Tampilkan postingan dengan label Donny Anggoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donny Anggoro. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2009

”Cemplon”: Menakik Melalui Lelucon

Donny Anggoro
http://www.sinarharapan.co.id/

Pers Indonesia sebenarnya sudah pernah memiliki bibit unggul yang menjadi gagasan Tom Wolfe sejak 1973 dalam The New Journalism. Kala itu Wolfe mengawinkan disiplin dalam jurnalisme dengan kecantikan karya sastra. Lewat Cemplon yang lahir dari tangan Umar Nur Zain aspek tersebut sudah ada, walau di dalamnya lebih terkandung humor bernuansa parodi, bukan pada kedalaman berita yang ditulis dengan berkisah. Kendati demikian, Umar sudah memilikinya pada Cemplon yang ditulis dengan gaya cerpen (yang dengan hormat kita menyebutnya sebagai sastra). ”Kolom” atau ”esai” Cemplon adalah cerpen faktual yang mampu mencerahkan dari sisi humornya yang segar, cerdas dan menakik.

Ya, inilah ”jurnalisme sastra” ala Cemplon. Ia tak menggurui laiknya kolom yang ditulis tiap Minggu (Cemplon hadir setiap hari Minggu di Sinar Harapan sejak 1979, kemudian dilanjutkan di Suara Pembaruan ketika Sinar Harapan ditutup). Ia tak menjadi kisah mengharu-biru laiknya cerita bersambung di koran. Ia faktual tapi juga fiktif berbekal perkawinan penulisnya yang berlatar belakang jurnalistik dengan kemampuan literer. Ia pun nakal dengan memasukkan penulisnya sebagai pengemban misi sekaligus tokoh bersama Cemplon ciptaannya. Cemplon adalah cerpen, setengah esai karena muatan pribadi penulisnya. Kedalamannya bukan dari keberanian mengelola hal yang sulit. Justru dari kisahnya yang ”cuma” secuil (tulisan Cemplon paling-paling tak lebih dari 2-3 halaman spasi tunggal di layar komputer) terdapat kejernihan penulisnya mengelola hal faktual dalam kerangka humor sebagai cermin perkembangan dan kegagapan masyarakat kita.

Dalam Sederhana-isme (h.71, dalam Cemplon, Maaf, Anda Boleh Lewat, Puspa Swara, 1994) Cemplon didaulat berpidato untuk Hari Kebangkitan Nasional. Cemplon bersiap-siap. Dikenakannya longdres biru asal Eropa, parfum semerbak, dan sepatu yang dibeli di Italia sampai orang dari kejauhan melihatnya seperti berkilauan ditimpa terik matahari. Usai pidato Cemplon yang begitu berapi-api, ia malah kerepotan mencari butiran kalung perhiasannya yang gemerlap tiba-tiba copot dan berceceran di lantai. Ironis, padahal ia baru saja gembar-gembor menyerukan gaya hidup sederhana dalam pidatonya!

Kisah lain lagi, Film Televisi (h.23, Ny. Cemplon, Sinar Harapan, 1981) Cemplon yang mentang-mentang punya stasiun televisi merencanakan peliputan kunjungannya ke daerah yang baru saja tertimpa bencana alam gempa bumi. ”Lha, kok kamu sendiri yang jadi pemeran utama? Kan banyak bintang berbakat yang cantik-cantik?” tanya saya (‘saya’ di sini adalah Umar, si penulis).

”Sekali-sekali boleh dong! Masak yang punya televisi nggak boleh?” jawab Cemplon ngotot.

Maka, jadilah pembuatan film dengan program peng-cover-an profil desa yang terkena gempa bumi. Tapi begitu film selesai, 70 persen adegannya habis untuk Cemplon. Di antaranya Cemplon sedang merenungi nasib korban gempa, Cemplon sedang memberi selamat, Cemplon geleng-geleng kepala dan seterusnya sampai wartawan yang diundang menonton memaki-maki. Maklum, Cemplon sudah menyiapkan berbagai kostum. ”Supaya penonton jangan bosan,” ujarnya genit. Ah, dengan mudah pembaca dapat menebak kisah ini adalah sindiran bagi pemilik stasiun televisi yang aji mumpung ingin jadi selebritis atau pejabat yang hanya ingin dilihat peduli kepada rakyat kecil…
Maka, dalam membaca Cemplon kita tak akan tergopoh-gopoh mencoba mengkaitkannya dengan kejadian aktual yang kebanyakan diambil dari suasana khas Jakarta. Ia mampu menyentil laiknya Sketsa Massa sebagai tulisan karikatural. Ia jenaka tapi cerdas tak kalah dengan kolom yang ditulis seorang budayawan. Bedanya, sentilan tersebut ditampilkan berkisah ala cerpen. Personifikasi tokohnya begitu fleksibel. Cemplon digambarkan cantik, langsing, seksi, centil, genit, kadang judes, pemarah, pemurung, ambisius, idealis dan lain-lain. Ia pun muncul sebagai tokoh yang multidimensi. Hari ini muncul di Bangkok, besok di Amerika, lusa ada di Afrika. Begitu juga pekerjaannya mulai dari penyiar radio, polantas, mucikari, pemilik stasiun televisi, istri pejabat sampai tukang santet! Sosok suaminya tak pernah digambarkan dengan jelas walau ia sudah berstatus ”nyonya”.

Cemplon karya Umar Nur Zain selanjutnya semakin bernyawa lewat gambaran kartunis senior Pramono dan S. Poerwono yang dalam setiap edisi selalu membubuhkan inisial ”Non-O” di sudut gambarnya. Popularitas Cemplon yang melambung era 1980-an di Sinar Harapan kontan membuat harian ini bak harian Kompas punya Oom Pasikom sebagai maskot. Bedanya, Oom Pasikom karya GM Sudarta lahir sebagai editorial cartoon dalam kerangka ”the art of protest”, Cemplon malah hadir dalam dua kerangka sekaligus, kartun dan kisah (yang notabene tentu juga bagian dari ”the art of protest” tadi!) Seperti Oom Pasikom (diperankan Didi Petet tahun 1992) yang diangkat ke film, Cemplon sempat diangkat ke layar kaca pada 1995 dengan Kris Dayanti sebagai pemerannya.

”Pada waktu Sinar Harapan Minggu pertama terbit, terpikir untuk menulis semacam Sketsa Massa dengan menggambarkan tulisan karikatural penduduk Jakarta yang bermacam-macam ini. Seorang guru saya, Soemarsono almarhum dari LKBN Antara yang memberi inspirasi. Ia pernah memberi keterangan, alangkah hebatnya Jakarta! Kalau kita berjalan ke mana saja tampak suasana karikatural. Dari situlah kemudian terpikir bahwa memang Jakarta adalah gudang sketsa tiada habisnya,” jelas Umar Nur Zain menceritakan proses kreatif Cemplon dalam pengantar buku Ny. Cemplon yang diterbitkan Sinar Harapan tahun 1981.

”Karena tulisan ini berkesinambungan, teman-teman menganjurkan untuk mencari tokoh tetap dan tiba-tiba saja nama Cemplon (yang memang tidak ada artinya itu) tak sengaja turun dari alam bawah sadar, ” tambah Umar.
***

Umar Nur Zain lahir di Cirebon, 15 April 1939 dan wafat tahun 1996. Kiprahnya memang lebih banyak di bidang jurnalistik, walau tanpa disadari lewat Cemplon sesungguhnya ia berhasil menunjukkan kemampuan literernya. Ia mendapat gelar Bachelor of Arts tahun 1962 di Akademi Teater Nasional yang kemudian menjadi Sekolah Tinggi Publisistik. Istrinya, Retno Himawati seorang jurnalis di LKBN Antara. Ia pernah mengikuti Advance Editorial Course Thomson Foundation di Cardiff, Inggris. Menjadi wartawan serta redaktur di Berita Indonesia, Berita Yudha, Proklamasi, Sinar Harapan, dan terakhir di Suara Pembaruan sampai akhir hayatnya.

Selain Cemplon, ia juga menulis beberapa buku seperti Rissa (novel, dari cerita bersambung Suara Pembaruan tahun 1990), Piccadilly, dr. Anastasia, Namaku Wage, Bu Guru Dwisari, dan Belantara Ibu Kota. Ia juga menulis buku nonfiksi Penulisan Feature. Semua bukunya selain Cemplon kebanyakan diterbitkan Grafikatama Jaya, penerbit yang digagas dan dikelola sastrawan Satyagraha Hoerip - sampai Hoerip wafat.

Karya lainnya, semisal Rissa, adalah kemampuannya mengolah wacana literer walau ditulis dengan populer. Ceritanya sangat sederhana, bahkan jika merujuk istilah zaman sekarang sangat kosmopolit. Rissa menceritakan seorang mahasiswa yang ketika terbangun mendapati dirinya berubah menjadi burung meliwis. Dalam pengembaraannya ia bertemu Rissa seorang wanita muda, cantik dan kaya, istri simpanan seorang pejabat. Mereka kemudian bersahabat karena Rissa lebih sering ditinggal sendirian oleh suaminya. Ada humor, suspens bahkan roman di Rissa. Sayang, karena dibuat sebagai cerita bersambung (dan barangkali ditulis kemudian langsung dimuat) endingnya terlampau keburu tuntas sehingga Rissa gagal menjadi serangkaian kisah yang menggigit sampai akhir.

Kendati demikian, Umar Nur Zain layak dikenang sebagai satu dari penulis yang kuat di negeri ini. Memang, ia tak sampai membuat karya yang lantas menuai pujian atau penghargaan sastra (namanya tak tercatat dalam Leksikon Sastra Indonesia Modern). Mungkin karena novel-novelnya semacam Rissa bukan karya yang penuh permenungan, namanya cenderung luput dalam kesusastraan Indonesia modern. Padahal lewat Cemplon yang sangat menggelitik ia telah berhasil menorehkan gaya baru yang tak begitu banyak ditekuni penulis-penulis kita di masa kini. Gagasan humor yang dipadu dalam cerita pendek itulah yang sesungguhnya mampu meretas dua bentuk kepenulisan sekaligus: sastra (ada kisah, tokoh sentral, imaji) dan jurnalistik (kejadian aktual, satire dan sarkasme).

Hikmat Kurnia, penyunting buku Cemplon, Maaf Anda Boleh Lewat yang diterbitkan Puspa Swara dalam pengantarnya menulis, ”Dengan cara ini ia bisa memasuki dan menelusuri semua peristiwa yang dijumpainya melompati batas-batas ruang, waktu bahkan logika,”
***

Di masa kini ada Sengklirip yang berkisah mirip Cemplon (menggunakan tokoh sentral dan memparodikan kejadian aktual) di majalah Djakarta! Namun kurang menjadi kritik sosial yang menyentil. Ada Surat dari Palmerah di Jakarta Jakarta, tapi itu pun tak selalu menggunakan figur Sukab yang juga gemar ganti profesi. Sukab lebih banyak muncul dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma (belakangan ia malah jadi serial komik). Ada esai Harry Roesli di Kompas atau kolom Sujiwo Tejo di Sinar Harapan yang lugas dan menyentil - tapi itu pun tak mempunyai figur, pun benang merah karena tidak ditulis berkesinambungan.

Cemplon sebagai masterpiece Umar Nur Zain di bidang jurnalistik, bahkan sastra sesungguhnya mengingatkan kita pada banyak hal. Di luar kritik sosial yang jika dibaca sekarang masih terasa kontekstual, kita belum lagi memiliki penulis andal yang mampu mengolah lelucon khas dan idiomatik. Wajarlah begitu Umar Nur Zain wafat, berakhir pula serial Cemplon - pun sampai harian Sinar Harapan, koran tempat pertama kali Cemplon muncul - terbit kembali pada 2002. Kepergian Umar nyaris belum tergantikan walau di masa kini muncul esais -kolomnis sosial -budaya atau politik yang cenderung serius dan tekstual - bahkan elitis, terutama yang ditulis budayawan.

Kepergian Umar seolah menunjukkan bahwa masih ada ragam kepenulisan kita yang tertinggal - karena ketidakbetahan dan nafsu banyak penulis untuk melebur segala khazanah seni, pemikiran atau apa pun juga ke masyarakat luas serta rasa penting tentang peran diri dalam sejarah.

Cemplon adalah salah satu contoh bentuk tulisan yang hidup tanpa menjadi keminter. Ia jenaka tapi juga satire mirip Art Buchwald, seorang satiris kondang Amerika. Ia begitu lugas seperti A. Samad Ismail, penulis terkenal dari Malaysia (Samad adalah cerpenis dengan latar belakang jurnalistik yang kuat seperti Umar).

Membaca serial Cemplon sebenarnya akan sangat membantu kita dalam proses ”menjadi Indonesia” di tengah-tengah masyarakat kita yang tak dapat dipungkiri lagi sedang mengalami ”gegar budaya”. Ia menjadi sarana menertawakan diri sendiri agar dalam kehidupan yang ditulis Umar di pengantar Ny. Cemplon, unik, indah, semarak meski kadang pahit dan sengsara, kita bisa tersenyum kecut, meringis, mengumpat, bahkan bersyukur.***

*) Penulis adalah editor sebuah penerbit, tinggal di Jakarta.

Jumat, 16 Januari 2009

Berburu Dongeng Aceh

http://www.ruangbaca.com/
Judul: Manusia Bersarung Kodok
Alihbahasa Aceh: Fauzan Santa
Penulis: Azhari, Agus Nur Amal
Editor: Azhari, Elsa Clave
Penerbit: Komunitas Tikar Pandan, Secours Populaire Francaise, Marque Syndicate Tahun: 2006
Isi: 96 halaman
Peresensi: Donny Anggoro*

Jagat kesusastraan Aceh kembali bergelora. Setelah melahirkan penyair dan cerpenis, kini kita patut salut dengan diterbitkannya buku cerita rakyat Aceh bertajuk Manusia Bersarung Kodok (Manusia Meusaruek Cangguek). Aceh yang lebih dulu dikenal dengan tradisi sastra lisannya lewat pencerita-pencerita yang unggul menjadi semakin kaya dengan dibukukannya cerita-cerita rakyatnya. Ini usaha yang tak mudah lantaran lahir dari sastra lisan yang berakibat tak banyak yang mengenal kekuatan sastrawi Aceh kecuali masyarakatnya sendiri yang memang akrab dengan budaya tutur.

Konon, penyusunan buku ini berdasarkan cerita dari penduduk Aceh dari beragam profesi (salah satunya tukang becak) yang dikumpulkan oleh Azhari dan Agus Nur Amal (Agus PM Toh) yang memang sudah dikenal sebagai seniman tutur Aceh.

Cerita-cerita dalam buku ini dihimpun Azhari dan Elsa Clave sebagai editor bukan berasal cerita rakyat umum yang semula sempat dikumpulkan sastrawan Aceh senior LK Ara. Cerita yang mereka kumpulkan berasal dari cerita yang hanya dikenal di sebuah tempat atau hanya tersebar di satu kampung saja. Jadi, buku yang kelak akan diterbitkan versi terjemahan Perancisnya ini juga berfungsi melengkapi dokumentasi cerita rakyat Aceh yang nyaris terlupakan, terutama bagi generasi anak-anak Indonesia sekarang yang lebih akrab dengan budaya menonton televisi daripada membaca.

Buku ini menghimpun enam cerita rakyat Aceh yang selain ditampilkan edisi bahasa Indonesianya dimuat pula versi dalam bahasa Aceh. Dihiasi illustrasi menarik oleh Mahdi Abdullah, buku ini diawali dengan cerita Raja Ganje. Harap diingat, ini bukan cerita tentang seorang gangster atau penjahat yang akrab dengan daun ganje (ganja). Melainkan seorang anak bernama Polem yang hidup dari ayahnya yang memelihara kambing dan menanam sayur-sayuran di belakang gubuknya. Sebelum ayah Polem meninggal ia berpesan kepada Polem agar merantau ke kota dengan membawa kambing dan sayur-sayuran sebagai bekal untuk dijual di kota.

Bersamaan dengan kepergian Polem yang berjalan menggiring kambing dan sayurannya, di kota sedang dilangsungkan sayembara menangkap harimau buas yang membuat resah penduduk kota. Hadiahnya, jika sang penangkap atau pemburu lelaki akan dinikahkan dengan putri Raja, sedangkan kalau perempuan akan dibuatkan sebuah istana. Polem yang tak tahu-menahu soal sayembara, terus saja berjalan hingga tertidur di sebuah taman. Tatkala Polem tertidur, harimau itu muncul. Dan dilahapnya kambing Polem bulat-bulat. Sialnya, sang harimau gagal menggigit tali pengikat kambing sehingga ia pun tertidur.

Ketika terbangun, Polem langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menyadari bahwa ia menyeret harimau yang mengantuk karena memakan kambing yang sebelumnya menelan sayur-sayuran daun ganja. Singkat cerita, Polem, yang dalam khasanah dongeng rakyat agak mirip Si Kabayan dari Jawa Barat yang selalu berhasil dengan keberuntungannya, dikira penduduk kota berhasil memburu harimau. Polem kemudian berhak atas hadiah sayembara dan menjadi Raja setelah menikah dengan putri Raja. Setelah membaca cerita ini tentulah kita paham bahwa sayur-sayuran yang dibawa Polem adalah daun ganja yang di Aceh dibuat sebagai ramuan bumbu-bumbu masakan khas Aceh.

Beragam kisah dengan fantasi mengejutkan ada dalam buku ini. Seperti tipu muslihat para pencuri dalam Pencuri Tujuh (Pancuri Tujoh), atau pada cerita yang digubah sebagai judul buku ini, Manusia Bersarung Kodok (Manusia Meusaruek Cangguek), yang memungkinkan kita melihat hubungan tak seimbang antara dua bersaudara Abdul Samat dan Ramlah, yang lahir dari keluarga kaya raya. Setelah orang tua mereka meninggal, Abdul Samat yang rakus tak mau membagi warisan orang tuanya kepada Ramlah sehingga Ramlah hengkang dari rumah. Suatu hari Ramlah bernazar untuk mendapatkan anak. Tapi ketika anaknya lahir ternyata bukan anak manusia melainkan seekor kodok. Ramlah dan suaminya merawatnya seperti anak manusia.

Berbulan kemudian Sang Kodok dapat berbicara dengan bahasa manusia. Ia selalu bertanya kenapa orang tuanya, Ramlah dan suaminya, hidup miskin di gubuk yang reyot. Ramlah terus didesak Sang Kodok untuk menuntut haknya sampai pada suatu hari kaki Ramlah terluka oleh potongan kayu yang dilemparkan Abdul Samat. Luka di kaki Ramlah berangsur sembuh setelah dijilati Sang Kodok. Abdul Samat pun heran kenapa Ramlah tetap saja sembuh setelah berulangkali ia mengusir Ramlah dengan kasar.

Sampai pada suatu hari Abdul Samat sakit. Kekayaannya hampir habis untuk berobat. Mendengar hal itu Sang Kodok berpesan kepada Ramlah dapat menyembuhkan lukanya asal Samat membagi harta warisan kepada Ramlah. Usul dituruti sampai pergilah sang kodok untuk berlayar. Dalam pelayarannya sang Kodok perlahan berubah menjadi manusia setelah melakukan pertapaan. Sayang, ketika Ramlah dan suaminya berkunjung ke pulau mereka tidak percaya anak kodoknya sudah menjadi manusia.

Buku Manusia Bersarung Kodok ini patut dihargai sebagai ikhtiar mulia mengumpulkan sedikit khasanah cerita rakyat Indonesia yang selain nyaris terlupakan juga punah lantaran dari generasi ke generasi anak-anak lebih banyak dikenalkan dongeng yang dominan berlokasi di daerah Sumatera dan Jawa saja, juga cerita-cerita dongeng anak terjemahan. Dongeng-dongeng seperti Manusia Bersarung Kodok pun juga tak kalah imajiansi liarnya jika dibandingkan dengan Alice in Wonderland-nya Lewis Carrol. Ini membuktikan bahwa cerita rakyat Aceh mampu menghadirkan pesona sebaik cerita-cerita dongeng lainnya.

Menariknya dalam penyusunan buku yang didesain luks ini tak ditemui imbauan pesan-pesan moral, satu hal yang lazim dilakukan para penerbit buku dongeng atau buku cerita untuk anak-anak. Tiada yang menyadari, “cuplikan” pesan moral yang biasa ditulis di sampul belakang maupun di akhir cerita justru malah membuat anak-anak segan karena jadi berkesan menggurui, tak peduli sebaik apa pun cerita rakyat atau dongeng itu dikisahkan atau dikemas kembali. Dalam membaca buku ini anak-anak seperti dipersilakan mengambil makna masing-masing cerita tanpa “dipaksa” penerbitnya agar mengerti.

Barangkali langkah seperti ini patut dicontoh oleh penulis maupn penerbit buku cerita-cerita anak kita yang selama ini alpa bahwa anak-anak pun punya “hak” dalam menentukan imajinasinya. Bukankah kisah yang baik --meminjam perkataan Mohamad Diponegoro --tiap cerita punya sahibul hikayat, ia yang menentukan sudut pandangan dari mana cerita itu harus dilihat?

*)peneliti pada komunitas Matabambu dan editor lepas sebuah penerbit di Jakarta

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir