Tampilkan postingan dengan label Mahmud Jauhari Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahmud Jauhari Ali. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2018

Pemimpin Ideal dan Bukan Pemimpin Milineal

Mahmud Jauhari Ali

"A leader is best when people barely know he exists, when his work is done, his aim fulfilled, they will say: we did it ourselves." - Lao Tzu

Rabu, 04 April 2012

Tahun Baru Bukan Sekadar Pesta

Mahmud Jauhari Ali *
__Banjarmasin Post

Setiap tanggal satu bulan satu pada tahun baru Masehi selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Mulai tiup terompet kertas hingga pembakaran kembang api besar-besaran pada pukul 00.00 dini hari di belahan bumi mana pun. Seakan kegiatan-kegiatan pada awal tahun baru itu merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan. Selain itu, kebanyakan orang saling mengucapkan atau menyampaikan selamat tahun baru kepada sesama baik secara lisan maupun secara tertulis.

Sabtu, 21 Januari 2012

Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab

(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)
Mahmud Jauhari Ali
http://sastra-indonesia.com/

Apakah yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul saya di atas? Wujud bahasakah? Dukun yang sedang membaca mantra? Seorang lelaki yang sedang menunaikan tanggung jawabnya? Atau apa?

Hari itu, di sebuah ruang belajar, saya pernah menyimak sebuah pertanyaan singkat, “Apakah bahasa itu?” Mungkin Anda juga pernah mendengarnya. Mungkin juga tidak. Mengenai pertanyaan tersebut, banyak orang menjawabnya dengan kalimat sederhana, “Bahasa ialah alat komunikasi.” Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah bahasa itu memang alat komunikasi?

Antara Jalan Beraspal dan Bahasa Indonesia

Mahmud Jauhari Ali
__Banjarmasin Post

Secara sadar kita dapat mengatakan bahwa manusia normal tidak dapat langsung berjalan tanpa proses belajar. Tentu saja seorang anak harus melalui proses belajar secara bertahap hingga ia mampu berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Begitu pula dengan kemampuan berbahasa seseorang tidak didapatnya secara sekaligus, melainkan didapatnya secara bertahap hingga ia mampu berbahasa dengan lancar.

Senin, 05 Desember 2011

Menyoroti Pemakaian “Nol” dan “Kosong” di Masyarakat

Mahmud Jauhari Ali
___Banjarmasin Post

Berbahasa Indonesia dengan benar dalam komunikasi merupakan sebuah bukti kecintaan kita kepada bangsa, negara, dan tanah air kita. Bahasa Indonesia tidak dapat kita lepaskan dengan rakyat Indonesia itu sendiri karena rakyat Indonesia adalah pengguna sekaligus pendukung bahasa Indonesia. Hidup dan matinya bahasa Indonesia sebenarnya tergantung pemakaiannya oleh rakyat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus memakai bahasa Indonesia secara baik dan benar untuk melestarikan dan menduniakan bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia itu sendiri sebnarnya merupakan sebuah kebutuhan bagi kita untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Apa jadinya jika kita tidak memakai bahasa Indonesia saat ingin berkomunikasi dengan orang yang tidak menguasai bahasa daerah kita. Tentunya kita kesulitan dalam mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita kepada orang lain tersebut. Dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh masyarakat, terdapat satu masalah yang hingga saat ini masih terjadi.

Kita tentu sering mendengar orang menggunakan kata kosong untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” di masyarakat. Hal ini kerap kita dengar saat orang menyebut angka tersebut di awal nomor telepon seluler. Contohnya, kosong delapan sembilan belas dan seterusnya. Jika kita perhatikan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2001, kata kosong itu mengandung beberapa makna. Makna pertama ialah ‘tidak berisi’. Makna yang pertama ini dapat kita pakai dalam kalimat seperti, Lemari kosong ini dapat kita gunakan untuk menyimpan pakaian anak-anak kita. Makna kedua ialah ‘tidak berpenghuni’. Makna yang kedua ini dapat kita pakai dalam kalimat seperti, Rumah itu sudah lama kosong. Makna-makna lainnya dari kata kosong ini ialah ‘hampa’, ‘tidak mengandung arti’, ‘tidak bergairah’, ‘tidak ada yang menjabatnya’, ‘tidak ada sesuatu yang berharga’, dan ‘tidak ada muatannya’.

Makna-makna dari kata kosong di atas tidak ada satu pun yang mengarah kepada kata bilangan. Padahal angka yang dilambangkan dengan “0” merupakan kata bilangan. Dengan melihat makna-makna kata kosong tersebut, tentulah kita tidak tepat memakai kata kosong untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” seperti dalam deret pertama nomor telepon seluler. Lalu adakah kata dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk kita gunakan dalam menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” itu? Jawabanya adalah ada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2001 terdapat kata nol yang bermakna ‘bilangan yang dilambangkan dengan 0’. Kata nol inilah yang tepat kita pakai untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0”.

Melihat kenyataan di masyarakat kita saat ini dan kita kaitkan dengan kebenaran dalam pemakaian bahasa Indonesia, sudah saatnya kita tidak menggunakan kata yang salah seperti kata kosong tersebut. Jika kita ingin menyebut angka-angka dalam nomor telepon seluler, pakailah kata yang benar dalam bahasa Indonesia. Misalnya 085751076399 pakailah kata nol untuk menyebut angka pertama dan ketujuh dalam nomor telepon tersebut. Kita sebaiknya tidak menggunakan kata kosong untuk menyebut angka pertama dan ketujuh dalam nomor telepon contoh di atas. Hal ini disebabkan kata kosong bukanlah kata bilangan.

Sebagaimana yang sudah saya paparkan di atas, marilah kita berusaha untuk berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam hal ini tentunya kata yang benar untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” juga harus kita pakai. Kata yang benar untuk penyebutan angka yang dilambangkan dengan “0” ini adalah kata nol karena kata nol bermakna ‘bilangan yang dilambangkan dengan 0’. Pemakaian kata yang salah dalam berbahasa Indonesia saharusnya kita hindari sejauh mungkin. Berbahasa Indonesialah secara baik dan benar untuk menuju masyarakat madani dalam hal berbahasa. Bagaimana menurut Anda?

Minggu, 11 September 2011

Memanfaatkan Website untuk Kemajuan Dunia Sastra

Mahmud Jauhari Ali
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Kini internet telah digunakan dan dinikmati oleh orang di berbagai penjuru tanah air Indonesia untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Berbagai kepentingan tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni kepentingan untuk hal-hal positif dan kepentingan untuk hal-hal negatif. Kita sebaiknya menggunakan internet untuk hal-hal yang positif dan bukannya untuk hal-hal negatif.

Beragam fasilitas tersedia di internet, yakni mulai dari fasilitas E-mail untuk dapat saling mengirimkan pesan dari seseorang kepada orang lain hingga fasilitas membuat website untuk memublikasikan berbagai hal kepada orang lain. Semuanya itu memungkinkan kita untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat dunia secara mudah. Dewasa ini di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan sudah banyak orang yang membuat website, baik website untuk dunia kerja maupun website pribadi yang dikenal dengan sebutan blog.

Blog atau website pribadi saat ini sudah sangat banyak dibuat dan dimanfaatkan oleh orang di Indonesia. Bahkan dengan banyaknya blog tersebut, di Indonesia terdapat banyak pula komunitas blogger, salah satunya adalah Komunitas Blogger Kalimantan Selatan. Keberadaan Komunitas Blogger Kalimantan Selatan yang bernama Kayuh-Baimbai menjadi sebuah indikator bahwa di Kalimantan Selatan terdapat banyak blog pribadi dengan berbagai isi. Hal ini dapat kita maklumi karena blog memungkinkan kita untuk memublikasikan berbagai bentuk yang ingin kita publikasikan di depan khalayak ramai. Bentuk-bentuk itu seperti artikel, esai, puisi, cerpen, teori sastra, foto dan juga video. Dengan adanya blog, kita dengan mudah mengekspresikan hal-hal yang menjadi ungkapan jiwa kita kepada masyarakat dunia. Dalam hal ini sebaiknnya kita memanfaatkan blog untuk memublikasikan hal-hal yang positif seperti memublikasikan artikel dan esai.

Dalam kaitannya dengan dunia sastra di Kalimantan Selatan dan blog, kita dapat memublikasikan segala hal-hal yang berkaitan dengan sastra di Kalimantan Selatan, yakni teori sastra, cipta sastra hingga kritik sastra. Pemublikasian seperti itu akan dapat memajukan dunia sastra di Kalimantan Selatan. Mengapa demikian? Karena dengan pemublikasian tersebut, masyarakat Kalsel akan mendapatkan pengetahuan sastra sehingga memungkinkan mereka dapat memiliki, membuat, dan menilai sastra di Kalimantan Selatan. Selain itu dengan pemublikasian tersebut, orang-orang dari luar Kalimantan Selatan akan mengetahui keberadaan dan mutu sastra di provinsi ini.

Di Kalimantan Selatan saat ini sudah ada beberapa blog yang memublikasikan dunia sastra Kalsel. Kita dapat mengunjungi blog-­blog tersebut di internet untuk mendapatkan pengetahuan sastra guna kemajuan dunia sastra di Kalimantan Selatan. Alamat-alamat blog yang memubliksikan dunia sastra itu antara lain www.penyairkalsel.blogspot.com, www.geocities.com/sainulh, www.sastrabanjar.blogspot.com, www.heriesaja.wordpress.com, www.geocities.com/daudp65, dan www.zulfaisalputera.wordpress.com.

Blog-blog tersebut telah menjadi media untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan kesastraan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Untuk lebih memajukan dunia sastra di Kalimantan Selatan, sebenarnya perlu adanya sebuah website Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di bidang kesastraan sebagai sumber informasi sastra Kalsel dan sebagai forum sastra di provinsi ini. Pengadaan website oleh pemerintah tersebut sekaligus sebagai bentuk nyata kepedulian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap dunia sastra di provinsi ini. Dengan adanya website ini masyarakat Kalsel akan lebih mengetahui perkembangan dunia sastra Kalimantan Selatan dari waktu ke waktu. Hal ini sangat bagus guna memajukan dunia sastra yang ada di provinsi ini. Kita tentu ingin bukan sastra Kalimantan Selatan semakin maju dalam perkembangannya?

Dalam hubungannnya sebagai forum sastra, dengan website ini, kita dapat bertanya, mengutarakan masalah sastra yang ada di Kalsel, saling menyampaikan pengetahuan sastra, dan hal-hal lainnya berkenaan dengan kondisi dunia sastra di Kalimantan Selatan. Sangat menarik bukan? Dalam hal ini, para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan masyarakat luas lainnya dapat bertukar pikiran seputar dunia sastra di provinsi ini. Dengan demikian, dunia sastra Kalsel akan lebih maju.

Berdasarkan manfaat yang dapat kita peroleh dari adanya website pemerintah tersebut di atas, menurut saya sangat perlu adanya pengadaan website ini. Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan kepedulian yang lebih terhadap sastra yang ada di wilayah kerja mereka, yakni Kalimantan Selatan. Mengakhiri tulisan saya yang sangat sederhana ini, marilah kita pedulikan sastra yang ada di provinsi kita tercinta ini guna kemajuannya dari waktu ke waktu! Bagaimana Menurut Anda?

Selasa, 31 Mei 2011

Sehari di Palangkaraya

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah 19 Juni 2009

Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar

“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.

“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.

“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.

“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.

Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.

“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.

“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.

Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.

Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

***

“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.

Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.

“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.

Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.

“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.

Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.

Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.

***

Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.

Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.

Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.

“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.
***

Sumber: http://www.cerpen-mahmud.blogspot.com/

Selasa, 24 Mei 2011

Kontribusi Sastrawan Kalsel di Bidang Bahasa

Mahmud Jauhari Ali
http://tulisanbaru-mahmud.blogspot.com

Dewasa ini sudah sangat banyak karya sastra yang diciptakan oleh para sastrawan Kalsel. Karya-karya sastra yang diciptakan itu mencakup semua genre sastra. Lihat saja betapa banyaknya puisi-puisi yang dihasilkan oleh penyair-penyair Kalimantan Selatan. Penyair-penyair yang saya maksud itu mencakup penyair senior dari angkatan-angkatan terdahulu dan penyair angkatan terbaru—angkatan 2000—yang tak kalah produktifnya. Sebut saja Hamami Adaby, Arsyad Indradi, dan Micky Hidayat yang merupakan penyair-penyair dari angkatan terdahulu. Sedangkan penyair angkatan 2000 seperti Isoer Luweng dan M. Nahdiansyah Abdi. Semuanya menciptakan puisi dengan bermediakan bahasa.

Begitu pula dengan cerpen, pada saat ini di Kalimantan Selatan dengan mudah kita temukan dan kita baca cerpen-cerpen karya cerpenis Kalimantan Selatan. Cerpen-cerpen itu dapat kita temukan baik dalam bentuk cerpen koran, maupun dalam bentuk buku kumpulan cerpen. Nama-nama yang berkaitan dengan cerpen ini seperti Jamal T. Suryanata, Tajuddin Noor Ganie, dan Zulfaisal Putera yang semuanya kreatif menghasilkan cerpen hingga saat ini dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Selain cerpenis senior di atas, cerpenis dari angkatan 2000 seperti Harie Insani Putera, Hajriansyah, dan Dewi Alfianti juga ikut mewarnai sastra Kalsel dengan karya-karya mereka. Pada intinya, karya-karya sastra yang dihasilkan oleh makhluk seni sastra yang disebut sastrawan ini membutuhkan adanya bahasa dalam hal berimajinasi dan berkreativitas. Inilah yang selama ini menjadi anggapan orang pada umumnya jika berbicara tentang hubungan bahasa dan sastra.

Akan tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya bahasa yang menjadi media dalam karya sastra itu juga membutuhkan sastra dalam pelestariannya? Pada bagian awal tadi jelas saya katakan bahwa sastralah yang membutuhkan bahasa sebagai medianya mulai dari proses penciptaannya sampai kepada para penikmatnya (masyarakat pembaca). Dengan kata lain, para sastrawan, seperti penyair, cerpenis, novelis, dan esais harus bermodalkan kecerdasan dan kematangan linguitik (bahasa) untuk dapat berkarya sastra. Hal ini memang benar, tetapi harus ada satu catatan penting bahwa sebenarnya bahasa juga membutuhkan sastra dalam pelestariannya. Inilah hubungan bahasa dan sastra yang sesungguhnya, yakni adanya hubungan timbal-balik yang menguntungkan antara keduanya.

Lebih jelasnya adalah bahwa dengan digunakannya bahasa tertentu dalam karya sastra, berarti bahasa tertentu tersebut juga ikut dilestarikan oleh sastrawan yang bersangkutan. Misalnya bahasa Banjar atau bahasa Indonesia digunakan dalam karya sastra jenis cerpen, berarti bahasa Banjar atau bahasa Indonesia juga ikut dilestarikan oleh para sastrawan melalui cerpen tersebut. Melihat hal ini, sebenarnya para sastrawan Kalimantan Selatan selama ini telah ikut berjuang melestarikan bahasa Banjar dan bahasa Indonesia melalui karya-karya sastra yang mereka ciptakan.

Dapat pula kita katakan penciptaan karya sastra juga sekaligus menjadi pendokumentasian bahasa tertentu. Bahasa-bahasa yang digunakan secara tertulis dalam karya sastra secara otomatis didokumentasikan pula oleh para sastrawan. Sebagai contoh, bahasa Indonesia yang digunakan secara tertulis dalam cerpen berjudul ”Lelaki Pemburu Petir” sekaligus juga didokumentasikan oleh Hajriansyah sebagai pengarangnya dalam cerpen tersebut. Dalam kaitannya dengan hal ini, sastrawan Kalimantan Selatan juga dengan sendirinya memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia dan daerah secara benar guna pelestarian bahasa yang mereka gunakan tersebut.

Hal-hal di atas menjadi bukti bahwa para sastrawan Kalimantan Selatan, baik yang bergerak dalam puisi, prosa piksi, esai, dan drama (teater) telah berkontribusi dalam usaha pelestarian bahasa Banjar dan bahasa Indonesia. Apa pun genre sastra yang diciptakan sastrawan dengan bermediakan bahasa tertentu, secara sadar dapat kita pahami pula bahwa bahasa tertentu yang digunakan itu dilestarikan sastrawan dalam penggunaannya dan juga didokumentasikan sastrawan untuk keperluan pelestariannya pada masa depan.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas tadi, sudah saatnya kita memandang sastra tidak hanya sebagai salah satu bagian dari seni, tetapi juga kita pandang sebagai wujud kontribusi yang bermanfaat di bidang bahasa oleh para sastrawan. Ingatlah selalu bahwa hakikatnya antara bahasa dan sastra memiliki hubungan yang erat, yakni saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) karena keduanya saling membutuhkan. Karena itu pulalah, bahasa dan sastra jangan pula kita pandang sebelah mata. Kita semua harus senantiasa secara maksimal memberikan perhatian terhadap perkembangan bahasa dan sastra di Kalimanan Selatan. Hal ini perlu kita lakukan karena bagaimana pun, bahasa dan sastra merupakan bagian dari bangsa kita. Sebagai warga negara yang baik kita tentu tidak cukup hanya wajib membayar pajak, tetapi kita juga wajib memajukan negara ini. Salah satu usaha memajukan negara ini adalah dengan berusaha memajukan bidang-bidang kehidupan yang menjadi bagian dari negara kita. Bahasa dan sastra adalah termasuk bidang kehidupan yang menjadi bagian dari negara kita yang besar ini. Oleh karena itulah, mari kita memajukan bahasa dan sastra guna memajukan negara yang kita cintai bersama. Bagaimana menurut Anda?

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir