Jumat, 16 Januari 2009

Berburu Dongeng Aceh

http://www.ruangbaca.com/
Judul: Manusia Bersarung Kodok
Alihbahasa Aceh: Fauzan Santa
Penulis: Azhari, Agus Nur Amal
Editor: Azhari, Elsa Clave
Penerbit: Komunitas Tikar Pandan, Secours Populaire Francaise, Marque Syndicate Tahun: 2006
Isi: 96 halaman
Peresensi: Donny Anggoro*

Jagat kesusastraan Aceh kembali bergelora. Setelah melahirkan penyair dan cerpenis, kini kita patut salut dengan diterbitkannya buku cerita rakyat Aceh bertajuk Manusia Bersarung Kodok (Manusia Meusaruek Cangguek). Aceh yang lebih dulu dikenal dengan tradisi sastra lisannya lewat pencerita-pencerita yang unggul menjadi semakin kaya dengan dibukukannya cerita-cerita rakyatnya. Ini usaha yang tak mudah lantaran lahir dari sastra lisan yang berakibat tak banyak yang mengenal kekuatan sastrawi Aceh kecuali masyarakatnya sendiri yang memang akrab dengan budaya tutur.

Konon, penyusunan buku ini berdasarkan cerita dari penduduk Aceh dari beragam profesi (salah satunya tukang becak) yang dikumpulkan oleh Azhari dan Agus Nur Amal (Agus PM Toh) yang memang sudah dikenal sebagai seniman tutur Aceh.

Cerita-cerita dalam buku ini dihimpun Azhari dan Elsa Clave sebagai editor bukan berasal cerita rakyat umum yang semula sempat dikumpulkan sastrawan Aceh senior LK Ara. Cerita yang mereka kumpulkan berasal dari cerita yang hanya dikenal di sebuah tempat atau hanya tersebar di satu kampung saja. Jadi, buku yang kelak akan diterbitkan versi terjemahan Perancisnya ini juga berfungsi melengkapi dokumentasi cerita rakyat Aceh yang nyaris terlupakan, terutama bagi generasi anak-anak Indonesia sekarang yang lebih akrab dengan budaya menonton televisi daripada membaca.

Buku ini menghimpun enam cerita rakyat Aceh yang selain ditampilkan edisi bahasa Indonesianya dimuat pula versi dalam bahasa Aceh. Dihiasi illustrasi menarik oleh Mahdi Abdullah, buku ini diawali dengan cerita Raja Ganje. Harap diingat, ini bukan cerita tentang seorang gangster atau penjahat yang akrab dengan daun ganje (ganja). Melainkan seorang anak bernama Polem yang hidup dari ayahnya yang memelihara kambing dan menanam sayur-sayuran di belakang gubuknya. Sebelum ayah Polem meninggal ia berpesan kepada Polem agar merantau ke kota dengan membawa kambing dan sayur-sayuran sebagai bekal untuk dijual di kota.

Bersamaan dengan kepergian Polem yang berjalan menggiring kambing dan sayurannya, di kota sedang dilangsungkan sayembara menangkap harimau buas yang membuat resah penduduk kota. Hadiahnya, jika sang penangkap atau pemburu lelaki akan dinikahkan dengan putri Raja, sedangkan kalau perempuan akan dibuatkan sebuah istana. Polem yang tak tahu-menahu soal sayembara, terus saja berjalan hingga tertidur di sebuah taman. Tatkala Polem tertidur, harimau itu muncul. Dan dilahapnya kambing Polem bulat-bulat. Sialnya, sang harimau gagal menggigit tali pengikat kambing sehingga ia pun tertidur.

Ketika terbangun, Polem langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menyadari bahwa ia menyeret harimau yang mengantuk karena memakan kambing yang sebelumnya menelan sayur-sayuran daun ganja. Singkat cerita, Polem, yang dalam khasanah dongeng rakyat agak mirip Si Kabayan dari Jawa Barat yang selalu berhasil dengan keberuntungannya, dikira penduduk kota berhasil memburu harimau. Polem kemudian berhak atas hadiah sayembara dan menjadi Raja setelah menikah dengan putri Raja. Setelah membaca cerita ini tentulah kita paham bahwa sayur-sayuran yang dibawa Polem adalah daun ganja yang di Aceh dibuat sebagai ramuan bumbu-bumbu masakan khas Aceh.

Beragam kisah dengan fantasi mengejutkan ada dalam buku ini. Seperti tipu muslihat para pencuri dalam Pencuri Tujuh (Pancuri Tujoh), atau pada cerita yang digubah sebagai judul buku ini, Manusia Bersarung Kodok (Manusia Meusaruek Cangguek), yang memungkinkan kita melihat hubungan tak seimbang antara dua bersaudara Abdul Samat dan Ramlah, yang lahir dari keluarga kaya raya. Setelah orang tua mereka meninggal, Abdul Samat yang rakus tak mau membagi warisan orang tuanya kepada Ramlah sehingga Ramlah hengkang dari rumah. Suatu hari Ramlah bernazar untuk mendapatkan anak. Tapi ketika anaknya lahir ternyata bukan anak manusia melainkan seekor kodok. Ramlah dan suaminya merawatnya seperti anak manusia.

Berbulan kemudian Sang Kodok dapat berbicara dengan bahasa manusia. Ia selalu bertanya kenapa orang tuanya, Ramlah dan suaminya, hidup miskin di gubuk yang reyot. Ramlah terus didesak Sang Kodok untuk menuntut haknya sampai pada suatu hari kaki Ramlah terluka oleh potongan kayu yang dilemparkan Abdul Samat. Luka di kaki Ramlah berangsur sembuh setelah dijilati Sang Kodok. Abdul Samat pun heran kenapa Ramlah tetap saja sembuh setelah berulangkali ia mengusir Ramlah dengan kasar.

Sampai pada suatu hari Abdul Samat sakit. Kekayaannya hampir habis untuk berobat. Mendengar hal itu Sang Kodok berpesan kepada Ramlah dapat menyembuhkan lukanya asal Samat membagi harta warisan kepada Ramlah. Usul dituruti sampai pergilah sang kodok untuk berlayar. Dalam pelayarannya sang Kodok perlahan berubah menjadi manusia setelah melakukan pertapaan. Sayang, ketika Ramlah dan suaminya berkunjung ke pulau mereka tidak percaya anak kodoknya sudah menjadi manusia.

Buku Manusia Bersarung Kodok ini patut dihargai sebagai ikhtiar mulia mengumpulkan sedikit khasanah cerita rakyat Indonesia yang selain nyaris terlupakan juga punah lantaran dari generasi ke generasi anak-anak lebih banyak dikenalkan dongeng yang dominan berlokasi di daerah Sumatera dan Jawa saja, juga cerita-cerita dongeng anak terjemahan. Dongeng-dongeng seperti Manusia Bersarung Kodok pun juga tak kalah imajiansi liarnya jika dibandingkan dengan Alice in Wonderland-nya Lewis Carrol. Ini membuktikan bahwa cerita rakyat Aceh mampu menghadirkan pesona sebaik cerita-cerita dongeng lainnya.

Menariknya dalam penyusunan buku yang didesain luks ini tak ditemui imbauan pesan-pesan moral, satu hal yang lazim dilakukan para penerbit buku dongeng atau buku cerita untuk anak-anak. Tiada yang menyadari, “cuplikan” pesan moral yang biasa ditulis di sampul belakang maupun di akhir cerita justru malah membuat anak-anak segan karena jadi berkesan menggurui, tak peduli sebaik apa pun cerita rakyat atau dongeng itu dikisahkan atau dikemas kembali. Dalam membaca buku ini anak-anak seperti dipersilakan mengambil makna masing-masing cerita tanpa “dipaksa” penerbitnya agar mengerti.

Barangkali langkah seperti ini patut dicontoh oleh penulis maupn penerbit buku cerita-cerita anak kita yang selama ini alpa bahwa anak-anak pun punya “hak” dalam menentukan imajinasinya. Bukankah kisah yang baik --meminjam perkataan Mohamad Diponegoro --tiap cerita punya sahibul hikayat, ia yang menentukan sudut pandangan dari mana cerita itu harus dilihat?

*)peneliti pada komunitas Matabambu dan editor lepas sebuah penerbit di Jakarta

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir