Dr. H. Sutejo, M.Hum.
http://sastra-indonesia.com
Suatu waktu, seorang pakar sastra, Prof. Dr. Budi Darma bertutur, “Ruh anak bisa jadi lebih tua dari orang tuanya. Karena itu, berhati-hatilah ibu dan bapak.” Aforisme ini, mengingatkan saya terus-menerus. Berenung tak henti. Kemudian saya teringat, bagaimana baginda Rasulullah begitu memuliakan anak-anak. Sebuah pesan yang Islami?
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 Juni 2013
Sabtu, 02 Maret 2013
Sinema Pengajaran Sastra Kita
Sutejo
MG, Minggu III Agu 1995
Mengapa pengajaran sastra kita banyak dikeluhkan orang? Mungkin karena keberadaannya yang berandil besar dalam penanaman kecintaan bangsa ini terhadap karya sastra. Paradigma demikian, barangkali terlalu bombastis. Tapi, setidaknya jika kita mau jujur sebenarnya pengajaran sastralah yang yang pertama-tama menentukan iklim dunia sastra kita. Sebagaimana keberartian pendidikan suatu bangsa yang akan memberikan corak dan kualitas bangsanya.
MG, Minggu III Agu 1995
Mengapa pengajaran sastra kita banyak dikeluhkan orang? Mungkin karena keberadaannya yang berandil besar dalam penanaman kecintaan bangsa ini terhadap karya sastra. Paradigma demikian, barangkali terlalu bombastis. Tapi, setidaknya jika kita mau jujur sebenarnya pengajaran sastralah yang yang pertama-tama menentukan iklim dunia sastra kita. Sebagaimana keberartian pendidikan suatu bangsa yang akan memberikan corak dan kualitas bangsanya.
Sabtu, 19 November 2011
SEKOLAH MENULIS PADA GOLA GONG*
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Gola Gong adalah salah seorang pendiri dan pengajar Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) yang telah begitu banyak melahirkan penulis muda berbakat di tanah air (dan ini merupakan bagian mimpi besar hidup saya). Penting diketahui, tahun kedua sudah menerbitkan kumpulan cerpen Kaca Mata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Qizin La Aziva melahirkan novel Gerimis Terakhir (DAR! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan karyanya berjudul Mana Bidadari Untukku (Beranda Hikmah, 2004).Tahun kelima, karya tulis mereka beterbaran di majalah dan koran lokal Jakarta. Tiga antologi cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku: Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005). Tahun 2005 itu, kedua siswanya, Qizink La Aziva dan Ade Jahran merintis sebagai wartawan lokal Jakarta (lihat Gola Gong, Menemukan Ide, MataBaca edisi September 2005:36-37).
Ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari pengalaman mengajar dan proses kreatif Gola Gong. Pada hal, sejak awal jelas ia mengatakan bahwa dia tidak memiliki gen kepenulisan (ayah guru olah raga dan ibunya besar dari keluarga petani). Tapi Gola memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menjadi pengarang (dan ini, sekali lagi, merupakan bagian motivasi hidup saya). Bagaimana dengan Anda? Keinginan menggebu, melahirkan usaha, usaha menerbitkan etos, etos melahirkan hasil dan karya, karya menerbitkan nama. Inilah hal pertama yang paling menonjol dapat dipetik dari pengalaman proses perjalanan kepenulisan Gola Gong.
Kedua, pada pengalaman pembelajaran menulis di KMRD itu ia selalu mengenalkan dunia jurnalistik pada muridnya selama satu bulan dan pada bulan kedua dikenalkan rumus 5W+1H, yang dalam pengalaman Gola dapat pula diterapkan dalam mengarang. Hal itu diberikan selama satu bulan. Ada beberapa pertanyaan penggali yang dikemukakan Gola (a) apakah Anda pernah bepergian jauh, dan (b) sukakah Anda membaca? Begitulah, pertanyaan mendasar yang selalu ditanyakan. Hal ini merupakan bahan dasar seseorang akan memasuki dunia menulis (fiksi).
Ketiga, dalam memotivasi penulis muda Gola selalu menyarankan begini (a) janganlah duduk di depan komputer dengan kepala kosong karena hanya membuang waktu saja, (b) ketika hendak menulis siapkan dulu semua: bahan, sinopsis, detailnya: alur cerita, tokoh, konflik, latar, dan karakter para tokoh, dan (c) seseorang ketika menulis sudah memasuki tahap produksi. Apa yang diproduksi? Itulah hakikatnya yang disiapkan pada dua hal sebelumnya (a dan b). Namun jika kita belajar dari penulis mapan macam Budi Darma, atau penulis mutkahir macam Dinar Rahayu dan Nukila Amal, praktis persiapan teknis demikian tidak terjadi. Sebab, bagi penulis ini menulis adalah sebuah proses yang mengalir. Bagaimana? Nggak usah bingung, itulah nanti yang akan Anda alami ketika sudah leading menjadi penulis. Saat demikianlah, yang disebut dengan mooding.
Lalu apa lagi yang dapat diambil? Buatlah buku harian. Ini penting, karena dengan buku harian ini kita berlatih dan mengolah kata. Dalam pengalaman Danarto, hal itu tidak saja melatih, tetapi juga sebagai bank inspirasi yang menarik.
Keempat, membudayakan membaca. Dalam bahasa analogis Ismail Marahimin, membaca seperti memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” dalam menulis. Di sinilah Gola Gong berkesimpulan, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Alfons Taryadi mengilustrasikan dua keterampilan ini sebagai “dua keasyikan yang saling terkait” (baca Membaca & Menulis, MataBaca April 2003:11-12). Hal itu diungkapkan ketika melaporkan pengakuan empat perempuan penulis masing-masing Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, dan Violetta Simatupang di TB Gramedia Matraman.
Kelima, kesulitan mengawali tulisan dapat diatasi dengan etos keras dan semangat belajar yang tiada henti. Gola Gong, secara tersirat dapat dipahami bahwa kesulitan pengawalan tulisan akan dapat teratasi dengan belajar keras, dengan membaca, dan dengan mencermati karya-karya orang lain. Jika kita tak pernah membaca, mungkin ini merupakan kesalahan terbesar, karena membaca ibarat pintu segala “temuan” berbagai kemungkinan yang menggerakkan “tenaga dalam” (pinjam bahasa Ismail Marahimin). Dalam teori psikologis, membaca memang dapat mempengaruhi alam bawah sadar yang berpengaruh penting terhadap terbentuknya kepribadian kita.
Keenam, dapat diawali dari mana saja. Ibarat kita bepergian ke pantai, dan di sana kita temukan aneka hal: keindahan pantai, keragaman pengunjung, ombak besar, perahu, nelayan, pasir, batu, ataupun. Kita dapat mengawali dari mana saja. Dari perahu, misalnya, dapat memancing imaji yang sangat panjang: (a) bukankah perahu simbol perjalanan, (b) perahu simbol kehidupan itu sendiri, (c) perahu metafor perempuan, (d) perahu lukisan beratnya perjalanan hidup yang penuh gelombang, dan (e) bukankah ada peribahasa yang mengatakan bahwa perkawinan itu seperti mengarungi bahtera di lautan.
Ketujuh, pentingnya mengoptimalkan pengalaman jurnalistik. Goenawan Mohammad, Seno Gumira Adjidarma, Oka Rusmini, Arswendo Atmowiloto, Bre Redana, Veven Sp Wardhana, Ayu Utami adalah sedikit nama yang berbasis jurnalistik kemudian sukses menjadi penulis. Bahkan Albert Camus, pemenang nobel bidang sastra 1957 adalah seorang penulis besar yang sukses pula sebagai kolumnis di Combat.
Kedelapan, manfaat berobservasi dalam bepergian. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai model mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan melibatkan emosi dalam berbagai persoalan yang ditemukan. Banyak penulis yang memanfaatkan pengalaman ini. Beni Setia, penyair Caruban asal Bandung, pernah bercerita kalau ia tidak mempunyai ide menyempatkan bepergian ke Surabaya, naik bus kota, sampai menemukan ide yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan.
Akhirnya, dengan membaca dapat dimanfaatkan pula sebagai bentuk observasi yang lain. Dengan banyak membaca laporan perjalanan orang, misalnya, akan menginspirasikan akan makna bepergian dengan membaca sebagai observasi. Laporan-laporan feature media cetak macam feature perjalanan, feature berita, feature human interest, feature wisata, dan feature sejarah merupakan sarana jurnalistik yang dapat dioptimalkan. Nah, nggak usah bepergian sendiri, lewat membaca ragam feature ini sama artinya kita telah berselancar ke samudera perjalanan dengan ketajaman observasi dan imajinasi.
Kesimpulannya, apa yang terpenting dapat disarikan dari pengalaman Gola Gong? Ternyata, (a) menulis itu dapat diajar-binakan, (b) menulis butuh etos, dan (c) bakat bukanlah ukuran. Dengan begitu mengeluh adalah hal yang perlu dibuang jauh. Menulis adalah sebuah gerak menapak, bukan laku tuntun yang menggantungkan pada kekuatan lain. Tapi sebuah ghirah abadi bersumber pada inner motivation seseorang. Nyala api yang senantiasa akan menghidupkan dan mencerahkan gerak imajinasi dan pikir calon-calon penulis. Silakah melangkah! Bersekolahlah pada pengalaman Kelas Menulis Rumah Dunia ini.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Gola Gong adalah salah seorang pendiri dan pengajar Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) yang telah begitu banyak melahirkan penulis muda berbakat di tanah air (dan ini merupakan bagian mimpi besar hidup saya). Penting diketahui, tahun kedua sudah menerbitkan kumpulan cerpen Kaca Mata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Qizin La Aziva melahirkan novel Gerimis Terakhir (DAR! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan karyanya berjudul Mana Bidadari Untukku (Beranda Hikmah, 2004).Tahun kelima, karya tulis mereka beterbaran di majalah dan koran lokal Jakarta. Tiga antologi cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku: Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005). Tahun 2005 itu, kedua siswanya, Qizink La Aziva dan Ade Jahran merintis sebagai wartawan lokal Jakarta (lihat Gola Gong, Menemukan Ide, MataBaca edisi September 2005:36-37).
Ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari pengalaman mengajar dan proses kreatif Gola Gong. Pada hal, sejak awal jelas ia mengatakan bahwa dia tidak memiliki gen kepenulisan (ayah guru olah raga dan ibunya besar dari keluarga petani). Tapi Gola memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menjadi pengarang (dan ini, sekali lagi, merupakan bagian motivasi hidup saya). Bagaimana dengan Anda? Keinginan menggebu, melahirkan usaha, usaha menerbitkan etos, etos melahirkan hasil dan karya, karya menerbitkan nama. Inilah hal pertama yang paling menonjol dapat dipetik dari pengalaman proses perjalanan kepenulisan Gola Gong.
Kedua, pada pengalaman pembelajaran menulis di KMRD itu ia selalu mengenalkan dunia jurnalistik pada muridnya selama satu bulan dan pada bulan kedua dikenalkan rumus 5W+1H, yang dalam pengalaman Gola dapat pula diterapkan dalam mengarang. Hal itu diberikan selama satu bulan. Ada beberapa pertanyaan penggali yang dikemukakan Gola (a) apakah Anda pernah bepergian jauh, dan (b) sukakah Anda membaca? Begitulah, pertanyaan mendasar yang selalu ditanyakan. Hal ini merupakan bahan dasar seseorang akan memasuki dunia menulis (fiksi).
Ketiga, dalam memotivasi penulis muda Gola selalu menyarankan begini (a) janganlah duduk di depan komputer dengan kepala kosong karena hanya membuang waktu saja, (b) ketika hendak menulis siapkan dulu semua: bahan, sinopsis, detailnya: alur cerita, tokoh, konflik, latar, dan karakter para tokoh, dan (c) seseorang ketika menulis sudah memasuki tahap produksi. Apa yang diproduksi? Itulah hakikatnya yang disiapkan pada dua hal sebelumnya (a dan b). Namun jika kita belajar dari penulis mapan macam Budi Darma, atau penulis mutkahir macam Dinar Rahayu dan Nukila Amal, praktis persiapan teknis demikian tidak terjadi. Sebab, bagi penulis ini menulis adalah sebuah proses yang mengalir. Bagaimana? Nggak usah bingung, itulah nanti yang akan Anda alami ketika sudah leading menjadi penulis. Saat demikianlah, yang disebut dengan mooding.
Lalu apa lagi yang dapat diambil? Buatlah buku harian. Ini penting, karena dengan buku harian ini kita berlatih dan mengolah kata. Dalam pengalaman Danarto, hal itu tidak saja melatih, tetapi juga sebagai bank inspirasi yang menarik.
Keempat, membudayakan membaca. Dalam bahasa analogis Ismail Marahimin, membaca seperti memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” dalam menulis. Di sinilah Gola Gong berkesimpulan, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Alfons Taryadi mengilustrasikan dua keterampilan ini sebagai “dua keasyikan yang saling terkait” (baca Membaca & Menulis, MataBaca April 2003:11-12). Hal itu diungkapkan ketika melaporkan pengakuan empat perempuan penulis masing-masing Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, dan Violetta Simatupang di TB Gramedia Matraman.
Kelima, kesulitan mengawali tulisan dapat diatasi dengan etos keras dan semangat belajar yang tiada henti. Gola Gong, secara tersirat dapat dipahami bahwa kesulitan pengawalan tulisan akan dapat teratasi dengan belajar keras, dengan membaca, dan dengan mencermati karya-karya orang lain. Jika kita tak pernah membaca, mungkin ini merupakan kesalahan terbesar, karena membaca ibarat pintu segala “temuan” berbagai kemungkinan yang menggerakkan “tenaga dalam” (pinjam bahasa Ismail Marahimin). Dalam teori psikologis, membaca memang dapat mempengaruhi alam bawah sadar yang berpengaruh penting terhadap terbentuknya kepribadian kita.
Keenam, dapat diawali dari mana saja. Ibarat kita bepergian ke pantai, dan di sana kita temukan aneka hal: keindahan pantai, keragaman pengunjung, ombak besar, perahu, nelayan, pasir, batu, ataupun. Kita dapat mengawali dari mana saja. Dari perahu, misalnya, dapat memancing imaji yang sangat panjang: (a) bukankah perahu simbol perjalanan, (b) perahu simbol kehidupan itu sendiri, (c) perahu metafor perempuan, (d) perahu lukisan beratnya perjalanan hidup yang penuh gelombang, dan (e) bukankah ada peribahasa yang mengatakan bahwa perkawinan itu seperti mengarungi bahtera di lautan.
Ketujuh, pentingnya mengoptimalkan pengalaman jurnalistik. Goenawan Mohammad, Seno Gumira Adjidarma, Oka Rusmini, Arswendo Atmowiloto, Bre Redana, Veven Sp Wardhana, Ayu Utami adalah sedikit nama yang berbasis jurnalistik kemudian sukses menjadi penulis. Bahkan Albert Camus, pemenang nobel bidang sastra 1957 adalah seorang penulis besar yang sukses pula sebagai kolumnis di Combat.
Kedelapan, manfaat berobservasi dalam bepergian. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai model mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan melibatkan emosi dalam berbagai persoalan yang ditemukan. Banyak penulis yang memanfaatkan pengalaman ini. Beni Setia, penyair Caruban asal Bandung, pernah bercerita kalau ia tidak mempunyai ide menyempatkan bepergian ke Surabaya, naik bus kota, sampai menemukan ide yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan.
Akhirnya, dengan membaca dapat dimanfaatkan pula sebagai bentuk observasi yang lain. Dengan banyak membaca laporan perjalanan orang, misalnya, akan menginspirasikan akan makna bepergian dengan membaca sebagai observasi. Laporan-laporan feature media cetak macam feature perjalanan, feature berita, feature human interest, feature wisata, dan feature sejarah merupakan sarana jurnalistik yang dapat dioptimalkan. Nah, nggak usah bepergian sendiri, lewat membaca ragam feature ini sama artinya kita telah berselancar ke samudera perjalanan dengan ketajaman observasi dan imajinasi.
Kesimpulannya, apa yang terpenting dapat disarikan dari pengalaman Gola Gong? Ternyata, (a) menulis itu dapat diajar-binakan, (b) menulis butuh etos, dan (c) bakat bukanlah ukuran. Dengan begitu mengeluh adalah hal yang perlu dibuang jauh. Menulis adalah sebuah gerak menapak, bukan laku tuntun yang menggantungkan pada kekuatan lain. Tapi sebuah ghirah abadi bersumber pada inner motivation seseorang. Nyala api yang senantiasa akan menghidupkan dan mencerahkan gerak imajinasi dan pikir calon-calon penulis. Silakah melangkah! Bersekolahlah pada pengalaman Kelas Menulis Rumah Dunia ini.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
Rabu, 26 Januari 2011
KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA*
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan.
Pada tanggal 11/6/08 ketika ia mengenalkan penulis dengan seorang peneliti dari Malasyia, dia langsung komentar, “Kritik ya! Kalau berhadapan dengan orang kita tak perlu takut. Semua orang sama. Mereka belum tentu lebih pinter dari kita. Tegak dan sigap, katanya.” Bagi, penulis hal itu kritik konstruktif yang saya sambut dengan lapang dada. Dua lelaki Malasyia itu adalah Prof. Datuk Abdul Latif Abu Bakar dan Prof. Abdullah Zakaria bin Ghazali (Universitas Malaya Kuala Lumpur). Hal itu, terjadi di sebuah seminar internasional di Jakarta. Dan, lelaki “sang guru” itu adalah Maman S. Mahayana (Universitas Indonesia).
Apa yang menarik dipetik dari pengalaman Maman? Lelaki ini lebih dikenal sebagai kritikus sastra yang telah begitu banyak menulis buku diantaranya 9 Jawaban Sastra (2005), Bermain-main dengan Cerpen (2006), Ekstrinsikalitas Karya Sastra (2007). Dalam menulis kritik, misalnya, hal yang sering dikatakan adalah: (a) jangan banyak menggunakan istilah asing (b) pergunakan bahasa yang sederhana tetapi bermakna, (c) jangan bombastis, dan (d) lakukan secara tajam dan argumentatif.
Empat hal ini seperti pigura yang senantiasa memberikan batas atas gagasan dalam berekspresi. Esai, yang kemudian, banyak saya tekuni –terus terang— ada kecenderungan untuk menerjemahkan pesan sang Maman. Yang oleh beberapa mahasiswa, ia sering dipanggil sang Dewa Mahayana. Hal itu paralel dengan teori fungsionalisasi yang sering disarang Budi Darma dalam penampingan kepenulisan pada para mahasiswa. Bahwa segala sesuatu dalam deret kalimat “harus” berfungsi. Karena itu, kalau bisa diungkapkan 5 kalimat mengapa harus 15 kalimat? Begitulah barangkali jika diungkapkan secara oratoris. Untuk ini, memang kejernihan dalam berbahasa merupakan sebuah kunci penting. Demikian atas teori tertentu yang dipergunakan dalam sebuah esai, misalnya, tidak boleh bombastis. Secukupnya.
Di sinilah, sesungguhnya dalam penulisan esai, memang, yang dibutuhkan adalah eksplorasi, impresi, dan investigasi yang mendalam. Gaya tentunya tidak terikat. Sebagaimana sifat esai yang pribadi, maka kekhasan tulisan yang “tidak terikat” merupakan pilihan yang tepat. Sebuah esai, karena itu, dituntut kompetensi bidang yang andal di samping kejelian dalam mengajinya. Inilah, pesan terdalam yang sering dipesankan Maman dalam penulisan ulasan berupa esai.
Selama ini, dalam berbagai pelatihan penulisan fiksi, Maman S. Mahayana mengilustrasikan kemampuan dasar yang penting dimiliki calon penulis. Kemampuan dasar itu mencakup diantaranya: (a) mendeskripsikan ruang dan tempat, (b) mendeskripsikan profil, (c) menarasikan peristiwa, (d) merangkai kejadian, (e) melatihkan gaya cerita, (f) membuat potongan kisah, (g) melukiskan karakter, dan sebagainya. Kemampuan dasar dalam penulisan fiksi seringkali merupakan faktor yang perlu dimiliki. Logikanya, hal-hal itu akan menjadi bahan penting dalam pembangunan kemampuan kreatif selanjutnya. Cerpen yang baik, misalnya, kata Maman mutlak menuntut kemampuan pembuatan seting yang menarik. Karena hal itu merupakan hal pertama. Ia mencohtohkan Ahmad Tohari, seorang novelis yang kuat dalam penulisan setting. Mau tidak mau, memang, setting akan berandil atas karakter tokoh yang dipilihnya.
Karena itu, jika Anda pengin menulis fiksi tentunya pesan-pesan ini tidak boleh diabaikan. Kekokohan totalitas cerita karena itu, mau tidak mau, ditentukan oleh kekokohan aspek-aspen pembangunnya. Baru setelah itu, kemengaliran dalam penceritaan. Ibarat alir air, sebuah cerita mampu mengantarkan aliran imajinasi seakan-akan pembaca arus dalam geraknya. Kalaupun tokoh bercakap, seakan tokoh hidup dalam pikiran yang diciptakannya. Dalam bahasa Budi Darma, dengan alat demikian, tokoh akan bisa hidup (bercahaya?) lewat pikiran dan bahasa yang digunakannya dalam dialog.
Lebih dari itu, hal lain yang penting Anda miliki adalah pentingnya kebiasaan membaca. Membaca, kata Maman, adalah ruang dialog, ruang berbagi, dan ruang pemodelan. Bagaimana akan menulis cerpen kalau tidak tahu cerpen. Di sinilah, ukuran pertama-tama setelah orang mampu membedakan karakter cerpen (termasuk yang baik dan buruk), baru akan terjadi proses transformasi pengetahuan secara tidak langsung. Cerpen yang baik, katanya, tokohnya tidak harus banyak. Tetapi inspiratif dan menggerakkan imaji pembaca.
Pada tengah Juni 2008 lalu, hal itu juga diungkapkan pada penyair Nurel Javissyarqi (asal Lamongan). Lelaki kurus yang bukan pendidik (karena alergi keberaturan pola guru) itu terus-menerus terjebak dalam ruang diskusi. Apakah kemudian karya itu baik atau tidak, tentunya akan terus bisa diperdebatkan. Hanya, yang penting dipahami adalah dalam menulis maupun memahami teks sastra ada tiga kode menarik yang perlu direnungkan: (a) kode bahasa, (b) kode budaya, dan (c) kode sastra. Penguasaan penulis dalam menulis teks sastra, tentunya mutlak menguasai ketiganya.
Kode bahasa akan menuntun pada ketepatan dan keruntuntan, termasuk kejernihan dalam berbahasa. Kode budaya akan menggiring penulis pada kemampuan membuat imajinasi pembaca lewat pilihan kata yang berbudaya, mencerminkan konteks sosial, dan lain sebagainya. Di sini, penulis merupakan bagian dari struktur budaya itu sendiri, dan karenannya pilihan bahasa itu pun dengan sendirinya merupakan simbol kebudayaan sosial masyarakatnya. Dalam menampilkan tokoh-tokohnya, misalnya, tokoh tidak boleh tercerabut dalam “koridor budaya” ini. Baik secara bahasa maupun kemungkinan simbol-simbol budaya yang melingkarinya. Sedangkan, kode sastra mengingatkan kita bahwa tulisan sastra bukanlah bahasa biasa. Tetapi bahasa indah estetik yang memberikan ruang imajinasi, ruang bayang hingga terawang angan pembaca yang terus alirkan pikiran bimbang. Artinya, teks sastra memang bukanlah menyuguhkan kebenaran mutlak. Tetapi, pemaknaan yang terus berproses dan berulang sehingga kebenaran yang ditawarkan pun bersifat implisit.
Maman, barangkali termasuk sedikit orang yang sabar dalam meberikan pengantar para penulis muda. Melalui bahasa yang kadang “bombastis” untuk menggali motivasi yang diantarkannya sesungguhnya selalu ada bahasa komunikasi penting yang menarik untuk direfleksikan. Ditawar ulang. Tugas kritikus, katanya, memberikan ruang dialog, membuka pintu, dan membukakan jendela estetis. Sejauh dan sedapat mungkin. Kritikus sastra bukanlah pembunuh kreativitas tetapi penumbuh dan penggali keestetikan yang –barangkali pula—masih terpendam.
Bagaimanapun, lanjutnya, menulis dan berkesenian membutuhkan latihan yang terus-menerus. Mengapa? Jika Anda penulis (terlebih calon penulis) berhenti berlatih adalah kemandekan. Kemandekan artinya kepuasan. Padahal dunia kepenulisan adalah dunia alir air laut yang terus bergulung dan berombak. Kepenulisan terus-menerus mengalami pendakian sesekali, tetapi mengalami penurunan pula dalam kala yang berbeda. Artinya, latihan (dan pembacaan atas teks-teks terbaik) merupakan ruang pemodelan kreatif yang menarik untuk dilatihkan. Ini sama sekali bukan berarti pemasungan kreatif, tetapi lebih dari itu, adalah ruang tinju untuk membangkitkan nyali tak henti untuk meniti. Jalan kepenulisan adalah titian hati dai satu sisi dan di sisi lain adalah titian pikir. Memadukan keduanya adalah butuh kearifan kreatif –yang seringkali—antar penulis bersifat unik.
Bagaimana dengan Anda? Meminjam bahasa motivasi, berlatih adalah saat penemuan diri, dan berlatih pula adalah kala berdoa. Pasrah atas hasil yang diungkapkan bersifat gerak menerima dan berubah. Untuk itu, berlatihlah untuk menemukan style diri, bahasa pengucapan, sehingga akan menjadi pesona pada saatnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan.
Pada tanggal 11/6/08 ketika ia mengenalkan penulis dengan seorang peneliti dari Malasyia, dia langsung komentar, “Kritik ya! Kalau berhadapan dengan orang kita tak perlu takut. Semua orang sama. Mereka belum tentu lebih pinter dari kita. Tegak dan sigap, katanya.” Bagi, penulis hal itu kritik konstruktif yang saya sambut dengan lapang dada. Dua lelaki Malasyia itu adalah Prof. Datuk Abdul Latif Abu Bakar dan Prof. Abdullah Zakaria bin Ghazali (Universitas Malaya Kuala Lumpur). Hal itu, terjadi di sebuah seminar internasional di Jakarta. Dan, lelaki “sang guru” itu adalah Maman S. Mahayana (Universitas Indonesia).
Apa yang menarik dipetik dari pengalaman Maman? Lelaki ini lebih dikenal sebagai kritikus sastra yang telah begitu banyak menulis buku diantaranya 9 Jawaban Sastra (2005), Bermain-main dengan Cerpen (2006), Ekstrinsikalitas Karya Sastra (2007). Dalam menulis kritik, misalnya, hal yang sering dikatakan adalah: (a) jangan banyak menggunakan istilah asing (b) pergunakan bahasa yang sederhana tetapi bermakna, (c) jangan bombastis, dan (d) lakukan secara tajam dan argumentatif.
Empat hal ini seperti pigura yang senantiasa memberikan batas atas gagasan dalam berekspresi. Esai, yang kemudian, banyak saya tekuni –terus terang— ada kecenderungan untuk menerjemahkan pesan sang Maman. Yang oleh beberapa mahasiswa, ia sering dipanggil sang Dewa Mahayana. Hal itu paralel dengan teori fungsionalisasi yang sering disarang Budi Darma dalam penampingan kepenulisan pada para mahasiswa. Bahwa segala sesuatu dalam deret kalimat “harus” berfungsi. Karena itu, kalau bisa diungkapkan 5 kalimat mengapa harus 15 kalimat? Begitulah barangkali jika diungkapkan secara oratoris. Untuk ini, memang kejernihan dalam berbahasa merupakan sebuah kunci penting. Demikian atas teori tertentu yang dipergunakan dalam sebuah esai, misalnya, tidak boleh bombastis. Secukupnya.
Di sinilah, sesungguhnya dalam penulisan esai, memang, yang dibutuhkan adalah eksplorasi, impresi, dan investigasi yang mendalam. Gaya tentunya tidak terikat. Sebagaimana sifat esai yang pribadi, maka kekhasan tulisan yang “tidak terikat” merupakan pilihan yang tepat. Sebuah esai, karena itu, dituntut kompetensi bidang yang andal di samping kejelian dalam mengajinya. Inilah, pesan terdalam yang sering dipesankan Maman dalam penulisan ulasan berupa esai.
Selama ini, dalam berbagai pelatihan penulisan fiksi, Maman S. Mahayana mengilustrasikan kemampuan dasar yang penting dimiliki calon penulis. Kemampuan dasar itu mencakup diantaranya: (a) mendeskripsikan ruang dan tempat, (b) mendeskripsikan profil, (c) menarasikan peristiwa, (d) merangkai kejadian, (e) melatihkan gaya cerita, (f) membuat potongan kisah, (g) melukiskan karakter, dan sebagainya. Kemampuan dasar dalam penulisan fiksi seringkali merupakan faktor yang perlu dimiliki. Logikanya, hal-hal itu akan menjadi bahan penting dalam pembangunan kemampuan kreatif selanjutnya. Cerpen yang baik, misalnya, kata Maman mutlak menuntut kemampuan pembuatan seting yang menarik. Karena hal itu merupakan hal pertama. Ia mencohtohkan Ahmad Tohari, seorang novelis yang kuat dalam penulisan setting. Mau tidak mau, memang, setting akan berandil atas karakter tokoh yang dipilihnya.
Karena itu, jika Anda pengin menulis fiksi tentunya pesan-pesan ini tidak boleh diabaikan. Kekokohan totalitas cerita karena itu, mau tidak mau, ditentukan oleh kekokohan aspek-aspen pembangunnya. Baru setelah itu, kemengaliran dalam penceritaan. Ibarat alir air, sebuah cerita mampu mengantarkan aliran imajinasi seakan-akan pembaca arus dalam geraknya. Kalaupun tokoh bercakap, seakan tokoh hidup dalam pikiran yang diciptakannya. Dalam bahasa Budi Darma, dengan alat demikian, tokoh akan bisa hidup (bercahaya?) lewat pikiran dan bahasa yang digunakannya dalam dialog.
Lebih dari itu, hal lain yang penting Anda miliki adalah pentingnya kebiasaan membaca. Membaca, kata Maman, adalah ruang dialog, ruang berbagi, dan ruang pemodelan. Bagaimana akan menulis cerpen kalau tidak tahu cerpen. Di sinilah, ukuran pertama-tama setelah orang mampu membedakan karakter cerpen (termasuk yang baik dan buruk), baru akan terjadi proses transformasi pengetahuan secara tidak langsung. Cerpen yang baik, katanya, tokohnya tidak harus banyak. Tetapi inspiratif dan menggerakkan imaji pembaca.
Pada tengah Juni 2008 lalu, hal itu juga diungkapkan pada penyair Nurel Javissyarqi (asal Lamongan). Lelaki kurus yang bukan pendidik (karena alergi keberaturan pola guru) itu terus-menerus terjebak dalam ruang diskusi. Apakah kemudian karya itu baik atau tidak, tentunya akan terus bisa diperdebatkan. Hanya, yang penting dipahami adalah dalam menulis maupun memahami teks sastra ada tiga kode menarik yang perlu direnungkan: (a) kode bahasa, (b) kode budaya, dan (c) kode sastra. Penguasaan penulis dalam menulis teks sastra, tentunya mutlak menguasai ketiganya.
Kode bahasa akan menuntun pada ketepatan dan keruntuntan, termasuk kejernihan dalam berbahasa. Kode budaya akan menggiring penulis pada kemampuan membuat imajinasi pembaca lewat pilihan kata yang berbudaya, mencerminkan konteks sosial, dan lain sebagainya. Di sini, penulis merupakan bagian dari struktur budaya itu sendiri, dan karenannya pilihan bahasa itu pun dengan sendirinya merupakan simbol kebudayaan sosial masyarakatnya. Dalam menampilkan tokoh-tokohnya, misalnya, tokoh tidak boleh tercerabut dalam “koridor budaya” ini. Baik secara bahasa maupun kemungkinan simbol-simbol budaya yang melingkarinya. Sedangkan, kode sastra mengingatkan kita bahwa tulisan sastra bukanlah bahasa biasa. Tetapi bahasa indah estetik yang memberikan ruang imajinasi, ruang bayang hingga terawang angan pembaca yang terus alirkan pikiran bimbang. Artinya, teks sastra memang bukanlah menyuguhkan kebenaran mutlak. Tetapi, pemaknaan yang terus berproses dan berulang sehingga kebenaran yang ditawarkan pun bersifat implisit.
Maman, barangkali termasuk sedikit orang yang sabar dalam meberikan pengantar para penulis muda. Melalui bahasa yang kadang “bombastis” untuk menggali motivasi yang diantarkannya sesungguhnya selalu ada bahasa komunikasi penting yang menarik untuk direfleksikan. Ditawar ulang. Tugas kritikus, katanya, memberikan ruang dialog, membuka pintu, dan membukakan jendela estetis. Sejauh dan sedapat mungkin. Kritikus sastra bukanlah pembunuh kreativitas tetapi penumbuh dan penggali keestetikan yang –barangkali pula—masih terpendam.
Bagaimanapun, lanjutnya, menulis dan berkesenian membutuhkan latihan yang terus-menerus. Mengapa? Jika Anda penulis (terlebih calon penulis) berhenti berlatih adalah kemandekan. Kemandekan artinya kepuasan. Padahal dunia kepenulisan adalah dunia alir air laut yang terus bergulung dan berombak. Kepenulisan terus-menerus mengalami pendakian sesekali, tetapi mengalami penurunan pula dalam kala yang berbeda. Artinya, latihan (dan pembacaan atas teks-teks terbaik) merupakan ruang pemodelan kreatif yang menarik untuk dilatihkan. Ini sama sekali bukan berarti pemasungan kreatif, tetapi lebih dari itu, adalah ruang tinju untuk membangkitkan nyali tak henti untuk meniti. Jalan kepenulisan adalah titian hati dai satu sisi dan di sisi lain adalah titian pikir. Memadukan keduanya adalah butuh kearifan kreatif –yang seringkali—antar penulis bersifat unik.
Bagaimana dengan Anda? Meminjam bahasa motivasi, berlatih adalah saat penemuan diri, dan berlatih pula adalah kala berdoa. Pasrah atas hasil yang diungkapkan bersifat gerak menerima dan berubah. Untuk itu, berlatihlah untuk menemukan style diri, bahasa pengucapan, sehingga akan menjadi pesona pada saatnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
Rabu, 21 Januari 2009
MENULIS DAN ASMA NADIA*
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: "Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah." Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD.
Sedangkan Asma Nadia yang terlahir 26 Maret 1972 di Jakarta ini memiliki proses kreatif realtif dekat dengan Helvy dan yang menarik untuk disimak. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh kerja kepenulisannya yang begitu produktif, 30 lebih judul buku telah dilahirkannya. Lebih dari itu, tiga buku diantaranya meraih Anugerah Adikarya Ikapi, yakni (a) Kumpulan cerpen Rembulan di Mata Ibu (2002), (b) Dialog Dua Layar (2003), dan (c) novel 1001 Dating (2005). Berikut merupakan refleksi dari ungkap kreatif yang dilaporkan MataBaca (edisi September 2005:22-23).
Apa yang menarik dari proses kreatif Asma Nadia? Sebuah jejak menulis yang menarik untuk dijejaki (a) begitu mendapat ide penulis ini langsung menentukan alur, tokoh, setting, dan endingnya, (b) ketika ide belum matang (belum jelas bentuknya) dia perlu waktu untuk mengendapkan dan mungkin observasi supaya ide menemukan bentuk terbaiknya, (c) menulis itu perlu komitmen sebagaimana profesi yang lain, (d) bakat turunan ayahnya, (e) terbentuk oleh budaya menulis di keluarga, (f) kritik pedas yang terus mengalir dari suaminya, (g) anak dan suami yang mengerti akan kerja kreatifnya, (i) pentingnya alasan yang kuat dalam menulis, dan (j) pentingnya kerja keras.
Kalau karibnya, Helvy Tiana Rosa pernah mengaku bahwa awal kepenulisannya sejak SD, SMP, dan SMA untuk mencari tambahan biaya sekolah, akhirnya termotivasi untuk membagi sesuatu yang abadi dengan orang lain. Agak berbeda dengan seniornya itu, Nadia lebih diuntungkan oleh bakat yang mengalir dari ayahnya. Bakat pun, pesan A.A. Navis jika tidak didukung oleh etos yang tinggi hanya akan menyumbang kesuksesan 20 persen saja. Karena dalam pengalaman Navis, memang profesi menulis 80 persen lebih ditentukan oleh kerja keras. Di sinilah, hal pertama yang menarik dipetik dari Nadia, “Jangan mudah menyerah. Penulis harus ngotot. Ingat, bahwa keberhasilan adalah jumlah kegagalan +1,” ungkapnya. Profesi apa pun memang membutuhkan etos dan keuletan yang tinggi.
Dalam konteks akuan demikian, maka hal kedua yang menarik diambil adalah pesan Nadia yang mengingatkan bahwa prfesi menulis membutuhkan komitmen. Komitmen yang bagaimana? Tentunya, menyeluruh. Tidak heran, jika keluarga Nadia begitu komit dalam mendorongnya. Suami rajin mengritik dan menilai, anak-anaknya memahami akan profesinya, dan bahkan kultur dan aroma menulis kental di keluarganya. Bahkan, Eva Maria Putri Salsabila yang masih duduk di SD, anaknya, juga menekuni dunia kepenulisan.
Hal ini mengingatkan penulis perempuan dari Surabaya yang mirip dengan Nadia. Yati Setiawan yang bersuami seorang penulis Wawan Setiawan dan kedua anak remajanya pun aktif menulis di Nova. Budaya membaca dan menulis sudah mengakar. Meskipun tidak secemerlang Nadia, namun Yati Setiawan juga memiliki komitmen yang tidak jauh berbeda dengannya. Wuih! Jika sukses menulis itu kita impikan, maka pembudayaan baca tulis di keluarga, komitmen, dan motivasi warganya akan menjadi kunci pentingnya. Pelan-pelan, marilah kita ciptakan keluarga kita sebagai keluarga yang komit pada kedua bidang ini.
Pengalaman kreatif Nadia dalam menggauli ide itu menarik disimak. Jika sudah matang, maka tinggal tentukan plot, tokoh, setting, dan ending-nya. Tapi kalau belum, sebagaimana Ayu Utami, HU Mardiluhung, dan penulis lainnya dibutuhkanlah research. Dalam bahasa Nadia, butuh observasi dan pengendapan agar lebih matang. Masalah tuh bagaimana mengendapkannya? Memikir-mikirkan terus, mengaitkan dengan informasi dan memori kita, menggulatkan dengan pengalaman batin dan didukung observasi lapangan maupun pustaka, tentunya. Mengingat membaca dan menulis merupakan pasangan yang paling mengasyikkan maka nyaris keduanya tidak bisa dipisahkan.
Hal keempat yang tidak boleh dilupakan adalah terciptanya tradisi berguru. Pembaca, dalam bahasa kejujuran kreatif (siapa pun itu hakikatnya adalah guru). Asma Nadia, suami dan anak-anaknya adalah guru kepenulisan itu. Alir kritik pedas suaminya, Alamsyah, adalah ruang refleksi setiap waktu. Dan inilah, juga ketika kita mencermati Yati Setiawan (Surabaya) itu telah sukses membentuk kultur guru-murid (dalam artian filosofis ini) di balik kultur positif di keluarganya. Sebuah tradisi yang kita impikan manakala kita (dan Anda) yang merindukan menulis menjadi profesi di keluarga kita. Berat? Ah, tidak sebenarnya, semua bisa bermula dari kebiasaan kecil macam (a) tradisi kado buku pada anggota keluarga, (b) adanya keteladanan baca, (c) adanya sharing pengalaman tulis, (d) adanya saat-saat diskusi rileks dalam memasakkan pengalaman, dan (e) tentunya perlunya ketersediaan sarana pendukung yang membimbing.
Terakhir, pentingnya keteguhan alasan. Bukankah alasan ini bisa menggerakkan apa pun profesi orang? Semacam latar belakang, background yang akan menentukan langkah menulis selanjutnya. Dalam pengalaman proses kreatif banyak penulis dikenal beragam alasan (a) ada yang menulis untuk mencari uang macam Isbedy Setyawan, (b) ada yang menulis untuk mengekspresikan diri macam Dinar Rahayu, (c) ada yang menulis untuk menyalurkan hobi, (d) ada yang menulis karena panggilan mood takdir macam Budi Darma, (e) ada yang menulis untuk mencari popularitas, (f) ada yang menulis untuk memotret dan sampaikan realitas macam Nh. Dini, dan (g) ada yang menulis untuk melakukan protes sosial macam Wiji Thukul. Eh, sekarang “Apa alasan Anda memasuki rumah kepenulisan?” Selamat berenung, apa pun alasan Anda (dan itu bisa ditambah draf alasannya) akan menentukan langkah-jejak karya Anda di masa depan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: "Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah." Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD.
Sedangkan Asma Nadia yang terlahir 26 Maret 1972 di Jakarta ini memiliki proses kreatif realtif dekat dengan Helvy dan yang menarik untuk disimak. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh kerja kepenulisannya yang begitu produktif, 30 lebih judul buku telah dilahirkannya. Lebih dari itu, tiga buku diantaranya meraih Anugerah Adikarya Ikapi, yakni (a) Kumpulan cerpen Rembulan di Mata Ibu (2002), (b) Dialog Dua Layar (2003), dan (c) novel 1001 Dating (2005). Berikut merupakan refleksi dari ungkap kreatif yang dilaporkan MataBaca (edisi September 2005:22-23).
Apa yang menarik dari proses kreatif Asma Nadia? Sebuah jejak menulis yang menarik untuk dijejaki (a) begitu mendapat ide penulis ini langsung menentukan alur, tokoh, setting, dan endingnya, (b) ketika ide belum matang (belum jelas bentuknya) dia perlu waktu untuk mengendapkan dan mungkin observasi supaya ide menemukan bentuk terbaiknya, (c) menulis itu perlu komitmen sebagaimana profesi yang lain, (d) bakat turunan ayahnya, (e) terbentuk oleh budaya menulis di keluarga, (f) kritik pedas yang terus mengalir dari suaminya, (g) anak dan suami yang mengerti akan kerja kreatifnya, (i) pentingnya alasan yang kuat dalam menulis, dan (j) pentingnya kerja keras.
Kalau karibnya, Helvy Tiana Rosa pernah mengaku bahwa awal kepenulisannya sejak SD, SMP, dan SMA untuk mencari tambahan biaya sekolah, akhirnya termotivasi untuk membagi sesuatu yang abadi dengan orang lain. Agak berbeda dengan seniornya itu, Nadia lebih diuntungkan oleh bakat yang mengalir dari ayahnya. Bakat pun, pesan A.A. Navis jika tidak didukung oleh etos yang tinggi hanya akan menyumbang kesuksesan 20 persen saja. Karena dalam pengalaman Navis, memang profesi menulis 80 persen lebih ditentukan oleh kerja keras. Di sinilah, hal pertama yang menarik dipetik dari Nadia, “Jangan mudah menyerah. Penulis harus ngotot. Ingat, bahwa keberhasilan adalah jumlah kegagalan +1,” ungkapnya. Profesi apa pun memang membutuhkan etos dan keuletan yang tinggi.
Dalam konteks akuan demikian, maka hal kedua yang menarik diambil adalah pesan Nadia yang mengingatkan bahwa prfesi menulis membutuhkan komitmen. Komitmen yang bagaimana? Tentunya, menyeluruh. Tidak heran, jika keluarga Nadia begitu komit dalam mendorongnya. Suami rajin mengritik dan menilai, anak-anaknya memahami akan profesinya, dan bahkan kultur dan aroma menulis kental di keluarganya. Bahkan, Eva Maria Putri Salsabila yang masih duduk di SD, anaknya, juga menekuni dunia kepenulisan.
Hal ini mengingatkan penulis perempuan dari Surabaya yang mirip dengan Nadia. Yati Setiawan yang bersuami seorang penulis Wawan Setiawan dan kedua anak remajanya pun aktif menulis di Nova. Budaya membaca dan menulis sudah mengakar. Meskipun tidak secemerlang Nadia, namun Yati Setiawan juga memiliki komitmen yang tidak jauh berbeda dengannya. Wuih! Jika sukses menulis itu kita impikan, maka pembudayaan baca tulis di keluarga, komitmen, dan motivasi warganya akan menjadi kunci pentingnya. Pelan-pelan, marilah kita ciptakan keluarga kita sebagai keluarga yang komit pada kedua bidang ini.
Pengalaman kreatif Nadia dalam menggauli ide itu menarik disimak. Jika sudah matang, maka tinggal tentukan plot, tokoh, setting, dan ending-nya. Tapi kalau belum, sebagaimana Ayu Utami, HU Mardiluhung, dan penulis lainnya dibutuhkanlah research. Dalam bahasa Nadia, butuh observasi dan pengendapan agar lebih matang. Masalah tuh bagaimana mengendapkannya? Memikir-mikirkan terus, mengaitkan dengan informasi dan memori kita, menggulatkan dengan pengalaman batin dan didukung observasi lapangan maupun pustaka, tentunya. Mengingat membaca dan menulis merupakan pasangan yang paling mengasyikkan maka nyaris keduanya tidak bisa dipisahkan.
Hal keempat yang tidak boleh dilupakan adalah terciptanya tradisi berguru. Pembaca, dalam bahasa kejujuran kreatif (siapa pun itu hakikatnya adalah guru). Asma Nadia, suami dan anak-anaknya adalah guru kepenulisan itu. Alir kritik pedas suaminya, Alamsyah, adalah ruang refleksi setiap waktu. Dan inilah, juga ketika kita mencermati Yati Setiawan (Surabaya) itu telah sukses membentuk kultur guru-murid (dalam artian filosofis ini) di balik kultur positif di keluarganya. Sebuah tradisi yang kita impikan manakala kita (dan Anda) yang merindukan menulis menjadi profesi di keluarga kita. Berat? Ah, tidak sebenarnya, semua bisa bermula dari kebiasaan kecil macam (a) tradisi kado buku pada anggota keluarga, (b) adanya keteladanan baca, (c) adanya sharing pengalaman tulis, (d) adanya saat-saat diskusi rileks dalam memasakkan pengalaman, dan (e) tentunya perlunya ketersediaan sarana pendukung yang membimbing.
Terakhir, pentingnya keteguhan alasan. Bukankah alasan ini bisa menggerakkan apa pun profesi orang? Semacam latar belakang, background yang akan menentukan langkah menulis selanjutnya. Dalam pengalaman proses kreatif banyak penulis dikenal beragam alasan (a) ada yang menulis untuk mencari uang macam Isbedy Setyawan, (b) ada yang menulis untuk mengekspresikan diri macam Dinar Rahayu, (c) ada yang menulis untuk menyalurkan hobi, (d) ada yang menulis karena panggilan mood takdir macam Budi Darma, (e) ada yang menulis untuk mencari popularitas, (f) ada yang menulis untuk memotret dan sampaikan realitas macam Nh. Dini, dan (g) ada yang menulis untuk melakukan protes sosial macam Wiji Thukul. Eh, sekarang “Apa alasan Anda memasuki rumah kepenulisan?” Selamat berenung, apa pun alasan Anda (dan itu bisa ditambah draf alasannya) akan menentukan langkah-jejak karya Anda di masa depan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.
Sabtu, 06 Desember 2008
BELAJAR MENULIS DARI BERTRAND RUSSEL
Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Dalam buku Menulis itu Indah (Jendela, 2002) memuat tulisan Bertrand Russel dengan judul Bagaimana Saya Menulis (hal. 8-20). Belajar menulis atau sukses menulis orang lain (terlebih ia sastrawan dunia) dapatlah dipelajari pribadi, kiat, dan tips-nya dalam menulis. Bagaimana rahasia Russel?
Akuan berikut sebagai payung renung untuk memasuki dunia menulis yang luas: (a) ia tidak tahu bagaimana menulis yang baik, (b) sampai usia 21 tahun ia mengikuti gaya John Stuart Mill, (c) pada usia 21 tahun itu pula ia berkeyakinan bahwa menulis adalah meniru teknik para “dewa menulis” (Flaubert dan Walter Fater), (d) menemukan kekeliruan dalam satu aspek ia menuliskan kembali secara keseluruhan, (e) dia menemukan cara menulis secara bertahap, (f) belajar dari kesalahan, (g) apa yang ia tulis adalah yang ia yakini sebagai wahyu, (h) memanfaatkan pengalaman ovantour (berpetualang), (i) peniruan terhadap karya orang lain merupakan sesuatu yang berbahaya, (j) semua gaya bagus manakala mencerminkan kedalaman ekspresi kedalaman penulisnya, dan (k) dia punya tiga saran menulis yang diambil dari Pearsall Smith (iparnya).
Lain ladang lain pula tanamannya, begitulah barangkali yang pertama-tama dapat dimaknai dari pengalaman Russel. Seorang penulis dunia, ternyata begitu mempraktekkan pesan orang lain. Pesan penting yang dia lakukan adalah tiga saran dari iparnya (a) jangan menggunakan kalimat yang panjang jika kalimat pendek bisa dipakai, (b) jika ingin membuat pernyataan berisi beragam kualifikasi, taruhlah kualifikasi itu ke dalam kalimat terpisah, dan (c) jangan biarkan anak kalimat membaca pembaca pada dugaan yang bertentangan dengan akhir kalimat kita. Wah, pesan ini seperti seorang guru bahasa Indonesia saja.
Tapi begitulah, memang, jika kita jujur bidang apa pun, kemampuan menuangkan pikiran merupakan kemutlakan. Hanya orang yang pongah dan menganggap tidak penting bahasalah yang bilang begitu. Dalam amatan saya, ada dua hal yang dapat diterapkan dalam semua bidang (a) keunggulan kemampuan berpikir, dan (b) kemampaun membaca dan menulis.
Tiga saran dari ipar Russel itu, sesungguhnya dapat disederhanakan begini. Buatlah kalimat dalam tulisan pendek-pendek saja, sebab kecenderungan kalimat panjang berpotensi salah lebih besar, karena itu berpengaruh pada makna. Tiga saran itu, karenanya, menyarankan agar kita berhati-hati dalam membuat kalimat panjang baik itu bersifat kualifikatif maupun kalimat turunan. Untuk itu, jika Anda memasuki praksis kepenulisan mutlak bersentuhan dengan “aturan” ini.
Kedua, tidak usah berpikir tentang karya yang baik, pokoknya berkaryalah. Sebagaimana akuan Russel dalam perjalanan panjang kepenulisannya pun tidak paham bagaimana karya yang baik. Biarkan penilaian menjadi hak prerogatif pembaca, dan biarkan Anda tidak terusik oleh komentar pembaca. Ingat pengalaman Langit Kresna Hariadi ketika menuliskan 5 novel Gajahmada begitu banyak kritik berkaitan dengan data sejarah. “Biarkan anjing menggonggong kafilah (menulis) tetap berlari”. Bukankah novel Gajahmada kemudian bestseller padahal sebelumnya nyaris tidak ada penerbit yang sanggup menerbitkannya.
Flaubert, Walter Fater, dan John Stuar Mill menyebut ketiganya guru, “dewa-dewa”. Belajar dari gaya orang lain. Meskipun akhirnya dia berpesan meniru gaya orang lain hakikatnya berbahaya. Akuan ini menerbitkan pembelajaran begini: (i) meniru gaya orang lain menghilangkan kreativitas unik seorang penulis, dan (ii) jika tidak hati-hati kita akan terjebak pada pola orang lain padahal kepenulisan adalah keunikan-keunikan individu yang menarik untuk difasilitasi. Bolehlah, Anda meniru gaya orang lain, hal ini semata-mata untuk membuat alir kata kalimat lancar dan cepat, tetapi pada titik tertentu “tugu kepenulisan” Anda penting untuk didirikan.
Dalam proses menulis, setelah meniru gaya orang lain kita akan menemukan cara menulis “yang cocok” secara bertahap sekaligus menemukan kesalahan. Belajar dari kesalahan adalah kearifan berilmu. Meskipun ilmu menulis banyak tetapi tak jarang orang justru terjebak teori dan sama sekali tidak melangkah. Dosen menulis banyak tetapi karya tulis seringkali jiplak. Kesalahan dalam menulis adalah wajar, dan sebagaimana Russel, hal itu ditemukan setelah sekian lama menulis. Aib? Tentu bukan justru sebaliknya akan melahirkan kearifan dalam kepenulisan. Di sinilah, Russel sampai pada akuannya, “Aku menemukan tahap menulis itu secara bertahap.” Sebuah mutiara kejujuran yang menggerakkan siapa pun kita yang akan masuk lorong dan gua kepenulisan.
Selanjutnya, bahwa menulis itu diyakini sebagai wahyu. Ungkapan berlebihan? Tidak. Larik itu sesungguhnya bermakna begini, bahwa proses kepenulisan itu berlangsung pada saat tertentu, mooding, trans. Artinya, tidak sembarang waktu kita dapat melakukannya. Tetapi, semuanya tergantung situasi bawah sadar yang menggerakkan itu. Untuk inilah, maka jika kita ingin mengembangkan kepenulisan kondisi mood ini layak untuk dirindu dan disyukuri. Sebab, tidak semua orang mengalami dan menemukan sembarang waktu. Kegelisahan mendalam dan keinginan untuk mengungkapkan adalah pintu mooding itu.
Akhirnya, apa yang terpenting dalam menulis? Apa pun gaya yang kita pilih, yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat mencerminkan ekspresi terdalam kejiwaan dan kepribadian kita sebagai penulis. Petualangan Russel ketika menulis The Free man’s Worship adalah buah petualangan yang lama di Cumbridge hingga di Roma Italia. Saat advontur itulah dia merasakan kondisi trance, sesak, sebuah kenikmatan dunia imajinasi berbingkai realitas.
Dengan demikian, berguru pada pengalaman Bertrand Russel, tentu kita memasuki padang kejujuran tanpa batas, ruang-ruang kearifan tanpa sekat. Bukankah belajar (apa pun itu) hakikatnya proses. Dan di balik pengalaman proses kreatif Russel kita menemuakan proses, kesalahan, dan kearifan lain menarik dan memantik. Berpikir terbuka, kacamata insklusif, adalah modal lain dalam belajar dari sukses orang lain. Setuju?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Dalam buku Menulis itu Indah (Jendela, 2002) memuat tulisan Bertrand Russel dengan judul Bagaimana Saya Menulis (hal. 8-20). Belajar menulis atau sukses menulis orang lain (terlebih ia sastrawan dunia) dapatlah dipelajari pribadi, kiat, dan tips-nya dalam menulis. Bagaimana rahasia Russel?
Akuan berikut sebagai payung renung untuk memasuki dunia menulis yang luas: (a) ia tidak tahu bagaimana menulis yang baik, (b) sampai usia 21 tahun ia mengikuti gaya John Stuart Mill, (c) pada usia 21 tahun itu pula ia berkeyakinan bahwa menulis adalah meniru teknik para “dewa menulis” (Flaubert dan Walter Fater), (d) menemukan kekeliruan dalam satu aspek ia menuliskan kembali secara keseluruhan, (e) dia menemukan cara menulis secara bertahap, (f) belajar dari kesalahan, (g) apa yang ia tulis adalah yang ia yakini sebagai wahyu, (h) memanfaatkan pengalaman ovantour (berpetualang), (i) peniruan terhadap karya orang lain merupakan sesuatu yang berbahaya, (j) semua gaya bagus manakala mencerminkan kedalaman ekspresi kedalaman penulisnya, dan (k) dia punya tiga saran menulis yang diambil dari Pearsall Smith (iparnya).
Lain ladang lain pula tanamannya, begitulah barangkali yang pertama-tama dapat dimaknai dari pengalaman Russel. Seorang penulis dunia, ternyata begitu mempraktekkan pesan orang lain. Pesan penting yang dia lakukan adalah tiga saran dari iparnya (a) jangan menggunakan kalimat yang panjang jika kalimat pendek bisa dipakai, (b) jika ingin membuat pernyataan berisi beragam kualifikasi, taruhlah kualifikasi itu ke dalam kalimat terpisah, dan (c) jangan biarkan anak kalimat membaca pembaca pada dugaan yang bertentangan dengan akhir kalimat kita. Wah, pesan ini seperti seorang guru bahasa Indonesia saja.
Tapi begitulah, memang, jika kita jujur bidang apa pun, kemampuan menuangkan pikiran merupakan kemutlakan. Hanya orang yang pongah dan menganggap tidak penting bahasalah yang bilang begitu. Dalam amatan saya, ada dua hal yang dapat diterapkan dalam semua bidang (a) keunggulan kemampuan berpikir, dan (b) kemampaun membaca dan menulis.
Tiga saran dari ipar Russel itu, sesungguhnya dapat disederhanakan begini. Buatlah kalimat dalam tulisan pendek-pendek saja, sebab kecenderungan kalimat panjang berpotensi salah lebih besar, karena itu berpengaruh pada makna. Tiga saran itu, karenanya, menyarankan agar kita berhati-hati dalam membuat kalimat panjang baik itu bersifat kualifikatif maupun kalimat turunan. Untuk itu, jika Anda memasuki praksis kepenulisan mutlak bersentuhan dengan “aturan” ini.
Kedua, tidak usah berpikir tentang karya yang baik, pokoknya berkaryalah. Sebagaimana akuan Russel dalam perjalanan panjang kepenulisannya pun tidak paham bagaimana karya yang baik. Biarkan penilaian menjadi hak prerogatif pembaca, dan biarkan Anda tidak terusik oleh komentar pembaca. Ingat pengalaman Langit Kresna Hariadi ketika menuliskan 5 novel Gajahmada begitu banyak kritik berkaitan dengan data sejarah. “Biarkan anjing menggonggong kafilah (menulis) tetap berlari”. Bukankah novel Gajahmada kemudian bestseller padahal sebelumnya nyaris tidak ada penerbit yang sanggup menerbitkannya.
Flaubert, Walter Fater, dan John Stuar Mill menyebut ketiganya guru, “dewa-dewa”. Belajar dari gaya orang lain. Meskipun akhirnya dia berpesan meniru gaya orang lain hakikatnya berbahaya. Akuan ini menerbitkan pembelajaran begini: (i) meniru gaya orang lain menghilangkan kreativitas unik seorang penulis, dan (ii) jika tidak hati-hati kita akan terjebak pada pola orang lain padahal kepenulisan adalah keunikan-keunikan individu yang menarik untuk difasilitasi. Bolehlah, Anda meniru gaya orang lain, hal ini semata-mata untuk membuat alir kata kalimat lancar dan cepat, tetapi pada titik tertentu “tugu kepenulisan” Anda penting untuk didirikan.
Dalam proses menulis, setelah meniru gaya orang lain kita akan menemukan cara menulis “yang cocok” secara bertahap sekaligus menemukan kesalahan. Belajar dari kesalahan adalah kearifan berilmu. Meskipun ilmu menulis banyak tetapi tak jarang orang justru terjebak teori dan sama sekali tidak melangkah. Dosen menulis banyak tetapi karya tulis seringkali jiplak. Kesalahan dalam menulis adalah wajar, dan sebagaimana Russel, hal itu ditemukan setelah sekian lama menulis. Aib? Tentu bukan justru sebaliknya akan melahirkan kearifan dalam kepenulisan. Di sinilah, Russel sampai pada akuannya, “Aku menemukan tahap menulis itu secara bertahap.” Sebuah mutiara kejujuran yang menggerakkan siapa pun kita yang akan masuk lorong dan gua kepenulisan.
Selanjutnya, bahwa menulis itu diyakini sebagai wahyu. Ungkapan berlebihan? Tidak. Larik itu sesungguhnya bermakna begini, bahwa proses kepenulisan itu berlangsung pada saat tertentu, mooding, trans. Artinya, tidak sembarang waktu kita dapat melakukannya. Tetapi, semuanya tergantung situasi bawah sadar yang menggerakkan itu. Untuk inilah, maka jika kita ingin mengembangkan kepenulisan kondisi mood ini layak untuk dirindu dan disyukuri. Sebab, tidak semua orang mengalami dan menemukan sembarang waktu. Kegelisahan mendalam dan keinginan untuk mengungkapkan adalah pintu mooding itu.
Akhirnya, apa yang terpenting dalam menulis? Apa pun gaya yang kita pilih, yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat mencerminkan ekspresi terdalam kejiwaan dan kepribadian kita sebagai penulis. Petualangan Russel ketika menulis The Free man’s Worship adalah buah petualangan yang lama di Cumbridge hingga di Roma Italia. Saat advontur itulah dia merasakan kondisi trance, sesak, sebuah kenikmatan dunia imajinasi berbingkai realitas.
Dengan demikian, berguru pada pengalaman Bertrand Russel, tentu kita memasuki padang kejujuran tanpa batas, ruang-ruang kearifan tanpa sekat. Bukankah belajar (apa pun itu) hakikatnya proses. Dan di balik pengalaman proses kreatif Russel kita menemuakan proses, kesalahan, dan kearifan lain menarik dan memantik. Berpikir terbuka, kacamata insklusif, adalah modal lain dalam belajar dari sukses orang lain. Setuju?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Senin, 01 Desember 2008
BERGURU MENULIS DARI CLARISSA PINCKOLA ESTES
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Jika Anda ingin mencipta karya (tulisan), maka bahan dasarnya adalah kehidupan Anda sendiri, pengalaman, masa kecil, dan pengetahuan Anda. “Jika Anda ingin mencipta, Anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi Anda yang paling jauh”, begitulah pesan Clarissa Pinkola Estes.
Lucu? Nggak, bahkan apa yang diungkapkan Estes ini merupakan sesuatu yang sangat alamiah. Bahan dasar kepenulisan memang pengalaman hidup kita sendiri. Banyak contoh penulis dapat dijadikan sample ungkapannya. Pengalaman Andri Wongso sebagai trainer motivasi mendorongnya untuk menjadi penulis buku yang sangat produktif. Ariesandi Setyono, dari pengalaman hypnosis melahirkan beberapa buku berkaitan dengan hal ini. Parentinghipnosis (2006) adalah contohnya.
Untuk ini, renungkanlah kehidupan ini dengan penuh makna. Kehidupan Anda sendiri, seperti pengalaman Remy Silado menjalani kehidupan penuh permenungan, pengamatan, dan pencatatan yang bermakna baginya. Hasilnya, luar biasa. Maka penulis Pinkola Estes, berpesan tentang pentingnya pengalaman pribadi demikian, nyaris, semua penulis bermuara dari pintu kehidupan yang satu ini. Persoalannya adalah sering diantara kita tidak menganggap bahwa apa yang kita ketahui, kita alami, dan kita perjuangkan sebagai inventarisasi kehidupan di masa depan yang amat mahal.
Para perentas jalan sukses kepenulisan telah menjadikan ini sebagai jembatan tol yang mampu menghadirkan kecepatan rentasan tanpa rintangan. Mengapa kita tidak lakukan? Ingat kembali pesan, Pinkola Estes: “Kehidupan Anda sendiri, pengalaman, masa kecil, dan pengetahuan Anda. “Jika Anda ingin mencipta, Anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi Anda yang paling jauh”
Dengan pengalaman demikian, maka rasa aman dalam rumah kejiwaan tentunya merupakan yang penting untuk disingkirkan sebab jiwa kepenulisan tak pernah puas, tak pernah damai, dan tak pernah bersahabat dengan keganjilan-keganjilan, dengan kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam kehidupan kita. Dengan bekal ini, semacam visi berubah digubah penulis, misi hati penulis dilukis, meski hanya lewat kearifan kata, penulis akan bersenjatakan pikiran untuk mencipta perubahan.
Sejarah peradaban yang mengusung perubahan selalu berawal dari dunia literacy yang kuat. Jepang, Cina, dan Korea adalah Negara Asia yang demikian mendudukkan dunia menulis ini sebagai pilar peradaban dan keilmuan di negerinya. Pengalaman berbangsa dapat diracik sebagai obat di kemudian waktu, visi dan misi pertiwi dapat diuji dalam kritik kaji tulis yang bermuara pada hati.
Bahan dasar yang dipesankan Pinkola Estes, ternyata kemudian, bukan sekadar pesan kepenulisan tetapi merupakan hakikat ruh perubahan dari apa yang penting dilakukan sebagai bangsa yang berubah. Bayangkanlah sekarang, jika di tingkat kabupaten masing-masing ada 10 penulis yang tiap 6 bulan menghasilkan pemikiran tentang perubahan hidup, maka jika sekitar 330 kabupaten di seluruh Indonesia, selama enam bulan akan lahir 3.300 buku inspiratif untuk membantu memajukan negara. Luar biasa?
Karena menulis adalah wilayah kejujuran, maka rasa aman dan ingin disukai tentunya justru akan berlawanan dengan apa yang akan kita terima. Siapkah Anda? Mengapa tidak? Menulis bukan kejahatan, tetapi sumur kejujuran yang akan mengirimkan air kehidupan yang tanpa dasar. Menulis adalah alam kritis yang mengalirkan bening pikir, dengan kata lain, tulisan adalah hasil refleksi dari sumur hati yang akan menghidupkan.
Nah, sekarang bagaimana dengan Anda? Modal dasar kepenulisan adalah pengalaman hidup Anda, masa kecil Anda, dst. Maka, dapat ditasbihkan, menulis adalah kehidupan itu sendiri. Jika dunia kepenulisan suatu bangsa baik, dapat diprediksikan baik pula kehidupan bangsanya. Jika Anda ingin mewujudkan nasionalisme berbangsa, dalam konteks mutakhir, tak perlu Anda mengangkat bedil dan kelewang; cukuplah asah pikir dan hati untuk perang melalui tulisan. Bukankah tulisan adalah pedang yang abadi?
Pesan Pinkola Estes itu, jika kita mau mengeksplorasi lagi masih banyak penulis besar yang berpikiran sama. Marcel Proust misalnya bilang begini, “Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya.” Amerika adalah contoh bangsa yang menghargai karya sastra (tulisan), karena itu, tidak mengherankan kalau karya-karya mereka inspiratif untuk bidang-bidang lainnya, seperti perfilman dan keilmuan.
Melangkahlah, pesan saya, untuk mengabadikan pengalaman hidup buat kebermaknaan orang lain dan bangsa yang Anda cintai. Sebuah nasionalisme yang tanpa provokasi, tanpa manipulasi. Karena batas waktu terlompati untuk merengkuh titik puncak dari tamasya pemikiran yang akan mencerahkan generasi di masa datang.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Jika Anda ingin mencipta karya (tulisan), maka bahan dasarnya adalah kehidupan Anda sendiri, pengalaman, masa kecil, dan pengetahuan Anda. “Jika Anda ingin mencipta, Anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi Anda yang paling jauh”, begitulah pesan Clarissa Pinkola Estes.
Lucu? Nggak, bahkan apa yang diungkapkan Estes ini merupakan sesuatu yang sangat alamiah. Bahan dasar kepenulisan memang pengalaman hidup kita sendiri. Banyak contoh penulis dapat dijadikan sample ungkapannya. Pengalaman Andri Wongso sebagai trainer motivasi mendorongnya untuk menjadi penulis buku yang sangat produktif. Ariesandi Setyono, dari pengalaman hypnosis melahirkan beberapa buku berkaitan dengan hal ini. Parentinghipnosis (2006) adalah contohnya.
Untuk ini, renungkanlah kehidupan ini dengan penuh makna. Kehidupan Anda sendiri, seperti pengalaman Remy Silado menjalani kehidupan penuh permenungan, pengamatan, dan pencatatan yang bermakna baginya. Hasilnya, luar biasa. Maka penulis Pinkola Estes, berpesan tentang pentingnya pengalaman pribadi demikian, nyaris, semua penulis bermuara dari pintu kehidupan yang satu ini. Persoalannya adalah sering diantara kita tidak menganggap bahwa apa yang kita ketahui, kita alami, dan kita perjuangkan sebagai inventarisasi kehidupan di masa depan yang amat mahal.
Para perentas jalan sukses kepenulisan telah menjadikan ini sebagai jembatan tol yang mampu menghadirkan kecepatan rentasan tanpa rintangan. Mengapa kita tidak lakukan? Ingat kembali pesan, Pinkola Estes: “Kehidupan Anda sendiri, pengalaman, masa kecil, dan pengetahuan Anda. “Jika Anda ingin mencipta, Anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi Anda yang paling jauh”
Dengan pengalaman demikian, maka rasa aman dalam rumah kejiwaan tentunya merupakan yang penting untuk disingkirkan sebab jiwa kepenulisan tak pernah puas, tak pernah damai, dan tak pernah bersahabat dengan keganjilan-keganjilan, dengan kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam kehidupan kita. Dengan bekal ini, semacam visi berubah digubah penulis, misi hati penulis dilukis, meski hanya lewat kearifan kata, penulis akan bersenjatakan pikiran untuk mencipta perubahan.
Sejarah peradaban yang mengusung perubahan selalu berawal dari dunia literacy yang kuat. Jepang, Cina, dan Korea adalah Negara Asia yang demikian mendudukkan dunia menulis ini sebagai pilar peradaban dan keilmuan di negerinya. Pengalaman berbangsa dapat diracik sebagai obat di kemudian waktu, visi dan misi pertiwi dapat diuji dalam kritik kaji tulis yang bermuara pada hati.
Bahan dasar yang dipesankan Pinkola Estes, ternyata kemudian, bukan sekadar pesan kepenulisan tetapi merupakan hakikat ruh perubahan dari apa yang penting dilakukan sebagai bangsa yang berubah. Bayangkanlah sekarang, jika di tingkat kabupaten masing-masing ada 10 penulis yang tiap 6 bulan menghasilkan pemikiran tentang perubahan hidup, maka jika sekitar 330 kabupaten di seluruh Indonesia, selama enam bulan akan lahir 3.300 buku inspiratif untuk membantu memajukan negara. Luar biasa?
Karena menulis adalah wilayah kejujuran, maka rasa aman dan ingin disukai tentunya justru akan berlawanan dengan apa yang akan kita terima. Siapkah Anda? Mengapa tidak? Menulis bukan kejahatan, tetapi sumur kejujuran yang akan mengirimkan air kehidupan yang tanpa dasar. Menulis adalah alam kritis yang mengalirkan bening pikir, dengan kata lain, tulisan adalah hasil refleksi dari sumur hati yang akan menghidupkan.
Nah, sekarang bagaimana dengan Anda? Modal dasar kepenulisan adalah pengalaman hidup Anda, masa kecil Anda, dst. Maka, dapat ditasbihkan, menulis adalah kehidupan itu sendiri. Jika dunia kepenulisan suatu bangsa baik, dapat diprediksikan baik pula kehidupan bangsanya. Jika Anda ingin mewujudkan nasionalisme berbangsa, dalam konteks mutakhir, tak perlu Anda mengangkat bedil dan kelewang; cukuplah asah pikir dan hati untuk perang melalui tulisan. Bukankah tulisan adalah pedang yang abadi?
Pesan Pinkola Estes itu, jika kita mau mengeksplorasi lagi masih banyak penulis besar yang berpikiran sama. Marcel Proust misalnya bilang begini, “Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya.” Amerika adalah contoh bangsa yang menghargai karya sastra (tulisan), karena itu, tidak mengherankan kalau karya-karya mereka inspiratif untuk bidang-bidang lainnya, seperti perfilman dan keilmuan.
Melangkahlah, pesan saya, untuk mengabadikan pengalaman hidup buat kebermaknaan orang lain dan bangsa yang Anda cintai. Sebuah nasionalisme yang tanpa provokasi, tanpa manipulasi. Karena batas waktu terlompati untuk merengkuh titik puncak dari tamasya pemikiran yang akan mencerahkan generasi di masa datang.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Kamis, 06 November 2008
BERGURU MENULIS PADA ANJAR
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Ada seorang perempuan yang memiliki obsesi menulis sejak usia 4 SD, dan pernah distrap gara-gara membaca majalah Kartini. Lahir dari keluarga guru yang sudah membiasakan membaca dan menulis sejak TK. Dan pada usia SMP, sebuah pertemuan yang mengasyikkan dengan penulis nasional, Hilman Hariwijaya, yang sedang promo tour buku serial Lupus ke berbagai sekolah. Hasilnya, pertemuan itu semakin membuat dirinya keranjingan menulis, yang akhirnya kini sudah banyak buku yang dihasilkannya. Perempuan kelahiran 1 Februari 1973 ini pekerjaan sehari-harinya adalah menjadi pendamping mahasiswa di Gereja Mahasiswa (GEMA) Katholik Bandung.
Buku-buku yang telah lahir dari tangannya diantaranya: (a) Beraja: Biarkan Ku Mencita (Novel, Grasindo), (b) Kidung Senandung Cinta Untukku (Novel, Grasindo), (c) Tiga! Menjemput Semburat Cinta (Novel, Grasindo), (d) Lelana, Jiwa-Jiwa yang Pulang (Novel, Grasindo), (e) Selasar Kenangan (Kumcer, Akoer), (f) Apa Kabar Kang Je? (Kumpulan Cerita Rohani, Penerbit Obor), dan (g) Karena Aku Sayang (Teenlit, GPU). Perempuan berkacama dengan karya-karya ini adalah Anastasia Ganjar Ayu Setiansih.
Dalam akuan proses kreatifnya di MataBaca, edisi November 2007 (hal. 28-29), Anjar menuturkan beberapa pengalamannya berkaitan dengan persalinan dan kiat-kiat produktifnya. Beragam hal yang dapat ditiru diantaranya adalah (a) dalam menulis dia memiliki prinsip berbagi hidup, (b) dalam menulis tidak terikat waktu dan tempat, bahkan bisa menyesuaikan dengan deadline, (c) pentingnya mendapatkan mood yang dalam bahasa Anjar disebutnya dengan jiwa dari tulisan (sehingga tulisan bernyawa), (d) dalam menulis selalu Anjar yang menyelam ke dalam karakter tokoh, (e) mengamati realitas yang tidak terduga, dan (f) mendengarkan cerita orang, membaca peta dan literatur dunia kemudian diramu dalam imajinasi.
Oke, sekarang mari kita memasuki taman rekreasi kreatif Anjar untuk berselancar menemukan pijar kepenulisan di masa depan. Ketika prinsip menulis Anjar dia yakini sebagai sarana berbagi, maka harapan terbesarnya adalah bagaimana karya-karya yang lahir dari tangannya dapat diterima dan diapresiasi pembaca. Untuk apa karya ditulis jika tidak komunikatif dengan pembaca, begitulah barangkali yang dipikirkannya. Lebih jauh, berbagi hidup memang sangat dimensional, luas, dan jenjang hierarkhis maknanya berlapis-lapis. Kumpulan cerita rohani, Jiwa-Jiwa yang Pulang tampaknya memiliki makna yang jauh lebih mengesankan. Pada saat keinginan berbagi pengalaman rohani itu berhenti (artinya tidak dapat melanjutkan tulisan), Anjar lebih memilih berhenti, cari suasana baru, atau mendengarkan lagu yang easy listening.
Kelenturan dalam menulis tampaknya merupakan pelajaran menarik bagi kita. Tidak semua penulis dapat melakukan hal demikian. Karena situasi dan kondisi (yang biasanya juga dipengaruhi tempat), hakikatnya memiliki magis kepenulisan tersendiri. Belajar dari pengalaman Anjar ini, tentunya yang menjadi PR kita adalah bagaimana mengondisikannya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Bahkan, menurutnya, yang terpenting adalah mencari mood. Ini yang susah. Mood dalam bahasa Anjar (dan ini agak berbeda dengan pengakuan penulis lain yang memandang sebagai kondisi “trans”), hakikatnya adalah proses memberi jiwa sebuah tulisan. Tulisan yang lahir dari kondisi demikian, dengan sendirinya, akan menjadikan tulisannya berjiwa.
Hal ketiga, yang dapat dipetik adalah pentingnya penyelaman terhadap karakter tokoh yang diciptakan. Ini tentu berkaitan dengan hal penjiwaan, membutuhkan empati, dan pelatihan “peran imajinasi” agar –lagi-lagi—tulisan berjiwa. Pengalaman ini hakikatnya adalah proses pengolahan mood yang telah dicarinya. Memang, sebagian penulis percaya, bahwa mood dapat dicipta. Itu berarti kehadirannya dapat diransang dengan semisal membaca, merenung, mendengarkan musik, meditasi, dan sebagainya. Prinsipnya, mengundang mood membutuhkan kearifan laku kepenulisan secara khusus (wuih).
Seperti halnya Ayu Utami, dalam pra penulisan Anjar juga membutuhkan “penelitian”, observasi, --yang dalam bahasa Gola Gong—membaca hakikatnya juga sebuah observasi. Di sinilah, maka hal menarik yang perlu kita fasilitasi dalam menulis adalah kepekaan, empati, dan pikir-rasa berlibat atas fenomena. Hal ini akan mendorong bagaimana tulisan itu memiliki kontekstualisasi dengan suasana dan rasa. Membaca peta, buku, dan literatur lainnya merupakan upaya mendasar dalam membangun imajinasi agar tulisan memiliki “daya jiwa”. Inilah, yang dapat kita petik selanjutnya dari pengalaman Anjar.
Dan terakhir, pengalaman kemandegan dalam berkarya dapat dibantu dengan dengan mengamati realitas sosial, rutin keseharian. Pengalaman Anjar ketika macet dalam menyelesaikan novelnya, dalam berjalan ke kantor dia menemukan makna metaforik dalam pengalaman langsungnya. Ketika berjalan ke kantor ia dihadapkan pada pemandangan mengagumkan. Persis di depannya sebentuk pohon sedang meranggas, detik itu juga sedang membiarkan dedaunannya menari-nari ditiup angin, dari atas, satu..., pelan menuju ke bumi, berlenggok layaknya penari yang sedang genit dan lentik menarikan lagu alam. Meski satu-satu melunglai, tapi karena pohon itu cukup besar maka tak lama makin banyak juga daun yang berguguran menuju bumi, memenuhi jalan aspal hitam disekitarnya.
Kondisi itu yang kemudian dia gambarkan dengan detail dan tentu saja berhubungan dengan cerita sebelum atau sesudahnya. Pengalaman Anjar ini cocok dengan apa yang diajarkan Gola Gong di Kelas Menulis Rumah Dunia untuk mengamati realitas sehari-hari, berpergian, dan menuliskannya detail tentang berbagai hal. Sebuah upaya penting melukiskan setting itu sendiri yang sekaligus bermakna metaforis terhadap karakter tokoh dan lebih-lebih lagi berkaitan dengan penjiwaan sebuah tulisan.
Nah, jika kita mau mencermati dari pengalaman Anjar ini tentunya makna kepenulisan jadi demikian dalam. Di satu sisi keinginan berbagi dapat terfasilitasi, dan di sisi lain bahan kepenulisan memang tidak terbatas manakala kemampuan dasar empati, berlibat, dan rasa menjiwa menjadi tikar yang mengakar.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Ada seorang perempuan yang memiliki obsesi menulis sejak usia 4 SD, dan pernah distrap gara-gara membaca majalah Kartini. Lahir dari keluarga guru yang sudah membiasakan membaca dan menulis sejak TK. Dan pada usia SMP, sebuah pertemuan yang mengasyikkan dengan penulis nasional, Hilman Hariwijaya, yang sedang promo tour buku serial Lupus ke berbagai sekolah. Hasilnya, pertemuan itu semakin membuat dirinya keranjingan menulis, yang akhirnya kini sudah banyak buku yang dihasilkannya. Perempuan kelahiran 1 Februari 1973 ini pekerjaan sehari-harinya adalah menjadi pendamping mahasiswa di Gereja Mahasiswa (GEMA) Katholik Bandung.
Buku-buku yang telah lahir dari tangannya diantaranya: (a) Beraja: Biarkan Ku Mencita (Novel, Grasindo), (b) Kidung Senandung Cinta Untukku (Novel, Grasindo), (c) Tiga! Menjemput Semburat Cinta (Novel, Grasindo), (d) Lelana, Jiwa-Jiwa yang Pulang (Novel, Grasindo), (e) Selasar Kenangan (Kumcer, Akoer), (f) Apa Kabar Kang Je? (Kumpulan Cerita Rohani, Penerbit Obor), dan (g) Karena Aku Sayang (Teenlit, GPU). Perempuan berkacama dengan karya-karya ini adalah Anastasia Ganjar Ayu Setiansih.
Dalam akuan proses kreatifnya di MataBaca, edisi November 2007 (hal. 28-29), Anjar menuturkan beberapa pengalamannya berkaitan dengan persalinan dan kiat-kiat produktifnya. Beragam hal yang dapat ditiru diantaranya adalah (a) dalam menulis dia memiliki prinsip berbagi hidup, (b) dalam menulis tidak terikat waktu dan tempat, bahkan bisa menyesuaikan dengan deadline, (c) pentingnya mendapatkan mood yang dalam bahasa Anjar disebutnya dengan jiwa dari tulisan (sehingga tulisan bernyawa), (d) dalam menulis selalu Anjar yang menyelam ke dalam karakter tokoh, (e) mengamati realitas yang tidak terduga, dan (f) mendengarkan cerita orang, membaca peta dan literatur dunia kemudian diramu dalam imajinasi.
Oke, sekarang mari kita memasuki taman rekreasi kreatif Anjar untuk berselancar menemukan pijar kepenulisan di masa depan. Ketika prinsip menulis Anjar dia yakini sebagai sarana berbagi, maka harapan terbesarnya adalah bagaimana karya-karya yang lahir dari tangannya dapat diterima dan diapresiasi pembaca. Untuk apa karya ditulis jika tidak komunikatif dengan pembaca, begitulah barangkali yang dipikirkannya. Lebih jauh, berbagi hidup memang sangat dimensional, luas, dan jenjang hierarkhis maknanya berlapis-lapis. Kumpulan cerita rohani, Jiwa-Jiwa yang Pulang tampaknya memiliki makna yang jauh lebih mengesankan. Pada saat keinginan berbagi pengalaman rohani itu berhenti (artinya tidak dapat melanjutkan tulisan), Anjar lebih memilih berhenti, cari suasana baru, atau mendengarkan lagu yang easy listening.
Kelenturan dalam menulis tampaknya merupakan pelajaran menarik bagi kita. Tidak semua penulis dapat melakukan hal demikian. Karena situasi dan kondisi (yang biasanya juga dipengaruhi tempat), hakikatnya memiliki magis kepenulisan tersendiri. Belajar dari pengalaman Anjar ini, tentunya yang menjadi PR kita adalah bagaimana mengondisikannya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Bahkan, menurutnya, yang terpenting adalah mencari mood. Ini yang susah. Mood dalam bahasa Anjar (dan ini agak berbeda dengan pengakuan penulis lain yang memandang sebagai kondisi “trans”), hakikatnya adalah proses memberi jiwa sebuah tulisan. Tulisan yang lahir dari kondisi demikian, dengan sendirinya, akan menjadikan tulisannya berjiwa.
Hal ketiga, yang dapat dipetik adalah pentingnya penyelaman terhadap karakter tokoh yang diciptakan. Ini tentu berkaitan dengan hal penjiwaan, membutuhkan empati, dan pelatihan “peran imajinasi” agar –lagi-lagi—tulisan berjiwa. Pengalaman ini hakikatnya adalah proses pengolahan mood yang telah dicarinya. Memang, sebagian penulis percaya, bahwa mood dapat dicipta. Itu berarti kehadirannya dapat diransang dengan semisal membaca, merenung, mendengarkan musik, meditasi, dan sebagainya. Prinsipnya, mengundang mood membutuhkan kearifan laku kepenulisan secara khusus (wuih).
Seperti halnya Ayu Utami, dalam pra penulisan Anjar juga membutuhkan “penelitian”, observasi, --yang dalam bahasa Gola Gong—membaca hakikatnya juga sebuah observasi. Di sinilah, maka hal menarik yang perlu kita fasilitasi dalam menulis adalah kepekaan, empati, dan pikir-rasa berlibat atas fenomena. Hal ini akan mendorong bagaimana tulisan itu memiliki kontekstualisasi dengan suasana dan rasa. Membaca peta, buku, dan literatur lainnya merupakan upaya mendasar dalam membangun imajinasi agar tulisan memiliki “daya jiwa”. Inilah, yang dapat kita petik selanjutnya dari pengalaman Anjar.
Dan terakhir, pengalaman kemandegan dalam berkarya dapat dibantu dengan dengan mengamati realitas sosial, rutin keseharian. Pengalaman Anjar ketika macet dalam menyelesaikan novelnya, dalam berjalan ke kantor dia menemukan makna metaforik dalam pengalaman langsungnya. Ketika berjalan ke kantor ia dihadapkan pada pemandangan mengagumkan. Persis di depannya sebentuk pohon sedang meranggas, detik itu juga sedang membiarkan dedaunannya menari-nari ditiup angin, dari atas, satu..., pelan menuju ke bumi, berlenggok layaknya penari yang sedang genit dan lentik menarikan lagu alam. Meski satu-satu melunglai, tapi karena pohon itu cukup besar maka tak lama makin banyak juga daun yang berguguran menuju bumi, memenuhi jalan aspal hitam disekitarnya.
Kondisi itu yang kemudian dia gambarkan dengan detail dan tentu saja berhubungan dengan cerita sebelum atau sesudahnya. Pengalaman Anjar ini cocok dengan apa yang diajarkan Gola Gong di Kelas Menulis Rumah Dunia untuk mengamati realitas sehari-hari, berpergian, dan menuliskannya detail tentang berbagai hal. Sebuah upaya penting melukiskan setting itu sendiri yang sekaligus bermakna metaforis terhadap karakter tokoh dan lebih-lebih lagi berkaitan dengan penjiwaan sebuah tulisan.
Nah, jika kita mau mencermati dari pengalaman Anjar ini tentunya makna kepenulisan jadi demikian dalam. Di satu sisi keinginan berbagi dapat terfasilitasi, dan di sisi lain bahan kepenulisan memang tidak terbatas manakala kemampuan dasar empati, berlibat, dan rasa menjiwa menjadi tikar yang mengakar.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Sabtu, 25 Oktober 2008
BELAJAR MENULIS DARI ADI W GUNAWAN
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Sutejo
Adi W Gunawan adalah guru saya. Saya pernah secara ilmiah dapat pelatihan hipnosis dalam upaya pengembangan motivasi untuk sukses. Nah, sekarang apa yang menarik dari pengalaman tokoh ini dalam menulis? Jika kita mencermati dari pengalaman kepenulisan Adi tentunya membuat kita “iri” dan kepingin menirunya. Adi W Gunawan baru menulis buku pada tahun 2003, dan kini sudah belasan buku yang lahir dari tangannya. Rata-rata bestseller. Sementara, saya sendiri sudah menulis itu sejak mahasiswa, kira-kira pada tahun 1988. Tapi mengapa dia lebih berhasil? Inilah yang dapat kita petik dari membaca pengalaman proses kreatifnya sebagaimana dimuat di Matabaca (edisi Desember 2006:38-39).
“Menulis menurut saya pribadi,” akunya, “adalah proses belajar yang tanpa henti, mengembangkan diri ke arah yang lebih baik, aktualisasi diri, dan merupakan sarana efektif untuk menembus berbagai kemungkinan.” Apa yang dapat ditiru? Barangkali beberapa hal berikut (a) menulis itu proses, (b) menulis dapat dipakai untuk pengembangan diri, (c) menulis untuk aktualisasi, dan (d) menulis itu sarana untuk menembus berbagai kemungkinan. Luar biasa!
Keempat hal ini, tentunya, merupakan filosofi kepenulisan yang dapat disisir ke tepi-tepi pantai kepenulisan. Sebuah proses, misalnya, karena menulis adalah sebuah perjalanan panjang dari sebuah pribadi yang tidak dapat ditempuh seperti naik pesawat. Apalagi seperti mi instan, siap saji. Sama sekali bukan. Sebaliknya, menulis adalah proses panjang. Katakanlah, dari proses kesukaan berburu informasi seperti Pak Adi, sehingga pada saat kondisi flow, tinggal memfasilitasi persalinannya. “Ada masa di mana pikiran kreatif begitu aktif bekerja dan menghasilkan buah pikir yang mengalir deras seperti air. Kondisi ini adalah kondisi yang dicari oleh setiap penulis. Kondisi ini disebut dengan flow.” (Matabaca, desember 2006:39)
Sebagian penulis lain bilang, kondisi demikian ini dengan mood. In. Jika terbiasa, bahkan kondisi demikian bisa “diciptakan”. Untuk inilah, maka jika sudah memiliki keinginan besar untuk mengungkapkan pikiran, misalnya, cobalah memfasilitasinya dengan tanpa memikirkan salah atau tidak. Sebab, sebagaimana diungkapkan Adi Gunawan, ternyata menulis adalah untuk mengekspresikan diri.
Jika Adi Gunawan, dalam pengakuannya, hal tersulit yang menyebabkan dia mengalami kesulitan adalah karena dia tidak memiliki pengajar atau guru. Sehingga ia harus menempuhnya, perjalanan kepenulisan itu secara autodidak. Kelebihannya, karena itu, dia tidak terikat pada salah satu style, mengalir untuk mengekspresikan pengalaman yang telah dia tekuni dalam pelatihan-pelatihan. Apa yang menarik? Dari pengalaman empiriklah, materi kepenulisan itu akan sangat mudah mengalir seperti alir sungai yang deras. Bagaimana dengan Anda?
Jika sering saya kemukakan, bahwa menulis itu tidak pandang profesi, artinya apapun dan siapapun kita dapat menulis; maka dalam konteks ini ada baiknya kita coba merenungkan pengalaman perjalanan hidup masing-masing untuk dicoba dituangkan dalam materi kepenulisan. Hasilnya, bisa jadi, luar biasa seperti apa yang dilakukan oleh Adi Gunawan.
Motivasi lain yang dapat dipetik dari pengalaman kepenulisan Adi Gunawan adalah bahwa menulis itu dapat dipakai untuk pengembangan potensi diri. Pengalaman ini, dalam jejak pemikiran tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Soejatmoko, menjadi fakta penguatnya. Bukankah ketiga tokoh ini dikenal kuat pemikiran yang ditransformasikan ke dalam praksis kepemimpinan dan ketokohannya? Di sinilah, maka jika kita ingin mengembangkan potensi profesi dan kemampuan diri, tidak ada cara lain yang paling efektif kecuali menulis. Ulama-ulama besar dalam perjalanan sejarah budaya Islam adalah teladan hidup yang dapat terus digali. Ibnu Duraid, Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya adalah contoh ulama yang menjulang karena kebiasaan baca tulisnya.
Hal lain yang dapat dipetik dari Adi Gunawan, adalah bahwa menulis menjadi sarana aktualisasi diri. Aktualisasi diri yang membantu citra diri, paling tidak, merupakan ukuran intelektualitas seseorang. Kejernihan diri (termasuk dalam berpikir) dapat ditelisik dari tulisan seseorang. Tidak heran, kalau secara sederhana aktualisasi diri (termasuk dalam berbagai peran dan profesi orang) dapat disisir dari cara mereka mengakualisasi dirinya dalam tulisan. Bukankah sesungguhnya, menulis adalah puncak keterampilan hidup seseorang. Banyak orang begitu berat menyelesaikan kesarjanaannya karena tidak mampu mengembangkan kemampuan menulisnya?
Terakhir, menulis dapat memfasilitasi seseorang menembus berbagai kemungkinan hidup. Pengalaman saya, dalam menjalin networking di tanah air, 80% ditentukan oleh pengalaman saya di bidang kepenulisan. Sebab, dalam dunia kepenulisan relasi itu terbangun lintas waktu, lintas tempat, lintas ruang, dan lintas status. Sebuah dunia kejujuran, --yang barangkali—memang tidak ada duanya. Kalau profesi lain penuh intrik dan manipulasi ”politik” maka dunia kepenulisan relatif terhindar darinya. Termasuk, nasib mujur saya dalam memasuki program doktor, bukan karena lamaran saya, tetapi karena pengalaman itu yang memancing orang membantu saya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Masih ragu? Barangkali, penting bermenung setiap pagi kemudian kita penting bertanya dalam hati (a) mengapa orang lain mampu menulis saya tidak? (b) mengapa mereka begitu mudah merentas jalan hidupnya dibanding saya? dan (c) mengapa orang yang dulu saya lihat ”bodoh”, tidak berpotensi, sekarang mampu melejit jauh meninggalkan saya?
Di sinilah, barangkali kita penting merenungkan ungkapan Henry Miller yang mengatkatan begini, ”we are all creative”. Setiap manusia memiliki daya cipta. Tunggu apa lagi? Bagaimana mewujudkannya? Ada pesan penting dari Gerald Brenan, ”Awali setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi seorang penulis!” (Roland Fishman, Creative Writing, 2005:7). Apa yang ditulis? Apa saja. Tentang siapa saja. Untuk apa? Untuk apa saja.
Saya sendiri, sekali lagi, tidak pernah bermimpi jadi penulis. Tetapi, perjalanan dan pergulatan adalah isteri setia yang melahirkan orok-orok yang luar biasa. Mau bukti? Melangkahlah dengan mengawali menulis setiap pagi, setiap bangun tidur, setiap sulit tidur, setiap Anda punya masalah. Tapi ingat, latihlah dengan balutan jernih pikir, sedikit imajinasi, dan kelembutan hati.
Di ujung pelayaran dengan perahu kepenulisan, Anda akan melewati beragam gelombang –kadang-kadang badai--, yang tentunya membutuhkan kearifan nahkoda dalam mengemudikannya. Jangan takut dengan para bajak laut kepenulisan, jangan kuatir Tuhan tidak mengerlingkan pandang pada niat suci Anda. Kayuh perahu kepenulisan itu, dan di ujung pandang (di pantai harapan), Anda akan menemukan ”rumah kedamaian” hidup –yang tidak semua orang mampu memasukinya--. Ingin bukti, berpuluh buku barangkali tak mampu untuk menunjukkan berapa ratus, berapa ribu, dan berapa juta penulis di dunia ini yang telah menikmati. Sebab, sebagaimana di tengah tulisan ini, telah kita pahami bahwa kepenulisan itu adalah lintas waktu. Apa yang akan kita tinggalkan dalam hidup kecuali gading? Dan gading itu hanya bisa bersanding dengan tulisan, bukan harta, bukan rumah mewah, apalagi mobil pribadi yang hanya menjadi manipulasi gengsi.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Sutejo
Adi W Gunawan adalah guru saya. Saya pernah secara ilmiah dapat pelatihan hipnosis dalam upaya pengembangan motivasi untuk sukses. Nah, sekarang apa yang menarik dari pengalaman tokoh ini dalam menulis? Jika kita mencermati dari pengalaman kepenulisan Adi tentunya membuat kita “iri” dan kepingin menirunya. Adi W Gunawan baru menulis buku pada tahun 2003, dan kini sudah belasan buku yang lahir dari tangannya. Rata-rata bestseller. Sementara, saya sendiri sudah menulis itu sejak mahasiswa, kira-kira pada tahun 1988. Tapi mengapa dia lebih berhasil? Inilah yang dapat kita petik dari membaca pengalaman proses kreatifnya sebagaimana dimuat di Matabaca (edisi Desember 2006:38-39).
“Menulis menurut saya pribadi,” akunya, “adalah proses belajar yang tanpa henti, mengembangkan diri ke arah yang lebih baik, aktualisasi diri, dan merupakan sarana efektif untuk menembus berbagai kemungkinan.” Apa yang dapat ditiru? Barangkali beberapa hal berikut (a) menulis itu proses, (b) menulis dapat dipakai untuk pengembangan diri, (c) menulis untuk aktualisasi, dan (d) menulis itu sarana untuk menembus berbagai kemungkinan. Luar biasa!
Keempat hal ini, tentunya, merupakan filosofi kepenulisan yang dapat disisir ke tepi-tepi pantai kepenulisan. Sebuah proses, misalnya, karena menulis adalah sebuah perjalanan panjang dari sebuah pribadi yang tidak dapat ditempuh seperti naik pesawat. Apalagi seperti mi instan, siap saji. Sama sekali bukan. Sebaliknya, menulis adalah proses panjang. Katakanlah, dari proses kesukaan berburu informasi seperti Pak Adi, sehingga pada saat kondisi flow, tinggal memfasilitasi persalinannya. “Ada masa di mana pikiran kreatif begitu aktif bekerja dan menghasilkan buah pikir yang mengalir deras seperti air. Kondisi ini adalah kondisi yang dicari oleh setiap penulis. Kondisi ini disebut dengan flow.” (Matabaca, desember 2006:39)
Sebagian penulis lain bilang, kondisi demikian ini dengan mood. In. Jika terbiasa, bahkan kondisi demikian bisa “diciptakan”. Untuk inilah, maka jika sudah memiliki keinginan besar untuk mengungkapkan pikiran, misalnya, cobalah memfasilitasinya dengan tanpa memikirkan salah atau tidak. Sebab, sebagaimana diungkapkan Adi Gunawan, ternyata menulis adalah untuk mengekspresikan diri.
Jika Adi Gunawan, dalam pengakuannya, hal tersulit yang menyebabkan dia mengalami kesulitan adalah karena dia tidak memiliki pengajar atau guru. Sehingga ia harus menempuhnya, perjalanan kepenulisan itu secara autodidak. Kelebihannya, karena itu, dia tidak terikat pada salah satu style, mengalir untuk mengekspresikan pengalaman yang telah dia tekuni dalam pelatihan-pelatihan. Apa yang menarik? Dari pengalaman empiriklah, materi kepenulisan itu akan sangat mudah mengalir seperti alir sungai yang deras. Bagaimana dengan Anda?
Jika sering saya kemukakan, bahwa menulis itu tidak pandang profesi, artinya apapun dan siapapun kita dapat menulis; maka dalam konteks ini ada baiknya kita coba merenungkan pengalaman perjalanan hidup masing-masing untuk dicoba dituangkan dalam materi kepenulisan. Hasilnya, bisa jadi, luar biasa seperti apa yang dilakukan oleh Adi Gunawan.
Motivasi lain yang dapat dipetik dari pengalaman kepenulisan Adi Gunawan adalah bahwa menulis itu dapat dipakai untuk pengembangan potensi diri. Pengalaman ini, dalam jejak pemikiran tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Soejatmoko, menjadi fakta penguatnya. Bukankah ketiga tokoh ini dikenal kuat pemikiran yang ditransformasikan ke dalam praksis kepemimpinan dan ketokohannya? Di sinilah, maka jika kita ingin mengembangkan potensi profesi dan kemampuan diri, tidak ada cara lain yang paling efektif kecuali menulis. Ulama-ulama besar dalam perjalanan sejarah budaya Islam adalah teladan hidup yang dapat terus digali. Ibnu Duraid, Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya adalah contoh ulama yang menjulang karena kebiasaan baca tulisnya.
Hal lain yang dapat dipetik dari Adi Gunawan, adalah bahwa menulis menjadi sarana aktualisasi diri. Aktualisasi diri yang membantu citra diri, paling tidak, merupakan ukuran intelektualitas seseorang. Kejernihan diri (termasuk dalam berpikir) dapat ditelisik dari tulisan seseorang. Tidak heran, kalau secara sederhana aktualisasi diri (termasuk dalam berbagai peran dan profesi orang) dapat disisir dari cara mereka mengakualisasi dirinya dalam tulisan. Bukankah sesungguhnya, menulis adalah puncak keterampilan hidup seseorang. Banyak orang begitu berat menyelesaikan kesarjanaannya karena tidak mampu mengembangkan kemampuan menulisnya?
Terakhir, menulis dapat memfasilitasi seseorang menembus berbagai kemungkinan hidup. Pengalaman saya, dalam menjalin networking di tanah air, 80% ditentukan oleh pengalaman saya di bidang kepenulisan. Sebab, dalam dunia kepenulisan relasi itu terbangun lintas waktu, lintas tempat, lintas ruang, dan lintas status. Sebuah dunia kejujuran, --yang barangkali—memang tidak ada duanya. Kalau profesi lain penuh intrik dan manipulasi ”politik” maka dunia kepenulisan relatif terhindar darinya. Termasuk, nasib mujur saya dalam memasuki program doktor, bukan karena lamaran saya, tetapi karena pengalaman itu yang memancing orang membantu saya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Masih ragu? Barangkali, penting bermenung setiap pagi kemudian kita penting bertanya dalam hati (a) mengapa orang lain mampu menulis saya tidak? (b) mengapa mereka begitu mudah merentas jalan hidupnya dibanding saya? dan (c) mengapa orang yang dulu saya lihat ”bodoh”, tidak berpotensi, sekarang mampu melejit jauh meninggalkan saya?
Di sinilah, barangkali kita penting merenungkan ungkapan Henry Miller yang mengatkatan begini, ”we are all creative”. Setiap manusia memiliki daya cipta. Tunggu apa lagi? Bagaimana mewujudkannya? Ada pesan penting dari Gerald Brenan, ”Awali setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi seorang penulis!” (Roland Fishman, Creative Writing, 2005:7). Apa yang ditulis? Apa saja. Tentang siapa saja. Untuk apa? Untuk apa saja.
Saya sendiri, sekali lagi, tidak pernah bermimpi jadi penulis. Tetapi, perjalanan dan pergulatan adalah isteri setia yang melahirkan orok-orok yang luar biasa. Mau bukti? Melangkahlah dengan mengawali menulis setiap pagi, setiap bangun tidur, setiap sulit tidur, setiap Anda punya masalah. Tapi ingat, latihlah dengan balutan jernih pikir, sedikit imajinasi, dan kelembutan hati.
Di ujung pelayaran dengan perahu kepenulisan, Anda akan melewati beragam gelombang –kadang-kadang badai--, yang tentunya membutuhkan kearifan nahkoda dalam mengemudikannya. Jangan takut dengan para bajak laut kepenulisan, jangan kuatir Tuhan tidak mengerlingkan pandang pada niat suci Anda. Kayuh perahu kepenulisan itu, dan di ujung pandang (di pantai harapan), Anda akan menemukan ”rumah kedamaian” hidup –yang tidak semua orang mampu memasukinya--. Ingin bukti, berpuluh buku barangkali tak mampu untuk menunjukkan berapa ratus, berapa ribu, dan berapa juta penulis di dunia ini yang telah menikmati. Sebab, sebagaimana di tengah tulisan ini, telah kita pahami bahwa kepenulisan itu adalah lintas waktu. Apa yang akan kita tinggalkan dalam hidup kecuali gading? Dan gading itu hanya bisa bersanding dengan tulisan, bukan harta, bukan rumah mewah, apalagi mobil pribadi yang hanya menjadi manipulasi gengsi.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Rabu, 22 Oktober 2008
BELAJAR MENULIS DARI OATES
Sutejo
Joyce Carol Oates (Oates) adalah seorang penulis produktif yang telah menulis 70 puluh novel, koleksi puisi, dan cerita pendek. Beberapa diantaranya telah memenangkan hadiah tertinggi di bidangnya. Them mememangkan National Book Award (1970) untuk fiksi; A Garden of Earthly Delights (1970) dan Expensive People (1969) dinominasikan untuk National Book Award; What I Live For (1994) dinominasikan untuk Pulitzer Prize dan PEN/Faulkner Award for Fiction. Dia juga penerima hadiah O’Henry Special Award for Continuing Achievement.
Apa yang dapat dipelajari di Oates ini? Pertama, dia menulis tidak menggunakan mesin ketik (atau komputer) tetapi dengan menulis tangan. Kedua, sebelum menulis buku (termasuk puisi-puisi yang berarti) terlebih dulu dia banyak menulis tentang sesuatu. Ketiga, tidak peduli terhadap kritik (negatif) atas karya-karyanya.
”Semua penulis,” akunya, ”menemukan diri mereka berdentangan setiap saat, dari waktu ke waktu; kupikir pengalaman adalah suatu pembebasan yang luar biasa: setelah kematian pertama tak akan ada (kematian) lainnya. Seorang penulis yang telah menerbitkan buku sebanyak yang saya lakukan berarti penulis itu telah berkembang, sesuatu yang memang dibutuhkan –sesuatu yang tersembunyi seperti seekor badak yang menyembunyikan culanya, sementara di dalam dirinya bercokol kelemahan, keragu-raguan yang penuh harapan.” (George Plimton, 2007:334-335).
Ada hal menarik dari pengalaman penulis besar ini. Kalau selama ini banyak orang beralasan tidak mampu menulis karena tidak memiliki sarana komputer atau mesin ketik, maka logika pengalaman kepenulisan Oates ini akan menjadi kritik tajam yang menghunjam. Tokoh ini memberi contoh menjawab alibi klise yang seringkali menjadi lagu rutin ketika ajakan menulis ini kita tebarkan. Hal ini, tentu, mengingatkan pengalaman seorang Profesor dari Bandung yang sangat produktif berkarya, yang ternyata kemudian beliau juga menuliskan semua buku lewat tulisan tangan. Beliau adalah seorang pendidik yang dikenal dengan nama: Prof. Dr. Henry Guntut Tarigan. Tidak banyak yang tahu, kala beliau menulis skrip buku dalam tulis tangannya, tetapi dalam akunya dalam sebuah media beberapa tahun lalu, ”dia menuliskannya dengan menulis tangan.” Luar biasa! Inilah makna pertama yang dapat kita jinjing tinggi.
Matra makna belajar menulis lain yang dapat dicerna adalah bahwa awal kepenulisan karya Oates selalu diwali dengan menuliskannya tentang sesuatu. Filosofi belajarnya adalah latih refleksi kritis untuk menggali ekspresi batin dan pikir. Dengan begitu, barangkali akan mengeram, mengendap, dan memunculkan inkubasi ide --yang kemudian— menjalar menjadi pendar karya. Semacam pergulatan permenungan yang dipantik dengan kebiasaan sadar-tanggap. Dan, dalam tradisi pengalaman banyak penulis, memang inilah, embrio orok sebuah karya. Danarto, misalnya, selalu mengungkapkan pengalaman realitas ini dengan menuliskannya dalam buku harian. Untuk ini, jika kita termotivasi berkarya (menulis) tentu, membiasakan mengungkapkan sesuatu akan menjadi pintu penting lahirnya orok-orok karya kita yang memesona.
Dan makna belajar berkarya ketiga yang menarik diambil adalah bahwa kritik negatif atas karya penting untuk ”diabaikan”. Abai dan ”tidak peduli” dalam konteks ini adalah transformasi dari filosofi karya (tulis) hakikatnya merupakan kegagalan yang indah. Sebuah falsafah yang akan menggerakkan, memberikan daya ubah, dan karena kodratinya, dimensionalitas karya adalah wajar. Komentar dan kritik seringkali karena ”kacamata” yang digunakan sering berbeda, --dan memang—bukanlah sebuah ritus kudus penggunaan kacamata kuda.
Sebagaimana tasbih Oantes sendiri, yang selalu tak pernah puas terhadap karya. Dan karenanya, kritik atas karya, adalah biasa. Cuek yang menyimpan daya ubah dalam berkarya, sebangun makna qanaah dalam memaknai takdir yang kita terima dalam tabir relijius kemusliman kita. Pasrah dan qanaah sebagai belajar berselancar memetik i’tibar. Sebuah ruh perjalanan kepenulisan yang akan mengantarkan kita pada belalantara makna, bukan sekadar kosa kata yang terbaca.
Kegagalan karena itu, jika kita pahami makna kritik atas karya, maka tokoh-tokoh legendaris (tasbih sosok kehidupan) macam Leonardo da Vinci, Issac Newton, Thomas A. Edison, Einstein, dan Bill Gates adalah pelaku (ngelmu) yang –paling tidak— juga menerapkan pesan metaforik kegagalan yang indah ini. Sekaligus mereka adalah sosok kritik atas ”kemuakan dengan sekolah”, karena itu, drop out atau dikeluarkan (Eko Laksono, 2007:235). Sebuah realita yang mengejutkan, sekaligus menyakitkan. Di sinilah, tentu, pentingnya upaya mendorong sekolah untuk mampu menciptakan kultur yang ”tidak mengungkung” tetapi justru mampu menyediakan budaya ”krasan” sehingga lahirlah peran. Sebuah mimpi di tengah kolonialisasi pendidikan yang dipagut oleh kapitalisasi dan instanisasi.
Dunia menulis dan berkarya dengan sendirinya adalah sebuah pintu terbuka (wajib kritik) yang tentu berbeda dengan tradisi sekolah kita. Otoritas pembelajar adalah semacam pewaris mental Siti Jenar dalam memendar kenyakinannya dalam berlaku. Kritik dan ”hukuman” adalah pembabtisan yang wajar, tetapi etos dan nyali kenyakinannya adalah mutiara zaman –yang entah— kapan kilau itu bersinar.
Sebuah dimensionalitas hidup yang tidak dalam kacamata tunggal! Mari, belajar menulis dalam pigura makna pesan Oantes. Sebuah keikhlasan dalam penilaian negatif orang. Laku Syeikh Siti Jenar dalam tamasya keyakinan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Joyce Carol Oates (Oates) adalah seorang penulis produktif yang telah menulis 70 puluh novel, koleksi puisi, dan cerita pendek. Beberapa diantaranya telah memenangkan hadiah tertinggi di bidangnya. Them mememangkan National Book Award (1970) untuk fiksi; A Garden of Earthly Delights (1970) dan Expensive People (1969) dinominasikan untuk National Book Award; What I Live For (1994) dinominasikan untuk Pulitzer Prize dan PEN/Faulkner Award for Fiction. Dia juga penerima hadiah O’Henry Special Award for Continuing Achievement.
Apa yang dapat dipelajari di Oates ini? Pertama, dia menulis tidak menggunakan mesin ketik (atau komputer) tetapi dengan menulis tangan. Kedua, sebelum menulis buku (termasuk puisi-puisi yang berarti) terlebih dulu dia banyak menulis tentang sesuatu. Ketiga, tidak peduli terhadap kritik (negatif) atas karya-karyanya.
”Semua penulis,” akunya, ”menemukan diri mereka berdentangan setiap saat, dari waktu ke waktu; kupikir pengalaman adalah suatu pembebasan yang luar biasa: setelah kematian pertama tak akan ada (kematian) lainnya. Seorang penulis yang telah menerbitkan buku sebanyak yang saya lakukan berarti penulis itu telah berkembang, sesuatu yang memang dibutuhkan –sesuatu yang tersembunyi seperti seekor badak yang menyembunyikan culanya, sementara di dalam dirinya bercokol kelemahan, keragu-raguan yang penuh harapan.” (George Plimton, 2007:334-335).
Ada hal menarik dari pengalaman penulis besar ini. Kalau selama ini banyak orang beralasan tidak mampu menulis karena tidak memiliki sarana komputer atau mesin ketik, maka logika pengalaman kepenulisan Oates ini akan menjadi kritik tajam yang menghunjam. Tokoh ini memberi contoh menjawab alibi klise yang seringkali menjadi lagu rutin ketika ajakan menulis ini kita tebarkan. Hal ini, tentu, mengingatkan pengalaman seorang Profesor dari Bandung yang sangat produktif berkarya, yang ternyata kemudian beliau juga menuliskan semua buku lewat tulisan tangan. Beliau adalah seorang pendidik yang dikenal dengan nama: Prof. Dr. Henry Guntut Tarigan. Tidak banyak yang tahu, kala beliau menulis skrip buku dalam tulis tangannya, tetapi dalam akunya dalam sebuah media beberapa tahun lalu, ”dia menuliskannya dengan menulis tangan.” Luar biasa! Inilah makna pertama yang dapat kita jinjing tinggi.
Matra makna belajar menulis lain yang dapat dicerna adalah bahwa awal kepenulisan karya Oates selalu diwali dengan menuliskannya tentang sesuatu. Filosofi belajarnya adalah latih refleksi kritis untuk menggali ekspresi batin dan pikir. Dengan begitu, barangkali akan mengeram, mengendap, dan memunculkan inkubasi ide --yang kemudian— menjalar menjadi pendar karya. Semacam pergulatan permenungan yang dipantik dengan kebiasaan sadar-tanggap. Dan, dalam tradisi pengalaman banyak penulis, memang inilah, embrio orok sebuah karya. Danarto, misalnya, selalu mengungkapkan pengalaman realitas ini dengan menuliskannya dalam buku harian. Untuk ini, jika kita termotivasi berkarya (menulis) tentu, membiasakan mengungkapkan sesuatu akan menjadi pintu penting lahirnya orok-orok karya kita yang memesona.
Dan makna belajar berkarya ketiga yang menarik diambil adalah bahwa kritik negatif atas karya penting untuk ”diabaikan”. Abai dan ”tidak peduli” dalam konteks ini adalah transformasi dari filosofi karya (tulis) hakikatnya merupakan kegagalan yang indah. Sebuah falsafah yang akan menggerakkan, memberikan daya ubah, dan karena kodratinya, dimensionalitas karya adalah wajar. Komentar dan kritik seringkali karena ”kacamata” yang digunakan sering berbeda, --dan memang—bukanlah sebuah ritus kudus penggunaan kacamata kuda.
Sebagaimana tasbih Oantes sendiri, yang selalu tak pernah puas terhadap karya. Dan karenanya, kritik atas karya, adalah biasa. Cuek yang menyimpan daya ubah dalam berkarya, sebangun makna qanaah dalam memaknai takdir yang kita terima dalam tabir relijius kemusliman kita. Pasrah dan qanaah sebagai belajar berselancar memetik i’tibar. Sebuah ruh perjalanan kepenulisan yang akan mengantarkan kita pada belalantara makna, bukan sekadar kosa kata yang terbaca.
Kegagalan karena itu, jika kita pahami makna kritik atas karya, maka tokoh-tokoh legendaris (tasbih sosok kehidupan) macam Leonardo da Vinci, Issac Newton, Thomas A. Edison, Einstein, dan Bill Gates adalah pelaku (ngelmu) yang –paling tidak— juga menerapkan pesan metaforik kegagalan yang indah ini. Sekaligus mereka adalah sosok kritik atas ”kemuakan dengan sekolah”, karena itu, drop out atau dikeluarkan (Eko Laksono, 2007:235). Sebuah realita yang mengejutkan, sekaligus menyakitkan. Di sinilah, tentu, pentingnya upaya mendorong sekolah untuk mampu menciptakan kultur yang ”tidak mengungkung” tetapi justru mampu menyediakan budaya ”krasan” sehingga lahirlah peran. Sebuah mimpi di tengah kolonialisasi pendidikan yang dipagut oleh kapitalisasi dan instanisasi.
Dunia menulis dan berkarya dengan sendirinya adalah sebuah pintu terbuka (wajib kritik) yang tentu berbeda dengan tradisi sekolah kita. Otoritas pembelajar adalah semacam pewaris mental Siti Jenar dalam memendar kenyakinannya dalam berlaku. Kritik dan ”hukuman” adalah pembabtisan yang wajar, tetapi etos dan nyali kenyakinannya adalah mutiara zaman –yang entah— kapan kilau itu bersinar.
Sebuah dimensionalitas hidup yang tidak dalam kacamata tunggal! Mari, belajar menulis dalam pigura makna pesan Oantes. Sebuah keikhlasan dalam penilaian negatif orang. Laku Syeikh Siti Jenar dalam tamasya keyakinan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Minggu, 19 Oktober 2008
BELAJAR MENULIS DARI MARIA A SARDJONO*
Sutejo
Membaca dan menulis bagi Maria A. Sardjono telah begitu mendarah daging. "Kakek saya dulu teman Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya," tutur perempuan kelahiran 22 April 1945 ini. Sejak masih berusia sangat dini, buku bukan merupakan benda langka ditemukan di rumah. Seluruh anggota keluarga memiliki kesukaan membaca.
Ia menulis sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, tulisan-tulisannya lebih banyak disimpan di laci meja. Kesukaan ini terus berlanjut. "Cerpen-cerpen yang saya tulis terus saja ada di dalam laci, enggak diapa-apain," kenang Maria. Sampai suatu hari, seorang kerabat berkunjung ke rumah dan membaca cerpen tersebut. Ia menyarankan agar cerpen tersebut dikirimkan ke majalah. "Ternyata tidak ada cerita-cerita yang dikembalikan," ungkap Maria. Sepanjang 30 tahun menulis, sudah 85 novel yang dia hasilkan.
Satu hal yang dirasakan Maria saat menga¬rang, ia begitu terhanyut dalam cerita. Ia tak pemah mampu membuat cerita horor. "Kalau selesai menulis cerita seram, komputer cepat-cepat dimatikan, dan saya lari ketakutan ke kamar," ungkapnya. Sebaliknya, setiap kali me¬nulis tentang dua insan yang sedang bercinta, penulis yang baru menyelesaikan studi S2 di bidang filsafat humaniora ini mengaku sering terangsang sendiri.
Apa yang dapat dipetik dari Maria A Sardjono? Pertama, kebiasaan membaca dan menulisnya sejak dini. Untuk itulah, jika kita ingin menulis memang ya, menulis. Barangkali, memang, tidak membutuhkan teori. Membiasakan menulis, karena itu, merupakan kunci pertama. Belajar dari tokoh ini maka hukum kesuksesan menulis adalah membudayakan baca tulis. Ini penting karena membaca adalah proses belajar yang tidak henti, proses meminta yang tak bertepi.
Hanya, membaca yang bagaimana dapat dioptimalkan? Membaca dalam konteks ini tentunya adalah membaca kritis. Membaca dalam ruang dialog atas kebermaknaan. Di sinilah proses penting itu hingga bermanfaat sebagai bahan penting kepenulisan. Alat yang dapat dimanfaatkan untuk membaca ini menarik kita untuk memiliki kartu bacaan. Hasil bacaan dikartukan sebagai penjurus bahan kepenulisan.
Kedua, keluarga berpengaruh dalam mendukung peningkatan kemampuan menulis. Sebagaimana halnya, Maria A Sardjono, yang dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing dengan buku, maka hal berikut yang penting untuk kita pelajari adalah bagaimana menciptakan rumah tangga kita adalah sekolah kedua. Di sinilah, barangkali, peran orang tua menjadi sangat menentukan dalam memfasilitasi dengan buku-buku bagi anak-anaknya. Jika kita menginginkan sukses menulis, hal penting yang tak boleh dilupakan adalah “rumah buku” itu sendiri.
Beruntung memang Maria A Sardjono yang sejak kecil memiliki lingkungan keluarga yang menyuburkan tradisi baca tulisnya. Jika Anda ingin mengembangkan kepenulisan syarat kondisi rumah buku adalah sawah lapangnya.
Ketiga, pentingnya bank tulisan. Dari pengalaman menulis Maria, di awal, hal unik yang dapat diambil adalah kebiasaan menulisnya yang pada awalnya tidak ada motivasi untuk dikirimkan ke media massa tetapi kemudian setelah bertemu seorang teman Maria disarankan untuk dikirimkan ke media. Pada saat itu, ternyata, Maria sudah memiliki 30 cerita. Hebatnya, semuanya tidak tertolak (dimuat). Jika kita ingin sukses menulis, maka kita perlu memiliki bank tulisan. Dalam bahasa perbankan, barangkali, kita perlu menabung tulisan. Sehingga, tak mengherankan jika suatu waktu kita memiliki kekayaan yang luar biasa.
Untuk itu, mengapa kita tidak meniru pengalaman unik penulis ini? Marilah, saya ajak Anda untuk merenungkan kebiasaan menarik dari penulis Maria A Sardjono yang sekilas namanya mirip laki-laki. Tetapi, penulis ini adalah perempuan.
Jika kita masih ragu akan kemampuan menulis, barangkali, penting terus menulis sehingga tersimpan sejumlah tulisan –yang entah—suatu waktu pasti kita memiliki saat untuk mempublikasinya. Sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan, manakala, kebiasaan itu dikondisikan dalam keluarga yang menopang untuk pengembangannya. Permasalahan: mengapa kita tidak mengawali? Bukankan keinginan indah jika tidak dimulai hanya bikin resah? Sering, saya bertemu dengan teman (siswa dan mahasiswa) sangat tertarik dengan menulis tetapi mereka belum memfasilitasinya ala Maria A Sardjono ini.
Kini, tiba saatnya giliran Anda untuk menciptakannya dalam keluarga selanjutnya jangan berpaling sebelum rekening honor itu mengisi rekening pribadi Anda. Selamat berjuang membangun keluarga dengan tulis menulis!
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Membaca dan menulis bagi Maria A. Sardjono telah begitu mendarah daging. "Kakek saya dulu teman Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya," tutur perempuan kelahiran 22 April 1945 ini. Sejak masih berusia sangat dini, buku bukan merupakan benda langka ditemukan di rumah. Seluruh anggota keluarga memiliki kesukaan membaca.
Ia menulis sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, tulisan-tulisannya lebih banyak disimpan di laci meja. Kesukaan ini terus berlanjut. "Cerpen-cerpen yang saya tulis terus saja ada di dalam laci, enggak diapa-apain," kenang Maria. Sampai suatu hari, seorang kerabat berkunjung ke rumah dan membaca cerpen tersebut. Ia menyarankan agar cerpen tersebut dikirimkan ke majalah. "Ternyata tidak ada cerita-cerita yang dikembalikan," ungkap Maria. Sepanjang 30 tahun menulis, sudah 85 novel yang dia hasilkan.
Satu hal yang dirasakan Maria saat menga¬rang, ia begitu terhanyut dalam cerita. Ia tak pemah mampu membuat cerita horor. "Kalau selesai menulis cerita seram, komputer cepat-cepat dimatikan, dan saya lari ketakutan ke kamar," ungkapnya. Sebaliknya, setiap kali me¬nulis tentang dua insan yang sedang bercinta, penulis yang baru menyelesaikan studi S2 di bidang filsafat humaniora ini mengaku sering terangsang sendiri.
Apa yang dapat dipetik dari Maria A Sardjono? Pertama, kebiasaan membaca dan menulisnya sejak dini. Untuk itulah, jika kita ingin menulis memang ya, menulis. Barangkali, memang, tidak membutuhkan teori. Membiasakan menulis, karena itu, merupakan kunci pertama. Belajar dari tokoh ini maka hukum kesuksesan menulis adalah membudayakan baca tulis. Ini penting karena membaca adalah proses belajar yang tidak henti, proses meminta yang tak bertepi.
Hanya, membaca yang bagaimana dapat dioptimalkan? Membaca dalam konteks ini tentunya adalah membaca kritis. Membaca dalam ruang dialog atas kebermaknaan. Di sinilah proses penting itu hingga bermanfaat sebagai bahan penting kepenulisan. Alat yang dapat dimanfaatkan untuk membaca ini menarik kita untuk memiliki kartu bacaan. Hasil bacaan dikartukan sebagai penjurus bahan kepenulisan.
Kedua, keluarga berpengaruh dalam mendukung peningkatan kemampuan menulis. Sebagaimana halnya, Maria A Sardjono, yang dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing dengan buku, maka hal berikut yang penting untuk kita pelajari adalah bagaimana menciptakan rumah tangga kita adalah sekolah kedua. Di sinilah, barangkali, peran orang tua menjadi sangat menentukan dalam memfasilitasi dengan buku-buku bagi anak-anaknya. Jika kita menginginkan sukses menulis, hal penting yang tak boleh dilupakan adalah “rumah buku” itu sendiri.
Beruntung memang Maria A Sardjono yang sejak kecil memiliki lingkungan keluarga yang menyuburkan tradisi baca tulisnya. Jika Anda ingin mengembangkan kepenulisan syarat kondisi rumah buku adalah sawah lapangnya.
Ketiga, pentingnya bank tulisan. Dari pengalaman menulis Maria, di awal, hal unik yang dapat diambil adalah kebiasaan menulisnya yang pada awalnya tidak ada motivasi untuk dikirimkan ke media massa tetapi kemudian setelah bertemu seorang teman Maria disarankan untuk dikirimkan ke media. Pada saat itu, ternyata, Maria sudah memiliki 30 cerita. Hebatnya, semuanya tidak tertolak (dimuat). Jika kita ingin sukses menulis, maka kita perlu memiliki bank tulisan. Dalam bahasa perbankan, barangkali, kita perlu menabung tulisan. Sehingga, tak mengherankan jika suatu waktu kita memiliki kekayaan yang luar biasa.
Untuk itu, mengapa kita tidak meniru pengalaman unik penulis ini? Marilah, saya ajak Anda untuk merenungkan kebiasaan menarik dari penulis Maria A Sardjono yang sekilas namanya mirip laki-laki. Tetapi, penulis ini adalah perempuan.
Jika kita masih ragu akan kemampuan menulis, barangkali, penting terus menulis sehingga tersimpan sejumlah tulisan –yang entah—suatu waktu pasti kita memiliki saat untuk mempublikasinya. Sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan, manakala, kebiasaan itu dikondisikan dalam keluarga yang menopang untuk pengembangannya. Permasalahan: mengapa kita tidak mengawali? Bukankan keinginan indah jika tidak dimulai hanya bikin resah? Sering, saya bertemu dengan teman (siswa dan mahasiswa) sangat tertarik dengan menulis tetapi mereka belum memfasilitasinya ala Maria A Sardjono ini.
Kini, tiba saatnya giliran Anda untuk menciptakannya dalam keluarga selanjutnya jangan berpaling sebelum rekening honor itu mengisi rekening pribadi Anda. Selamat berjuang membangun keluarga dengan tulis menulis!
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY SETIAWAN*
Sutejo
Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Meskipun lelaki ini mengaku bahwa menulis cerita pendek mulanya hanya untuk mengisi kejenuhan. Lama-lama keterusan. Bahkan, menjadi profesi dan tumpuan hidup (MataBaca, 2005:9). Kedua, dunia cerpen lebih menjanjikan. Ketiga, dalam menekuni kepenulisan dia berawal dari puisi. Keempat, karena “kebutuhan hidup” dia mencoba banyak menulis berbagai tulisan dari esai sastra, resensi buku, hingga cerpen.
Untuk ini, jika kita mau belajar dari pengalaman Isbedy Stiawan ini maka beragam hal menarik berikut penting direnungkan. Pertama, menulis puisi tidaklah dapat diremehkan. Pengalaman Isebedy ini menunjukkan bahwa dunia puisi merupakan pintu kepenulisannya. Artinya, memang menulis puisi pada awalnya menekankan pada ”kemenarikan kata dan larik”, maka memasuki dunia cerpen misalnya, tentu bukan persoalan yang susah. Para penyair yang juga menulis cerpen ini banyak seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sutardji Calzaum Bahri, Tjahjono Widianto, dan sebagainya. Pengalaman awal kepenulisan lewat puisi ini mengingatkan apa yang dialami oleh Azyumardi Azra sebelum kemudian terjebak pada kepenulisan ilmiah.
Dengan begitu, menulis puisi misalnya, jika dikondisikan sejak usia SMA akan menjadi pentu tergalinya bakat kepenulisan. Setelah itu, maka hal kedua yang dapat diambil adalah “bahwa bakat hanyalah memberikan ruang potensi”. Setelah itu, keterpaksaan akan terpenuhi kebutuhan hidup itulah yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Kebutuhan hidup, karena itu, akan mampu melahirkan etos usaha (berkarya) yang luar biasa. Hasilnya, memang tidak tanggung. Belajar dari kasus cerpen Isbedy misalnya, dia bilang, kalau dimuat di Koran dia dapat honor, dikumpulkan menjadi buku kemudian dia dapat honor juga. Sebuah penerimaan ganda yang hal itu relatif berbeda di bandingkan dengan dunia puisi.
Sekadar pemaknaan, bahwa kepenyairan sebagai pintu kepenulisan barangkali dapat dirasionalkan seperti ini. Bahwa penyair sangat dipengaruhi oleh imajinasi awalnya sebelum alir lewat kata berirama dan bermakna. Imajinasi pada prosesnya akan mengingatkan pesan sufistik Einstein yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sumber segala ilmu kepenulisan tampaknya memang imajinasi. Di situlah kemudian mengalir dalam beragam bentuk tulisan setelah terjadi pematangan pada satu bidang tulisan. Ini wajar karena memang dunia kepenulisan sesungguhnya dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Meminjam bahasa Abdul Hadi WM, hakikat kepenulisan dan substansi kehidupan adalah sesuatu yang komprehensif berkelindan antarsatu dengan yang lainnya. Bukan parsialisasi bidang yang hanya alirkan kejengahan dan kebimbangan.
Ketiga, bahwa kebermulaan dari iseng memang dapat melahirkan keberuntungan. Pengalaman Isebedy dalam mengisi “ruang beku” kepenyairan dengan menulis cerpen justru mengukuhkannya namanya yang kian meroket. Pada tahun 2005 saja misalnya, dia menerbitkan empat kumpulan cerpen yang menarik. Salah satunya adalah Kau Jadi Ikan. Isbedy Setiawan ini melengkapi tradisi penulis murni sebagaimana halnya Hamsad Rangkuti. Di sinilah, maka (berangkat dari pengalaman Isbedy) pintu-pintu genre tulisan lainnya ternyata hampir otomatis dapat ditulisnya. Pertanyaannya adalah apakah semua penulis (utamanya pemula) dapat melakukan seperti halnya Isbedy ini. Tentu jawabnya tidak. Semuanya tergantung pada proses pelakuan hidup penulis sendiri. Pesan tersirat dari perjalanan Isbedy ini adalah kelurusan dan etos yang tak henti berkarya. Kejenuhan berkarya dapat dialirkan pada hal lain yang juga bermakna.
Jika kita meminjam rumus sukses menulis A.A. Navis, maka terjumpailah bahwa bakat alam itu hanya berandil 20 persen saja sedangkan lainnya berupa etos, keuletan, dan kreativitas. Sebuah alarm yang senantiasanya mengingatkan bahwa menulis bukanlah turunan, tetapi sebuah upaya, sebuah ghirah, sebuah semangat yang berkobar-kobar. Menyala seperti gunung api yang siap mengalirkan panas dalam laku liku sungai kepenulisan di bawahnya.
Meski belum seberuntung Hamsad yang mendapatkan bonus Khatulistiwa Award, tetapi etos dan karyanya adalah jawaban atas bagaimana sebaiknya menjadi manusia. Sebagaimana disindirkan Hardjono WS bahwa ciri manusia adalah menulis kalau tidak menulis bukan manusia mendapatkan justifikasi alami karena kalau tidak menulis kebutuhan hidupnya jadi terganggu.
Jika kita pelajar, mahasiswa, atau guru misalnya, yang mau berkaca pada cermin personal Isbedy ini, maka rasa malu akan hinggap sepenuh waktu. Ketidakpastian hidupnya berubah motivasi karya yang luar biasa. Andaikan guru-guru kita, mahasiswa, dan siswa kita melakukannya, sebuah harapan luar biasa dapat dipuja. Mudah-mudahan pengalaman Isebedy demikian akan menjadi inspirasi kita manakala memutuskan jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Tunggu apalagi?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Meskipun lelaki ini mengaku bahwa menulis cerita pendek mulanya hanya untuk mengisi kejenuhan. Lama-lama keterusan. Bahkan, menjadi profesi dan tumpuan hidup (MataBaca, 2005:9). Kedua, dunia cerpen lebih menjanjikan. Ketiga, dalam menekuni kepenulisan dia berawal dari puisi. Keempat, karena “kebutuhan hidup” dia mencoba banyak menulis berbagai tulisan dari esai sastra, resensi buku, hingga cerpen.
Untuk ini, jika kita mau belajar dari pengalaman Isbedy Stiawan ini maka beragam hal menarik berikut penting direnungkan. Pertama, menulis puisi tidaklah dapat diremehkan. Pengalaman Isebedy ini menunjukkan bahwa dunia puisi merupakan pintu kepenulisannya. Artinya, memang menulis puisi pada awalnya menekankan pada ”kemenarikan kata dan larik”, maka memasuki dunia cerpen misalnya, tentu bukan persoalan yang susah. Para penyair yang juga menulis cerpen ini banyak seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sutardji Calzaum Bahri, Tjahjono Widianto, dan sebagainya. Pengalaman awal kepenulisan lewat puisi ini mengingatkan apa yang dialami oleh Azyumardi Azra sebelum kemudian terjebak pada kepenulisan ilmiah.
Dengan begitu, menulis puisi misalnya, jika dikondisikan sejak usia SMA akan menjadi pentu tergalinya bakat kepenulisan. Setelah itu, maka hal kedua yang dapat diambil adalah “bahwa bakat hanyalah memberikan ruang potensi”. Setelah itu, keterpaksaan akan terpenuhi kebutuhan hidup itulah yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Kebutuhan hidup, karena itu, akan mampu melahirkan etos usaha (berkarya) yang luar biasa. Hasilnya, memang tidak tanggung. Belajar dari kasus cerpen Isbedy misalnya, dia bilang, kalau dimuat di Koran dia dapat honor, dikumpulkan menjadi buku kemudian dia dapat honor juga. Sebuah penerimaan ganda yang hal itu relatif berbeda di bandingkan dengan dunia puisi.
Sekadar pemaknaan, bahwa kepenyairan sebagai pintu kepenulisan barangkali dapat dirasionalkan seperti ini. Bahwa penyair sangat dipengaruhi oleh imajinasi awalnya sebelum alir lewat kata berirama dan bermakna. Imajinasi pada prosesnya akan mengingatkan pesan sufistik Einstein yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sumber segala ilmu kepenulisan tampaknya memang imajinasi. Di situlah kemudian mengalir dalam beragam bentuk tulisan setelah terjadi pematangan pada satu bidang tulisan. Ini wajar karena memang dunia kepenulisan sesungguhnya dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Meminjam bahasa Abdul Hadi WM, hakikat kepenulisan dan substansi kehidupan adalah sesuatu yang komprehensif berkelindan antarsatu dengan yang lainnya. Bukan parsialisasi bidang yang hanya alirkan kejengahan dan kebimbangan.
Ketiga, bahwa kebermulaan dari iseng memang dapat melahirkan keberuntungan. Pengalaman Isebedy dalam mengisi “ruang beku” kepenyairan dengan menulis cerpen justru mengukuhkannya namanya yang kian meroket. Pada tahun 2005 saja misalnya, dia menerbitkan empat kumpulan cerpen yang menarik. Salah satunya adalah Kau Jadi Ikan. Isbedy Setiawan ini melengkapi tradisi penulis murni sebagaimana halnya Hamsad Rangkuti. Di sinilah, maka (berangkat dari pengalaman Isbedy) pintu-pintu genre tulisan lainnya ternyata hampir otomatis dapat ditulisnya. Pertanyaannya adalah apakah semua penulis (utamanya pemula) dapat melakukan seperti halnya Isbedy ini. Tentu jawabnya tidak. Semuanya tergantung pada proses pelakuan hidup penulis sendiri. Pesan tersirat dari perjalanan Isbedy ini adalah kelurusan dan etos yang tak henti berkarya. Kejenuhan berkarya dapat dialirkan pada hal lain yang juga bermakna.
Jika kita meminjam rumus sukses menulis A.A. Navis, maka terjumpailah bahwa bakat alam itu hanya berandil 20 persen saja sedangkan lainnya berupa etos, keuletan, dan kreativitas. Sebuah alarm yang senantiasanya mengingatkan bahwa menulis bukanlah turunan, tetapi sebuah upaya, sebuah ghirah, sebuah semangat yang berkobar-kobar. Menyala seperti gunung api yang siap mengalirkan panas dalam laku liku sungai kepenulisan di bawahnya.
Meski belum seberuntung Hamsad yang mendapatkan bonus Khatulistiwa Award, tetapi etos dan karyanya adalah jawaban atas bagaimana sebaiknya menjadi manusia. Sebagaimana disindirkan Hardjono WS bahwa ciri manusia adalah menulis kalau tidak menulis bukan manusia mendapatkan justifikasi alami karena kalau tidak menulis kebutuhan hidupnya jadi terganggu.
Jika kita pelajar, mahasiswa, atau guru misalnya, yang mau berkaca pada cermin personal Isbedy ini, maka rasa malu akan hinggap sepenuh waktu. Ketidakpastian hidupnya berubah motivasi karya yang luar biasa. Andaikan guru-guru kita, mahasiswa, dan siswa kita melakukannya, sebuah harapan luar biasa dapat dipuja. Mudah-mudahan pengalaman Isebedy demikian akan menjadi inspirasi kita manakala memutuskan jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Tunggu apalagi?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
BELAJAR MENULIS DARI MARDILUHUNG*
Sutejo
Ketika beberapa waktu lalu HU Mardiluhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.
Mardiluhung memang seorang guru, yakni pengajar di SMA NU Tuban. Tetapi, dalam dunia kepenulisan jika seseorang ingin belajar menulis maka dia pun guru menulis. Untuk itulah, kini ia hanya mengajar bahasa Indonesia khusus spesifikasi menulis. Setiap minggu satu jam pelajaran. Unik?
Saya sendiri tidak tahu mengapa Mardiluhung bilang bahwa menulis tidak dapat diceritakan. Mungkin karena proses seseorang menulis memang terjadi di bawah sadar, tetapi ini pun sebenarnya dalam teori relaksasi justru dapat ditelusur karena hal itu terjadi dalam wilayah gelombang alfa dan teta. Artinya, mimpi (teta) sekalipun dapat diceritakan apalagi proses kreatif yang berlangsung (kira-kira dalam wilayah alfa) kok tidak bisa diceritakan. Tapi bagaimanapun karena itu proses kreatif yang bersifat pribadi, personal, maka pengakuan seperti ini pun bukan hal aneh. Bukankah kepenulisan kreatif itu sendiri sebuah keanehan?
Pengalamannya tentang proses kreatif yang “unik” inilah, barangkali yang kemudian mengokohkan puisi-puisinya. Memang, HU lebih banyak menulis puisi daripada ulasan atau esai. Sepengetahuan saya, Mardiluhung baru menulis cerpen sekali. Tetapi untuk kepenyairannya dia boleh dibilang kokoh, jadi ikon angkatan 2000 yang dikukuhkan oleh Korri Layun Rampan. Di situlah, lagi dapat dipahami mengapa proses kreatif menulis puisinya tidak dapat diceritakan karena memang proses ini terjadi pada saat mooding. Istilah orang Jawa, dhong-dhongan. Lek ora pas dhong juga gak bisa.
Sebelum hadir di Ponorogo, saya memang sudah mengenal Mardiluhung tiga lahun lalu ketika di Bogor. Saat itu, memang ia sudah kelihatan “gendheng” di antara guru-guru bahasa Indonesia yang lain. Kegendhengan ini, kemudian dapat pembenaran dari Maman S. Mahayana yang mengatakan begini, “Jadi guru bahasa Indonesia memang harus gendheng”. Ungkapnya disambut riuh para guru yang gendheng pula. Saat itu pula, Taufik Ismail menceritakan pengalamannya diundang di Hongkong oleh para Cerpenis Urban di sana, sampai kemudian Taufik mempertanyakan motivasi menulis para guru.
Kedua, ternyata menulis seperti pula kehidupan pada umumnya. Artinya, mengalami krisis pula. Pengalaman Mardiluhung hampir 2-3 tahun dia mengalami krisis itu, yang anehnya memang tidak dapat dipaksakan (hal ini diceritakannya saat perjalanan Bogor-Ponorogo). Apa yang dilakukan? Ya, mengalir saja. Gak usah dipaksa, katanya. Pengarang dan sastrawan lainnya memang banyak juga yang mengalami hal demikian. Untuk itu, jika Anda nanti sudah mulai menulis, berjalan, tetapi kemudian mengalami krisis, gak usah risau. Memang hal itu terjadi secara “alami”.
Pada saat krisis ini, sepengetahuan saya memang ia sedang terlilit masalah hidup. Persoalan kesandung dalan alus, kecocok lancupan sing tanpa ngelancupi. Dia jatuh cinta lagi, dan aneh memang, seperti rekaman perjalanan dunia lucu yang seringkali membuat orang lain geli. Wajar? Ia, namun sebagaimana umumnya manusia, penulis pun bukan hal haram jatuh cinta meskipun sudah berkeluarga. Bukan penulis pun ternyata jauh lebih banyak, apalagi penulis memang kelebihan imajinasi.
Menulis menyatu dengan kondisi, inilah hal lain yang dapat dipelajari. Sebab memang menulis seringkali terpancing inspirasinya dari kehidupan realitas sosial. Tak heran, jika puisi-puisi Mardiluhung juga berbicara lokalitas Gresik dengan berbagai pernik kehidupannya. Tak heran jika ia berbicara juga tentang laut dan nelayan sebagaimana Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahhman dan penyair muda M. Faizi.
Terakhir, dan ini merupakan gejala penulisan karya sastra mutakhir adalah perlunya research dalam menulis, termasuk menulis puisi. Mardiluhung kini sedang menyelesaikan kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan research lapangan di pulau Bawean. Sebuah reportase estetis? Mungkin. Tetapi juga tidak, karena karya sastra hakikatnya sebuah dunia tersendiri. Dunia imajinasi dengan tokoh imajinasi pula, sebuah dunia puisi dengan aku liris imajinasi pula, sebuah sapa pembaca dengan pembaca imajinasi pula.
Untuk ini, jika kita jujur belajar dari kepenulisan Mardiluhung barangkali kita perlu sesekali research, mengamati situasi lokal, peka krisis, dan gak usah terkejut ketika menulis kemudian ditanya tentang bagaimana proses kreatif kok tidak dapat menceritakannya. Sebagaimana pernah menjadi perdebatan tentang puisi Malam Lebaran Sitor Situmorang, maka proses kreatif tidak penting untuk diceritakan. Menghilangkan dimensi penafsiran, karena sifat situasionalisasi hanyalah bersifat kilasan, karena itu, hanyalah bersifat inspiratif. Bukan potret.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Ketika beberapa waktu lalu HU Mardiluhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.
Mardiluhung memang seorang guru, yakni pengajar di SMA NU Tuban. Tetapi, dalam dunia kepenulisan jika seseorang ingin belajar menulis maka dia pun guru menulis. Untuk itulah, kini ia hanya mengajar bahasa Indonesia khusus spesifikasi menulis. Setiap minggu satu jam pelajaran. Unik?
Saya sendiri tidak tahu mengapa Mardiluhung bilang bahwa menulis tidak dapat diceritakan. Mungkin karena proses seseorang menulis memang terjadi di bawah sadar, tetapi ini pun sebenarnya dalam teori relaksasi justru dapat ditelusur karena hal itu terjadi dalam wilayah gelombang alfa dan teta. Artinya, mimpi (teta) sekalipun dapat diceritakan apalagi proses kreatif yang berlangsung (kira-kira dalam wilayah alfa) kok tidak bisa diceritakan. Tapi bagaimanapun karena itu proses kreatif yang bersifat pribadi, personal, maka pengakuan seperti ini pun bukan hal aneh. Bukankah kepenulisan kreatif itu sendiri sebuah keanehan?
Pengalamannya tentang proses kreatif yang “unik” inilah, barangkali yang kemudian mengokohkan puisi-puisinya. Memang, HU lebih banyak menulis puisi daripada ulasan atau esai. Sepengetahuan saya, Mardiluhung baru menulis cerpen sekali. Tetapi untuk kepenyairannya dia boleh dibilang kokoh, jadi ikon angkatan 2000 yang dikukuhkan oleh Korri Layun Rampan. Di situlah, lagi dapat dipahami mengapa proses kreatif menulis puisinya tidak dapat diceritakan karena memang proses ini terjadi pada saat mooding. Istilah orang Jawa, dhong-dhongan. Lek ora pas dhong juga gak bisa.
Sebelum hadir di Ponorogo, saya memang sudah mengenal Mardiluhung tiga lahun lalu ketika di Bogor. Saat itu, memang ia sudah kelihatan “gendheng” di antara guru-guru bahasa Indonesia yang lain. Kegendhengan ini, kemudian dapat pembenaran dari Maman S. Mahayana yang mengatakan begini, “Jadi guru bahasa Indonesia memang harus gendheng”. Ungkapnya disambut riuh para guru yang gendheng pula. Saat itu pula, Taufik Ismail menceritakan pengalamannya diundang di Hongkong oleh para Cerpenis Urban di sana, sampai kemudian Taufik mempertanyakan motivasi menulis para guru.
Kedua, ternyata menulis seperti pula kehidupan pada umumnya. Artinya, mengalami krisis pula. Pengalaman Mardiluhung hampir 2-3 tahun dia mengalami krisis itu, yang anehnya memang tidak dapat dipaksakan (hal ini diceritakannya saat perjalanan Bogor-Ponorogo). Apa yang dilakukan? Ya, mengalir saja. Gak usah dipaksa, katanya. Pengarang dan sastrawan lainnya memang banyak juga yang mengalami hal demikian. Untuk itu, jika Anda nanti sudah mulai menulis, berjalan, tetapi kemudian mengalami krisis, gak usah risau. Memang hal itu terjadi secara “alami”.
Pada saat krisis ini, sepengetahuan saya memang ia sedang terlilit masalah hidup. Persoalan kesandung dalan alus, kecocok lancupan sing tanpa ngelancupi. Dia jatuh cinta lagi, dan aneh memang, seperti rekaman perjalanan dunia lucu yang seringkali membuat orang lain geli. Wajar? Ia, namun sebagaimana umumnya manusia, penulis pun bukan hal haram jatuh cinta meskipun sudah berkeluarga. Bukan penulis pun ternyata jauh lebih banyak, apalagi penulis memang kelebihan imajinasi.
Menulis menyatu dengan kondisi, inilah hal lain yang dapat dipelajari. Sebab memang menulis seringkali terpancing inspirasinya dari kehidupan realitas sosial. Tak heran, jika puisi-puisi Mardiluhung juga berbicara lokalitas Gresik dengan berbagai pernik kehidupannya. Tak heran jika ia berbicara juga tentang laut dan nelayan sebagaimana Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahhman dan penyair muda M. Faizi.
Terakhir, dan ini merupakan gejala penulisan karya sastra mutakhir adalah perlunya research dalam menulis, termasuk menulis puisi. Mardiluhung kini sedang menyelesaikan kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan research lapangan di pulau Bawean. Sebuah reportase estetis? Mungkin. Tetapi juga tidak, karena karya sastra hakikatnya sebuah dunia tersendiri. Dunia imajinasi dengan tokoh imajinasi pula, sebuah dunia puisi dengan aku liris imajinasi pula, sebuah sapa pembaca dengan pembaca imajinasi pula.
Untuk ini, jika kita jujur belajar dari kepenulisan Mardiluhung barangkali kita perlu sesekali research, mengamati situasi lokal, peka krisis, dan gak usah terkejut ketika menulis kemudian ditanya tentang bagaimana proses kreatif kok tidak dapat menceritakannya. Sebagaimana pernah menjadi perdebatan tentang puisi Malam Lebaran Sitor Situmorang, maka proses kreatif tidak penting untuk diceritakan. Menghilangkan dimensi penafsiran, karena sifat situasionalisasi hanyalah bersifat kilasan, karena itu, hanyalah bersifat inspiratif. Bukan potret.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
BELAJAR MENULIS DARI LAN FANG*
Sutejo
http://sastra-indonesia.com/
Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lan Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.
Acara itu, di samping berbicara bagaimana Budi Darma, juga berbicara masing-masing proses kreatif para nara sumber. Satu yang dapat dipelajari dalam tulisan pendek ini adalah bagaimana proses kreatif Lan Fang sebagai seorang novelis dan cerpenis. Ketika peluncuran bukunya berjudul Kota Tanpa Kelamin (2007) di Toga Mas Surabaya, dia pun berbicara banyak tentang proses kreatifnya. Pada saat itu, saya bersama Uki (wartawan Antara) bertemu dengan penulis macam M. Shoim Anwar, HU Mardiluhung, Wawan Setiawan, Budi Darma, Syirikit Syah, dan beberapa penulis lainnya.
Dari dua pertemuan itu, apa yang dapat dipelajari dari proses kreatifnya? Beberapa hal berikut menarik untuk dipikirkan (a) bahwa proses kepenulisan itu mengikuti alir sungai (mengalir saja), (b) inspirasi dari karya orang lain, (c) pesan yang ingin dikomunikasikan sampai kepada pembaca, (d) tidak terganggu oleh kategori pop atau serius, dan (e) terus menerus belajar. Lima pesan spiritual yang menggerakkan kita manakala akan memasuki ruang dan peluang kepenulisan.
Pertemuan demikian jika kita mau belajar dan merefleksikannya sebagai sebuah “sekolah alam” tentunya terlalu pendek pertemuan itu jika tidak diabadikan dalam kolom pikiran. Untuk inilah, maka mari kita refleksikan sebagai bahan bincangan menariknya. Pertama, memang benar bahwa proses kepenulisan itu mengalir saja. Jika kita ingin menulis maka “pokoknya menulis”, mengalirkan berbagai pengalaman batin, refleksi kehidupan sosial, bagi tuang hasil bacaan. Sebuah perjalanan karya yang tidak perlu dipikirkan apakah itu nanti masuk karya kategori tertentu. Dengan demikian proses kreatif tidak terkebiri, sebaliknya menemukan jati dirinya yang “luar biasa” alami. Dengan demikian, menulis itu memang sebuah alir pikiran dan perasaan yang sangat dipengaruhi oleh alur dan alir sungai kebahasaan yang dimilikinya.
Permalahan yang sering terjadi di kalangan pemula adalah mereka bingung anak menulis apa dan jenis apa. Mengikuti saran Lan Fang ini, maka ada baiknya kita mengalir, dan jika kemengaliran itu mengantarkan kita di tepiannya atau berakhir di laut mana adalah persoalan hayatan setelah berwujud. Dengan demikian, kadang empirisitas ini kelihatannya naif tetapi sesungguhnya tidak. Pengalaman Andrea Hirata dapat dijadikan contoh. Pengalaman kekagumannya pada guru di SD menginspirasikan dia untuk menulis tulisan-tulisan pendek yang mengalir begitu saja dan dia tidak pernah membayangkan kemudian menjadi novel yang sekarang bestseller. Pertemuan tidak tertuda dengan teman lagi kemudian mengirimkannya ke Bentang adalah lorong rahasia Illahi (semacam karma positif dari gurunya).
Kedua, karena karya hakikatnya sebuah pesan sosial maka seseorang ketika berkarya hakikatnya berkomunikasi pesan dengan orang lain. Dalam konteks ini tentunya adalah pesan penulis (cerpenis) kepada pembacanya. Penting disadari pesan fiksional memang bukan seperti khotbah jumat, maka menemukan pesan karya membutuhkan apa yang di dalam proses pemaknaan karya sastra dikenal pentingnya bekal (a) kode bahasa seorang pembaca, (b) pemahaman akan kode budaya, dan (c) pemahaman akan kode kesastraan. Seorang pengarang maupun pembaca tentunya terikat oleh tiga kode ini yang dalam “proses komunikasi” karya (teks) terjadi interaksi positif dan imajinatif dalam pemaknaan. Sebuah pemaknaan yang khas, karena dalam teori resepsi sastra hal itu sangat tergantung pula pada pengalaman, pikiran, dan imajinasi pembaca. Tugas seorang pengarang, sebagaimana kata Lan Fang, yang penting pesan komunikasi karya dapat sampai pada pembaca.
Isyarat lain dari proses kreatif Lan Fang yang menarik adalah, ternyata icon atau patron guru juga mewarnai proses persalinan karyanya. Budi Darma dalam perjalanan karya-karyanya, tampaknya merupakan apa yang dalam analog cerita Kung Fu cerita Dragon Master, adalah sebuah pergulatan tidak langsung. “Menimba air” dan “mengangkat kayu” adalah bagian dari proses belajar tidak langsung, peselancaran mengarungi laut kepenulisan yang tanpa prasangka.
Di balik pengakuan ini, tentu menerbitkan akuan lain. Ternyata dalam proses berkarya –sebagaimana sering juga saya ungkapkan—tidak terlepas pergulatan guru murid. Budi Darma adalah guru, dan Lan Fang adalah sang murid yang baik. Dalam sebuah ruang kuliah S3, Budi Darma panjang bercerita tentang penulis ini dengan menceritakannya “bagian proses kreatif” dan kebiasaan kecilnya. Sebuah komunikasi positif antara guru murid yang “tidak sadar”. Artinya, pergulatan bawah sadar yang menggetarkan dalam aku kata bahasa. Baik guru dan terlebih muridnya. Dalam ilmu persilatan kata, jika ada murid yang alir jujur, sang guru adalah angguk dan sanjung yang mendorongnya. Di sinilah, maka pengalaman menarik yang penting dipantik jika akan menulis belajar dari Lan Fang ini adalah falsafah proses kreatif yang mendudukkan (termasuk mendudukkan sang guru).
Sifat keguruan (dalam pemodelan ini) tentunya bisa beragam wujud pengaruhnya: (a) kecenderungan karya dan sifatnya, (b) motivasi kekaryaan, (c) penajaman mental kepenulisan, (d) pembangunan networking kepenulisan, dan (e) getar gerak yang terus menghidupkan. Sebuah pembelajaran yang alami karena dalam konteks komunitas demikian hubungan antara guru murid adalah hubungan tanpa batas dan sekat. Sebuah keuntungan yang seringkali tidak kita temukan dalam ruang-ruang formal dinding sekolah (kuliah).
Terakhir, bagaimana dalam merengkuh kepenulisan tidak terjebak pada oreantasi tertentu (kapling-kapling kategorti tertentu) akan banyak membantu kebebasan seorang penulis. Sebagaimana halnya Lan Fang yang tidak terikat apakah ia karya populer atau serius, pokoknya dia berkarya. Mengalir. Hal ini ternyata justru memberikan motivasi besar dalam menulis. Sebab, sebagaimana diungkapkan pula dalam peluncuran kumpulan cerpennya Kota Tanpa Kelamin yang dimoderatori Arif Santosa (redaktur budaya Jawa Pos) dia tidak percaya akan kategori pop dan serius. Yang penting pesannya tersampaikan kepada pembaca.
Di balik itu semua, hal kelima yang menarik dipelajari dari Lan Fang adalah belajar terus menerus. Bagaimana belajar seorang penulis? Dengan membaca yang tidak pernah henti. Karena membaca adalah induk karya maka seorang penulis larangan terbesarnya adalah berhenti membaca. Belajar artinya memahami. Memahami artinya memaknai. Memaknai artinya menjalani proses dialogis. Proses dialogis akan alirkan kematangan. Sebuah kausalitas proses yang tak pernah berhenti yang ujungnya adalah hikmah belajar. Sebuah makna yang tidak selalu formal tetapi proses pemaknaan akan sisi-sisi kehidupan yang elegan (bersisi hati) hingga berpinak falsafi. Di manakah ruang henti belajar? Sebuah metaforik hadis mengingatkan kita bahwa sejulur umur adalah proses belajar itu sendiri yang bersifat wajib. Masalahnya, masyarakat kita belum menjadi ruhul hadis ini sebagai ideologi pemaknaan tetapi baru sebatas jargon khotbah di langgar dan masjid. Sebuah kemunafikan laten yang barangkali pada pantai tertentu akan berbalik jadi hukuman karena manusia tidak amanah dalam kata.
Akhirnya maukah kita berkarya? Jika kita sepakat dengan sindiran Hardjono WS yang pernah mengatakan di SMA Immersion, bahwa ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain adalah menulis; maka marilah kita menulis agar gelar kemanusiaan ini tidak tercabut secara alamiah. Bukankah pengalaman banyak negara maju berhasil karena faktor keberhasilan mereka dalam karya tulis dan intensitas pembacaan mereka? Jika kita sering menghujat realita sosial maka arifnya sudah waktunya kita untuk berbuat, bukan merintih-rintih sebagaimana yang dipesankan oleh Taufik Ismail.
Imaji konseptual tentang kehidupan sosial, misalnya, sebagaimana banyak diungkapkan Taufik Ismail dalam kumpulan puisinya berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005) menarik untuk direfleksikan dalam kata dan karya. Mudah-mudahan masyarakat kita berubah dan mau berubah keadaan negeri yang berumah pedih ini sehingga kerobohannya terhindar karena warganya adalah pilar dan tembok hidupnya yang kokoh. Marilah kita kokohkan bangsa ini dengan menulis di satu sisi dan membaca pada sisi lainnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
http://sastra-indonesia.com/
Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lan Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.
Acara itu, di samping berbicara bagaimana Budi Darma, juga berbicara masing-masing proses kreatif para nara sumber. Satu yang dapat dipelajari dalam tulisan pendek ini adalah bagaimana proses kreatif Lan Fang sebagai seorang novelis dan cerpenis. Ketika peluncuran bukunya berjudul Kota Tanpa Kelamin (2007) di Toga Mas Surabaya, dia pun berbicara banyak tentang proses kreatifnya. Pada saat itu, saya bersama Uki (wartawan Antara) bertemu dengan penulis macam M. Shoim Anwar, HU Mardiluhung, Wawan Setiawan, Budi Darma, Syirikit Syah, dan beberapa penulis lainnya.
Dari dua pertemuan itu, apa yang dapat dipelajari dari proses kreatifnya? Beberapa hal berikut menarik untuk dipikirkan (a) bahwa proses kepenulisan itu mengikuti alir sungai (mengalir saja), (b) inspirasi dari karya orang lain, (c) pesan yang ingin dikomunikasikan sampai kepada pembaca, (d) tidak terganggu oleh kategori pop atau serius, dan (e) terus menerus belajar. Lima pesan spiritual yang menggerakkan kita manakala akan memasuki ruang dan peluang kepenulisan.
Pertemuan demikian jika kita mau belajar dan merefleksikannya sebagai sebuah “sekolah alam” tentunya terlalu pendek pertemuan itu jika tidak diabadikan dalam kolom pikiran. Untuk inilah, maka mari kita refleksikan sebagai bahan bincangan menariknya. Pertama, memang benar bahwa proses kepenulisan itu mengalir saja. Jika kita ingin menulis maka “pokoknya menulis”, mengalirkan berbagai pengalaman batin, refleksi kehidupan sosial, bagi tuang hasil bacaan. Sebuah perjalanan karya yang tidak perlu dipikirkan apakah itu nanti masuk karya kategori tertentu. Dengan demikian proses kreatif tidak terkebiri, sebaliknya menemukan jati dirinya yang “luar biasa” alami. Dengan demikian, menulis itu memang sebuah alir pikiran dan perasaan yang sangat dipengaruhi oleh alur dan alir sungai kebahasaan yang dimilikinya.
Permalahan yang sering terjadi di kalangan pemula adalah mereka bingung anak menulis apa dan jenis apa. Mengikuti saran Lan Fang ini, maka ada baiknya kita mengalir, dan jika kemengaliran itu mengantarkan kita di tepiannya atau berakhir di laut mana adalah persoalan hayatan setelah berwujud. Dengan demikian, kadang empirisitas ini kelihatannya naif tetapi sesungguhnya tidak. Pengalaman Andrea Hirata dapat dijadikan contoh. Pengalaman kekagumannya pada guru di SD menginspirasikan dia untuk menulis tulisan-tulisan pendek yang mengalir begitu saja dan dia tidak pernah membayangkan kemudian menjadi novel yang sekarang bestseller. Pertemuan tidak tertuda dengan teman lagi kemudian mengirimkannya ke Bentang adalah lorong rahasia Illahi (semacam karma positif dari gurunya).
Kedua, karena karya hakikatnya sebuah pesan sosial maka seseorang ketika berkarya hakikatnya berkomunikasi pesan dengan orang lain. Dalam konteks ini tentunya adalah pesan penulis (cerpenis) kepada pembacanya. Penting disadari pesan fiksional memang bukan seperti khotbah jumat, maka menemukan pesan karya membutuhkan apa yang di dalam proses pemaknaan karya sastra dikenal pentingnya bekal (a) kode bahasa seorang pembaca, (b) pemahaman akan kode budaya, dan (c) pemahaman akan kode kesastraan. Seorang pengarang maupun pembaca tentunya terikat oleh tiga kode ini yang dalam “proses komunikasi” karya (teks) terjadi interaksi positif dan imajinatif dalam pemaknaan. Sebuah pemaknaan yang khas, karena dalam teori resepsi sastra hal itu sangat tergantung pula pada pengalaman, pikiran, dan imajinasi pembaca. Tugas seorang pengarang, sebagaimana kata Lan Fang, yang penting pesan komunikasi karya dapat sampai pada pembaca.
Isyarat lain dari proses kreatif Lan Fang yang menarik adalah, ternyata icon atau patron guru juga mewarnai proses persalinan karyanya. Budi Darma dalam perjalanan karya-karyanya, tampaknya merupakan apa yang dalam analog cerita Kung Fu cerita Dragon Master, adalah sebuah pergulatan tidak langsung. “Menimba air” dan “mengangkat kayu” adalah bagian dari proses belajar tidak langsung, peselancaran mengarungi laut kepenulisan yang tanpa prasangka.
Di balik pengakuan ini, tentu menerbitkan akuan lain. Ternyata dalam proses berkarya –sebagaimana sering juga saya ungkapkan—tidak terlepas pergulatan guru murid. Budi Darma adalah guru, dan Lan Fang adalah sang murid yang baik. Dalam sebuah ruang kuliah S3, Budi Darma panjang bercerita tentang penulis ini dengan menceritakannya “bagian proses kreatif” dan kebiasaan kecilnya. Sebuah komunikasi positif antara guru murid yang “tidak sadar”. Artinya, pergulatan bawah sadar yang menggetarkan dalam aku kata bahasa. Baik guru dan terlebih muridnya. Dalam ilmu persilatan kata, jika ada murid yang alir jujur, sang guru adalah angguk dan sanjung yang mendorongnya. Di sinilah, maka pengalaman menarik yang penting dipantik jika akan menulis belajar dari Lan Fang ini adalah falsafah proses kreatif yang mendudukkan (termasuk mendudukkan sang guru).
Sifat keguruan (dalam pemodelan ini) tentunya bisa beragam wujud pengaruhnya: (a) kecenderungan karya dan sifatnya, (b) motivasi kekaryaan, (c) penajaman mental kepenulisan, (d) pembangunan networking kepenulisan, dan (e) getar gerak yang terus menghidupkan. Sebuah pembelajaran yang alami karena dalam konteks komunitas demikian hubungan antara guru murid adalah hubungan tanpa batas dan sekat. Sebuah keuntungan yang seringkali tidak kita temukan dalam ruang-ruang formal dinding sekolah (kuliah).
Terakhir, bagaimana dalam merengkuh kepenulisan tidak terjebak pada oreantasi tertentu (kapling-kapling kategorti tertentu) akan banyak membantu kebebasan seorang penulis. Sebagaimana halnya Lan Fang yang tidak terikat apakah ia karya populer atau serius, pokoknya dia berkarya. Mengalir. Hal ini ternyata justru memberikan motivasi besar dalam menulis. Sebab, sebagaimana diungkapkan pula dalam peluncuran kumpulan cerpennya Kota Tanpa Kelamin yang dimoderatori Arif Santosa (redaktur budaya Jawa Pos) dia tidak percaya akan kategori pop dan serius. Yang penting pesannya tersampaikan kepada pembaca.
Di balik itu semua, hal kelima yang menarik dipelajari dari Lan Fang adalah belajar terus menerus. Bagaimana belajar seorang penulis? Dengan membaca yang tidak pernah henti. Karena membaca adalah induk karya maka seorang penulis larangan terbesarnya adalah berhenti membaca. Belajar artinya memahami. Memahami artinya memaknai. Memaknai artinya menjalani proses dialogis. Proses dialogis akan alirkan kematangan. Sebuah kausalitas proses yang tak pernah berhenti yang ujungnya adalah hikmah belajar. Sebuah makna yang tidak selalu formal tetapi proses pemaknaan akan sisi-sisi kehidupan yang elegan (bersisi hati) hingga berpinak falsafi. Di manakah ruang henti belajar? Sebuah metaforik hadis mengingatkan kita bahwa sejulur umur adalah proses belajar itu sendiri yang bersifat wajib. Masalahnya, masyarakat kita belum menjadi ruhul hadis ini sebagai ideologi pemaknaan tetapi baru sebatas jargon khotbah di langgar dan masjid. Sebuah kemunafikan laten yang barangkali pada pantai tertentu akan berbalik jadi hukuman karena manusia tidak amanah dalam kata.
Akhirnya maukah kita berkarya? Jika kita sepakat dengan sindiran Hardjono WS yang pernah mengatakan di SMA Immersion, bahwa ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain adalah menulis; maka marilah kita menulis agar gelar kemanusiaan ini tidak tercabut secara alamiah. Bukankah pengalaman banyak negara maju berhasil karena faktor keberhasilan mereka dalam karya tulis dan intensitas pembacaan mereka? Jika kita sering menghujat realita sosial maka arifnya sudah waktunya kita untuk berbuat, bukan merintih-rintih sebagaimana yang dipesankan oleh Taufik Ismail.
Imaji konseptual tentang kehidupan sosial, misalnya, sebagaimana banyak diungkapkan Taufik Ismail dalam kumpulan puisinya berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005) menarik untuk direfleksikan dalam kata dan karya. Mudah-mudahan masyarakat kita berubah dan mau berubah keadaan negeri yang berumah pedih ini sehingga kerobohannya terhindar karena warganya adalah pilar dan tembok hidupnya yang kokoh. Marilah kita kokohkan bangsa ini dengan menulis di satu sisi dan membaca pada sisi lainnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Rabu, 15 Oktober 2008
BERKACA MENULIS DARI NUREL
Sutejo*
Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.
Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas institusi formal karena mengalirkan kebohongan, (b) memilih komunitas untuk mencerdaskan buah kepalanya, (c) pengalaman menulisnya adalah pergulatan sosial budaya lewat meditasi kultural ke berbagai tempat spiritual, (d) semangat lokalitasnya yang tinggi dalam menggerakkan dunia kepenulisan –dan karena itu dia mendirikan penerbit bernama Pustaka Pujangga--, (e) kebiasaan mengarang segala hal dalam pendidikan, dan (f) masa kecilnya sulit membaca –dan karena itu—baru bisa membaca di usia dia belajar di kelas-5 SD.
Unik? Tentu, begitulah jika kejujuran yang menjadi langit pemikiran kita. Persoalannya adalah apa yang Nurel miliki, ternyata, tidak dimiliki oleh kecenderungan remaja kita. Jiwa kepenulisannya muncul, ketika banyak pemikirannya yang tidak terfasilitasi oleh ruang-ruang publik. Di sinilah, maka Nurel mengedarkan pemikirannya berupa buku yang merupakan foto kopi ke berbagai komunitas kemudian dibedah dan dikritisi. Sebuah upaya pencerdasan bangsa, katanya. Ketika, teman-teman lokal lainnya (kemudian mendirikan penderbit Pustaka Ilalang) takut berbagai ancaman –yang mungkin dari pihak—keamaan, dia malah berkerlit, “Wong mencerdaskan anak-anak bangsa kok dilarang.” Di sinilah, tampak dua penting (a) keberanian yang luar biasa, dan (b) jiwa pemberontak khas anak muda. Ketika anak-anak muda lebih banyak memilih demo, lelaki Nurel sebaliknya memilih pena sebagai senjata bertarung pemikirannya.
Dalam ruang diskusi yang tak berdinding itu, Nurel juga tak alergi kritik. Di sinilah, memang akan terjadi proses refleksi dan penajaman. Ternyata, tidak ini saja upaya penajaman itu. Dia bahkan menyusuri tempat-tempat yang dinilai magis, lokalitas, dan spiritualitas. Dalam proses kepenulisannya, dia terinspirasi oleh beberapa tempat religius. Pondok Tegalsari, misalnya, di Ponorogo, adalah salah satu tempat terakhir yang dia kunjungi. Kasan Besari adalah sosok historis yang melahirkan Ronggowarsito sang pujangga besar nusantara. Di tempat-tempat itulah, akunya akan memantik kondisi magis (bawah sadar?) yang menarik. Realita ini barangkali mengingatkan apa yang diungkapkan Rendra, bahwasanya sastrawan (penulis) adalah agen kontemplasi sosial.
Selanjutnya, kenekatan untuk mengembangkan dunia kepenulisan terinspirasi oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Yakni, baru di usia SD kelas-5 dia lancar membaca. Hal membuatnya termotivasi setelah mengenal dunia buku di saat-saat dia tekun berkomunitas di Jogjakarta. Di sinilah, barangkali sebuah ruh religius –yang rata-rata—tidak dimiliki oleh para guru. Jika Nurel seorang sastawan jatuh cinta pada dunia kepenulisan maka realita guru kita --yang tidak mencintai kepenulisan-- akan menjadi paradoks sepanjang masa. Terlebih jika diamati, dalam berbagai penerbitan buku-bukunya dibiayai sendiri. Andai motivasi Nurel ini menjadi motivasi para guru, tentunya, akan menjadi sinyal positif di masa depan.
Bagaimana dengan Anda? Sebuah bilik cahaya yang menarik untuk diselisik mengingat ruang-ruang gelap dunia pendidikan kita nyaris tidak memberikan tempat untuk penyemaian dunia kepenulisan ini. Jika lahir 1000 Nurel saja, maka ibarat virus ia akan menjalar begitu cepat. Andai tiap kota di Jawa Timur lahir Nurel dengan idealismenya ini maka dinamika perbukuan akan menjadi dunia alternatif yang efektif mengubah mentalitas bangsa yang akut dan parah.
Hal lain yang menarik disimak adalah semangat lokalitas. Artinya, mengapa dia tidak memilih Jogja atau Jakarta sebagai persalinan pemikiran dan tulisan-tulisannya? Jawaban ringan sambil bercanda dia bilang, “Kalau di Jakarta aku kan hanya nomor kesekian puluh saja, atau bahkan ratusan. Tetapi kalau di Lamongan, tentu akan menjadi nomor satu karena yang merintis memang baru Nurel.” Sebuah logika berkarya yang menarik untuk diapresiasi. Pengibaran bendera penerbitan dari kabupaten daerah akan menjadi sejarah di masa depan.
Penulis, selanjutnya, meminjam metafor perjalanan Nurel adalah pentingnya jiwa pemberontak. Sebuah jiwa tidak kompromi atas kemapanan. Jiwa demikian dalam kepenulisan ibarat nyala api yang akan menghangatkan. Karena itu, menarik untuk ditransformasikan kepada siapa pun kita. Terlebih, anak-anak muda yang –nyaris menjadi agen perubahan—ini sudah lama terjebak pada politisasi peran sosialnya. Proses permenungan dan berkarya seperti terlupa oleh hirup pikuk politik.
Hal terakhir, dan ini yang menuntut mobilitas tinggi adalah bagaimana dia menyusuri beragam tempat untuk pengembangan pemikirannya: diskusi dan bedah buku. Sebuah upaya memasyarakatkan pemikiran di satu sisi dan pada sisi lain merupakan gerakan bawah tanah untuk melawan hegemoni arus atas Jakarta. Semacam pemberontakan? Jika meminjam kecenderungan berpikir Nurel, maka hal ini bisa jadi adalah upaya penyebaran virus kepenulisan dan pemberontakan berpikir.
Akhirnya, jika kita mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Nurel, maka ada baiknya kita memilih sekian pemikiran dan kiprah dalam membumikan pemikiran dan karya. Keberanian Anda jadi penulis adalah mutiara masa depan. Jika itu dipelihara secara sempurna masa depan telah ada digenggaman Anda.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.
Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas institusi formal karena mengalirkan kebohongan, (b) memilih komunitas untuk mencerdaskan buah kepalanya, (c) pengalaman menulisnya adalah pergulatan sosial budaya lewat meditasi kultural ke berbagai tempat spiritual, (d) semangat lokalitasnya yang tinggi dalam menggerakkan dunia kepenulisan –dan karena itu dia mendirikan penerbit bernama Pustaka Pujangga--, (e) kebiasaan mengarang segala hal dalam pendidikan, dan (f) masa kecilnya sulit membaca –dan karena itu—baru bisa membaca di usia dia belajar di kelas-5 SD.
Unik? Tentu, begitulah jika kejujuran yang menjadi langit pemikiran kita. Persoalannya adalah apa yang Nurel miliki, ternyata, tidak dimiliki oleh kecenderungan remaja kita. Jiwa kepenulisannya muncul, ketika banyak pemikirannya yang tidak terfasilitasi oleh ruang-ruang publik. Di sinilah, maka Nurel mengedarkan pemikirannya berupa buku yang merupakan foto kopi ke berbagai komunitas kemudian dibedah dan dikritisi. Sebuah upaya pencerdasan bangsa, katanya. Ketika, teman-teman lokal lainnya (kemudian mendirikan penderbit Pustaka Ilalang) takut berbagai ancaman –yang mungkin dari pihak—keamaan, dia malah berkerlit, “Wong mencerdaskan anak-anak bangsa kok dilarang.” Di sinilah, tampak dua penting (a) keberanian yang luar biasa, dan (b) jiwa pemberontak khas anak muda. Ketika anak-anak muda lebih banyak memilih demo, lelaki Nurel sebaliknya memilih pena sebagai senjata bertarung pemikirannya.
Dalam ruang diskusi yang tak berdinding itu, Nurel juga tak alergi kritik. Di sinilah, memang akan terjadi proses refleksi dan penajaman. Ternyata, tidak ini saja upaya penajaman itu. Dia bahkan menyusuri tempat-tempat yang dinilai magis, lokalitas, dan spiritualitas. Dalam proses kepenulisannya, dia terinspirasi oleh beberapa tempat religius. Pondok Tegalsari, misalnya, di Ponorogo, adalah salah satu tempat terakhir yang dia kunjungi. Kasan Besari adalah sosok historis yang melahirkan Ronggowarsito sang pujangga besar nusantara. Di tempat-tempat itulah, akunya akan memantik kondisi magis (bawah sadar?) yang menarik. Realita ini barangkali mengingatkan apa yang diungkapkan Rendra, bahwasanya sastrawan (penulis) adalah agen kontemplasi sosial.
Selanjutnya, kenekatan untuk mengembangkan dunia kepenulisan terinspirasi oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Yakni, baru di usia SD kelas-5 dia lancar membaca. Hal membuatnya termotivasi setelah mengenal dunia buku di saat-saat dia tekun berkomunitas di Jogjakarta. Di sinilah, barangkali sebuah ruh religius –yang rata-rata—tidak dimiliki oleh para guru. Jika Nurel seorang sastawan jatuh cinta pada dunia kepenulisan maka realita guru kita --yang tidak mencintai kepenulisan-- akan menjadi paradoks sepanjang masa. Terlebih jika diamati, dalam berbagai penerbitan buku-bukunya dibiayai sendiri. Andai motivasi Nurel ini menjadi motivasi para guru, tentunya, akan menjadi sinyal positif di masa depan.
Bagaimana dengan Anda? Sebuah bilik cahaya yang menarik untuk diselisik mengingat ruang-ruang gelap dunia pendidikan kita nyaris tidak memberikan tempat untuk penyemaian dunia kepenulisan ini. Jika lahir 1000 Nurel saja, maka ibarat virus ia akan menjalar begitu cepat. Andai tiap kota di Jawa Timur lahir Nurel dengan idealismenya ini maka dinamika perbukuan akan menjadi dunia alternatif yang efektif mengubah mentalitas bangsa yang akut dan parah.
Hal lain yang menarik disimak adalah semangat lokalitas. Artinya, mengapa dia tidak memilih Jogja atau Jakarta sebagai persalinan pemikiran dan tulisan-tulisannya? Jawaban ringan sambil bercanda dia bilang, “Kalau di Jakarta aku kan hanya nomor kesekian puluh saja, atau bahkan ratusan. Tetapi kalau di Lamongan, tentu akan menjadi nomor satu karena yang merintis memang baru Nurel.” Sebuah logika berkarya yang menarik untuk diapresiasi. Pengibaran bendera penerbitan dari kabupaten daerah akan menjadi sejarah di masa depan.
Penulis, selanjutnya, meminjam metafor perjalanan Nurel adalah pentingnya jiwa pemberontak. Sebuah jiwa tidak kompromi atas kemapanan. Jiwa demikian dalam kepenulisan ibarat nyala api yang akan menghangatkan. Karena itu, menarik untuk ditransformasikan kepada siapa pun kita. Terlebih, anak-anak muda yang –nyaris menjadi agen perubahan—ini sudah lama terjebak pada politisasi peran sosialnya. Proses permenungan dan berkarya seperti terlupa oleh hirup pikuk politik.
Hal terakhir, dan ini yang menuntut mobilitas tinggi adalah bagaimana dia menyusuri beragam tempat untuk pengembangan pemikirannya: diskusi dan bedah buku. Sebuah upaya memasyarakatkan pemikiran di satu sisi dan pada sisi lain merupakan gerakan bawah tanah untuk melawan hegemoni arus atas Jakarta. Semacam pemberontakan? Jika meminjam kecenderungan berpikir Nurel, maka hal ini bisa jadi adalah upaya penyebaran virus kepenulisan dan pemberontakan berpikir.
Akhirnya, jika kita mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Nurel, maka ada baiknya kita memilih sekian pemikiran dan kiprah dalam membumikan pemikiran dan karya. Keberanian Anda jadi penulis adalah mutiara masa depan. Jika itu dipelihara secara sempurna masa depan telah ada digenggaman Anda.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Langganan:
Postingan (Atom)
A Musthafa
A Rodhi Murtadho
A Wahyu Kristianto
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Zakky Zulhazmi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Wachid BS
Abdullah al-Mustofa
Abdullah Khusairi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimanyu
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Maulani
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adrian Ramdani
Ady Amar
Afrizal Malna
Agnes Rita Sulistyawati
Aguk Irawan Mn
Agus R. Sarjono
Agus Riadi
Agus Subiyakto
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahm Soleh
Ahmad Farid Tuasikal
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Luthfi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadie Thaha
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rasyid
AJ Susmana
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander Aur
Alexander G.B.
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Rif’an
Aliela
Alimuddin
Alit S. Rini
Alunk Estohank
Ami Herman
Amich Alhumami
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminudin TH Siregar
Ammilya Rostika Sari
An. Ismanto
Anaz
Andaru Ratnasari
Andhi Setyo Wibowo
Andhika Prayoga
Andong Buku #3
Andrenaline Katarsis
Andri Cahyadi
Angela
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anton Sudibyo
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Arie MP Tamba
Arif Hidayat
Arif Zulkifli
Arti Bumi Intaran
Asarpin
Asep Sambodja
Asvi Warman Adam
Awalludin GD Mualif
Ayu Utami
Azyumardi Azra
Babe Derwan
Bagja Hidayat
Balada
Bandung Mawardi
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benni Setiawan
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Bernadette Lilia Nova
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Bhakti Hariani
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budi Winarto
Buku Kritik Sastra
Buldanul Khuri
Bustan Basir Maras
Camelia Mafaza
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Choirul Rikzqa
D. Dudu A.R
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Delvi Yandra
Denny JA
Denny Mizhar
Dewi Anggraeni
Dian Basuki
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dian Yanuardy
Diana AV Sasa
Dinar Rahayu
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Warsidi
Edy Firmansyah
EH Kartanegara
Eka Alam Sari
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Emil Amir
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
F. Budi Hardiman
Fadly Rahman
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fani Ayudea
Fariz al-Nizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatkhul Aziz
Felix K. Nesi
Film
Fitri Yani
Franditya Utomo
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Garna Raditya
Gde Artawan
Geger Riyanto
Gendhotwukir
George Soedarsono Esthu
Gerakan Surah Buku (GSB)
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Tri Atmojo
H. Supriono Muslich
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim H.D.
Hamberan Syahbana
Hamidah Abdurrachman
Han Gagas
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Hasan Aspahani
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Helvy Tiana Rosa
Helwatin Najwa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendriyo Widi Ismanto
Hepi Andi Bastoni
Heri Latief
Heri Listianto
Herry Firyansyah
Heru Untung Leksono
Hikmat Darmawan
Hilal Ahmad
Hilyatul Auliya
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husnun N Djuraid
I Nyoman Suaka
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilenk Rembulan
Ilham khoiri
Imam Jazuli
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santosa
Imelda
Imron Arlado
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Margareta
Indra Darmawan
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Insaf Albert Tarigan
Intan Hs
Isbedy Stiawan ZS
Ismail Amin
Ismi Wahid
Ivan Haris
Iwan Gunadi
Jacob Sumardjo
Jafar Fakhrurozi
Jajang R Kawentar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean-Marie Gustave Le Clezio
JJ. Kusni
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Julika Hasanah
Julizar Kasiri
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kadir Ruslan
Kartika Candra
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Ketut Yuliarsa
KH. Ma'ruf Amin
Khaerudin
Khalil Zuhdy Lawna
Kholilul Rohman Ahmad
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Krisandi Dewi
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kuswinarto
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lenah Susianty
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liston P. Siregar
Liza Wahyuninto
M Shoim Anwar
M. Arman A.Z.
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Harya Ramdhoni
M. Kasim
M. Latief
M. Wildan Habibi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria hartiningsih
Maria Serenada Sinurat
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Marsus Banjarbarat
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masriadi
Mawar Kusuma Wulan
Max Arifin
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Mezra E. Pellondou
Micky Hidayat
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Moh Samsul Arifin
Moh. Syafari Firdaus
Mohamad Asrori Mulky
Mohammad Afifuddin
Mohammad Fadlul Rahman
Muh Kholid A.S.
Muh. Muhlisin
Muhajir Arifin
Muhamad Sulhanudin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Azka Fahriza
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhidin M. Dahlan
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naskah Teater
Nezar Patria
Nina Setyawati
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noor H. Dee
Noval Maliki
Nunuy Nurhayati
Nur Haryanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurudin
Octavio Paz
Oliviaks
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pamusuk Eneste
Panda MT Siallagan
Pandu Jakasurya
PDS H.B. Jassin
Philipus Parera
Pradewi Tri Chatami
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rahmat Sutandya Yudhanto
Raihul Fadjri
Rainer Maria Rilke
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridha al Qadri
Ridwan Munawwar
Rikobidik
Riri
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rizky Andriati Pohan
Robert Frost
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Romi Febriyanto Saputro
Rosihan Anwar
RR Miranda
Rudy Policarpus
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S.I. Poeradisastra
S.W. Teofani
Sabam Siagian
Sabrank Suparno
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra
Sastra Gerilyawan
Sastri Sunarti
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra
SelaSastra ke #24
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Subhan SD
Suci Ayu Latifah
Sulaiman Djaya
Sulistiyo Suparno
Sunaryo Broto
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunudyantoro
Suriali Andi Kustomo
Suryadi
Suryansyah
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Susilowati
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Bahri
Syam Sdp
Syarif Hidayatullah
Tajuddin Noor Ganie
Tammalele
Tan Malaka
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Trianton
Tengsoe Tjahjono
Th Pudjo Widijanto
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tiya Hapitiawati
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Joko Susilo
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi
Umar Kayam
Undri
Uniawati
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Vyan Tashwirul Afkar
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyudin
Wannofri Samry
Warung Boenga Ketjil
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Web Warouw
Wijang Wharek
Wiko Antoni
Wina Bojonegoro
Wira Apri Pratiwi
Wiratmo Soekito
Wishnubroto Widarso
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Wing King
WS Rendra
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yosi M. Giri
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Yuyu AN Krisna
Zaki Zubaidi
Zalfeni Wimra
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhaenal Fanani
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Zulhasril Nasir