Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/
Novel pertama pemenang Nobel Sastra 2008, J.M.G Le Clezio
Adam Pollo, seorang laki-laki berusia 20-an menemukan sebuah rumah kosong di sebuah pinggiran kota Prancis. Adam yang pendiam memutuskan untuk tinggal di sana. Berbulan-bulan, ia hanya ditemani kesunyian, pemikirannya, dan sebuah buku catatan tempat ia sering menulis surat yang tak pernah ia kirimkan kepada seorang perempuan bernama Michele.
Kontaknya dengan manusia lain hanya terjadi saat ia pergi berbelanja ke kota untuk mendapatkan kebutuhan sehari-harinya: rokok, roti, dan masih banyak lagi. Lama-kelamaan Adam bahkan merasa tak nyaman dengan pertemuan-pertemuannya yang teramat jarang itu. Ia berusaha menghilangkan dirinya dari kerangka penilaian-penilaian yang berlaku dalam masyarakat, dengan cara membayangkan diri sendiri menjadi seekor binatang, seekor anjing yang hidup di sekitar rumah kosong yang ditempatinya, atau tikus-tikus di rumah kosong itu.
Identitas Adam sendiri adalah sesuatu yang tak jelas. Tak ada sejarah yang jelas mengenai masa lalunya. Ia tak yakin apakah dirinya seorang pasien rumah sakit jiwa, atau seorang tentara yang melarikan diri.
Keanehan Adam akhirnya membuat ia dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Di sana ia harus menghadapi ketakutannya berhubungan dengan manusia saat para dokter berusaha mengungkap masa lalunya melalui serangkaian wawancara.
Buku ini adalah buku pertama karya Jean-Marie Gustave Le Clezio.Dalam pengantar bukunya ia memasukkan buku ini ke dalam kategori roman-jeu atau roman puzzle. Di mana ia tidak bermaksud mengikuti selera pembaca yang menyukai realisme, atau memberikan analisis psikologis bagi tokoh-tokohnya, tapi lebih berusaha membangkitkan perasaan sentimental para pembacanya— hal 5.
Sebagaimana diterangkan Le Clezio, novel ini tak bisa dibaca menggunakan logika standar, sebab The Interrogation dipenuhi ide dan gaya penulisan yang acak. Persis seperti pengkategoriannya, The Interrogation dipenuhi dengan teka-teki.
Saya tak berusaha membuat cerita ini menjadi sesuatu yang realistis (sebab semakin lama saya semakin yakin bahwa yang disebut realitas itu sesungguhnya tak ada). Saya hanya ingin kisah ini dibaca sebagai sebuah fiksi murni, menarik karena bisa menimbulkan kesan mendalam (sesingkat apa pun) dalam benak pembacanya.—hal 6
Jean Marie Gustave Le Clezio dilahirkan di kota Riviera, Nice, Prancis pada 13 April 1940. Ayahnya adalah seorang dokter asal Kepulauan Mauritius yang berpindah-pindah dari Inggris, lalu ke Guyana, dan Nigeria, sebelum menetap di Afrika untuk jangka waktu yang cukup lama.
Le Clezio sendiri dibesarkan di Prancis. Ia mulai menulis puisi sejak usianya baru menginjak delapan tahun. Tahun 1947, Le Clezio pindah ke Nigeria bersama ibu dan saudara laki-lakinya. Selama tiga tahun ia tidak bersekolah, namun ia amat bahagia. Pengalaman masa kecilnya tersebut kemudian ia bukukan dalam sebuah buku semi autobiografis berjudul Onitsha yang diterbitkan pada 1991. Sebuah buku yang berkisah tentang seorang anak laki-laki yang berlayar ke Afrika bersama ibunya, sementara ayahnya mengejar mimpinya sendiri.
Namanya bukan nama yang akrab di telinga banyak pembaca dunia, sehingga keberhasilannya memenangi hadiah Nobel pada 2008 mengundang rasa ingin tahu banyak komunitas sastra di seluruh dunia. Namun sesungguhnya Le Clezio adalah salah satu penulis Prancis yang karya-karyannya paling banyak diterjemahkan.
The Interrogation diterbikan pertama kali pada 1963. Saat itu Le Clezio baru berusia 23 tahun. Dengan buku berjudul asli Le Proces-verbal ini, Le Clezio menyabet hadiah Theophraste Renaudot Prize, sebuah penghargaan sastra yang amat bergengsi di Prancis.
Dalam buku ini Le Clezio memperkenalkan salah satu tema yang kelak menjadi tema sentral dalam banyak karyanya: seorang tokoh yang melarikan diri dari konvensi dalam masyarakat dan masuk ke dalam kondisi pikiran yang ekstrem.
The Interrogation telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Finlandia. Berbeda dengan banyak penulis lain yang tak ragu untuk menikmati ketenaran mereka, Le Clezio malah memutuskan untuk tak terlalu sering tampil di depan layar. Alasannya sederhana, ”saya belum yakin bahwa menulis adalah cara yang baik untuk mengekspresikan diri,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada 1965.
Selain menulis Le Clezio berpindah-pindah dan mengajar sastra di beberapa universitas berbagai negara, di antaranya Buddhist University di Thailand, University of Mexico, Boston University, University of Texas, Austin, serta Universtiy of New Mexico, di Albequrque.
Pengalamannya tinggal di berbagai negara ini dituangkan Le Clezio dalam setting-setting unik pada karya-karyanya kemudian, termasuk, Desert (1980), Le Deluge (The Flood), Terra Amata, dan masih banyak lagi. Dalam karier kepenulisannya, setidaknya ia telah menghasilkan 36 buku, terdiri dari kumpulan cerita pendek, novel, esai, juga beberapa buku cerita anak-anak.
Di awal kariernya ia kerap melakukan berbagai eksperimentasi dalam tema. Sebuah usaha yang cukup berhasil dan mengundang kekaguman tokoh-tokoh sekaliber Michel Foucault dan Gilles Deleuze. Pada pertengahan 70-an gaya ini berubah drastis. Le Clezio mulai mengangkat tema-tema yang lebih populis, semisal kenangan masa kecil dan masa remaja, juga perjalanan ke berbagai belahan dunia.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Januari 2009
Sabtu, 06 Desember 2008
Inspirator Maya Angelou
Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/
Di Amerika, Maya Angelou dikenal lewat buku-buku semi-autobiografinya semisal I Know Why the Caged Bird Sings. Lewat perjalanan hidupnya yang inspiratif, ia menjadi contoh positif bagi para perempuan Amerika di sana. Angelou memperlihatkan bagaimana dengan karakter, konsistensi, dan kerja keras, seorang perempuan dapat meraih kesuksesan.
Selain seorang penulis, ada banyak predikat lain yang bisa disandangkan kepada perempuan yang terlahir dengan nama asli Marguerite Johnson ini. Sebelum dikenal lewat buku-bukunya yang kerap mengangkat permasalah yang dihadapi para perempuan kulit hitam, I Know Why the Caged Bird Sings atau Gather Together in My Name, Angelou sudah terlebih dahulu merambah dunia seni sebagai seorang penari. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang aktivis perempuan.
Marguerite Johnson dilahirkan di St Louis, Missouri pada 4 April 1928. Masa kecilnya tak bahagia. Ia tinggal berpindah-pindah dari rumah ibunya di Arkansas dan rumah neneknya di Missouri.
Saat berusia delapan tahun, ia diperkosa oleh pacar ibunya. Pacar ibunya ini kemudian dibunuh oleh paman Angelou. Kejadian ini meninggalkan trauma bagi Angelou, hingga enam tahun kemudian Angelou mejadi bisu. Angelou merasa karena ia mengatakan yang sebenarnya, maka terjadilah pembunuhan itu.
Masa remaja ia habiskan sebagai seorang penari. Angelou yang kurang pandai bergaul, terisolasi dan memfokuskan dirinya pada eksperimentasi tariannya. Pada usia 16 tahun Angelou melahirkan seorang anak laki yang ia namai Guy.
Setelah melahirkan ia mendapatkan kesempatan untuk berkeliling Eropa karena bermain dalam sebuah drama musikal Porgy and Bess. Pada 1960 ia kembali ke New York, saat itulah ia bergabung dengan Harlem Writers Guild dan kemudian menjadi seorang aktivis.
Angelou kemudian sempat tinggal di Ghana selama beberapa waktu. Ia bekerja sebagai seorang editor untuk sebuah majalah African Review. Di sinilah ia mulai memandang kehidupannya, kepenulisannya juga perannya sebagai seorang aktivis dengan lebih serius.
Ia kemudian menulis lima volume buku semi-autobiografi yang kelak melambungkan namanya sebagai seorang penulis. Dimulai dengan I Know Why the Caged Bird Sings pada 1970. Memoar itu memuat masa-masa paling berat dalam kehidupannya. Tanpa disangka buku ini meraih sukses besar.
Buku-buku selanjutnya berjudul All God’s Children Need Traveling Shoes (1986), My Painted House, My Friendly Chicken and Me (1994). Angelou juga menerbitkan beberapa kumpulan puisi. Di antaranya And Still I Rise (1987), Complete Collected Poems of Maya Angelou (1995). Salah satu buku kumpulan puisinya Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die (1971) membuatnya masuk nominasi penghargaan sastra bergengsi Amerika, Pulitzer.
Pada 1993, Angelou membaca On the Pulse of Morning di acara pengangkatan Bill Clinton, sebuah puisi yang ditulis khusus atas permintaan Clinton. Dalam sejarah Amerika, Angelou adalah penyair kedua yang diminta untuk membacakan puisi dalam sebuah upacara pengangkatan presiden. Sebelumnya Robert Frost pernah diminta untuk membacakan puisi saat penobatan Presiden John F Kennedy.
Pada 2006 lalu, Angelou menyatakan kesediaannya menjadi pembawa acara tetap di sebuah radio milik jaringan media Oprah Winfrey yang juga sahabat dekatnya. Saat ini, ia juga mengajar Wake Forest Universitu di North Carolina di mana ia menjabat Professor of American Studies seumur hidup.
http://jurnalnasional.com/
Di Amerika, Maya Angelou dikenal lewat buku-buku semi-autobiografinya semisal I Know Why the Caged Bird Sings. Lewat perjalanan hidupnya yang inspiratif, ia menjadi contoh positif bagi para perempuan Amerika di sana. Angelou memperlihatkan bagaimana dengan karakter, konsistensi, dan kerja keras, seorang perempuan dapat meraih kesuksesan.
Selain seorang penulis, ada banyak predikat lain yang bisa disandangkan kepada perempuan yang terlahir dengan nama asli Marguerite Johnson ini. Sebelum dikenal lewat buku-bukunya yang kerap mengangkat permasalah yang dihadapi para perempuan kulit hitam, I Know Why the Caged Bird Sings atau Gather Together in My Name, Angelou sudah terlebih dahulu merambah dunia seni sebagai seorang penari. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang aktivis perempuan.
Marguerite Johnson dilahirkan di St Louis, Missouri pada 4 April 1928. Masa kecilnya tak bahagia. Ia tinggal berpindah-pindah dari rumah ibunya di Arkansas dan rumah neneknya di Missouri.
Saat berusia delapan tahun, ia diperkosa oleh pacar ibunya. Pacar ibunya ini kemudian dibunuh oleh paman Angelou. Kejadian ini meninggalkan trauma bagi Angelou, hingga enam tahun kemudian Angelou mejadi bisu. Angelou merasa karena ia mengatakan yang sebenarnya, maka terjadilah pembunuhan itu.
Masa remaja ia habiskan sebagai seorang penari. Angelou yang kurang pandai bergaul, terisolasi dan memfokuskan dirinya pada eksperimentasi tariannya. Pada usia 16 tahun Angelou melahirkan seorang anak laki yang ia namai Guy.
Setelah melahirkan ia mendapatkan kesempatan untuk berkeliling Eropa karena bermain dalam sebuah drama musikal Porgy and Bess. Pada 1960 ia kembali ke New York, saat itulah ia bergabung dengan Harlem Writers Guild dan kemudian menjadi seorang aktivis.
Angelou kemudian sempat tinggal di Ghana selama beberapa waktu. Ia bekerja sebagai seorang editor untuk sebuah majalah African Review. Di sinilah ia mulai memandang kehidupannya, kepenulisannya juga perannya sebagai seorang aktivis dengan lebih serius.
Ia kemudian menulis lima volume buku semi-autobiografi yang kelak melambungkan namanya sebagai seorang penulis. Dimulai dengan I Know Why the Caged Bird Sings pada 1970. Memoar itu memuat masa-masa paling berat dalam kehidupannya. Tanpa disangka buku ini meraih sukses besar.
Buku-buku selanjutnya berjudul All God’s Children Need Traveling Shoes (1986), My Painted House, My Friendly Chicken and Me (1994). Angelou juga menerbitkan beberapa kumpulan puisi. Di antaranya And Still I Rise (1987), Complete Collected Poems of Maya Angelou (1995). Salah satu buku kumpulan puisinya Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die (1971) membuatnya masuk nominasi penghargaan sastra bergengsi Amerika, Pulitzer.
Pada 1993, Angelou membaca On the Pulse of Morning di acara pengangkatan Bill Clinton, sebuah puisi yang ditulis khusus atas permintaan Clinton. Dalam sejarah Amerika, Angelou adalah penyair kedua yang diminta untuk membacakan puisi dalam sebuah upacara pengangkatan presiden. Sebelumnya Robert Frost pernah diminta untuk membacakan puisi saat penobatan Presiden John F Kennedy.
Pada 2006 lalu, Angelou menyatakan kesediaannya menjadi pembawa acara tetap di sebuah radio milik jaringan media Oprah Winfrey yang juga sahabat dekatnya. Saat ini, ia juga mengajar Wake Forest Universitu di North Carolina di mana ia menjabat Professor of American Studies seumur hidup.
Sabtu, 25 Oktober 2008
Jakarta vs Daerah dalam Sastra
Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/
Mengabaikan warna daerah, sebagian pengarang kehilangan (akar) pegangan.
Dalam karya-karyanya, sastrawan Taufik Ikram Jamil kerap mengangkat masalah-masalah lokal yang terjadi di daerah kelahirannya, Riau.Salah satu yang kerap ia angkat adalah kondisi masyarakat miskin yang hingga hari ini jumlahnya tak bisa dibilang sedikit.
Padahal Riau kaya akan kandungan minyak bumi, juga sumber daya alam lain semisal kelapa sawit yang juga menjadi hasil utama salah satu tanah terkaya di pulau Sumatera itu. Otonomi daerah yang diberlakukan sebenarnya memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk memakmurkan Riau sejalan dengan potensi alam melimpah yang dikandungnya.
Sayangnya, berbagai potensi ditambah kesempatan untuk mengembangkan diri ini tidak membuat kemiskinan menjadi fenomena yang makin jarang di tanah Riau. Data mencatat kemiskinan di wilayah kaya potensi tersebut masih mencapai angka di atas 20 persen. Padahal otonomi daerah yang menerbitkan harapan telah diberlakukan di Riau sejak 2001 lalu.
"Sekilas jika dilihat, memang saya seolah menyuarakan protes terhadap Jakarta. Namun sesungguhnya apa yang saya angkat dalam novel-novel saya adalah semata usaha untuk menyuarakan ketidakadilan yang saya lihat sehari-hari di tanah kelahiran saya," ujar Taufik dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Nasional pada Jumat (24/10) lalu.
Dalam membuat karya-karyanya yang kental bernuasa sosial-budaya Taufik memang mengakrabkan diri dengan masyarakat Riau, terutama masyarakat Melayu yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Taufik sendiri tidak melihat pertentangan antara Jakarta dan Riau seperti yang selama ini dianggap jadi pertentangan pusat dengan daerah. Menurutnya yang sebenarnya terjadi adalah, seniman cenderung melihat Jakarta sebagai sebuah tempat, di mana fasilitas dan kesempatan terbuka amat lebar sehingga memberikan peluang amat luas bagi para sastrawan untuk mengekspolorasi diri dengan lebih maksimal.
Kesamaan tema
Pun dalam hal tema, ia merasakan bahwa tema-tema yang dicetuskan para sastrawan yang tinggal di Jakarta banyak memiliki persamaan juga dengan tema-tema yang dicetuskan oleh para sastrawan yang tinggal di daerah. "Sastra tak bisa lepas dari kondisi masyarakat yang menjadi pendukungnya. Saya merasakan, bahwa apa yang tercetus dalam novel-novel adalah nilai-nilai yang sesungguhnya amat universal."
Proses modernisasi yang terjadi di Jakarta juga terjadi di daerah. "Jakarta memang modern, tetapi bukan berarti hal ini tak terjadi di daerah. Bahkan mungkin lebih dahsyat," ujar sastrawan yang dilahirkan pada 19 September 1963 di Teluk Belitung, Bengkalis, Riau tersebut.
Jika kemudian nilai-nilai Barat yang marak berkembang dalam novel-novel karya para novelis yang disebut-sebut sebagai para novelis Sastra Wangi, yang mengeksplorasi nilai-nilai yang bisa dianggap modern dalam tanda kutip karena menyoal seksualitas dengan cara yang amat gamblang, semisal Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu, Taufik melihatnya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja. " Itu cuma semacam euforia saja, tidak lebih dan tak kurang, tidak menggambarkan kondisi sastra Indonesia dalam waktu yang lebih panjang."
Taufik sendiri lebih melihat pertentangan antara pusat dan daerah itu lebih kepada perjuangan untuk tetap bertahan mengeksplorasi apa yang memang merupakan kekayaan daerah masing-masing. "Semisal para sastrawan Bugis yang tak lagi membahas soal kepulauan," kata Taufik. "Yang ada hanya gaya-gayaan. Dan eksplorasi yang sifatnya pragmatis saja, sesuai dengan sifat manusia Indonesia sebetulnya," ujar Taufik.
Ini sebenarnya menggambarkan kondisi sastra nasional yang saat ini menurutnya sudah kehilangan akarnya. "Sudah kehilangan pegangan dan pijakannya pada tradisi, dan saya melihat kondisi ini nyaris di tiap daerah," ujar sastrawan yang memenangkan banyak penghargaan untuk karyanya Sandiwara Hangtuah.
Di Indonesia jenis sastra lokal yang mengangkat kekayaan masing-masing daerah, yang menjadi tempat itu berasal dimasukkan ke dalam kategori sastra subkultur. Sayangnya dalam ranah sastra Indonesia, jenis sastra yang satu ini kurang berkembang dengan baik.
Ini lebih karena tak di semua daerah sastra subkultur memiliki eksponen yang piawai mengolah kekayaan budaya daerahnya ke dalam bentuk sastra. Selain itu, bentuknya yang khas membuat jenis sastra ini agak sulit bersaing dengan ragam sastra lain yang lebih mengikuti mainstream.
Ronggeng Dukuh Paruk
Setelah di tahun 1950-an Ajip Rosidi tidak begitu berhasil membuat sebuah gerakan untuk mengangkat warna kedaerahan dalam sastra Indonesia, di tahun 1980-an muncul kecenderungan mengangkat warna daerah dalam sastra Indonesia.
Menurut Gunoto Saparie dalam tulisannya Wacana: Nuansa Lokal dalam Sastra Indonesia, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG menjadi pemicu kebangkitan warna lokal ini.
Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kehidupan Srinthil, seorang ronggeng yang tersohor namun harus berakhir tragis akibat peristiwa 65. Latar sebuah desa miskin di pulau Jawa, menjadi bagian terkuat dari novel ini.
Di kalangan para penulis generasi baru, Gus tf Sakai membuat karya-karyanya dengan budaya Minangkabau yang ketat, semisal lewat novelnya Tambo. Zawawi Imron mengangkat warna Madura yang kental dalam puisi-puisinya, sebagaimana Acep Zamzam Noor menjadikan desa Cipasung dan daerah Tasikmalaya sebagai sumber inspirasi yang tak kunjung kering dalam sajak-sajaknya.
Sementara penyair Raudal Tanjung Banua kerap menampilkan pembacaan puisi dengan membawakannya mirip dengan gaya berdendang para pemusik minang. Di era sebelumnya Sutardji Calzoum Bachri berhasill mengolah mantra menjadi teknik pembacaan puisi yang membawa angin segar sekaligus membuat kejutan tersendiri dalam khasanah sastra Indonesia.
Meski kerap mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan permasalah sosial yang terjadi di daerahnya di dalam karya, Taufik Ikram Jamil sendiri menolak jika karya-karyanya kemudian dikategorikan dalam genre sastra yang satu ini.
http://jurnalnasional.com/
Mengabaikan warna daerah, sebagian pengarang kehilangan (akar) pegangan.
Dalam karya-karyanya, sastrawan Taufik Ikram Jamil kerap mengangkat masalah-masalah lokal yang terjadi di daerah kelahirannya, Riau.Salah satu yang kerap ia angkat adalah kondisi masyarakat miskin yang hingga hari ini jumlahnya tak bisa dibilang sedikit.
Padahal Riau kaya akan kandungan minyak bumi, juga sumber daya alam lain semisal kelapa sawit yang juga menjadi hasil utama salah satu tanah terkaya di pulau Sumatera itu. Otonomi daerah yang diberlakukan sebenarnya memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk memakmurkan Riau sejalan dengan potensi alam melimpah yang dikandungnya.
Sayangnya, berbagai potensi ditambah kesempatan untuk mengembangkan diri ini tidak membuat kemiskinan menjadi fenomena yang makin jarang di tanah Riau. Data mencatat kemiskinan di wilayah kaya potensi tersebut masih mencapai angka di atas 20 persen. Padahal otonomi daerah yang menerbitkan harapan telah diberlakukan di Riau sejak 2001 lalu.
"Sekilas jika dilihat, memang saya seolah menyuarakan protes terhadap Jakarta. Namun sesungguhnya apa yang saya angkat dalam novel-novel saya adalah semata usaha untuk menyuarakan ketidakadilan yang saya lihat sehari-hari di tanah kelahiran saya," ujar Taufik dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Nasional pada Jumat (24/10) lalu.
Dalam membuat karya-karyanya yang kental bernuasa sosial-budaya Taufik memang mengakrabkan diri dengan masyarakat Riau, terutama masyarakat Melayu yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Taufik sendiri tidak melihat pertentangan antara Jakarta dan Riau seperti yang selama ini dianggap jadi pertentangan pusat dengan daerah. Menurutnya yang sebenarnya terjadi adalah, seniman cenderung melihat Jakarta sebagai sebuah tempat, di mana fasilitas dan kesempatan terbuka amat lebar sehingga memberikan peluang amat luas bagi para sastrawan untuk mengekspolorasi diri dengan lebih maksimal.
Kesamaan tema
Pun dalam hal tema, ia merasakan bahwa tema-tema yang dicetuskan para sastrawan yang tinggal di Jakarta banyak memiliki persamaan juga dengan tema-tema yang dicetuskan oleh para sastrawan yang tinggal di daerah. "Sastra tak bisa lepas dari kondisi masyarakat yang menjadi pendukungnya. Saya merasakan, bahwa apa yang tercetus dalam novel-novel adalah nilai-nilai yang sesungguhnya amat universal."
Proses modernisasi yang terjadi di Jakarta juga terjadi di daerah. "Jakarta memang modern, tetapi bukan berarti hal ini tak terjadi di daerah. Bahkan mungkin lebih dahsyat," ujar sastrawan yang dilahirkan pada 19 September 1963 di Teluk Belitung, Bengkalis, Riau tersebut.
Jika kemudian nilai-nilai Barat yang marak berkembang dalam novel-novel karya para novelis yang disebut-sebut sebagai para novelis Sastra Wangi, yang mengeksplorasi nilai-nilai yang bisa dianggap modern dalam tanda kutip karena menyoal seksualitas dengan cara yang amat gamblang, semisal Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu, Taufik melihatnya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja. " Itu cuma semacam euforia saja, tidak lebih dan tak kurang, tidak menggambarkan kondisi sastra Indonesia dalam waktu yang lebih panjang."
Taufik sendiri lebih melihat pertentangan antara pusat dan daerah itu lebih kepada perjuangan untuk tetap bertahan mengeksplorasi apa yang memang merupakan kekayaan daerah masing-masing. "Semisal para sastrawan Bugis yang tak lagi membahas soal kepulauan," kata Taufik. "Yang ada hanya gaya-gayaan. Dan eksplorasi yang sifatnya pragmatis saja, sesuai dengan sifat manusia Indonesia sebetulnya," ujar Taufik.
Ini sebenarnya menggambarkan kondisi sastra nasional yang saat ini menurutnya sudah kehilangan akarnya. "Sudah kehilangan pegangan dan pijakannya pada tradisi, dan saya melihat kondisi ini nyaris di tiap daerah," ujar sastrawan yang memenangkan banyak penghargaan untuk karyanya Sandiwara Hangtuah.
Di Indonesia jenis sastra lokal yang mengangkat kekayaan masing-masing daerah, yang menjadi tempat itu berasal dimasukkan ke dalam kategori sastra subkultur. Sayangnya dalam ranah sastra Indonesia, jenis sastra yang satu ini kurang berkembang dengan baik.
Ini lebih karena tak di semua daerah sastra subkultur memiliki eksponen yang piawai mengolah kekayaan budaya daerahnya ke dalam bentuk sastra. Selain itu, bentuknya yang khas membuat jenis sastra ini agak sulit bersaing dengan ragam sastra lain yang lebih mengikuti mainstream.
Ronggeng Dukuh Paruk
Setelah di tahun 1950-an Ajip Rosidi tidak begitu berhasil membuat sebuah gerakan untuk mengangkat warna kedaerahan dalam sastra Indonesia, di tahun 1980-an muncul kecenderungan mengangkat warna daerah dalam sastra Indonesia.
Menurut Gunoto Saparie dalam tulisannya Wacana: Nuansa Lokal dalam Sastra Indonesia, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG menjadi pemicu kebangkitan warna lokal ini.
Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kehidupan Srinthil, seorang ronggeng yang tersohor namun harus berakhir tragis akibat peristiwa 65. Latar sebuah desa miskin di pulau Jawa, menjadi bagian terkuat dari novel ini.
Di kalangan para penulis generasi baru, Gus tf Sakai membuat karya-karyanya dengan budaya Minangkabau yang ketat, semisal lewat novelnya Tambo. Zawawi Imron mengangkat warna Madura yang kental dalam puisi-puisinya, sebagaimana Acep Zamzam Noor menjadikan desa Cipasung dan daerah Tasikmalaya sebagai sumber inspirasi yang tak kunjung kering dalam sajak-sajaknya.
Sementara penyair Raudal Tanjung Banua kerap menampilkan pembacaan puisi dengan membawakannya mirip dengan gaya berdendang para pemusik minang. Di era sebelumnya Sutardji Calzoum Bachri berhasill mengolah mantra menjadi teknik pembacaan puisi yang membawa angin segar sekaligus membuat kejutan tersendiri dalam khasanah sastra Indonesia.
Meski kerap mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan permasalah sosial yang terjadi di daerahnya di dalam karya, Taufik Ikram Jamil sendiri menolak jika karya-karyanya kemudian dikategorikan dalam genre sastra yang satu ini.
Minggu, 19 Oktober 2008
Menatap Masa Depan
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria
Hari Kamis (16/09) lalu publik Jakarta mendapatkan kesempatan menikmati suguhan drama Noh kontemporer. Pertunjukan Noh modern yang diberi tajuk Noh Modern "Hari Kebangkitan" Ketika Kita yang Telah Mati Bangkit" tersebut digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No.1.
Pertunjukan ini mencoba mengelaborasikan drama kontemporer dengan format drama tradisional Jepang, Noh. Lakon yang diambil adalah karya terakhir penulis drama terkenal Hendrik Ibsen, When We Dead Awaken.
Berkisah tentang seorang seniman patung Alnold Rubek yang menjadi terkenal lewat karyanya Hari Kebangkitan. Meski mengalami sukses dalam pengertian konvensional, Rubek kerap merasakan konflik di dalam batin sendiri. Bersama dengan istrinya yang muda dan cantik, Maia, Rubek kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Utara.
Alih-alih berhasil mencapai kedamaian dari konflik batin yang dialaminya, Rubek malah merasakan pertentangan batin yang semakin menjadi-jadi. Ketidakpuasan terhadap eksistensi diri menghantui Rubek. Di saat kritis ini muncullah sosok Irene, yang dulu kerap jadi model bagi karya-karya Rubek. Irene yang sosoknya mirip hantu, mengadili masa lalu Rubek. Ia mengajak Rubek untuk naik ke gunung menyambut fajar nan berkilau.
Maia di sisi lain jemu menghadapi suaminya yang dalam anggapannya amat dingin dan kuno. Jika suaminya adalah perwakilan nilai-nilai tradisional, Maia adalah perwakilan dari individu yang gamang menyambut terbuka perubahan. Ia amat tertarik pada Wilhelm, seorang pemburu yang kasar dan tak pernah pusing soal nilai lama dan baru.
Awalnya Ibsen memberi judul drama ini Hari Kebangkitan, di mana kedua tokoh utama Rubek dan Irene tersenyum menyambut fajar. Namun kemudian ia mengubah judulnya menjadi Kita yang Telah Mati Bangkit, akhir cerita dibuat muram, Rubek dan Irene mati tertimbun salju dalam sebuah badai besar.
Mistuya Mori, sutradara pementasan ini memilih mempertahankan akhir cerita yang terakhir, namun mengembalikan judulnya menjadi Hari Kebangkitan. Maksudnya menekankan titik berat pementasan pada harapan akan kehidupan baru yang penuh dengan kekecewaan, dan proses pengutukan diri sang seniman.
Drama yang sengaja dibuat berakhir tragis ini, ditutup dengan pernyataan kebebasan Maia "Saya bebas, saya bebas!" ujarnya sambil menari-nari.
Akhir ini harus dipilih untuk menggambarkan sebuah kemutlakan dalam perjalanan sejarah, di mana yang tradisional harus mengalah pada yang modern.
Drama ini ditampilkan oleh kelompok Teater Natori. Guna menggamblangkan perpaduan antara modernitas dan bentuk tradisional, teater ini menggabungkan penampilan aktor Noh tradisional (Reijiro Tsumura sebagai Irene, dan Koji Okukawa sebagai Rubek) dan aktor serta aktris teater modern (Masaru Ikeda sebagai Ulfheim, dan Yu Mizuno sebagai Maia)
Sejak dulu, Jepang adalah sebuah negara yang piawai menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa sepenuhnya tenggelam di dalamnya. Hingga sampai saat ini, berbagai bentuk seni tradisi masih digemari dan terus hidup di Jepang. Drama-drama tradisional mulai Noh hingga Kabuki memiliki peminatnya sendiri.
Naskah Ibsen yang secara langsung mengisahkan tabrakan antara nilai-nilai lama dan baru adalah pilihan tepat. Drama terakhir Ibsen ini ditulis pada 1899. Lakonnya adalah gambaran kejiwaan Ibsen pada masa itu.
Rubek yang jengah dengan cara hidupnya sebagai seniman tak lain adalah Ibsen sendiri. Mengeksplorasi seni kontemporer, Ibsen mengabaikan semua gaya realis yang merupakan gaya standar dalam seni tradisional. Sosok Irene dalam drama nya adalah perwujudan seni dalam bentuknya yang lebih tradisional.
Noh sejatinya adalah sebuah drama tradisional yang berkembang di Jepang pada Abad 14. Pertunjukan ini menggabungkan musik, tarian dan akting. Biasanya mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan ajaran Budhisme. Tak jarang Noh menampilkan adegan-adegan terkenal dari karya sastra kanon Jepang pada masa itu, di antaranya Genji Monogatari, atau Kisah-Kisah Heike.
Kekhususan drama yang gaya bertutur pemainnya sedikit mengingatkan pada gaya tutur lakon wayang orang ini, adalah menampilkan emosi tokoh utamanya: kecemburuan, kemarahan, atau penderitaan. Pelakon utama Noh akan menggunakan topeng sebagai unsur utama membangun emosi. Begitu pula dengan unsur-unsur pendukung lain seperti gestur, tarian dan musik, semua adalah elemen penting untuk membangun emosi di atas panggung.
Karena yang dibangun adalah emosi, maka sebuah pertunjukan Noh akan bertempo lambat. Mungkin karena itulah pertunjukan drama Noh Modern Hari Kebangkitan ditampilkan dengan durasi tak terlalu lama; kurang lebih satu jam saja.
Noh dalam bentuk modern sudah cukup lama ada di Jepang, Tercatat sastrawan penerima hadiah Nobel Yukio Mishima pernah membuat beberapa drama dalam bentuk Noh. Di antaranya Kantan (Mudah), Aoi no Ue (Putri Aoi) dan Yoroboshi (Pemuda Buta). Salah satu drama Nohnya, Dojoji, bahkan mengritik secara gamblang modernisasi yang terjadi begitu cepat di Jepang.
Dwi Fitria
Hari Kamis (16/09) lalu publik Jakarta mendapatkan kesempatan menikmati suguhan drama Noh kontemporer. Pertunjukan Noh modern yang diberi tajuk Noh Modern "Hari Kebangkitan" Ketika Kita yang Telah Mati Bangkit" tersebut digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No.1.
Pertunjukan ini mencoba mengelaborasikan drama kontemporer dengan format drama tradisional Jepang, Noh. Lakon yang diambil adalah karya terakhir penulis drama terkenal Hendrik Ibsen, When We Dead Awaken.
Berkisah tentang seorang seniman patung Alnold Rubek yang menjadi terkenal lewat karyanya Hari Kebangkitan. Meski mengalami sukses dalam pengertian konvensional, Rubek kerap merasakan konflik di dalam batin sendiri. Bersama dengan istrinya yang muda dan cantik, Maia, Rubek kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Utara.
Alih-alih berhasil mencapai kedamaian dari konflik batin yang dialaminya, Rubek malah merasakan pertentangan batin yang semakin menjadi-jadi. Ketidakpuasan terhadap eksistensi diri menghantui Rubek. Di saat kritis ini muncullah sosok Irene, yang dulu kerap jadi model bagi karya-karya Rubek. Irene yang sosoknya mirip hantu, mengadili masa lalu Rubek. Ia mengajak Rubek untuk naik ke gunung menyambut fajar nan berkilau.
Maia di sisi lain jemu menghadapi suaminya yang dalam anggapannya amat dingin dan kuno. Jika suaminya adalah perwakilan nilai-nilai tradisional, Maia adalah perwakilan dari individu yang gamang menyambut terbuka perubahan. Ia amat tertarik pada Wilhelm, seorang pemburu yang kasar dan tak pernah pusing soal nilai lama dan baru.
Awalnya Ibsen memberi judul drama ini Hari Kebangkitan, di mana kedua tokoh utama Rubek dan Irene tersenyum menyambut fajar. Namun kemudian ia mengubah judulnya menjadi Kita yang Telah Mati Bangkit, akhir cerita dibuat muram, Rubek dan Irene mati tertimbun salju dalam sebuah badai besar.
Mistuya Mori, sutradara pementasan ini memilih mempertahankan akhir cerita yang terakhir, namun mengembalikan judulnya menjadi Hari Kebangkitan. Maksudnya menekankan titik berat pementasan pada harapan akan kehidupan baru yang penuh dengan kekecewaan, dan proses pengutukan diri sang seniman.
Drama yang sengaja dibuat berakhir tragis ini, ditutup dengan pernyataan kebebasan Maia "Saya bebas, saya bebas!" ujarnya sambil menari-nari.
Akhir ini harus dipilih untuk menggambarkan sebuah kemutlakan dalam perjalanan sejarah, di mana yang tradisional harus mengalah pada yang modern.
Drama ini ditampilkan oleh kelompok Teater Natori. Guna menggamblangkan perpaduan antara modernitas dan bentuk tradisional, teater ini menggabungkan penampilan aktor Noh tradisional (Reijiro Tsumura sebagai Irene, dan Koji Okukawa sebagai Rubek) dan aktor serta aktris teater modern (Masaru Ikeda sebagai Ulfheim, dan Yu Mizuno sebagai Maia)
Sejak dulu, Jepang adalah sebuah negara yang piawai menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa sepenuhnya tenggelam di dalamnya. Hingga sampai saat ini, berbagai bentuk seni tradisi masih digemari dan terus hidup di Jepang. Drama-drama tradisional mulai Noh hingga Kabuki memiliki peminatnya sendiri.
Naskah Ibsen yang secara langsung mengisahkan tabrakan antara nilai-nilai lama dan baru adalah pilihan tepat. Drama terakhir Ibsen ini ditulis pada 1899. Lakonnya adalah gambaran kejiwaan Ibsen pada masa itu.
Rubek yang jengah dengan cara hidupnya sebagai seniman tak lain adalah Ibsen sendiri. Mengeksplorasi seni kontemporer, Ibsen mengabaikan semua gaya realis yang merupakan gaya standar dalam seni tradisional. Sosok Irene dalam drama nya adalah perwujudan seni dalam bentuknya yang lebih tradisional.
Noh sejatinya adalah sebuah drama tradisional yang berkembang di Jepang pada Abad 14. Pertunjukan ini menggabungkan musik, tarian dan akting. Biasanya mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan ajaran Budhisme. Tak jarang Noh menampilkan adegan-adegan terkenal dari karya sastra kanon Jepang pada masa itu, di antaranya Genji Monogatari, atau Kisah-Kisah Heike.
Kekhususan drama yang gaya bertutur pemainnya sedikit mengingatkan pada gaya tutur lakon wayang orang ini, adalah menampilkan emosi tokoh utamanya: kecemburuan, kemarahan, atau penderitaan. Pelakon utama Noh akan menggunakan topeng sebagai unsur utama membangun emosi. Begitu pula dengan unsur-unsur pendukung lain seperti gestur, tarian dan musik, semua adalah elemen penting untuk membangun emosi di atas panggung.
Karena yang dibangun adalah emosi, maka sebuah pertunjukan Noh akan bertempo lambat. Mungkin karena itulah pertunjukan drama Noh Modern Hari Kebangkitan ditampilkan dengan durasi tak terlalu lama; kurang lebih satu jam saja.
Noh dalam bentuk modern sudah cukup lama ada di Jepang, Tercatat sastrawan penerima hadiah Nobel Yukio Mishima pernah membuat beberapa drama dalam bentuk Noh. Di antaranya Kantan (Mudah), Aoi no Ue (Putri Aoi) dan Yoroboshi (Pemuda Buta). Salah satu drama Nohnya, Dojoji, bahkan mengritik secara gamblang modernisasi yang terjadi begitu cepat di Jepang.
Kebebasan di Balik Tembok Harem
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria
Tembok Harem tak mampu mengungkung pikiran bebas perempuan di dalamnya.
Buku ini memuat kenangan masa kecil salah seorang sosiolog dan feminis paling terkemuka Timur Tengah, Fatima Mernissi. Jika melihat sosoknya yang begitu konsisten mengangkat masalah perempuan dalam Islam, orang mungkin tak akan percaya bahwa Mernissi tumbuh dewasa dalam sebuah harem.
Dalam buku Perempuan-Perempuan Harem ini (sebelumnya telah diterbitkan dengan judul Teras Terlarang), Mernissi menggambarkan sekelumit kehidupan dan pengalamannya hidup dalam sebuah harem.
Harem sendiri adalah sebuah istilah yang tercatat telah digunakan di Barat sejak 1634. Asal-muasalnya adalah harem para bangsawan Turki di zaman kekaisaran Ottoman yang amat melegenda. Di sebuah harem bisa terdapat ratusan bahkan ribuan perempuan, terdiri dari ibu, para istri, saudara perempuan, anak dan kerabat perempuan lain seorang laki-laki.
Harem biasanya dijaga dengan amat ketat. Para perempuan tak bisa keluar dari sebuah harem. Pun tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Suasana yang amat mengungkung inilah yang harus dihadapi setiap hari oleh para perempuan di sebuah harem.
Meskipun sejarah sempat mencatat, bahwa para perempuan dalam harem tak sepenuhnya tak berdaya. Selama 130 tahun selama abad ke-16 dan 17, para perempuan dalam harem kerajaan Ottoman memiliki pengaruh amat besar. Di masa ini perempuan dapat menggunakan hak penuh mereka sebagai keluarga kerajaan kecuali memimpin perang.
Ada empat perempuan harem yang istimewa, di antaranya Hurrem, yang berhasil mendirikan sebuah kediaman di istana di awal tahun 1530-an. Nurbanu, yang digambarkan sebagai perempuan pemberani dan bijaksana. Dan di abad ke-17, Kosem, yang berseteru dengan menantunya, Turhan. Perseteruan ini berujung pada pembunuhan Kosem pada 1651.
Namun masa-masa luar biasa para perempuan harem berakhir di situ. Sementara tradisi harem masih diteruskan hingga masa modern, saat Fatima Mernissi dilahirkan pada 1940.
Berlanjut pada masa kehidupan Mernissi, harem masih merupakan tempat yang mengekang kebebasan perempuan dengan cara sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Mereka tak bisa keluar dari harem dengan bebas.
Gerbang rumah kami adalah sebuah hudud atau sebuah batas, karena kami harus minta izin untuk keluar-masuk. Tiap gerakan harus punya alasan, bahkan cara mencapai gerbang pun ada aturannya sendiri. Dari halaman, kita harus berjalan melalui sebuah koridor sangat panjang hingga bertemu Ahmed si penjaga pintu. Dia biasanya duduk di sofanya yang mirip takhta, selalu dengan baki teh di sampingnya, dan bersikap santai. Karena melewati gerbang itu selalu perlu negosiasi, kita akan diajak duduk-duduk di sampingnya, di sofanya yang antik, atau melihat dia bersantai ria di “fauteuil d’Franca”, di kursi yang keras dan jorok, yang dibelinya di joutya atau pasar loak setempat.—Hal 37
Meski hidup serba terkungkung, Mernissi menggambarkan karakter perempuan-perempuan kuat yang hidup di dalam harem tersebut. Ibunya, neneknya, para bibinya, juga sepupunya, memiliki cara mereka sendiri untuk menghadapi kehidupan yang serba dibatasi.
Ibunya ditampilkan sebagai sosok perempuan berpikiran maju, yang yakin bahwa laki-laki dan perempuan sama. Ibunya percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi sama. Dan bahwa superioritas laki-laki bertentangan dengan ajaran Islam.
Nenek Mernissi, Yasima, merupakan bagian dari harem, namun memilih tinggal di sebuah pertanian di mana ia bisa keluar kapan pun ia inginkan. Yasimalah orang yang mengatakan pada Mernissi bahwa akan tiba masanya di mana laki-laki dan perempuan sederajat, dan seorang laki-laki hanya boleh memiliki satu istri. Sebuah dunia di mana perempuan akan mendapatkan pendidikan sama baiknya dengan laki-laki.
Kesadaran feminisme dalam bentuknya yang paling halus inilah yang kelak memengaruhi perhatian dan jadi fokus tulisan-tulisan Fatima Mernissi.
Fatima Mernissi dilahirkan di Fez, Maroko pada 1940. Ia lahir dalam sebuah keluarga menengah Maroko, di masa di mana seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri adalah sebuah kewajaran.
Setelah menempuh pendidikan dasar di Maroko, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar ilmu politik di Universitas Sorbonne dan Brandeis University, Massachussets, Amerika. Ditempat yang terakhir ini ia mendapatkan gelar doktornya,.
Sekembalinya ke Maroko, Mernissi mengajar di Fakultas Sastra Universitas Mohammed V, dalam mata kuliah metodologi, sosiologi keluarga dan psikososiologi. Latar belakang tumbuh dalam sebuah harem jugalah yang membuat Mernissi menaruh perhatian besar terhadap Islam dan peran perempuan di dalamnya. Tema-tema ini kerap muncul dalam buku-bukunya semisal Islam and Democracy: Fear of the Modern World, Forgotten Queens of Islam, Scheherezade is not a Moroccan, Islam, Gender and Social Change, atau Women’s Rebellion & Islamic Memory.
Dwi Fitria
Tembok Harem tak mampu mengungkung pikiran bebas perempuan di dalamnya.
Buku ini memuat kenangan masa kecil salah seorang sosiolog dan feminis paling terkemuka Timur Tengah, Fatima Mernissi. Jika melihat sosoknya yang begitu konsisten mengangkat masalah perempuan dalam Islam, orang mungkin tak akan percaya bahwa Mernissi tumbuh dewasa dalam sebuah harem.
Dalam buku Perempuan-Perempuan Harem ini (sebelumnya telah diterbitkan dengan judul Teras Terlarang), Mernissi menggambarkan sekelumit kehidupan dan pengalamannya hidup dalam sebuah harem.
Harem sendiri adalah sebuah istilah yang tercatat telah digunakan di Barat sejak 1634. Asal-muasalnya adalah harem para bangsawan Turki di zaman kekaisaran Ottoman yang amat melegenda. Di sebuah harem bisa terdapat ratusan bahkan ribuan perempuan, terdiri dari ibu, para istri, saudara perempuan, anak dan kerabat perempuan lain seorang laki-laki.
Harem biasanya dijaga dengan amat ketat. Para perempuan tak bisa keluar dari sebuah harem. Pun tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Suasana yang amat mengungkung inilah yang harus dihadapi setiap hari oleh para perempuan di sebuah harem.
Meskipun sejarah sempat mencatat, bahwa para perempuan dalam harem tak sepenuhnya tak berdaya. Selama 130 tahun selama abad ke-16 dan 17, para perempuan dalam harem kerajaan Ottoman memiliki pengaruh amat besar. Di masa ini perempuan dapat menggunakan hak penuh mereka sebagai keluarga kerajaan kecuali memimpin perang.
Ada empat perempuan harem yang istimewa, di antaranya Hurrem, yang berhasil mendirikan sebuah kediaman di istana di awal tahun 1530-an. Nurbanu, yang digambarkan sebagai perempuan pemberani dan bijaksana. Dan di abad ke-17, Kosem, yang berseteru dengan menantunya, Turhan. Perseteruan ini berujung pada pembunuhan Kosem pada 1651.
Namun masa-masa luar biasa para perempuan harem berakhir di situ. Sementara tradisi harem masih diteruskan hingga masa modern, saat Fatima Mernissi dilahirkan pada 1940.
Berlanjut pada masa kehidupan Mernissi, harem masih merupakan tempat yang mengekang kebebasan perempuan dengan cara sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Mereka tak bisa keluar dari harem dengan bebas.
Gerbang rumah kami adalah sebuah hudud atau sebuah batas, karena kami harus minta izin untuk keluar-masuk. Tiap gerakan harus punya alasan, bahkan cara mencapai gerbang pun ada aturannya sendiri. Dari halaman, kita harus berjalan melalui sebuah koridor sangat panjang hingga bertemu Ahmed si penjaga pintu. Dia biasanya duduk di sofanya yang mirip takhta, selalu dengan baki teh di sampingnya, dan bersikap santai. Karena melewati gerbang itu selalu perlu negosiasi, kita akan diajak duduk-duduk di sampingnya, di sofanya yang antik, atau melihat dia bersantai ria di “fauteuil d’Franca”, di kursi yang keras dan jorok, yang dibelinya di joutya atau pasar loak setempat.—Hal 37
Meski hidup serba terkungkung, Mernissi menggambarkan karakter perempuan-perempuan kuat yang hidup di dalam harem tersebut. Ibunya, neneknya, para bibinya, juga sepupunya, memiliki cara mereka sendiri untuk menghadapi kehidupan yang serba dibatasi.
Ibunya ditampilkan sebagai sosok perempuan berpikiran maju, yang yakin bahwa laki-laki dan perempuan sama. Ibunya percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi sama. Dan bahwa superioritas laki-laki bertentangan dengan ajaran Islam.
Nenek Mernissi, Yasima, merupakan bagian dari harem, namun memilih tinggal di sebuah pertanian di mana ia bisa keluar kapan pun ia inginkan. Yasimalah orang yang mengatakan pada Mernissi bahwa akan tiba masanya di mana laki-laki dan perempuan sederajat, dan seorang laki-laki hanya boleh memiliki satu istri. Sebuah dunia di mana perempuan akan mendapatkan pendidikan sama baiknya dengan laki-laki.
Kesadaran feminisme dalam bentuknya yang paling halus inilah yang kelak memengaruhi perhatian dan jadi fokus tulisan-tulisan Fatima Mernissi.
Fatima Mernissi dilahirkan di Fez, Maroko pada 1940. Ia lahir dalam sebuah keluarga menengah Maroko, di masa di mana seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri adalah sebuah kewajaran.
Setelah menempuh pendidikan dasar di Maroko, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar ilmu politik di Universitas Sorbonne dan Brandeis University, Massachussets, Amerika. Ditempat yang terakhir ini ia mendapatkan gelar doktornya,.
Sekembalinya ke Maroko, Mernissi mengajar di Fakultas Sastra Universitas Mohammed V, dalam mata kuliah metodologi, sosiologi keluarga dan psikososiologi. Latar belakang tumbuh dalam sebuah harem jugalah yang membuat Mernissi menaruh perhatian besar terhadap Islam dan peran perempuan di dalamnya. Tema-tema ini kerap muncul dalam buku-bukunya semisal Islam and Democracy: Fear of the Modern World, Forgotten Queens of Islam, Scheherezade is not a Moroccan, Islam, Gender and Social Change, atau Women’s Rebellion & Islamic Memory.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Musthafa
A Rodhi Murtadho
A Wahyu Kristianto
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Zakky Zulhazmi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Wachid BS
Abdullah al-Mustofa
Abdullah Khusairi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimanyu
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Maulani
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adrian Ramdani
Ady Amar
Afrizal Malna
Agnes Rita Sulistyawati
Aguk Irawan Mn
Agus R. Sarjono
Agus Riadi
Agus Subiyakto
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahm Soleh
Ahmad Farid Tuasikal
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Luthfi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadie Thaha
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rasyid
AJ Susmana
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander Aur
Alexander G.B.
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Rif’an
Aliela
Alimuddin
Alit S. Rini
Alunk Estohank
Ami Herman
Amich Alhumami
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminudin TH Siregar
Ammilya Rostika Sari
An. Ismanto
Anaz
Andaru Ratnasari
Andhi Setyo Wibowo
Andhika Prayoga
Andong Buku #3
Andrenaline Katarsis
Andri Cahyadi
Angela
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anton Sudibyo
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Arie MP Tamba
Arif Hidayat
Arif Zulkifli
Arti Bumi Intaran
Asarpin
Asep Sambodja
Asvi Warman Adam
Awalludin GD Mualif
Ayu Utami
Azyumardi Azra
Babe Derwan
Bagja Hidayat
Balada
Bandung Mawardi
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benni Setiawan
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Bernadette Lilia Nova
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Bhakti Hariani
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budi Winarto
Buku Kritik Sastra
Buldanul Khuri
Bustan Basir Maras
Camelia Mafaza
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Choirul Rikzqa
D. Dudu A.R
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Delvi Yandra
Denny JA
Denny Mizhar
Dewi Anggraeni
Dian Basuki
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dian Yanuardy
Diana AV Sasa
Dinar Rahayu
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Warsidi
Edy Firmansyah
EH Kartanegara
Eka Alam Sari
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Emil Amir
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
F. Budi Hardiman
Fadly Rahman
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fani Ayudea
Fariz al-Nizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatkhul Aziz
Felix K. Nesi
Film
Fitri Yani
Franditya Utomo
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Garna Raditya
Gde Artawan
Geger Riyanto
Gendhotwukir
George Soedarsono Esthu
Gerakan Surah Buku (GSB)
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Tri Atmojo
H. Supriono Muslich
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim H.D.
Hamberan Syahbana
Hamidah Abdurrachman
Han Gagas
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Hasan Aspahani
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Helvy Tiana Rosa
Helwatin Najwa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendriyo Widi Ismanto
Hepi Andi Bastoni
Heri Latief
Heri Listianto
Herry Firyansyah
Heru Untung Leksono
Hikmat Darmawan
Hilal Ahmad
Hilyatul Auliya
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husnun N Djuraid
I Nyoman Suaka
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilenk Rembulan
Ilham khoiri
Imam Jazuli
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santosa
Imelda
Imron Arlado
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Margareta
Indra Darmawan
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Insaf Albert Tarigan
Intan Hs
Isbedy Stiawan ZS
Ismail Amin
Ismi Wahid
Ivan Haris
Iwan Gunadi
Jacob Sumardjo
Jafar Fakhrurozi
Jajang R Kawentar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean-Marie Gustave Le Clezio
JJ. Kusni
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Julika Hasanah
Julizar Kasiri
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kadir Ruslan
Kartika Candra
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Ketut Yuliarsa
KH. Ma'ruf Amin
Khaerudin
Khalil Zuhdy Lawna
Kholilul Rohman Ahmad
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Krisandi Dewi
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kuswinarto
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lenah Susianty
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liston P. Siregar
Liza Wahyuninto
M Shoim Anwar
M. Arman A.Z.
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Harya Ramdhoni
M. Kasim
M. Latief
M. Wildan Habibi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria hartiningsih
Maria Serenada Sinurat
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Marsus Banjarbarat
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masriadi
Mawar Kusuma Wulan
Max Arifin
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Mezra E. Pellondou
Micky Hidayat
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Moh Samsul Arifin
Moh. Syafari Firdaus
Mohamad Asrori Mulky
Mohammad Afifuddin
Mohammad Fadlul Rahman
Muh Kholid A.S.
Muh. Muhlisin
Muhajir Arifin
Muhamad Sulhanudin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Azka Fahriza
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhidin M. Dahlan
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naskah Teater
Nezar Patria
Nina Setyawati
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noor H. Dee
Noval Maliki
Nunuy Nurhayati
Nur Haryanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurudin
Octavio Paz
Oliviaks
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pamusuk Eneste
Panda MT Siallagan
Pandu Jakasurya
PDS H.B. Jassin
Philipus Parera
Pradewi Tri Chatami
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rahmat Sutandya Yudhanto
Raihul Fadjri
Rainer Maria Rilke
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridha al Qadri
Ridwan Munawwar
Rikobidik
Riri
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rizky Andriati Pohan
Robert Frost
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Romi Febriyanto Saputro
Rosihan Anwar
RR Miranda
Rudy Policarpus
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S.I. Poeradisastra
S.W. Teofani
Sabam Siagian
Sabrank Suparno
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra
Sastra Gerilyawan
Sastri Sunarti
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra
SelaSastra ke #24
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Subhan SD
Suci Ayu Latifah
Sulaiman Djaya
Sulistiyo Suparno
Sunaryo Broto
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunudyantoro
Suriali Andi Kustomo
Suryadi
Suryansyah
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Susilowati
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Bahri
Syam Sdp
Syarif Hidayatullah
Tajuddin Noor Ganie
Tammalele
Tan Malaka
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Trianton
Tengsoe Tjahjono
Th Pudjo Widijanto
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tiya Hapitiawati
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Joko Susilo
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi
Umar Kayam
Undri
Uniawati
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Vyan Tashwirul Afkar
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyudin
Wannofri Samry
Warung Boenga Ketjil
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Web Warouw
Wijang Wharek
Wiko Antoni
Wina Bojonegoro
Wira Apri Pratiwi
Wiratmo Soekito
Wishnubroto Widarso
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Wing King
WS Rendra
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yosi M. Giri
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Yuyu AN Krisna
Zaki Zubaidi
Zalfeni Wimra
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhaenal Fanani
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Zulhasril Nasir