Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Februari 2011

Lokalitas dan Siasat Sastrawan

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

Penghormatan terhadap khazanah lokal, tampaknya tetap relevan sebagai wacana dan kerja-kerja kebudayaan ke depan. Maklumlah, kita sedang merayakan otonomi daerah pascaera sentralistik yang menyuguhkan dominasi tema-tema nasional. Di sisi lain, realitas dunia tanpa batas memang dirasa kian familiar, tapi ongkosnya mahal: redupnya nilai-nilai lokal. Tapi di atas itu semua, dalam konteks kesenian, khususnya kesusasteraan, alasan kreatif lebih masuk akal—lokalitas sebagai sumber penciptaan!

Ya, di pusaran inilah sastra ambil bagian. Bukan sesuatu yang serta-merta jika dikatakan bahwa penghormatan atas khazanah lokal cukup kental di dalam sastra Indonesia modern. Salah satunya, sastra Indonesia memiliki diskursus seputar lokalitas. Lokalitas pada awalnya muncul sebagai respons terhadap tegangan globalitas yang tidak hanya menggerus bentuk-bentuk kesenian, tapi juga mengubah nilai-nilai anutan suatu masyarakat. Wacana seputar ini marak sekitar tahun 70—80-an, berbarengan masuknya isu-isu globalisasi, dan dibuat masif oleh rezim Orba dengan semboyan Indonesia menuju era tinggal landas.

Respons kreatif untuk melihat yang lokal tentu tidak hanya di sastra, juga di teater, tari, musik, dan disiplin seni lainnya. Kita mengenal misalnya teater yang naskah dan pola pertunjukannya merujuk khazanah lokal. Misalnya Gandrik berpola ketoprakkan; Bumi Teater Padang dengan pola randai, Teater Ketjil dengan absruditas lokal, Bengkel Teater dengan transformasi naskah Barat ke latar Jawa atau Banten; Opera Batak yang menghidupkan kembali tradisi opera Batak, atau Sanggar Budaya Banjarmasin dengan pola mamanda dan mengangkat cerita seputar Perang Banjar, dan seterusnya.

Berbarengan dengan itu, dalam sastra muncul gerakan kembali ke akar, kembali ke sumber. Seorang tokohnya, Abdul Hadi W.M. meyakinkan bahwa tahun 70-an merupakan tonggak kebangkitan estetika timur. Sosok sastrawan yang gigih memasukkan unsur lokal di dalam karyanya bermunculan pada periode ini. Sebut saja Darman Moenir, Wisran Hadi, Chairul Harun, Upita Agustin (Minang), Bokor Hutasuhut (Batak), Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, B.M. Syam (Melayu), Ramadhan K.H. (Sunda), Danarto, Ahmad Tohari, Darmanto Jatman, Linus Suryadi A.G. (Jawa), Korrie Layun Rampan (Dayak), D. Zawawi Imron (Madura), Nyoman Rastha Sindu (Bali), Gerson Poyk (Timor), Hijaz Yamani, Ajamudin Tifani (Banjar), dan lain-lain.

Sederetan literatur berkiblat lokalitas pun lahir, seperti roman Bako, Puti Bungsu, Penakluk Ujung Dunia, Priangan Si Jelita, Godlob, Ronggeng Dukuh Paruk, Pengakuan Pariyem, Upacara, Tanah Huma, Bantalku Ombak Selimutku Angin, Ketika Kulkul Berbunyi di Bale Banjar dan seterusnya.

Lokalitas dalam Lokalitas

Kreativitas menarik di ranah khazanah lokal ini adalah usaha memberi nilai lebih pada lokalitas. Para sastrawan menempuh siasat, meluruhkan tema nasional sembari mencegat mainstream di wilayah tempatan. Sepanjang pengamatan saya, ada beberapa siasat yang ditempuh. Pertama, menjadi “pelintas-batas” wilayah etnik. Meski berasal dari etnik tertentu, sejumlah sastrawan ternyata bisa masuk ke wilayah etnik yang lain.

D. Zawawi Imron, misalnya, di samping menulis karya berlatar budaya Madura, ia juga menulis dalam latar Bugis. Kumpulan puisinya yang dianggap reflektif dan sugestif, Berlayar di Pamor Badik, sepenuhnya merujuk Bugis sebagai sumber penciptaan. Pun Gus Tf. Sakai, menulis bermacam latar etnik dalam buku kumpulan cerpennya Laba-laba (Gramedia, 2003)—meski agak terburu menilai lokalitas dari satu atau dua cerpen, pada upaya penjelajahan ragam etnik. Sebelumnya, ia menulis novelet berlatar budaya Banjar berjudul Riu dan terbit bersama dua novelet yang berlatar budaya Minang dalam buku Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002). Banjar sebagai wilayah lintasan dan Minang sebagai wilayah asal, bisa ia hadirkan dengan porsinya masing-masing.

Kedua, sastrawan yang memberi suplemen wacana sastra di antara lokalitas yang mereka usung. Ia tidak hanya merujuk ritual, tata-cara, silsilah dan konflik-konflik lokal di dalam teksnya. Namun memberi suplemen khusus sehingga wacana lokalitas di satu sisi, berhampiran dengan wacana sufistik, kritik sosial, dan lingkungan hidup di sisi lain.

Kuntowijoyo dan Danarto dapat mewakili potret ini, di mana lokalitas Jawa mengalami transformasi kultural jika bukan peleburan dengan konsep-konsep sufisme yang kemudian melahirkan sufisme ala Jawa, tasauf Kejawen, dan seterusnya. Bahkan dari gaya keduanya yang berbeda, kita juga mendapat beberapa diskursus menarik seperti gaya Danarto yang surealis kerap disebut mengusung realis-magis ala Jawa, dan Kuntowijoyo yang realis-konvensional dianggap realis-udik.

Begitu pula A.A. Navis yang berlatar Minang, atau yang lebih muda Ode Barta Ananda, membawa lokalitas mereka pada tataran kritik sosial yang lebih luas dan universal, sehingga menjadi potret kesalehan sosial di Tanah Air. Cerpen Robohnya Surau Kami, merupakan protetipe model ini, dan jika ditelisik lebih jauh hampir semua cerpen dan juga novel Navis terasa senapas. Begitu pula Ode Barta Ananda dalam bukunya Emas Sebesar Kuda (Akar Indonesia, 2005) menjadikan Minang sebagai potret-mini Indonesia.

Ketiga, sastrawan yang menulis lokalitas di luar mainstream tempatan. Misalnya, lokalitas Jawa yang umumnya berpusat di keraton dengan anjungan bahasa tinggi (baca: ala Mataraman), diserpih oleh Ahmad Tohari dalam lokalitas Jawa ngapak-Banyumasan. Lahirlah Ronggeng Dukuh Paruk yang tidak mengharamkan bahasa-bahasa kasar semacam anjing buduk! atau asu buntung! Ia juga menghadirkan latar perdesaan dengan pola pikir masyarakat yang sederhana tapi bukannya tanpa power di mana seni kolektif dihidupkan sang ronggeng dengan dukungan penuh masyarakatnya tanpa harus munafik pada harapan terhindarnya kutukkan serta beroleh barokah kesuburan.

Bandingkan dengan Para Priayi Umar Kayam yang ber-setting Jawa Mataraman yang dianggap terdidik dan agung, tetapi terlihat betapa totalitas pengabdian mereka terasa tanggung jika bukan canggung. Meski perbandingan di sini bukan hendak mempersoalkan perkara nilai, baik-buruk, melainkan untuk menunjukkan bahwa lokalitas sastra bukan hanya urusan pusat-mainstream, melainkan juga menemukan ladang yang subur di wilayah-wilayah kultural pinggiran.

Ini pula yang berhasil dilakukan Wildan Yatim lewat novel Pergolakan dan kumpulan cerpen Jalur Membenam. Lokalitas yang dihadirkan Wildan menyerpih dari dua kutub mainstream, Batak atau Minang. Ia justru mengangkat lokalitas Tapanuli/Padang Sidempuan yang bukan Batak dan bukan Minang.

Memang, secara administratif wilayah Tapanuli/Sidempuan yang menjadi latar karya Wildan terletak di perbatasan Sumut-Sumbar, tapi keberadaannya semacam enclave budaya yang memiliki nilai dan tata-caranya sendiri. Ini sekaligus menorehkan perhatian publik pada sesuatu yang terabaikan. Selama ini, jika menyebut Batak atau Minang, seolah tangan-tangan kulturalnya membentang mutlak ke semua kawasan, padahal ada kawasan tertentu yang betapa pun memiliki kesamaan/kemiripan, toh juga memiliki perbedaan-perbedaan. Demikian halnya Sidempuan dengan Batak, Minang dengan budaya darek, pesisir dan rantaunya; Bali Utara yang “berbeda” dengan Bali Selatan, atau Aceh dengan Gayo-nya.

Atau bisa dilihat juga upaya Toha Mohtar dengan sejumlah karyanya—satu di antaranya novel Pulang—yang menampilkan lokalitas masyarakat sekitar Gunung Wilis yang beraroma perdesaan pada zaman berjoang. Ia tidak menggarap kultur arek yang lebih bersifat urban dan dikenal luas di Jawa Timur. Ia tertarik menggarap sesuatu yang tidak dominan, mungkin sama menariknya jika ia menggarap kultur lain khas Jawa Timuran seperti abangan atau Using (Blambangan). Persoalan pusat-pinggiran dalam konteks ini diluruhkan.

Ketiga siasat tersebut tidak berlebihan dikatakan sebagai gerakan “lokalitas dalam lokalitas”, yakni upaya mengaktualkan khazanah lokal dengan memanfaatkan segala potensi kelokalannya. Dan ini menurut saya merupakan modal besar bagi penghormatan khazanah lokal ke depan, tentu dengan tantangannya sendiri. Monggo, siapa ikut, ambil bagian…

Raudal Tanjung Banua, Koordinator Komunitas Rumah Lebah, Yogyakarta, dan Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia.

Selasa, 02 November 2010

Pelacur Dibayar Uang, Isteri Dibayar Cinta

Novel membara ’Cantik Itu Luka’
Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/

MEMBACA novel ”Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” - kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini - maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”

Atau, dengarlah ucapan seorang tabib India ketika mengobati Ma Gedik- yang notabene sakit karena cinta- katanya pasti,” Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila!” (hal. 34).

Sementara ”kegilaan” itu terus berpusar di lingkungan para tokoh novel ini, seolah menisbikan nilai-nilai (yang normatif dan konvensional). Bayangkanlah, seorang lelaki, ayah Rosinah, menyerahkan anak gadisnya untuk ditukar hanya supaya dapat tidur dengan pelacur Dewi Ayu. Katanya,” Kau bisa menjadikannya pelacur atau mencincangnya untuk dijual sebagai daging kiloan di pasar,” (sungguh mengerikan, mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Joni Ariadinata atau kegilaan Monte Cristo), lalu mereka bercinta, si anak menunggu tenang di luar, dan sebagai bayarannya si Rosinah yang bisu menjadi milik Dewi Ayu— awal ia menjadi pembantu yang patuh.

Mengapa di antara kegilaan semacam ini, sang ayah masih membutuhkan pelacur? Mengapa tidak langsung saja menyalurkannya secara insest kepada si Rosinah, biar kegilaan itu semakin genap-lengkap? Ternyata tak. Cinta menemukan perannya di sini. Demi cinta, seorang ayah masih menghargai anaknya secara seksual, bandingkan dengan banyak peristiwa di luar teks yang justru terjadi di tengah lingkungan sosial yang ”waras”. Memang, ada Raja Pajajaran yang jatuh cinta pada Putri Rengganis, anaknya sendiri, tapi itupun kemudian berakhir ”indah”. si ayah membatalkan niat gilanya.

Karena cinta pula, Ma Gedik yang terpasung — karena kesetiaannya — lantas mencabuli binatang ternak, karena itu ia dianggap gila ”sungguh-sungguh”, justru di tengah ”kegilaan” nilai-nilai — masih bisa menyanyikan kidung-kidung cinta yang indah, yang membuat banyak orang menangis karenanya. Nyanyian itu untuk menyambut kekasihnya, setelah 16 tahun masa penantian — dengan segala kesetiaan dan cinta — dan ia kemudian bertemu Ma Iyang kekasihnya itu, meskipun harus berakhir tragis (35-37).

Cinta juga membuat Maman Gendeng yang brutal, ganas dan menyimpan dendam, luluh ketika bertemu gadis mungil berlesung pipit bernama Nasiah. Seketika ia memutuskan akan menghentikan pengembaraan gilanya, dan bermimpi hidup berumah tangga dengan Naisah (ai, bukankah impian tentang rumah juga melambangkan kuatnya cinta di tengah kegilaan? Seperti juga Shodanco yang takut kehilangan janin bayinya). Bahkan, ketika Maman menghadapi Naisah untuk mengemukakan cinta, Maman Gendeng merasakan jauh lebih mengerikan daripada menghadapi pasukan Belanda. Cinta yang takut dan gemetar, kata orang, adalah perlambang cinta yang sebenar-benarnya. Dan Maman me-ngaku terus terang,” Cinta telah memberiku dorongan yang tak diberikan oleh apapun!” (hal 115).

Akan tetapi, karena cinta pula, Naisah si gadis mungil berani menolak Maman Gendeng si tuan Gerilya, sebab ternyata ia sudah memiliki seorang kekasih, meski seorang lelaki invalid. ”Tuan Gerilya, ijinkanlah kami saling mencintai dan tak ingin dipisahkan…” Maka, Maman Gendeng yang brutal dan mestinya bisa berbuat apa saja itu, luruh kedua kalinya, pergi, karena tak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. (116) Sebuah penghormatan yang indah pada cinta. Dan kesakitan akan cinta, tidak membuat Maman menyerah, justru membangkitkan hasratnya untuk mencari cinta sejati.

Begitulah, bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi orang penting di kelompoknya, bagai Che Guevara yang tak mau hidup di tengah kemapanan, ia kembali bersampan, mengembara (kali ini bukan lagi pengembaraan tanpa arah, seperti sebelumnya, melainkan pengembaraan yang punya orientasi: cinta sejati). Cinta sejati itu, diinterprestasikan dengan Putri Rengganis yang bagi saya tidak hanya berarti sosok fisik, namun juga metafisik, sekaligus bayang-bayang idealisasi.

Masih soal cinta, Dewi Ayu yang melacur, masih cukup meyakinkan ketika menghadapi permintaan kliennya si Maman Gendeng tadi. Katanya,” Aku bukannya tak percaya bahwa cinta itu ada dan sebaliknya aku melakukan semua ini dengan penuh cinta, bukan berarti aku kehilangan cinta.” (135). Dengan cinta, seorang pelacur membangun bargaining dan eksistensinya. Sebaliknya, atas dorongan cinta pula (bukan seksual belaka) Maman Gendeng tetap bertahan dan berupaya untuk mendapatkan Dewi Ayu, sampai akhirnya tercapai satu kesepakatan yang cukup sportif dan lugas: menjadi klien tunggal Dewi Ayu. Saya katakan bahwa kesepakatan itu bukan karena dorongan seksual, toh anak-anak Dewi Ayu yang lain tak kalah cantiknya, dan Maman bisa mendapatkannya kalau memang ibunya tidak mau— karena Maman memang berkuasa saat itu. Akan tetapi kegilaan itu tidak terjadi lantaran cinta mampu mengontrolnya.

Di sisi yang lain, Alamanda, anak Dewi Ayu juga tengah menunggu kekasihnya dengan kesetian yang penuh: Kamerad Kliwon. Ia bergeming menghadapi godaan Shodanco, sampai laki-laki berkuasa itu jatuh dan mengeluh, ”Adakah strategi gerilya untuk mengalahkan cinta?” (167) katanya lemah, padahal ia seorang mantan gerilya yang ulung bikin strategi. Begitulah, Alamanda yang binal dan sering membuat patah hati lelaki, justru sangat bersetia pada Kliwon, sementara Shodanco yang ulung menyerah pada ajaibnya cinta.

Persoalannya sekarang, adakah cinta di sini hakiki atau masih sebatas nafsu belaka? Adakah sebatas fisik, bukan menyentuh kedalaman? Tampaknya, ”cinta bergelora” lebih dominan ketimbang ” cinta yang mempesona”. Artinya, ungkapan cinta tokoh-tokoh di atas masih saja dibayang-bayangi ”urusan perkelaminan”, penuh nafsu, bergelora, berapi-api, membakar. Satu-satunya percintaan yang teramat menyentuh dan menggetarkan, yang tidak terburu-buru masuk dalam urusan ”perkelaminan” adalah percintaan Maman Gendeng dengan Maya Dewi — anak Dewi Ayu. Tidak saja karena Maya Dewi dinikahinya secara baik-baik, penuh restu dari ibu mertua, tetapi juga kesabaran Maman menunggu malam pertama — karena Maya Dewi masih sekolah. Dan ia tahan terhadap yang berbau umbar nafsu.

Seandainya percintaan dalam ”Cantik Itu Luka” sedikit steril dari ”cinta membara”, tetapi sedikit condong pada jenis ”cinta yang mempesona” maka ”cerita cinta” akan menjadi lebih merasuk dan sunyata, dan itu akan menjadi oase yang meyakinkan. Setidaknya akan tercapai hal-hal seperti ini: pertama, ”cerita cinta” menjadi sesuatu yang benar-benar disuguhkan secara sadar oleh pengarang sebagai sindiran atas tatanan masyarakat yang gila akan nilai dan norma-norma, tapi busuk dalam pelaksanaannya. Jadi, ada misi pencerahan dan penyadaran untuk melihat ke dalam, kepada tatanan.

Kedua, bagi pembaca fanatik (akan tatanan), novel ini boleh jadi dianggap sangat keterlaluan, lancang dan mengada-ada, karena penuh ”kegilaan”, sehingga ”cinta membawa” bakal menambah sengkarut itu. Sementara ”cinta mempesona” tidak saja mampu menetralisir suasana, namun sekaligus meyakinkan bahwa cinta mampu berperan besar dalam membentuk tatanan. Bukan sekadar meradang, setelah itu padam.

Cinta dengan demikian, tidak sekadar hiasan, tidak sekadar tempelan, tidak sekadar ”urusan perkelaminan”. Tapi ia menjadi lebih esensial: menjadi misi, menjadi soliloqui, bahkan ideologi. Namun, semuanya tentu berpulang pada pengarang, meski sebagai pembaca kita pun berhak pasang ancang-ancang. n

* Raudal Tanjung Banua, pembaca sastra, tinggal di Sewon, Bantul

Sabtu, 13 Februari 2010

Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Bazar buku, tren pustaka, munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, sampai diangkatnya sejumlah buku (yang diklaim sebagai karya sastra) ke layar lebar. Akan tetapi jika jujur, kesemarakkan itu baru sebatas perayaan atas buku-buku yang dianggap laku, how to, minus buku-buku yang mencerdaskan seperti sastra dan humaniora.

Padahal, sebenarnya buku sastra sangat responsif dan terlibat aktif dalam “perayaan” itu. Bahkan boleh dikatakan buku sastra beserta para pelakunya termasuk perintis dalam menggairahkan perbukuan nasional. Pameran, launching dan diskusi acap bermula dari buku sastra. Munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, umumnya dimotori oleh pelaku dan peminat sastra. Hanya, buku sastra lebih banyak bergerak pada tataran estetik dan idealisme. Sebaliknya, buku-buku how to dan “tema-tema semusim” lebih berorientasi kepada pasar. Antara pasar dan idealisme, di sinilah taruhannya.

Dari Depan: Menerka Sejarah
Sebelum melihat pertarungan pasar dan idealisme, mungkin cukup menarik jika terlebih dulu dilihat pergulatan penerbitan buku sastra kita. Secara historis, penerbitan buku sastra sudah dirintis jauh-jauh hari oleh penerbit Balai Pustaka (1917). BP boleh dikatakan penerbit resmi yang juga secara “resmi” menerbitkan buku sastra Tanah Air. Mungkin kata “Tanah Air” kurang tepat, sebab pada dekade 20-an itu “Tanah Air” belum mendapatkan rumusannya. Buku-buku yang diterbitkan pun lebih tepat dikatakan disensor atau “disortir” ketimbang disunting/dieditori. Itulah sebabnya tema seputar kawin paksa lebih banyak mengemuka ketimbang persoalan kolonialisasi.

Ini “tragedi” pertama penerbitan karya sastra modern kita. Penulis yang terpilih diterbitkan adalah yang tunduk pada ideologi dan kanon tertentu sehingga banyak penulis lain yang tidak terakomodasi. Menurut Maman S. Mahayana bersamaan dengan dekade Balai Pustaka, sebenarnya bermunculan para penulis berbahasa Melayu-pasar. Media yang memuat karya sastra pun beragam seperti Sahabat Baik (Betawi, 1890), atau Bok-Tok (Surabaya, 1913).

Akan tetapi nama-nama di situ luput dari kesejarahan alih-alih untuk diterbitkan. Namun, bagaimanapun, buku-buku era Balai Pustaka tetap menjadi “harta karun” yang tak ternilai, misal untuk kajian sastra pascakolonial.

Penerbit Pustaka Jaya pimpinan Ajip Rosidi kemudian muncul menggairahkan dunia perbukuan. Cover bukunya sangat nyeni, dan penerjemahan sastra asing gencar dilakukan. Buku-buku terbitan Pustaka Jaya menjadi representasi pergulatan buku sastra di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia (YOI) yang dirintis Mochtar Lubis, setali tiga uang, meski YOI melebarkan sayap ke penerbitan buku-buku sosial-humaniora. Begitu pula penerbit Djambatan. Setelah semua itu melemah, muncul penerbit Bentang Budaya di Yogyakarta. Digawangi Buldanul Khuri, kebangkitan Bentang ditandai terbitan seri pujangga Gibran Khalil Gibran dan rancang cover yang mengambil ruh Pustaka Jaya.

Hal paling menarik dari penerbit perintis tersebut bukan sekadar capaian artistik (desain) dan terjemahan karya penting dunia, tapi lebih esensial, yakni misi gerakan yang mengakar. Pustaka Jaya misalnya, lahir dari keprihatinan Ajip Rosidi atas langkanya buku sastra bermutu. Atas pengaduannya kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jaya waktu itu, dikucurkanlah dana untuk memulai usaha penerbitan sastra.

Meski kata dikucurkan di sini tidak terlalu tepat, sebab dana yang dipinjamkan kepada Ajip Rosidi oleh Pemda DKI tidak besar. Namun penerbit ini meraih capaian besar, bukan untung-laba, melainkan gairah muncul-bersambutnya buku-buku sastra bermutu di tengah publik Indonesia. Mochtar Lubis, meski mengandalkan funding asing, tetapi ia mampu mengolah bantuan itu dalam bentuk kerja sama yang setara. Alhasil YOI memunculkan buku-buku yang sangat ditunggu publik. Penerbit Djambatan menggenapkan kebergairahan sektor perbukuan nasional.

Masih banyak penerbit lain yang menjalani peran serupa, seperti Nusa Indah (Ende, NTT), Nusantara (Bukittinggi) dan Grafiti (Jakarta). Mereka bertarung di tengah pembaca yang tak kunjung apresiatif dan keras kepala untuk tak menyerah. Atau, jika akhirnya menyerah, tapi menoreh jejak keberpihakkan terhadap sastra/humaniora.

Ke Belakang: Karena Pasar dan Perayaan
Dalam perkembangannya kemudian buku sastra memang diminati penerbit, diterima distributor dan dipajang di toko buku. Tapi jika diselidiki lebih lanjut, sebenarnya baru sebatas pragmatis dan kalkulasi bisnis. Kenapa? Cobalah cermati sejumlah kenyataan berikut.

Pertama, banyak penerbit, termasuk penerbit besar Ibu Kota, hanya latah ketika menerbitkan buku sastra. Diterbitkan ketika laku, tapi begitu respons pasar menyurut, mereka pun surut langkah tanpa mau susah-payah mencari terobosan. Sebagai contoh, pernah cerpen dalam negeri sangat diminati, terutama setelah gencarnya gerakan pemasyarakatan cerpen oleh pelaku sastra.

Saat itulah, hampir semua penerbit meresponsnya dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen. Mereka jemput bola mendatangi para penulis di daerah, menerbitkannya dalam kemasan yang selama ini tak mungkin dilakukan, dipromosikan dengan launching dan masuk jaringan pasar secara luas. Banyaklah penerbit membuat devisi sastra/cerpen, meski selama ini ia lebih dikenal menerbitkan buku-buku pelajaran misalnya. Muncullah eforia penulis, kurang selektif, surplus buku cerpen, dan kejenuhan pada pasar.

Ketika pasar benar-benar jenuh, tanpa tanggung jawab, penerbit-penerbit tadi meninggalkan gelanggang sambil melempar sisa buku cerpen ke tukang loak, dan dijual “murah-meriah” di pameran-pemaran buku. Sementara sastra dan penulisnya terpuruk, deretan penerbit tinggal beralih melirik lagi apa yang laku dijual dari sastra setelah sebelumnya mereka sukses melirik cheeklit/teenlit dan akhirnya kini beralih ke novel sejarah.

Lalu, novel dalam negeri pun booming. Celakanya, itu tidak lebih dari novel pop/konvensional dengan tema-tema dangkal percintaan. Lebih celaka lagi, justru itu yang diklaim sebagai pencapaian luar biasa dari novel Indonesia! Ketika novel dalam negeri merosot pamornya, datang segudang novel terjemahan. Kini, jika detik ini puisi diminati pasar, maka saya berani bertaruh para penyair tak bakal kesepian! Begitu pula naskah drama atau skenario film. Pendek kata, di mana ada pasar, di situ ada perayaan–dan inilah sebagian besar “ideologi” perbukuan sekarang.

Kenyataan kedua, di luar buku-buku yang laris, buku sastra “serius” tetap saja ditempatkan di rak belakang perpustakaan dan toko buku. Buku yang diminati pasar semacam novel bestseller atau ceeklit/teenlit, memang ditempatkan di etalase yang gampang diakses. Apakah logikanya tidak terbalik? Bukankah buku yang sedang diburu tidak soal ditempatkan di mana pun? Bukankah buku-buku yang belum terlalu dikenal, atau buku sastra yang dianggap “berat” justru lebih memerlukan promosi dan aksesibilitas?

Singkat kata, perangkat perbukuan seperti mekanisme pasar, distribusi, toko buku dan perpustakaan belum berpihak kepada buku sastra dan humaniora. Banyak sudah pengalaman miris yang ditemui. Sebagai contoh, dalam kapasitas sebagai kreator sastra, saya pernah menngecek buku puisi saya ke sebuah toko. Di komputer ada tertera judul dan posisi raknya. Pusing mencari tetap tidak ketemu. Setelah ditanya, ternyata buku itu, bersama buku-buku sastra lainnya, ditumpuk di balik cheeklit/teenlit! Padahal itu di tempat yang mengklaim dirinya sebagai toko buku alternatif.

Di lain waktu, dalam kapasitas sebagai pengelola penerbitan sastra, saya mengecek buku terbitan kami ke sebuah toko buku besar. Setelah buku yang tertera dalam komputer itu tak ketemu, penjaganya kemudian mengambilkan ke gudang!

Belum lagi perangai distributor yang selalu minta kami menerbitkan buku-buku yang laku, dan itu artinya buku-buku how to, tinggal download dari internet. Rangkai jadi buku kiat praktis apa saja yang Anda mau, apakah tentang kecantikan, keuangan, bisnis atau kiat seks paling dahsyat sejagad. Murah diongkos, dan laporan penjualan per bulan dari distributor dijamin di atas puluhan juta. Bandingkan dengan laporan buku sastra, hanya ratusan ribu rupiah! Tapi, apakah kami harus menyerah dan ikut latah? Setiap kali kami menolak, setiap itu pula buku yang di-return tambah besar, dan akhirnya tersingkir dari distributor!

Perpustakaan setali tiga uang. Belum lama berselang, saya ditelepon seorang kawan dari Lubuklinggau, bahwa ia baru saja menyaksikan buku sastra bergelimpangan di gudang belakang perpustakaan kotanya. Tak terkecuali buku-buku Pramoedya, Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan bundelan majalah sastra Horison! Sementara atas nama otonomi, pengelola perpustakaan di daerah dan sekolah, kini tambah leluasa membeli buku-buku “kiat praktis”, dan meluputkan sastra dari katalog perpustakaan mereka! Sebuah penerbit pernah ikut proyek pengadaan buku di Jawa Timur dengan mengirimkan katalog buku kepada panitia. Judulnya beragam, dan sastra tak ketinggalan. Ketika proyek itu gol, buku yang di-acc adalah buku-buku how to, tidak satu pun buku sastra masuk pesanan! Sungguh miris.

Apa yang salah sesungguhnya? Apakah karena buku sastra yang tidak memihak pasar, atau sebaliknya, pasar yang tidak memihak buku sastra? Tidak satu jalan ke Roma. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi menurut saya adalah kurangnya keberpihakan semua unsur perbukuan terhadap buku sastra/humaniora. Penyebabnya antara lain laporan penjualan buku sastra tidak sekencang laporan buku-buku praktis. Peminatnya pun terbatas pada orang atau kalangan tertentu. Padahal, sungguh sangat tidak tepat membandingkan keduanya.

Seharusnya kita berpikir subsidi silang, sambil berdagang buku-buku laris ala etalase, distributor/toko buku seyogianya memberi ruang pada buku-buku yang penjualannya “alon-alon asal kelakon” tapi memberi oase. Begitu pula perpustakaan, tidak persoalan menyediakan bacaan-bacaan ringan, termasuk komik hiburan yang memang ramai peminat itu, tapi bukan berarti menggusur “bacaan mulia” ala buku sastra. Wallahualam.

*) Pengelola penerbit sastra AKAR Indonesia.

Sabtu, 04 April 2009

Ladang Terbakar

Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/

APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.

Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang Sombiang terbahak sendirian, kadang tertegun sedih bila pantun yang dilantunkan menyentil perasaan.

Apelah daye bulan di dahan/Mau terbenam, eh, disamber buaye/Apelah daye badan sendirian/Di dingin malam berteman si air mate
Sombiang menggeliatkan badan di atas dingin tikar pandan.

Siang hari ia bekerja selayaknya petani sejati, mengolah tanah, merawat benih dan memetik apa yang layak dipetik, semuanya dengan kasih. Malam hari, kadang ia pulang ke rumah-jauh di kampung-tapi lebih sering bermalam di pondok-biasanya di pondok lama, dekat ladang durian dan sahang. Bila sesekali rasa sepinya tak tertahankan, tak jarang Sombiang berkunjung ke pondok peladang lain, atau berlama-lama di tepian sehabis bekerja agar bertemu sesama peladang sekadar bercakap-cakap. Tentang harga timah. Tentang tambang timah lepas pantai di Bubus yang sering diwarnai konflik. Sembahyang rebut di klenteng tua Batu Rusa. Sampai juga pada naiknya harga-harga dan bejibunnya partai baru tapi diisi orang-orang lama.

Meski mereka peladang, kebutuhan tak sebatas ladang yang subur atau harga membubung. Salah seorang di antara peladang yang fasih berdiskusi tentang hal itu adalah Datuk Bulian, seorangtua yang tetap perkasa, dengan anak dan istri yang rutin mengunjunginya sekali sepekan (terkadang dengan membawa koran). Ah, membuat Sombiang cemburu sebetulnya. Sedang Sombiang, siapa yang akan mengunjunginya? Lanik istrinya-yang sampai saat ini belum juga hamil-jangankan sekali sepekan, sekali sebulan saja tak pernah menginjakkan kakinya di ladang mereka. Kadang ia maklum, istrinya terlalu sibuk membantu ibunya mengurus warung yang buka hingga malam. Tapi, terkadang Sombiang juga berpikir, itu semua lebih disebabkan karena selaku anak tunggal di keluarga, istrinya terlalu disayang; jangankan ke ladang, ke kebun belakang rumah pun seolah ia berpantang. Pantang itu terutama justru digariskan ibunya sendiri yang memang kelewat memanjakannya.

Terkadang, di tengah keasyikkan bicara “bangsa” dan “dunia”, terbicarakan juga urusan keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang naik kelas. Istri yang gemar menabung. Dan di antara itu, kerap terlontar suara,”Sombiang, warung istrimu tambah maju tampaknya?” Sombiang mengangguk sedikit. Lalu,”Tak sempat lagi ia ke ladang ini, ya?” itu dari Sadeli.

Atau ini,”Istrimu belum hamil juga ya?” kata Rabius pula. “Kenapa tak pernah melirik Datuk kita? Datuk Bulian ‘kan bisa bikin ramuan kesuburan.”

Inilah yang paling tak disukai Sombiang dari acara kumpul-kumpul di tepian.

Tapi kini, mulai saat ini, tidak lagi! Ia telah bulat memutuskan: istrinya, Lanik, akan diajak tinggal di ladang, sementara warung di rumah biarlah ibu mertuanya yang mengurus. Sombiang sudah tak peduli. Sombiang merasa cukup jadi penurut: sejak menikah dengan Lanik, ia mau tinggal di rumah mertua hanya karena si mertua merengek-rengek minta pengertian,”Kalian tinggal di sini saja. Rumah di sini besar, warung sudah berjalan, semua untuk Lanik.” Tapi tidak kali ini!
***

KEPUTUSAN Sombiang mengajak istrinya menetap di ladang, serta-merta menerbitkan gunjing orang sekampung; usia perkawinan belum seumur jagung, kata mereka, tapi si istri sudah diserahkan kepada kerasnya untung-jauh dari keramaian. Lain kalau sudah tua, dan anak-anak sudah besar, barulah wajar tinggal di ladang, begitulah selama ini cara orang kampung berkebiasaan. Menjadi adat yang tak bisa ditawar.

“Sedang Datuk Bulian pun tak tega mengajak istrinya tinggal di ladang, padahal anaknya sudah besar-besar,” kata seseorang, dan tertawa-didengar ibunya Lanik dengan pedih dan geram.

“Sombiang punya anak saja belum, sudah ngajak istri bertanam di ladang. ”

“Garap dulu rahim istrimu!” seseorang memotong, membuat ibu Lanik tersirap. Tapi perempuan itu tak ingin melabrak mereka. Aneh, ia malah ingin melabrak menantunya saja. Sombiang! Gara-gara Sombiang terkutuklah, gunjing itu mengalir.

“Kasihan, warung Lanik sedang maju-majunya, malah ditinggal.”

Kembali ibu Lanik membayangkan wajah menantunya saat mengutarakan niatnya mengajak Lanik tinggal di ladang. Wajah yang kukuh dan tenang, tapi terasa dingin sebetulnya. “Begitulah, Mak, kuputuskan mengajak Lanik istriku tinggal di ladang. Kami ingin belajar hidup sendiri dengan lebih tenang.”
“Lanik anakku, anak tunggal!” si ibu berang.

“Ia istriku, tak ada lagi istriku selain dia. Ia anak Mak, semua orang tahu. Tapi bahwa ia tak lebih sebagai pembantu Mak di warung, mungkin hanya aku yang tahu. Kemudian gunjing dan tanya yang tiap hari hinggap di telinganya tentang kapan punya anak, yang membuat gendang telinganya serasa pecah dan hatinya tersayat, mungkin juga hanya aku yang tahu. Karena itu, kami ingin ke ladang setidaknya di sana ia bisa istirahat dengan lebih tenang.”

“O, anakku akan bungkuk dan hitam di ladang! Hentikanlah kekejamanmu!”

“Tidak, Mak. Ia akan bekerja sesuai tenaganya, tidak sampai larut malam seperti di warung, dan setiap kerja adalah atas maunya, aku tidak pernah main perintah. Dan tidak ada pula gunjing yang menyakiti hatinya.”

Perundingan itu (jika memang pantas disebut perundingan) tentu saja buntu. Tapi tidak keputusan Sombiang yang sudah bulat. Ketika hari baru terang tanah, Sombiang segera menarik tangan Lanik ke atas motor traill-nya, dan seketika melaju ke ladang itu. Lanik menangis, tapi jauh di lubuk hatinya, perempuan itu paham sepenuhnya.
***

BEGITULAH, sepasang peladang itu kini terus bertanam tidak hanya di lahan yang subur, tapi juga rajin bertanam di lahan yang lain: ladang rahim. Pondok ladang yang kukuh tinggi menjadi ruang paling hangat bagi mereka berbagi di malam-malam dingin, tak lagi bulan di dahan dimakan buaye seperti kata pantun. Tapi buayelah yang disihir bulan dengan terangnya umpama lampu; kini bahagie hidup berdue, sepanjang hari serasa berbulan madu, ai, ai, pantun di radio tua itu kini diubah sendiri oleh Sombiang, walau di dalam hati. Kalau saja Saad Toyib dan Kario, si pengasuh pantun di radio tahu, pastilah mereka akan bilang,”Madu Bangka pahit rasanya, Bung!”

Ya, ya, karena bersarang di pohon pelawan, madu di sini jadi lain rasanya. Pahit. Tapi ampuh untuk menggempur penyakit. Ibarat itulah hidup Sombiang dan Lanik, di atas pondok bertiang kayu pelawan, hari-hari yang mereka jalani sekilas mungkin terasa pahit-maklum, jauh dari keramaian, menempuh hidup tidak selazim orang berkebiasaan, dan mereka belum lagi punya anak-tapi sebenarnya hidup mereka begitu damai.

Mula-mula Lanik memang merasa canggung, namun hari-hari selanjutnya ia sudah biasa: bangun pagi-pagi, membawa cucian ke tepian, dan pulang dengan air bersih di dalam ember. Memasak, membuatkan kopi buat suami tercinta, yang sepagi hari juga telah melakukan prosesi kerja di lahan masa depan. Pagi yang damai, hari yang damai. Suara burung, kesiur angin, derak dahan pepohonan dan gemerisik daun gugur, irama suara tajak yang terdengar seperti tak-tik-tok jam, denting kayu kering di dapur, desis api yang menyala, semuanya, sungguh alangkah menyenangkan. Jauh dari bisik dan gunjing, jauh dari perburuan uang dan harta. Waktu jadi sepenuhnya milik mereka.

Lanik merasakan suasana di ladang bertolak belakang dengan suasana di rumahnya, di kampung yang mulai sibuk oleh tawar-menawar, tatapan penuh selidik, dan mimpi-mimpi. Di sini, kecuali radio transistor tua yang bernyanyi sepanjang hari, tak ada lagi suara luar yang menggoda dan membuatnya harus bekerja hingga larut malam-demi mimpi warung yang diperbesar menjadi toko swalayan; sebagaimana yang diangankan ibunya. Kelelahan bekerja agaknya, berdampak pada rahimnya. Padahal, selama hampir tiga tahun usia perkawinannya dengan Sombiang, pernah dua kali Lanik merasakan sesuatu tumbuh di rahimnya, tapi gugur lantaran perdarahan. Sombiang tak bisa berbuat apa-apa, kecuali semakin terperangkap dalam gunjing tak bersudah yang menyebut dirinya mandul, atau menuding rahim istrinya tak sesubur ladang sahangnya. Lanik pun tak berdaya dibuatnya, dan sebagai kompensasi atas semua itu, semakin ia membenamkan diri pada kesibukan kerja di warung, dari subuh hingga tengah malam!
Tapi tidak lagi sekarang. Hidupnya kini damai di ladang.
***

DAMAI? Ya. Pohon kopi berbunga, sahang menjuntaikan buah-buahnya dari pohon inang, anak-anak karet berlomba berangkat remaja, durian dan rambutan merayakan musim buah. Sombiang tersenyum ketika pada pagi-pagi sekali istrinya minta dipetikkan mangga muda di samping pondok. Sombiang tahu, sesuatu sedang terjadi pada istrinya. Maka sigap ia menjuluk buah mangga muda, dibersihkan getahnya, dan tak lama ia sudah melihat Lanik mencacah buah yang kecut itu-sepagi ini!-dan memakannya dengan tenang memakai garam dapur. Ya, sesuatu pasti sedang terjadi, Sombiang bergumam sendiri. Dan ia semakin yakin ketika beberapa hari kemudian istrinya muntah-muntah di tepian, disaksikan Rabius yang lewat dan singgah mengasah parang.

“Apakah kalian akan segera punya anak?” tanya laki-laki yang sampai sekarang belum juga menikah itu. Wajahnya tampak aneh.

“Sepertinya begitu, Kawan!” jawab Sombiang sambil menuntun lengan istrinya.
“Kok bisa ya?” Rabius bergumam, kian terasa aneh.

Sombiang menjawab sekenanya:”Ya, bisa. Tiap pagi kami minum madu pahit!”
Lengkap sudah. Di ladang harapan, mereka bertanam, dan semua tumbuh subur dalam kasih malaikat Tuhan. Sombiang merangkul istrinya, dan Lanik pun menyadari ada yang diam-diam bergerak di rahimnya.

Namun, seiring dengan itu, ada pula yang diam-diam bergerak di luar cinta kasih mereka: gunjing itu, bisik itu, dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan itu! Tersiar kabar, entah dari mana berpangkal, bahwa Lanik hamil karena campur-tangan Datuk Bulian!

“Ia menyerahkan istrinya pada dukun tua itu!”

“Itulah alasan tepat baginya mengajak perempuan malang itu tinggal di ladang!”

“Sombiang? Hanya ladang sahangnya yang subur, tidak benih lelakinya. Hanya tangkai cangkulnya yang kuat, tidak tongkat moyangnya!”

“Ya, ia mandul, mengapa istrinya kini mengandung?”

“Konon ia impoten, setelah jatuh dari motor traill-nya. Adakah di dunia ini seorang impoten punya putra?”

“Ya, Tuhan, terkutuklah kami kalau membiarkan ini semua!” seorangtua bersorban melenguh, menatap langit.

“Jangan sampai kita dikutuk, Ustadz. Perintahkanlah kami sekarang juga ke ladang sana, akan kami selamatkan perempuan malang itu, dan kami bakar ladang si suami terkutuk itu!” orang-orang merangsek.

“Jangan,” sang Ustadz mengibaskan tangannya, sambil matanya tetap menatap langit seperti mencari-cari petunjuk.

“Ya, jangan biarkan kutuk itu turun, Ustadz!”
“Apakah Ustadz bisa mempertanggungjawabkan maksiat ini kelak di akhirat?” seseorang menantang.

Ustadz terkesiap, dan segera mengusaikan diri menatap langit, lalu dengan satu kibasan, bergemalah suaranya,”Berangkatlah!”

Maka obor-obor pun disulut. Cahaya senter melesat-lesat. Mengiringi kegeraman orang-orang batas kampung. Sementara di barisan paling belakang, dalam kerumunan kain sarung, Rabius, laki-laki yang lama mendambakan Lanik yang cantik-yang membuatnya tak kunjung menikah hingga sekarang-setengah gigil membayangkan apa yang akan terjadi. Lantaran rindu-dendam, ia berhasil menyebarkan bisik dan tuduhan itu dari tepian hingga ke dalam kampung, dan disambar orang kampung sebagai kebenaran. Bahkan ibu Lanik pun diam-diam jadi sekutu Rabius: dendam sang ibu pada menantu, sudah cukup jadi alasan untuk menyulut restu menggerakkan orang-orang itu.
Orang-orang dengan api di tangan, kini memasuki batas ladang.

/ Bangka-Yogya, 2006-2008

Catatan:
- Sahang (Bhs Bangka): tanaman lada
- Pelawan: sejenis pohon berbunga pahit di Pulau Bangka tempat biasanya lebah bersarang, karena itu madu yang dihasilkan agak pahit.

Jumat, 16 Januari 2009

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

http://www.lampungpost.com/
Keheningan Pelabuhan
--bagi BMC dkk.

Ini pelabuhan atau petilasan
Laut selatan? Tak ada orang bercakap
mabuk dan tertawa. Kapal-kapal ikan
mabuk asin sendiri di kuala dan ceruk teluk diam
tak berombak. Camar-camar terbang nyaris tak tertangkap
mata telanjang. Bahkan kapal-kapal
tanker besar serupa tidur hilang hasrat,
tidak berisik dengan beban penghisapan
di lambung. Mirip benteng tua
pandai memendam perangai topan
Seorang nelayan tua limbung
beralih menjadi penjual batu-batu akik
seberang pulau, tenang, tidak meracau,
luka ladang, luka tanah, seribu kilang,
sembuh sebatas luka di pinggang. Mercusuar
di jauhan, kaki-kakinya membayang
di ufuk air, serupa benar dengan akar-akar bakauan
kuat mencengkram jengkal tanah terakhir segara anak,
o, pandang tertumbuk ke daratan lengang
pulau kambangan, kuamsal kapal nasib
sandar memanjang, memuat cerita dan derita
penghidupan anak manusia
dilamun ombak! Aku mencari dermaga
tanpa perlu menyeberang, hanya menduga
berapa jejak pulang, berapa jejak hilang
sambil menggumamkan kata-kata
sehening doa.

/Cilacap, 2007



Antariksa Dada

di bawah langit
tak ada langit: bumi yang tidur
menunggu bangkit. Di atas langit: bintang-bintang
--surga usah dibilang
jagad membentang begitu lengang, terasa
sakit di antariksa dada, seorang koloni, kosong-hampa
Negeri ini sepotong bumi, katanya, paling dekat
dengan matahari. Fajar terbit, tapi tak juga
jaga atau bangkit. Bintang-bintang telah lama padam
saat fajar yang sama menyentuhnya
pertama: pulau demi pulau
malah nyala dan sebagian silau cahaya
lalu hari-hari lewat, pelan dan pasti, segalanya lewat
menuju musnah, duh, antariksa dada
simpan, simpan yang dalam
matahari, bintang-bintang dan planetmu
sendiri; putar, putarkan yang liar
seperti gerak sekunar di lautan
menunggu saat karam atau dibangkitkan
menyelam bumi, terantuk dasar
rasakan, lempeng demi lempeng bergeser; gemanya, perihnya
bertalu-talu di antariksa dadamu, o, sang koloni
di timur matahari: kota-kota runtuh
sebelum sempurna didirikan, kampung-kampung luluh
sempurna abu. Lalu kesepakatan dan nota-nota baru dibuat
tanpa menunggu pengakuanmu: pesawat dan kapal-kapal
datang dan pergi, tapi seperti dirimu,
semuanya masih terikat di bumi yang satu!
di bawah langit,
tak ada langit, memang: bumi yang tidur
begitu panjang, terasa lebih sakit
mendera dada; seorang koloni yang tersintak jaga,
bangkit dan menderita, sakit dan menderita,
erangnya, keluhnya murni
kuabadikan di bait terakhir sajakku ini:
"dekat ke matahari,
berarti dekat kepada cahaya
yang menyinari panggung nestapa
punggung bumi. maka bangkitlah
sebab yang berlutut akan cidera
dan menjadi mainan abadi
gelap-terang cahaya!"

/Rumahlebah Yogyakarta, 2007

Catatan:
"Antariksa dada" diambil dari istilah Pramoedya Ananta Toer, terutama dalam tetralogi novel Pulau Buru, yang merujuk tokohnya saat berdialog secara langsung.



Sapu Enau, Sapu Ijuk

Sapu enau, sapu ijuk
dari balik pintu tempat bergantung
berkelana engkau
sepenuh ruang. Jelajahi
sudut demi sudut, dari bilik ke bilik
ada yang telanjang
engkau saksi diam tiap kejadian.
Engkau temukan benda-benda lama
jauh tersuruk
dan hanya seusai bersin atau batuk
si tuan rumah, benda-benda itu kembali baru
dan bernama, jadi pajangan dan kenangan.
Engkau tetap bernama setia
dalam debu dan sampah terbuang.
Ah, sapu enau, sapu ijuk
Siapa engkau, jangan merajuk!

/Yogya, 2007



Lagu Pingitan

Kau pandang gunung, gunung yang tinggi
hatimu murung, murung sekali
sebab menduga: hanya yang tegak mungkin didaki
Kupandang langit, langit yang jauh
hatiku ragu, ragu terlalu
sebab mengira: hanya yang dekat mungkin disentuh
maka kau pandanglah gunung
kupandangi langit
yang sama biru
dalam renung rindu
cinta dipingit.

/Yogya, 2007

Jumat, 31 Oktober 2008

Tersengat Masa Lalu di Penyengat

Raudal Tanjung Banua
http://www.korantempo.com/

Betapa pulau kecil ini ajaib, hampir di tiap jengkal ada situs bersejarah peninggalan sejumlah sultan.

Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa

Itulah cuplikan dari "Gurindam Dua Belas" karya Raja Ali Haji yang termasyhur. Gurindam 83 bait yang sarat pesan moral itu ikut mengukuhkan masa lalu Pulau Penyengat Indra Sakti sebagai salah satu pusat kerajaan dan budaya kebanggaan orang Melayu. Betapa senangnya, akhirnya saya bisa bertandang ke pulau tempat Raja Ali Haji dimakamkan, awal Februari 2008, sehari menjelang perayaan Imlek.

Kota terdekat untuk mencapai Penyengat adalah Tanjungpinang, Bintan. Maskapai Merpati dan Batavia Air sebenarnya sudah melayani penerbangan langsung Jakarta-Bintan via Bandara Kijang, namun saya memilih terbang ke Hang Nadim, Batam. Barulah dari Batam saya naik feri ke Bintan. Perjalanan laut selama 1,5 jam menyuguhkan pemandangan pulau-pulau kecil nan eksotis: hijau bakau, nyiur melambai, laut yang jernih. Kapal nelayan dan feri saling berselisih jalan. Di sini, laut dan selat betul-betul menjelma jadi jalan raya bagi kapal-kapal.

Setelah lama menyaksikan ombak memecah pukul-memukul di buritan, feri yang saya tumpangi akhirnya merapat di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Pelabuhan ini tempat bertolak dan merapatnya kapal-kapal dari dan ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia. Dari pelabuhan itu, pulau mungil sepanjang dua kilometer itu terlihat manis menggoda. Menara masjid kerajaan dan rumah-rumahnya yang kelabu terasa dekat saja, hanya dipisahkan selat sempit yang ramai.

Secara administratif, Penyengat masuk Kecamatan Tanjungpinang Kota dengan status kelurahan (bandingkan dengan statusnya di masa silam sebagai pusat kerajaan!)

Untuk ke Penyengat, kita berpindah dermaga dan mencari kapal kecil bermesin tempel alias klotok. Untuk pindah dermaga, kita harus berjalan memutar ke arah pusat kota Tanjungpinang. Naik becak tentu lebih cepat, tapi saya memilih jalan kaki melewati Jalan Pos yang merupakan bagian terpadat kota Tanjungpinang. Hotel, restoran, toko pakaian, kedai cendera mata, kantor agen perjalanan, tempat penukaran uang asing, dan toko emas berderet di kedua sisi jalan, membentuk sebuah lorong panjang yang artistik. Apalagi dengan hiasan ratusan lampion pelbagai bentuk dan ukuran, merah menyala.

Klotok yang akan berangkat ke Penyengat penuh sesak oleh penumpang yang akan menghadiri pesta perkawinan di pulau itu. Saya sempat khawatir melihat dinding kapal cuma sejengkal dari air. Apalagi langit berawan dan riak agak besar. Tampaknya itu hal lazim di sini. Tukang klotok sudah berpengalaman. Maka, tak sampai 25 menit, kami selamat sampai di seberang.

Klotok merapat di sebuah dermaga kecil, tak jauh dari Masjid Sultan Riau. Selanjutnya saya menyusuri jalan konblok selebar dua meter ke arah masjid, tapi sebelum sampai, deretan becak motor telah menunggu dengan rute yang telah ditentukan. Sebuah papan bernukilkan peta Penyengat di pangkalan itu mencantumkan tarif becak motor Rp 20 ribu sekali keliling pulau. Tanpa menawar, saya naik becak paling depan sesuai dengan urutan antrean, apalagi hujan rintik-rintik mulai turun. Engku Nurdin yang ramah segera memacu becak motornya.

Dalam rute wisata becak motor, masjid dekat dermaga justru menjadi obyek kunjungan terakhir. Kunjungan pertama adalah ke kompleks makam Raja Hamidah (Engku Putri), permaisuri Sultan Mahmud Syah III, sultan Riau-Lingga (1760-1812). Di sini juga dimakamkan beberapa bangsawan, termasuk Raja Ali Haji sendiri, sang pujangga Kerajaan. Bangsawan di sini bergelar Raja, termasuk bangsawan perempuan.

Meski dikenal sebagai kompleks makam Engku Putri, yang menonjol justru atribut formal untuk penghormatan Raja Ali Haji. Semasa hidupnya, Raja Ali Haji (1808-1873) tidak hanya menghasilkan "Gurindam Dua Belas", tapi juga buku Bustan al-Katibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858).

Dua baliho terlihat merujuk kepada kebesaran sang pujangga: "Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia" dan sebuah lagi: "Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX". Ia ditabalkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres RI Nomor 089/TK/2004.

Terletak di kaki bukit kecil, dikelilingi pohon rindang ambacang, mengkudu, dan jambu, kompleks ini sangat asri, juga unik: ada bangunan utama berbentuk masjid mini, berkubah dan bermihrab. Bercat kuning dengan jendela bulat seperti jendela kapal. Barisan nisan berbentuk gada dibungkus kain yang juga berwarna kuning. Di dalam cungkup atau bangunan utama yang dindingnya berhiaskan cuplikan "Gurindam Dua Belas", terdapat makam Raja Hamidah dan permaisuri yang lain. Makam para raja perempuan terletak di dalam bangunan utama. Adapun makam raja laki-laki, seperti Raja Ahmad, Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX dan Raja Ali Haji, terdapat di luar bangunan utama. Di luar pagar terdapat lagi makam orang-orang yang punya hubungan dengan kerajaan.

Secara simbolis, Pulau Penyengat sebenarnya milik Raja Hamidah, karena merupakan maskawin yang diterimanya saat dipinang Sultan Mahmud Syah. Itulah sebabnya, Penyengat disebut juga Pulau Pinangan atau Pulau Maskawin.

Setelah puas berziarah di kompleks makam Engku Putri, saya beranjak ke kompleks makam Yang Dipertuan Muda Riau VI, Raja Ja'far. Masa pemerintahannya berlangsung ketika Belanda dan Inggris berebut daerah jajahan. Toh, Raja Ja'far sukses mengembangkan pertambangan timah di Singkep. Lokasi makamnya jauh lebih luas, berpagar beton di sekeliling. Bangunan utamanya tetap berupa masjid kecil, tempat makam Raja Ja'far dan kerabatnya berada.

Meski pulau ini hanya sepanjang dua kilometer, untuk mengunjungi semua situs, Anda butuh waktu cukup panjang. Maklum, hampir di tiap jengkal ada situs yang menggoda. Saya sendiri kelabakan. Di samping waktu yang singkat, cuaca juga kurang bersahabat. Untunglah, becak-motor Engku Nurdin setia mengantar. Tak lupa saya mampir di Istana Raja Ali (1844-1857) yang terlihat sangat modern dan kukuh. Lantai duanya masih bersisa dan dipertahankan di salah satu sayap gedung yang sekaligus berfungsi sebagai gapura.

Tak lama kemudian, becak pun berhenti di depan sebuah kompleks makam Yang Dipertuan Muda Riau VII, Raja Abdul Rahman (1832-1844), yang menuntaskan pembuatan Masjid Raya Sultan Riau. Untuk mencapai makam, kita harus mendaki jalan setapak dengan terlebih dulu melewati situs Gedung Mesiu. Bangunan ini berfungsi menyimpan serbuk mesiu pasukan perang kerajaan. Ini satu-satunya gedung mesiu yang tersisa, dari sebelumnya empat buah. Selebihnya roboh karena lama tak terawat, senasib dengan beberapa situs yang terlambat dipugar.

Jalan menuju makam melewati tangga semen yang landai. Di gerbang makam, saya disambut juru kunci, Suhadi, yang ternyata asli Prambanan, Yogyakarta. Hampir 20 tahun ia tinggal di Penyengat.

"Maaf cakap orang rumah awak keturunan langsung raja-raja Penyengat," ujarnya sambil mengantar saya berkeliling makam.

"O, di tengah laut biru pun, Bapak berhasil menyunting perempuan berdarah biru!" canda saya.

Ia tertawa dan menunjukkan bekas benteng di timur makam, tapi minat saya terlerai akibat hujan kian lebat. Kepada Engku Nurdin, saya minta diantar ke Masjid Raya yang menjadi rute terakhir saya.

Kebetulan, azan asar sudah berkumandang. Sebelum berwudu saya mengamati bangunan masjid yang sangat anggun dan cantik berkat kubah bulat dengan dua pasang menara runcing. Menurut catatan, masjid kuning ini dibangun pada 1832, dalam rintisan Yang Dipertuan Muda VI Raja Ja'far dan diselesaikan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rachman. Konon, bahan utama bangunan, pasir dan tanah liat, sengaja dicampur putih telur supaya kuat dan mengkilap. Di sebelah kiri dan kanan masjid terdapat bangunan dari kayu yang disebut Rumah Sotoh, tempat istirahat dan bermufakat. Pemandangan ke pantai dari lokasi masjid (yang fondasinya ditinggikan) sungguh elok; Kota Tanjungpinang seperti terapung di seberang, di antara perahu dan kapal yang lalu-lalang.

Selesai berwudu, saya masuk ke dalam masjid dan mendapati sentuhan interior yang nyaman: ukiran tiang, kaligrafi, dan lampu antik. Di dekat kotak amal ada sebuah peringatan: "Dilarang berfoto di dalam masjid". Iseng-iseng saya langgar. Klik! Blitz kamera mengundang garin masjid mendatangi saya. "Saya tidak berfoto, Pak, tapi memfoto!" jawab saya. Ia pergi bersungut-sungut. Rasain! Ini daerah asal bahasa Indonesia, jadi mesti benar menggunakannya.

Selesai salat berjemaah, batuk saya yang pertama meletus, disusul batuk berikutnya. Pastilah cuaca buruk dan hujan yang melembapkan pakaian telah menyebabkan kerongkongan gatal dan hidung berair. Tapi selintas saya teringat "dosa" saya: berbuat iseng pada garin masjid. Wah, gawat! Alih-alih mencari Pak Garin yang masih khusyuk berzikir, saya memilih istirahat ke warung di samping masjid. Memesan gado-gado dan segelas jeruk hangat.

Sambil menunggu hujan reda, saya mengingat rute yang dilalui. Saat itulah terasa, betapa "ajaibnya" pulau kecil ini. Bayangkan, dengan lebar hanya satu kilometer dan panjang dua kilometer, terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sejumlah sultan. Masih banyak yang hanya bisa saya saksikan sambil lewat. Sebut saja Istana Kedaton tempat sultan terakhir tinggal; Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah dengan tiang-tiang kukuh menyerupai bangunan Yunani kuno; Istana Bahjah tempat tinggal Raja Ali Kelana, Gedung Tabib, bekas tempat praktek Engku Haji Daud, tabib kerajaan; dan Perigi Kunci, tempat mandi putri istana.

Ini belum termasuk situs yang tidak terlihat ketika lewat karena agak jauh dari jalan utama, semisal makam Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah yang dipindahkan dari Melaka; Tapak Percetakan Kerajaan dan sisa sekretariat Rusdiyah Klub (1884), sebuah organisasi cendekiawan Melayu Riau antipenjajah, lama sebelum Budi Utomo (1908) terbentuk. Percetakan kerajaan sendiri bernama Mathba'atul Riauwiyah. Kedua wadah intelektual ini digerakkan, antara lain, oleh Raja Ali Kelana dan Raja Khalid Hitam. Belum lagi keberadaan Benteng Bukit Kursi dan Bukit Penggawa yang keterangannya kelak terpaksa hanya bisa saya baca di katalog. Tepatnya, setelah Akib memberi saya sejumlah buku dan katalog yang diterbitkan kantornya.

O, ya, masih ada makam Embung Fatimah di Bukit Bahjah, bangsawan Melayu yang menikah dengan bangsawan Bugis. Ini penting digarisbawahi untuk menyibak lebih lanjut sejarah dan silsilah bangsawan Penyengat; ternyata mereka memiliki darah campuran dengan bangsawan Bugis, termasuk Raja Ali Haji sendiri, dari Upu Daeng Celak. Sejarah mencatat, bangsawan Bugis dan Melayu sudah lama bersatu (termasuk tentu intrik dan seteru), termasuk membangun Penyengat Indra Sakti. Bukankah ini modal sejarah yang perlu diaktualkan? Yang jelas, berkunjung ke Pulau Penyengat, kita benar-benar akan tersengat kebesaran masa lalu sebuah bandar Melayu.

RAUDAL TANJUNG BANUA, PENIKMAT PERJALANAN, TINGGAL DI YOGYAKARTA

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir