Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Maret 2010

Di Balik Penerbitan Buku Sastra Swadaya

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

BULAN-bulan terakhir saya menerima beberapa antologi cerpen dan puisi. Buku-buku itu tak cuma karya pengarang/penyair yang tinggal di Ibu Kota dan terbit di Jakarta, akan tetapi juga karya pengarang/penyair yang berdomisili di daerah, dan diterbitkan di daerah.

Dari Jakarta, saya terima antologi cerpen Papirus, berisi cerpen 24 mahasiswa/i Jurusan Teknik Grafika & Penerbitan Politeknik Universitas Indonesia. Lantas kumpulan puisi Di Antara Kita karya Salimi Ahmad; Antologi 20 Penyair yang berisi puisi 20 penyair usia 50-60 tahun; kumpulan cerpen Tina K Laki-laki Beroma Rempah-Rempah yang diterbitkan Kutubuku (milik Kurniawan Junaedhie, yang juga menerbitkan antologi cerpen saya, Nasihat-nasihat Cinta); dan Cerpen Kompas Pilihan 2008 Smokol yang memuat 15 cerpen dari 15 pengarang.

Dari daerah, ada antologi puisi Redi Lawu, memuat sajak-sajak 19 penyair yang tinggal di sekitar Gunung Lawu, diantaranya Beni Setia (Caruban), Hardho Sayoko SPB, Kusprihyanto Namma, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widijanto (Ngawi), Jo Pakagula (Karanganyar), UE Wriasasmita (Ponorogo), juga Danarto (berdomisili di Jakarta lahir di Klaten). Lalu antologi cerpen Mimpi Jelang Pemilu berisi 10 cerpen dari 10 pengarang, yaitu Andi Dwi Handoko, Atmo Kanjeng, Dian Hartati, Gatot Prakosa, Gusmel Riyadh, Indrian Koto, Joko Purwanto/Jo Pakagula, Kusprihyanto Namma, Titik Andarwati, serta Yuditeha.

Selain buku-buku itu, saya percaya, tentu banyak lagi karya sastra terbit di paruh pertama 2009 dan tidak semua diterbitkan penerbit profesional. Buku-buku tadi misalnya, cuma Laki-laki Beraroma Rempah-rempah, Antologi 20 Penyair, dan Smokol yang terbit lewat penerbit benaran. Lainnya diterbitkan sendiri oleh para sastrawan, dibiaya sendiri atau patungan ramai-ramai, ataupun didanai sponsor tak mengikat.

Dan, bagi saya itu menarik, menggirangkan, mengharukan. Pertama, sebab hal itu melihatkan kehidupan sastra tetap ajek, bergairah, di Ibu Kota dan daerah. Frekuensinya tidak turun oleh aktivitas politik terkait pileg-pilpres, konsentrasi media cetak/ elektronik yang dijejali berita politik, cuapan pakar yang bak pengamat sepak bola. Di mata saya, itu sekaligus melihatkan buramnya visi media, lantaran lupa melihat manfaat yang disimpan sastra; pembangunan manusia dengan menyuburkan apa yang ada di dalam dada.

Tapi, itu pun tak aneh. Di zaman Orde Baru manusia Indonesia dibiasakan supaya pragmatis saja, berorientasi raga, sehingga jangan pula pelaku pers muda usia (lahir pada masa Orde Baru), elit politik/kekuasaan pun tidak akrab dengan kebudayaan, seni, sastra. Lain dengan pemimpin Indonesia tempo lalu (founding fathers); Sjahrir, Sukarno, banyak lagi, termasuk nama-nama yang bisa kita ikuti di Polemik Kebudayaan tahun 1930-an.

Para pelaku sastra sadar betul hal itu. Jauh dari berkecil hati, mereka justru terus berkarya; tulis puisi, cerpen, novel, galang dana lantas terbitkan sendiri atau ramai-ramai. Langkah ini ditempuh karena saat ini penerbit pun berorientasi laba melulu. Laba penting bagi penerbit. Tetapi kalau laba sama sekali meniadakan idealisme (sampai menerapkan subsidi silang buku yang bisa raup untung dan yang kurang pun tak sudi), maka tertutup pintu bagi buku puisi untuk diterbitkan. Itu yang kini terjadi, seperti jarum dalam jerami penerbit yang mau menerbitkan buku-buku puisi.

Nah, para sastrawan/penyair sisihkan penghasilan (sebagai guru, wartawan, dosen dll), atau cari donatur yang masih melek melihat makna di balik sajak, lalu terbitkan buku puisi. Buku itu dibagi-bagi gratis pada khalayak, karena mungkin hanya 99 koma sekian persen saja manusia Indonesia yang sadar guna puisi.

Proses terus berkarya itu, jelas tak sebatas ekspresi belaka. Dan menerbitkan buku sastra lalu membaginya secara gratis, jelas pula bukan didasari ingin populer. Keduanya dilandasi makna itu tadi: karena sastra berdampak pada pertumbuhan jiwa, menggetarkan dada, menggetarkan rasa.

Dada yang tidak mudah lagi bergetar, atau keringnya rasa, adalah persoalan gawat bangsa kita dewasa ini. Di kota-kota besar macam Jakarta, orang kini tak merasa apa-apa dengan kemewahan melimpah-ruah, sedang orang lain (yang tidak lain saudara sebangsa) buat makan apalagi untuk bersekolah, susah. Orang pun senyum terus di televisi, padahal jelas-jelas dia divonis korupsi, merampok uang negara, uang rakyat yang kini nestapa. Banyak lagi hal aneh, ganjil, mencemaskan, akibat jiwa yang tidak bisa lagi bergetar, rasa yang makin hari hilang dari dada.

Kedua, yang bikin saya girang sekaligus haru melihat beterbitannya antologi puisi dan cerpen dibiayai sendiri atau disponsori (akibat penerbit ogah sebab tak hasilkan laba), hal itu tidak saja terjadi di Ibu Kota, tapi juga di daerah-daerah. Malah, daerah tampaknya lebih bergairah, lebih ikhlas, misalnya sastrawan-sastrawan di lereng Gunung Lawu tadi. Di Ngawi, mukim Kusprihyanto Namma yang dulu aktif meneriakkan revitalisasi sastra pedalaman, dan hingga kini tampaknya tidak putus dengan menerbitkan buku-buku sastra berswadaya.

Ngawi, Caruban, di catatan saya memang telah tertera dengan bulatan merah di peta sastra Indonesia, seperti juga Payakumbuh, ataupun beberapa kota/daerah lainnya. Tahun 1970-an lebih-lebih sebelumnya, kota-kota seperti Ngawi, Caruban, Payakumbuh, belum terlihat di peta sastra Tanah Air. Para sastrawan di Nangroe Aceh Darussalam, dan Depok yang sepelemparan batu dari Jakarta, dari buku-buku mereka yang saya terima pada 2008, juga terlihat melakukan hal serupa. Menerbitkan buku sastra, sajak/cerpen, didanai sponsor, bagi-bagikan gratis.

Saya sendiri di Ibu Kota sudah dua kali melakukan itu. Pertama November 2008, untuk kumpulan cerpen Suara Rimba, disponsori pihak Departemen Kehutanan. Kedua, Agustus 2009, untuk kumpulan cerpen Rumah Yang Bercahaya dengan 6 sponsor: Bank BTN, PT Belaputra Intiland, PT Arwana Citamulia Tbk, Bapertarum-PNS, Perum Perumnas, DPP REI. Buku-buku itu dihadiahkan sponsor kepada relasi. Saya sendiri membagikan buku-buku itu ke berbagai pihak; teman-teman, relasi, perpustakaan, media massa, pejabat, rupa-rupa lembaga, dan sebagainya. Langkah itu akan saya tempuh terus sejauh penerbit profesional berorientasi laba melulu, tidak sudi kasih subsidi silang untuk buku-buku sastra.

Ada beberapa manfaat saya rasakan dengan langkah di atas. Pertama, karya-karya saya, yang selama ini bertaburan di berbagai media massa, terdokumentasi dalam wujud buku. Kedua, banyak-sedikit tentu saya dapat duit; bahkan berkali lipat dari royalti kalau buku itu ditangani penerbit. Ketiga, jalan ini akan merapatkan jarak antara pihak sponsor dan karya sastra (dan ini penting sekali, menurut saya). Keempat (kiranya ini tidak kalah penting dari yang ketiga), karya sastra saya dapat tersebar ke berbagai pihak, melalui sponsor dan saya. Moga-moga saja mereka yang kebagian serta membacanya (khususnya mereka yang selama ini masih awam sastra) bisa memetik manfaat yang dikandung karya sastra tadi, yaitu menyuburkan rasa, menghalangi kematian getar dalam dada.

*) Pengarang, wartawan, dan dosen.

Senin, 04 Mei 2009

Bukittinggi di Peta Sastra

Adek Alwi*
http://www.suarakarya-online.com/

KOTA Bukittinggi, Sumatera Barat, boleh jadi sudah lenyap dalam peta sastra Indonesia. Atau bulatan-merahnya yang dulu tegas, nyata, sekarang samar saja. Tidak terdengar lagi aktivitas sastra di kota itu.

Juga tak terbaca karya sastrawan yang ada di kota itu, misalnya dalam jurnal dan majalah sastra atau ruang-ruang sastra surat kabar. Beda dengan kota tetangganya, dan yang lebih kecil, Payakumbuh. Payakumbuh satu-dua dasawarsa terakhir bersinar dengan kegiatan sastra serta karya sastrawan yang berdomisili di sana, seperti Gus tf, Adri Sandra, Iyut Fitra dan banyak yang lainnya.

Sebenarnya, pada dasawarsa 1950-an dan paling tidak sampai penggal pertama 1960-an, Bukittinggi justru kota penting dalam atlas sastra Indonesia. Keberadaannya tak hanya patut ditandai bulatan-merah, melainkan bulatan yang dikurung segi-empat. Persis keberadaan kota itu pada peta bumi Indonesia masa itu, yakni ibu kota Provinsi Sumatera Tengah (Sumatera Barat-Riau-Jambi); atau beberapa tahun sebelumnya, yaitu sebagai ibu kota PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), ketika ibu kota RI, Yogyakarta, diduduki oleh Belanda.

Bukittinggi pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an bercahaya dalam jagat sastra Indonesia tentu tak ada kaitannya (secara langsung) dengan statusnya sebagai ibu kota provinsi berdaerah luas, atau ibu kota pemerintah darurat republik. Tapi, lebih karena, (1) di kota itu tinggal sejumlah sastrawan yang menghidupkan kegiatan sastra, dan (2) adanya penerbit yang memiliki komitmen menakjubkan terhadap kehidupan sastra.

AA Navis dkk

Sastrawan yang menetap di Bukittinggi pada dekade 1950-an diantaranya ialah AA Navis, juga sastrawan yang lebih muda, seperti Rusli Marzuki Saria, Nasrul Sidik, Motinggo Busye (sebelum kuliah sekaligus pindah ke Yogya). Merekalah, antara lain, yang menghidupkan kegiatan sastra di kota itu, dengan berbagai diskusi, pembacaan serta ulasan puisi di RRI Bukittinggi, dan (sudah tentu) penulisan karya-karya sastra secara individual. Cerpen Robohnya Surau Kami Navis yang terkenal itu juga dia tulis di kota itu, bulan Maret 1955, dan dimuat dalam Majalah Kisah edisi No.5/Th III Mei 1955. Lalu meraih Hadiah Majalah Kisah, pada tahun yang sama.

Rusli Marzuki Saria kemudian kita kenal sebagai penyair yang tak putus-putus berkarya, sehingga melahirkan banyak sekali kumpulan puisi (diantaranya: Pada Hari Ini Pada Jantung Hari; Ada Ratap Ada Nyanyi; Sendiri-Sendiri, Sebaris-Sebaris dan Sajak-Sajak Bulan Februari; Sembilu Darah). Rusli juga pernah jadi anggota DPRD Tk II Kodya Padang, dan redaktur kebudayaan (kini pensiun) Harian Haluan, Padang. Selama di Haluan pula (puluan tahun) ia menyediakan ruang untuk tempat anak-anak muda berolah sastra, dan kemudian tumbuh sebagai pengarang ataupun penyair andal.

Nasrul Sidik tokoh pers di Padang, dan terakhir Pemimpin Redaksi Mingguan Canang. Sedangkan Motinggo Busye adalah seniman sangat produktif, menunjukkan reputasinya di berbagai cabang kesenian: sastra (cerpen, novel, sajak, naskah drama), penulisan skenario maupun sutradara film, dan juga seni rupa dengan melukis.

Penerbit Nusantara

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Rendra, selain penyair, pemain film dan dramawan, adalah juga pengarang cerpen. Kumpulan cerpennya, Ia Sudah Bertualang (yang memuat sembilan cerpen) diterbitkan oleh NV Nusantara, Bukittinggi, tahun 1963.

Penerbit (juga percetakan) Nusantara berkantor pusat di Bukittinggi (cabang di Jakarta), dan sejak pertengahan 1950-an hingga pertengahan ‘60-an aktif menerbitkan karya sastra. Dedikasi Nusantara dalam hal ini sungguh menakjubkan (apalagi dilihat dari kacamata masa kini yang amat berorientasi ekonomis), karena menerbitkan karya sastra merupakan proyek rugi. Namun, langkah Nusantara itu dapat dimaklumi bila tahu siapa di balik penerbit tersebut.

Penerbit NV Nusantara didirikan Anwar Sutan Saidi, kelahiran Sungai Puar, Bukittinggi, 1910. Ia seorang saudagar, aktivis pergerakan, pejuang. Dia juga tokoh utama pendiri Bank Nasional tahun 1930 di Bukittinggi, yang latar belakang kelahiran bank ini khas mencerminkan semangat zaman itu: memajukan perekonomian rakyat yang tertindas oleh penjajah.

Pertengahan 1950-an Anwar Sutan Saidi menjabat Presdir NV Nusantara, dan anaknya, Rustam Anwar, selaku direktur. Sang anak rupanya tidak kalah idealis dari ayah. Maka mengalirlah lewat Penerbit NV Nusantara karya para sastrawan Indonesia yang tumbuh dan berkembang pada dekade 1950-an hingga paruh pertama 1960-an.

Di samping kumpulan cerpen Rendra di atas misalnya, Nusantara menerbitkan kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami dan Hujan Panas (AA Navis); Di Tengah Padang (A Bastari Asnin); Pertemuan Kembali (Ajip Rosidi); Malam Bimbang dan Supir Gila (Ali Audah); Datang Malam (Bokor Hutasuhut); Umi Kalsum (Djamil Suherman); Pesta Menghela Kayu dan Dara Di Balik Kaca (Dt B Nurdin Jacub); Dua Dunia (Nh Dini); Lukisan Dinding (M Alwan Tafsiri); Keberanian Manusia dan Matahari Dalam Kelam (Motinggo Busye); Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasjah Djamin); Mabuk Sake (Purnawan Tjondronagoro); Di Luar Dugaan dan Istri Seorang Sahabat (Soewardi Idris); Perjuangan dan Hati Perempuan (Titie Said); Di Medan Perang (Trisnojuwono). Beberapa kumplan cerpen ini mengalami cetak ulang, paling tidak dua kali, oleh penerbit yang sama.

Selain itu juga diterbitkan NV Nusantara sejumlah novel asli Indonsia, antara lain Kemarau (AA Navis); Tidak Menyerah (Motinggo Busye); Hati Yang Damai (Nh Dini); Midah Si Manis Bergigi Emas (Pramoedya Ananta Toer); Mendarat Kembali (Purnawan Tjondronagoro); Di Balik Pagar Kawat Berduri (Trisnojuwono). Dan juga terjemahan karya-karya pengarang luar seperti karya “raksasa” sastra Rusia masa lalu, Maxim Gorki.

Dengan buku-buku terbitan Nusantara itu, tak pelak jagat sastra Indonesia pun semarak serta semakin kaya pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Dan Bukittinggi, ditambah dengan aktivitas para sastrawan yang saat itu bermukim di sana, menerakan keberadaannya dalam peta sastra Tanah Air dengan bulatan merah yang tegas. Malah, bulatan yang dikurung tanda segi-empat, menyamai Yogya dan nyaris Jakarta!

Namun tanda itu belakangan pudar. Bukittinggi tinggal sejarah, persis posisi kota itu dalam sejarah Indonesia. Dan kita tidak tahu kenapa. Memang ironi, tetapi, bagaimana lagi? Sebab agaknya benar petuah orang bijak: mempertahankan lebih sulit ketimbang merebut. Apalagi, pada zaman yang menderas dengan semangat yang tak menyentuh (dan malah dapat membunuh) daya hidup sastra, seperti dewasa ini.***

*) Penulis, sastrawan dan wartawan

Jumat, 06 Februari 2009

Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

USAI Idul Fitri 2007 lalu Pemrov DKI Jakarta kembali merazia kaum urban baru, seakan menegaskan lagi "ketertutupan" Jakarta bagi mereka. Tetapi bagi kaum pengarang hal itu kini tidak penting-penting amat. Mau terbuka atau tertutup Jakarta bukan lagi yang memiliki fasilitas terlengkap dan oleh karena itu harus diserbu. Dunia telah berubah. Juga Tanah Air, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi.

Dua puluh lima tahun yang silam pada Temu Sastra '82 di TIM Jakarta, sastrawan Gerson Poyk mengungkapkan motivasi perpindahan kaum pengarang Indonesia ke kota besar. Antara lain, untuk mengembangkan "bakat alam" yang dimiliki akibat "pendidikan formal yang tersendat-sendat", juga karena "tidak adanya perpustakaan" di daerah atau di tanah kelahiran. Kacaunya pendidikan, tak adanya perpustakaan, dan sulitnya komunikasi terutama dengan sesama sastrawan berpengaruh terhadap pengembangan kepengarangan.

Gerson tidak berlebihan, namun ia tentu bicara tentang pengarang segenerasi, juga sebelum dia. Dan kita pun tahu situasi kondisi Tanah Air masa generasi itu. Negeri belum lama merdeka, setelah terjajah lama. Ekonomi payah. Sekolah, terlebih-lebih perguruan tinggi terbatas jumlahnya. Yang memadai memang ada di kota-kota besar terutama di ibu kota negara, Jakarta.

Di Jakarta, sejak lama ada penerbit buku, koran, majalah, yang besar-besar. Juga majalah-majalah sastra atau kebudayaan. Setelah kemerdekaan kedutaan-kedutaan negara sahabat bermunculan dan perpustakaannya bisa pula dimanfaatkan untuk melongok dunia menyibak cakrawala. Sekolah maupun perguruan tinggi (untuk yang ingin melanjutkan pendidikan yang tersendat), tersedia. Tahun 1968, oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dibangun Taman Ismail Marzuki, dan kaum seniman bahagia karena punya tempat untuk berkreasi, berdiskusi, berkumpul; tadinya terpencar dan terpopuler di Senen, sebagaimana Malioboro di Yogyakarta. Hingga akhir dekade 1980 TIM seperti barometer berkesenian di Tanah Air; ada kebanggaan tampil di sana, seolah seseorang sudah ditahbiskan sebagai seniman/sastrawan nasional.

Namun, satu-dua dekade terakhir para sastrawan merasa tidak perlu lagi pindah ke kota besar, bahkan Jakarta sekalipun; justru banyak yang menetap di kota kecil bukan ibu kota provinsi. Sebutlah Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Banyumas; Beni Setia di Caruban; Zawawi Imron di Sumenep; Gus TF Sakai dan Iyut Fitra di Payakumbuh; Acep Zamzam Noer di Tasikmalaya; Hardho Sayoko SPB di Kedungalar, Ngawi; Sunaryono Basuki KS di Singaraja, Bali; Mardi Luhung di Gresik, Jawa Timur serta banyak lagi lainnya. Semua sehat saja, baik saja, mampu menjaga kreativitas dengan apik. Atau pinjam istilah Gerson Poyk, mengembangkan bakat yang dimiliki.

Perubahan sikap itu tersebab banyak hal, tapi utama akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik dibanding zaman generasi Gerson Poyk. Dan, lebih penting lagi, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi luar biasa di tingkat global, yang juga melanda Tanah Air. Di mana pun orang sekarang bermukim tidak akan terpencil. Telepon seluler menghubungkan manusia satu sama lain. Televisi, komputer, internet, atau entah apa lagi membuka akses semua rupa informasi, tak kecuali yang ada di pojok-pojok dunia terjauh sekalipun. Sekat-sekat dunia telah rubuh. Dunia terbuka, menyatu. Menganga.

Ekonomi yang lebih baik daripada era '50-an dan '60-an juga melahirkan penerbit lebih banyak, bank lebih banyak, di samping sekolah-perguruan tinggi yang bertebaran di seantero Tanah Air. Toko buku di mana-mana. Satu-dua dekade lalu kita cuma memiliki majalah sastra-kebudayaan Horison serta Basis sesudah Budaya Jaya pun tidak terbit lagi di awal 1980-an. Selain Horison, Basis, belakangan muncul Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Cerpen serta sederetan lainnya di berbagai daerah.

Sementara itu koran serta majalah yang memuat esai, sajak, cerpen makin banyak. Beredar hingga pintu rumah. Mengirim karya lebih praktis, mudah, lewat e-mail, atau tak perlu ke pos. Begitu pula honor, tiap saat bisa dipantau atau diambil lewat ATM berbagai bank yang juga bertebaran di mana-mana, tak hanya di kota besar apalagi Jakarta tok.

Semua itu berkah, sudah tentu. Selain bebas stres akibat macet dan banjir Jakarta yang parah, honor mungkin terasa lebih sedap oleh pengarang karena biaya hidup di kota kecil atau di kampung relatif rendah. Lebih mendasar lagi, fokus. Dapat lebih konsentrasi mengkaji diri di tengah dunia seperti ini, menyigi ke putih-tulang pelbagai aspek negeri dewek, lantaran energi tidak hilang lenyap menguap dihisap hiruk-pikuk kota besar yang pengap.

Walhasil, ke depan, ada harapan kita tidak sekadar figuran di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga. Tak hanya konsumen. Ada harapan akan lahir karya-karya yang ikut bicara di percaturan dunia, beraroma Nusantara, sebagaimana karya pengarang asal India yang sekarang berkibar tidak ubahnya bendera. Bukankah dunia yang terbuka juga menyeragamkan dan orang rindu yang khas, yang spesifik? (Eh, jangan-jangan karena itu penyair Afrizal Malna meninggalkan Jakarta tinggal di Solo atau Yogya, agar dekat-dekat dengan roh Tanah Air; Ajip Rosidi memilih menetap dekat Borobudur, tak di Jakarta atau di Bandung setelah merantau lama di Jepang; atau Wisran Hadi yang balik lagi ke Padang dan tetap tidak guyah untuk tergoda hengkang ke kota lebih besar sebutlah Jakarta selesai mengajar di Kualalumpur.)

Tetapi agaknya memang ada yang hilang di tengah-tengah dunia seperti sekarang. Sebagaimana lazimnya teknologi, teknologi informasi serta komunikasi canggih dewasa ini juga tidak bebas dari karakternya yang cenderung menyendirikan manusia, termasuk kita, para pengarang. Komunikasi langsung yang heboh bergairah tergantikan komunikasi senyap lewat pesan-singkat, internet, telepon seluler. Dan kita pun kehilangan raut wajah, ekspresi, gerak tangan kawan bicara, yang kadang menggetarkan gelas kopi di meja. Dan tidak pula bisa serentak kita lakukan dengan banyak kawan, sewaktu rindu bertukar cerita perkara anak-cucu yang lucu maupun pergulatan-pergulatan kreatif dalam mengarang.

Malangnya, lembaga-lembaga berkompeten semisal Dewan Kesenian Jakarta kini pun tidak lagi menyelenggarakan pertemuan sastrawan bagai tempo dulu. Bahkan Wisma Seni di TIM telah digusur. Di atasnya berdiri gedung megah, modern, dingin. Padahal, di kamar-kamar wisma itulah terjadi pertemuan sastrawan se-Indonesia yang sesungguhnya, melalui percakapan-percakapan intens-manusiawi hingga larut hari.

Apa buat. Itu memang cerita lain lagi. Sekarang zaman berubah dan kita berada di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga, dengan coraknya yang sangat beda dengan dua puluh lima atau puluhan tahun yang silam. Walau tempo-tempo, memang terasa aneh atawa ganjil. ***

*) Pengarang dan wartawan.

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir