Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2021

Dunia Buku di Balik Makam

Fahrudin Nasrulloh *
Suara Merdeka, 20 Mei 2007
 
Setiap buku memiliki nasib dan kisah masing-masing. Sebuah buku tidak hanya kita dapati di toko buku atau perpustakaan atau pameran buku. Tapi juga terdapat di makam-makam wali yang diyakini pengaruhnya oleh masyarakat sekitarnya. Ini terbukti ketika saya mengikuti rombongan ziarah ke daerah Ungaran dan Muntilan, Jawa Tengah. Di Ungaran, tepatnya di desa Nyatnyono, saya mendapati sebuah buku riwayat berjuluk Sejarah Waliyulloh Hasan Munadi dan Hasan Dipura serta Sejarah Air Keramat yang disusun oleh trah keluarga besar Nyatnyono.

Minggu, 08 April 2012

Dagelan Keindonesiaan Emha

Fahrudin Nasrulloh
http://www.jawapos.co.id/

JALAN menulis bagi siapa pun ibarat kelokan bercabang dari sehampar cerita manusia. Seakan di pedalamannya tersimpan setangkup ”kitab kehidupan” yang terus berpendaran dan menggelitik untuk diamati dan dilacak, meski tak bakal pernah selesai. Selalu ada sisa di balik yang tersembunyi. Oase hening, tapi sayup-sayup dari kejauhan masih nyaring. Seberkas kenangan, dari ratusan tulisannya, yang kini semangat menulisnya itu terus berdetak.

Sabtu, 31 Maret 2012

Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha

Pengantar Antologi Puisi “Mazhab Kutub” terbitan PuJa (PUstaka puJAngga) 2010
Fahrudin Nasrulloh*
http://sastra-indonesia.com/

Suatu hari, sekisar pertengahan tahun 2007, saya berjumpa dengan Gus Zainal Arifin Thoha di Pesantren Tebuireng, Jombang. Hari itu diadakan pertemuan alumni. Beberapa teman dan kiai yang saya kenal juga tampak hadir. Salah satunya adalah penyair dari Jeruk Macan, Mojokerto, Kiai Khamim Khohari. Pondok semakin ramai. Dari pintu gerbang terlihat orang-orang hilir-mudik. Kebetulan saja saya menyambangi perpustakaan Wahid Hasyim. Mas Tamrin, penjaga perpus, memberitahu saya bahwa di ruangan tingkat atas barat makam pondok dilangsungkan semacam diskusi di mana salah pembicaranya adalah Gus Zainal. Saya pun menghikmati diskusi itu.

Kamis, 09 Juni 2011

DEWAN KESENIAN DAN PROBLEMATIK SASTRA JATIM

Fahrudin Nasrulloh*
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Dewan kesenian yang eksis di berbagai wilayah di propinsi Jawa Timur memiliki kontribusi sekaligus problem tersendiri. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim kiranya tidak semua wilayah tersebut bercokol lembag dewan kesenian. Kendati Jatim menyimpan 10 subkultur kebudayaan (ditambah 2 kultur budaya Arab dan Cina) yang sangat kaya dan luas.[1] Dewan kesenian terbentuk oleh entitasnya sebagai upaya bagaimana kesenian dipikirkan dan kemudian dikelola, diurus dengan baik. Apakah kesenian memang perlu dilestarikan dan terus ditumbuh-kembangkan oleh semacam lembaga yang semi swasta semi pemerintah ini? Tidak mudah menjawabnya. Namun pemerintah juga punya visi dan strategi dalam ancangan agenda-agenda pembangunan untuk memberdayakan kebudayaan bangsanya dan kesenian yang berkembang di wilayahnya, yang kentara adalah lewat kementerian budaya dan pariwisata. Di sini definisi dan konsentrasi pengembangan antara “budaya” dan “pariwisata” sering tumpang-tindih, mengalami kerancuan. Satu sisi, bagaimana suatu budaya ditangani lalu diperhadapkan pada tantangan globalisasi-kapitalistik. Sisi lain, yang pariwisata itu, agendanya adalah mengembangkan budaya, mengolah hasanah lokalitas, obyek wisata, perhotelan, dan sarana pendukung lain semacam yang sering dijargonkan dengan istilah industri kreatif atau ekonomi kreatif. Bukan sekedar dodolan potensi sumber dayanya. Mengurusinya justru hal yang tak gampang, krusial, bahkan rentan menuai kritik.

Dalam konteks dewan kesenian, karena ini berhubungan erat dengan pemerintah yang mengucurkan dana, maka bagi yang terlibat di dalamnya, baik seniman maupun budayawan atau yang blenk soal itu tidaklah bisa melepaskan wilayah politik-birokatis yang oleh karenanya membutuhkan kesadaran politik yang kontekstual. Di Kabupaten Jombang misalnya, dewan kesenian pernah dibentuk tahun 1999, tapi mampet. Persoalan klasik seperti watak seniman yang tidak bisa bergerak bareng mewujudkan satu visi dan keseriusan pemerintah setempat menjadi problem kasuistik yang mendasar. Sekitar 2 kali agenda pembentukan lembaga itu diadakan dalam bentuk seminar kebudayaan kisaran tahun 2000-an, tapi nihil. Hingga yang terakhir, pada 25 Februari 2010, Dewan Kesenian Jombang dikukuhkan, itupun dengan munculnya secara tiba-tiba dana hibah 500 juta. Apakah dengan tidak mengalirnya dana hibah itu Dewan Kesenian Jombang tidak akan dibentuk?

Dinas Porabudpar Jombang penyorong utama pembentukan Dewan Kesenian Jombang itu. Ironisnya, hingga kini deadlock. Padahal sudah 3-4 kali rapat dan yang terakhir raker pun telah diadakan. Kiranya, ada “orang dalam” yang sedang “bermain” petak umpet dan bikin “telikung intrik”, lebih gelap dari puisi gelap, di sana.[2] Membuat kita kian sumpek dan bertanya-tanya, untuk apa sebuah dewan kesenian di masa yang penuh sengkarut dan pragmatis ini dibentuk? Lain lagi yang terjadi di Muara Enim. Seorang teman warga kota itu, Fikri namanya (aktor teater jebolan Komunitas Tombo Ati dan alumnus Fakultas Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Jombang), bercerita kepada saya tentang dewan kesenian di sana di mana memang SDM-nya minim kualitas. Tak mampu mengelola ketika dikucuri anggaran 250 juta pertahun. Maka dananya ditarik kembali oleh pemda.[3]

Nah, sekarang, bagaimana kita mencermati keberjalanan Dewan Kesenian Jawa Timur? Tampaknya lembaga ini terus bergeliat dengan semangat yang progresif dan selalu gemebyar agenda-agenda keseniannya. Dalam kepengurusan yang sekarang dipimpin oleh A. Fauzi, kita bisa melongok siapa sosok ini. Konon, dulu ia adalah seniman tari, seperti juga Heri Lentho Prasetya. Yang keduanya kini tak lagi menekuni tari.[4] Dunia tari Surabaya khususnya, terasa kehilangan gregetnya, malah nyaris tidak terdengar generasi penerusnya. Komite teater ada R. Giryadi, sementara di luar dia banyak pegiat teater Surabaya yang terus menggali spirit kebaruan berkaryanya, semisal Zainuri dan Hanif Nasrulloh. Kendati begitu, persoalan teater di Surabaya yang agak tertatih-tatih masih sepi dari kritik, eksplorasi, dan koreksi.[5] Dan Biro Sastra DKJT dimotori penyair dan novelis Mashuri. Rata-rata pejabat di DKJT ini adalah seniman yang sekaligus mengurusi kesenian. Perlu dipikirkan juga, apakah sudah tepat misalnya di tubuh DKJT yang mengurusi kesenian adalah seniman juga? Kadang saya menyayangkan, sejumlah teman seniman yang sebenarnya masih punya kesempatan panjang dan potensial dalam upaya proses kreatif kekaryaan menjadi seolah-olah mandul dan kering dalam keberkayaannya. Birokrasi dan tetek-bengek urusan administratif demikian menyedot banyak waktu dan konsentrasi. Jadi kian berat mempertahankan keajegan dan konsistensi dalam berkarya.

Mungkin perlu adanya semacam penyegaran bahwa yang mengelola DKJT secara teknis di lapangan adalah orang-orang selain seniman, dan mereka paham bagaimana menjalankan tugas-tugasnya.[6] Para seniman bisa dijadikan semacam penasihat. Paling tidak ini upaya meminimalisir kasak-kusuk tidak produktif dan kesan “politik kesenian” yang sering dialamatkan pada DKJT. Kesan DKJT berperan lebih banyak sebagai EO (even Organizer) penting untuk dipelototi.[7] Juga soal penerbitan buku dan Majalah Kidung.[8] Ini sungguh menyodok dan bikin gerah. Sorotan dan gugatan demikian memang tak terelakkan, selain problem pribadi antar seniman yang lebih complicated.

Mencermati situasi DKJT demikian, saya coba membaca pertalian erat yang saling pengaruh-mempengaruhi antara lembaga tersebut dengan kondisioning sastra dan komunitas sastra di Jatim saat ini. Ada empat pembacaan. Pembacaan ini mengacu pada relasi ruang sosial sastra dan penggiatnya, lokalitas, efek gerakan sastra, etos kreatif, serta tantangannya.

1. “Sastra DKJT” dan Gerakan Sastra Komunitas

Ketika membincangkan ihwal realitas sastra Jatim, kayaknya pencermatannya bisa nabrak ke mana-mana dan tidak fokus. Pertanyaan entengnya, realitas sastra Jatim yang bagaimana? Data macam apa dan sejauh mana geliat sastra yang bergerak di 38 kota/kabupaten di Jatim? Ini data yang butuh kerja raksasa dan tidak main-main. Mungkin, secara kasarnya, realitas sastra dan itu menjadi mainstream sastra Jatim saat ini adalah “realitas sastra DKJT”: yakni agenda-agenda sastra yang dihelat Komite Sastra DKJT, yang terkadang bekerja bareng dengan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dalam bentuk forum diskusi Halte Sastra. Tentu tidak menafikan geliat komunitas lain di Surabaya seperti Komunitas Esok, Srawung Art, Komunitas Luar Pagar, Komunitas Rabo Sore, Komunitas Tikar Pandan (Iqbal Baraas di Banyuwangi), Komunitas Lembah Pring (Jabbar Abdullah di Jombang dan Mojokerto), dll. Dan yang terbaru ini telah muncul Forum Sastra Gokil (FSG) yang dipawangi Mardi Luhung,[9] dan digerakkan A. Muttaqien dan kawan-kawan. Nongolnya forum baru semacam ini tetap bermakna, bahwa berdiskusi dengan nongkrong-nongkrong nyantai di warung kopi untuk mengudar berbagai gagasan dan wawasan, dari yang muda sampai yang tuek, harus terus disengkuyung bersama. Sebab pertemuan secara langsung memiliki daya “bakar kreatif” sendiri dibanding di “kamar onani facebook”.

Maka Komite Sastra DKJT ibarat obor sastra Jatim yang berpusat di Surabaya, yang tak henti gelisah mengulik identitas wilayahnya. Banyak even sastra yang tergelar di sini. Tulisan ini bukan berupaya memetakan. Karena saya bukan ahli ukur tanah. Bukan berarti pemetaan sastra atau komunitas sastra tidak penting. Sangat penting. Dan itu sejatinya tugas bagi siapa pun, lebih-lebih bagi lembaga seperti DKJT. Sebab realitas sastra Jatim cakupannya luas sekali, dan memang nggak terlalu mendesak didiskusikan.

Saya cenderung tertarik menghubungkan tema di atas pada bahasan totalitas berkarya beberapa penulis, misalnya pada Mardi Luhung, Mashuri, dll. Atau para cerpenis generasi muda Jatim seperti Diana AV Sasa (Pacitan), Hanif Nasrulloh (Surabaya), S Jai (Lamongan), Ahmad Rofiq (Gresik), MS. Nugroho (Jombang), Iqbal Baraas (Banyuwangi), Mahwi Air Tawar, dan beberapa penulis muda Madura lainnya seperti Lukman Mahbubi, Juwariyah Mawardi, Mawaidi MD, dan Badrul Munir Khoir. Jadi, persoalan sastra kita sebernarnya adalah bagaimana membangun kegetolan berkarya, karena itu pada puncaknya jelas mengimbas pada karya juga.

Perkara lain adalah ruwetnya psikologi penulis terkait motivasi berkarya dan “iman” kepengarangan. Semua pengarang berjibaku di sini. Bertarung demi menembus koran nasional dan ini pertaruhannya adalah kualitas karya dan totalitas berkarya. Tentu hanya yang terpilih yang disortir redaktur koran untuk dimuat di antara ratusan karya. Otokritik jadi penting juga, yang jika diabaikan kerap melahirkan over subyektivitas, narsis, dan sinisme pada karya orang lain. Di sinilah “iman” kepengarangan diuji: bagaimana karya terus ditempa dengan berpijak pada pertarungan batin personal dan ruang sosialnya. Karya-karya D Zawawi Imron dan Mardi Luhung membuktikan itu. Keterlibatan yang bisa “umup” dan “istiqamah” dalam mengeksplorasi identitas kultur-sosialnya, bukan cuma modal imajinasi, tapi riset serius.[10] Karya yang besar akan muncul sendiri menembus masa depan.

Maka komunitas sastra yang telah dibentuk sejumlah kawan paling tidak diharapkan mampu melahirkan suatu gerakan sastra yang militan dan punya visi yang jelas. Kita belum menemukan itu di Jatim.

2. Labirin Setan “Sastra Facebook”

Duduk berlama-lama. Dari pukul ke pukul. Jam dinding sekarat. Meleleh ke mulut. Matanya bunar. Bunarnya menggerogoti usus. Mengunang-ngunang semalaman seharian. Mengamati status sendiri, teman, orang lain. Pikiran ngleyang ke entah. Sudah lama gagasan buntu. Kayak peceren. Mencari sesuatu. Untuk apa? Untuk basa-basi. Mungkin semata busa-busa kata. Digelisah siapa, diburu apa? Hilang lagi. Apalagi yang menjelma hantu di tengkuk. Bayangan sendiri, menghantui leher sendiri. Cari angin magrib. Putar film Love Song for Bobby Long. John Travolta yang kacau. Rambut putihnya amat puitik. Jadi cacing cemas. Scarlett Johannsen aduhai sintalnya. Lawson yang murung terkubur kenangan romansa Eliot dan Dickens. Kenapa dimatikan. Membuka layar baris puisi lagi. Puisi ini harus selesai. Dangkal! Buang! Ya, di sana. Ini dia. Yang lama ditunggu-tunggu. Yang luput tertangkap. Jalanan ramai. Kendaraan bergerung-gerung. Pikiran akan puisi, kota, ampas imajinasi, tak bisa dihentikan. Mengalir terus. Tubercolusis ini, ambeyen, maag, kesemutan, migren, welahdalah. Benarkah begini. Cuma rematik. Mampus juga biar. Tapi pekiknya melambat. Merayapi tenggorokan. Invictus diputar lagi. Mandela tak mati. Melayap lagi. Bensin habis. Ada yang memberat ditulis. Dikibuli. Ancrit tenan! Tidak sekarang. Ada laki-laki iseng nungging. Perempuan gendeng tengkurap.

Hai lihat status baru itu! Status bugil yang mengular. Seperti mayat busuk. Ah, tidak jadi. Malas komen. Bau bangkai babi. Berpikir lagi. Jari-jari kram. Air telinga meleler. Langit tetap cemerlang purnama. Pipinya merona. Jalanan macet. Koran-koran beterbangan! Mau apa lagi ya? Ini sungguh darurat. Ah, nggak juga. Ia menggebuk komen itu sana-sini. Ini harus dihapus. Biarkan sebentar. Nunggu komen baru. Rokok minta dikepulkan. Perih asap di mata. Kopi tinggal kerak. Ada yang kangen kopi unthuk dari Gresik. Beli rokok lagi. Asbak mana ni? Datang ke acara itu nggak ya? Alamatnya tak jelas. Di rumah saja. Atau nongkrong ke warung sebelah. Cari inspirasi, sepotong puisi, puisi gagal, separagrap cerpen dan esai. Ah, suntuk. Busuk. Dihajar bosan dan kantuk. Nulis ngawur saja. Tentang kebrengsekan seniman ini lembaga itu. Puisi jelek ini puisi bagus itu. Bla-bla-bla. Muter-muter dari lidah ke pantat. Di sini lebih baik. Di medan cyber. Kumpul-kumpul juga hanya jadi kentut. Oh, kentut kotaku yang hiruk bertempikan. Nyesaki dubur. Si Kontet misuh: Jancok!

Demikianlah sepentil ilustrasi dari kolong penggila facebook sebagai salah satu medan ekspresi sastra yang tak terelak lagi di jaman Blackberry ini. Perkembangan teknologi yang supercepat kini bergerak zig-zag menerobosi kita: menciptakan harapan sekaligus kotoran. Harapan dalam arti teknologi informasi telah mengaruskan berbagai jenis saluran informasi dari seluruh penjuru dunia, dan setiap orang hilir-mudik di dalamnya. Melalui teknologi itu pula kita menyaksikan suatu interaksi sosial, lanskap “dunia rata”, “dunia ulang-alik” di mana siapa saja bisa menumbuhkan jaringan sosial dan menjadi pelaku dalam percaturan aneka pergaulan.[11]

Dalam konteks itu, kiranya kehidupan sastra yang memang berurusan dengan tulisan, bisa lebih dapat dikembangkan. Jika dahulu kita sangat tergantung kepada dunia percetakan dan penerbitan yang berpusat di kota-kota besar, yang seiring juga dengan pembentukan selera, citra dan nilai yang cenderung sentralistik, kini melalui teknologi informasi yang bersifat cyber yang sudah ada di mana-mana, setiap penulis bisa mengakses dan menyampaikan karyanya kepada siapa saja. Penulis sekaligus sebagai “redaksi” yang menyeleksi karyanya yang dianggap bisa dinikmati oleh semua warga dunia maya itu. Tentu ada dampak negatif. Karena setiap orang bisa saja menulis karya sastra dan mengirimkannya, maka karya dengan mulusnya bisa lolos, dan mungkin konsekwensinya juga dunia maya akan dibanjiri oleh karya sastra yang kurang bermutu bahkan buruk.

Tapi “efek samping” itu tidaklah terlalu benar. Sebab, dalam belantara cyber juga terdapat interaksi kritis, bahkan skala kekritisannya melebihi dibandingkan dalam dunia penerbitan. Jika dalam dunia penerbitan kapasitas kritis hanya dipegang oleh sang kritikus, kini siapa saja, di samping sebagai penulis, juga bisa menjadi kritikus atau perusuh. Polemik yang baru-baru ini terjadi terkait terbitan buku Pesta Penyair yang diterbitkan Komite Sastra DKJT mencuatkan berbagai dialektika krusial seputar gonjang-ganjing sastra di Jatim baru-baru ini.[12] Menyedot keterlibatan kritis dari luar, seperti getolnya Saut Situmorang dkk terkait problem sastra Jatim dengan sengkarut permusuhan Boemipoetra versus TUK. Sebagai contoh, unggahan facebook Jabbar Abdullah (Komunitas Lembah Pring Jombang) ihwal tulisan tanggapan AF Tuasikal berlambar “Skandal TUK Manipulasi Sastra Jatim”, yang dimuat di harian Kompas Jatim (27/8/2010) terhadap tulisan Beni Setia dan Dwi Pranoto sebelumnya. Ini bukti percekcokan di jagat facebook, bukan lagi di forum diskusi. Apa pun dan dengan siapa pun mereka bisa perang gagasan sampai cakar-cakaran di sini.[13]

Kondisi ini menunjukkan demokratisasi sastra yang membludakkan pecahnya ruang sosial yang dulunya tidak seperti itu. Penuh gejolak, intrik, dari yang bersifat politis, main-main, serampangan, dan serius.

3. Mampetnya Sastra Pesantren

Peranan pesantren dalam sejarah dunia literasi di Indonesia tak dapat dielakkan pengaruh besarnya. Hanya saja kini nyaris tak ditemukan denyut bagaimana sastra pesantren dikembangkan secara intens sebagai suatu gerakan kebudayaan islami. Dari kalangan muslim di luar tradisi pesantren, Forum Lingkar Pena (FLP) telah menunjukkan gerakan kepenulisan yang fleksibel dan progesif. Padahal jika ditilik secara kuantitatif, jumlah pesantren di Jatim sangatlah banyak. Bahkan ratusan. Di Jombang saja, pada 2008, jumlah pesantren berkisar 83 pesantren. Kediri 150-an. Belum lagi di wilayah tapal kuda: Jember, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Tentu kini hitungan itu makin berbiak. Wilayah Madura apalagi, dan Sumenep yang paling menunjukkan geliat itu.

Satu catatan kecil, Ponpes Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang yang bekerja sama dengan RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) dan jaringan intelektual NU menggelar Halaqah Nasional Kebudayaan Pesantren pada tanggal 22 – 23 Agustus 2008. Acara yang diadakan di aula masjid Ponpes Tebuireng tersebut mengusung tema “Kebangkitan Sastra Pesantren”.[14]

Kegiatan ini menunjukkan gairah menulis para santri ponpes Tebuireng khususnya, dan para undangan yang datang dari beragam wilayah di Jawa. Ini mengingatkan kita pada tahun 1998 di mana pernah digelar Kongres Kebudayaan Pesantren di Ponpes Pandanaran di Magelang, Jawa Tengah, yang menghadirkan Menteri Agama Thalhah Hasan, Dr. Simuh, Ahmad Thohari, dll.

Kontribusi dari kegiatan semacam ini sangatlah penting sebagai jejak untuk meniti arah perkembangan ke depan. Karena pesantren sejak dahulu merupakan basis intelektualisme lslam yang cemerlang yang kini memerlukan reorientasi dan cakrawala baru dalam memaknai dan menumbuh-kembangkannya. Tentu, halaqah ini, ke depannya, dapat lebih difokuskan pada semisal, workshop kepenulisan yang ajeg dan bervisi jelas. Sejumlah penulis berbasis pesantren dari berbagai daerah turut menyemarakkan acara ini seperti, Sachri M. Daroini (Magelang), Isma Kazee (yang juga redaktur Mata Pena [lini Penerbit LKiS], Yogyakarta), Zaki Zarung (Yogyakarta). Hadir pula saat itu penyair M. Faizi (dari Ponpes An-Nuqayyah, Guluk-guluk, Sumenep), dan Dadang Ali Murtono dari Pacet, Mojokerto. Kedua penyair ini puisinya masuk dalam antologi dua belas penyair mutakhir Jatim 2008.

Kita perlu muhasabah dan mengharap respon positif dari kalangan sesepuh pesantren: bagaimanakah kiprah dan kontribusi pesantren sebagai wilayah produksi kebudayaan agar tidak lungkrah (terbengkalai) dan bermelodrama dalam tradisi masa silam semata. Dalam perkara ini, kebudayaan bukan hanya dalam bentuk seni-budaya saja. Kita tahu bahwa banyak bentuk seni-budaya NU yang kini boleh dikatakan berkembang dan ikut bersaing, dan mendapatkan apresiasi masyarakat, seperti musik gambus (di Jombang misalnya ada Gambus Misri), hadrah, komunitas rebana dan lainnya. Bahkan dalam dunia sastra modern, kita juga melihat akar potensi sastra pesantren walaupun belum memiliki wujud yang signifikan. Perlu pula pendataan komunitas sastra di pesantren. Mlempem-nya pemikiran kesusatraan (lebih luas dalam konteks kebudayaan) pesantren harus segera diwujudkan. Setidaknya dijadikan bahan refleksi.[15]

4. Penggerak Sastra Lokal

Derap teknologi yang kian menderas terlebih perkembangan media internet perlu dipikirkan kembali oleh para penulis sastra lokal yang memiliki orientasi kepada upaya untuk mengembangkan nilai pengaruh karyanya, di mana dunia internet bisa dimanfaatkan secara efektif. Karena akses penerbitan karya masih jadi kendala. Sekaranglah kondisi yang sangat memungkinkan karya sastra dengan bobot nilai sejarah lokal bisa diketahui secara intensif oleh siapa saja. Dan sangat memungkinkan dengan interaksi yang intensif itu terciptalah kritik dari perspektif sejarah lokal lainnya, yang secara positif memungkinkan dinamika pembaharuan akan nilai sastra dari sejarah lokal masing-masing.

Hanya masalahnya sekarang, sejauh manakah penulis sastra lokal benar-benar memiliki spirit sebagai periset; kapasitas riset perlu dikembangkan melalui penajaman metode dan pendalaman berbagai data, fakta serta pencarian sumber-sumber baru lainnya dengan kupasan kritis. Jika saja setiap penulis sastra lokal bisa menerapkan hal ini, bahkan pada tingkat data, fakta serta kupasannya saja, sudah menarik, dan hal itu sangat memungkinkan untuk proses pembaharuan karya serta terciptanya sastra “masa depan Indonesia”.

Dengan kondisi yang kian terbuka dan seluruh jagat bisa dijembatani oleh dan melalui dunia internet, tantangan bagi penulis sastra lokal untuk kembali mencari akar dari kehidupan sastranya: sejarah sosial, kerangka nilai-nilai pendahulu yang pernah ada di sekitar wilayahnya; revitalisasi dengan kesadaran visi ini sungguh menggembirakan, dan kemajuan teknologi informasi bisa menjadikan hidup lebih manusiawi melalui sastra lokal. Inilah yang saya sebut sebagai “sastra keterlibatan”, memiliki empati pada basis sosio-historisnya. Ini sekaligus untuk menepis bahwa tidak semua penulis cuma berkutat dalam “kamar sunyinya” sendiri, melulu berkarya bermodalkan imajinasi.

Kaitannya dengan komunitas sastra, penggerak sastra lokal di berbagai daerah di Jatim sangatlah banyak. Tidak adanya pemetaan juga mengaburkan pendeteksian, dan ini persoalan lawas.[16] Sastra lokal bisa pula mengacu pada sejumlah penulis yang berkarya dan menerbitkan karya dengan koceknya sendiri. Dan Lamongan adalah gudangnya. Kita bisa menyebut Nurel Javissyarqi dengan Penerbit Pustaka Pujangga-nya, Alang Khoiruddin (Penerbit Pustaka Ilalang), AS Sumbawi (Penerbit Sastranesia), dll. Puluhan karya sastra baik dari penulis Lamongan sendiri maupun dari luar banyak yang mereka terbitkan.

Perkembangan penerbit dan komunitas sastra sejatinya digerakkan hanya oleh segelintir orang. Konsistensi dan militansi personal untuk menjadikan sastra sebagai gerakan literasi (tradisi membaca dan menulis) memang berat. Komunitas Rumah Dunia yang dipandegani Gola Gong dan Firman Venakyasa di Serang, Banten, adalah salah satu contohnya. Peran sosial sastra dalam ruang lingkup di kampung Ciloang itu telah menjadikan Rumah Dunia dan agenda tahunan Ode Kampung terapresiasi secara luas di wilayah Jawa Barat, bahkan gagasan-gagasan gerakan literasi mereka menasional.[17] Keterlibatan warga dengan anak-anak dan khususnya generasi muda dalam dunia menulis, membikin film indie, mengembangkan perpustakaan Jendral Kancil, dll, merupakan satu strategi personal dan mampu menjadi sebuah gerakan sosial untuk mengembangkan SDM masyarakat setempat.

Nah, di Jatim kayaknya masih adem-ayem. Belum kelihatan sosok seperti Gola Gong yang, selain tetap produktif menulis, jaringan Rumah Dunia dengan komunitas lain terjalin baik, misalnya dengan FLP, dan sejumlah pentolannya seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dll.

Dan jika boleh dibilang mainstream sastra di Jatim adalah “sastra DKJT” (baik agenda-agenda sastranya maupun hasil penerbitannya) di samping kita mengakui wilayah derap sastra yang lain seperti Jakarta, Jogja, Solo, Bandung, Riau, Lampung, dll, di Jatim tetaplah tidak bisa diabaikan keberadaan komunitas sastra yang lain yang bergerak dalam bingkai yang sama, meski belum tampak sebagai sebuah “gerakan” dan pengaruhnya tidak secemerlang Rumah Dunia.

***

Mempertimbangkan apa pentingnya sebuah dewan kesenian dalam upaya menumbuhkan etos kerja kreatif penulis dan komunitas sastra di Jatim di saat ini dan mendatang, menurut saya hal itu tek perlu metenteng dipikirkan. Semua pasti kembali kebarak masing-masing: pada kesadaran totalitas berkarya dan memberi arti pada ruang sosialnya. Jika memang dewan kesenian tetap dibutuhkan, lembaga itu haruslah dirancang berlandaskan, menurut Suyatna Anirun, pada “adab kesadaran”. Yakni kesadaran atas keberadaan para seniman atau budayawan secara umum maupun khusus, kesadaran atas keanekaragaman bentuk dan perwatakan serta kompleksitas problem kesenian yang ada. Kesadaran akan potensi serta prospek pengembangannya di masa depan. Dewan kesenian harus dibangun atas dasar “adab bebas/mandiri”, dan selanjutnya atas “adab integritas” dan “keseimbangan”.[18] Karena itu, diperlukan kewaspadaan dan pemikiran yang kritis akan “politik kesenian” dalam berbagai konteks, wacana, dan perubahan.

Tidak perlu kita terdesak melimbur diri dalam kepicikan, dan menadahkan tangan dengan mimik memelas pada pemerintah sebagai penopang atau sekedar ganjel bagi kekaryaan kita. Soal berkembang atau bobroknya kesenian dan masyarakat seni itu tanggung jawab seniman sendiri. Untuk itu keberadaan dewan kesenian harus bertolak atas dasar kebutuhan bersama. Jikalau kesadaran ini tak ada lantaran tetek bengek dan perkara tak mutu lainnya, tak usahlah terlalu nggerundel soal eksistensi dan kayak apa kerja pejabat “dewan kesenian”. Kita perlu lebih terusik untuk mengatasi berbagai persoalan nyata di sekitar kita, misalnya keterlibatan pesastra dalam perubahan sosial di lingkungannya.

Mungkin kita belum cukup beradab untuk bisa membentuk sebuah lembaga yang bersih dari pekatnya konflik kepentingan. Dan kehidupan sastra di Jatim semoga tidak jadi bemper dan bayang-banyang belaka di medan itu. Pegiatnya musti mandiri dan mencetuskan “revolusi kecil”nya sendiri.

Jombang-Tandes, 20 September 2010

[1] 10 wilayah kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Jawa Mataraman, Jawa Ponoragan, Arek, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Badura Bawean, dan Madura Kangean. Masing-masing pendukung wilayah kebudayaan ini pada umumnya menempati wilayah tertentu dan mengembangkan lingkungan budaya yang khas jika dibandingkan dengan wilayah budaya lain. Pembagian wilayah kebudayaan ini bukan sesuatu yang final. Lihat Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan (Ed), Pemetaan Kebudayaan di Propinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Diterbitkan oleh Biro Mental Spiritual Pemerintah Propinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kompyawisda Jatim-Jember. 2008. Hlm. iv-v.

[2] Baca uraian sengkarut problem dalam artikel lain saya: “Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto Soal Seni-Budaya Jombang”, Radar Mojokerto, April 2010; “Menimbang Visi Kebudayaan Dewan Kesenian Jombang”, Radar Mojokerto, Mei 2010; “Membangun Fondasi Seni Tradisi Jombang”, Radar Mojokerto, Juni 2010.

[3] Kasus lain misalnya Di Jawa Barat, terkait dengan gak pahamnya pemerintah dengan fungsi dewan kesenian. Ini terjadi pada tahun 2000 (lewat lansiran koran Pikiran Rakyat) tentang pembekuan DKDJB (Dewan Kesenian Daerah Jawa Barat). Memang mengenaskan. Ketaksepengertian mengenai fungsi dan tugas-tugas DKDJB bagi pihak Pemda DT I maupun pengurus DKDJB sendiri. Tak pernah ada penyelesaian. Dan gedung dewan keseniannya terbengkalai sebelum difungsikan. Entah kini bagaimana. Baca: Suyatna Anirun, Catatan Budaya (Bandung: Etnoteater Publications, 2002).

[4] Dalam sekian kali kluyuran saya ke Solo untuk menyaksikan beberapa jenis pertunjukan teater, tari dan musik, saya sempat berbincang-bincang dengan Halim HD, seorang budayawan dari Forum Pinilih Solo, yang lumayan paham dengan dunia pertunjukan di berbagai daerah. Melihat kota Solo yang demikian bergairah dalam berbagai pertunjukan, saya bertanya padanya: bagaimanakah dengan perkembangan tari di Surabaya atau Jawa Timur? Ada beberapa pentil catatan dari obrolan itu.
Pada periode tahun 1990-an Surabaya memiliki beberapa koreografer muda berbakat yang lumayan handal dan pernah memasuki ajang bergengsi. Periode itu sebagai suatu jembatan pembaharuan dunia tari dengan munculnya Achmad Fauzi melalui penata tari muda dari Jakarta, dan sempat pula ia mencicipi kunjungan ke Amerika dalam program American Dance Festival. Tapi, entah kenapa, arek Madura yang dulu digadang-gadang akan tampil sebagai koreografer mantap ini nampaknya kemudian melarut melakoni keseniannya sebagai EO (event organizer). Di samping Achmad Fauzi yang kini menjadi juragan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), ada sosok Arief Rofiq, yang sebagai penari ciamik dan memiliki basis kuat dalam khasanah lokal, juga termasuk dalam hitungan koreografer muda yang dipandang potensial mengangkat Surabaya dan Jatim ke tingkat nasional dan internasional. Pendiri Raf Raf Dance Company ini memang pernah beranjangsana membawa grupnya ke berbagai negeri di Eropa dan Australia mewakili Jatim. Sayangnya, ia sibuk dengan birokrasi di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) dan sekarang menjadi staf Dinas Parsenibud Jawa Timur. Dan ajang tari kontemporer Surabaya kayaknya sepi sejak 10 tahun terakhir ini.

Salah satu koreografer yang juga banyak mengisi dan belakangan nampak sibuk dengan jaringan antar bangsa melalui movement art, Parmin Ras, yang berusaha dalam karyanya menggabungkan antara khasanah lokal yang bersifat spiritual dengan konsep tari moderen-kontemporer. Pada tahun 1990-an juga muncul salah seorang aktivis mahasiswa yang memiliki wawasan luas dalam teater, musik dan juga tari dan dengan bobot politik hadir di Surabaya, Heri “Lentho” Prasetya. Muncul di Festival Seni Surabaya, lalu Indonesia Dance Festival di Jakarta, Makassar Dance Forum, Makassar Arts Forum, dan berulang kali mengisi berbagai forum tari kontemporer dengan pendekatan teater-tari. Lentho, yang oleh sejumlah networker kebudayaan Solo dianggap salah seorang yang mampu mengawinkan antara kesenimanan dan sebagai organizer serta sangat paham dengan berbagai peta khasanah seni pertunjukan di Jawa Timur. Kurator seni pertunjukan itu bahkan punya harapan, jika saja Lentho punya fokus pada teater-tari. Tapi, sayang, katanya terlalu sibuk dengan lembaga yang digelutinya sekarang ini.

Ilustrasi itu membuat kita getun (menyesal), dan bertanya-tanya, kenapa Surabaya dan Jawa Timur yang memiliki perguruan tinggi seni jurusan tari semisal Unesa, STKW dan UNM tak melahirkan banyak penari dan calon koreografer; dan kenapa pula mereka yang pernah malang-melintang selama 10 tahun lalu undur dari panggung? Padahal, telisik Halim HD, Surabaya (dan Jakarta) adalah salah satu kota yang memberikan inspirasi dunia tari moderen melalui balet. Keluarga Sijangga adalah salah satu tokoh balet klasik dan moderen di mana pada era 1960-an sampai 1970-an terbilang begitu kondang. Dengan catatan peristiwa ini, kita kembali bertanya-tanya, kenapa sejarah tari moderen-kontemporer di Surabaya dan Jawa Timur tidak langgeng, tidak memiliki keberlangsungan yang ajeg (konsisten) sebagaimana di Solo, Jakarta dan Jogjakarta? Mungkin dibutuhkan sejenis forum-forum yang kontinyu agar muncul kembali gairah itu, dan para dedengkot kembali berkarya-cipta, serta para calon koreografer bisa melihat dan melanjutkan jejak yang pernah ada. Menurut saya, Surabaya dengan berbagai institusi keseniannya yang kini bergairah perlu mewujudkan forum itu, agar Surabaya kembali diperhitungkan dalam persada tari kontemporer Indonesia.

[5] Kenapa teater di Indonesia kian redup, dan kenapa pula kehidupan teater di berbagai kota yang dahulu dianggap sebagai wilayah pertumbuhan dan perkembangan teater yang begitu kuat, lalu nampak seperti pudar, misalnya Surabaya atau Malang yang pernah tercatat sebagai dua kota di Jatim yang memiliki tradisi teater moderen yang kuat?

Pertanyaan ini sering saya dengar dari pekerja teater di dalam dan di luar kampus. Boleh jadi jawabannya bisa kita kopi-paste dari pekerja teater di Bandung. Pada Desember 2008 saya pernah kebetulan mampir ke Bandung (setelah mengunjungi acara Ode Kampung di Rumah Dunianya Gola Gong di Serang) dan nongkrong di sana beberapa hari, ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dari beberapa dedengkot teater seperti Rachman Sabur, Benny Yohannes dan banyak yang lebih muda lagi, menyatakan bahwa teater di Bandung hidup bukan hanya karena pekerja teater yang terus bergerak dan berproses. Tapi juga dukungan media massa. Pendek kata adalah pemberitaan. Pentingnya ulasan atau kritik. Apa yang ditulis Suyatna Anirun (alm) yang dengan telaten telah menunjukkan ulasan serius pada setiap peristiwa pementasan. Tradisi ini terus intensif hingga sekarang. Karena itu teater di Bandung tetap mempertahankan spirit keseniannya, selain bertarung untuk kehidupan diri dan ngopeni keluarga sehari-hari. Meski di Jatim dahulu ada Max Arifin (alm) yang juga sering nulis kritik teater.

Interaksi antara kehidupan teater dengan media menjadi konsekuensi logis dari kehidupan kesenian di kota. Cermati pula apa yang dibilang bos Jawa Pos, Dahlan Iskan, yang menyatakan bahwa pembaca kesenian tidak lebih dari 2%, bahkan kadang kurang dari satu persen. Wajar jika media tidak hirau kepada pementasan teater, terkecuali grup yang sangat kondang misalnya dengan aktor “raja monolog” Butet Kertarejasa. Pentas sejenis ini menjadi suatu perkecualian, bahkan disambut media dengan gempita.

Saya juga pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang redaktur seni-budaya sebuah koran nasional, yang menyatakan, pada setiap periode tertentu, perhatian pembaca kepada kupasan kesenian berbeda-beda. Dulu teater kuat, dan senirupa kurang begitu ada gaungnya. Kini terbalik, sejak 15 tahun terakhir ini, senirupa menduduki ranking tertinggi untuk kupasan seni-budaya, lalu disusul oleh musik, tari, sastra, dan teater yang paling bontot!

Soal lain lagi kenapa media tidak memuat kupasan teater adalah karena semakin sepinya pengulas teater yang bagus. Kalaupun ada si pengulas hanya memuji-muji, dan merosot persepktif kritiknya. Hal itu saya dengar dari beberapa redaktur yang menganggap bahwa di daerah makin langka kritikus teater yang mumpuni. Ini sungguh ironik. Ketika dunia akademis, khususnya fakultas budaya jurusan bahasa Indonesia yang juga mengenalkan berbagai bentuk teater beserta teori serta sejarahnya, kenapa pula kritikusnya kian langka? Seolah ada kesan bahwa menulis kupasan teater sebagai beban yang mengotori pikiran dan posisinya?

Di Surabaya, katanya dulu pernah ada sosok Basuki Rachmat (alm) dan Akhudiat yang dianggap piawai dalam mengupas teater, dan di Malang ada Hazim Amir (alm) yang dengan rajin menulis, sehingga orang-orang teater bisa belajar dari kupasannya. Dan kini, sesungguhnya terdapat, mungkin, seratusan lulusan bahasa Indonesia yang skripsi S1 dan S2-nya tentang teater, tapi kenapa pula tidak ada ulasan. Ataukah teori yang diberikan memang tak setajam dan segairah teater di atas panggung, yang kini kian kosong, dan hanya ada satu atau dua grup yang masih setia di antara media yang hanya sesekali memberitakannya. Barangkali kita memang sudah tidak butuh kritik.

[6] Hal ini seiring dengan pendapat Sahlan Husain (sekretaris umum DKJT) dalam tulisannya berjudul “Fungsi Manajerial Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 24.). Ia menyebut bahwa di Negara Asia lain, seorang figure ketua dewan kesenian dipercayakan kepada seorang doktor manajemen. Ia bukan seorang seniman, karena disiplin seniman sering tidak efektif dalam mengelola seni. Pola pikir seniman lebih banyak intuitif, spontan, dan tanpa perencanaan matang, serta lebih cenderung individual. Sementara, kalau ia berlatar belakang disiplin menajmen, biasanya lebih memiliki potensi untuk berpikir lateral (kreatif dan kaya akan terobosan-terobosan baru).

[7] Posisi DKJT itu kan mediator, penyambung lidah spirit seniman, menyorong kegiatan kesenian di daerah, komunitas-komunitas seni, menjembatani dengan gagasan pemikiran kesenian dan kebudayaan untuk dijadikan pertimbangan pemerintah, mengurangi perannya sebagai produsen karya, fokus memberikan motifasi, sebagai fasilitator bagi seniman untuk meningkatkan karya, melakukan pendataan komunitas seni (sastra) di mana hal ini sering didengung-dengungkan namun tak kelihatan hasilnya. Baca Tengsoe Tjahjono “Perhatikan Kebangkitan Kesenian di Daerah”, di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 39). Lembaga ini dibentuk memang dengan tujuan untuk menguatkan seluruh potensi kehidupan kesenian di Jatim, seperti yang dikatakan A. Fauzi (ketum DKJT) dalam “Menguatkan Seluruh Potensi Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 23). Menurutnya, dua peran DKJT adalah: sebagai pemikir dan memberikan usulan kepada Pemprov Jatim tentang strategi kebijakan di bidang pembangunan kesenian dan sebagai mitra bagi institusi terkait di bidang seni budaya dan Dewan Kesenian se Jatim yang secara koordinatif mendorong meningkatkan kualitas, aktifitas, dan fasilitasi. Demikian ungkapnya. Maka dari itu, tujuan dan peran ini setidaknya bukan cuma dijadikan slogan semata. Seringkali A. Fauzi dalam berbagai forum seminar menariknya dalam wacana “industri kreatif”. Katanya konsep ini mengacu pada bahwa seni budaya sebagai fakta ontologis yang bernilai ekonomi, mampu menciptakan industri yang berbasis pada kreativitas. Jika boleh mampir nanya, apa bukti konkrit DKJT sudah menjalankan itu? Ukurannya apa? Pada basis sosial yang bagaimana wacana itu diwujudkan? Soal kemandirian DKJT sendiri saja lembaga ini masih tergantung pada Pemprov. Paling tidak kemandirian DKJT ke depan dapat terealisir sebagai lembaga yang independent yang bisa bergerak lebih luas dan luwes.

[8] Tentang penerbitan buku, saya merujuk pada buku terbitan DKJT yang berjudul Orde Mimpi (2009). Ini kumpulan naskah drama R. Giryadi. Yang satunya adalah Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (kumpulan esai) karya Ribut Wijoto. Bagi saya alangkah lebih baik 2 buku tersebut diterbitkan di luar DKJT. Kenapa? Karena 2 buku ini karya pengurus DKJT. Soal Majalah Kidung, sudah menarik, hanya saja terlalu sering pengurusnya sendiri yang mengisi macam-macam rubrik di situ. Perlu juga mengundang pengulas luar Jatim, agar tumbuh dialektika dan sinergitas yang ciamik. Catatan ini beranjak dari obrolan saya dengan Mas A. Fauzi dan Mas Lentho, juga Pak Nasrul Ilahi (Disporabudpar Jombang) di warkop Pujasera Kebonrojo, di malam hujan deres sebelum pengukuhan Dewan Kesenian Jombang, pada 25 Februari 2010.

[9] Menurut Mardi, FSG hanyalah acara sastra acara biasa. Sekedar mengembalikan sastra ke dunia “imajinasi”-nya lagi. Gokil artinya gak medeni, gak patgulipat. Seger. Cengengesan. Agendanya 1 bulan sekali. FSG ini muncul di bulan Agustus lalu.

[10] Baca pengantar proses kreatif Mardi Luhung pada kumpulan puisinya yang terbaru Buwun (Pustaka Pujangga, Lamongan: 2010).

[11] Dalam kondisi seperti itu jika kita benar-benar menyadari berbagai khasanah seni-budaya yang demikian kaya di nusantara ini, kita dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pemahaman kepada siapa saja di bagian benua dan negeri lain, seperti juga kita bisa mengetahui segi kebudayaan dari warga lainnya. Karena itu, media cyber bisa menciptakan suatu kondisi toleransi dan saling memahami.

[12] Diawali dari sebuah tulisan Arif B. Prasetya yang dimuat di Jawa Pos, “Jawa Timur Negeri Puisi”, (25/9/2010). Lalu ditanggapi W Haryanto (1/8/2010), “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta” yang menyorot politisasi sastra dan sentralisasi sastra Jatim oleh pihak Jakarta. Kemudian dilanjut tulisan saya “Perang Sastra di Kandang Buaya”, (8/8/2010), dan dipungkasi oleh tulisan Beni Setia, “Belajar Sentosa Dengan Arif” (15/8/2010). Ini menjadi catatan penting bagi sejarah sastra Jatim.

[13] Misalnya Ribut Wijoto mengunggah sebuah tulisannya bertajuk “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan”, pada Kamis 26 Agustus 2010 (at 7:56pm). Esai ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Sinar Harapan (21 Agustus 2010). Dari esai Ribut itulah terjadilah adu mulut antara Nurel Javissyarqi dengan Nuruddin Asyhadie. Keduanya malah tidak secara spesifik membahas tulisan Ribut. Tapi tulisan Nurel yang dipamerkan yang kemudian disikat Nuruddien. Nurel balas menghajar. Berjumpalitanlah. Terjadilah hajar-hajaran. Penonton keplok-keplok di luar. Ini juga gambaran realitas sastra kita kini. Simulakrum media maya yeng membentangkan makhluk absurd “facebook”, si tentakel teknologi modern.

[14] Secara resmi Shalahuddin Wahid sebagai pengasuh pondok ini, dalam pembukaan acara, menyampaikan pentingnya merawat tradisi intelektual pesantren bahwa kaum santri jangan sampai meninggalkan tradisi menulis yang telah diteladankan para sastrawan terdahulu, baik dari tradisi Arab klasik hingga perkembangan intelektual Islam mutakhir di negeri ini. Sedang Said ‘Aqil Siraj menyampaikan dalam orasi kebudayaan tentang pentingnya kebudayaan pesantren sebagai pengokoh karakter bangsa.

Pada malam 22 Agustus, panitia menghadirkan pembicara D. Zawawi Imron, yang mengulik tanya-jawab dengan tulisan “Tradisi Menulis di Kalangan Santri”. Pun Jadul Maula, dari Yayasan LKiS Yogyakarta, menggulirkan makalah dengan judul “Kekuatan Karya Sastra Santri”. Ajang interaktif ini cukup membentangkan cakrawala pemikiran dan spirit yang inspiratif bagi para santri.

Sementara pada 23 Agustus, acara ditutup dengan renungan kebudayaan oleh Dr. Ir. Soedarsono dengan tema, “Menjadi Santri yang Berbudaya dan Berwawasan Kebangsaan”. Sebelumnya, dialog disemarakkan dengan kehadiran penulis novel kontroversial Syekh Siti Jenar, Agus Sunyoto dari Malang, yang menyorongkan tulisan “Menelisik Akar Sistem Pendidikan Pesantren”. Dr. Mastuki HS juga melemparkan diskusi dengan “Memperkuat Akar Budaya Bagi Revitalisasi Sistem Pendidikan Pesantren”.

[15] Satu catatan dari peristiwa diselenggarakannya Muktamar Kebudayaan NU di Ponpes Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta, pada 1 Februari 2010. Kegelisahan ini berakar dari kehidupan kebudayaan yang selama ini hanya ditangani secara sektoral dan setengah-setengah. Jika kita memandang posisi-fungsi NU dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan berkebudayaan, NU pernah memiliki masa kejayaan Lesbumi yang didirikan pada tahun 1950-an, sebagai wujud keprihatinan sekaligus ikhtiar NU dalam memroses reorientasi kebudayaannya hingga ke wilayah pedesaan. Hal inilah yang sesungguhnya menggulirkan masalah prinsip yang menjadi landasan NU mendirikan Lesbumi.

Sebagai organisasi sosial keagamaan, NU merasa perlu secara istiqamah untuk bukan sekadar di tingkat pusat dan propinsi dalam wilayah politik. Tapi bagaimana secara konsisten Lesbumi mampu mengelola kehidupan dan sistem kebudayaan pedesaan sebagai basis sosial-kulturalnya di antara perkembangan organisasi kebudayaan lainnya seperti Lekra (onderbouw PKI) dan LKN milik PNI yang masing-masing ikut juga menyasar wilayah pedesaan.

Namun tindakan prinsipil yang riil sehubungan dengan perkembangan NU yang terasa sekali dalam 20-an tahun terakhir ini terlalu banyak “bermain” di wilayah politik praktis yang berakibat NU tercerai-berai yang imbasnya warga mengalami kebingungan karena ketiadaan sosok panutan, seperti kiai sebagai barometer sosio-spiritual.

Apa yang kita harapkan secara mendasar dari NU pada masa kini dan yang akan datang adalah bagaimana suatu strategi kebudayaan menciptakan etos kerja yang tidak tergantung, sikap independen yang didasarkan kepada nilai-nilai religius, dan bagaimana menciptakan sistem ekonomi dari aspek kultural bagi warga pedesaan. Juga bagaimana ikut mengisi kehidupan kebudayaan nusantara dengan perspektif keberagaman seperti yang selalu disorongkan oleh Gus Dur selama ini. Pada sisi lainnya bagaimana NU membina dan mengembangkan secara terus-menerus nilai-nilai toleransi yang didasarkan kepada sikap kultural dalam konteks perkembangan zaman.

NU haruslah menyadari benar bagaimana penetrasi dan infiltrasi teknologi informasi beserta media hiburan yang bersifat konsumtif yang selama ini ikut menggiring kaum muda di kampung-kampung ke dalam berbagai bentuk pemborosan. NU tidak boleh menolak teknologi informasi dan media. Tapi bagaimana dengan etos kerja yang gigih dan kritis menjadikan sarana itu sebagai jembatan pengembangan ilmu dan teknik yang dimiliki oleh warga pedesaan. Dalam kaitan itu, betapa pentingnya NU secara terus menerus melakukan riset mendalam di berbagai bidang di wilayah pedesaan yang memang menjadi ruang sosial warganya.

NU sebagai organisasi sosial-religius perlu memikirkan bagaimana setiap daerah memiliki sejenis pusat-pusat penelitian yang benar-benar bisa dijadikan acuan bagi perkembangan warga secara praktis dan sekaligus ikut menyumbangkan perkembangan ilmu dan pemikiran di tingkat nasional. Sebab, jika NU tidak kembali kepada akar tradisinya dan mengembangkan potensi pedesaan, kota akan dijejali oleh urbanisasi, dan arus itu akan sangat merugikan posisi NU, karena mereka yang bermigrasi ke wilayah urban akan dengan gampang dilahap oleh iklan, gaya hidup hedonis, dan disorientasi nilai-nilai. Kita berharap kepada NU untuk merenungi perjalanannya dan menyusun strategi kebudayaan NU masa depan. Jika demikian keadaannya bagaimana bisa kita menggagas visi untuk mengembangkan sastra pesantren?

[16] Diana Av Sasa (cerpenis dan pegiat I:BOEKOE Jogja) suatu saat di kantin Balai Pemuda pernah ngobrolkan soal pemetaan komunitas sastra di Jatim dengan saya. Ia sendiri pernah mengusulkan bersedia didanai oleh lembaga mana pun untuk melakukan riset pemetaan itu dengan limit waktu 3 bulan. Tentu ia akan membentuk tim riset sebagai pengalamannya terlibat dalam riset pembuatan buku Almanak Senirupa Jogja. Hal ini tampaknya perlu direspon lebih lanjut.

[17] Bersama Halim HD dan Fahmi Faqih, saya sempat bertandang ke Rumah Dunia pada Desember 2008. Pada tanggal 5-7 Desember 2008, Ode Kampung III bertajuk “Temu Komunitas Literasi”. Agenda ini mencoba menyebarkan virus kebajikan melalui buku-buku dan gerakan literasi di Indonesia. Sedang Ode Kampung I “Temu Sastrawan se-Indonesia” dilaksanakan pada Februari 2006 yang dihadiri oleh 150 satrawan. Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra se-Indonesia” pada Juli 2007 yang cukup menghebohkan konstelasi kesusastraan Indonesia, terutama dengan “Pernyataan Sikap” yang ditandatangani oleh lebih dari 200 sastrawan. Ode Kampung IV akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Desember 2010 berlambar “Banten Art Festival.” Berbeda dengan Ode Kampung terdahulu yang lebih menggelar kegiatan diskusi, kegiatan kali ini memfokuskan pada wilayah seni pertunjukkan, mulai dari seni tradisional hingga kontemporer. Tontonan menarik mulai dari seni tari, musik, teater dan monolog, serta pembacaan puisi dari para penyair terpilih dari perwakilan kebudayaan di Indonesia dengan sajian lebih dari 25 pementasan. Selain itu, untuk merangsang minat pelajar dan mahasiswa serta khayalak, para seniman yang tampil itu akan diminta memberikan ilmu dan pengalamannya dalam bentuk workshop dan diskusi. Baca lebih lengkap di www.facebook/Venakyasa: “Ode Kampung #4: Banten Art Festival Di Taman Budaya Rumah Dunia”.

[18] Suyatna Anirun, “Peradaban Dewan”, Pikiran Rakyat, 26 Oktober 2000.

Senin, 06 Desember 2010

Obor Revolusi Sastra Komunis

Fahrudin Nasrulloh*
http://sastra-indonesia.com/

Jejak dari Pojok Kampung

Ada persepsi miring dan kelam hingga kini ihwal gerakan Partai Komunis Indonesia. Pertarungan politik dan ideologi dari masa ke masa memiliki momentum masing-masing. Penistaan dan pengasingan eks PKI, atau yang berada di selingkungannya, baik keluarga maupun sanak saudara, tidak mendapatkan tempat di negeri ini. Peristiwa Gestapu 1965 seolah menggebyah semua itu, dan kesejarahan komunisme di Indonesia kian memerah.

Satu-satunya saksi di mana kita bisa belajar bersama adalah dengan apa semua itu terkabarkan dan tertuliskan. Yang terceritakan barangkali sudah jarang kita temukan, lebih-lebih bagi generasi muda sekarang. Saya termasuk generasi yang lahir pada 1970-an yang di masa kecil saya benar-benar dihantui akan cerita-cerita “lubang buaya”. Terutama saat menonton film G 30S/PKI besutan Arifin C Noer itu. Umpatan giris “Darah itu merah, jendral!”, kala sosok perempuan di film itu mengayunkan silet di tangannya lantas mengiris pelan-pelan wajah sejumlah jendral, betapa masih terekam sampai sekarang. Lalu cerita-cerita itu bermunculan sendiri kala film tersebut usai atau di waktu lain saat jagongan dengan orang-orang tua tetangga saya yang mengalami masa gelap 1965 itu. Lek Ndani, diceritakan sebagai penjagal PKI dari barisan Anshor yang disokong TNI di Jombang. Ia pernah menangkap (dan banyak pula orang PKI yang telah dibantainya) dan menggeret seorang Gerwani (atau yang disangkanya Gerwani) ke pinggir pohonan pring di belakang rumahnya, di dekat persawahan. Gerwani itu dihajar disiksa, disiset kulitnya dalam sehari beberapa kali, agar ia bicara, agar ia bersuara. Tapi tidak. Lek Ndani pun mengajak tetangganya untuk melakukan hal yang sama, sesukanya dengan alat apa saja. Dalam waktu 3 hari yang perih-panas menyayat kuping, Gerwani itu mati, dan sekarang ia menjadi cerita setan yang gentayangan yang di malam-malam tertentu menghantui orang-orang yang lewat di situ.

Cerita itu menjadi “daging” memori yang tak pernah hilang. Penyembelihan dan pembantaian yang serupa ini banyak terjadi juga di daerah mana saja. Tidak hanya di buku-buku sejarah. Adik kakek saya, Man Lik, tinggal di kampung Njajar Santren, semasa hidupnya sangat bergelora dengan jiwa berjihad kala membabarkan pengalamannya tersebut kepada saya saat dia di Anshor dulu. Ia bersama 2 atau 3 temannya ditugasi menjagal orang-orang PKI (atau eks yang disangka PKI) yang kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anak. Ilmu kesaktian dan aji-aji kekebalan mereka tidak lagi diragukan. “Ada Gerwani yang hamil tua. Tapi ia harus disembelih. Agar saya tega dan tidak dihantuinya, maka, setelah menggorok dan memutuskan lehernya, saya angkat potongan kepala itu tinggi-tinggi, lalu darah mengucur deras dan saya mengglogoknya hingga tetes terakhir,” begitu ceritanya.

Di daerah kecamatan Wonosalam yang berhutan, di Jombang, yang kaya akan buah duren pertaniannya, diceritakan merupakan markas tentara dan simpatisan PKI dan menjadi tempat persembunyian pasca kegagalan Gestapu. Pun cerita Ludruk Arum Dalu dari Mojoagung yang merupakan underbow-nya Lekra yang disikat habis Anshor dan TNI di tahun 1965. Dalam penelitian ludruk Jombang yang kini sedang saya kerjakan, hampir kurang lebih 2 tahunan sejak 2008 saya belum menemukan seorang pun narasumber terpercaya dari anggota ludruk tersebut.

Cerita macam itu terus merayap dari telinga ke telinga. Berlelayapan sendiri. Seperti kabar burung tanpa sayap. Yang fakta bisa jadi fiksi, yang fiksi tiba-tiba bisa jadi fakta. Atau mungkin berada di tengah-tengahnya. Lek Ndani, Man Lik, dan orang-orang tua tetangga saya, beberapa sesepuh ludruk Jombang yang lamat-lamat mengingat tragedi Ludruk Arum Dalu adalah contoh dari sepersekian cerita yang berserak dari peta sejarah pergolakan politik-ideologi di negeri ini yang luput tercatat.

Obor Pemberontakan PKI 1926

Mereka yang tersunyikan dan terbisukan. Dan para eksil juga sastrawan Lekra, hanyalah bagian kecil yang mencoba menyuarakan kebisuan dan kesunyian itu. Misalnya Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karyanya. Namun yang perlu kita cermati adalah pergerakan PKI yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda dan antek-anteknya pada 12 Desember 1926. Ini menjadi tonggak penting dalam kesejarahan perjuangan Indonesia melawan imperialisme bahkan sebelum munculnya Sumpah Pemuda 1928. Dan peran sastra yang disorong para penulis komunis masa itu membuktikannya.

Pemberontakan 1926 telah menjadi catatan sejarah tersendiri dan dapat kita hikmati dalam kumpulan cerpen dan puisi Gelora Api 26 (Ultimus, Bandung: 2010). Sejumlah cerpenis tertoreh di sana: Zubir.A.A., Agam Wispi, Sugiarti Siswadi, S. Anantaguna, T. Iskandar A.S., A. Kembara. Sedang para penyairnya ada Alifdal, Chalik Hamid, Anantya, Nurdiana, Mahyuddin, Mawie Ananta Jonie, M. D. Ani, dan Z. Afif. Seperti cerpen berjudul “Sukaesih” karya sugiarti Siswadi, yang dibuka dengan baris-baris ini:

Darah siapakah yang menggenang merah
membasahi bumi priangan?
Ah, itulah darah Haji Hasan
dipotong seanak-bininya…
dan si perampok berkulit putih
mengamankan goloknya

Cerpen tersebut, dengan balutan estetika realis, mengisahkan secara apa adanya akan kegigihan seorang Sukaesih dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai komunis tulen. Dalam cerpen Agam Wispi “Rapat yang Penghabisan”, ia melukiskan tokoh-tokohnya yang sehabis melakukan rapat ditangkapi polisi Belanda. Yang menarik juga, tokoh komunis perempuan, Upik, yang cantik tapi bisu dengan kalimat: “Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak di permukaan air bagi mereka yang tak mengenalnya.” Tokoh Upik inilah, yang tetap bertahan menyimpan semua ingatan dari kegagalan rapat partai. Puisi-puisi di dalamnya menyiratkan slogan dan yel-yel perjuangan. Misalnya Anantya, dengan puisi “Mengangkat Tinggi Panjimu”. Puisi ini melukiskan gigihnya perjuangan yang akhirnya berujung kegagalan, namun si penyair tetap berseru: “Obor yang dinyalakan di malam gelap gulita ini, Kami serahkan kepada angkatan kemudian.” Dan puisi Nurdiana “November Bulan Historis” memuncaki pergolakan batinnya dengan penggalan bait puisi yang terakhir: Pemberontakan tahun dua enam, Sangkakala revolusi Indonesia!

Tanah Merah Boven Digul

Pemberontakan PKI tahun 1926-1927 yang gagal terhadap pemerintahan Hindia Belanda mengakibatkan banyak pejuang PKI yang diasingkan ke Boven Digul, di rimba raya Irian. Koesalah Soebagyo Toer memberi kesaksian dalam bukunya Tanah Merah yang Merah: Sebuah Catatan Sejarah (Ultimus, Bandung: 2010). Tan Malaka menyesalkan pemberontakan yang belum matang itu. Juga Stalin yang meminta agar pemberontakan itu dibatalkan setelah ia mendapatkan laporan dan Muso dan Alimin. Tapi pemberontakan itu tetap dilancarkan, dan memang benar-benar diporak-porandakan. Kegagalan ini wajar, Vladimir Lenin dengan partainya juga berkali-kali hancur sebelum sukses besar dengan revolusi sosialisnya tahun 1917. Fidel Castro pun juga pernah mengalami kehancuran bertubi-tubi, sebelum ia bangkit kembali menancapkan revolusi sosialnya yang pertama kali di benua Amerika tahun 1959.

Akibat besar dari kegagalan pemberontakan PKI 1926 sebagaimana yang ditulis Koesalah adalah harga mati yang mau tidak mau harus dibayar oleh mereka-mereka yang dibuang ke Digul. Menurut Darman, anak Digul putra Dardiri Soeromidjojo, perlawanan tersebut adalah pemberontakan nasional Indonesia yang pertama menentang kekuasaan kolonial Belanda. Persiapannya dilakukan di seluruh wilayah Indonesia: tidak hanya di Jawa, Sumatra, tapi juga di Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Nusa Tenggara. Kendati semua itu dapat ditekuk Belanda. Kehidupan para tawanan di Digul, seperti digambarkan Rudolf Mrazek dan Takashi Shiraishi, benar-benar merusak. Merusak segala sendi kenormalan. “Rumah sakit gila”, terjangan malaria, TBC, kuburan impen-impen nasionalisme, pembuntungan cita-cita politik yang tak dapat lagi dipertahankan: dan itulah yang diharapkan Gubernur Jendral de Graeff.

Catatan sejarah Soebagyo tersebut mengingatkan kita pada pengalaman pahit I.F.M. Chalid Salim, adik H. Agus Salim, di Tanah Merah dalam bukunya Lima Belas Tahun Digul: Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia (Bulan Bintang, Jakarta: 1977), dan pertama kali diterbitkan penerbit Contact dalam bahasa Belanda tahun 1973. Sejarah kamp konsentrasi Hindia Belanda ini bahkan jarang ditulis oleh orang Belanda. Karya Balans van Beleid yang ditulis Baudet dan Brugmans, hanya sepintas lalu menyebut Digul. Padahal sejarah kamp Digul yang terentang sejak 1928 sampai 1943 bisa menyibak banyak hal dalam kesejarahan Hindia Belanda dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain Salim dan catatan sejarahnya itu, ada sosok Uska misalnya, yang bagi peneliti D. van der Meulen seperti yang dikutip W. Schermerhorn dalam mengapresiasi buku ini, lebih perih penderitaannya ketimbang yang diceritakan Salim. Meulen yang saat itu menjadi amtenar (pangreh praja) sempat bertemu Uska di Tanah Tinggi. “Ia digulis yang pantang menyerah. Ia tidak bisa ditaklukkan. Pada dirinya tersembunyi kepahitan, daripada jiwanya Salim,” kenangnya dalam karya yang ia tulis Ik Stond er Bij.

Digul bagi Salim adalah lambang perziarahan politik yang nyaris dilupakan Soekarno. Ia meratap dan minta ampun agar tidak dibuang ke Digul. Ini pengakuan Moh. Hatta, yang pernah jadi digulis bersama Sutan Syahrir. Belanda mengabulkan, dan mengasingkannya ke Flores, tentu dengan pertimbangan supaya si bung besar itu jiwanya “melembek”, dan tidak tambah berkobar bila ia didigulkan. Saat ia suatu hari terbang di atas tanah merah tahun 1963, ia hanya memberi penghormatan dari ketinggian udara, mungkin gentar dengan kamp neraka politik itu. Tapi Cindy Adams mencatat keharuan Soekarno: “Banyak komunis yang tubuhnya mengisi kuburan-kuburan tak bernama di Digul, mereka adalah pejoeang-pejoeang untuk kemerdekaan kita! Mereka tetap merupakan patriot besar!”

Karya-karya mantan digulis tidak sekedar catatan perjalanan, namun sebuah tindakan pembangkitan, sarana proletariat melawan kolonialisme, mengumpulkan jejak sejarah yang tercecer sebagai bandingan dari dokumen-dokumen Belanda yang sepihak. Agar suara-suara silam yang terbungkam terkubur, tidak disirnakan.

Dari Memoar Hingga Catatan Perjalanan

Kawula muda sekarang mungkin bertanya, komunisme itu apa? Tentu komunisme mengeram sejarah panjangnya sendiri. Boleh jadi gambaran entengnya seperti ini: “Sebelum menjadi apa-apa jadilah dulu seorang komunis”. ungkapan ini dirumuskan oleh generasi sosialis di kemudian hari yang disuling dari pemikiran seorang penyair sosialis Rusia, Nekrassov. Apa kiranya yang kita pahami tentang karya sastra yang dilahirkan dari ketegangan antara ideologi politik realisme sosialis dengan ideologi kapitalisme? Fakta sejarah baik berupa karya sastra, memoar, catatan perjalanan, maupun penelitian telah banyak mengabarkan kepada kita. Di antaranya adalah sebuah memoar yang berjudul Azalea: Hidup Mengejar Ijazah ( Klik Books, Jakarta: 2009) yang dianggit secara prosais oleh Asahan Alham, adik DN. Aidit dan Sobron Aidit. Nuansa petualangan romantik dengan latar tahun sekitar 1960-an ini padat-rinci dengan penghadiran tokoh sentral, Sulaiman. Pergolakan revolusioner kaum sosialis (PKI) hanya dijadikan lanskap, namun justru dari situlah kita dapat melihat sisi lain dan kepiawaian Asahan dalam mengolah kembali cerita-cerita masa lalunya.

Tatiana Lukman adalah seorang eksil dari pasangan M.H. Lukman (1920-1965) dengan Siti Niswati. Ayah Tatiana merupakan sosok penting di teras pimpinan PKI dan wakil ketua DPR Gotong Royong pada masa pemerintahan Presiden Soekarno di era 60-an. Sebagai anak dari tokoh PKI, Tatiana juga terkena imbas. Studinya di Tiongkok morat-marit dari tahun 1964-1966. Lalu pindah ke Kuba, kemudian ke Habana, Perancis, menjadi pengajar bahasa Perancis selama 12 tahun. Terakhir ia tinggal di Amsterdam, dan dari semua perjalanan itu ia terus mencatat kembara pengasingannya dalam bentuk novel Pantha Rhei dan memoar yang berjudul Pelangi (Ultimus, Bandung, 2010).

Kita juga bisa menyimak buku Perjalanan Jauh: Kisah Kehidupan Sepasang Pejuang (Ultimus, Bandung: 2010) karya M. Ali Chanafiah dan Salmiah Pane. Buku ini menceritakan perjalanan hidup mereka sebagai sepasang suami-istri yang ikut-andil dalam perjuangan kemerdekaan RI. Kisah tentang sebuah keluarga, dengan gaya penceritaan kakek-nenek kepada anak-cucunya. Sosok Pak Ali, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Srilanka pada 1965, lebih cenderung sebagai pendidik, ketimbang politikus, sebagaimana yang dituturkan Asvi Varman Adam dalam pengantarnya. Ia pernah berjumpa dengan Pak Karno secara intens ketika proklamator itu diasingkan ke Bengkulu. Sedang istri Ali, Salmiah Pane, merupakan adik dari Sanusi Pane dan Armijn Pane, dua sosok yang tidak asing lagi dalam khazanah sastra Indonesia. Karya dari dua pengarang ini penting jadi bacaan yang berharga bagi masyarakat, untuk dapat meneladani kegigihan, watak kebangsaan, ketabahan, dan perjuangan nasionalisme yang tak kenal lelah.

Peran Sastra Realisme Sosialis dan Sastra Kita Kini

Tema kerakyatan dan spirit revolusiner dalam karya sastra realisme sosialis adalah “sastra keterlibatan” yang penuh seluruh terhadap kecamuk problematik kehidupan. Kendati kebenaran realisme sosialis yang diperjuangkan oleh sastrawannya adalah kebenaran doktriner sebagaimana yang ditancapkan Marxisme-Leninisme. Tapi itu hanyalah salah satu jalan. Watak berkarya mereka demi membangun militansi mempertahankan kemandirian berpikir dan mengembangkan antikapitalisme internasional. Tidak kenal kompromi, tak kenal menyerah. Ini terlukis dalam pemikiran Maxim Gorki, lewat novelnya Ibunda, menjadikan tonggak penting realisme sosialis dalam seni dan gagasan menatap hari depan, tidak patah arang sebab tangisan dan rengekan, melainkan bahwa cita-cita dan idealisme harus diperjuangkan dan terus dibangkitkan. Gorki sebagai sastrawan terkemuka Rusia tak memencilkan diri di menara gading, juga tak nyebut diri “pengarang murni”, yang hanya mau tahu dirinya sendiri. Sastra yang tidak hanya untuk sastra, namun keterlibatan sastrawan dengan kenyataan riil, misalnya politik, adalah suatu keharusan. “1001 kali seniman tidak berpolitik, 1001 kali pula politik akan mencampuri seniman,” demikian ungkapan tokoh Lekra Joebaar Ajeob.

Maka seniman harus tahu dan memahami politik, sejarah, dan ekses dari pengaruh luar yang menggerogoti nasionalisme dan watak kebudayaan bangsanya. Ia tak musti masuk partai. Tak alergi dengan politik. Kita bisa merujuk hal-ihwal karya yang bersinggungan dengan itu misalnya pada Komedi Manusia karya Balzac, Anak Revolusi karya Balfas, sajak “Diponegoro” karya Chairil Anwar, Percikan Revolusi dan Di Tepi Kali Bekasi karya Pamoedya Ananta Toer, Rasa Mardika karya Marco Kartodikromo, puisi “Elegi Jakarta” karya Rivai Apin, dan lain-lain. Sastra harus mempunyai fungsi sosial, mengabdi pada rakyat, dan beroriantasi dialektik dengan kenyataan, bahkan dapat diterapkan dalam kepartaian, seperti gagasan Lenin tahun 1905, untuk menjadi bagian penyokong mekanisme sosial-demokratik.

Bagaimana dengan sastra dan pengarang-pengarang muda saat ini? Tentu bukan sekadar merayakan dan mengurusi diri sendiri dalam kebebasan berkarya, dan tantangan itu sekarang lebih kompleks dan tersamar, di mana kini media teknologi kian canggih (fenomena bersastra via facebook misalnya), ruang dan kesempatan berdiskusi kecil-kecilan mengudar aneka gagasan makin sempit dan mahal, yang mana semua pergeseran itu dengan sendirinya melahirkan eksklusivitas, kejumudan, dan kepicikan.

Pada beberapa karya yang disinggung di atas, obor revolusiner seolah-olah tak pernah padam, sebab begitulah percampuhan manusia di jamannya. Ada sesuatu yang harus dinyalakan sendiri bagi tiap pengarang di masa kini, agar karya sastra mampu berperan konstruktif dan turut membangun masyarakatnya, tanpa kehilangan estetika sebagai landasan kreatifitasnya.

—
*Fahrudin Nasrulloh, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang.

Senin, 22 November 2010

Pram, Punk, dan Gerakan Komunitas di Blora

Abdul Malik, Fahrudin Nasrulloh
http://www.facebook.com/note.php?note_id=86042861838&ref=mf#/profile.php?id=770900011

Wahai huruf……
Alangkah akan tinggi ucapan
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi buku terbuka
Bagi manusia yang membacanya
(Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1)

Bebaris kata-kata Pram itu terpampang di salah satu banner di bagian tengah atas yang berisi sejumlah cover novel-novel Pram, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa asing. Kita seperti diajak memasuki ruang-ruang batin Pram dengan segala pernak-pernik kisahnya. Inilah salah satu yang terhadir dalam peringatan 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA & SKETSA yang dipanitiai oleh Soesilo Ananta Toer dan Eko Arifianto yang digelar mulai tanggal 1 sampai 7 Februari 2009, di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora.

Selama seminggu, acara peringatan Pram ini, salah satunya, menghadirkan pameran sketsa dari anak-anak SD sampai SMA, dan khalayak umum, terutama kaum muda yang berasal dari sejumlah komunitas di Blora dan Randublatung. Upaya memperkenalkan sosok Pram pada generasi muda sangatlah penting sebagai cermin perlawanan atas ketidakadilan. Meski anak-anak SD kebanyakan belum tahu banyak ihwal Pram dan karya-karyanya, namun mereka sangat apresiasif. Mereka menuangkan sketsa wajah Pram di atas kertas dengan berbagai ekspresi dan menuliskan kesan-kesan mereka. Baik itu kutipan dari penggalan-penggalan novel-novel Pram atau dari kesan mereka sendiri. Seperti: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa lain” (Jalan Raya Pos, Jalan Deadels: hlm. 70); “Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir” (Rumah Kaca, hlm. 38) “Seorang tanpa prinsip adalah sehina-hina orang, setengik-tengiknya” (Rumah Kaca: hlm. 73); “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia (Anak Semua Bangsa: hlm. 204); “Jabatan dan piring nasi tanpa disadari juga ikut membentuk watak sekalipun dimulai pada umur tiga puluhan” (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu: hlm. 126); “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis manusia; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput” (Bumi Manusia: hlm. 119). Sketsa anak-anak SD di Blora ini terdiri dari 100-an sketsa yang ditempel pada 4 papan.

Ada 17 sketsa dari murid SMP Bhakti Tuban dengan menggunakan media sampah daur ulang berupa kardus, plastik, kertas minyak, deterjen, dan selotip. Terpajang pula 11 sketsa khusus berjudul “Fragmen Pulau Buru” karya Gumelar. Dengan media kanvas cetak karet, ukuran 40 x 60 cm, Eko Arifianto memajang karyanya dengan judul “Pram dan Karyanya”, dan “Pram: Resist!”. Sejumlah lukisan bercat minyak (dan dengan media lain) juga dipamerkan di sekitar dan di dalam ruang utama rumah Pram, salah satunya, adalah lukisan karya Soetanto tahun 1980 berjudul “Toer” (ayah Pram) dan “Saidah” (ibu Pram). Lalu lukisan Romo Didik Cepu berjudul “Merahnya Pram” berukuran 88 x 90 cm. Sementara karya pelukis lain juga dihadirkan semisal karya Totok Sawahan, Pongky, Bobby dan Komunitas Marjinal, Toni Al-Blora, Praminto Moehayat. Dan yang terakhir adalah karya pahat dari kayu jati berjudul “Pram Mesem”, ukuran 40 x 30 x 60 cm, karya Agus Randublatung.

Di pengujung acara bertanggal 7 Februari 2009, diundang juga para perupa Jogja dan beberapa kota lain, seperti Joko Pekik, Hari Budiono, Samuel Indratma, Bambang Heras, Suatmaji, Sjalabi, Bambang AW (Malang). Di tengah-tengah pemanggungan musik punk dari Komunitas Marjinal, para pelukis tersebut melukis bareng bersama pengunjung dan pengagum Pram.

Bersamaan itu, di sore pukul 16.59 yang agak gerimis, Ilham J. Baday dan Salabi dari Komunitas Arek Museum Surabaya, menampilkan performance art dengan judul “Abandoned”. Ilham menjajarkan 6 meja tralis di depan pengunjung dengan dideretkan memanjang. Ia berkacamata hitam dan bertelanjang, tapi masih memakai sarung yang dilipatnya serupa cawat. Sekadar untuk menutupi “rudal”nya. Berambut rumbai ala Bob Marley (meski pendek seleher). Dibawalah sebuah durian dan buku berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI, diletakkan di atas meja paling ujung. Si durian ditegakkan di atas buku tersebut. Ia lalu mengambil arah berlawan meja. Menaikinya. Berjalan ia membawa odol ke durian. Memelototkan odol itu seperti membuat lukisan ular-ularan memanjang hingga ke ujung meja semula. Kemudian ia menelentangkan tubuhnya di atas meja. Merambat kayak mamba menuju durian. Bayangkan, bagaimana pengunjung memecah perhatian pertunjukan: antara menikmati musik punk Marjinal, menonton para pelukis kawakan melukis, dan eksplorasi pertunjukan Ilham.

Sedang Salabi, setelah ikut melukis wajah Pram secara kilat, ia membawa jes pewangi, lalu menyemprotkannya di kanvas lukisannya. Berjalan muter-muter turun panggung naik panggung.. Jes pewangi itu kemudian ia wesskan ke mulutnya. Ilham terus merayap hingga ke buah durian dan memakannya. Serampung itu, ia mengajak pengunjung menirukan performennya. Tak tanggung-tanggung, ada 5 peserta yang tergerak ngikut, 2 cewek, 3 cowok. Semuanya antusias, pengunjung sontak berkeplokan meriah sekali. Performen ini, menurut Ilham: menggambarkan bahwa perjuangan dan keberanian Pram dimulai dari proses yang tidak mudah. “Susah-susah dahulu, baru enaknya kemudian”, demikian simpulnya. “Keteguhan dari perjuangan seseorang demi kemanusiaan, pada akhirnya kita pantas mengenangnya, dan oleh sebab itu, keharuman namanya tidak akan pernah lekang sampai kapan pun,” susul Salabi.

Pada puncak acara pukul 19.30 diluncurkan buku Bersama Mas Pram, karya Koesalah dan Seosilo Toer dari penerbit KPG Jakarta. Astuti Ananta Toer dan Soesilo Toer mewakili keluarga memberikan buku tersebut kepada sejumlah sahabat Pram, yang hadir diatas panggung antara lain Djoko Pekik, Eko Arifianto, Sonny Keraf, Soelistiyono BA. Pergelaran wayang kulit berjudul “Begawan Ciptoning” dengan dalang Tristuti Rahmadi memungkasi acara ini.

Dalam kesempatan itu pula Penerbit Lentera Dipantara juga meluncurkan buku Pramoedya Ananta Toer: 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa. Berisi esai, catatan kenangan, dan puisi dari banyak kontributor dan kaum pramis.

Satu agenda acara yang batal dalam peringatan 1000 hari mengenang Pram ini adalah pementasan drama dari SMAN 1 Randublatung berjudul Perlawanan Rakyat Tepi Hutan pada hari Sabtu, 7 Februari 2009, pukul 16.30-17.00 WIB. Menurut Ex Mahardhana Wijaya (exicrot) pementasan itu dilarang oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Blora.

Obituari Kamar Sunyi Pram

Bayangkanlah. Apakah sekarang bayangan ruh Pram dikesiur angin dan terkesiap bangun dari Karet Bivak lalu mengendarai angin menuju rumahnya di Jl. Sumbawa 40 Blora? Bisa jadi, ruhnya yang seringan bulu angin senja itu akan mengunjunginya. Dan di sinilah, di rumah Pram, pengunjung pameran bisa merasakan desir kedatangannya. Lalu mengobrol banyak hal dan ketawa bareng sambil berkelakar: “begitu pendek dan seenteng kentut hidup ini, bukan? Tapi semuanya harus dimaknai dengan sebaik-baiknya”.

Mari rasakan! Ruangan sebelah kanan, ada mesin jahit milik Koen Maryatoen, adik Pram No.2, tahun 1966; di atas meja jati tua, ada 20-an judul buku koleksi Pram dijejer rapi, salah satunya Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno, Korupsi karya Pramoedya Ananta Toer; garpu sendok (3 buah) keluarga Toer (tahun 1925); baki pengantar minuman/makanan tamu keluarga Toer (1925); baki bekas keluarga Toer untuk menyimpan opor/rawon (1925); baki tutup untuk menaruh sayur keluarga Toer (1925); tiga gelas piramida terbalik tempat minuman ringan keluarga Toer (1925); timbangan untuk menakar bahan-bahan kue kering keluarga Toer (1925); stoples tempat gula keluarga Toer (1925); alat pembuat persan jeruk nipis keluarga Toer (1925); tempat menyimpan klobot keluarga Toer (1925); tenong ukiran jepara tempat Toer menyimpan tembakau (1925); kursi rotan tempat Toer biasa ceki dengan kawan-kawannya antara Cin Bie dari Beran; mesin ketik Optima hadiah Pramoedya buat Oemisafaatoen yang berarti bintang Aquarius (tahun 1956); rodenstock, bekas tempat kaca mata Pram sepulang dari Pulau Buru (rp 3.000); dan meja marmer tempat Toer menjamu tamu-tamu penting di ruang depan (1950); jam tangan hadiah untuk Pram dari Kyoto, TV Jepang tahun 1985, menunjukan pukul 13.45; Modern Indonesian Literature karya A Teeuw (University of Leiden, 1967, The Hague Amsterdam); foto Pram, hitam putih agak mangkak dan gripis, bersama Adam Malik. Pram sedang menunjukkan buku Bumi manusia padanya; kacamata-kacamata murahan milik Pram yang dibelinya di seputar pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta , 1982; dll.

Rumah Blora memang berciri-khas kayu. Dari pondasi sampai semeteran ke atas memakai batu-bata. Selebihnya adalah kayu hingga ke usuk, blandar, dan reng-rengnya. Kayu jati, usia tua, cat putih yang lapuk, setali dua tali sawang menggelayut bergoyang-goyang dihembus angin. Di ruang tamu depan, jagak pintu berkayu jati, di tengah jagak atas ditulisi di selembar kertas “Ruang Memorabila”. Di sayap kiri pandangan tercantel Lukisan Merahnya Pram, 68 x 90 cm, sketsa kain spidol krayon, karya Romo Didik Cepu. Dengan warna merah terang menyala. Di kanan bawah lukisan itu terboreh kerumunan kata begini: Angkatan muda harus punya keberanian/ kalau tidak punya sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri (Pramoedya Ananta Toer). Di sini juga terpampang lukisan Romo Didik Cepu berjudul The Smiling Pram, 30 x 40 cm, media pensil.

Pernak-Pernik Perpus PATABA

Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Blora (PATABA) berdiri 2 tahun lalu oleh Pramoedya Ananta Toer, Sosilo Toer, Koesalah Toer. Beralamat di Jl. Sumbawa 20 Kelurahan Jetis Kecamatan Blora Kabupaten Blora.”Perpustakaan Pataba didirikan untuk tonggak kenangan pada hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer di Jakarta dan dimakamkan di pekuburan umum Karet Bivak yang juga merupakan peristirahatan terakhir Chairil Anwar”, ungkap Soesilo Toer, adik kandung Pram (Suara Rakyat, edisi 7-21 Februari 2007).

Soesilo Toer Tahun sebagai salah satu penerus dan mengelola perpustakaan ini menceritakan, “Saya menamatkan SMA 1957, kemudian melanjutkan ke Akademi Keuangan di Bogor. Lalu meneruskan sekolah di Rusia, hingga pada tahun 1967 tamat dari Universitas Lumumba dengan gelar MSc.” Karir pendidikan Pak Soes terus menanjak dengan menamatkan pendidikan di Institut Plekhanov pada tahun 1971 dengan gelar DR dan PhD. Saat ini ia mengelola perpustakaan PATABA sembari berkebun.

Jumlah koleksi perpustakaan ini terdiri dari 3 ribu judul. Luas ruangan 16 meter persegi. Rumah ini berdiri tahun 1924, dan sempat direnovasi pada tahun 1954 dan 2003. Salah seorang pembaca muda, Daris Ilma, lahir di Sidoarjo (28-7-1992) yang ikut hadir kala itu mengemukakan kekagumannya atas karya-karya Pram yang memberikan semangat keberanian dalam menghadapi tantangan dan gencetan nasib yang mencekam. Siswi ini bersekolah di SMA Avicena Kedungcakring, Jabon, Sidoarjo. Ia juga melahap habis Bumi Manusia dan Rumah Kaca yang sebelumnya menjadi koleksi orangtuanya, M Irsyad. Sementara itu Puput Puji Lestari sengaja mengajakan dua keponakannya Faiq Adi Wibowo kelas 6 SD dan Nabibah Jihan Pratiwi TK BRI Blora agar mengenal sosok Pram lebih awal.Tentu bagi para pengunjung lain, banyak kesan yang tak tergantikan saat mengikutidan menyambangirumah Pram ini.

Mikael Isrofil dan Komunitas Punk Marjinal

Ketegaran Pram dalam bersikap dan bertindak adalah cerminan bagaimana manusia harus mengatasi kehidupan di bumi manusia yang dilanda ketidakadilan dan ketertindasan. Tapi ia tidak percaya takdir, ia tak pernah merengek pada Tuhan. Tapi ia menghargai bumi manusia ini dan menghayatinya dengan tanggung jawab sepenuh-penuhnya. Nasib musti dilawan oleh manusia. Ia terus melatih dirinya dengan apapun agar tidak direndahkan dan dilemahkan. Ia mencintai negeri dan bangsanya dengan tiada henti menelusuri sejarahnya dan mendokumentasikannya. Tak heran, jika karya-karyanya dan pengaruhnya juga mengintrusi banyak kalangan, termasuk pada komunitas punk Marjinal. Mengenai sejarah punk secara global, mungkin tidak terlalu banyak referensi dan hasil riset yang representatif, terutama di Indonesia. Sebagai sekedar rujukan ringan, ada 2 film yang layak ditonton, semisal Sex Pistol dan Romper Stomper yang bercerita tentang tokoh Hando si pengagum buku Mein Kamp-nya Hitler. Tokoh ini dibintangi Russel Crowe. Tapi menurut Mikael, punk masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an.

Komunitas ini dimotori oleh Mikael Isrofil di bidang musiknya, dan Najib Hermani sebagai inspirator dalam kreatifitas lainnya semisal pada penerbitan buletin, majalah, tabloid, hingga penerbitan buku. Sejumlah penerbit pernah njedul dari komunitas ini, seperti Melibas, Heyna, Celetuk, Kepak, dll. Kaum punk ini telah berdiri sejak 22 Desember 1996. Mereka banyak bertebaran di Jakarta dan kota-kota lain. Komunitas ini tak memiliki organisasi. Karena itu secara struktural, di dalamnya tidak ada ketua atau yang dianggap paling berpengaruh. Semuanya menganggap setiap pungker satu sama lain adalah sederajat. Satu untuk semua, semua untuk satu. Egalitarianisme cukup kental dalam pemikiran dan tindakan mereka. Tak pelak, paham kesederajatan, perlawanan, keberanian, dan kebebasan, dapat mereka timba dari sosok Pram.

Keterlibatan mereka yang digandeng komunitas Pasang Surut dalam peringatan seribu harinya Pram ini menunjukkan bahwa spirit yang mereka gotong seucap-sekereta dengan Pram. Mereka hampir mentas saban ada waktu luang, selain agenda mereka sendiri, untuk menyelingi acara-acara yang sudah dijadwalkan panitia. Syair-syair yang mereka nyanyikan antara lain: “Bumi manusia”, “Seru-seru Gua Garba”, “Hukum Rimba”, “Rencong Marencong”, “Bebaskan”, “Marsinah”, “Disunati Dipotong Dicincang-cincang”, “Luka Kita”, “Alam Raya Sekolahku”, “Anak Merdeka”.

Menariknya, tak satu pun dari 10 lirik di atas diklaim tercipta dari satu orang. “Semua syair ini adalah dibuat dari dan untuk kita semua. Seluruh personel Marjinal ikut andil dalam pembuatan syair ini,” tutur Mikael. Saat itu dengan senang hati Mikael dan kawan-kawannya mendendangkan satu lagu dengan judul:

BUMI MANUSIA

Bangkit dan merdeka
Buka mata hati kita
Menembus segala arah rona-rona
Menyapa seisi dunia
Bersilaturasa
Tumbuh sumburkan rasa bersaudara
Singkirkan malam dari siang yang buta
Songsong masa kan datang dengan jiwa merdeka
Di mana manusia saling memanusiakan manusia
damai di bumi
damai di jiwa
damai di hati
damailah kita semua
damai di bumi
damai di jiwa
damai di hati
damailah bumi manusia

Pram bisa jadi ikon sastra, ikon politik bagi anak-anak Partai Rakyat Demokratik, bahkan sebagai lambang perlawanan dan pembangkangan sipil oleh kelompok punk — Pram diangkat sebagai Datuk Punk. (Tempo, 14 Mei 2006 halaman 74). Sebagai kesimpulan kecil, ada satu kalimah yang nggeget soal komunitas ini dalam melambari diri mereka: Setiap orang adalah punk, karena setiap orang berjuang untuk menjadi dirinya sendiri dan penanggung jawab bagi dan atas diri sendiri. Be your self, do your self. Berdiri dan berkarya di atas kaki sendiri,” demikianlah pungkas Mikael. Punk Marjinal ini bisa disambangi di www.sapibetina.blogspot.com

Sayap-sayap Pram di Blora

Pertama kali menuju Blora dari Jombang, kami membayangkan 11 cerpennya dalam Cerita dari Blora. Serangkaian cerpen yang menuntun khayal kita menyusuri masa-masa awal Pram bertarung hidup di Blora. Kehidupan keluarga Pram terlukiskan dengan detail sekaligus getir saat mereka terpuruk dibelit nasib dan harapan-harapan yang berkerikil tajam. Saat itu kami bertiga, Fahrudin Nasrulloh, Abdul Malik dan Jabbar Abdullah, ngambil bis Puspa Indah jurusan Jombang-Babat dengan jarak tempuh kira-kira 36 km. Babat-Bojonegoro: 34 km. Bojonegoro-Cepu: 33 km. Cepu-Blora: 34 km. Kami bertiga jadi jengkel dan misuh-misuh, ketika bis Margo Djoyo Babad-Bojonegoro ini ngebut diuber setan. Pasti supirnya nggak pernah baca Anak Semua Bangsa. Bahkan kenal Pram pun mungkin tidak.

Kami sampai sore di sana, tanggal 6 Februari 2009. Paginya, sekitar pukul 6.34, saya dan Jabbar berjalan-jalan cari sego pecel dan Kompas ke sekitar alun-alun Blora. Ketika melewati pasar Blora, saya teringat cerita Soelistiyono Ba alias Ki Panji Konang (kawan dekat Pram waktu kecil) tentang masa-masa kecil mereka: “Sakwise tamat saka sekolah angka telu, aku nerusake sekalah ana kutha mau, banjur ketemu kang Pram, nek wis bubaran sekolah suwe-suwe padha golek akal, kanca-kanca diajak kang Pram nong halte Pasar Blora, golek bekas bungkus rokok. Nek ora salah, cap rokoke gawean Nitisemita, Ball Tiga, Cap Anggur, Cap Jambu, Cap Jeruk, Cap Mlinjo, lan liya-liyane. Bekas bungkus ditata rapi, menawa wae dienggo nulis-nulis cerita kanggone kang Pram.” (Pramoedya Ananta Toer: 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, Jakarta: Lentera Dipantara, 2009).

Tak heran, jika kini novel-novelnya meruah terekam kuat di ingatan pembacanya, sebab sejak kecil Pram sudah melatih diri berdisiplin untuk menuliskan apa saja yang berseliweran di hidungnya. Semacam ketelatenan sejak kecil. Untuk membunuh kemalasan yang kerap mengutuk banyak orang. Meski itu hal yang sepele, namun berat. Atau, baginya: harus ada yang diperbuat demi masa depan. Hidup adalah bekerja dan memaknai keterberian Yang Kuasa. Ia pernah berujar pada kawannya itu: “yen kowe ora obah-polah ora bakal iso mamah.” Ya, sebuah etos hidup yang khas Blora, jika tepat hal itu kita kaitkan dengan tokoh legendaris Samin Surosentiko (1859-1914). Perlawanan Samin di Blora kala itu terhadap kolonial Belanda mendapat sokongan masyarakat Blora, hingga ia digelari Prabu Panembahan Suryongalam. Samin sebenarnya hanya mempertahankan pandangan jawanismenya yang terdiri dari 20 Angger-angger Pratikel: drengki, srei, panasten, dahwen, kemeren, bledog, colong, petil, jumput, nemu, dagang, kulak, mblantik, mbakul, nganakno duwit emoh, bujuk, apus, ngakali, krenah, ngampuni pernah: aja dilakoni!

Lepas dari itu, dalam peringatan 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, bagaimanakah kita melihat komunitas-komunitas yang ada dan bergerak di Blora dan sekitarnya? Apakah gerakan mereka terkesan elit, tak menyentuh rakyat, tak membumikan aspek-aspek kemanusiaan dan lain-lain sebagaimana tercermin dalam diri Pram dan karya-karyanya?

Telisik Eko Arifianto dan Ex Mahardana Wijaya di Blora dan Randublatung terdapat belasan komunitas yang bergerak dalam banyak bidang. Mulai dari pemberdayaan masyarakat, perpustakaan, kepenulisan, jaringan kelompok tani dan perajin kayu jati, pelatihan-pelatihan komunikasi massa dan pembacaan terhadap kebijakan pemerintah, hingga kreatifitas- kreatifitas yang digalakkan di kalangan siswa dan pemuda. Di antara sejumlah komunitas itu seperti: Komunitas Pasang Surut, PATABA, SuperSamin, Front Blora Selatan (berdiri 2005, dimotori oleh didik), Anak Seribu Pulau, RAPALA, Komunitas Wong Sastra (berdiri 2008 dari SMA 1 Randublatung), Tugu United, ARSUMPALA (Arek Sumber Pecinta Alam. Berdiri 2002. Merevitalisasi seni Barongan di kampung-kampung. Penggeraknya Bambang), Lidah Tani (berdiri 2000. Ketua: Pak Rukito dari Desa Temulus Randublatung), Komunitas Rukun Tani, Roedal Revolt, Kolektif Reaksi, Yayasan Mahameru, LPAW, dan Paguyuban Penghayat Kepercayaan.

Seluruh komunitas ini rata-rata bergerak di bawah dan terinspirasi sekaligus berupaya menerjemahkan pemikiran-pemikiran humanisme sosialis Pram. Eko Arifianto menjelaskan, “Komunitas-komunitas ini lebih menekankan kerja kolektif, mencoba membumikan teks Pramoedya. Tentang kemandirian, Kesederhanaan, Kejujuran, dan Keberanian.”

Di Randublatung sendiri, sekurangnya ada 8 komunitas. Ex Mahardana Wijaya yang riwayatnya pernah berkuliah di kampus Wangsa Manggala Wates Jogja, adalah eksponen Taring Padi di Jogja pada 1998-2004. Sejak 1998, ia, Juwadi, dan teman-temannya yang lain mulai membikin kelompok-kelompok kecil pembaca karya-karya Pram. Komunitas RAPALA (Randupblatung Pecinta Alam) bukan sebagaimana grup pecinta alam yang umum kita kenal. Komunitas ini berdiri tahun 1999. Mereka bergerak dalam upaya untuk menyelamatkan hutan di Blora dari setiap perusakan dan pembabatan liar. NO FOREST, NO ART, NO FUTURE, adalah semboyan mereka. Sebuah konsep Hutan Rakyat yang menarik. Karena itu, pada 1999, mereka mengajak masyarakat Blora untuk melakukan penanaman pohon jati dan mahoni di lahan-lahan kosong di sekitar mereka.

Demikian pula komunitas Anak Seribu Pulau yang lahir pada 1999, juga digerakkan oleh Wijaya, Agung Crotte, dan Juwadi. Art Ecology adalah konsep mereka. Kayu-kayu kecil yang selama ini dianggap sampah dan berserakan di jalan-jalan, mereka manfaatkan sebagai bahan berkreasi-cipta, seperti mengikirnya menjadi manik-manik, gantungan kunci, patung-patung kecil, dll. Dengan seni cukil kayu ini, pada 2005, mereka menggelar Forest Art Festival. Kegiatan ini didukung Imam Bocax yang berkarya seni dengan memberdayakan lidi aren. Tahun 2006, beberapa anggota Anak Seribu Pulau, diikut-sertakan oleh Imam Bocax ke Australia sebagai peserta dalam semacam workshop pemberdayaan hutan dan seni kriya.

Mereka-mereka inilah sayap-sayap Pram di Blora dan sekitarnya. Sepercik warisan dari Pram bahwa bumi manusia menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga, dipertahankan, dan diperjuangkan demi menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Selamat berkarya dan bergerak kawan-kawan! Pena dan gunting Pram bersama kalian…

Jombang, 11-14 Februari 2009
*) Dimuat majalah KIDUNG Dewan Kesenian Jatim Edisi 13.

Senin, 15 November 2010

Mazhab Sastra Facebookiyah *

Fahrudin Nasrulloh**
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?

Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki laptop dan modem sendiri untuk ber-internet-an. Malah dapat pula lewat telpon genggam.

Selain facebook yang tak jarang disesaki “status” basi-basi, saya mengamati seorang teman yang nyaris 24 jam nonstop tak beranjak dari laptopnya. Facebook telah dijadikannya sebagai rumah berkarya, mengusung semua karya-karyanya ke dalamnya, mengedit ulang, dan setelah itu menayangkannya dalan “note” ataupun “status”nya. Yang terakhir itu ia gunakan untuk menjalin sapa-kenal dan sambung-rasa dengan teman baru maupun teman lama. Saling bercengkerama, mengomentari, bahkan tak jarang dari teman pendatang “asing” nylonong masuk dan terjadilah percekcokan sengit soal apa saja ihwal politik, puisi, kesenian, pilkada, gigolo di Bali, hingga lomba karikatur Nabi Muhammad. Ini cerita kecil soal seorang penyair yang merasa karya-karyanya tertampik di koran. Ada dendam sampai tak bertekad lagi mengirim. Tapi semangat menulisnya tak pernah padam.

Ia terus bergerak dari batin terdalamnya yang kemudian menjadikan dirinya serpihan daun yang terapung-apung di belantara impiannya. Coba memaknai sesuatu yang tercecer dan mengendap lama dalam tempurung kepala dan daki yang mengerak di tapak kaki. Impian-impian yang diangankan, dalam keseharian yang pedat yang tak bosan-bosan menguntitnya, membentur apa saja yang bahkan kosong tapi kuasa mementalkan. Dan di tembok lapuk itu dirinya seolah membikin bundas batok kepalanya sendiri dengan seabrek kejayaan pengarang dan pemikir masa silam. Tapi tak ia perdulikan. Cinta atas nama puisi yang bergayut dalam dirinya menjelma menjadi hiruk-pikuk was-was, sakwasangka, dan kesumat penuh nafsu tersembunyi. Mengisi apa saja yang di tangkapnya dari jalan-jalan panjang yang pernah dilewatinya. Di lorong itulah ia, melimbur diri dalam dunia maya. Ada yang menyergapnya tiba-tiba di balik layar monitor, liang mause, dan pekatnya flashdisk.

Ia terus menulis, menulis apa saja untuk menebus apa saja yang pernah melongsor dari dirinya. Mengelupaskan diri dalam “status” facebook, hingga yang menguap pengap dari mulut para penyapa harus dipelototi dan “dijempoli”. Tapi dari “entah” itu, ia setidaknya ingin dianggap “ada”. “Ada” yang baginya penting ketimbang merasa sunyi sendiri di pelosok kampungnya. Hidup semakin kompleks. Kebutuhan sehari-hari makin mengimpit. Menulis adalah jalan yang diteguhkan pengalaman panjang sehingga menjadi sejenis iman. Tiba-tiba terasa ada yang menghentak, menelikung diam-diam, dari balik dinding keserbagamangan itu. Ia seperti biksu yang linglung, yang mencari makna bahwa keraguan yang dirawat baik akan menemukan lorong cahayanya sendiri.

Tiap sebatang rokok yang tandas, keringatnya mengudara dikesiur malam dan berakhir di perut asbak yang menggunung latu dan puntung. Kini menulis bukan perkara keramat dan wingit, semua orang dapat merayakan perkembangan teknologi yang dengan begitu murahnya terhadir di depan mata. Dalam fitur-fitur facebook itulah, ia jadikan sebagai medan bertapa. Khayalan cerita pendekar-pendekaran jaman dahulu mengisi imajinasinya. Laku bersyair, baginya, seperti lelaku si pendekar kelana yang menyerap ilmu dari guru ke guru demi menjadi pendekar pilih tanding.

Suatu hari, pada Selasa, 27 April 2010, ia menulis sebuah tulisan berjudul “Para Amatir yang Pemberani”. Tulisan ini agak panjang. Tentang energi menulis dan proses mengimaninya yang harus diperjuangkan. Ia menulisnya langsung di laptopnya dengan seberkas gairah yang barangkali amat jarang didapatinya di luar momen itu. Beberapa kalimat sempat saya rangkum berikut ini:

Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolakan dengan hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Dari pada bengong, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan bakal mempercepat segalanya? Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni. Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantuk membuta, bisa mengelak. Terus membaca, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan. Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh. Itu malah jadi godam kita suatu hari. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.

Penulis yang saya sebut itu adalah Nurel Javissyarqi, penyair dan bos penerbit Pustaka Pujangga dari Lamongan. Dari catatannya di atas jelas menyiratkan percikan dari endapan catatan perjalanannya dengan taburan tips menulis, agak filsafati, adventourus, dan sedikit magis. Setelah itu, pada 16 Mei 2010, ia menulis esai yang cukup menarik dengan judul “Untuk Bayi-bayi Besar Sastra Indonesia” yang didiskusikan dalam acara Geladak Sastra yang dihelat Komunitas Lembah Pring Jombang. Sedang pembicara lain, Bandung Mawardi dari Kabut Institut Solo, yang terbilang tulisannya kerap dimuat koran, menjadi kontras dengan pemikiran dan pengalaman Nurel. Yang satu bertapa-karya di facebook, dan yang satunya adalah “pengutuk facebook” yang telah merajai koran dengan esai-esainya.

Mencermati media facebook, juga media elektronik lain, sebagai “medan lintas batas” di mana “demokratisasi sastra” seperti yang disebut-sebut Afrizal Malna bergerak dengan percepatan dan ketakterdugaan yang berseliweran menerobosi keseharian penggunanya. Dan Nurel, setelah karya-karyanya tak digubris koran, ia memasuki lelorong facebook sebagai dendam skizofrenik yang “tak bertuan”.

Dalam arti lain, media koran sebagai sosialisasi karya para penulis, tidaklah menampung semua penulis. Ada ruang sistemik-prosedural yang berlaku dengan rambu-rambu tertentu di sana. Dan pertarungan di dalamnya pada akhirnya adalah bagi pemenang dan yang diberuntungkan. Koran dengan sendirinya telah benar-benar menjadi rezim sastra dan muasal dari segala proses itu adalah kegetolan mengirim karya, selebihnya seleksi, koneksi, dan jaringan personal-emosional yang terjaga baik antara penulis dan redaktur. Sejarah kecil “sastra koran” pada awal 2000-an yang pernah ditulis oleh kritikus Katrin Bandel dalam peta kesusastraan tanah air masih tetap menghangat diperbincangkan.

Dengan menjamurnya facebook dengan segala nilai positif-negatifnya, apakah kita juga melihat ihwal yang masih tersamar bahwa lewat sanakah kesusastraan Indonesia akan menilaskan jejak di kemudian hari? Tentu saja sastra koran adalah sisi lain yang masih kokoh tak tertandingi. Tapi penulis seperti Nurel dan lainnya, juga yang muda-muda dan yang tua-tua namun tetap bergairah, menjadikan facebook sebagai perlintasan jaringan informasi kekaryaan dan event kesenian yang sebenarnya jika diamati dengan cermat sungguh luar biasa perkembangannya. Itu salah satu pengaruh positifnya. Ekses lain mungkin dapat dibayangkan: penulis jadi malas riset berkarya, ajang gosip, tebar cerca dan fitnah, dan berpotensi ambeyen-liver-insomnia. Selain itu, banyak kita jumpai pengarang yang melahirkan karya lewat facebook, seperti Yusron Aminullah, adik Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.

Para penulis dan impian-impiannya mengalirkan karyanya dalam arus besar teknologi dan pergeseran gigantik yang tak tertampik itu. Ini seperti ramalan Jorge Luis Borges: “Di abad mendatang, ketika orang meneliti kesusastraan abad ini, nama-nama yang dikenal sebagai para sastrawan besar bakal berbeda, para pengarang tersembunyi bakal bermunculan, para pemenang Nobel Sastra akan dilupakan. Saya berharap, saya akan dilupakan…”

Nurel dan penulis lainnya yang seperjalanan, tentu mengeram imajinasi puitik demikian dan di batin terdalam mereka terselip tekad untuk mendapatkan tempat selain di koran demi menggores sejarah masing-masing. Dan inikah sejenis tanda era kesusastraan kaum facebookiyah?

-----
**) Bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang
*) dimuat di buletin [sastra] Pawon, edisi30 tahunIII, 2010

Kamis, 05 Agustus 2010

Presiden Bogambola

Fahrudin Nasrulloh
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Ayo, kita bebaskan iblis dan setan
Agar jelas mana surga mana neraka
Tanpa dunia di tengahnya!

Kita seakan dibikin bahlul dan geregetan menonton kondisi kisruh KPK-POLRI yang hinggi kini makin memanas. Mafia peradilan, makelar kasus, dan koruptor di mana-mana. Seperti puting-beliung Menggasak siapa saja. Skandal Bank Century sungguh menghantui. Hingga, si Amin, nasabahnya, stress lalu bunuh diri. Lama-lama orang-orang yang terlibat di dalamnya bagai monster. Memangsa saudara sendiri. Negeri ini bak “pabrik aib”, “sampah kebejatan” dan gudangnya anjing-anjing politik yang kerjanya nyolong dan saling menjilat. Tak ubahnya mafioso Michael Corleone dalam The Godfather yang kuasa membeli jabatan kehormatan “Mobilionare” di kepausan Vatikan. Everything is money and gun will finished everything, begitulah yang tersirat di film besutan Francis Ford Coppola dan Mario Puzzo ini. Jadi, demi segala persoalan di negeri ini, apa kira-kira yang dipikirkan Presiden kita?

Jadi pada siapa rakyat berharap penyelesaian semua itu? Pada Presiden? Pada MUI? Pada penegak hukum? Tampaknya tidak ada jaminan. Jika benar-benar serius, apa yang dilakukan SBY dalam 100 hari pemerintahannya? Solusi hanya andai-andai. Ngambang dan lamban. Ya, inilah “Dunia Bogambola” kita: dunia yang buntu, mampat, mentok, no way to run, no way to out. Bayangkan, jika selokan Anda mampat. Sampah menumpuk, menyumbat. Kadang karena bangkai tikus atau kucing kudisan. Baunya minta ampun. Bikin pening dan muntah-muntah. Bau banger, amis, dan rasa jijik juga adalah yang kita tonton tiap hari di TV. Drama politik yang mendebarkan. Santapan sinetron politik yang lebih aduhai, bikin ngiler, belingsatan, lebih menggairahkan plus kepingkal-pingkal ketimbang adegan Aming di film Perjaka Terakhir. Di balik semua keruwetan negeri ini, apa yang selalu digelisahkan Presiden kita?

Sajak Sosiawan Leak “Dunia Bogambola” yang ditulisnya pada 2000 tidak diniatkan menggambarkan kemampatan akut seseorang. Tapi sebagai sindiran, ia menonjok siapa pun. Karena dirinya sendiri juga pernah merasakan kebuntuan sebagai seniman, dan terhentak untuk mencari jalan keluar dengan berseru: Ayo, kita bebaskan iblis dan setan. Tapi toh iblis dan setan telah menguasai babi-babi politik yang sebenarnya tahu perbedaan mana jalan yang menuntun ke surga maupun ke neraka. Mengerti mana halal mana haram. Baik dan buruk. Nista dan bajik. Meski orang-orang Indonesia mayoritas muslim. Ya, puisi Leak cuma kata-kata yang tak mampu seperti celeng hutan menyeruduk kaum koruptor. Puisi bukan Izrail yang dengan seucap geram dapat menggencet nyawa si durja. Puisi juga bukan tank yang seketika bisa melindas ketidakadilan.

Namun, jika dihayati benar, puisi dapat berfungsi sebagai peniup kesadaran. Corong berisi angin kearifan, kendati tak semua orang bisa menangkapnya. Apapun bisa terudar atasnya. Bentuknya bisa kesadaran kolektif yang menggedor kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Mengintrusi alam batin rakyat. Yang sekian lama disia-siakan. Dipecundangi. Ditilap. Digelapkan kesejahteraannya. Reformasi 1998 adalah bukti pemicu gerakan perlawanan rakyat dan pemuda. “Suara rakyat adalah suara Tuhan”, menemukan momentumnya saat itu. Apakah sengkarut hukum yang didramatisir saat ini bakal meledakkan aksi sosial yang besar? Entahlah. Imajinasi tidak bisa diremehkan. Imajinasi akan “suara Tuhan” sebagai kebenaran yang diangankan dalam konteks psiko-sosiologi menyimpan “daya bangkit” sendiri. Ia dapat jadi hulu-ledak atas nama perlawanan rakyat. Apa pula yang akan diperbuat sang Presiden jika hal itu terjadi?

Krisis kepemimpinan saat ini di ujung ambang. Masyarakat tak lagi percaya. Mereka hanya punya harapan. Mungkin yang tersisa impen-impen kosong. Boleh jadi banyak yang kecewa atas terpilihnya SBY, juga menteri-menteri pilihannya. Setidaknya untuk saat-saat pelik akhir-akhir ini. Tepisan berulang-ulang SBY soal keterlibatan sejumlah tim suksesnya yang diduga menerima aliran dana dari Bank Century untuk kampanye kian mengasapi kebingungan masyarakat. Prasangka pahit dan menyudutkan ini sangat memukul SBY hingga ia perlu bersumpah “Demi Allah” atas tuduhan pengucuran dana tersebut.

Pemerintahan yang bersih dan tata hukum yang steril dari anjing-anjing politikus busuk adalah harapan kita semua. Tak ada yang berharap negara ini mengalami krisis yang menghebat. Sejarah mencatat betapa Jerman, Italia dan Jepang hancur habis-habisan setelah Perang Dunia II, lalu bisa pulih, membangun kembali kejayaan mereka. Raden Patah di Demak juga demikian. Ia bisa memulihkan situasi centang-perenang dan hiruk huru-hara di masa Wikrama Wardana. Di masa selanjutnya, pemerintahan Raden Patah juga mengalami kegoncangan yang luar biasa akibat lahirnya sosok Panembahan Senopati yang menancapkan kekuatan baru di tlatah Mataram.

SBY dan pemerintahannya tidak diperhadapkan pada situasi genting demikian. Hanya yang perlu diingat bagaimana ia mamandang dan menempatkan “rasio” kedaulatan rakyat. Artinya, tujuan SBY dipilih adalah agar cita-cita dan harapan rakyat terwujud. Bukan menambah beban penderitaan. Pasti, rakyat tak menghendaki kekuatan Presiden yang misalnya, absolut, fasis, tiranik, atau lebih kuat menancapkan partai politik tunggal demi kelanggengan kekuasaannya. Buku Membela Masa Depan karya WS Rendra menyebutnya sebagai “Politik Daulat Tuanku”. Inilah praktek yang dilakukan Niccolo Macheavelli di zaman renaissance Eropa di Florenzo, Italia. Ia mendasarkan pemikirannya bahwa stabilitas politik hanya bisa diciptakan oleh seorang penguasa yang secara mutlak menguasai dana dan serdadu dalam negara. Para pemimpin kesohor dunia melakoni teori ini seperti Napoleon, Stalin, Hitler, dan Mussolini. Inilah yang kita khawatirkan terjadi di negeri ini, meski agak mustahil.

Justru “Daulat Hukum” yang sekarang dirongrong, dilanda krisis. Dilecehkan cukong-cukong, dan Anda bisa terkaget-kaget sendiri bagaimana rekaman si Anggodo yang mencatut banyak pihak menyebar menjelma gosip sengak bahkan fitnah. Kewibawaan hukum di sana dimainkan. Ditertawakan. Ditunggangi. Yang fakta disulap jadi fiksi. Yang fiksi direka-rancang sedetil mungkin supaya jadi fakta yang benar-benar dapat dibuktikan. Kita tak lagi tahu mana penegak hukum yang jujur dan bersih dengan penegak hukum yang kotor dan jago bersilat manipulasi. Terasa benar di rekaman itu, si penegak hukum diperintah-perintah dengan cibiran mengece. Jika sudah begitu, sebagaimana kesan Mahfud MD (ketua Mahkamah Konstitusi yang dihadirkan beberapa waktu lalu di acara Kick Andy): para penegak hukum ini seperti “binatang” yang bisa seenak udelnya disuruh-suruh seperti budak. Nah, bagimana Presiden mengatasi semua sengkarut di lembaga hukum Indonesia ini?

Saya tidak berharap, Presiden kita adalah Presiden Bogambola: yang pikiran dan kerjanya tidak fokus karena digrujug banyak persoalan sehingga jadi buntu, mampat, dan mentok. Kita tunggu, dengan debar dan gatal, episode sandiwara politik selanjutnya!

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir