Kamis, 07 April 2011

Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah perrnyataan dan pertanyaan pendek saya di facebook, 16 juni 2010 jam 20:36. Isinya sebagai berikut:

Dua tahun lalu saya menemukan catatan dokumentasi kegiatan sastra di Banyumas di tumpukan majalah toko buku loak, judulnya “Kancah Budaya Merdeka” (HORISON/O7/XXIX/66). Membaca catatan itu seperti mengantarkan saya pada geliat kegiatan sastra di Banyumas 16 tahun silam. Jalan benarkah jika dokumentasi itu saya temukan begitu kebetulan di toko buku loak?

Berikut ini, tanggapan-tanggapan dari beberapa teman:

Chandra Iswinarno
wah apa cerita dibaliknya?

Dede Dwi Kurniasih
itu jodohmu kang,bukan sekedar kebetulan kurasa

Abdul Aziz Rasjid
aku kutipkan satu paragraf penuh ya Chan:

Kancah Budaya Merdeka, kelompok penyair di Banyumas, 24 April 1994, menyelenggarakan sarasehan sastra bekerja sama dengan sanggar Nafiri, Cilacap, dalam rangka memperingati hari Chairil Anwar. Herman Affandi, tampil sebagai pembicara dengan makalah berjudul “Chairil Anwar dan Inovasi Puisi Indonesia”, … Lihat Selengkapnyadidampingi Edhi Romadhon serta Sutarno Djayadiatma. Di samping itu dilangsungkan pula acara pembacaan puisi oleh anggota kancah, antara lain Badruddin Emce, Haryono Sukiran, Ansar Balasikh, Nanang Anna Noor, Wanto Tirto, Lukman Suyatno, dan lain-lain.

(Majalah Sastra Horison, nomor 07 tahun XXIX edisi: Juli 1994. Kolom Jendela. hal:66)

Abdul Aziz Rasjid
- Dede: kalau tak kebetulan sepertinya lebih menyenangkan De. Misalkan jika dokumentasi semacam itu dengan mudah dapat kita dapatkan di Dewan Kesenian Banyumas….he..he..he…jadi dokumentasi itu tidak bertumpuk baur dengan resep-resep makanan, majalah tentang rajah tangan atau majalah tentang otomotif

Dede Dwi Kurniasih
iya ya…jadi malu. minat baca kita memang amburadul. makanya dokumentasi sepenting itu masih saja bertengger diloakan

Wisnu Shanca Bhumi
mantap,…. kejayaan yang berserak karat

Wiwit Mardianto
sastra di banyumas memang sudah usang kang, sudah mengering. jiwa-jiwa membaca anak muda berubah menjadi abu di cafe dan karaoke.

makanya layak ditempatkan di toko loak.

Abdul Aziz Rasjid
- Wisnu: “kejayaan” yang berserak dan tak terdokementsikan dengan baik itu, di sisi lain telah mengakibatkan pembersihan massal terhadap karya sastra Indonesia di Banyumas menjadi “tak” terbaca.

Abdul Aziz Rasjid
-Wiwit: mungkin kau perlu mencatat di pusimu pertemuan anak-anak muda dengan cafe dan karaoke.

Sari Handayani
Aku bersedia ziz menjadi fragmen dlm esai mu tentang cafe dan karaoke.
Tetapi tidak untuk menjadi abu&asap rokok dalan cafe ataupun karaoke.
Jadi kapan kta karaokean brg untuk mendalami esai mu selanjutnya??Hahahahahaha…..

Abdul Aziz Rasjid
aku ngikut kamu saja Sar jadwal karaokenya

Chandra Iswinarno
Skarang bgm caranya mengembangkannya agar lebih progress serta menandai zaman karaoke dan cafe dlm literer sastra bms, ziz?

Abdul Aziz Rasjid
Perlu diteliti lebih detail adakah dalam karya sastra dari banyumas yang menjadikan karaoke dan cafe sebagai kode pribadi dalam karyanya, dengan catatan kode pribadi ini belum pernah digunakan oleh penyair lainnya. Istilahnya terjadi idiolek. Untuk mengetahui hal ini karya sastra dari banyumas ya harus dibaca lebih teliti lagi. Dan lagi-lagi dokumentasi menjadi penting dalam usaha pembacaan ini.

Badruddin Emce
beruntung sy rajin mengarsipkan tulisan sendiri. memang ada beberapa yg terlepas. tp lumayanlah, sapa tahu suatu hari ada investor yg tiba-tiba ngasih modal penerbitan, atau menang dalam sebuah award sastra… :)

Dharmadi Penyair
kelemahan teman-teman banyumas adalah dalam hal dokumentasi. sehingga untuk purwokerto khususnya, tak tercatat pada tulisan mas Triyanto dalam pemetaan sastra di purwokerto. padahal, kegiatan sastra di banyumas di mulai di purwokerto sejak tahun 1970, dan sampai sekarang “oknum-oknum” nay masih bergerak di mana-mana. catat mas Azis, sejarah sastra di banyumas. kapan-kapan bisa bongkar dokumentasi di tempat saya. saam.

Imam Hamidi Antassalam
dia yang akan hidup 30 tahun ke depan lebih percaya pada dokumentasi. jadi, mulailah rajin2, mendokumentasikan segala momentum.

Badruddin Emce
Mas Imam, Cilacap, apalagi Kroya, dlm hal sastra blm ada “sekukuireng”nya Purwokerto. Jd musti lebih kerja keras. Tak hanya mndokumentasi, tp jg dlm berkaryanyata. Selebihnya urusan pribadi masing2..

Agustav Triono
Mungkin pnemuan artikel di loakan bkn satu2nya patokan dokmntsi sastra bms masa lalu terabaikan.coba qt bongkar gudang sastrawan2 Bms,spt kata p.Dharmadi. p.Bad.trnyt msh mnympn dokmntsi. Lalu siapa yg akan mmulai mmusatkan dok.yg trcecer itu?

Ahita Teguh Susilo
Sastra lahir dari sastrawan dan sastrawan terbentuk dari orang yang mengabdikan hidupnya pada sastra. Tidak selamanya seseorang bisa mengabdikan diri kepada sastra, kecuali orang-orang yang beruntung. Bagi sebagian lainnya sastra hanya bisa… beberapa tahun saja digeluti secara total, karena kesulitan hidupnya membuatnya bercerai dari sastra.
Namun walaupun hanya sebentar, itu sudah sangat berarti daripada tidak pernah sama sekali ….

Yosi M. Giri
Setelah membaca masa lampau, apa yang kau lakukan hari ini bung? Mengulang atau menginovasi?
Tapi kuberi kau 5 jempol, untukmu Wahai HB Jassin Kecil (meminjam kata Edon), untukmu Arief Budiman (seorang psikolog yang nyastra), juga untuk peru…ntunganmu (yang selalu menemukan sesuatu yang tak banyak penulis muda dapatkan). Tuhan bersama orang-orang yang bekerja dengan senang hati.

Abdul Aziz Rasjid
?- Gustav: Lalu siapa yg akan memulai memusatkan dok.yg trcecer itu? Pertanyaanmu ini Gustav, seharusnya sudah lama dan penting diajukan -untuk kemudian diperhatikan- oleh lembaga semacam dewan kesenian yang memang bertanggung jawab pada pr…oduk-produk sastra dan budaya. Tetapi jika lembaga-lembaga itu hanya jadi sekadar bangunan yang ceroboh dan hanya pandai merancang proposal, apa boleh buat, mesti ada jalan alternatif yang lain.

-Yosi: aku baru akan menata masa lampau dalam sebuah album. Agar tak menjadi semacam potret tua yang mudah lecek dan luntur, aku baru akan menempel agar tak cepat kotor.

Dharmadi Penyair
mas Ahita benar; tetapi sayang, kenapa mesti menghindari menulis puisi, Mas? tentang kesulitan hidup, saya percaya Anda tak mengalami. Anda salah satu legendaris penyair banyumas; pengakuan itu diucapkan oleh mas Wahyu Mandoko.

Dharmadi Penyair
berbicara sejarah (sastra) pasti bicara masa lalu. Lalu untuk apa? untuk melihat masa sekarang, ada perkembangan tidak? lalu bagaimana menatanya, untuk masa depan.
Banyak yang berperan untuk menghidupi sastra di banyumas, dengan caranya masi…ng-masing. Tentu saja nama Abdul Wachid BS tak boleh dilupakan, dan tentu saja nama-nama lainnya. masyarakat (sastra) banyumas perlu bersyukur ada Abdul Azis Rasjid, dan bisa juga disebutkan Yosi M Giri. tentang DKKB? saya pernah usul, untuk menghubungi sastrawan yang ada di banyumas. minta arsip karyanya, juga berita-berita kegiatan yang ada di koran dengan cara memfotocoy, seperti yang selama ini dilakukan mas Azis dn mas Yosi. selamat dan semoga menjadi dokumentator yang andal.

I’ank Kie
wah aku kerian dikirimine kie.. hehehe..
aku seneng je.. kalau ga rian aziz ini yang bikin puwokerto hangat.. //DKKB?? aku selalu mengingatnya 2004 akupun mempertanyakannya bro? huahahaha.. bukan apa2 tapi priwe sih ya.. bubarna bae apa??? …hehe..
probelmatikanya sama dengan teater sob, kau pun sudah berbicara disokaraja mbigar tentang dokumentasi.. ya kaya kuwe..
siki pokoke ayo angkatan muda pada bareng2 berbenah nyengkuyung dokumentasi tetang trasi ( teater dan puisi) aja pada pediren karo jaim jaiman

Chandra Iswinarno
yuks kita nyatakan, mumpung ada saksi hidup yang akan bercerita bagaiaman mereka menandakan zamannya saat itu dan teman2 muda yang akan meraba tandanya di masa kini…bagaimana kalau langsung bergerak tanpa basa basi seperti ini…mau kita mulai darimana?

Abdul Aziz Rasjid
Menanggapi proses perbincangan ini, setidaknya –bagi saya– terlihat, bahwa pendokumentasian menjadi hal yang tidak “sepele” sebab akan berhubungan dengan pembacaan sejauh mana perkembangan wawasan dan ucapan sastra Indonesia dari banyumas….

Di antara beberapa teman, juga tampak keinginan adanya aksi terhadap wacana yang diperbincangkan ini. Dari kesadaran yang setidaknya serupa bahwa dokumentasi penting, dan sudah ada titik terang bahwa beberapa karya masih tersimpan, saya kira bukan hal mustahil bila pendokumentasian memang segera dilakukan.

Tinggal bagaimana sekarang, saya kira, teman-teman dan tentu juga saya, saling berbagi peran menyamakan pandangn agar kerja ini menjadi kerja bersama. Karena kerja personal tentu akan melelahkan.

Akhirnya, saya kira, pembagian peran dan penyamaan pandangan membutuhkan waktu dan tempat yang tepat untuk dibicarakan dengan lebih detail.

Dharmadi Penyair
Mengharukan sekali saya membaca komentar kawan2 pada tulisan mas Azis.bgmana kalau diadakan silaturahmi sehabis lebaran fokus membicarakan tt sejarah sastra di banyumas raya?

Nanang Anna Noor
Menulis puisi tak musti harus terpaku pada media ‘koran kesombongan’. aku tetap menulis puisi, mulai dari dunia maya, tembok rumah,kulit jati, tudung becak hingga topi seorang pemulung. Bahkan akau pernah menulis sebait puisi tepat dibawah puting seorang pelacur.Tak perlu menangisi

Riyan El Jameel
jadi teringat sama satu buku yang ku temukan di rumah temenku, dan ketika coba ku cari di perpus daerah kabupaten banyumas ternyata masih tersisa sekitar 2 – 3 buku di situ. sebuah buku antologi puisi yang merupakan kumpulan dari penyair-pe…nyair banyumas, termasuk bupati banyumas pun turut serta juga dalam antologi itu. Di terbitkan seiring perayaan 50 tahun kemerdekaan indonesia, oleh penerbit purwokerto juga. itulah dia “ANTOLOGI PUISI SERAYU”.
Haru biru mengalir dalam kalbu, ketika ku lihat foto pada dinding rumah salah satu penyair/seniman dan budayawan yang turut pula menyumbangkan karyanya dalam antologi serayu itu.
beberapa foto belasan tahun yang lalu, ” Penanda tanganan Rekor MURI 50 jam pembacaan puisi estafet “. sungguh ku merindu pada suasana seperti itu, meski hadirnya rinduku adalah sekedar dari sebuah buku dan foto di dinding rumah itu..

Nanang Anna Noor Toleransi sorang Madura kepada Banyumas, Jempol 10
09 Oktober 2010
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=453418947488

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir