Tampilkan postingan dengan label Abdul Aziz Rasjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Aziz Rasjid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2011

Novel yang Mengurai Peristiwa Subliminal

Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man and His Symbols sebagai peristiwa subliminal, atau peristiwa yang diserap ke lapisan bawah dari ambang kesadaran.

Peristiwa-peristiwa subliminal ini, nantinya memiliki arti emosional tersendiri bagi seseorang, berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis, mengembalikan arus ingatan pada hal-hal yang telah di/terlupakan, bahkan menjadi rangkuman padat dari kehidupan. Kesemuanya itu, diolah dalam bentuk pesan khusus oleh alam tak sadar dan disampaikan dalam mimpi.

Peristiwa subliminal itulah yang menjadi pokok penting dalam novel Tembang Tolak Bala (LKiS, 2011) karya Han Gagas. Hargo, tokoh sentral dalam novel ini, diceritakan mengalami koma selama 35 hari ketika ia berusia 9 tahun. Dalam komanya itu, Hargo mula-mula bermimpi hidup di masa-masa keruntuhan Majapahit sebagai anak asuh Ki Ageng Mirah yang merupakan leluhur para warok, lalu terpental dalam dimensi waktu yang lain menjadi gemblak warok di masa ketika Indonesia berhadapan dengan tegangan sosial politik di masa demokrasi terpimpin Soekarno. Dua dimensi waktu itu, dalam mimpi Hargo memiliki satu kaitan pesan khusus yaitu pelak-pelik sejarah kehidupan Reog yang tak terpisahkan dari riwayat leluhurnya juga rangkuman padat kehidupannya.

Darah Warok

Saat mengunjungi Telaga Ngebel di lereng Wilis, Hargo yang telah berusia belasan tahun teringat kembali pada kenangan masa kecilnya bersama ayahnya yang mengajaknya menonton upacara larung labuhan tanggal 1 Syuro. Saat itu, setelah prosesi larung labuhan usai, Hargo dan ayahnya tetap berdiri menatap telaga meski pengunjung larungan telah pergi. Di keheningan telaga, Hargo mendengar Ayahnya berkata begini: “Sebenarnya, akulah yang harusnya memimpin doa itu. Kita sebagai keturunan Eyang Tejowulan, memiliki wahyu untuk mengucap doa itu. Tapi, pemerintah tak mau menghapus dosa eyang. PKI selamanya tertancap di kening kita” (Hal. 114-115).

Kata-kata ayah Hargo adalah perisitiwa subliminal yang saat itu tidak direaksi secara sadar oleh Hargo, mungkin karena peristiwa itu dianggap tak menyenangkan karena mengindasikan hal buruk yaitu keturunan PKI yang berkaitan dengan pemberontakan komunis dan mengakibatkan dampak traumatik sosial di negeri tempat ia tinggal. Tetapi kata-kata itu tetap diserap oleh indera pendengaran dan disimpan ke lapisan bawah dari ambang kesadaran Hargo, lalu disampaikan kembali oleh alam bawah sadar dalam bentuk mimpi ketika ia mengalami koma selama 35 hari

Dari mimpi yang dialaminya, Hargo lalu tahu bahwa di tubuhnya mengalir darah keturunan Warok. Kenyataan tentang jati dirinya ini berpengaruh pada tanggapan emosinya dalam tiga hal: 1). Sebagai keturunan warok, Hargo merasa jijik dengan kebiasaan seks menyimpang seorang warok dengan seorang gemblak dalam bentuk hubungan seks sesama jenis, 2). Hargo adalah keturunan warok yang dicap memiliki kaitan dengan orang-orang PKI sehingga disisihkan secara sosial oleh warok yang lain, 3). Hargo adalah keturunan warok yang menyisahkan perselisihan antar warok yang berkembang menjadi dendam turun temurun.

Tiga hal ini terceritakan sebagai pesan dalam mimpi Hargo. Dalam mimpi itu Hargo mengalami sendiri kedukaan menjadi Gemblak Tejowulan yang secara garis keturunan adalah kakeknya sendiri. Tejowulan pulalah yang menjadi cikal bakal keturunannya dicap sebagai orang PKI, sebab ketika pemberontakan komunis meletus di Madiun, Tejowulan menampung anak-anak juga istri para pelarian orang-orang pergerakan dari Madiun. Tersebarnya anggapan bahwa Tejowulan mengayomi orang-orang komunis membuat musuh bebuyutannya bernama Wilodaya mempunyai dalih di mata masyarakat untuk membunuh Tejowulan sebagai pembalasan dendam karena ayahWiroladaya pernah dipermalukan oleh ayah Tejowulan dalam suatu pertempuran.

Dalam kehidupan nyata, pesan-pesan dalam mimpi itu, di satu sisi telah mengembalikan arus ingatan Hargo pada hal-hal yang telah di/terlupakan berkaitan dengan riwayat rangkuman kehidupan leluhurnya. Sedang di sisi lain, pesan mimpi itu berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis Hargo yang terbentuk dalam keyakinan dua hal: 1) Ia adalah warok yang akan membawa risalah hidup wajar, dengan istri dan anak-anak tanpa harus mempertahankan laku gemblak, 2). Tembang tolak bala yang diberikan oleh Tejowulan dalam alam mimpi sebelum ia terbunuh oleh Wilodaya, dipahami Hargo sebagai pesan pentingnya kerendahan hati dalam sikap maaf dan damai untuk mengakhiri dendam turun-temurun, sebab secara historis tembang ini pulalah yang mendamaikan hati Ki Ageng Kutu sebagai leluhur para warok untuk menyelesaikan perselihannya dengan Raden Katong sebagai putra Brawijaya V.

Pola mimpi sebagai Strategi Literer

Uniknya, dalam novel Tembang Tolak Bala ini, struktur mimpi yang memang tak memiliki susunan logis dalam alur cerita maupun pembagian waktu dimanfaatkan oleh pengarang sebagai strategi literer yang menarik. Peristiwa demi peristiwa di dalam mimpi, berjalan seakan tanpa kesatuan tindakan dan peristiwa, tanpa memperhitungkan kelogisan cerita.

Cobalah Anda bayangkan: Mula-mula Hargo diterbangkan oleh layang-layang, lalu tiba-tiba saja ia berada di masa runtuhnya Majapahit dan diasuh oleh Ki Ageng Mirah. Di rumah Ki Ageng Mirah ini, Hargo selalu tertarik untuk bermain-main di sungai sampai suatu saat arus sungai menyeretnya ke arus waktu ketika Indonesia mengalami pergolakan politik di zaman pemerintahan Orde Lama. Ketika seseorang menodongkan pistol padanya, menembaknya, tiba-tiba badannya melesap ke dalam bumi dan ia siuman mendapati dirinya dirawat di rumah sakit akibat koma selama 35 hari.

Maka, membaca novel ini, Anda akan mendapati mimpi layaknya petualangan fiksi dengan segala kemungkinan dan kejutan yang tak terduga. Mimpi yang hadir dengan membawa muatan pesan untuk mengingatkan bahwa ada banyak peristiwa di dunia yang ter/dilupakan. Peristiwa itu bisa bersifat massal semisal kebudayaan Reog Ponorogo yang pernah dikotak-kotakkan dalam kepentingan politik tertentu hingga menyebabkan pertumpahan darah antar warok, atau bersifat personal tentang kedirian yang kehilangan identitas sebab ancaman traumatik politik. Setidaknya, inilah peristiwa subliminal kehidupan yang diurai oleh Tembang Tolak Bala.

17 Agustus 2011

Kamis, 07 April 2011

Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah perrnyataan dan pertanyaan pendek saya di facebook, 16 juni 2010 jam 20:36. Isinya sebagai berikut:

Dua tahun lalu saya menemukan catatan dokumentasi kegiatan sastra di Banyumas di tumpukan majalah toko buku loak, judulnya “Kancah Budaya Merdeka” (HORISON/O7/XXIX/66). Membaca catatan itu seperti mengantarkan saya pada geliat kegiatan sastra di Banyumas 16 tahun silam. Jalan benarkah jika dokumentasi itu saya temukan begitu kebetulan di toko buku loak?

Berikut ini, tanggapan-tanggapan dari beberapa teman:

Chandra Iswinarno
wah apa cerita dibaliknya?

Dede Dwi Kurniasih
itu jodohmu kang,bukan sekedar kebetulan kurasa

Abdul Aziz Rasjid
aku kutipkan satu paragraf penuh ya Chan:

Kancah Budaya Merdeka, kelompok penyair di Banyumas, 24 April 1994, menyelenggarakan sarasehan sastra bekerja sama dengan sanggar Nafiri, Cilacap, dalam rangka memperingati hari Chairil Anwar. Herman Affandi, tampil sebagai pembicara dengan makalah berjudul “Chairil Anwar dan Inovasi Puisi Indonesia”, … Lihat Selengkapnyadidampingi Edhi Romadhon serta Sutarno Djayadiatma. Di samping itu dilangsungkan pula acara pembacaan puisi oleh anggota kancah, antara lain Badruddin Emce, Haryono Sukiran, Ansar Balasikh, Nanang Anna Noor, Wanto Tirto, Lukman Suyatno, dan lain-lain.

(Majalah Sastra Horison, nomor 07 tahun XXIX edisi: Juli 1994. Kolom Jendela. hal:66)

Abdul Aziz Rasjid
- Dede: kalau tak kebetulan sepertinya lebih menyenangkan De. Misalkan jika dokumentasi semacam itu dengan mudah dapat kita dapatkan di Dewan Kesenian Banyumas….he..he..he…jadi dokumentasi itu tidak bertumpuk baur dengan resep-resep makanan, majalah tentang rajah tangan atau majalah tentang otomotif

Dede Dwi Kurniasih
iya ya…jadi malu. minat baca kita memang amburadul. makanya dokumentasi sepenting itu masih saja bertengger diloakan

Wisnu Shanca Bhumi
mantap,…. kejayaan yang berserak karat

Wiwit Mardianto
sastra di banyumas memang sudah usang kang, sudah mengering. jiwa-jiwa membaca anak muda berubah menjadi abu di cafe dan karaoke.

makanya layak ditempatkan di toko loak.

Abdul Aziz Rasjid
- Wisnu: “kejayaan” yang berserak dan tak terdokementsikan dengan baik itu, di sisi lain telah mengakibatkan pembersihan massal terhadap karya sastra Indonesia di Banyumas menjadi “tak” terbaca.

Abdul Aziz Rasjid
-Wiwit: mungkin kau perlu mencatat di pusimu pertemuan anak-anak muda dengan cafe dan karaoke.

Sari Handayani
Aku bersedia ziz menjadi fragmen dlm esai mu tentang cafe dan karaoke.
Tetapi tidak untuk menjadi abu&asap rokok dalan cafe ataupun karaoke.
Jadi kapan kta karaokean brg untuk mendalami esai mu selanjutnya??Hahahahahaha…..

Abdul Aziz Rasjid
aku ngikut kamu saja Sar jadwal karaokenya

Chandra Iswinarno
Skarang bgm caranya mengembangkannya agar lebih progress serta menandai zaman karaoke dan cafe dlm literer sastra bms, ziz?

Abdul Aziz Rasjid
Perlu diteliti lebih detail adakah dalam karya sastra dari banyumas yang menjadikan karaoke dan cafe sebagai kode pribadi dalam karyanya, dengan catatan kode pribadi ini belum pernah digunakan oleh penyair lainnya. Istilahnya terjadi idiolek. Untuk mengetahui hal ini karya sastra dari banyumas ya harus dibaca lebih teliti lagi. Dan lagi-lagi dokumentasi menjadi penting dalam usaha pembacaan ini.

Badruddin Emce
beruntung sy rajin mengarsipkan tulisan sendiri. memang ada beberapa yg terlepas. tp lumayanlah, sapa tahu suatu hari ada investor yg tiba-tiba ngasih modal penerbitan, atau menang dalam sebuah award sastra… :)

Dharmadi Penyair
kelemahan teman-teman banyumas adalah dalam hal dokumentasi. sehingga untuk purwokerto khususnya, tak tercatat pada tulisan mas Triyanto dalam pemetaan sastra di purwokerto. padahal, kegiatan sastra di banyumas di mulai di purwokerto sejak tahun 1970, dan sampai sekarang “oknum-oknum” nay masih bergerak di mana-mana. catat mas Azis, sejarah sastra di banyumas. kapan-kapan bisa bongkar dokumentasi di tempat saya. saam.

Imam Hamidi Antassalam
dia yang akan hidup 30 tahun ke depan lebih percaya pada dokumentasi. jadi, mulailah rajin2, mendokumentasikan segala momentum.

Badruddin Emce
Mas Imam, Cilacap, apalagi Kroya, dlm hal sastra blm ada “sekukuireng”nya Purwokerto. Jd musti lebih kerja keras. Tak hanya mndokumentasi, tp jg dlm berkaryanyata. Selebihnya urusan pribadi masing2..

Agustav Triono
Mungkin pnemuan artikel di loakan bkn satu2nya patokan dokmntsi sastra bms masa lalu terabaikan.coba qt bongkar gudang sastrawan2 Bms,spt kata p.Dharmadi. p.Bad.trnyt msh mnympn dokmntsi. Lalu siapa yg akan mmulai mmusatkan dok.yg trcecer itu?

Ahita Teguh Susilo
Sastra lahir dari sastrawan dan sastrawan terbentuk dari orang yang mengabdikan hidupnya pada sastra. Tidak selamanya seseorang bisa mengabdikan diri kepada sastra, kecuali orang-orang yang beruntung. Bagi sebagian lainnya sastra hanya bisa… beberapa tahun saja digeluti secara total, karena kesulitan hidupnya membuatnya bercerai dari sastra.
Namun walaupun hanya sebentar, itu sudah sangat berarti daripada tidak pernah sama sekali ….

Yosi M. Giri
Setelah membaca masa lampau, apa yang kau lakukan hari ini bung? Mengulang atau menginovasi?
Tapi kuberi kau 5 jempol, untukmu Wahai HB Jassin Kecil (meminjam kata Edon), untukmu Arief Budiman (seorang psikolog yang nyastra), juga untuk peru…ntunganmu (yang selalu menemukan sesuatu yang tak banyak penulis muda dapatkan). Tuhan bersama orang-orang yang bekerja dengan senang hati.

Abdul Aziz Rasjid
?- Gustav: Lalu siapa yg akan memulai memusatkan dok.yg trcecer itu? Pertanyaanmu ini Gustav, seharusnya sudah lama dan penting diajukan -untuk kemudian diperhatikan- oleh lembaga semacam dewan kesenian yang memang bertanggung jawab pada pr…oduk-produk sastra dan budaya. Tetapi jika lembaga-lembaga itu hanya jadi sekadar bangunan yang ceroboh dan hanya pandai merancang proposal, apa boleh buat, mesti ada jalan alternatif yang lain.

-Yosi: aku baru akan menata masa lampau dalam sebuah album. Agar tak menjadi semacam potret tua yang mudah lecek dan luntur, aku baru akan menempel agar tak cepat kotor.

Dharmadi Penyair
mas Ahita benar; tetapi sayang, kenapa mesti menghindari menulis puisi, Mas? tentang kesulitan hidup, saya percaya Anda tak mengalami. Anda salah satu legendaris penyair banyumas; pengakuan itu diucapkan oleh mas Wahyu Mandoko.

Dharmadi Penyair
berbicara sejarah (sastra) pasti bicara masa lalu. Lalu untuk apa? untuk melihat masa sekarang, ada perkembangan tidak? lalu bagaimana menatanya, untuk masa depan.
Banyak yang berperan untuk menghidupi sastra di banyumas, dengan caranya masi…ng-masing. Tentu saja nama Abdul Wachid BS tak boleh dilupakan, dan tentu saja nama-nama lainnya. masyarakat (sastra) banyumas perlu bersyukur ada Abdul Azis Rasjid, dan bisa juga disebutkan Yosi M Giri. tentang DKKB? saya pernah usul, untuk menghubungi sastrawan yang ada di banyumas. minta arsip karyanya, juga berita-berita kegiatan yang ada di koran dengan cara memfotocoy, seperti yang selama ini dilakukan mas Azis dn mas Yosi. selamat dan semoga menjadi dokumentator yang andal.

I’ank Kie
wah aku kerian dikirimine kie.. hehehe..
aku seneng je.. kalau ga rian aziz ini yang bikin puwokerto hangat.. //DKKB?? aku selalu mengingatnya 2004 akupun mempertanyakannya bro? huahahaha.. bukan apa2 tapi priwe sih ya.. bubarna bae apa??? …hehe..
probelmatikanya sama dengan teater sob, kau pun sudah berbicara disokaraja mbigar tentang dokumentasi.. ya kaya kuwe..
siki pokoke ayo angkatan muda pada bareng2 berbenah nyengkuyung dokumentasi tetang trasi ( teater dan puisi) aja pada pediren karo jaim jaiman

Chandra Iswinarno
yuks kita nyatakan, mumpung ada saksi hidup yang akan bercerita bagaiaman mereka menandakan zamannya saat itu dan teman2 muda yang akan meraba tandanya di masa kini…bagaimana kalau langsung bergerak tanpa basa basi seperti ini…mau kita mulai darimana?

Abdul Aziz Rasjid
Menanggapi proses perbincangan ini, setidaknya –bagi saya– terlihat, bahwa pendokumentasian menjadi hal yang tidak “sepele” sebab akan berhubungan dengan pembacaan sejauh mana perkembangan wawasan dan ucapan sastra Indonesia dari banyumas….

Di antara beberapa teman, juga tampak keinginan adanya aksi terhadap wacana yang diperbincangkan ini. Dari kesadaran yang setidaknya serupa bahwa dokumentasi penting, dan sudah ada titik terang bahwa beberapa karya masih tersimpan, saya kira bukan hal mustahil bila pendokumentasian memang segera dilakukan.

Tinggal bagaimana sekarang, saya kira, teman-teman dan tentu juga saya, saling berbagi peran menyamakan pandangn agar kerja ini menjadi kerja bersama. Karena kerja personal tentu akan melelahkan.

Akhirnya, saya kira, pembagian peran dan penyamaan pandangan membutuhkan waktu dan tempat yang tepat untuk dibicarakan dengan lebih detail.

Dharmadi Penyair
Mengharukan sekali saya membaca komentar kawan2 pada tulisan mas Azis.bgmana kalau diadakan silaturahmi sehabis lebaran fokus membicarakan tt sejarah sastra di banyumas raya?

Nanang Anna Noor
Menulis puisi tak musti harus terpaku pada media ‘koran kesombongan’. aku tetap menulis puisi, mulai dari dunia maya, tembok rumah,kulit jati, tudung becak hingga topi seorang pemulung. Bahkan akau pernah menulis sebait puisi tepat dibawah puting seorang pelacur.Tak perlu menangisi

Riyan El Jameel
jadi teringat sama satu buku yang ku temukan di rumah temenku, dan ketika coba ku cari di perpus daerah kabupaten banyumas ternyata masih tersisa sekitar 2 – 3 buku di situ. sebuah buku antologi puisi yang merupakan kumpulan dari penyair-pe…nyair banyumas, termasuk bupati banyumas pun turut serta juga dalam antologi itu. Di terbitkan seiring perayaan 50 tahun kemerdekaan indonesia, oleh penerbit purwokerto juga. itulah dia “ANTOLOGI PUISI SERAYU”.
Haru biru mengalir dalam kalbu, ketika ku lihat foto pada dinding rumah salah satu penyair/seniman dan budayawan yang turut pula menyumbangkan karyanya dalam antologi serayu itu.
beberapa foto belasan tahun yang lalu, ” Penanda tanganan Rekor MURI 50 jam pembacaan puisi estafet “. sungguh ku merindu pada suasana seperti itu, meski hadirnya rinduku adalah sekedar dari sebuah buku dan foto di dinding rumah itu..

Nanang Anna Noor Toleransi sorang Madura kepada Banyumas, Jempol 10
09 Oktober 2010
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=453418947488

Selasa, 08 Maret 2011

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun.

Malam itu, sebelum kembang api dibakar, Yusri dan Nanang membacakan dua puisinya di atas pentas gelar budaya untuk menyambut awal pergantian tahun. Denny sibuk menuruti permintaan Yusri dan Nanang untuk merekam dan memotret keduanya dengan kamera warna merah yang sepertinya selalu tersimpan di kantong jaketnya. Aziz duduk mengamati ketiganya, senyum sendiri, dalam hati ia meledek: Yusri dan Nanang, potret dan video yang kelak akan terpajang pada album foto maupun video dalam situs jejaring sosial facebook, akan menampung hasrat narsistik seorang penyair untuk membekukan beberapa pose, mengabadikan usaha bersikap indah penyair saat membaca puisi.

Di malam tahun baru 2011 itu, lelaki perempuan lalu lalang, sorot lampu dan lagu-lagu —dari keroncong sampai rock and roll— dinyanyikan sekumpulan dosen dan mahasiswa. Entah, berapa orang yang berpikir tentang jumlah rupiah yang harus dibayar oleh pihak rektorat Universitas Brawijaya demi kemeriahan itu. Berbaur di keriuhan pesta tahun baru, Yusri dan Aziz bertatap muka untuk pertama kali, keduanya saling berjabat tangan, sebelumnya mereka hanya bertemu kata di kolom obrolan facebook ketika Yusri masih melanjutkan studi di bidang kajian Sastra antar Budaya di Universitas Bayreuth, Bayern, Jerman pada tahun 2008-2010.

Di mata Aziz, Yusri lebih sebagai pemerhati puisi daripada seorang penyair. Aziz suka mengamati kerja-kerja Yusri dalam menelaah kemungkinan perambahan ucap dan perambahan wawasan yang dilakukan penyair-penyair dari Malang yang disyiarkannya di akun facebook. Semisal pada “Catatan Singkat atas Puisi-puisi Nanang Suryadi” (ditulis di Jerman, 4 April 2010), Yusri menelaah bahwa secara struktural, salah satu kekuatan puisi Nanang Suryadi terletak pada konsistensi “permainan” bunyi kata yang mengkonstruksi dinamika rima dan pada repetisi kata dan frasa yang berjalin kelindan dalam bingkai keutuhan. Lebih jauh, lanjut Yusri, dialog dan suara kadangkala ditekankan melalui “kalimat langsung” membuat puisi-puisi Nanang Suryadi menawarkan komunikasi yang mendekonstruksi otoritas tunggal ujaran sehingga memunculkan narasi yang dinamis.

Aziz kira, Yusri tepat dalam pembacaan strukturalnya terhadap keumuman cara ungkap puisi Nanang Suryadi. Nanang memang piawai “bermain-main” dengan repetisi kata dan frasa untuk membangun kekhasan ucap puisinya, simak penggalan puisi bertajuk “Ada yang Tiba-Tiba” —dimuat Horison, Tahun XLV, no.1/2011. Januari 2011. hal.7— berikut:

…dengan tanya dengan segala gelisah dengan segala cemas dengan
segala khawatir o kemana kan dilabuhkan ke mana segala mimpi
segala harap segala ingin segala kehendak karena tiba tiba saja
ada yang terasa menyelinap mungkin rasa cemburu atau sebuah
ketakutan akan kehilangan.

Di Malang, tak hanya puisi-puisi Nanang yang telah ditelaah oleh Yusri. Puisi dari penyair-penyair lain semisal Ragil Supriyatno Samid, Abdul Mukhid, Denny Mizhar, Tegar Prajaksa juga Yusri hayati. Kata Yusri pada Aziz di catatan bertajuk “Tentang Puisi-puisi Mukhid, Ragil dan Tegar Prajaksa” (ditulis di Malang, 2007), membaca puisi empat penyair dari Malang itu, Yusri mendapati cara berpuisi mereka ada yang mengikuti prinsip Sutan Takdir Alisjahbana yang ‘menuju laut’ meninggalkan ‘rumah’ dimana konvensi-konvensi tradisional dinegasikan, mengadopsi Eropa entah disadari atau tidak. Ada pula yang menjunjung hibriditas dengan intertekstualitas (baik struktur dan tema) yang bermuara pada puisi-puisi sebelumnya. Singkatnya, pada empat penyair dari Malang itu timbul rasa ingin melakukan emansipasi melalui peniruan untuk membangun identitas kepenyairan, tapi di lain pihak ada rasa ingin mempertahankan perbedaan.

Dipandang sebagai kajian tehadap karya-karya sastra dari Malang, setidaknya catatan-catatan Yusri bagi Aziz merupakan usaha atau niat baik untuk sedikit demi sedikit menandai ragam perambahan ucap dan wawasan penyair dari Malang. Bagi Aziz, gairah bersastra sedang semarak produktivitasnya di Malang —contohnya Denny yang menyiarkan puluhan puisi di catatan facebook-nya dan terdokumentasikan dalam www.sastra-indonesia.com, dan sering diledek oleh Aziz bahwa perambahan wawasan puisi Denny semakin memperpanjang gerbong puisi yang menyelenggarakan sunyi— memang harus diimbangi kerja-kerja telaah sastra agar ditemukan keberbedaan visi masing-masing penyair.

Apalagi ketika ekologi sastra semisal lembar budaya surat kabar memiliki keterbatasan untuk memuat telaah-telaah sastra, sedang jurnal atau majalah sastra yang berniat diri untuk konsentrasi memuat telaah-telaah sastra minim diproduksi, maka jejaring sosial semacam facebook memang mau tak mau kudu difungsikan sebagai ruang alternatif. Kehadiran beberapa puisi-puisi dari penyair Malang, sepanjang pengamatan Aziz, memang tak hanya mewujud dalam buku antologi puisi. Kebanyakan diantara mereka, menulis dan menemui pembacanya di catatan facebook, blog atau merekam pembacaan puisinya agar didengar dalam situs tertentu semisal yang dilakukan penyair Lodzi di www.reverbnation.com.

Aziz memandang, kerja-kerja kepenyairan semacam itu adalah kerja mandiri, usaha berkreativitas seorang penyair untuk mendekatkan karyanya pada masyarakat luas. Ruang-ruang baru di luar buku, majalah maupun surat kabar membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi penyair untuk bebas melakukan eksperimentasi ragam ucap dan wawasan dalam puisinya tanpa harus berusaha untuk mengikuti selera redaktur, terbatasi oleh kolom atau berusaha menjadi placebo dengan mengikuti cara ungkap penyair yang telah dianggap mapan.

Dalam situasi semacam itu, yang diperlukan adalah hadirnya telaah, untuk setidaknya menemukan kekhasan ucap maupun wawasan kepenyairan mereka, menandai cara mereka memandang kota Malang bahkan Indonesia dalam puisinya, atau telaah menjadi masukan berharga untuk meningkatkan mutu bobot puisi bila kemudian sang penelaah menemukan kelemahan eksplorasi tema maupun struktural dalam puisi-puisi yang ia baca.

Aziz memang suka meledek penyair yang mengekor ragam ucap penyair lain, sedang Yusri menghormati puisi dengan berusaha menandai ciri ucap maupun wawasan yang terkandung. Aziz dan Yusri, tidak suka mengekor pada penilaian asal hantam yang kerap terjadi dalam iklim sastra Indonesia, bahwa sastra di luar buku, kolom budaya koran, majalah sastra adalah karya sastra sampah.

Selasa, 22 Februari 2011

Ruang Batin yang Tumbuh dari Mata

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Malam ini –setelah purwokerto diguyur hujan deras, dingin dan saya ditemani kopi serta lagu Clapton yang bertajuk Pilgrim— aku benar-benar menikmati membaca puisi Hanna Fransisca yang bertajuk “Tumbuh dari Matanya”. Bait pertama puisi itu, diawali baris-baris yang berkata begini:

Perempuan di kaca mobil,
membuka jalan
hujan memanjang
hitam.

Baris-baris itu dibangun dari latar-latar material “kaca mobil, jalan, hujan yang memanjang”. Kaca mobil sebagai latar material berasosiasi dengan latar material lainnya yaitu jalan, dimana dua material ini berpusat pada penglihatan aku lirik yaitu perempuan. Suasana yang ditimbulkan dari dua latar material ini semula terkesan biasa saja, tetapi lalu menggetarkan ketika baris terusannya berkata: “hujan memanjang/ hitam”.

Hitam adalah warna yang pekat, dan semakin bertambah pekat dengan adanya bait kedua yang ternyata mengkisahkan suasana ruang batin khas dalam posisi “sunyi dan asing” dan makin menggenaskan sebab diakhiri dengan citarasa yang pahit yaitu “empedu”.

Ia menjadi simpanan
sunyi,
asing,
dan yang empedu.

Lalu, dari kepekatan yang ruang batin yang pahit itu, ternyata aku lirik mendedahkan suara batin yang bagiku cukup mengagetkan:

Andai tumbuh sayap
di punggungnya, izinkan ia
menjadi tuhan

Ruang batin yang terasa sebagai suara privatif, yang berusul dari semacam peristiwa kepahitan “jarak dan hujan yang tumbuh dari mata” yang pada ujungnya ternyata tak berbuah pelapukan. Malah sebaliknya, diolah menjadi oasis nurani dimana aku lirik ingin belajar membaca peristiwa yang dialaminya.

Ia ingin belajar
membaca, pada apa yang tertinggal
sebagai jarak, yang menjadikannya
hujan selalu tumbuh
dari matanya.

Sebagai pembaca, keinginan untuk belajar itulah yang aku kira menjadikan daya puisi seperti datang dari ruang batin yang menjadi merdeka. Dan disinilah aku berpendapat puncak estetika puisi berada, dimana puisi ditulis untuk optimisme yang perlu untuk senantiasa dijaga oleh manusia, masa lalu dipantulkan sebagai pelajaran berharga untuk difungsikan merangkai keesokan untuk menjadi kemungkinan kebahagiaan.

Tumbuh dari Matanya
Hanna Fransisca
Untuk semua sahabat

Perempuan di kaca mobil,
membuka jalan
hujan memanjang
hitam.

Ia menjadi simpanan
sunyi,
asing,
dan yang empedu.

Andai tumbuh sayap
di punggungnya, izinkan ia
menjadi tuhan.

Ia ingin belajar
membaca, pada apa yang tertinggal
sebagai jarak, yang menjadikannya
hujan selalu tumbuh
dari matanya.

Senja hari dalam perjalanan menuju Jakarta, 25 Agustus 2010

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir