Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2009

Tentang Keterasingan dan Kegilaan

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Novel pertama pemenang Nobel Sastra 2008, J.M.G Le Clezio

Adam Pollo, seorang laki-laki berusia 20-an menemukan sebuah rumah kosong di sebuah pinggiran kota Prancis. Adam yang pendiam memutuskan untuk tinggal di sana. Berbulan-bulan, ia hanya ditemani kesunyian, pemikirannya, dan sebuah buku catatan tempat ia sering menulis surat yang tak pernah ia kirimkan kepada seorang perempuan bernama Michele.

Kontaknya dengan manusia lain hanya terjadi saat ia pergi berbelanja ke kota untuk mendapatkan kebutuhan sehari-harinya: rokok, roti, dan masih banyak lagi. Lama-kelamaan Adam bahkan merasa tak nyaman dengan pertemuan-pertemuannya yang teramat jarang itu. Ia berusaha menghilangkan dirinya dari kerangka penilaian-penilaian yang berlaku dalam masyarakat, dengan cara membayangkan diri sendiri menjadi seekor binatang, seekor anjing yang hidup di sekitar rumah kosong yang ditempatinya, atau tikus-tikus di rumah kosong itu.

Identitas Adam sendiri adalah sesuatu yang tak jelas. Tak ada sejarah yang jelas mengenai masa lalunya. Ia tak yakin apakah dirinya seorang pasien rumah sakit jiwa, atau seorang tentara yang melarikan diri.

Keanehan Adam akhirnya membuat ia dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Di sana ia harus menghadapi ketakutannya berhubungan dengan manusia saat para dokter berusaha mengungkap masa lalunya melalui serangkaian wawancara.

Buku ini adalah buku pertama karya Jean-Marie Gustave Le Clezio.Dalam pengantar bukunya ia memasukkan buku ini ke dalam kategori roman-jeu atau roman puzzle. Di mana ia tidak bermaksud mengikuti selera pembaca yang menyukai realisme, atau memberikan analisis psikologis bagi tokoh-tokohnya, tapi lebih berusaha membangkitkan perasaan sentimental para pembacanya— hal 5.

Sebagaimana diterangkan Le Clezio, novel ini tak bisa dibaca menggunakan logika standar, sebab The Interrogation dipenuhi ide dan gaya penulisan yang acak. Persis seperti pengkategoriannya, The Interrogation dipenuhi dengan teka-teki.

Saya tak berusaha membuat cerita ini menjadi sesuatu yang realistis (sebab semakin lama saya semakin yakin bahwa yang disebut realitas itu sesungguhnya tak ada). Saya hanya ingin kisah ini dibaca sebagai sebuah fiksi murni, menarik karena bisa menimbulkan kesan mendalam (sesingkat apa pun) dalam benak pembacanya.—hal 6

Jean Marie Gustave Le Clezio dilahirkan di kota Riviera, Nice, Prancis pada 13 April 1940. Ayahnya adalah seorang dokter asal Kepulauan Mauritius yang berpindah-pindah dari Inggris, lalu ke Guyana, dan Nigeria, sebelum menetap di Afrika untuk jangka waktu yang cukup lama.

Le Clezio sendiri dibesarkan di Prancis. Ia mulai menulis puisi sejak usianya baru menginjak delapan tahun. Tahun 1947, Le Clezio pindah ke Nigeria bersama ibu dan saudara laki-lakinya. Selama tiga tahun ia tidak bersekolah, namun ia amat bahagia. Pengalaman masa kecilnya tersebut kemudian ia bukukan dalam sebuah buku semi autobiografis berjudul Onitsha yang diterbitkan pada 1991. Sebuah buku yang berkisah tentang seorang anak laki-laki yang berlayar ke Afrika bersama ibunya, sementara ayahnya mengejar mimpinya sendiri.

Namanya bukan nama yang akrab di telinga banyak pembaca dunia, sehingga keberhasilannya memenangi hadiah Nobel pada 2008 mengundang rasa ingin tahu banyak komunitas sastra di seluruh dunia. Namun sesungguhnya Le Clezio adalah salah satu penulis Prancis yang karya-karyannya paling banyak diterjemahkan.

The Interrogation diterbikan pertama kali pada 1963. Saat itu Le Clezio baru berusia 23 tahun. Dengan buku berjudul asli Le Proces-verbal ini, Le Clezio menyabet hadiah Theophraste Renaudot Prize, sebuah penghargaan sastra yang amat bergengsi di Prancis.

Dalam buku ini Le Clezio memperkenalkan salah satu tema yang kelak menjadi tema sentral dalam banyak karyanya: seorang tokoh yang melarikan diri dari konvensi dalam masyarakat dan masuk ke dalam kondisi pikiran yang ekstrem.

The Interrogation telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Finlandia. Berbeda dengan banyak penulis lain yang tak ragu untuk menikmati ketenaran mereka, Le Clezio malah memutuskan untuk tak terlalu sering tampil di depan layar. Alasannya sederhana, ”saya belum yakin bahwa menulis adalah cara yang baik untuk mengekspresikan diri,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada 1965.

Selain menulis Le Clezio berpindah-pindah dan mengajar sastra di beberapa universitas berbagai negara, di antaranya Buddhist University di Thailand, University of Mexico, Boston University, University of Texas, Austin, serta Universtiy of New Mexico, di Albequrque.

Pengalamannya tinggal di berbagai negara ini dituangkan Le Clezio dalam setting-setting unik pada karya-karyanya kemudian, termasuk, Desert (1980), Le Deluge (The Flood), Terra Amata, dan masih banyak lagi. Dalam karier kepenulisannya, setidaknya ia telah menghasilkan 36 buku, terdiri dari kumpulan cerita pendek, novel, esai, juga beberapa buku cerita anak-anak.

Di awal kariernya ia kerap melakukan berbagai eksperimentasi dalam tema. Sebuah usaha yang cukup berhasil dan mengundang kekaguman tokoh-tokoh sekaliber Michel Foucault dan Gilles Deleuze. Pada pertengahan 70-an gaya ini berubah drastis. Le Clezio mulai mengangkat tema-tema yang lebih populis, semisal kenangan masa kecil dan masa remaja, juga perjalanan ke berbagai belahan dunia.

Sabtu, 06 Desember 2008

Inspirator Maya Angelou

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Di Amerika, Maya Angelou dikenal lewat buku-buku semi-autobiografinya semisal I Know Why the Caged Bird Sings. Lewat perjalanan hidupnya yang inspiratif, ia menjadi contoh positif bagi para perempuan Amerika di sana. Angelou memperlihatkan bagaimana dengan karakter, konsistensi, dan kerja keras, seorang perempuan dapat meraih kesuksesan.

Selain seorang penulis, ada banyak predikat lain yang bisa disandangkan kepada perempuan yang terlahir dengan nama asli Marguerite Johnson ini. Sebelum dikenal lewat buku-bukunya yang kerap mengangkat permasalah yang dihadapi para perempuan kulit hitam, I Know Why the Caged Bird Sings atau Gather Together in My Name, Angelou sudah terlebih dahulu merambah dunia seni sebagai seorang penari. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang aktivis perempuan.

Marguerite Johnson dilahirkan di St Louis, Missouri pada 4 April 1928. Masa kecilnya tak bahagia. Ia tinggal berpindah-pindah dari rumah ibunya di Arkansas dan rumah neneknya di Missouri.

Saat berusia delapan tahun, ia diperkosa oleh pacar ibunya. Pacar ibunya ini kemudian dibunuh oleh paman Angelou. Kejadian ini meninggalkan trauma bagi Angelou, hingga enam tahun kemudian Angelou mejadi bisu. Angelou merasa karena ia mengatakan yang sebenarnya, maka terjadilah pembunuhan itu.

Masa remaja ia habiskan sebagai seorang penari. Angelou yang kurang pandai bergaul, terisolasi dan memfokuskan dirinya pada eksperimentasi tariannya. Pada usia 16 tahun Angelou melahirkan seorang anak laki yang ia namai Guy.

Setelah melahirkan ia mendapatkan kesempatan untuk berkeliling Eropa karena bermain dalam sebuah drama musikal Porgy and Bess. Pada 1960 ia kembali ke New York, saat itulah ia bergabung dengan Harlem Writers Guild dan kemudian menjadi seorang aktivis.

Angelou kemudian sempat tinggal di Ghana selama beberapa waktu. Ia bekerja sebagai seorang editor untuk sebuah majalah African Review. Di sinilah ia mulai memandang kehidupannya, kepenulisannya juga perannya sebagai seorang aktivis dengan lebih serius.

Ia kemudian menulis lima volume buku semi-autobiografi yang kelak melambungkan namanya sebagai seorang penulis. Dimulai dengan I Know Why the Caged Bird Sings pada 1970. Memoar itu memuat masa-masa paling berat dalam kehidupannya. Tanpa disangka buku ini meraih sukses besar.

Buku-buku selanjutnya berjudul All God’s Children Need Traveling Shoes (1986), My Painted House, My Friendly Chicken and Me (1994). Angelou juga menerbitkan beberapa kumpulan puisi. Di antaranya And Still I Rise (1987), Complete Collected Poems of Maya Angelou (1995). Salah satu buku kumpulan puisinya Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die (1971) membuatnya masuk nominasi penghargaan sastra bergengsi Amerika, Pulitzer.

Pada 1993, Angelou membaca On the Pulse of Morning di acara pengangkatan Bill Clinton, sebuah puisi yang ditulis khusus atas permintaan Clinton. Dalam sejarah Amerika, Angelou adalah penyair kedua yang diminta untuk membacakan puisi dalam sebuah upacara pengangkatan presiden. Sebelumnya Robert Frost pernah diminta untuk membacakan puisi saat penobatan Presiden John F Kennedy.

Pada 2006 lalu, Angelou menyatakan kesediaannya menjadi pembawa acara tetap di sebuah radio milik jaringan media Oprah Winfrey yang juga sahabat dekatnya. Saat ini, ia juga mengajar Wake Forest Universitu di North Carolina di mana ia menjabat Professor of American Studies seumur hidup.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Jakarta vs Daerah dalam Sastra

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Mengabaikan warna daerah, sebagian pengarang kehilangan (akar) pegangan.

Dalam karya-karyanya, sastrawan Taufik Ikram Jamil kerap mengangkat masalah-masalah lokal yang terjadi di daerah kelahirannya, Riau.Salah satu yang kerap ia angkat adalah kondisi masyarakat miskin yang hingga hari ini jumlahnya tak bisa dibilang sedikit.

Padahal Riau kaya akan kandungan minyak bumi, juga sumber daya alam lain semisal kelapa sawit yang juga menjadi hasil utama salah satu tanah terkaya di pulau Sumatera itu. Otonomi daerah yang diberlakukan sebenarnya memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk memakmurkan Riau sejalan dengan potensi alam melimpah yang dikandungnya.

Sayangnya, berbagai potensi ditambah kesempatan untuk mengembangkan diri ini tidak membuat kemiskinan menjadi fenomena yang makin jarang di tanah Riau. Data mencatat kemiskinan di wilayah kaya potensi tersebut masih mencapai angka di atas 20 persen. Padahal otonomi daerah yang menerbitkan harapan telah diberlakukan di Riau sejak 2001 lalu.

"Sekilas jika dilihat, memang saya seolah menyuarakan protes terhadap Jakarta. Namun sesungguhnya apa yang saya angkat dalam novel-novel saya adalah semata usaha untuk menyuarakan ketidakadilan yang saya lihat sehari-hari di tanah kelahiran saya," ujar Taufik dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Nasional pada Jumat (24/10) lalu.

Dalam membuat karya-karyanya yang kental bernuasa sosial-budaya Taufik memang mengakrabkan diri dengan masyarakat Riau, terutama masyarakat Melayu yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Taufik sendiri tidak melihat pertentangan antara Jakarta dan Riau seperti yang selama ini dianggap jadi pertentangan pusat dengan daerah. Menurutnya yang sebenarnya terjadi adalah, seniman cenderung melihat Jakarta sebagai sebuah tempat, di mana fasilitas dan kesempatan terbuka amat lebar sehingga memberikan peluang amat luas bagi para sastrawan untuk mengekspolorasi diri dengan lebih maksimal.

Kesamaan tema
Pun dalam hal tema, ia merasakan bahwa tema-tema yang dicetuskan para sastrawan yang tinggal di Jakarta banyak memiliki persamaan juga dengan tema-tema yang dicetuskan oleh para sastrawan yang tinggal di daerah. "Sastra tak bisa lepas dari kondisi masyarakat yang menjadi pendukungnya. Saya merasakan, bahwa apa yang tercetus dalam novel-novel adalah nilai-nilai yang sesungguhnya amat universal."

Proses modernisasi yang terjadi di Jakarta juga terjadi di daerah. "Jakarta memang modern, tetapi bukan berarti hal ini tak terjadi di daerah. Bahkan mungkin lebih dahsyat," ujar sastrawan yang dilahirkan pada 19 September 1963 di Teluk Belitung, Bengkalis, Riau tersebut.

Jika kemudian nilai-nilai Barat yang marak berkembang dalam novel-novel karya para novelis yang disebut-sebut sebagai para novelis Sastra Wangi, yang mengeksplorasi nilai-nilai yang bisa dianggap modern dalam tanda kutip karena menyoal seksualitas dengan cara yang amat gamblang, semisal Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu, Taufik melihatnya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja. " Itu cuma semacam euforia saja, tidak lebih dan tak kurang, tidak menggambarkan kondisi sastra Indonesia dalam waktu yang lebih panjang."

Taufik sendiri lebih melihat pertentangan antara pusat dan daerah itu lebih kepada perjuangan untuk tetap bertahan mengeksplorasi apa yang memang merupakan kekayaan daerah masing-masing. "Semisal para sastrawan Bugis yang tak lagi membahas soal kepulauan," kata Taufik. "Yang ada hanya gaya-gayaan. Dan eksplorasi yang sifatnya pragmatis saja, sesuai dengan sifat manusia Indonesia sebetulnya," ujar Taufik.

Ini sebenarnya menggambarkan kondisi sastra nasional yang saat ini menurutnya sudah kehilangan akarnya. "Sudah kehilangan pegangan dan pijakannya pada tradisi, dan saya melihat kondisi ini nyaris di tiap daerah," ujar sastrawan yang memenangkan banyak penghargaan untuk karyanya Sandiwara Hangtuah.

Di Indonesia jenis sastra lokal yang mengangkat kekayaan masing-masing daerah, yang menjadi tempat itu berasal dimasukkan ke dalam kategori sastra subkultur. Sayangnya dalam ranah sastra Indonesia, jenis sastra yang satu ini kurang berkembang dengan baik.

Ini lebih karena tak di semua daerah sastra subkultur memiliki eksponen yang piawai mengolah kekayaan budaya daerahnya ke dalam bentuk sastra. Selain itu, bentuknya yang khas membuat jenis sastra ini agak sulit bersaing dengan ragam sastra lain yang lebih mengikuti mainstream.

Ronggeng Dukuh Paruk
Setelah di tahun 1950-an Ajip Rosidi tidak begitu berhasil membuat sebuah gerakan untuk mengangkat warna kedaerahan dalam sastra Indonesia, di tahun 1980-an muncul kecenderungan mengangkat warna daerah dalam sastra Indonesia.

Menurut Gunoto Saparie dalam tulisannya Wacana: Nuansa Lokal dalam Sastra Indonesia, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG menjadi pemicu kebangkitan warna lokal ini.

Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kehidupan Srinthil, seorang ronggeng yang tersohor namun harus berakhir tragis akibat peristiwa 65. Latar sebuah desa miskin di pulau Jawa, menjadi bagian terkuat dari novel ini.

Di kalangan para penulis generasi baru, Gus tf Sakai membuat karya-karyanya dengan budaya Minangkabau yang ketat, semisal lewat novelnya Tambo. Zawawi Imron mengangkat warna Madura yang kental dalam puisi-puisinya, sebagaimana Acep Zamzam Noor menjadikan desa Cipasung dan daerah Tasikmalaya sebagai sumber inspirasi yang tak kunjung kering dalam sajak-sajaknya.

Sementara penyair Raudal Tanjung Banua kerap menampilkan pembacaan puisi dengan membawakannya mirip dengan gaya berdendang para pemusik minang. Di era sebelumnya Sutardji Calzoum Bachri berhasill mengolah mantra menjadi teknik pembacaan puisi yang membawa angin segar sekaligus membuat kejutan tersendiri dalam khasanah sastra Indonesia.

Meski kerap mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan permasalah sosial yang terjadi di daerahnya di dalam karya, Taufik Ikram Jamil sendiri menolak jika karya-karyanya kemudian dikategorikan dalam genre sastra yang satu ini.

Minggu, 19 Oktober 2008

Menatap Masa Depan

Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria

Hari Kamis (16/09) lalu publik Jakarta mendapatkan kesempatan menikmati suguhan drama Noh kontemporer. Pertunjukan Noh modern yang diberi tajuk Noh Modern "Hari Kebangkitan" Ketika Kita yang Telah Mati Bangkit" tersebut digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No.1.

Pertunjukan ini mencoba mengelaborasikan drama kontemporer dengan format drama tradisional Jepang, Noh. Lakon yang diambil adalah karya terakhir penulis drama terkenal Hendrik Ibsen, When We Dead Awaken.

Berkisah tentang seorang seniman patung Alnold Rubek yang menjadi terkenal lewat karyanya Hari Kebangkitan. Meski mengalami sukses dalam pengertian konvensional, Rubek kerap merasakan konflik di dalam batin sendiri. Bersama dengan istrinya yang muda dan cantik, Maia, Rubek kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Utara.

Alih-alih berhasil mencapai kedamaian dari konflik batin yang dialaminya, Rubek malah merasakan pertentangan batin yang semakin menjadi-jadi. Ketidakpuasan terhadap eksistensi diri menghantui Rubek. Di saat kritis ini muncullah sosok Irene, yang dulu kerap jadi model bagi karya-karya Rubek. Irene yang sosoknya mirip hantu, mengadili masa lalu Rubek. Ia mengajak Rubek untuk naik ke gunung menyambut fajar nan berkilau.

Maia di sisi lain jemu menghadapi suaminya yang dalam anggapannya amat dingin dan kuno. Jika suaminya adalah perwakilan nilai-nilai tradisional, Maia adalah perwakilan dari individu yang gamang menyambut terbuka perubahan. Ia amat tertarik pada Wilhelm, seorang pemburu yang kasar dan tak pernah pusing soal nilai lama dan baru.

Awalnya Ibsen memberi judul drama ini Hari Kebangkitan, di mana kedua tokoh utama Rubek dan Irene tersenyum menyambut fajar. Namun kemudian ia mengubah judulnya menjadi Kita yang Telah Mati Bangkit, akhir cerita dibuat muram, Rubek dan Irene mati tertimbun salju dalam sebuah badai besar.

Mistuya Mori, sutradara pementasan ini memilih mempertahankan akhir cerita yang terakhir, namun mengembalikan judulnya menjadi Hari Kebangkitan. Maksudnya menekankan titik berat pementasan pada harapan akan kehidupan baru yang penuh dengan kekecewaan, dan proses pengutukan diri sang seniman.

Drama yang sengaja dibuat berakhir tragis ini, ditutup dengan pernyataan kebebasan Maia "Saya bebas, saya bebas!" ujarnya sambil menari-nari.

Akhir ini harus dipilih untuk menggambarkan sebuah kemutlakan dalam perjalanan sejarah, di mana yang tradisional harus mengalah pada yang modern.

Drama ini ditampilkan oleh kelompok Teater Natori. Guna menggamblangkan perpaduan antara modernitas dan bentuk tradisional, teater ini menggabungkan penampilan aktor Noh tradisional (Reijiro Tsumura sebagai Irene, dan Koji Okukawa sebagai Rubek) dan aktor serta aktris teater modern (Masaru Ikeda sebagai Ulfheim, dan Yu Mizuno sebagai Maia)

Sejak dulu, Jepang adalah sebuah negara yang piawai menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa sepenuhnya tenggelam di dalamnya. Hingga sampai saat ini, berbagai bentuk seni tradisi masih digemari dan terus hidup di Jepang. Drama-drama tradisional mulai Noh hingga Kabuki memiliki peminatnya sendiri.

Naskah Ibsen yang secara langsung mengisahkan tabrakan antara nilai-nilai lama dan baru adalah pilihan tepat. Drama terakhir Ibsen ini ditulis pada 1899. Lakonnya adalah gambaran kejiwaan Ibsen pada masa itu.

Rubek yang jengah dengan cara hidupnya sebagai seniman tak lain adalah Ibsen sendiri. Mengeksplorasi seni kontemporer, Ibsen mengabaikan semua gaya realis yang merupakan gaya standar dalam seni tradisional. Sosok Irene dalam drama nya adalah perwujudan seni dalam bentuknya yang lebih tradisional.

Noh sejatinya adalah sebuah drama tradisional yang berkembang di Jepang pada Abad 14. Pertunjukan ini menggabungkan musik, tarian dan akting. Biasanya mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan ajaran Budhisme. Tak jarang Noh menampilkan adegan-adegan terkenal dari karya sastra kanon Jepang pada masa itu, di antaranya Genji Monogatari, atau Kisah-Kisah Heike.

Kekhususan drama yang gaya bertutur pemainnya sedikit mengingatkan pada gaya tutur lakon wayang orang ini, adalah menampilkan emosi tokoh utamanya: kecemburuan, kemarahan, atau penderitaan. Pelakon utama Noh akan menggunakan topeng sebagai unsur utama membangun emosi. Begitu pula dengan unsur-unsur pendukung lain seperti gestur, tarian dan musik, semua adalah elemen penting untuk membangun emosi di atas panggung.

Karena yang dibangun adalah emosi, maka sebuah pertunjukan Noh akan bertempo lambat. Mungkin karena itulah pertunjukan drama Noh Modern Hari Kebangkitan ditampilkan dengan durasi tak terlalu lama; kurang lebih satu jam saja.

Noh dalam bentuk modern sudah cukup lama ada di Jepang, Tercatat sastrawan penerima hadiah Nobel Yukio Mishima pernah membuat beberapa drama dalam bentuk Noh. Di antaranya Kantan (Mudah), Aoi no Ue (Putri Aoi) dan Yoroboshi (Pemuda Buta). Salah satu drama Nohnya, Dojoji, bahkan mengritik secara gamblang modernisasi yang terjadi begitu cepat di Jepang.

Kebebasan di Balik Tembok Harem

Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria

Tembok Harem tak mampu mengungkung pikiran bebas perempuan di dalamnya.

Buku ini memuat kenangan masa kecil salah seorang sosiolog dan feminis paling terkemuka Timur Tengah, Fatima Mernissi. Jika melihat sosoknya yang begitu konsisten mengangkat masalah perempuan dalam Islam, orang mungkin tak akan percaya bahwa Mernissi tumbuh dewasa dalam sebuah harem.

Dalam buku Perempuan-Perempuan Harem ini (sebelumnya telah diterbitkan dengan judul Teras Terlarang), Mernissi menggambarkan sekelumit kehidupan dan pengalamannya hidup dalam sebuah harem.

Harem sendiri adalah sebuah istilah yang tercatat telah digunakan di Barat sejak 1634. Asal-muasalnya adalah harem para bangsawan Turki di zaman kekaisaran Ottoman yang amat melegenda. Di sebuah harem bisa terdapat ratusan bahkan ribuan perempuan, terdiri dari ibu, para istri, saudara perempuan, anak dan kerabat perempuan lain seorang laki-laki.

Harem biasanya dijaga dengan amat ketat. Para perempuan tak bisa keluar dari sebuah harem. Pun tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Suasana yang amat mengungkung inilah yang harus dihadapi setiap hari oleh para perempuan di sebuah harem.

Meskipun sejarah sempat mencatat, bahwa para perempuan dalam harem tak sepenuhnya tak berdaya. Selama 130 tahun selama abad ke-16 dan 17, para perempuan dalam harem kerajaan Ottoman memiliki pengaruh amat besar. Di masa ini perempuan dapat menggunakan hak penuh mereka sebagai keluarga kerajaan kecuali memimpin perang.

Ada empat perempuan harem yang istimewa, di antaranya Hurrem, yang berhasil mendirikan sebuah kediaman di istana di awal tahun 1530-an. Nurbanu, yang digambarkan sebagai perempuan pemberani dan bijaksana. Dan di abad ke-17, Kosem, yang berseteru dengan menantunya, Turhan. Perseteruan ini berujung pada pembunuhan Kosem pada 1651.

Namun masa-masa luar biasa para perempuan harem berakhir di situ. Sementara tradisi harem masih diteruskan hingga masa modern, saat Fatima Mernissi dilahirkan pada 1940.

Berlanjut pada masa kehidupan Mernissi, harem masih merupakan tempat yang mengekang kebebasan perempuan dengan cara sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Mereka tak bisa keluar dari harem dengan bebas.

Gerbang rumah kami adalah sebuah hudud atau sebuah batas, karena kami harus minta izin untuk keluar-masuk. Tiap gerakan harus punya alasan, bahkan cara mencapai gerbang pun ada aturannya sendiri. Dari halaman, kita harus berjalan melalui sebuah koridor sangat panjang hingga bertemu Ahmed si penjaga pintu. Dia biasanya duduk di sofanya yang mirip takhta, selalu dengan baki teh di sampingnya, dan bersikap santai. Karena melewati gerbang itu selalu perlu negosiasi, kita akan diajak duduk-duduk di sampingnya, di sofanya yang antik, atau melihat dia bersantai ria di “fauteuil d’Franca”, di kursi yang keras dan jorok, yang dibelinya di joutya atau pasar loak setempat.—Hal 37

Meski hidup serba terkungkung, Mernissi menggambarkan karakter perempuan-perempuan kuat yang hidup di dalam harem tersebut. Ibunya, neneknya, para bibinya, juga sepupunya, memiliki cara mereka sendiri untuk menghadapi kehidupan yang serba dibatasi.

Ibunya ditampilkan sebagai sosok perempuan berpikiran maju, yang yakin bahwa laki-laki dan perempuan sama. Ibunya percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi sama. Dan bahwa superioritas laki-laki bertentangan dengan ajaran Islam.

Nenek Mernissi, Yasima, merupakan bagian dari harem, namun memilih tinggal di sebuah pertanian di mana ia bisa keluar kapan pun ia inginkan. Yasimalah orang yang mengatakan pada Mernissi bahwa akan tiba masanya di mana laki-laki dan perempuan sederajat, dan seorang laki-laki hanya boleh memiliki satu istri. Sebuah dunia di mana perempuan akan mendapatkan pendidikan sama baiknya dengan laki-laki.

Kesadaran feminisme dalam bentuknya yang paling halus inilah yang kelak memengaruhi perhatian dan jadi fokus tulisan-tulisan Fatima Mernissi.

Fatima Mernissi dilahirkan di Fez, Maroko pada 1940. Ia lahir dalam sebuah keluarga menengah Maroko, di masa di mana seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri adalah sebuah kewajaran.

Setelah menempuh pendidikan dasar di Maroko, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar ilmu politik di Universitas Sorbonne dan Brandeis University, Massachussets, Amerika. Ditempat yang terakhir ini ia mendapatkan gelar doktornya,.

Sekembalinya ke Maroko, Mernissi mengajar di Fakultas Sastra Universitas Mohammed V, dalam mata kuliah metodologi, sosiologi keluarga dan psikososiologi. Latar belakang tumbuh dalam sebuah harem jugalah yang membuat Mernissi menaruh perhatian besar terhadap Islam dan peran perempuan di dalamnya. Tema-tema ini kerap muncul dalam buku-bukunya semisal Islam and Democracy: Fear of the Modern World, Forgotten Queens of Islam, Scheherezade is not a Moroccan, Islam, Gender and Social Change, atau Women’s Rebellion & Islamic Memory.

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir