Kamis, 07 April 2011

Belajar dari Ketragisan Bandung Bandawasa

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Kemegahan candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta Timur masih menyisakan kemegahan dan misteri. Di tempat itu juga menyimpan kronik sejarah yang dapat dijadikan bahan ajar untuk kita, manusia Indonesia. Prambanan sebagai simbolisme perjuangan melawan kesewenangan kekuasaan yang didorong keserakahan nafsu dan ambisi manusia. Juga mengenai peliknya perjuangan cinta yang disertai hujan air mata yang menderas darah dan berakhir dengan penghianatan. Lalu apa yang musti kita pelajari dari sana?“Ya sejarah, Kang! Berkisar tentang bagaimana kentalnya feodalisme manusia Jawa.” Ucap Dhimas Gathuk yang langsung menerobos ketika saya belum sempat menjelaskan apa pun.

Sejarah? Memang demikian, mengenai sejarah manusia Jawa yang secara khusus mengenai pergolakan sosial politik kerajaan Jawa. Ketika kita menyatakan, “kerajaan feodalnya Jawa” justru memberikan kesan negatif. Pun, sebelum pembicaraan ini dimulai. Tentu saja, kesan negatif untuk manusia Jawa dan feodalisme itu sendiri. Akantetapi, dalam kesempatan ini marilah kita berpikir subjektive untuk tanpa menghakimi, dengan berusaha melihat manusia dan feodalisme sebagai suatu kesatuan. Keberadaan manusia dan feodalisme sebenarnya memiliki nilai positif, meskipun orang-orang Bolshevik terus bersikukuh kalau kehidupan manusia tanpa feodalisme adalah kehidupan yang lebih baik. Suatu impian, bahwa negara digerakkan oleh kekuatan dan kekuasaan rakyat. Toh, dalam struktur pemerintahannya pun, akan tetap menghasilkan feodalisme.

Inti dari sistem feodal tidak hanya mengacu pada tuan tanah, maupun penggolongan manusia borjouis dan proletar. Lebih jauh dari itu semua, feodalisme memiliki hakekat mengenai kepemimpinan di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam negara demokrasi, kapital sampai dengan komunis, sistem feodal masyarakat akan terus ada. Pandangan ini karena meninjau dari segi esensi mengenai feodalisme itu sendiri yang berupa: nilai kepemimpinan. Manusia yang hidup berkelompok, harus ada, salah seorang dari anggota manusia yang maju sebagai pemimpin. Perlu dijadikan bahan perbincangan kali ini adalah bersangkutan dengan nilai kepemimpinan; kepemimpinan yang seperti apa? Mestikah seorang agamawan muncul sebagai pemimpin?

Menurut saya, percuma juga ada kepemimpinan jikalau berbagai penindasan – yang secara langsung maupun tidak langsung, dan ketidak-adilan terus ada untuk menyiksa manusia yang ada di dalam kelompok masyarakat tersebut.

Pasti, orang yang memimpin adalah orang yang memiliki kekuasaan, sebab salah satu pendorong terlaksananya suatu kepemimpinan adalah aspek kekuasaan. Manusia yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, jika tidak memiliki kekuasaan tidak bisa menjalankan kepemimpinan yang dimiliki.

“Tapi bisa memimpin dengan memberikan contoh, menjadi teladan dengan memimpin dirinya sendiri!” sahut Kangmas Gathak yang kelihatannya sudah mulai gerah.

Itu idealnya, dan terkadang tidak menjadi alternatif dalam dunia perpolitikan suatu negara yang membutuhkan adanya kekuasaan dan pengakuan. Kepemimpinan sebagai kekuasaan, yang mana memiliki sifat melindungi, menjadi pengayom manusia yang dipimpin, melindungi kehormatannya sendiri sebagai pemimpin, menegakkan keadilan, dan serta mewujudkan kehidupan yang selamat.

Prabu Damar Maya sebagai simbolisme kepemimpinan dan kekuasaan kerajaan Pengging. Ketika kerajaan mendapati suatu ancaman dari Prabu Baka yang ambisius akan kekuasaan, Prabu Damar Maya bertindak. Damar Maya dengan sekuat tenaga melindungi wilayah kerajaannya, yang secara tidak langsung sebagai proses perlindungan terhadap seluruh rakyat yang ada di wilayah itu. Perlu kita ingat, kalau kerajaan Pengging adalah kerajaan ideal, yang mana kehidupan rakyatnya dijalankan dengan penuh keadilan, makmur, tentram dan sentosa. Wilayah Pengging sendiri adalah wilayah yang subur, kekayaan berlimpah ruah yang akhirnya menjelma sebagai godaan yang terus merayu Prabu Baka untuk menguasai.

Hal yang sungguh lumrah, sikap yang dimunculkan oleh Prabu Baka. Karena, meskipun Prabu berwujud Raksasa tetap memiliki sifat alamiah manusia, tidak pernah puas walau sudah memiliki satu kerajaan. Dalam kisah ini, Prabu Baka hadir sebagai simbol dari kejahatan, pemerintahan yang korup dan sewenang-wenang, tidak mampu menjalankan sistem kekuasaan untuk melindungi rakyat Baka. Karena kepemimpinan yang lemah dari kekuasaan Baka, rakyat pun tidak terlindungi bahkan dari diri Prabu itu sendiri.

“Itu artinya, pemimpin seperti Prabu Baka itu orang lemah. Sikapnya itu tidak mencerminkan kekuasaan yang dimiliki.” Ungkap Kangmas Gathak sambil merokok.

“Heh? Mosok seorang Prabu tidak memiliki kekuasaan, Kang?” sahut adik kami, Dhimas Gathuk.

“Kekuasaan itu melindungi yang dikuasai. Melindungi dari berbagai ancaman yang dapat membuat rakyat – atau yang dikuasai, itu menderita. Melindungi sekuat tenaga dan upaya, bahkan melindungi dari diri sendiri. Berani untuk mengorbankan kepentingannya sendiri demi keberlangsungan kebahagiaan orang-orang yang dikuasai. Itu, baru namanya kekuasaan.” Kangmas Gathak menjelaskan.

Dalam konteks ini, memang benar apa yang sudah dijabarkan Kangmas Gathak, hakekat dari kekuasaan adalah perlindungan dan kepemimpinan. Memimpin yang juga berarti melindungi, sebab nasib seluruh manusia yang ada di bawah kekuasaannya bergantung dari bagaimana pemimpin itu menjalankan fungsinya. Jikalau ada pemimpin yang tidak melindungi, sama halnya kita dipaksa untuk masuk ke dalam api. Kepemimpinan yang tidak melindungi sama halnya dengan pembinasahan, pembantaian dan itu bukan esensi dari kepemimpinan dan kekuasaan.

Manusia yang tidak mampu melawan dirinya sendiri dapat dipandang sebagai sebagai manusia lemah, sebab tidak mampu menguasai (memimpin) dirinya sendiri. Lantas, bagaimana bisa diandalkan untuk memimpin orang banyak?

Prabu Damar Maya beraktivitas dalam rangka menjalankan sistem kepemimpinannya, bertindak menghalau invansi Prabu Baka. Bersebab itu, Prabu Damar Maya mengutus anaknya sendiri, Bandung Bandawasa untuk berperang. Maju dan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan rakyat Pengging dari kekuasaan Prabu Baka yang merusak. Sebab, dalam cerita ini digambarkan mengenai hasil dari kekuasaan yang merusak yang disimbolkan melalui kerajaan Baka. Diceritakan, rakyat Baka mengalami kesengsaraan karena dipaksa mengikuti nafsu rajanya ketika berambisi menaklukkan Pengging.

Dari fenomena ini dapat kita lihat bagaimana peran Prabu Baka yang tidak mampu menjadi pemimpin, toh walau memiliki kekuasaan. Dan ketika ada seorang pemimpin yang hidup enak, berlimpah, bahagia, bahkan menjadi tambah gemuk, namun kondisi rakyatnya kembang kempis, sehari makan lalu sehari tidak makan, maka pemimpin seperti ini bukanlah seorang pemimpin. Dia adalah Prabu Baka yang menitis dalam diri pemimpin.

“Walau pemimpin itu mendapatkan wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk dengan cepat.

Seperti itu.

“Walau sudah terbukti dua kali mendapat wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk yang berusaha mempolitisir perbincangan untuk menunjuk hidung panjang seorang pemimpin yang pernah operasi tahi lalat.

“Hahaha…” Kangmas Gathak tertawa saja.

Meskipun Tuhan Semesta Alam telah menunjuk seseorang itu menjadi pemimpin, tidak lantas seorang Prabu berhak untuk menjalankan pemerintahan dengan sewenang-wenang. Membiarkan rakyat yang dititipkan Tuhan Semesta Alam untuk jatuh di dalam penderitaan sama halnya dengan menghina kemudian menantang pemilik rakyat itu, yang juga pemilik kekuasaan yang sebenarnya: Tuhan. Perlu kita memahami, bahwa kepemimpinan yang dititipkan Tuhan Semesta Alam adalah kepemimpinan yang berhati nurani, bukan bernafsu naluri. Ibaratnya, meskipun seorang Prabu harus mati, hal yang terpenting adalah keselamatan rakyatnya.

“Ah, si Bandawasa memang menang dalam peperangan, tapi dia juga kalah.”

Itulah permasalahan mengenai kekuasaan!

Bandung Bandawasa memang sudah memenangkan peperangan, pun akhirnya dengan sendirinya mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan atas wilayah dan kerjaan Baka yang sudah berada di bawah kakinya. Sampai akhirnya, Bandung Bandawasa menemukan perempuan cantik, langsing dan cantik bernama Rara Jonggrang. Melalui pertemuan ini, Bandung Bandawasa merasa mendapatkan giliran untuk menguasai kekuasaan, yang secara tidak langsung menempati posisi Prabu Baka yang sudah dikalahkan.

Lagi-lagi, manusia yang berkuasa berusaha memanfaatkan kekuasaan itu untuk memenuhi hasrat diri yang termanifestasikan ke dalam simbol, yaitu Rara Jonggrang itu sendiri. Saya membaca bahwa keberadaan Rara Jonggrang merupakan pengejawantahan dari hasrat manusia. Yang mana selalu menginginkan hal yang indah, menyenangkan, dan tentu saja nikmat. Aspek ini merujuk pada keinginan akan kesenangan duniawi, yang mana kecantikan Jonggrang memancar dari tubuh (duniawi) yang ditangkap oleh pandangan (baca: ranjau hawa nafsu) Bandung Bandawasa.

Bandung Bandawasa berhadapan dengan keinginannya sendiri, untuk menikahi (baca juga: menikmati) kecantikan Jonggrang yang menggiurkan dan menggairahkan. Untuk mencapai hasrat itu, Bandung Bandawasa dihadapkan pada dua syarat yang harus terpenuhi dalam rangka mendapatkan kenikmatan duniawi. Pertama, mengenai pembuatan Sumur Jalatunda yang mana dapat dipahami sebagai lubang gelap dari keinginan (nafsu) manusia yang menjebak. Seperti ketika Bandawasa memasuki sumur Jalatunda, langsung dikubur oleh Patih Gupolo atas perintah Jonggrong. Bandawasa sadar bahwa dirinya telah dipermainkan namun masih saja terbujuk hawa nafsu untuk membuat seribu candi, sebagai persyaratan yang kedua. Seribu candi yang diinginkan Jonggrang dapat kita maknai sebagai seribu keinginan manusia.

“Kenapa Jonggrang harus curang yang jutru membuat seribu candi tidak selesai?” Kangmas Gathak dan Dhimas Gathuk bersepakat menanyakan hal yang sama.

Inilah, penghianatan dari bujuk rayu keinginan (nafsu) manusia. Bandawasa hanya bisa menyelesaikan 999 buah candi, karena keinginan manusia tidak pernah selesai sehingga Jonggrang menyiasati agar tidak genap seribu. Kalau misalkan saja sudah genap seribu candi, berarti keinginan manusia telah selesai, namun sifat dari keinginan manusia itu sendiri tidak pernah selesai sampai mati, sehingga sikap Jonggrang dapat kita pahami. Keadaan ini nampaknya disadari Bandung Bandawasa yang menyelesaikan keinginannya dengan merubah Rara Jonggrang menjadi candi yang keseribu. Artinya kesenangan (hawa nafsu) harus dibunuh untuk mencapai kekuasaan yang sebenarnya, karena sebelum keinginan manusia itu mati, tidak akan mencapai kekuasaan yang sebenarnya, bersebab diri manusia itu sendiri masih dibawah kekuasaan hawa nafsu (keinginan).

“Nah, itulah yang dipesankan Nabi, bahwa memerangi hawa-nafsu, diri manusia sendiri adalah perang terbesar setiap manusia.” Sahut Kangmas Gathak dalam senyuman bangga.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Kamis Pon, 11 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir