah yang penuh dengan bunga-bunga. Kemudian berlanjut di jalanan yang gersang.
Tokoh:
1. Ibu, mulai terlihat garis pada wajahnya, lantaran beban yang ditanggungnya.
2. Sia, anak perempuan yang paling kecil. Masih terlihat paling manja.
3. Bam, kakak laki-laki Sia yang gagap.
4. Mata, kakak Bam, anak perempuan yang paling cerewet dan kadang egois.
5. Manto, anak laki-laki yang agak jahil, juga tidak mau mengalah kalau berdebat.
6. Ifik, Anak laki-laki yang karakternya biasa-biasa saja
7. Ovan, saudara tertua. Anak laki-laki yang jiwanya sudah mulai dewasa.
Ibu Bumi
Karya: Rodli TL
Suara musik bertalu dalam gelap.
Nyanyian sluku bathok memanggil cahaya.
Cahaya temaram, cahaya terang menyisir gelap panggung,
menyirami kerumunan anak-anak berwajah putih.
Sumber dari musik, sumber dari nyanyian.
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elu
Si Romo menyang solo
Le-olee payung modo
Mak jentit loloba
Sing mati ora oba
Sing oba medeni bocah
Sing urip goleko duwit
Musik diam
Nyanyian diam
Tubuh-tubuh statis dengan tarian,
Wajah-wajah mengekpresikan nyanyian.
Hening
Seorang ibu muncul dengan nyanyiannya. Ia menari dengan menggendong bayi, Ia lambaikan selendang gendongan mengudang bayinya. Nyanyiannya sama seperti pembuka adegan.
1. Ibu : Anakku, kau adalah anak bumi dan matahari
Jiwamu akan tenang bersama ibu. Ibu adalah bumi yang mengandung sari patih, penuh dengan akar-akar tumbuhan
Sedangkan ayahmu
Ia adalah matahari,
Pergi dalam gelap datang membawa cahaya
(lalu Menyanyi)
Puk-upuk ubang
Gedindang nabo gendang
Percil nabo gender
Kodok mbegogok
Ceblong megal-megol
Tubuh-tubuh yang statis ikut bergoyang, ikut menyanyi dengan gemulai tubuh yang menggemaskan, seperti bayi yang sedang dikudang.
2. Anak-anak : (menyanyi mengikuti nyanyian Ibu)
Ibu diam pada satu tempat. Menyaksikan anak-anaknya yang sedang menyanyi dan menari dengan senyuman
3. Sia : Ibuku, kau adalah bumi
Wajahmu adalah dedauanan menyambut fajar,
Sejuk menyelimuti
Jiwamu adalah ladang berbenih,
Penuh dengan kicauan burung pagi
Aku menyusumu ibu, bagai samudra
Tidak pernah habis kasih sayangmu
Upuk-upuk ubang, engkau mengajakku bermain
Bagai anak-anak katak menyambut hujan
Anak-anak bermain dan menyanyi. ia bergerak berenang, melompat-lompat seperti anak katak dalam deras hujan.
4. Mata : Hujan telah reda, hujan telah reda…….!
Berhenti menyanyi!
5. Manto : Kenapa mesti berhenti?
6. Mata : Lihat langit, ia sedang meminta kita berhenti menyanyi
7. Bam : Apa bukti ia mengatakannya?
8. Mata : Lihat, langit tidak menurunkan hujan lagi, hujan telah reda
9. Manto : Justru katak-katak akan semakin nyaring bernyanyi kalau hujan mulai reda
10. Mata : Tapi kita bukan katak-katak, kita adalah anak-anak beribu bumi dan berayah matahari
Anak-anak kembali bernyanyi dan menari. tariannya mempertegas tentang keluasan kasih sayang ibu dan keperkasaan ayahnya.
Ibuku bumi
Ayahku matahari
Berhenti
11. Ifik : Ya, saya berpendapat, kita memang harus berhenti bernyanyi bila kita ingin bertemu dengan ayah kita
12. Ovan : Ya, bila jiwa-jiwa kita menjadi katak, ayah akan takut datang, bukan lantaran malu melihat kita yang kerdil, ayah yang matahari itu takut akan menyakiti kita. Katak adalah binatang yang takut akan sengatan matahari.
Tiba-tiba ibu muncul lagi dengan nyanyiannya. Lembut ia menyanyi. Ada rasa gundah menunggu sang ayah datang untuk menyinari jiwanya.
13. Bam : Lihat ibu, jiwanya berlinang ia harus dihibur dalam hujan jangan biarkan mendung terus menebal kita harus bernyanyi lagi seperti katak-katak dalam hujan
14. Mata : Tapi hujan telah berhenti
15. Manto : Apa, hujan telah berhenti?
Tidakkah engkau melihat bahwa ada gerimis pada mata ibu, ada mendung tebal dalam jiwanya
16. Bam : Dan kita akan menjadi katak-katak yang bernyayi.
Syairnya adalah dendang tawa riuh.
Rasa damai pada jiwa-jiwa yang mendengarkannya
17. Mata: Tidak, kita tidak boleh bernyanyi, kita tidak boleh tertawa bila ada satu bagian dari kita yang duka
18. Manto : Justru ibu akan bertambah sedih bila kita ikut bersedih.
19. Mata : Tapi, kita adalah satu tubuh dengan ibu, bila satu bagian ada yang sakit, maka bagian yang lain ikut merasakannya
20. Bam : Tapi, tidakkah kau tahu, bahwa kebahagiaan seorang ibu apabila melihat buah hatinya bahagia
21. Ifik : Akan tetapi, pantaskah kita bergembira ria sedangkan ibu menderita
22. Mata : Perlu saya tegaskan, kita adalah satu tubuh, dalam suka dan duka kita harus berbagi bersama
Ibu berjalan mendekati anak-anaknya. Ia membelainya satu bersatu dengan kasih sayang.
23. ibu : Menyanyilah anak-anaku!
Dirimu yang masih putih adalah deretan syair-syair keceriaan.
Kalian ciptakan menara-menara tawa. Kalian yang membuatku hidup penuh harap, berharap sang matahari datang, menyinari isi taman
rumah.
Daun-daun hijau menyambutnya dengan mekar bunganya.
Musik sedih
Ibu kemudian diam menerawang. Raut wajahnya mulai terlihat sedih. Lama-lama mengalir air matanya. Tiba-tiba ibu bergegas pergi meninggalkan anak-anaknya
24. Sia : (berteriak memanggil) Ibu……! Engkau kemana……!
Jangan tinggalkan kami ibu………..!
Sia berusaha mengejar ibu. suasana menjadi sepi, anak-anak saling berpandangan.
Tak lama kemudian, Sia kembali pada saudara-saudaranya.
25. Sia : Ibu, jangan kau tinggalkan kami!
Kepergianmu akan mencerabut akar-akar tumbuhan.
Aku masih ingin melihat taman di rumah yang bunganya bermekaran.
Kebun yang biji-bijiannya bisa dimakan.
Kepergianmu ibu, membuat kami lunglai.
Dedaunan akan layu.
Tiada lagi nyanyian kumbang dan tarian kupu-kupu.
Anak-anak menangis, mereka bergerak dengan tatapan mata yang sedih. tangisannya menjadi nyanyian duka.
Sia melantunkan nyanyian sedihdi iringi musik
26. Sia :
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
27. Manto : (berteriak marah) Ini semua gara-gara kamu!
28. Mata : Apa, gara-gara aku?
29. Manto : Ya, gara-gara kamu!
30. Mata : Justru kamu yang membuat gara-gara
31. Manto : Apa, justru aku yang membuat gara-gara?
Anak-anak mulai bertengkar lagi, mereka saling menyalakan. Mereka bergerak berkelompok menjadi dua. gerakanya menjadi tarian yang saling menyerang.
32. Mata : Gara-gara kamu!
33. Manto : Mukamu yang membuat gara-gara!
34. Mata : Gara-gara kamu
35. Manto : Mukamu!
36. Mata : Kamu!
37. Manto : Mukamu!
38. Mata : Kamu!
39. Mata : Mukamu!
Terus mereka bertengkar, semakin lama semakin bergejolak
Semakin lama kemudian mereka mengalami kelelahan
Anak-anak lalu memanggil ibu secara bergantian
40. Anak anak : Ibu, aku kehausan
Aku ingin menyusui kasih sayangmu. Berulangkali mereka memanggil-manggil ibunya, namun tak kunjung datang. Sia melantunkan nyanyian sedih
41. Sia :
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
42. Ovan : Saudaraku, kita sedang merasakan penderitaan yang sama.
Ibu yang merupakan ladang kasih sayang buat kita telah pergi. Kita menjadi itik yang kehilangan induknya. Kita harus mencari ibu sampai ketemu
Mereka bergerak bersama mencari ibunya. Lama kemudian mereka belum menemukan.
Malam hari terus mencarinya dengan membawa lenter. Mereka bergerak seperti perahu terombang-ambing ombak di malam hari
Pagi harinya mereka tertidur lelap.
Sia bangun lebih awal. lalu ia membangunkan saudaranya dengan nyanyian.
Nyanyiannya cukup ceria kali ini.
43. Sia :
Inilah pagi ayam jantan berkokok
Membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
Pada rerumputan
Anak-anak tersentak bangun. Ia seakan mendengar nyanyian yang seringkali dilantunkan ibunya ketika pagi hari.
44. Mata : Ibu, kau datang ibu
45. Manto : Ya ibu, aku rindu
46. Bam : Ibu, kemana saja engaku pergi
47. Ifik : Aku ingin memelukmu ibu
48. Ovan : Ayo kita pulang ibu
Anak-anak seakan betul-betul menemukan ibunya
49. Sia : Ibu masih belum kita temukan
50. Mata : Tapi aku sudah menemukan, aku menemukan suarahnya
51. Manto : Ya, ia melantunkan tembang yang biasa ia nyanyikan ketika membangunkan kita
52. Mata : Dimana ibu, dimana ia sekarang?
53. Sia : Aku yang menyanyikan tembang itu untuk membangunkan kalian. Aku ingin kalian segera bangun dan cepat melanjutkan pencarian. Aku sungguh merindukan ibu. (melamun)
54. Ovan : Ayo kita kemasi barang-barang dan melanjutkan perjalanan
55. Mata : Sebelum berangkat, saya berpendapat sebaiknya kita berpencar
56. Bam : Ya, saya setuju. Kita harus berpencar, bergerak ke empat Penjuru, dan disini adalah titik poros dimana kita berpisah dan bertemu
57. Manto : ya, mulai hari ini kita bergerak mencari ibu ke beberapa penjuru yang berbeda.
Anak-anak bergerak dengan memanggil-manggil ibunya. Pencarian itu berlangsung beberapa waktu.
Tiba-tiba Mata dan Manto bertemu pada satu tempat.
58. Manto : Hai, kenapa kau berada di sini?
59. Mata : Ini wilayahku
60. Manto : Wilayah ini adalah mata angin yang kutujuh
61. Mata : Kamu salah arah. kamu mungkin menikung dalam perjalanan
62. Manto : Kamu yang mungkin tidak konsisten dalam pencarian, sehingga kau kini berada di wilayaku
63. Mata : Tidak, kau yang salah. Ini adalah arah yang aku tujuh
64. Manto : Tidak, kau yang salah. ini adalah arah mata anginku. ini daerah kekuasaanku
65. Mata : Arah mata anginku
Mereka berdua terus berdebat merebutkan kebenaran mata angin yang masing-masing mereka tujuh.
Tiba-tiba satu persatu muncul pada tempat yang sama, yaitu daerah yang kini sedang dipersengketakan.
66. Ifik : Hai, kenapa kalian bertengkar di sini?
Mata dan Manto berhenti berdebat, dan saling menatap dengan tatapan tanya.
67. Mata : Kenapa kalian semua kemari
68. Ifik : Kalian juga kenapa berada di sini?
69. Ovan : Pertanyaan itu sama seperti apa yang ada dalam benakku, kenapa kalian berada di wilayah di mana kita berada. Pasti diantara kita ada yang tidak konsisten dalam melakukan pencarian. Tidak setia pada tujuan masing-masing. Peristiwa semacam inilah yang merupakan awal dari pertengkaran, penyebab perang saudara. Ingat, pasti diantara kita semua mengalaminya. Kita pernah berbelok dalam meniti arah tujuan. kita pernah lengah.
70. Ifik : Ya, aku akui itu. semacam ada godaan yang membuatku lengah. Aku menemukan banyak wajah di jalan-jalan, di perempatan-perempatan.
71. Bang : Sama, aku juga menemukannya
72. Ifik : Itu persis terjadi pada diriku, kemudian aku berfikir, pasti diantara wajah-wajah yang dipamerkan itu ada wajah ayah kita
73. Manto : Pasti, pasti. ya aku bisa memastikan
74. Mata : Maksud kamu?
75. Manto : Pasti diantara wajah-wajah itu tidak ada wajah ibu, karena aku mengenal betul wajah ibu.
76. Mata : Pikiran yang tolol itu jangan diutarakan
77. Manto : Maksud kamu?
78. Mata : Siapa yang tidak mengenal ibu diantara kita. Ibu bukanlah
Politkus murahan yang dipamerkan di perempatan-perempatan.
Ibu tidak memiliki banyak wajah apalagi banyak rupa. Ibu kita adalah satu bumi yang memiliki akar-akar kasih sayang, yang jiwanya terus-menerus menjadi tempat tinggal anak-anaknya.
79. Manto : Dosa besar kamu, melakukan apa yang kamu larang
80. Mata : Maksud kamu?
81. Manto : Kamu mengatakan bahwa fikiran-fikiran itu adalah ketololan, sedangkan yang kamu ungkapkan tadi apa, apa bukan ketololan juga?
82. Mata : Ketololan itu adalah kita yang masih berusaha membandingkan ibu kita dengan para perempuan yang hanya ingin menjadi selebritis di jalan-jalan. Sekali lagi, ibu kita hanya ingin anak-anaknya punya cita-cita besar dan berakhlaqul karimah, berani menolak yang dholim karena akan mendapat lebih dari sepuluh kebaikan dari yang ia tolak.
83. Manto : Pandai juga kamu berdeplomasi. Apa yang kau sampaikan tidak sama dengan tabiat yang kamu perbuat. Jangan-jangan kau iri dengan para politikus-politikus itu yang berkesempatan memamerkan wajahnya di slokan-slokan tempat sampah. Terus terang aja, irilantaran tidak punya kendaraan, iri lantaran tidak punya uang.
84. Mata : Shut up! tutup mulutmu. Aku anak ibu bumi dan ayah matahari. Aku adalah saudaramu seibu dan seayah. kamu tahu sendiri. Ibu dan ayah tidak pernah mengajari anak-anaknya tentang kemunafikan. Ibu dan ayah tidak pernah mengajari anak-anaknya menggunakan segala cara untuk menggapai keinginannya.
85. Ovan : Hentikan!……… hentikan semua omong kosong itu!
Selama ini aku adalah orang yang paling kuat menahan amarah. Namun kali ini dadaku terasa membuncah, telingaku mau pencah mendengar ocehan-ocehan itu. Sungguh amarahku ingin meledak setiap kali mendengar kemunafikan yang terus-menerus diperdagangkan, terlebih lagi kemunafikan itu mulai menyusup dalam darah dan fikiran kita. Ini adalah penyakit yang paling akut. (berteriak-teriak dengan menangis) Aku benci! Aku muak! Aku marah! Aku tak mau lagi omong kosong itu!
Tiba-tiba semua anak ikut berteriak histeris
86. Anak-anak : Hentikan omong kosong kemunafikan. Aku, juga saudara-saudaraku tak mau menderita penyakit yang paling nista, menjadi pembohong, menjadi penipu. Aku masih ingin setia pada ibu yang mengajari kasih sayang. Aku masih ingin setia pada ayah yang matahari, yang mengajariku dengan tegas menolak segala cara dusta dan tipu daya. hentikan omong kosong kemunafikan itu!”
kalimat-kalimat itu bersahut-sahutan seperti halilintar, menyerbu pohon-pohon, menara-menara, gedung-gedung terbang menjadi mendung gelap.
87. Sia:
Oh, ibu air matamu
Ku ingin bersimpu padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga ditelapak kakimu
Suasana pelan mulai diam. diam-diam merenungi diri, diam-diam mengaliri isi hati.
TAMAT
Lamongan, Januari 2009
Senin, 22 November 2010
Nyai Ontosoroh: Hikayat Perlawanan Sanikem
dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/
BABAK I
Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan
ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.
ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?
ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.
1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.
Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.
2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.
Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.
3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.
5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!
Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.
6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.
7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?
8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).
Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.
9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!
10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.
11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.
12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.
Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…
13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.
Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!
Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’
Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.
Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.
14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.
15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.
Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.
16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal!
Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.
Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.
Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!
Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.
Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.
17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.
Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.
18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?
19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….
Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.
20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.
21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.
22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…
23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.
24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!
25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!
26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…
27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!
Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.
ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.
28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.
Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.
Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.
Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/
BABAK I
Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan
ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.
ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?
ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.
1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.
Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.
2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.
Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.
3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.
5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!
Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.
6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.
7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?
8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).
Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.
9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!
10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.
11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.
12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.
Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…
13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.
Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!
Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’
Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.
Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.
14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.
15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.
Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.
16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal!
Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.
Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.
Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!
Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.
Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.
17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.
Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.
18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?
19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….
Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.
20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.
21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.
22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…
23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.
24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!
25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!
26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…
27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!
Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.
ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.
28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.
Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.
Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.
Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.
Sabtu, 03 Januari 2009
Gambar Cinta dari Atjeh
R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Pengubur 1
“Seperti kami, 50 tahun usianya dihidupi penderitaan, darah, kematian, orang-orang yang diburu dan dibantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang-orang yang diburu itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi gerimis.
Pengubur 2
(meletakkan cangkul)
Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adalah pertikaian yang dimulai dari kejahatan janji. Tentara pusat datang dan mencoba membungkam teriakan kami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka tidak memperbolehkan kami berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk tidak hidup bersama mereka. Ya, bersama mereka! Negara telah membuat mereka tak mengenal kami sebagai saudara yang harus memilih jalan lain.
Pengubur 3
Kemudian mereka menculik seluruh kaum laki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan suaminya, anak-anak gadis diperkosa, dan laki-laki yang lain harus pergi ke hutan-hutan.
Pengubur 4
Sudahlah! Tak baik kita mengingatnya lagi. Jangan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini, menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih baik.
Pengubur 2
Tidak! Aku mulai mempertanyakan, kenapa harus selalu tanah ini? Kenapa penderitaan selalu datang dan bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku jadi sangsi!
Pengubur 1
Tutup mulutmu! Jangan biarkan pikiranmu kotor, akankah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan keadilan Tuhan.
Pengubur 3
Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, ditanah ini? Bertahun-tahun kita tenggelam dalam penderitaan ini.
Pengubur 4
Kau gila. Kalian berdua gila!
Pengubur 2 & 3
Ya, kami memang gila! Kami mulai sangsi, kami mulai tidak percaya terhadap apa-apa dan siapapun. Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghianati kepercayaan kami
Pengubur 1
Cukup! Musibah ini telah terjadi, lebih baik kita kuburkan mayat-mayat saudara kita ini. Apakah akan kita biarkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Bangkalan-Sumenep, 2004
http://aksaraapi.blogspot.com/
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Pengubur 1
“Seperti kami, 50 tahun usianya dihidupi penderitaan, darah, kematian, orang-orang yang diburu dan dibantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang-orang yang diburu itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi gerimis.
Pengubur 2
(meletakkan cangkul)
Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adalah pertikaian yang dimulai dari kejahatan janji. Tentara pusat datang dan mencoba membungkam teriakan kami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka tidak memperbolehkan kami berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk tidak hidup bersama mereka. Ya, bersama mereka! Negara telah membuat mereka tak mengenal kami sebagai saudara yang harus memilih jalan lain.
Pengubur 3
Kemudian mereka menculik seluruh kaum laki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan suaminya, anak-anak gadis diperkosa, dan laki-laki yang lain harus pergi ke hutan-hutan.
Pengubur 4
Sudahlah! Tak baik kita mengingatnya lagi. Jangan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini, menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih baik.
Pengubur 2
Tidak! Aku mulai mempertanyakan, kenapa harus selalu tanah ini? Kenapa penderitaan selalu datang dan bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku jadi sangsi!
Pengubur 1
Tutup mulutmu! Jangan biarkan pikiranmu kotor, akankah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan keadilan Tuhan.
Pengubur 3
Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, ditanah ini? Bertahun-tahun kita tenggelam dalam penderitaan ini.
Pengubur 4
Kau gila. Kalian berdua gila!
Pengubur 2 & 3
Ya, kami memang gila! Kami mulai sangsi, kami mulai tidak percaya terhadap apa-apa dan siapapun. Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghianati kepercayaan kami
Pengubur 1
Cukup! Musibah ini telah terjadi, lebih baik kita kuburkan mayat-mayat saudara kita ini. Apakah akan kita biarkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Bangkalan-Sumenep, 2004
Selasa, 29 Juli 2008
Kapak Berhala Namrud
Karya: Rodli TL
Nyanyian latar mengisi kesunyian ruang. Bergerak menyusup pada tiap gelap pada tiap mimpi.
Mimpi, Mimpikah aku, Aku punya mimpi, Mimpi
Seseorang yang sudah lanjut usianya tiduran di atas altar, diselimuti remang malam. Diantara patung-patung sesembahan yang hancur, Ia mendengkur, dan kadang mengigau. Ia seakan terjaga, lalu menemui orang-orang yang sedang menungguhinya.
Orang Tua
(tertawa) selamat malam. Welcome to my jungle. How are you? Lama aku merindukan kalian. Beberapa tahun yang lalu aku melihat kalian masih kanak-kanak. Bila purnama tiba, kalian berlarian bermain petak umpet. Kini kalian sudah dewasa. Yang perjaka sudah mulai tumbuh kumisnya, dan yang gadis sudah mulai senang berdandan, pakai lipstik dan aroma wewangian. Aku suka harum parfum kalian. Keadaan kalian baik kan?(Tertawa, lalu sedikit kaget)Apa, tidak happy? Don’t worry, aku akan menghibur kalian. Ayo kita bernyanyi bersama-sama!(mengajak bernyanyi).
“malam indah, yo kita berhappy ria/Seperti pangeran menemukan cintanya/Juga, gadis yang dipersunting kasihnya/Bulan bintang bergelak tawa Sambut kita yang bahagia”
(Mengamati orang-orang yang berada di sekitar masih terlihat sedih.)
Sudahlah tak perlu dirisaukan. Ini malam yang indah bukan. Jadilah diri kalian seperti Ibrahim yang sangat antusias ketika merlihat bulan bersinar, sampai beliau ingin menjadikannya Tuhan (tertawa ringan).
(Nyanyian latar muncul kembali, datang berlawanan dengan cahaya. Suara langkah, datang mengisi ruang. berjalan dengan kecepatan yang maksimal).
(Mendengkur dengan kerasnya. Lalu ia mulai igauannya dengan tertawa lebar.) Oh oh oh…. Aku hampir lupa. Jangan-jangan diantara kita sudah saling melupakan. Lebih baik bila aku memperkenalkan kembali diriku pada kalian. Dan kalian tak perlu repot-repot memperkenalkan diri kalian padaku. Aku sudah faham betul siapa diri kalian. Kitab suci yang memperkenalkan diri kalian padaku. Yang terpenting bagi aku bukan nama, namun pertentangan Malaikat dengan Tuhan, juga Iblis yang tak akan pernah mau hormat pada kalian. (tertawa memunculkan kesombongan Iblis).
Ok, back to the point, Ya ya….. aku adalah berhala. Satu-satunya berhala yang selamat dari amukan Ibrahim Aku yakin kalian bisa mengidentifikasi siapa aku sebenarnya, satu-satunya berhala yang ditanganku terdapat kapak. Aku pernah dikambing-hitamkan Ibrahim utusan sang Tuhan, atas hancurnya kawan-kawan kami. (marah dan bergerak berputar-putar) Sebenarnya ingin aku lempar kapak ini ke kepala Ibrahim itu, tapi aku tak kuasa. (merenung pristiwa lalu yang membuat raut wajahnya semakin sedih) Hatiku amat pedih mengingat peristiwa itu.(nyanyian latar mengiringi kesedihan).
(Ia berjalan dengan membawa kapak dan bola dunia) It is my way, perjalanan hidupku yang sudah kesekian abad. Aku mengembara dari bukit ke lembah-lembah. Nyawaku yang abadi ini adalah kesaktianku untuk mengetahui rahasia manusia. Juga titik-titik lemah kepengecutannya Mereka akan aku pertontonkan pada peradaban dunia yang biadab. Akan aku buktikan pada Tuhan, bahwa sumpah kami lebih setia dibandingkan sumpah para Nabi. Aku pun akan menghibur malaikat, bahwa apa yang dipertanyakannya pada rencana penciptaan manusia adalah benar. Manusia hanya bisa membuat kerusakan di daratan dan di lautan. Amat terang firmanMu Tuhan! (tertawa)
(Berjalan berkelililing menina-bubukkan orang-orang di sekitar) Hello, good night! Aku ucapkan selamat tidur pada kalian. mari menempuh perjalanan yang amat panjang. Menuju Tuhan barangkali. Tapi bukan dengan memuja kebesaraNya Cukup dengan sebuah kapak ini. Kapak Nabi besar yang telah beliau tinggalkan pada tanganku.
(berjalan slow motion seakan melayang)
Begini ceritanya, pada suatu malam, Raja Namrud bermimpi, bahwa ia melihat seorang anak kecil melompat masuk pada kamarnya, lalu merampas mahkota yang sedang dipakainya di atas kepalanya, dan bocah kecil itu menghancurkan mahkotanya.
Setelah ia terbangun, pikiranya berkecamuk memikirkan mimpinya yang luar biasa itu. Pada saat itulah aku masuk pada diri sang Raja. Aku pengaruhi ia memanggil para tukang untuk memecahkan misteri mimpi sang raja. Ketika para peramal berkumpul di istana, Raja membuka pertemuan dengan pidato. Dalam pidatonya, Sang Raja menceritakan kejadian dalam mimpi. Usai pidato para peramal berdiskusi, dengan analisia titen teniten, lan nondoi tondo. Para peramal menyimpulkan, bahwa suatu saat akan lahir seorang anak laki-laki yang akan mengkudeta kekuasaan Sang Raja.
Dan pada saat itulah aku menari dalam diri Raja, segala dirinya aku kuasai untuk mengambil keputusan.
Berdasarkan ta’bir-ta’bir mimpi yang telah diramalkan para tukang ramal, maka sang Raja memberikan ma’lumat akan membunuh semua bayi yang lahir, baik laki-laki maupun perempuan.
(memukul-mukul bendah seakan memberikan pengumuman)
Disaat hangat-hangatnya ma’lumat Raja. Ada seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki. Ibu tersebut membawa lari jabang bayi itu ke gua untuk menyembunyikan dan menyelamatkannya. Anak itu bernama Ibrahim.
Sejak dilahirkan sampai masa kanak-kanak, ia dibesarkan dalam gua tersebut, di sanahlah ia diasuh dan dibesarkan, setelah agak besar, Ibrahim mulai bisa menggunakan fikirannya.
Dikala ditinggalkan ibunya pergi ke kota mencari bahan-bahan makanan, Ibrahim memberanikan diri untuk keluar gua. Ia tercengang karena di luar gua terang dengan alam yang luas. Langit terbentang, gunung-gunung menjulang tinggi, ombak lautan berkejaran. Sungguh alam di luar gua sangat hebat. Ibrahim semakin jauh memikirkan alam. Tidak hanya keindahan dan kehebatannya.
Namun ia berfikir sesuatu di balik kehebatan alam itu. Yaitu sesuatu yang menciptakannya. Ibrahim berfikir berusaha terus untuk menemukan jawabannya. Siang malam ia selalu memikirkannya. Awalnya ia berkesimpulan, bahwa bintang yang berkedap-kedip di atas langit yang indah itu adalah Tuhan. Beberapa hari berikutnya, ia menyaksikan sesuatu yang bersinar yang lebih indah dan lebih besar yang bernama bulan. Ia berkesimpulan bahwa Bulan yang patut dijadikan Tuhan, karena mampu mempercantik malam hari dan menerangi semesta. Paginya Bulan semakin tidak terlihat, lebih-lebih ketika cahaya dari ufuk timur muncul dan bergerak naik, dan bulan itu lenyap.
Matahari sinarnya yang tajam mampu menyapu kegelapan malam. Ibrahim berfikir tentang kekuatan dibalik semesta ini. Ia merasa menemukannya. Bahwa matahari adalah kekuatan segala-galanya. Pagi hari ketika matahari mulai menampakkan dirinya, burung-burung mulai berkicau dan bertebangan, hewan-hewan lain pun mulai nampak riang bangun dari tidurnya, pohon-pohon nampak hijau dengan daun-daunnya yang menari.
Matahari membuat kehidupan nampak nyata.
Ibrahim berkesimpulan, Tuhan Alam semesta adalah matahari.
(Bergerak seakan menyambut hormat terbitnya matahari).
Nabi Ibrahim adalah kekasih Pencipta sesungguhnya. Ia dikaruniai akal yang cerdas yang pada akhirnya ia mampu menemukan Tuhan yang sungguhnya, yaitu Cahaya di atas cahaya. Pencipta bintang, bulan dan matahari, pencipta alam semesta dan isinya.
(menyanyikan kebesaran Ibrahim)
“Ibrahim bertuhan lantaran dikaruniai akal yang cerdas.”
Beberapa tahun kemudian, Ibrahim diajak ibunya untuk kembali pulang ke rumah. Ia menyaksikan ayahnya bekerja sebagai pengrajin, membuat gambar dan patung-patung. Kemudian ia tahu bahwa patung-patung itu adalah untuk sesembahan. Mulai saat itulah aku tahu ada tanda-tanda yang mebahayakan bagi komunitas berhala. Mimpi Namrud nampak nyata. Ia mulai memberanikan diri untuk menegur ayahnya. Bahwa apa yang ayahnya lakukakan adalah nampak bodoh. Membuat patung, dan ia sembahnya sendiri.
Ingatlah ketika berkata kepada bapaknya. “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun?”
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutlah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan yang maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku kawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.
Bapaknya berkata;
“Bencikah kamu kepada Tuhan-Tuhanku wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti niscaya kamu akan ku rajam, dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.”
Ibrahim berkata;
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepada engkau, aku akan memintakan ampun bagi engkau kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari pada engkau dan dari pada apa yang engkau seru selain dari Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku.”
Do’a Ibrahim tak membuat ayahnya mengikuti ajarannya. Ayah Ibrahim tetap setia bersamaku untuk melanggengkan kesesatan di muka bumi.Usaha Ibrahim pertama untuk mengajak ke jalan lurus telah gagal.
Dengan hati yang teguh, jiwa yang tenang, dan keimanan yang mantap. Ibrahim terus berjuang untuk menyelamatkan manusia dari lupa ingatan dan tipu dayaku. Ibrahim mulai berani. Ia berniat menghancurkan berhala-berhala. Pada saat hari raya, semua penduduk Babilon terbiasa untuk ke luar kota berburu. Pada saat itulah kota sepi dan Ibrahim leluasa untuk menghancurkan patung-patung.
Ketika warga dan Raja Namrud kembali Namrud gerang, lantaran berhala-berhala yang selama ini disembahnya telah hancur. Namrud langsung memerintahkan pasukannya untuk menangkap Ibrahim (bergerak geram)
Ibrahim diadili
“Ibrahim, benarkah yang menghancurkan patung-patung itu adalah kamu?” Ibrahim menjawab “tidak”.
“Jangan mungkir Ibrahim, akui saja perbuatanmu itu”
“Sekali lagi tidak”, jawab Ibrahim, untuk memancing kemarahan Namrud. “Baiklah raja, saya punya fikiran dan aku yakin kamu pun berfikir, tanyakan ini semua pada Tuhanmu. Ada satu patung besar yang masih berdiri kokoh, coba tanyakan pada dia. Jangan-jangan justru dia yang menghancurkannya, lihat saja dia! Di tangannya terdapat kapak yang besar. Mungkin dia pelakunya.”
Mendengar ucapan Ibrahim itu, rupanya membuat Raja Namrud bertambah garang.
“Ibrahim, banyak akal kau. Aku dan rakyatku akan kau buat sebodoh itu, patung itu tidak akan bisa bicara untuk memberitahu siapa pelakunya, kau terlalu bodoh Ibrahim.”
“Raja Namrud, rupanya yang bodoh bukan aku, tapi engkau dan seluruh rakyatmu yang menyembah berhala itu yang bodoh. Buktinya patung yang tidak memiliki daya dan upaya itu, tidak bisa bicara apalagi menolong engkau sembah dan engaku puja. Kalau engkau dan rakyatmu sudah tahu bahwa patung-patung itu tidak bisa mendengar, melihat dan berbicara, mengapa dihadapannya kamu bermunajat, meminta kemaslahatan dan keselamatan. Dan patung-patung yang kamu sembah itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dari penghancuran itu. Coba kau fakir dengan matang, pergunakanlah akal itu dengan sebaik-baiknya!”
Namrud dan para pengikutnya terpojok oleh ucapan Ibrahim. Seketika itu Namrud memerintah rakyatnya untuk mengumpulkan kayu bakar dan membakar Ibrahim hidup-hidup.
Karena pertolongan Tuhan, api yang menyentuh kulit Ibrahim tidak terasa panas. Maka selamatlah Ibrahim dari amukan Namrud. (nyanyian hening)
Akan tetapi Ibrahim lupa akan kapaknya. Kapak itu kini berada di tanganku. Maka kini aku akan mempergunakan sebagaimana keinginanku. (naik ke atas)
Sebagaimana ketika Aku bersumpah di hadapan Tuhan, ketika aku diperintah untuk menghormati Adam. Terang aku tidak mau lantaran aku lebih mulia darinya. Aku diciptakan dari api sedang ia diciptakan dari tanah liat yang busuk. Sebusuk beradaban yang kini manusia ciptakan.
Tak perlu tercengang atas pertemuan ini. Kalian kini dalam area kekuasaanku. Kalian tidak akan lepas dari cengkeraman tangan kananku. Dan tidak akan luput dari pengaruh kapak ini.
(bernyanyi dengan tempo cepat kemudian lama-lama lamban seperti nyanyian untuk meninabubukkan)
Ayo tidurlah, dan mari bermimpi mengarungi hidup dengan kapak ini. Bukan lagi menjadi milik Ibrahim yang menghancurkan berhala, membangun peradaban kitab suci untuk menyelamatkan manusia dari kehidupan jahil. Akan tetapi, dengan kapak berhala Namrud ini kita akan menghancurkan peradaban yang dibangun dari kitab-kitab suci. Kitab-kitab agama samawi. Aku hancurkan ajaranya dengan menciptakan skenario kebencian yang luar biasa diantara penganut-penganut agama kitab suci.
(bergerak menciptakan warnah putih pada seisi ruangan. Lamat-lamat cahaya biru merambat pada seluruh warnah putih. Sebagai usaha untuk meninabubukan para penonton).
Kawan, lihat semesta. Kehancurannya mulai menampakkan pada setiap sisi. Lautnya melempar gunung-gunung, gunungnya menerbangkan mendung gelap, sedang daratan tak kuat lagi menahan beban peradaban yang dibangun oleh makhluk pecundang yang bernama manusia.
Ada dua pilihan yang aku tawarkan pada kalian. silakan memilih salah satu. Menjadi materialis yang berlomba-lomba mencari tahta dan harta. Atau menjadi pengikutku. Yang mau manaburkan bunga sesajen pada laut dan gunung. Bila kalian tak cukup modal menjadi kapitalis maka ikutilah kami menjadi sufistik yang kelak kematianmu akan dimuliakan orang-orang, paling tidak pengikutmu.
Mereka bukan memandangmu sebagai makluk akan tetapi sebagai Sang Mulia yang mampu menggantikan Tuhan. Arwahmu tidak hanya untuk didoakan oleh orang-orang sesudahmu, akan tetapi akan dimintahi pertolongan untuk mendapatkan berkahmu. Kecintaanya kepada kamu akan melebihi kecintaanya pada Tuhan. Tinggal pilih. Harta atau kemuliaan untuk disembah. Atau keduanya barangkali. (tertawa)
Boleh boleh, kenapa tidak kalau kalian ingin memilih keduanya, tidak ada yang melarang. Aku justru bahagia kalau itu keinginanmu.
Caranya mudah, bila kalian punya sedikit modal, ikuti permaianan bisnis yang sedang berjalan. Money breeding money dalam istilah dunia bisnis. Profitable harus didapat dengan segala cara. Suap-menyuap adalah hal yang harus dilakukan untuk memenangkan tender. Jangan pedulikan kanan kiri apalagi berbicara tentang hak-hak kaum pemalas yang membuat dirinya miskin dan fakir. Itu kesalahan mereka, jangan terlalu dipedulikan. (tertawa)
Bila anda sedikit faham akan kitab suci, maka tirulah nenek-moyang kalian yang serba tahu segala hal hanya melihat dari tanda-tanda. Tidak perlu dibaca semua, apalagi menghafal. Itu pekerjaan yang amat melelahkan. Kalian akan ketinggalan kalau melulu mengaji kitab suci. Kini era postmo. Kita tak lagi hidup pada zamannya para nabi yang primitive.
Langgengkan tradisi yang ada. Jangan sesekali melakukan pembrontakan pada patron masyarakat. Jangan tiru para Nabi, mereka dapat wahyu Tuhan, sedang kalian? Sekali memberontak, kalian akan dikerdilkan orang-orang yang sedang melanggengkan tradisi. Kalian tidak akan diorangkan masyarakat sekeliling kalian. Ingat, pada setiap kaum pasti ada penguasa yang sampai kapanpun kebiasaanya dan kekuasaanya tidak akan mau otak-atik orang lain. Sampai dara penghabisan mereka mempertahankannya apabila Tuhanya tidak memberikan petunjuk. Tinggal pilih, menjadi pemberontak yang akan dianggap penghianat oleh suatu kaum, atau menjadi Sang Mulia yang kuburannya akan disembah-sembah orang-orang sepeninggal kalian. bahkan bisa jadi, sebelum kalian meninggal sudah ada yang merunduk-runduk pada kalian apabila kalian mengikuti dan membela tradisi yang berkembang tanpa harus berfikir baik atau tidak untuk kehidupan ke depan.
(melantunkan tembang-tembang yang membuat hatinya senang) Kini aku mulai berjalan untuk menyaksikan kehidupan Kehidupan yang telah lama aku rancang. Sekarang aku ajak kalian untuk mengikuti hasil kesepakatanku dengan Tuhan. Sejauh mana sumpahku berhasil untuk membuat manusia tersesesat. Untuk membuat manusia terlena. Untuk membuat manusia yang semakin jauh dari Tuhannya. Tapi ingat, mereka tak terasa. Karena mereka sombong dalam memperjuangkan agama Tuhan.
(memutar dan menerbangi bola dunia) Ayo kita terbang dari satu kaum ke kaum yang lain. Sekarang kita saksikan pulau Jawa, wilayah syi’ar para wali. Tempat terjadi persengkokolan kekuasaan yang luar biasa. Sehingga kini tak ada data sejarah yang kongkrit tentang kepahlawanan mereka. Ceritanya kini hanya menjadi mitos kesaktian belaka.
Kuburan mereka dijadikan ziarah wisata. Tempat-tempatnya dibangun dengan suasana yang sakral. Difasilitasi sarana untuk memuja Para penziarah kemudian lupa terhadap Tuhan yang sebenarnya.
Sejarah di utusnya Nabi Nuh oleh Tuhan terulang lagi. Nabi Nuh diutus lantaran adanya kecendrungan orang-orang yang suka menggambar dan membuat patung-patung para Wali, lalu kemudian disembahyanginya beramai-ramai.
(memutar bola dunia)Kini kita terbang jauh ke daratan Tanah Haram. Masyarakatnya banyak yang lengah. Mereka beramai-ramai berdagang. Mereka malas belajar kitab-kitab suci yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Mereka berkeyakinan, bahwa tanah mereka adalah tanah yang dilindungi, tak akan pernah tertimpah adzab. Hari-hari mereka habiskan dengan menumpuk uang. Mereka lupa bahwa derajat seseorang diukur karena tingkat manfaat ilmunya. Bukan seperti teori Karl Max yang ia mengatakan, bahwa status sosial seseorang dipengaruhi harta yang dimilikinya.
Sekarang kini kita berziarah ke Mesir, negara yang memiliki peradaban sejarah yang paling tinggi. Banyak Para Nabi di lahirkan di kota tersebut. Hampir semua nabi pernah menapakkan kakinya di negri tersebut. Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa. Hampir memiliki kesejarahan yang kuat dengan tanah Mesir. Kini kalian bisa ,memyaksikan sendiri dengan alat ini. Lihat sistem pemerintahannya. Lihat kekuatan diplomasinya. Kerajaan Firaun yang telah ditaklukkan Musa itu sudah berada di genggaman orang-orang yang menjadi kepanjangan tanganku. Tidak percaya, fahami karya-karya sastra yang settingnya meceritakan konflik Sosial Mesir. Pasti akan kalian temukan keteledoran para pemimpinnya.
Apa, kembali lagi ke Jakarta. Sentral kebijakan yang memiliki beribu-ribu pulau, yang merupakan sentral pemerintahan. Tempat disahkannya undang-undang ketatanegaraan Ah tak perlu diceritakan. Para pejabatnya, baik yang sipil atau yang militer sudah malas membaca. Apalagi kitab suci.Kalaupun ada itupun buat gaya-gayaan. Lantaran mau dishooting. Disiarkan lewat televisi.
(tertawa meremehkan)Kekuasaan kekuasaan… orang-orang yang menyibukkan diri dengan kekuasaan adalah sahabat dekatku. Presiden, Gubernur, Bupati, Kades, Rektor, Kepala Dinas, Kepala Sekolah. Sembilan puluh sembilan persen, mereka sedang menjalankan misi kapak ini untuk menghacurkan kehidupan. Untuk membohongi mereka, orang-orang yang masih mempertahankan kejujuran. Apa, anggota legislatif?(tertawa) Tidak ada bedanya dengan makelar(tertawa).
Maaf, mau aku kasih tahu misi kami yang luar biasa? Sistem yang kami biat dengan kapak ini telah mencenkram para birokrat.. Ingin tahu? Ah jangan ini amat rahasia. (berjalan mondar-mandir sambil berfikir) Tapi tak apalah, karena aku tahu. Pertemuan ini hanyalah dalam mimpi, setelah terbangun pasti kalian lupa.
Di dunia birokrat ada tradisi yang amat mecekik orang-orang yang masih punya nurani, dan memerdekakan para pejabat yang berhati bejat. Kwintansi fiktif adalah tradisi yang amat mapan. Sosialaisasi hak-hak kesejahteraan rakyat tak perlu dilakukan. Realisasinya hanya ada pada kertas-kertas laporan. Konkritnya adalah masuk keperut para pengambil kebijakan. Tapi aku suka itu. Karena itu akan memperkuat sumpahku pada Tuhan sebagai makluk penyesat. Dan kemenaganku atas Adam dan Ibrahim di akhir zaman kelak. (berteriak dengan gerakan terbang)“Ya, aku suka birokrat keparat dan pejabat yang bejat”(berulang-ulang).
Kini mari kita terbang yang lebih tinggi. Menyaksikan kerusakan bumi yang sudah sampai pada puncaknya. Laut-laut bergelombang dasyat, bumi-bumi membelah dirinya, gunung-gunung memuntahkan halilintar dan mengirim angin gelap pada pemukiman-pemukiman. Siapa lagi yang bisa menolong. Menunggu aparat yang masih sibuk dengan surat tugas dan anggaran operasional? Para pejabat yang menunggu sidang pleno para wakil rakyat. Atau wakil rakyat yang pura-pura merakyat. Pada saat itulah aku tersenyum lebar melihat kepanikan semua masyarakat. Adalah waktu yang paling tepat menjadi Dewa Pahlawan. Bahkan aku bisa menjelma menjadi dajjal yang menawarkan surga semu pada manusia.
(Si Tua itu yang menjelma menjadi Berhala Namrud tertawa ngakak, ia bernyanyi dan menari merayakan kemenangannya) Stop, aku menyaksikan segerombolan makluk berseragam putih datang kemari. Apa kalian melihatnya? Mereka berdiri di belakang kalian. Mereka berteriak membesarkan nama Tuhan. Pedang, pedang, pedang!!! Bajingan, aku suka itu. Mereka menyebut Tuhannya dengan sebutan pedang. Ayo pasukan Tuhan, angkat pedang kalian! Lalu kita teriakkan dengan menyebut namaNya.
(Bergerak dan bernyanyi) “Tiada Perjuangan selain pedang!”
(Berdeklamasi)Kapakku menjelma menjadi pedang/Pedang-pedang seakan pasukan Tuhan.
Saksikan Ibrahim, dendamku kini terbalaskan. Dendam Namrud Bin Kan’an Bin Kusy. Sang Raja besar Kerajaan Babilon. Hambahku yang patuh kau rusak, kau provokasi untuk berani melawan.
Dulu kau sangat membenci pedang-pedangku yang aku gengggamkan pada tangan Namrud. Kau membenci Namrud yang suka mengacungkan pedangnya pada orang-orang yang tidak mau tunduk padanya untuk menyembahku. Kini, saksikan sendiri umatmu, mereka berbondong-bondong mengacungkan pedang dengan menyebut kesaksian atas nama Tuhan yang kau perjuangkan. Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa pedang yang mereka bawa adalah jelmaan dari kapak kamu yang kini sedang dalam kekuasaanku. Mereka bergerak adalah atas inisiatifku. Hanya saja seakan nama Tuhan kamu.
Ibrahim, kau yang dulu menghina Namrud dan rakyatnya bodoh lantaran menyembahku. Kini dengan kapak ini umatmu akan aku buat lebih bodoh. Umatmu akan aku buat seakan-akan. Ya seakan-kan pejuang Tuhanmu, namun sebenarnya adalah melanjutkan misi perjuanganku. Mereka akan aku buat mejadi orang-orang yang sombong, bahwa dirinya yang paling benar. Dan itulah yang aku suka. Orang-orang yang sombong yang seaakan-akan memiliki apa yang mereka miliki.
Padahal tai kucing!
Kapakku, kapak berhala namrud yang warnanya hitam kelam, kilaunya lebuh tajan dari kilatan halilintar. Kilatannya mampu memutuskan seluruh jaringan saraf manusia. Aku cukup bahagia. Lantaran kapak ini, manusia tak lagi sempurna dengan akalnya. Justru berbalik menjadi gila. Dan menjadi mahluk yang paling aniaya dan paling rendah.
Ibrahim, kapakmu kini dalam genggamanku
Aku jungkir-balikkan ajaranmu
Aku rusak sembahyangmu/
Aku hancurkan duniamu”
Mengajak orang-orang menyanyikan nyanyian perlawanan. Tertawa dan menari merayakan kemenangannya.
Lamongan, 7 Januari 2008
Nyanyian latar mengisi kesunyian ruang. Bergerak menyusup pada tiap gelap pada tiap mimpi.
Mimpi, Mimpikah aku, Aku punya mimpi, Mimpi
Seseorang yang sudah lanjut usianya tiduran di atas altar, diselimuti remang malam. Diantara patung-patung sesembahan yang hancur, Ia mendengkur, dan kadang mengigau. Ia seakan terjaga, lalu menemui orang-orang yang sedang menungguhinya.
Orang Tua
(tertawa) selamat malam. Welcome to my jungle. How are you? Lama aku merindukan kalian. Beberapa tahun yang lalu aku melihat kalian masih kanak-kanak. Bila purnama tiba, kalian berlarian bermain petak umpet. Kini kalian sudah dewasa. Yang perjaka sudah mulai tumbuh kumisnya, dan yang gadis sudah mulai senang berdandan, pakai lipstik dan aroma wewangian. Aku suka harum parfum kalian. Keadaan kalian baik kan?(Tertawa, lalu sedikit kaget)Apa, tidak happy? Don’t worry, aku akan menghibur kalian. Ayo kita bernyanyi bersama-sama!(mengajak bernyanyi).
“malam indah, yo kita berhappy ria/Seperti pangeran menemukan cintanya/Juga, gadis yang dipersunting kasihnya/Bulan bintang bergelak tawa Sambut kita yang bahagia”
(Mengamati orang-orang yang berada di sekitar masih terlihat sedih.)
Sudahlah tak perlu dirisaukan. Ini malam yang indah bukan. Jadilah diri kalian seperti Ibrahim yang sangat antusias ketika merlihat bulan bersinar, sampai beliau ingin menjadikannya Tuhan (tertawa ringan).
(Nyanyian latar muncul kembali, datang berlawanan dengan cahaya. Suara langkah, datang mengisi ruang. berjalan dengan kecepatan yang maksimal).
(Mendengkur dengan kerasnya. Lalu ia mulai igauannya dengan tertawa lebar.) Oh oh oh…. Aku hampir lupa. Jangan-jangan diantara kita sudah saling melupakan. Lebih baik bila aku memperkenalkan kembali diriku pada kalian. Dan kalian tak perlu repot-repot memperkenalkan diri kalian padaku. Aku sudah faham betul siapa diri kalian. Kitab suci yang memperkenalkan diri kalian padaku. Yang terpenting bagi aku bukan nama, namun pertentangan Malaikat dengan Tuhan, juga Iblis yang tak akan pernah mau hormat pada kalian. (tertawa memunculkan kesombongan Iblis).
Ok, back to the point, Ya ya….. aku adalah berhala. Satu-satunya berhala yang selamat dari amukan Ibrahim Aku yakin kalian bisa mengidentifikasi siapa aku sebenarnya, satu-satunya berhala yang ditanganku terdapat kapak. Aku pernah dikambing-hitamkan Ibrahim utusan sang Tuhan, atas hancurnya kawan-kawan kami. (marah dan bergerak berputar-putar) Sebenarnya ingin aku lempar kapak ini ke kepala Ibrahim itu, tapi aku tak kuasa. (merenung pristiwa lalu yang membuat raut wajahnya semakin sedih) Hatiku amat pedih mengingat peristiwa itu.(nyanyian latar mengiringi kesedihan).
(Ia berjalan dengan membawa kapak dan bola dunia) It is my way, perjalanan hidupku yang sudah kesekian abad. Aku mengembara dari bukit ke lembah-lembah. Nyawaku yang abadi ini adalah kesaktianku untuk mengetahui rahasia manusia. Juga titik-titik lemah kepengecutannya Mereka akan aku pertontonkan pada peradaban dunia yang biadab. Akan aku buktikan pada Tuhan, bahwa sumpah kami lebih setia dibandingkan sumpah para Nabi. Aku pun akan menghibur malaikat, bahwa apa yang dipertanyakannya pada rencana penciptaan manusia adalah benar. Manusia hanya bisa membuat kerusakan di daratan dan di lautan. Amat terang firmanMu Tuhan! (tertawa)
(Berjalan berkelililing menina-bubukkan orang-orang di sekitar) Hello, good night! Aku ucapkan selamat tidur pada kalian. mari menempuh perjalanan yang amat panjang. Menuju Tuhan barangkali. Tapi bukan dengan memuja kebesaraNya Cukup dengan sebuah kapak ini. Kapak Nabi besar yang telah beliau tinggalkan pada tanganku.
(berjalan slow motion seakan melayang)
Begini ceritanya, pada suatu malam, Raja Namrud bermimpi, bahwa ia melihat seorang anak kecil melompat masuk pada kamarnya, lalu merampas mahkota yang sedang dipakainya di atas kepalanya, dan bocah kecil itu menghancurkan mahkotanya.
Setelah ia terbangun, pikiranya berkecamuk memikirkan mimpinya yang luar biasa itu. Pada saat itulah aku masuk pada diri sang Raja. Aku pengaruhi ia memanggil para tukang untuk memecahkan misteri mimpi sang raja. Ketika para peramal berkumpul di istana, Raja membuka pertemuan dengan pidato. Dalam pidatonya, Sang Raja menceritakan kejadian dalam mimpi. Usai pidato para peramal berdiskusi, dengan analisia titen teniten, lan nondoi tondo. Para peramal menyimpulkan, bahwa suatu saat akan lahir seorang anak laki-laki yang akan mengkudeta kekuasaan Sang Raja.
Dan pada saat itulah aku menari dalam diri Raja, segala dirinya aku kuasai untuk mengambil keputusan.
Berdasarkan ta’bir-ta’bir mimpi yang telah diramalkan para tukang ramal, maka sang Raja memberikan ma’lumat akan membunuh semua bayi yang lahir, baik laki-laki maupun perempuan.
(memukul-mukul bendah seakan memberikan pengumuman)
Disaat hangat-hangatnya ma’lumat Raja. Ada seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki. Ibu tersebut membawa lari jabang bayi itu ke gua untuk menyembunyikan dan menyelamatkannya. Anak itu bernama Ibrahim.
Sejak dilahirkan sampai masa kanak-kanak, ia dibesarkan dalam gua tersebut, di sanahlah ia diasuh dan dibesarkan, setelah agak besar, Ibrahim mulai bisa menggunakan fikirannya.
Dikala ditinggalkan ibunya pergi ke kota mencari bahan-bahan makanan, Ibrahim memberanikan diri untuk keluar gua. Ia tercengang karena di luar gua terang dengan alam yang luas. Langit terbentang, gunung-gunung menjulang tinggi, ombak lautan berkejaran. Sungguh alam di luar gua sangat hebat. Ibrahim semakin jauh memikirkan alam. Tidak hanya keindahan dan kehebatannya.
Namun ia berfikir sesuatu di balik kehebatan alam itu. Yaitu sesuatu yang menciptakannya. Ibrahim berfikir berusaha terus untuk menemukan jawabannya. Siang malam ia selalu memikirkannya. Awalnya ia berkesimpulan, bahwa bintang yang berkedap-kedip di atas langit yang indah itu adalah Tuhan. Beberapa hari berikutnya, ia menyaksikan sesuatu yang bersinar yang lebih indah dan lebih besar yang bernama bulan. Ia berkesimpulan bahwa Bulan yang patut dijadikan Tuhan, karena mampu mempercantik malam hari dan menerangi semesta. Paginya Bulan semakin tidak terlihat, lebih-lebih ketika cahaya dari ufuk timur muncul dan bergerak naik, dan bulan itu lenyap.
Matahari sinarnya yang tajam mampu menyapu kegelapan malam. Ibrahim berfikir tentang kekuatan dibalik semesta ini. Ia merasa menemukannya. Bahwa matahari adalah kekuatan segala-galanya. Pagi hari ketika matahari mulai menampakkan dirinya, burung-burung mulai berkicau dan bertebangan, hewan-hewan lain pun mulai nampak riang bangun dari tidurnya, pohon-pohon nampak hijau dengan daun-daunnya yang menari.
Matahari membuat kehidupan nampak nyata.
Ibrahim berkesimpulan, Tuhan Alam semesta adalah matahari.
(Bergerak seakan menyambut hormat terbitnya matahari).
Nabi Ibrahim adalah kekasih Pencipta sesungguhnya. Ia dikaruniai akal yang cerdas yang pada akhirnya ia mampu menemukan Tuhan yang sungguhnya, yaitu Cahaya di atas cahaya. Pencipta bintang, bulan dan matahari, pencipta alam semesta dan isinya.
(menyanyikan kebesaran Ibrahim)
“Ibrahim bertuhan lantaran dikaruniai akal yang cerdas.”
Beberapa tahun kemudian, Ibrahim diajak ibunya untuk kembali pulang ke rumah. Ia menyaksikan ayahnya bekerja sebagai pengrajin, membuat gambar dan patung-patung. Kemudian ia tahu bahwa patung-patung itu adalah untuk sesembahan. Mulai saat itulah aku tahu ada tanda-tanda yang mebahayakan bagi komunitas berhala. Mimpi Namrud nampak nyata. Ia mulai memberanikan diri untuk menegur ayahnya. Bahwa apa yang ayahnya lakukakan adalah nampak bodoh. Membuat patung, dan ia sembahnya sendiri.
Ingatlah ketika berkata kepada bapaknya. “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun?”
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutlah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan yang maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku kawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.
Bapaknya berkata;
“Bencikah kamu kepada Tuhan-Tuhanku wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti niscaya kamu akan ku rajam, dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.”
Ibrahim berkata;
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepada engkau, aku akan memintakan ampun bagi engkau kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari pada engkau dan dari pada apa yang engkau seru selain dari Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku.”
Do’a Ibrahim tak membuat ayahnya mengikuti ajarannya. Ayah Ibrahim tetap setia bersamaku untuk melanggengkan kesesatan di muka bumi.Usaha Ibrahim pertama untuk mengajak ke jalan lurus telah gagal.
Dengan hati yang teguh, jiwa yang tenang, dan keimanan yang mantap. Ibrahim terus berjuang untuk menyelamatkan manusia dari lupa ingatan dan tipu dayaku. Ibrahim mulai berani. Ia berniat menghancurkan berhala-berhala. Pada saat hari raya, semua penduduk Babilon terbiasa untuk ke luar kota berburu. Pada saat itulah kota sepi dan Ibrahim leluasa untuk menghancurkan patung-patung.
Ketika warga dan Raja Namrud kembali Namrud gerang, lantaran berhala-berhala yang selama ini disembahnya telah hancur. Namrud langsung memerintahkan pasukannya untuk menangkap Ibrahim (bergerak geram)
Ibrahim diadili
“Ibrahim, benarkah yang menghancurkan patung-patung itu adalah kamu?” Ibrahim menjawab “tidak”.
“Jangan mungkir Ibrahim, akui saja perbuatanmu itu”
“Sekali lagi tidak”, jawab Ibrahim, untuk memancing kemarahan Namrud. “Baiklah raja, saya punya fikiran dan aku yakin kamu pun berfikir, tanyakan ini semua pada Tuhanmu. Ada satu patung besar yang masih berdiri kokoh, coba tanyakan pada dia. Jangan-jangan justru dia yang menghancurkannya, lihat saja dia! Di tangannya terdapat kapak yang besar. Mungkin dia pelakunya.”
Mendengar ucapan Ibrahim itu, rupanya membuat Raja Namrud bertambah garang.
“Ibrahim, banyak akal kau. Aku dan rakyatku akan kau buat sebodoh itu, patung itu tidak akan bisa bicara untuk memberitahu siapa pelakunya, kau terlalu bodoh Ibrahim.”
“Raja Namrud, rupanya yang bodoh bukan aku, tapi engkau dan seluruh rakyatmu yang menyembah berhala itu yang bodoh. Buktinya patung yang tidak memiliki daya dan upaya itu, tidak bisa bicara apalagi menolong engkau sembah dan engaku puja. Kalau engkau dan rakyatmu sudah tahu bahwa patung-patung itu tidak bisa mendengar, melihat dan berbicara, mengapa dihadapannya kamu bermunajat, meminta kemaslahatan dan keselamatan. Dan patung-patung yang kamu sembah itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dari penghancuran itu. Coba kau fakir dengan matang, pergunakanlah akal itu dengan sebaik-baiknya!”
Namrud dan para pengikutnya terpojok oleh ucapan Ibrahim. Seketika itu Namrud memerintah rakyatnya untuk mengumpulkan kayu bakar dan membakar Ibrahim hidup-hidup.
Karena pertolongan Tuhan, api yang menyentuh kulit Ibrahim tidak terasa panas. Maka selamatlah Ibrahim dari amukan Namrud. (nyanyian hening)
Akan tetapi Ibrahim lupa akan kapaknya. Kapak itu kini berada di tanganku. Maka kini aku akan mempergunakan sebagaimana keinginanku. (naik ke atas)
Sebagaimana ketika Aku bersumpah di hadapan Tuhan, ketika aku diperintah untuk menghormati Adam. Terang aku tidak mau lantaran aku lebih mulia darinya. Aku diciptakan dari api sedang ia diciptakan dari tanah liat yang busuk. Sebusuk beradaban yang kini manusia ciptakan.
Tak perlu tercengang atas pertemuan ini. Kalian kini dalam area kekuasaanku. Kalian tidak akan lepas dari cengkeraman tangan kananku. Dan tidak akan luput dari pengaruh kapak ini.
(bernyanyi dengan tempo cepat kemudian lama-lama lamban seperti nyanyian untuk meninabubukkan)
Ayo tidurlah, dan mari bermimpi mengarungi hidup dengan kapak ini. Bukan lagi menjadi milik Ibrahim yang menghancurkan berhala, membangun peradaban kitab suci untuk menyelamatkan manusia dari kehidupan jahil. Akan tetapi, dengan kapak berhala Namrud ini kita akan menghancurkan peradaban yang dibangun dari kitab-kitab suci. Kitab-kitab agama samawi. Aku hancurkan ajaranya dengan menciptakan skenario kebencian yang luar biasa diantara penganut-penganut agama kitab suci.
(bergerak menciptakan warnah putih pada seisi ruangan. Lamat-lamat cahaya biru merambat pada seluruh warnah putih. Sebagai usaha untuk meninabubukan para penonton).
Kawan, lihat semesta. Kehancurannya mulai menampakkan pada setiap sisi. Lautnya melempar gunung-gunung, gunungnya menerbangkan mendung gelap, sedang daratan tak kuat lagi menahan beban peradaban yang dibangun oleh makhluk pecundang yang bernama manusia.
Ada dua pilihan yang aku tawarkan pada kalian. silakan memilih salah satu. Menjadi materialis yang berlomba-lomba mencari tahta dan harta. Atau menjadi pengikutku. Yang mau manaburkan bunga sesajen pada laut dan gunung. Bila kalian tak cukup modal menjadi kapitalis maka ikutilah kami menjadi sufistik yang kelak kematianmu akan dimuliakan orang-orang, paling tidak pengikutmu.
Mereka bukan memandangmu sebagai makluk akan tetapi sebagai Sang Mulia yang mampu menggantikan Tuhan. Arwahmu tidak hanya untuk didoakan oleh orang-orang sesudahmu, akan tetapi akan dimintahi pertolongan untuk mendapatkan berkahmu. Kecintaanya kepada kamu akan melebihi kecintaanya pada Tuhan. Tinggal pilih. Harta atau kemuliaan untuk disembah. Atau keduanya barangkali. (tertawa)
Boleh boleh, kenapa tidak kalau kalian ingin memilih keduanya, tidak ada yang melarang. Aku justru bahagia kalau itu keinginanmu.
Caranya mudah, bila kalian punya sedikit modal, ikuti permaianan bisnis yang sedang berjalan. Money breeding money dalam istilah dunia bisnis. Profitable harus didapat dengan segala cara. Suap-menyuap adalah hal yang harus dilakukan untuk memenangkan tender. Jangan pedulikan kanan kiri apalagi berbicara tentang hak-hak kaum pemalas yang membuat dirinya miskin dan fakir. Itu kesalahan mereka, jangan terlalu dipedulikan. (tertawa)
Bila anda sedikit faham akan kitab suci, maka tirulah nenek-moyang kalian yang serba tahu segala hal hanya melihat dari tanda-tanda. Tidak perlu dibaca semua, apalagi menghafal. Itu pekerjaan yang amat melelahkan. Kalian akan ketinggalan kalau melulu mengaji kitab suci. Kini era postmo. Kita tak lagi hidup pada zamannya para nabi yang primitive.
Langgengkan tradisi yang ada. Jangan sesekali melakukan pembrontakan pada patron masyarakat. Jangan tiru para Nabi, mereka dapat wahyu Tuhan, sedang kalian? Sekali memberontak, kalian akan dikerdilkan orang-orang yang sedang melanggengkan tradisi. Kalian tidak akan diorangkan masyarakat sekeliling kalian. Ingat, pada setiap kaum pasti ada penguasa yang sampai kapanpun kebiasaanya dan kekuasaanya tidak akan mau otak-atik orang lain. Sampai dara penghabisan mereka mempertahankannya apabila Tuhanya tidak memberikan petunjuk. Tinggal pilih, menjadi pemberontak yang akan dianggap penghianat oleh suatu kaum, atau menjadi Sang Mulia yang kuburannya akan disembah-sembah orang-orang sepeninggal kalian. bahkan bisa jadi, sebelum kalian meninggal sudah ada yang merunduk-runduk pada kalian apabila kalian mengikuti dan membela tradisi yang berkembang tanpa harus berfikir baik atau tidak untuk kehidupan ke depan.
(melantunkan tembang-tembang yang membuat hatinya senang) Kini aku mulai berjalan untuk menyaksikan kehidupan Kehidupan yang telah lama aku rancang. Sekarang aku ajak kalian untuk mengikuti hasil kesepakatanku dengan Tuhan. Sejauh mana sumpahku berhasil untuk membuat manusia tersesesat. Untuk membuat manusia terlena. Untuk membuat manusia yang semakin jauh dari Tuhannya. Tapi ingat, mereka tak terasa. Karena mereka sombong dalam memperjuangkan agama Tuhan.
(memutar dan menerbangi bola dunia) Ayo kita terbang dari satu kaum ke kaum yang lain. Sekarang kita saksikan pulau Jawa, wilayah syi’ar para wali. Tempat terjadi persengkokolan kekuasaan yang luar biasa. Sehingga kini tak ada data sejarah yang kongkrit tentang kepahlawanan mereka. Ceritanya kini hanya menjadi mitos kesaktian belaka.
Kuburan mereka dijadikan ziarah wisata. Tempat-tempatnya dibangun dengan suasana yang sakral. Difasilitasi sarana untuk memuja Para penziarah kemudian lupa terhadap Tuhan yang sebenarnya.
Sejarah di utusnya Nabi Nuh oleh Tuhan terulang lagi. Nabi Nuh diutus lantaran adanya kecendrungan orang-orang yang suka menggambar dan membuat patung-patung para Wali, lalu kemudian disembahyanginya beramai-ramai.
(memutar bola dunia)Kini kita terbang jauh ke daratan Tanah Haram. Masyarakatnya banyak yang lengah. Mereka beramai-ramai berdagang. Mereka malas belajar kitab-kitab suci yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Mereka berkeyakinan, bahwa tanah mereka adalah tanah yang dilindungi, tak akan pernah tertimpah adzab. Hari-hari mereka habiskan dengan menumpuk uang. Mereka lupa bahwa derajat seseorang diukur karena tingkat manfaat ilmunya. Bukan seperti teori Karl Max yang ia mengatakan, bahwa status sosial seseorang dipengaruhi harta yang dimilikinya.
Sekarang kini kita berziarah ke Mesir, negara yang memiliki peradaban sejarah yang paling tinggi. Banyak Para Nabi di lahirkan di kota tersebut. Hampir semua nabi pernah menapakkan kakinya di negri tersebut. Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa. Hampir memiliki kesejarahan yang kuat dengan tanah Mesir. Kini kalian bisa ,memyaksikan sendiri dengan alat ini. Lihat sistem pemerintahannya. Lihat kekuatan diplomasinya. Kerajaan Firaun yang telah ditaklukkan Musa itu sudah berada di genggaman orang-orang yang menjadi kepanjangan tanganku. Tidak percaya, fahami karya-karya sastra yang settingnya meceritakan konflik Sosial Mesir. Pasti akan kalian temukan keteledoran para pemimpinnya.
Apa, kembali lagi ke Jakarta. Sentral kebijakan yang memiliki beribu-ribu pulau, yang merupakan sentral pemerintahan. Tempat disahkannya undang-undang ketatanegaraan Ah tak perlu diceritakan. Para pejabatnya, baik yang sipil atau yang militer sudah malas membaca. Apalagi kitab suci.Kalaupun ada itupun buat gaya-gayaan. Lantaran mau dishooting. Disiarkan lewat televisi.
(tertawa meremehkan)Kekuasaan kekuasaan… orang-orang yang menyibukkan diri dengan kekuasaan adalah sahabat dekatku. Presiden, Gubernur, Bupati, Kades, Rektor, Kepala Dinas, Kepala Sekolah. Sembilan puluh sembilan persen, mereka sedang menjalankan misi kapak ini untuk menghacurkan kehidupan. Untuk membohongi mereka, orang-orang yang masih mempertahankan kejujuran. Apa, anggota legislatif?(tertawa) Tidak ada bedanya dengan makelar(tertawa).
Maaf, mau aku kasih tahu misi kami yang luar biasa? Sistem yang kami biat dengan kapak ini telah mencenkram para birokrat.. Ingin tahu? Ah jangan ini amat rahasia. (berjalan mondar-mandir sambil berfikir) Tapi tak apalah, karena aku tahu. Pertemuan ini hanyalah dalam mimpi, setelah terbangun pasti kalian lupa.
Di dunia birokrat ada tradisi yang amat mecekik orang-orang yang masih punya nurani, dan memerdekakan para pejabat yang berhati bejat. Kwintansi fiktif adalah tradisi yang amat mapan. Sosialaisasi hak-hak kesejahteraan rakyat tak perlu dilakukan. Realisasinya hanya ada pada kertas-kertas laporan. Konkritnya adalah masuk keperut para pengambil kebijakan. Tapi aku suka itu. Karena itu akan memperkuat sumpahku pada Tuhan sebagai makluk penyesat. Dan kemenaganku atas Adam dan Ibrahim di akhir zaman kelak. (berteriak dengan gerakan terbang)“Ya, aku suka birokrat keparat dan pejabat yang bejat”(berulang-ulang).
Kini mari kita terbang yang lebih tinggi. Menyaksikan kerusakan bumi yang sudah sampai pada puncaknya. Laut-laut bergelombang dasyat, bumi-bumi membelah dirinya, gunung-gunung memuntahkan halilintar dan mengirim angin gelap pada pemukiman-pemukiman. Siapa lagi yang bisa menolong. Menunggu aparat yang masih sibuk dengan surat tugas dan anggaran operasional? Para pejabat yang menunggu sidang pleno para wakil rakyat. Atau wakil rakyat yang pura-pura merakyat. Pada saat itulah aku tersenyum lebar melihat kepanikan semua masyarakat. Adalah waktu yang paling tepat menjadi Dewa Pahlawan. Bahkan aku bisa menjelma menjadi dajjal yang menawarkan surga semu pada manusia.
(Si Tua itu yang menjelma menjadi Berhala Namrud tertawa ngakak, ia bernyanyi dan menari merayakan kemenangannya) Stop, aku menyaksikan segerombolan makluk berseragam putih datang kemari. Apa kalian melihatnya? Mereka berdiri di belakang kalian. Mereka berteriak membesarkan nama Tuhan. Pedang, pedang, pedang!!! Bajingan, aku suka itu. Mereka menyebut Tuhannya dengan sebutan pedang. Ayo pasukan Tuhan, angkat pedang kalian! Lalu kita teriakkan dengan menyebut namaNya.
(Bergerak dan bernyanyi) “Tiada Perjuangan selain pedang!”
(Berdeklamasi)Kapakku menjelma menjadi pedang/Pedang-pedang seakan pasukan Tuhan.
Saksikan Ibrahim, dendamku kini terbalaskan. Dendam Namrud Bin Kan’an Bin Kusy. Sang Raja besar Kerajaan Babilon. Hambahku yang patuh kau rusak, kau provokasi untuk berani melawan.
Dulu kau sangat membenci pedang-pedangku yang aku gengggamkan pada tangan Namrud. Kau membenci Namrud yang suka mengacungkan pedangnya pada orang-orang yang tidak mau tunduk padanya untuk menyembahku. Kini, saksikan sendiri umatmu, mereka berbondong-bondong mengacungkan pedang dengan menyebut kesaksian atas nama Tuhan yang kau perjuangkan. Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa pedang yang mereka bawa adalah jelmaan dari kapak kamu yang kini sedang dalam kekuasaanku. Mereka bergerak adalah atas inisiatifku. Hanya saja seakan nama Tuhan kamu.
Ibrahim, kau yang dulu menghina Namrud dan rakyatnya bodoh lantaran menyembahku. Kini dengan kapak ini umatmu akan aku buat lebih bodoh. Umatmu akan aku buat seakan-akan. Ya seakan-kan pejuang Tuhanmu, namun sebenarnya adalah melanjutkan misi perjuanganku. Mereka akan aku buat mejadi orang-orang yang sombong, bahwa dirinya yang paling benar. Dan itulah yang aku suka. Orang-orang yang sombong yang seaakan-akan memiliki apa yang mereka miliki.
Padahal tai kucing!
Kapakku, kapak berhala namrud yang warnanya hitam kelam, kilaunya lebuh tajan dari kilatan halilintar. Kilatannya mampu memutuskan seluruh jaringan saraf manusia. Aku cukup bahagia. Lantaran kapak ini, manusia tak lagi sempurna dengan akalnya. Justru berbalik menjadi gila. Dan menjadi mahluk yang paling aniaya dan paling rendah.
Ibrahim, kapakmu kini dalam genggamanku
Aku jungkir-balikkan ajaranmu
Aku rusak sembahyangmu/
Aku hancurkan duniamu”
Mengajak orang-orang menyanyikan nyanyian perlawanan. Tertawa dan menari merayakan kemenangannya.
Lamongan, 7 Januari 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Musthafa
A Rodhi Murtadho
A Wahyu Kristianto
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Zakky Zulhazmi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Wachid BS
Abdullah al-Mustofa
Abdullah Khusairi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimanyu
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Maulani
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adrian Ramdani
Ady Amar
Afrizal Malna
Agnes Rita Sulistyawati
Aguk Irawan Mn
Agus R. Sarjono
Agus Riadi
Agus Subiyakto
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahm Soleh
Ahmad Farid Tuasikal
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Luthfi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadie Thaha
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rasyid
AJ Susmana
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander Aur
Alexander G.B.
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Rif’an
Aliela
Alimuddin
Alit S. Rini
Alunk Estohank
Ami Herman
Amich Alhumami
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminudin TH Siregar
Ammilya Rostika Sari
An. Ismanto
Anaz
Andaru Ratnasari
Andhi Setyo Wibowo
Andhika Prayoga
Andong Buku #3
Andrenaline Katarsis
Andri Cahyadi
Angela
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anton Sudibyo
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Arie MP Tamba
Arif Hidayat
Arif Zulkifli
Arti Bumi Intaran
Asarpin
Asep Sambodja
Asvi Warman Adam
Awalludin GD Mualif
Ayu Utami
Azyumardi Azra
Babe Derwan
Bagja Hidayat
Balada
Bandung Mawardi
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benni Setiawan
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Bernadette Lilia Nova
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Bhakti Hariani
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budi Winarto
Buku Kritik Sastra
Buldanul Khuri
Bustan Basir Maras
Camelia Mafaza
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Choirul Rikzqa
D. Dudu A.R
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Delvi Yandra
Denny JA
Denny Mizhar
Dewi Anggraeni
Dian Basuki
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dian Yanuardy
Diana AV Sasa
Dinar Rahayu
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Warsidi
Edy Firmansyah
EH Kartanegara
Eka Alam Sari
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Emil Amir
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
F. Budi Hardiman
Fadly Rahman
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fani Ayudea
Fariz al-Nizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatkhul Aziz
Felix K. Nesi
Film
Fitri Yani
Franditya Utomo
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Garna Raditya
Gde Artawan
Geger Riyanto
Gendhotwukir
George Soedarsono Esthu
Gerakan Surah Buku (GSB)
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Tri Atmojo
H. Supriono Muslich
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim H.D.
Hamberan Syahbana
Hamidah Abdurrachman
Han Gagas
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Hasan Aspahani
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Helvy Tiana Rosa
Helwatin Najwa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendriyo Widi Ismanto
Hepi Andi Bastoni
Heri Latief
Heri Listianto
Herry Firyansyah
Heru Untung Leksono
Hikmat Darmawan
Hilal Ahmad
Hilyatul Auliya
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husnun N Djuraid
I Nyoman Suaka
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilenk Rembulan
Ilham khoiri
Imam Jazuli
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santosa
Imelda
Imron Arlado
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Margareta
Indra Darmawan
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Insaf Albert Tarigan
Intan Hs
Isbedy Stiawan ZS
Ismail Amin
Ismi Wahid
Ivan Haris
Iwan Gunadi
Jacob Sumardjo
Jafar Fakhrurozi
Jajang R Kawentar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean-Marie Gustave Le Clezio
JJ. Kusni
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Julika Hasanah
Julizar Kasiri
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kadir Ruslan
Kartika Candra
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Ketut Yuliarsa
KH. Ma'ruf Amin
Khaerudin
Khalil Zuhdy Lawna
Kholilul Rohman Ahmad
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Krisandi Dewi
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kuswinarto
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lenah Susianty
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liston P. Siregar
Liza Wahyuninto
M Shoim Anwar
M. Arman A.Z.
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Harya Ramdhoni
M. Kasim
M. Latief
M. Wildan Habibi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria hartiningsih
Maria Serenada Sinurat
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Marsus Banjarbarat
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masriadi
Mawar Kusuma Wulan
Max Arifin
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Mezra E. Pellondou
Micky Hidayat
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Moh Samsul Arifin
Moh. Syafari Firdaus
Mohamad Asrori Mulky
Mohammad Afifuddin
Mohammad Fadlul Rahman
Muh Kholid A.S.
Muh. Muhlisin
Muhajir Arifin
Muhamad Sulhanudin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Azka Fahriza
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhidin M. Dahlan
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naskah Teater
Nezar Patria
Nina Setyawati
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noor H. Dee
Noval Maliki
Nunuy Nurhayati
Nur Haryanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurudin
Octavio Paz
Oliviaks
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pamusuk Eneste
Panda MT Siallagan
Pandu Jakasurya
PDS H.B. Jassin
Philipus Parera
Pradewi Tri Chatami
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rahmat Sutandya Yudhanto
Raihul Fadjri
Rainer Maria Rilke
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridha al Qadri
Ridwan Munawwar
Rikobidik
Riri
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rizky Andriati Pohan
Robert Frost
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Romi Febriyanto Saputro
Rosihan Anwar
RR Miranda
Rudy Policarpus
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S.I. Poeradisastra
S.W. Teofani
Sabam Siagian
Sabrank Suparno
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra
Sastra Gerilyawan
Sastri Sunarti
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra
SelaSastra ke #24
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Subhan SD
Suci Ayu Latifah
Sulaiman Djaya
Sulistiyo Suparno
Sunaryo Broto
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunudyantoro
Suriali Andi Kustomo
Suryadi
Suryansyah
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Susilowati
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Bahri
Syam Sdp
Syarif Hidayatullah
Tajuddin Noor Ganie
Tammalele
Tan Malaka
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Trianton
Tengsoe Tjahjono
Th Pudjo Widijanto
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tiya Hapitiawati
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Joko Susilo
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi
Umar Kayam
Undri
Uniawati
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Vyan Tashwirul Afkar
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyudin
Wannofri Samry
Warung Boenga Ketjil
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Web Warouw
Wijang Wharek
Wiko Antoni
Wina Bojonegoro
Wira Apri Pratiwi
Wiratmo Soekito
Wishnubroto Widarso
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Wing King
WS Rendra
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yosi M. Giri
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Yuyu AN Krisna
Zaki Zubaidi
Zalfeni Wimra
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhaenal Fanani
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Zulhasril Nasir