Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/
Karena berpotensi mengobarkan semangat kebangsaan, pemerintah kolonial membatasinya.
Di tengah geliat dunia sastra tanah air, Sastra Melayu Tionghoa seolah menjadi sebuah bagian yang terlupa. Nama-nama seperti Kwee Tek Hoay, Thio Tjien Boen atau Gouw Peng Liang seperti terkunci rapat dalam ruang kedap suara.
Padahal berdasarkan catatan historik peneliti Perancis, Claudine Salmon keberadaan Sastra Melayu Tionghoa sudah ada sejak tahun 1870. Jumlah karya yang dihasilkan pun cukup banyak yaitu sekitar 3005 dan melibatkan 806 penulis.
Menurut catatan kritikus sastra Prof Dr A Teeuw, jumlah karya yang dihasilkan para penulis Tionghoa tersebut jauh lebih banyak dibanding angkatan Balai Pustaka. Dalam periode setengah abad, 175 penulis angkatan Balai Pustaka "hanya" berhasil melahirkan 400 karya.
Pada 1903 Sastra Melayu Tionghoa sudah menerbitkan dua prosa berjudul : Oey Se karya Thio Tjien Boen dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang. Sementara karya sastra terbitan Balai Pustaka baru muncul dua puluh tahun setelahnya.
Namun dengan dalil penggunaan bahasa Melayu rendah yang notabene bahasa pasar, Sastra Melayu Tionghoa terlempar dari kanon sastra Indonesia modern. Terbitan Balai Pustaka yang menggunakan bahasa Melayu tinggilah yang dianggap sebagai tonggak kelahiran sastra Indonesia modern.
Sementara Sastra Melayu Tionghoa hanya dianggap sebagai sastra berbahasa daerah. Setara dengan karya-karya lain yang berbahasa Sunda atau Jawa. "Marjinalisasi terhadap Sastra Melayu Tionghoa bersifat politis," kata kritikus sastra Ibnu Wahyudi di Jakarta, Selasa (20/1).
Ia menuturkan, ketakutan pemerintah kolonial Belanda akan bangkitnya nasionalisme merupakan salah satu sebab pengguntingan Sastra Melayu Tionghoa dari khasanah sastra. Beberapa karya Sastra Melayu Tionghoa memang berpotensi mengobarkan semangat kebangsaan bagi pembacanya.
Kemudian untuk mengontrol karya-karya yang terbit Belanda mendirikan Balai Pustaka. Sehingga karya-karya yang dianggap berbahaya atau berseberangan dengan kepentingan pemerintah pada saat itu tidak dapat beredar luas.
Misalnya saja novel Drama di Boven Digoel karya Kwee Tek Hoay yang bertutur mengenai masalah dasar dan kontradiksi pokok masyarakat jajahan pada kurun 1920-an. Setting novel ini dianggap luar biasa karena mengangkat peristiwa sejarah pemberontakan November 1926 sehingga mengaspirasikan semangat keindonesiaan.
Selain itu juga terdapat karya-karya Thio Tjin Boen yang mempunyai ciri khas penggambaran masyarakat peranakan Tionghoa dalam interaksi dengan etnis lain, seperti Jawa, Sunda, Arab dan sebagainya.
Thio Tjin Boen menyatakan konflik antara masyarakat totok yang menyebut dirinya singke' dengan golongan peranakan karena kebiasaan dan pola pikir yang berbeda. Gambaran sejarah lain juga terungkap jelas dalam kisah-kisah tentang perkembangan organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK), potret perempuan di zaman kolonial, organisasi perempuan yang sulit berkembang, dan emansipasi kaum perempuan mendobrak tradisi untuk meraih cita-cita.
Oleh sebab itu, Ibnu menilai, penggunaan bahasa Melayu rendah sebagai alasan penolakan terhadap Sastra Melayu Tionghoa amat mengada-ada. Menurut dia, penolakan tersebut terjadi semata-mata karena keberadaan para penulisnya yang notabene China. "Buktinya ketika menggunakan nama pribumi mereka dapat diterima," ujar pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini.
Diskriminasi terhadap Sastra Melayu Tionghoa ini berlanjut hingga Indonesia merdeka. Bahkan diresmikannya bahasa Indonesia secara politik makin mempersempit ruang gerak masyarakat Tionghoa untuk mengartikulasikan kepentingannya secara leluasa.
Lalu ibarat mesin tua, pergerakan Sastra Melayu Tionghoa makin lama semakin terseok. Keberadaannya hanya menempati posisi "subkultur", setara dengan genre sastra lokal. "Ini merupakan suatu ironi dan pengingkaran sejarah," kata Ibnu.
Lebih lanjut dia mengatakan, perlu dilakukan reposisi pengertian sastra Indonesia modern. ""Padahal kalau mau konsekuen berbicara sastra Indonesia semestinya adalah karya sastra yang lahir setelah 17 Agustus 1945."
Ciri Khas
Secara karakteristik karya Sastra Melayu Tionghoa memiliki ciri khas tertentu baik dari segi tema maupun struktur sintaksis yang meliputi corak dan alur cerita dan gaya perwatakan tokohnya. "Biasanya mereka bertuturkan mengenai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Tionghoa seperti hubungan kekeluargaan atau bagaimana mereka berinteraksi dengan kalangan berbeda etnis," kata pengamat sastra Jakob Soemardjo kepada Jurnal Nasional.
Biasanya dalam karya Sastra Melayu Tionghoa, keadaan ekonomi keluarga inti seringkali diilustrasikan panjang lebar, terutama bila terjadi kebangkrutan dan kegagalan dalam aktivitas perdagangan mereka.
Salah satu karya yang mengangkat hal itu dengan baik adalah Dengen Duwa Cent Jadi Kaya karya Thio Tjin Boen. Karya yang diterbitkan pada 1920 ini mencoba memaparkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Tionghoa untuk menepis kesalahpahaman.
Maklum ketika itu pemerintah kolonial Belanda tengah menerapkan segregasi berdasarkan suku bangsa. Di mana penduduk Nusantara dibagi dalam tiga golongan, yaitu Eropa atau yang dianggap sederajat, Timur Asing (Vreemde Oosterlingen-Red), dan Bumiputra.
Kaum Belanda, Indo Belanda, dan Eropa serta Jepang pada awal abad ke-20 menjadi warga kelas satu. Adapun warga Tionghoa, Arab, India, dan kulit berwarna non-Bumiputra dijadikan bemper pemisah dengan anak negeri Bumiputra yang menjadi kelompok terbawah dalam strata masyarakat kolonial Belanda.
Kedudukan masyarakat Tionghoa yang berada dilevel yang lebih tinggi dibanding masyarakat pribumi kerapkali menimbulkan kecemburuan sosial. Konon kecemburuan itu terus terbawa hingga Indonesia merdeka, sehingga masyarakat Tionghoa kerapkali mendapatkan perlakuan berbeda.
Padahal kalau membaca karya-karya Sastra Melayu Tionghoa dapat terlihat jelas bagaimana pergulatan masyarakat Tionghoa mencari identitas. Ini menjadi fakta jika keberadaan masyarakat Tionghoa di Indonesia sangat beragam. Ada yang berorientasi ke tanah leluhur, memuja kolonialisme Belanda atau berusaha menjadi orang Indonesia.
Kekerasan dan perselingkuhan adalah tema lain yang mendominasi karya Sastra Melayu Tionghoa. "Tema tersebut banyak diangkat mengingat kondisi pendidikan masyarakat pada masa itu yang masih terbelakang," ujar Ibnu.
Segregasi juga membuat tema perkawinan antargolongan menjadi sebuah tema yang "seksi" dan menarik. Salah satu karya yang dianggap menonjol ketika itu adalah Boenga Roos dari Tjikembang, karya Kwee Tek Hoay.
Boenga Roos dari Tjikembang bertutur mengenai percintaan antargolongan, antara perempuan Sunda bernama Nyai Marsiti dengan Oh Ay Tjeng, seorang administratur perkebunan yang berdarah Tionghoa.
Lewat karyanya Kwee Tek Hoay berusaha mengkritisi pemerintah kolonial Belanda. Ia berusaha menyadarkan bahwa perkawinan antaretnis adalah sesuatu yang sederhana dan tidak perlu diperumit dengan politik apartheid.
Pengaruh
Meski banyak yang menafikan, tak bisa dipungkiri jika keberadaan karya Sastra Melayu Tionghoa memberikan pengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia modern. "Salah satu buktinya adalah banyak karya sastra Indonesia modern yang mirip dengan karya Sastra Melayu Tionghoa," kata Ibnu.
Pernyataan Ibnu tersebut didukung oleh disertasi John B. Kwee yang berjudul Chinesse Malay Literature of The Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942 seperti dikutip (Faruk dkk, 200:40-42).
Di sana disebutkan cerita penyerahan penebusan "Sitti Nurbaya" atas utang ayahnya dipengaruhi oleh Allah yang Toelen karya Om Kim Tat. Roman Percobaan Setia sama dengan Saltima karya Tio Ie Soei. Roman Salah Asuhan sama dengan karya Vjoo Cheong Seng yang berjudul Nona Olanda sebagai Istri Tionghoa. Salah Pilih sama dengan karya Tan Boen Kim yang berjudul Nona Iam Im. Dalam cerita ini terdapat tokoh wanita yang berpekerti buruk karena telah mengecap pendidikan Belanda.
Karya lainnya adalah Gadis Modern dan novel Chang Mung Tse yang juga mempunyai judul yang sama. Karya Tak Disangka sama dengan Apa Mesti Bikin karya Aster yang terbit pertama kali tahun 1930. Novel Manusia Baru sama dengan Merah karya Liem King Ho.
Dalam catatannya John Be Kwee menemukan sekitar 14 karya Sastra Melayu Tionghoa yang memiliki andil dalam proses penciptaan karya-karya sastra Indonesia modern termasuk yang telah disebutkan tadi.
Dilihat dari latar biografis, pengarang Indonesia waktu itu memang memiliki kesamaan dengan pengarang Tionghoa yakni sama-sama mengenyam pendidikan Belanda. Sehingga kesamaan itu tidak bisa dilihat semata-mata karena pengaruh Sastra Melayu Tionghoa, harus dipertimbangkan pula proses dan pergulatan batin pengarang melihat kondisi sosial masyarakat masa itu.
Ibnu melihat, setelah kemerdekaan ada beberapa karya yang turut terpengaruh oleh Sastra Melayu Tionghoa. Di antaranya karya yang dihasilkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Dalam Tetralogi Pulau Buru-nya, Pramoedya menggambarkan secara simpatik tokoh-tokoh berdarah Tionghoa.
Dalam karyanya Pramoedya menuliskan karakter masyarakat Tionghoa yang terbuka, egaliter, dan responsif terhadap dunia pergerakan. Seperti yang diketahui Pramoedya memang menolak keberadaan kultur aristokratis yang dipertontonkan para ambtenaar dan kaum priyayi Jawa.
Pramoedya juga berhasil menggambarkan secara gamblang politik identitas. Ia berhasil mengangkat imaji identitas ke-Tionghoa-an dalam kualitas cerita yang kental dan pekat dengan intrik-intrik politis yang mencengangkan.
Selain Pramoedya, pengarang lain yang terpengaruh oleh Sastra Melayu Tionghoa adalah Remy Sylado lewat novelnya yang berjudul Ca Bau Kan. Remy menggambarkan peran sebagian masyarakat Tionghoa dalam proses perjuangan dan pergerakan mencapai kemerdekaan.
Terlukis dengan indah oleh Remy bagaimana tokoh Tionghoa hidup berdampingan dengan seorang pribumi. Keduanya saling mengisi dengan menghargai perbedaan. Sebuah nilai kemanusiaan yang mencerahkan diharapkan terus tumbuh subur di bumi Indonesia.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Januari 2009
Sabtu, 06 Desember 2008
9 Pertanyaan untuk Richard Oh: Menggenggam Dunia lewat Buku
Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/
DEMI kecintaannya pada buku, Richard Oh rela meninggalkan bisnis periklanan yang sudah ia tekuni selama belasan tahun. Kemudian lelaki kelahiran Tebingtinggi, 30 Oktober 1959, ini mendirikan sebuah toko buku. Sebuah impian lama yang masih tersimpan rapi di dalam benaknya.
Tak hanya itu, sebagai bukti kecintaannya pada dunia kesusasteraan, pemilik toko buku Quality Buyers (QB) World ini menyelenggarakan Khatulistiwa Literary Award (KLA). Sebuah ajang yang bertujuan mendukung proses kreatif para penulis. Sayangnya langkah Richard tersebut tidak hanya menuai pujian, sejumlah kecaman terhadap KLA juga dialamatkan kepada ayah tiga orang anak ini. Berikut petikan obrolan Richard dengan Jurnal Nasional di Galeri Cemara, Jakarta, beberapa waktu lalu.
1. Apa yang menarik Anda ke dunia sastra, bukankah Anda sudah punya bisnis yang mapan?
Sejak kecil saya gemar membaca. Bagi seorang anak yang hidup di kota kecil seperti saya, buku menjadi sebuah jendela untuk melihat dunia luar. Saya selalu menyisihkan uang jajan supaya dapat membeli buku.
Saya memiliki pengalaman berkesan ketika masih kecil. Waktu itu saya menyukai buku Tuanku Rao. Buku itu termasuk langka, diterbitkan tahun 1965 dan bercerita mengenai masuknya Islam ke Tanah Batak. Suatu saat di sebuah bazar buku, saya melihat buku tersebut. Kemudian saya masuk dan bertanya pada penjaganya berapa harga buku itu. Kemudian ia memberikan buku itu pada saya dan berkata, "Aku kenal kau, kau amat mencintai buku. Ini adalah dari aku untukmu."
2. Apa keluarga Anda waktu itu mendukung minat Anda akan kesusasteraan?
Seperti orang keturunan pada umumnya, keluarga tidak terlalu mendukung saya untuk aktif di dunia kesenian. Mereka lebih senang jika saya menggeluti bisnis dan mencari kesuksesan secara materi.
Kemudian setelah menikah, saya melanjutkan pendidikan saya di Sastra Inggris dan Pengarangan dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Ketika itu keluarga saya setuju-setuju saja, meski pasti ada kompleksitas yang harus dihadapi.
3. Sepulangnya Anda dari Amerika, Anda langsung berkecimpung di dunia sastra?
Tidak. Pulang dari Amerika saya bekerja di beberapa perusahaan periklanan. Beberapa tahun kemudian saya mendirikan perusahaan sendiri. Cukup sukses, kami memiliki ge-dung sendiri dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan.
Dunia periklanan cukup menarik karena di sana saya dituntut untuk kreatif dan bermain-main dengan imajinasi. Tetapi, entah kenapa, setelah menjalaninya selama 15 tahun saya mulai merasa jenuh.
Puncaknya pada kerusuhan 1998, saya berpikir untuk mengubah hidup saya. Saya ingin mengisi hidup dengan hal-hal yang saya senangi, yaitu buku. Kemudian saya membuka Quality Buyers (QB) World dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman sastrawan dan film maker.
4. Apa pasar QB World cukup menjanjikan?
Tidak juga. Pasar buku-buku impor kecil, saya sudah buktikan, sebesar apa pun toko yang didirikan penghasilannya tetap sama. Meski secara ekonomi tidak menghasilkan banyak uang, saya cukup senang karena bisa memuaskan obsesi lama saya.
Saat ini banyak pemodal besar seperti Gajah Tunggal (Kinokuniya), Aksara dan nggak lama lagi grupnya Lippo bermain di ranah yang sama. Saya senang karena pencinta buku akan memiliki banyak pilihan. Tetapi, saya sedikit kecewa dengan pemilihan buku mereka yang kurang selektif dan hanya memenuhi kebutuhan kalangan itu-itu saja.
5. Apa yang melatarbelakangi Anda membuat Khatulistiwa Literary Award (KLA)?
Konsep awal yang saya bicarakan bersama Sutardji Calzoum Bahri, Danarto, dan seorang teman dari Jepang adalah membuat penghargaan sastra yang diberikan oleh kalangan sastrawan itu sendiri. Tujuannya mendorong para penulis untuk tetap berkarya.
Hadiah yang kami berikan juga cukup besar yaitu Rp100 juta untuk kategori puisi dan prosa, serta hadiah Rp25 juta untuk penulis pemula. Hadiah tersebut cukup bagi teman-teman agar setidaknya dapat berkonsentrasi selama setahun untuk menghasilkan karya.
Saya sering mendengar dari teman-teman tentang award ini dan award itu yang seringkali hadiahnya dipotong. Umpamanya hadiahnya Rp50 juta, tapi ternyata yang turun cuma Rp5 juta.
6. Bagaimana mekanisme penilaiannya?
KLA memiliki mekanisme penilaian sendiri. Karya-karya dinilai secara bertahap oleh beberapa dewan juri yang berasal dari kalangan sastrawan yang karyanya tidak menjadi peserta, akademisi serta wartawan yang medianya memiliki rubrik budaya.
Kalau panitia sudah memilih ketua juri, ketua terpilih bertanggung jawab untuk memilih anggota juri. Kemudian ada tiga tahap pemilihan, tahap pertama sekian orang juri memilih sekian buku yang telah diterbitkan dalam kurun waktu 12 bulan, mulai dari Juni tahun lalu sampai Juni tahun sekarang.
Semua karya harus orisinal belum pernah diterbitkan di mana-mana, dalam bentuk sastra, kategori sastra dan tidak merupakan terjemahan, atau perkembangan dari cerita lain. Setelah tahap pertama sepuluh karya dipilih, tahap kedua penilaian dilakukan oleh kelompok juri yang berbeda lagi dan mereka akan memilih lima dari sepuluh karya di tahap pertama. Pada tahap ketiga akan ditentukan siapa pemenangnya, juga oleh juri berbeda dan diumumkan pada akhir tahun.
7. Bagaimana tanggapan Anda terhadap pihak-pihak yang mengecam diselenggara-kannya KLA?
Saya pikir pihak-pihak yang mengecam penyelenggaraan KLA tidak mengerti mengenai apa yang ingin kita ciptakan. Tetapi, saya sadar tidak ada penghargaan yang pemenangnya disepakati oleh semua pihak.
Banyak yang mengkritik macam-macam, komentar macam-macam tetapi itu semua saya anggap seperti animo yang belum tersalurkan. Kami hanya ingin memberikan hadiah yang cukup besar pada penulis, sehingga dengan hadiah itu mereka bisa berkonsentrasi pada karyanya.
8. Apakah kritikan itu berpengaruh pada Anda?
Iyalah. Capek juga delapan tahun bikin penghargaan nggak dihargain. Dikritik ini itu, yang menang juga sama komentarnya nyinyir. Padahal, saya sudah berusaha untuk terbu-ka.
Tahun depan saya mau mengubah sistem penilaian. Saya mau meniru penghargaan Goncourt yang ada di Prancis, di mana saya mengundang beberapa seniman yang capable untuk menilai sejumlah karya. Lalu mereka menentukan pemenangnya. Anggota dewan juri tidak dipublikasikan, yang dipublikasikan hanya ketuanya.
9. Apakah Anda sendiri seorang penulis sejati?
Apa yang saya lakukan selalu berkaitan dengan kreativitas terutama di bidang kepenu-lisan. Karena, sejak dulu saat sekolah di Amerika saya belajar sastra dan kepengarangan. Saya sendiri menulis tiga novel dalam bahasa Inggris. Kecenderungan saya selalu mengarah kepada kreasi yang menggunakan kata-kata, menciptakan sesuatu dengan medium penulisan.
http://jurnalnasional.com/
DEMI kecintaannya pada buku, Richard Oh rela meninggalkan bisnis periklanan yang sudah ia tekuni selama belasan tahun. Kemudian lelaki kelahiran Tebingtinggi, 30 Oktober 1959, ini mendirikan sebuah toko buku. Sebuah impian lama yang masih tersimpan rapi di dalam benaknya.
Tak hanya itu, sebagai bukti kecintaannya pada dunia kesusasteraan, pemilik toko buku Quality Buyers (QB) World ini menyelenggarakan Khatulistiwa Literary Award (KLA). Sebuah ajang yang bertujuan mendukung proses kreatif para penulis. Sayangnya langkah Richard tersebut tidak hanya menuai pujian, sejumlah kecaman terhadap KLA juga dialamatkan kepada ayah tiga orang anak ini. Berikut petikan obrolan Richard dengan Jurnal Nasional di Galeri Cemara, Jakarta, beberapa waktu lalu.
1. Apa yang menarik Anda ke dunia sastra, bukankah Anda sudah punya bisnis yang mapan?
Sejak kecil saya gemar membaca. Bagi seorang anak yang hidup di kota kecil seperti saya, buku menjadi sebuah jendela untuk melihat dunia luar. Saya selalu menyisihkan uang jajan supaya dapat membeli buku.
Saya memiliki pengalaman berkesan ketika masih kecil. Waktu itu saya menyukai buku Tuanku Rao. Buku itu termasuk langka, diterbitkan tahun 1965 dan bercerita mengenai masuknya Islam ke Tanah Batak. Suatu saat di sebuah bazar buku, saya melihat buku tersebut. Kemudian saya masuk dan bertanya pada penjaganya berapa harga buku itu. Kemudian ia memberikan buku itu pada saya dan berkata, "Aku kenal kau, kau amat mencintai buku. Ini adalah dari aku untukmu."
2. Apa keluarga Anda waktu itu mendukung minat Anda akan kesusasteraan?
Seperti orang keturunan pada umumnya, keluarga tidak terlalu mendukung saya untuk aktif di dunia kesenian. Mereka lebih senang jika saya menggeluti bisnis dan mencari kesuksesan secara materi.
Kemudian setelah menikah, saya melanjutkan pendidikan saya di Sastra Inggris dan Pengarangan dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Ketika itu keluarga saya setuju-setuju saja, meski pasti ada kompleksitas yang harus dihadapi.
3. Sepulangnya Anda dari Amerika, Anda langsung berkecimpung di dunia sastra?
Tidak. Pulang dari Amerika saya bekerja di beberapa perusahaan periklanan. Beberapa tahun kemudian saya mendirikan perusahaan sendiri. Cukup sukses, kami memiliki ge-dung sendiri dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan.
Dunia periklanan cukup menarik karena di sana saya dituntut untuk kreatif dan bermain-main dengan imajinasi. Tetapi, entah kenapa, setelah menjalaninya selama 15 tahun saya mulai merasa jenuh.
Puncaknya pada kerusuhan 1998, saya berpikir untuk mengubah hidup saya. Saya ingin mengisi hidup dengan hal-hal yang saya senangi, yaitu buku. Kemudian saya membuka Quality Buyers (QB) World dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman sastrawan dan film maker.
4. Apa pasar QB World cukup menjanjikan?
Tidak juga. Pasar buku-buku impor kecil, saya sudah buktikan, sebesar apa pun toko yang didirikan penghasilannya tetap sama. Meski secara ekonomi tidak menghasilkan banyak uang, saya cukup senang karena bisa memuaskan obsesi lama saya.
Saat ini banyak pemodal besar seperti Gajah Tunggal (Kinokuniya), Aksara dan nggak lama lagi grupnya Lippo bermain di ranah yang sama. Saya senang karena pencinta buku akan memiliki banyak pilihan. Tetapi, saya sedikit kecewa dengan pemilihan buku mereka yang kurang selektif dan hanya memenuhi kebutuhan kalangan itu-itu saja.
5. Apa yang melatarbelakangi Anda membuat Khatulistiwa Literary Award (KLA)?
Konsep awal yang saya bicarakan bersama Sutardji Calzoum Bahri, Danarto, dan seorang teman dari Jepang adalah membuat penghargaan sastra yang diberikan oleh kalangan sastrawan itu sendiri. Tujuannya mendorong para penulis untuk tetap berkarya.
Hadiah yang kami berikan juga cukup besar yaitu Rp100 juta untuk kategori puisi dan prosa, serta hadiah Rp25 juta untuk penulis pemula. Hadiah tersebut cukup bagi teman-teman agar setidaknya dapat berkonsentrasi selama setahun untuk menghasilkan karya.
Saya sering mendengar dari teman-teman tentang award ini dan award itu yang seringkali hadiahnya dipotong. Umpamanya hadiahnya Rp50 juta, tapi ternyata yang turun cuma Rp5 juta.
6. Bagaimana mekanisme penilaiannya?
KLA memiliki mekanisme penilaian sendiri. Karya-karya dinilai secara bertahap oleh beberapa dewan juri yang berasal dari kalangan sastrawan yang karyanya tidak menjadi peserta, akademisi serta wartawan yang medianya memiliki rubrik budaya.
Kalau panitia sudah memilih ketua juri, ketua terpilih bertanggung jawab untuk memilih anggota juri. Kemudian ada tiga tahap pemilihan, tahap pertama sekian orang juri memilih sekian buku yang telah diterbitkan dalam kurun waktu 12 bulan, mulai dari Juni tahun lalu sampai Juni tahun sekarang.
Semua karya harus orisinal belum pernah diterbitkan di mana-mana, dalam bentuk sastra, kategori sastra dan tidak merupakan terjemahan, atau perkembangan dari cerita lain. Setelah tahap pertama sepuluh karya dipilih, tahap kedua penilaian dilakukan oleh kelompok juri yang berbeda lagi dan mereka akan memilih lima dari sepuluh karya di tahap pertama. Pada tahap ketiga akan ditentukan siapa pemenangnya, juga oleh juri berbeda dan diumumkan pada akhir tahun.
7. Bagaimana tanggapan Anda terhadap pihak-pihak yang mengecam diselenggara-kannya KLA?
Saya pikir pihak-pihak yang mengecam penyelenggaraan KLA tidak mengerti mengenai apa yang ingin kita ciptakan. Tetapi, saya sadar tidak ada penghargaan yang pemenangnya disepakati oleh semua pihak.
Banyak yang mengkritik macam-macam, komentar macam-macam tetapi itu semua saya anggap seperti animo yang belum tersalurkan. Kami hanya ingin memberikan hadiah yang cukup besar pada penulis, sehingga dengan hadiah itu mereka bisa berkonsentrasi pada karyanya.
8. Apakah kritikan itu berpengaruh pada Anda?
Iyalah. Capek juga delapan tahun bikin penghargaan nggak dihargain. Dikritik ini itu, yang menang juga sama komentarnya nyinyir. Padahal, saya sudah berusaha untuk terbu-ka.
Tahun depan saya mau mengubah sistem penilaian. Saya mau meniru penghargaan Goncourt yang ada di Prancis, di mana saya mengundang beberapa seniman yang capable untuk menilai sejumlah karya. Lalu mereka menentukan pemenangnya. Anggota dewan juri tidak dipublikasikan, yang dipublikasikan hanya ketuanya.
9. Apakah Anda sendiri seorang penulis sejati?
Apa yang saya lakukan selalu berkaitan dengan kreativitas terutama di bidang kepenu-lisan. Karena, sejak dulu saat sekolah di Amerika saya belajar sastra dan kepengarangan. Saya sendiri menulis tiga novel dalam bahasa Inggris. Kecenderungan saya selalu mengarah kepada kreasi yang menggunakan kata-kata, menciptakan sesuatu dengan medium penulisan.
Sabtu, 25 Oktober 2008
Menggali Lagi Warna Lokal
Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/
Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia.
Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, dll.
Pada karya-karya ini warna lokal yang diusung bukan hanya aspek sosial-budayanya, melainkan menjadi media ekspresi atau jadi idiom-idiom estetika di dalamnya. Bukan hanya warna subkultur yang kuat, tapi juga berkembang menjadi eksplorasi bahasa dan style mencapai nilai estetis.
Pengertian lokal di sini tentu bukan hanya berkutat pada dimensi keruangan atau batas-batas geografis, melainkan diterjemahkan secara luas melalui setting, bahasa, serta penokohan yang kental dengan atmosfer dan ciri-ciri kultural setempat.
Beberapa sastrawan mencoba menyandingkan warna lokal dengan hiruk-pikuk nuansa urban. Kekontrasan yang tercipta memberikan nuansa baru pada perkembangan sastra Indonesia. Korrie Layun Rampan merupakan salah satu sastrawan yang berhasil memadukan dua warna kehidupan yang bertolakbelakang itu. Novelnya, Upacara berhasil mengantarkan Korrie sebagai pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976.
Novel Upacara bercerita tentang keberadaan etnis Dayak di pedalaman Kalimantan serta permasalahan sosial berupa penebangan hutan yang terjadi di sana. "Ketika itu belum ada yang mengangkat persoalan Kalimantan sebagai sebuah cerita," kata Korrie kepada Jurnal Nasional, Selasa (21/10).
Kepiawaian Korrie mengemas "tabrakan" antara warna lokal dan nuansa urban sebagai sebuah daya tarik pantas diacungi jempol. Pertentangan nilai antara masyarakat Dayak dan Jakarta digambarkan lewat cara pandang mereka terhadap upacara adat. "Upacara adat yang dipandang penting oleh masyarakat Dayak, diabaikan dan dianggap sebelah mata oleh orang Jakarta," ujar penulis novel Api Awan Asap ini.
Pertentangan nilai antara Jakarta dan daerah juga terasa kental pada Novel Warisan karya Chairul Harun. Karya yang mendapat penghargaan Yayasan Buku Utama dari Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) ini bercerita mengenai perbedaan cara pandang antara Rafilus yang bekerja di Jakarta dengan keluarga ayahnya di Kurai Taji, Pariaman.
Konflik antarkeluarga ini bermula ketika Rafilus berniat membawa ayahnya yang sedang sakit keras berobat ke Jakarta. Ia berpikir teknologi serta tenaga medis di ibu kota pastilah lebih memadai ketimbang di kampungnya. Tapi sanak keluarga Rafilus menolak mentah-mentah keinginan itu. Mereka khawatir niat pemindahan pengobatan semata-mata hanya cara Rafilus untuk menguasai seluruh harta ayahnya. Mereka lebih mempercayakan kesembuhan ayah Rafilus kepada dukun kampung bernama Tun Rudin.
Pertentangan nilai juga terasa ketika Rafilus terpaksa menikahi kerabatnya yang bernama Rekana, untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga tali silaturahmi. Padahal hati Rafilus telah terpaut pada seorang janda bernama Maemunah. Masyarakat kampung Rafilus cenderung berpersepsi negatif terhadap perempuan yang berstatus janda. Namun tidak bagi Rafilus, yang terbiasa dengan nilai-nilai masyarakat kota besar.
Perbedaan Karakter
Korrie mengatakan, setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, realitas yang terjadi di Kalimantan belum tentu dapat ditemukan di daerah lain. Pria yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat ini menuturkan, para pengarang yang ingin mengangkat warna lokal dalam karya-karyanya harus mengenal betul budaya serta karakteristik masyarakatnya. "Karakteristik masyarakat Kalimantan akan kehilangan makna, bila diangkat dalam karya yang berlatarbelakang budaya Minang," ujar Korrie.
Senada dengan Korrie, sastrawan Darman Moenir mengatakan, warna lokal yang diusung akan terasa hambar apabila penulis tidak memahami seluk beluk budaya daerah tersebut. "Dalam melukiskan persoalan perempuan dan seks, misalnya, karya cerpenis yang tinggal di Pontianak atau penyair yang tinggal di Kendari, tak ada bedanya dengan karya mereka yang tinggal di Jakarta," kata Darman.
Ia memaparkan, mungkin saja permasalahan yang sama dapat ditemui di Jakarta atau kota besar lainnya. Namun konteks lokal yang berbeda, akan melahirkan warna yang berbeda pula. "Bukan sekadar setting dan cara pengucapan, tetapi cara pandang yang menggambarkan konteks kultur dan etos tradisi yang diikuti dengan berbagai respons dan perubahan yang terjadi di dalamnya," ujar Darman.
Pemenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987 ini mengatakan, pemahaman terhadap budaya suatu daerah bisa terjadi karena memang yang bersangkutan dibesarkan oleh latar belakang budaya itu atau melalui proses penelitian mendalam.
Lelaki kelahiran Batusangkar, 27 Juli 1952 ini memberikan contoh, Novel Para Priyayi karya Umar Kayam yang menyajikan daerah sebagai suatu latar solid tak terganti. "Latar menjadi warna lokal, kemudian lokalitas menjadi acuan peristiwa serta melahirkan peristiwa," ujar penulis Novel Bako yang memenangkan hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980.
Hal serupa juga terjadi pada Novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Harimau sebagai metafor hasrat liar dan ganas manusia mungkin dapat ditemui di daerah lain, tetapi permainan antara harimau sebagai binatang buas serta harimau yang bermain di sudut hati tokoh-tokohnya hanya mungkin disajikan dengan latar belantara Sumatera.
Dari segi penokohan, menurut Korrie, karakter pada novel dengan warna lokal merupakan manusia dalam arti komunitas. Hal ini berbeda dengan novel yang mengangkat tema realisme sosial atau nuansa urban, di mana karakter menjadi cermin pribadi tunggal. "Novel dengan warna lokal biasanya tidak menggambarkan tokoh sentral melainkan tokoh jamak, sehingga satu sama lain memiliki persepsi yang berbeda-beda, contohnya Aku dalam Novel Upacara," kata Korrie.
Ia mengatakan, fungsi pengarang dalam menyajikan warna lokal tidak hanya sebagai penulis melainkan melakukan eksplorasi budaya. "Ia harus menyampaikan aspirasi masyarakat di mana peristiwa itu berlangsung, sehingga karakter tidak hanya hadir sebagai boneka bagi pengarangnya," ujar Korrie.
Medan Nilai Sosial
Haris Effendi Thahar mengatakan, karya sastra yang mengangkat warna lokal merupakan sarana tepat untuk menyampaikan nilai-nilai sosial yang terjadi di daerah tersebut. "Sejauh mana ia bisa mengemas warna lokal tetapi dapat menimbulkan dampak global," kata Penulis Kumpulan Cerpen Si Padang.
Ia mencontohkan, cerita yang bertutur tentang anak yang hidup di pedalaman Kalimantan dan hidup dalam keterbatasan. "Tentu penekanannya bukan pada pedalamannya, tetapi bagaimana nilai kemanusiaan manusia Kalimantan tersebut dapat dirasakan oleh pembaca yang berasal dari Amerika atau Eropa," ujar Harris.
Selain itu, karya sastra berwarna lokal juga bermanfaat untuk memperkenalkan khazanah budaya Indonesia, sehingga masyarakat sadar bahwa negara ini terdiri dari bermacam suku dan tradisi. Sayangnya, tak banyak pengarang yang berhasil mengemas warna lokal menjadi sajian bercitarasa global. "Hanya segelintir yang berhasil, rata-rata hanya menggunakan warna lokal sebagai pembungkus tetapi tidak memiliki makna mendalam," kata penulis buku Anjing Bagus.
Warna lokal tak hanya menarik perhatian para sastrawan dunia ketiga. Teks sastra dari Jepang, Daerah Salju dan kumpulan cerpen Penari-penari Jepang karya Yasunari Kawabata merupakan salah satu karya yang berhasil mengangkat kearifan lokal, menjadi teks sastra yang bermuatan nilai estetis.
Begitu pula dengan sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, dengan novelnya Lorong Midaq. Mahfouz berhasil menghadirkan kearifan lokal untuk mencapai nilai estetis dalam teks sastranya. "Kualitas sastrawan Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan sastrawan dari negara lain," kata Darman.
Mengingat pentingnya warna lokal dalam khazanah sastra Tanah Air, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Melanie Budianta menyayangkan kondisi aliran ini yang semakin tersisih dan tergerus oleh-oleh tema realisme sosial dan nuansa urban.
Mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra bukanlah suatu hal yang buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Karya-karya yang terlalu didominasi nuansa urban, kemudian melahirkan produksi massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.
Estetika lokal merupakan mazhab tersendiri dalam dunia sastra Indonesia. Tidak salah jika kemudian muncul mazhab lain. Akan tampak tidak berimbang ketika semua hanya menoleh pada satu sisi, sisi urban misalnya. Hal tersebut amat disayangkan, karena akan memunculkan hiperbola penggambaran yang terkadang memuakkan.
Menurut Melani, daerah-daerah di Indonesia sangat kaya akan keragaman budaya, tetapi sayangnya masih sedikit pengarang sastra yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra.
Kurang diangkatnya warna lokal dalam karya sastra Indonesia, bisa jadi disebabkan oleh kondisi pasar yang tidak responsif. Padahal, dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut memengaruhi perkembangannya.
http://jurnalnasional.com/
Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia.
Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, dll.
Pada karya-karya ini warna lokal yang diusung bukan hanya aspek sosial-budayanya, melainkan menjadi media ekspresi atau jadi idiom-idiom estetika di dalamnya. Bukan hanya warna subkultur yang kuat, tapi juga berkembang menjadi eksplorasi bahasa dan style mencapai nilai estetis.
Pengertian lokal di sini tentu bukan hanya berkutat pada dimensi keruangan atau batas-batas geografis, melainkan diterjemahkan secara luas melalui setting, bahasa, serta penokohan yang kental dengan atmosfer dan ciri-ciri kultural setempat.
Beberapa sastrawan mencoba menyandingkan warna lokal dengan hiruk-pikuk nuansa urban. Kekontrasan yang tercipta memberikan nuansa baru pada perkembangan sastra Indonesia. Korrie Layun Rampan merupakan salah satu sastrawan yang berhasil memadukan dua warna kehidupan yang bertolakbelakang itu. Novelnya, Upacara berhasil mengantarkan Korrie sebagai pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976.
Novel Upacara bercerita tentang keberadaan etnis Dayak di pedalaman Kalimantan serta permasalahan sosial berupa penebangan hutan yang terjadi di sana. "Ketika itu belum ada yang mengangkat persoalan Kalimantan sebagai sebuah cerita," kata Korrie kepada Jurnal Nasional, Selasa (21/10).
Kepiawaian Korrie mengemas "tabrakan" antara warna lokal dan nuansa urban sebagai sebuah daya tarik pantas diacungi jempol. Pertentangan nilai antara masyarakat Dayak dan Jakarta digambarkan lewat cara pandang mereka terhadap upacara adat. "Upacara adat yang dipandang penting oleh masyarakat Dayak, diabaikan dan dianggap sebelah mata oleh orang Jakarta," ujar penulis novel Api Awan Asap ini.
Pertentangan nilai antara Jakarta dan daerah juga terasa kental pada Novel Warisan karya Chairul Harun. Karya yang mendapat penghargaan Yayasan Buku Utama dari Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) ini bercerita mengenai perbedaan cara pandang antara Rafilus yang bekerja di Jakarta dengan keluarga ayahnya di Kurai Taji, Pariaman.
Konflik antarkeluarga ini bermula ketika Rafilus berniat membawa ayahnya yang sedang sakit keras berobat ke Jakarta. Ia berpikir teknologi serta tenaga medis di ibu kota pastilah lebih memadai ketimbang di kampungnya. Tapi sanak keluarga Rafilus menolak mentah-mentah keinginan itu. Mereka khawatir niat pemindahan pengobatan semata-mata hanya cara Rafilus untuk menguasai seluruh harta ayahnya. Mereka lebih mempercayakan kesembuhan ayah Rafilus kepada dukun kampung bernama Tun Rudin.
Pertentangan nilai juga terasa ketika Rafilus terpaksa menikahi kerabatnya yang bernama Rekana, untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga tali silaturahmi. Padahal hati Rafilus telah terpaut pada seorang janda bernama Maemunah. Masyarakat kampung Rafilus cenderung berpersepsi negatif terhadap perempuan yang berstatus janda. Namun tidak bagi Rafilus, yang terbiasa dengan nilai-nilai masyarakat kota besar.
Perbedaan Karakter
Korrie mengatakan, setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, realitas yang terjadi di Kalimantan belum tentu dapat ditemukan di daerah lain. Pria yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat ini menuturkan, para pengarang yang ingin mengangkat warna lokal dalam karya-karyanya harus mengenal betul budaya serta karakteristik masyarakatnya. "Karakteristik masyarakat Kalimantan akan kehilangan makna, bila diangkat dalam karya yang berlatarbelakang budaya Minang," ujar Korrie.
Senada dengan Korrie, sastrawan Darman Moenir mengatakan, warna lokal yang diusung akan terasa hambar apabila penulis tidak memahami seluk beluk budaya daerah tersebut. "Dalam melukiskan persoalan perempuan dan seks, misalnya, karya cerpenis yang tinggal di Pontianak atau penyair yang tinggal di Kendari, tak ada bedanya dengan karya mereka yang tinggal di Jakarta," kata Darman.
Ia memaparkan, mungkin saja permasalahan yang sama dapat ditemui di Jakarta atau kota besar lainnya. Namun konteks lokal yang berbeda, akan melahirkan warna yang berbeda pula. "Bukan sekadar setting dan cara pengucapan, tetapi cara pandang yang menggambarkan konteks kultur dan etos tradisi yang diikuti dengan berbagai respons dan perubahan yang terjadi di dalamnya," ujar Darman.
Pemenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987 ini mengatakan, pemahaman terhadap budaya suatu daerah bisa terjadi karena memang yang bersangkutan dibesarkan oleh latar belakang budaya itu atau melalui proses penelitian mendalam.
Lelaki kelahiran Batusangkar, 27 Juli 1952 ini memberikan contoh, Novel Para Priyayi karya Umar Kayam yang menyajikan daerah sebagai suatu latar solid tak terganti. "Latar menjadi warna lokal, kemudian lokalitas menjadi acuan peristiwa serta melahirkan peristiwa," ujar penulis Novel Bako yang memenangkan hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980.
Hal serupa juga terjadi pada Novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Harimau sebagai metafor hasrat liar dan ganas manusia mungkin dapat ditemui di daerah lain, tetapi permainan antara harimau sebagai binatang buas serta harimau yang bermain di sudut hati tokoh-tokohnya hanya mungkin disajikan dengan latar belantara Sumatera.
Dari segi penokohan, menurut Korrie, karakter pada novel dengan warna lokal merupakan manusia dalam arti komunitas. Hal ini berbeda dengan novel yang mengangkat tema realisme sosial atau nuansa urban, di mana karakter menjadi cermin pribadi tunggal. "Novel dengan warna lokal biasanya tidak menggambarkan tokoh sentral melainkan tokoh jamak, sehingga satu sama lain memiliki persepsi yang berbeda-beda, contohnya Aku dalam Novel Upacara," kata Korrie.
Ia mengatakan, fungsi pengarang dalam menyajikan warna lokal tidak hanya sebagai penulis melainkan melakukan eksplorasi budaya. "Ia harus menyampaikan aspirasi masyarakat di mana peristiwa itu berlangsung, sehingga karakter tidak hanya hadir sebagai boneka bagi pengarangnya," ujar Korrie.
Medan Nilai Sosial
Haris Effendi Thahar mengatakan, karya sastra yang mengangkat warna lokal merupakan sarana tepat untuk menyampaikan nilai-nilai sosial yang terjadi di daerah tersebut. "Sejauh mana ia bisa mengemas warna lokal tetapi dapat menimbulkan dampak global," kata Penulis Kumpulan Cerpen Si Padang.
Ia mencontohkan, cerita yang bertutur tentang anak yang hidup di pedalaman Kalimantan dan hidup dalam keterbatasan. "Tentu penekanannya bukan pada pedalamannya, tetapi bagaimana nilai kemanusiaan manusia Kalimantan tersebut dapat dirasakan oleh pembaca yang berasal dari Amerika atau Eropa," ujar Harris.
Selain itu, karya sastra berwarna lokal juga bermanfaat untuk memperkenalkan khazanah budaya Indonesia, sehingga masyarakat sadar bahwa negara ini terdiri dari bermacam suku dan tradisi. Sayangnya, tak banyak pengarang yang berhasil mengemas warna lokal menjadi sajian bercitarasa global. "Hanya segelintir yang berhasil, rata-rata hanya menggunakan warna lokal sebagai pembungkus tetapi tidak memiliki makna mendalam," kata penulis buku Anjing Bagus.
Warna lokal tak hanya menarik perhatian para sastrawan dunia ketiga. Teks sastra dari Jepang, Daerah Salju dan kumpulan cerpen Penari-penari Jepang karya Yasunari Kawabata merupakan salah satu karya yang berhasil mengangkat kearifan lokal, menjadi teks sastra yang bermuatan nilai estetis.
Begitu pula dengan sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, dengan novelnya Lorong Midaq. Mahfouz berhasil menghadirkan kearifan lokal untuk mencapai nilai estetis dalam teks sastranya. "Kualitas sastrawan Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan sastrawan dari negara lain," kata Darman.
Mengingat pentingnya warna lokal dalam khazanah sastra Tanah Air, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Melanie Budianta menyayangkan kondisi aliran ini yang semakin tersisih dan tergerus oleh-oleh tema realisme sosial dan nuansa urban.
Mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra bukanlah suatu hal yang buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Karya-karya yang terlalu didominasi nuansa urban, kemudian melahirkan produksi massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.
Estetika lokal merupakan mazhab tersendiri dalam dunia sastra Indonesia. Tidak salah jika kemudian muncul mazhab lain. Akan tampak tidak berimbang ketika semua hanya menoleh pada satu sisi, sisi urban misalnya. Hal tersebut amat disayangkan, karena akan memunculkan hiperbola penggambaran yang terkadang memuakkan.
Menurut Melani, daerah-daerah di Indonesia sangat kaya akan keragaman budaya, tetapi sayangnya masih sedikit pengarang sastra yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra.
Kurang diangkatnya warna lokal dalam karya sastra Indonesia, bisa jadi disebabkan oleh kondisi pasar yang tidak responsif. Padahal, dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut memengaruhi perkembangannya.
Minggu, 19 Oktober 2008
Militer dalam Novel Kita
Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional,19 Okt 2008
Novel Indonesia dihuni banyak tokoh dari beragam profesi, seperti wartawan, guru, pedagang, mahasiswa, dan juga militer.
Militer seolah tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak terkecuali dalam perkembangan dunia sastranya. "Bagi para sastrawan angkatan 45, militer sempat menjadi tema yang inspiratif," kata Nurinwa Ki S Hendrowinoto kepada Jurnal Nasional, Selasa (14/10).
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu pengarang yang dengan sempurna mengangkat tema militer dalam karya-karyanya. Pria yang dinobatkan sebagai tokoh yang paling berpengaruh di Asia oleh Majalah Time ini memang pernah berkecimpung langsung dalam dunia tersebut.
Disisi lain, militer pula yang merampas kebebasan hidup mantan karyawan Kantor Berita Domei ini. Hampir separuh umurnya terpaksa dihabiskan di balik terali besi, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, Orde Lama, maupun Orde Baru.
Di dalam tahanan, secara fisik Pramoedya memang terpenjara, tetapi imajinasinya tetap membumbung tinggi menyentuh cakrawala. Buktinya ketika ditahan Belanda di Penjara Bukit Duri tahun 1947-1949, pengagum Leo Tolstoy ini mampu melahirkan karya monumental berjudul Keluarga Gerilya.
Dalam novel yang diterbitkan tahun 1950 tersebut, Pramoedya bertutur melalui tokoh Sa'aman yang merupakan alter ego dari Wahab. Pada halaman awal novel Pramoedya sempat menjelaskan kalau Wahab adalah wakil komandan pasukan yang dibawahinya dan telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Belanda.
Kerinduan yang begitu pekat terhadap kemerdekaan memaksa Sa'aman mengamputasi syaraf perih di kepalanya. Demi kemerdekaan negerinya ia harus rela menarik pelatuk pistol untuk mengakhiri nyawa ayahnya karena sang ayah menjadi tali barut Belanda.
Revolusi tak berhenti meminta upeti. Setelah ayah, ibu, saudara, serta ribuan orang lainnya tergeletak mati, kemerdekaan masih harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Sa'aman bersedia, bahkan ia menolak meminta pengampunan pada Belanda dan meminta agar eksekusi terhadap dirinya dipercepat.
Pengalaman bersentuhan langsung dalam dunia militer menjadi salah satu nilai tambah bagi Pramoedya. "Pengaruh dari pengalaman tersebut dalam proses kreatif Pramoedya sangat terasa, berbeda dengan pengarang lain yang tidak memiliki pengalaman langsung," ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jakob Sumardjo.
Dalam proses kreatifnya, Pramoedya berusaha mengawinkan antara pengalaman, nalar dan pengamatan. Maka tak heran jika karya-karya penulis kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini terasa begitu nyata. "Seorang yang tidak pernah mempunyai pengalaman sendiri maka struktur berceritanya akan terasa datar,layaknya pastur yang bertutur tentang persetubuhan," kata Nurinwa.
Suasana nyata yang berhasil dihadirkan membuat sebagian pembaca menempatkan karya-karya Pramoedya bukan hanya sebagai sebuah karya fiksi melainkan catatan sejarah. "Jalinan kalimat yang dirangkai oleh Pramoedya mampu membuat pembaca merasakan dinamika semangat revolusioner masyarakat pada zaman itu," ujar Jakob.
Semangat kebangsaan yang diusung melalui tokoh militer juga ditulis Pramoedya dalam novel berjudul Di Tepi Kali Bekasi. Novel yang memotret gejolak pemuda ini disebut Pramoedya sebagai epos tentang revolusi jiwa Angkatan Muda, dimana jiwa jajahan berubah jiwa merdeka.
Revolusi jiwa ini dikisahkan Pramoedya melalui Farid, sosok muda yang memiliki semangat membara untuk membela tanah airnya. Di tengah desakan kehidupan pragmatis yang diminta ayahnya, ia melangkah tegar menuju medan pertempuran.
Tentulah rangkaian kata yang diuntai Pramoedya akan terasa hambar dan kurang bermakna jika tidak didukung data akurat. "Sampai saat ini Pramoedya adalah pengumpul data terbaik yang dimiliki oleh negeri ini," kata penerima Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata selama tiga tahun berturut-turut ini.
Pramoedya meletakkan data sejarah sebagai bahan mentah, sementara supaya karya tersebut dapat hidup dan sesuai dengan nalar ia meniupkan ruh melalui daya imajinasi yang melambung tinggi.
Kumpulan data sejarah tentu sangat penting guna membangun karakter, percakapan, adegan, serta konflik, supaya terlihat hidup dan meyakinkan. Bagi para penulis fakta sejarah tidak mengikat dan dapat berupa fiksi. Tetapi ketika menyusun cerita, ia dituntut membangun logika cerita.
Pergeseran Karakter
Pramoedya lahir dari lingkungan keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai seorang guru. Pramoedya tak sempat mengecap pendidikan tinggi hanya sampai kelas dua di Taman Dewasa. Kemampuan luar biasa yang dimilikinya merupakan hasil dari tempaan alam. "Pramoedya merupakan sosok yang istimewa. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi belajar banyak dari pengalaman hidup," kata Nurinwa.
Jakob melihat kekuatan karya Pramoedya terletak pada karakter-karakter di dalamnya. "Semua itu dikarenakan karya-karya dia berangkat dari pengetahuan dan pengalaman, bukan hasil sekedar lamunan kosong," ujar ayah empat orang anak ini.
Tengok ketika Pramoedya menulis Tetralogi Pulau Buru yang dibangun dari tetesan elemen sejarah hidup R.M. Tirtoadhisoerjo (1880-1918). Pramoedya berhasil menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang memikat.
Nama Tirtoadisoerjo yang semula jarang terdengar, perlahan namun pasti mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan.
Dari baki prosa yang disajikan Pramoedya, terkuaklah jika Tirto merupakan jurnalis pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu sebagai "bahasa bangsa-bangsa yang terperintah". Secara sadar Tirto dengan aktif menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perjuangan dan pemersatu.
Karakter tokoh militer dalam novel-novel Pramoedya mengalami pergeseran dari masa-masa awal kepenulisannya hingga kemudian diasingkan di Pulau Buru. Pada masa awal Pramoedya menggambarkan militer sebagai tokoh pelindung rakyat yang memiliki rasa kebangsaan tinggi. Karakter tersebut dapat ditemukan pada Di Tepi Kali Bekasi (Keranji dan Bekasi Jatuh), Mereka Yang Dilumpuhkan, Percikan Revolusi, Cerita Dari Blora, Subuh, dan Keluarga Gerilya.
Pada Keluarga Gerilya, Pramoedya melukiskan tokoh militer sebagai manusia biasa yang memiliki hati nurani. Penggambaran humanisme pada tokoh militer begitu terasa pada percakapan antara Sa'aman dengan kepala penjara yang berkebangsaan Belanda. "Konflik-konflik yang dibangun Pramoedya tak hanya menumbuhkan rasa kebangsaan, tetapi juga cinta kasih sesama manusia" kata Jakob.
"Revolusi menghendaki segala-galanya... menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini... jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu... agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan."
Nurinwa mengatakan, pergeseran karakter militer pada karya Pramoedya dapat ditemui pada Tetralogi Pulau Buru dan karya-karya setelahnya, di mana ia lebih cenderung memposisikan diri sebagai anti militer. "Rasa muak Pramoedya terhadap militer bermula dari pengalamannya menjadi korban," kata Ketua Yayasan Biografi Indonesia ini.
Jakob mengatakan, suatu hal yang lazim ketika inspirasi seorang penulis bermuara dari potongan-potongan peristiwa hidupnya. Peristiwa itu kemudian membentuk sederet tanda tanya yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya. "Bagaimana karya tersebut bisa menjawab pertanyaan pada zamannya dan masa mendatang," ujar Jakob.
Pergeseran karakter tokoh militer tidak hanya terjadi pada karya-karya Pramoedya, tetapi pada hampir semua karya sastra di Indonesia. "Kalau dulu tokoh militer digambarkan dengan citra positif, saat ini berubah menjadi sebaliknya," kata lulusan IKIP Negeri, Bandung ini.
Tokoh militer yang tadinya digambarkan sebagai sosok pelindung dan pengayom masyarakat, berubah menjadi sebaliknya, merusak dan menakuti masyarakat. "Militer menjadi sosok antagonis yang dimusuhi oleh masyarakat," ujar suami dari Jovita Siti Rochma ini.
Tak Menarik
Selanjutnya, militer seperti dilihat sebagai tema yang tidak lagi menarik untuk diangkat, kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas. Para penulis lebih tertarik mengelaborasi tema-tema lain seperti cinta, ketuhanan, ataupun tradisi. "Jarang sekali pengarang yang tertarik mengangkat tema militer, bisa dilihat dari buku-buku yang dihasilkan," ujar lelaki Klaten, 26 Agustus 1939 ini.
Penulis buku Segi Sosiologis Novel Indonesia ini mengatakan, langkanya buku dengan tema militer karena latar belakang profesi sebagian besar penulis di tanah air adalah guru dan wartawan, sangat sedikit yang berasal dari tentara.
Nah, latar belakang tersebut menyebabkan tokoh yang diceritakan dalam karya sastra Indonesia pun hanya berkisar sekitar wartawan, dosen atau orang kantoran. "Mereka tidak terlalu dekat bahkan asing dengan dunia militer," kata Jakob.
Situasi berbeda terjadi di negara-negara Eropa, di mana para penulisnya berasal kebanyakan dari kelas atas, sehingga cerita yang diangkat seringkali mengenai masyarakat kelas atas, termasuk tentara.
Jurnal Nasional,19 Okt 2008
Novel Indonesia dihuni banyak tokoh dari beragam profesi, seperti wartawan, guru, pedagang, mahasiswa, dan juga militer.
Militer seolah tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak terkecuali dalam perkembangan dunia sastranya. "Bagi para sastrawan angkatan 45, militer sempat menjadi tema yang inspiratif," kata Nurinwa Ki S Hendrowinoto kepada Jurnal Nasional, Selasa (14/10).
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu pengarang yang dengan sempurna mengangkat tema militer dalam karya-karyanya. Pria yang dinobatkan sebagai tokoh yang paling berpengaruh di Asia oleh Majalah Time ini memang pernah berkecimpung langsung dalam dunia tersebut.
Disisi lain, militer pula yang merampas kebebasan hidup mantan karyawan Kantor Berita Domei ini. Hampir separuh umurnya terpaksa dihabiskan di balik terali besi, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, Orde Lama, maupun Orde Baru.
Di dalam tahanan, secara fisik Pramoedya memang terpenjara, tetapi imajinasinya tetap membumbung tinggi menyentuh cakrawala. Buktinya ketika ditahan Belanda di Penjara Bukit Duri tahun 1947-1949, pengagum Leo Tolstoy ini mampu melahirkan karya monumental berjudul Keluarga Gerilya.
Dalam novel yang diterbitkan tahun 1950 tersebut, Pramoedya bertutur melalui tokoh Sa'aman yang merupakan alter ego dari Wahab. Pada halaman awal novel Pramoedya sempat menjelaskan kalau Wahab adalah wakil komandan pasukan yang dibawahinya dan telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Belanda.
Kerinduan yang begitu pekat terhadap kemerdekaan memaksa Sa'aman mengamputasi syaraf perih di kepalanya. Demi kemerdekaan negerinya ia harus rela menarik pelatuk pistol untuk mengakhiri nyawa ayahnya karena sang ayah menjadi tali barut Belanda.
Revolusi tak berhenti meminta upeti. Setelah ayah, ibu, saudara, serta ribuan orang lainnya tergeletak mati, kemerdekaan masih harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Sa'aman bersedia, bahkan ia menolak meminta pengampunan pada Belanda dan meminta agar eksekusi terhadap dirinya dipercepat.
Pengalaman bersentuhan langsung dalam dunia militer menjadi salah satu nilai tambah bagi Pramoedya. "Pengaruh dari pengalaman tersebut dalam proses kreatif Pramoedya sangat terasa, berbeda dengan pengarang lain yang tidak memiliki pengalaman langsung," ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jakob Sumardjo.
Dalam proses kreatifnya, Pramoedya berusaha mengawinkan antara pengalaman, nalar dan pengamatan. Maka tak heran jika karya-karya penulis kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini terasa begitu nyata. "Seorang yang tidak pernah mempunyai pengalaman sendiri maka struktur berceritanya akan terasa datar,layaknya pastur yang bertutur tentang persetubuhan," kata Nurinwa.
Suasana nyata yang berhasil dihadirkan membuat sebagian pembaca menempatkan karya-karya Pramoedya bukan hanya sebagai sebuah karya fiksi melainkan catatan sejarah. "Jalinan kalimat yang dirangkai oleh Pramoedya mampu membuat pembaca merasakan dinamika semangat revolusioner masyarakat pada zaman itu," ujar Jakob.
Semangat kebangsaan yang diusung melalui tokoh militer juga ditulis Pramoedya dalam novel berjudul Di Tepi Kali Bekasi. Novel yang memotret gejolak pemuda ini disebut Pramoedya sebagai epos tentang revolusi jiwa Angkatan Muda, dimana jiwa jajahan berubah jiwa merdeka.
Revolusi jiwa ini dikisahkan Pramoedya melalui Farid, sosok muda yang memiliki semangat membara untuk membela tanah airnya. Di tengah desakan kehidupan pragmatis yang diminta ayahnya, ia melangkah tegar menuju medan pertempuran.
Tentulah rangkaian kata yang diuntai Pramoedya akan terasa hambar dan kurang bermakna jika tidak didukung data akurat. "Sampai saat ini Pramoedya adalah pengumpul data terbaik yang dimiliki oleh negeri ini," kata penerima Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata selama tiga tahun berturut-turut ini.
Pramoedya meletakkan data sejarah sebagai bahan mentah, sementara supaya karya tersebut dapat hidup dan sesuai dengan nalar ia meniupkan ruh melalui daya imajinasi yang melambung tinggi.
Kumpulan data sejarah tentu sangat penting guna membangun karakter, percakapan, adegan, serta konflik, supaya terlihat hidup dan meyakinkan. Bagi para penulis fakta sejarah tidak mengikat dan dapat berupa fiksi. Tetapi ketika menyusun cerita, ia dituntut membangun logika cerita.
Pergeseran Karakter
Pramoedya lahir dari lingkungan keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai seorang guru. Pramoedya tak sempat mengecap pendidikan tinggi hanya sampai kelas dua di Taman Dewasa. Kemampuan luar biasa yang dimilikinya merupakan hasil dari tempaan alam. "Pramoedya merupakan sosok yang istimewa. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi belajar banyak dari pengalaman hidup," kata Nurinwa.
Jakob melihat kekuatan karya Pramoedya terletak pada karakter-karakter di dalamnya. "Semua itu dikarenakan karya-karya dia berangkat dari pengetahuan dan pengalaman, bukan hasil sekedar lamunan kosong," ujar ayah empat orang anak ini.
Tengok ketika Pramoedya menulis Tetralogi Pulau Buru yang dibangun dari tetesan elemen sejarah hidup R.M. Tirtoadhisoerjo (1880-1918). Pramoedya berhasil menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang memikat.
Nama Tirtoadisoerjo yang semula jarang terdengar, perlahan namun pasti mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan.
Dari baki prosa yang disajikan Pramoedya, terkuaklah jika Tirto merupakan jurnalis pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu sebagai "bahasa bangsa-bangsa yang terperintah". Secara sadar Tirto dengan aktif menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perjuangan dan pemersatu.
Karakter tokoh militer dalam novel-novel Pramoedya mengalami pergeseran dari masa-masa awal kepenulisannya hingga kemudian diasingkan di Pulau Buru. Pada masa awal Pramoedya menggambarkan militer sebagai tokoh pelindung rakyat yang memiliki rasa kebangsaan tinggi. Karakter tersebut dapat ditemukan pada Di Tepi Kali Bekasi (Keranji dan Bekasi Jatuh), Mereka Yang Dilumpuhkan, Percikan Revolusi, Cerita Dari Blora, Subuh, dan Keluarga Gerilya.
Pada Keluarga Gerilya, Pramoedya melukiskan tokoh militer sebagai manusia biasa yang memiliki hati nurani. Penggambaran humanisme pada tokoh militer begitu terasa pada percakapan antara Sa'aman dengan kepala penjara yang berkebangsaan Belanda. "Konflik-konflik yang dibangun Pramoedya tak hanya menumbuhkan rasa kebangsaan, tetapi juga cinta kasih sesama manusia" kata Jakob.
"Revolusi menghendaki segala-galanya... menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini... jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu... agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan."
Nurinwa mengatakan, pergeseran karakter militer pada karya Pramoedya dapat ditemui pada Tetralogi Pulau Buru dan karya-karya setelahnya, di mana ia lebih cenderung memposisikan diri sebagai anti militer. "Rasa muak Pramoedya terhadap militer bermula dari pengalamannya menjadi korban," kata Ketua Yayasan Biografi Indonesia ini.
Jakob mengatakan, suatu hal yang lazim ketika inspirasi seorang penulis bermuara dari potongan-potongan peristiwa hidupnya. Peristiwa itu kemudian membentuk sederet tanda tanya yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya. "Bagaimana karya tersebut bisa menjawab pertanyaan pada zamannya dan masa mendatang," ujar Jakob.
Pergeseran karakter tokoh militer tidak hanya terjadi pada karya-karya Pramoedya, tetapi pada hampir semua karya sastra di Indonesia. "Kalau dulu tokoh militer digambarkan dengan citra positif, saat ini berubah menjadi sebaliknya," kata lulusan IKIP Negeri, Bandung ini.
Tokoh militer yang tadinya digambarkan sebagai sosok pelindung dan pengayom masyarakat, berubah menjadi sebaliknya, merusak dan menakuti masyarakat. "Militer menjadi sosok antagonis yang dimusuhi oleh masyarakat," ujar suami dari Jovita Siti Rochma ini.
Tak Menarik
Selanjutnya, militer seperti dilihat sebagai tema yang tidak lagi menarik untuk diangkat, kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas. Para penulis lebih tertarik mengelaborasi tema-tema lain seperti cinta, ketuhanan, ataupun tradisi. "Jarang sekali pengarang yang tertarik mengangkat tema militer, bisa dilihat dari buku-buku yang dihasilkan," ujar lelaki Klaten, 26 Agustus 1939 ini.
Penulis buku Segi Sosiologis Novel Indonesia ini mengatakan, langkanya buku dengan tema militer karena latar belakang profesi sebagian besar penulis di tanah air adalah guru dan wartawan, sangat sedikit yang berasal dari tentara.
Nah, latar belakang tersebut menyebabkan tokoh yang diceritakan dalam karya sastra Indonesia pun hanya berkisar sekitar wartawan, dosen atau orang kantoran. "Mereka tidak terlalu dekat bahkan asing dengan dunia militer," kata Jakob.
Situasi berbeda terjadi di negara-negara Eropa, di mana para penulisnya berasal kebanyakan dari kelas atas, sehingga cerita yang diangkat seringkali mengenai masyarakat kelas atas, termasuk tentara.
Rabu, 15 Oktober 2008
Menimbang Diponegoro dalam Fiksi
Grathia Pitaloka
12 Okto 2008, Jurnal Nasional
Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.
Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. "Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia," kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10).
Bagi lelaki yang memiliki nama asli Japi Tambajong ini, mengerjakan Pangeran Diponegoro bukanlah kali pertama ia menulis novel sejarah. Sebelumnya pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945 ini telah menghasilkan tiga karya fiksi berlatar sejarah. Tapi untuk menulis novel Pangeran Diponegoro, Remy mesti rela bolak-balik ke Belanda demi mengumpulkan data-data yang berserak. "Kadang saya suka gregetan kalau menemukan fakta baru, tetapi buku sudah dicetak," ujar pria yang memulai karier sebagai wartawan ini.
Sudah dua jilid novel tentang Pangeran Diponegoro yang Remy selesaikan. Keduanya baru bercerita tentang masa kecil pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini. "Diponegoro kecil amat menyukai wayang, Kumbakarna adalah tokoh yang dikaguminya. Ia amat terkesan dengan sosok raksasa yang hingga akhir hayat tetap membela tanah airnya," tutur Remy.
Pangeran Diponegoro lahir dari pasangan Raden Mas Suroyo dan RA Mangkarawati garwa selir dari RM Suroyo. Sejak kecil Pangeran Diponegoro tidak diasuh kedua orangtuanya, melainkan dengan nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri dari Hamengkubuwono I.
Ratu Ageng tidak membesarkan Pangeran Diponegoro di Keraton Mataram, melainkan membangun puri sendiri di Tegalrejo. Di sanalah ia dididik berbagai macam ilmu terutama ilmu agama Islam di Perdikan Mlangi.
Sejak kecil Pangeran Diponegoro telah diberi petuah oleh Ratu Ageng tentang kekejian bangsa Belanda terhadap rakyat Jawa. Karena itu sedari kecil rasa kebencian terhadap bangsa penjajah telah tertanam dalam benak pangeran yang kerap menggunakan sorban ini.
Pangeran Diponegoro tumbuh sebagai sosok lelaki yang memiliki integritas diri yang kuat. Pernah suatu ketika seorang warga Tegalrejo dibunuh Belanda karena tidak mau membayar pajak. Pangeran Diponegoro nekad menguburkan mayat tersebut, meski hal itu dilarang oleh Belanda. Kejadian tersebut kemudian menyulut perselisihan dengan Belanda.
Remy kini tengah mempersiapkan novel Pangeran Diponegoro jilid ketiga. Di sanalah sastrawan yang juga piawai melukis ini mulai bertutur mengenai konsep kebangsaan Pangeran Diponegoro sebagai orang yang berbudaya Jawa.
Kecintaan Pangeran Diponegoro terhadap Indonesia akan digambarkan secara detail oleh Remy dalam novelnya. "Ada bagian di mana Diponegoro meyingkirkan orang yang tak memberikan kontribusi apa-apa bagi perjuangannya," ujar Remy.
Novel yang dikerjakan dalam kurum waktu satu bulan itu, merupakan gabungan antara data historis dan imajinasi. Tentu kepiawaian Remy memadukan kedua unsur tersebut tak perlu dipertanyakan lagi. Ia sudah membuktikannya dalam Ca Bau Kan, Parijs van Java serta Kembang Jepun. "Imajinasi memiliki kekuatan untuk menghidupkan fakta sejarah yang semula kering kerontang," kata pria yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi itu.
Lelaki yang menguasai banyak bahasa ini memcontohkan, adegan di mana Pangeran Diponegoro memukul Danurejo. Pemukulan itu merupakan fakta, tetapi bagaimana Pangeran Diponegoro memukul, bagian mana yang terkena serta bagaimana respons Danurejo adalah hasil imajinasi Remy.
Menurut Remy, di sanalah kecerdasan penulis untuk membentuk sebuah kontiniuitas diuji. "Fiksi berfungsi membuat fakta sejarah menjadi untaian kata-kata naratif dan memiliki kontiniuitas menjadi enak untuk dibaca," kata Remy.
Remy mengatakan, novel Pangeran Diponegoro yang ditulisnya berbeda dengan novel sejarah tentang Gajah Mada ataupun Ken Arok. Menurutnya, buah karyanya berdasarkan pada data serta dokumen sejarah, sementara novel Gajah Mada maupun Ken Arok seratus persen imajinasi. "Merajut fakta-fakta sejarah merupakan kesulitan tersendiri bagi saya," ujar Remy.
Bukan hanya Remy yang mencoba membuat membaca sejarah menjadi menyenangkan dan menyulapnya dalam bentuk novel. YB Mangunwijaya pernah menulis tentang sosok Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dalam novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. "Novel tersebut mempengaruhi pendapat orang terhadap Sjahrir, padahal belum tentu sosok Sjahrir di dunia nyata sama dengan di dalam novel," kata sastrawan Budi Darma.
Dalam novel tersebut, Mangunwijaya dengan bahasa yang indah berhasil melukiskan situasi periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan. Semangat zaman yang menginginkan perubahan dapat dirasakan langsung oleh pembaca. "Sejarah dalam arti sebenarnya sering kali dilupakan, orang lebih condong membaca karya sastra," ujar pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 ini.
Ia memberikan contoh, ketika hendak mengingat kembali fenomena kawin paksa yang terjadi pada tahun 1920-an, orang tidak akan membuka-buka dokumen tentang kawin paksa atau data statistik pada tahun itu. Mereka akan memilih membaca karya-karya Balai Pustaka. "Oleh sebab itu karya sastra sering dianggap sebagai bukti otentik meskipun itu hanya imajinasi belaka," ujar Budi.
Nama Tirtoadisoerjo pun tak akan muncul kepermukaan, sekiranya Pramoedya Ananta Toer tak menulis novel Bumi Manusia. Novel buah karya pria kelahiran Blora ini sesungguhnya merupakan cerita fiksi, namun keberadaannya saat ini kerap dianggap sebagai fakta sejarah. "Fakta mengenai kebangkitan pers dalam novel Bumi Manusia memang ada benarnya, tetapi lebih banyak fiksinya," kata Budi.
Begitu pula ketika hendak menguak fakta tentang kerja paksa pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan, orang lebih suka membaca novel Pramoedya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ketimbang membuka setumpuk dokumen sejarah berbau apek.
Dalam novel yang ditulis mengalir tanpa pembagian bab ini, Pramoedya menjabarkan betapa kerja paksa pembangunan jalan tersebut memakan begitu banyak korban. Bahkan ia mengkategorikannya sebagai genosida. Pramoedya mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, serta 39 kota yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos lengkap dengan dampak sosial yang terjadi karena pembangunan jalan.
Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. "Sastra itu meski tidak menggambarkan realita sesusungguhnya, namun dapat disebut sebagai dokumen sejarah sekunder," kata Budi.
Budi mengatakan, kekuatan sebuah karya sastra mempengaruhi bisa atau tidaknya ia diperlakukan sebagai sebuah sejarah. "Semakin kuat dan semakin bagus unsur imajinasi pengarang dalam sebuah karya, maka ia akan semakin diperlakukan sebagai sebuah fakta sejarah," ujar penulis kumpulan cerpen Orang-Orang Blomingtoon.
Untuk novel berlatar sejarah Budi mencungkan dua jempol buat karya-karya Pramoedya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada pengarang yang mampu membangun imajinasi seperti Pramoedya meniupkan ruh pada sosok Minke yang notebene merupakan prototipe dari Tirtoadisoerjo.
Dalam novelnya Pramoedya membangun sebuah panggung fiksi yang hidup dan memikat. Singkatnya, Pramoedya mampu menggelitik benak pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang ada selama ini. "Pramoedya menggambarkan dengan sempurna kebangkitan yang terjadi pada tahun 1920-an," kata mantan rektor IKIP Surabaya.
Sementara pada novel-novel lain, Budi merasa penulisnya kurang mendalami semangat kepahlawanannya. Padahal, ketika seorang penulis mengangkat tema kepahlawanan dalam karya sastra ia harus menyerap semangat jaman serta semangat juang pada masa itu. ""Jika kurang mendalami maka pahlawan yang diangkat akan tampak berupa latar belakang ketimbang tokoh yang menonjol," ujar ayah tiga orang anak ini.
Novel-novel berlatar sejarah tak hanya bermanfaat pembaca awam, namun juga untuk para peneliti. Misalnya saja, Benedict Anderson yang menggunakan novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menggambarkan situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme di Filipina. Novel tersebut menjadi latar belakang karya monumentalnya, Immagined Communities.
Dalam studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern.
Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.
Remy menyayangkan minimnya minat pengarang untuk menulis novel berlatar belakang sejarah. Menurut dia, hal itu disebabkan masih minimnya minat pembaca pada novel genre ini.
Belum lagi keterbatasan bahasa para pengarang muda, padahal litelatur sejarah rata-rata berbahasa Belanda. "Tapi saya melihat ada harapan regenerasi pengarang novel sejarah, saya melihat pengarang muda ES Ito punya kemampuan itu," ujar pria berambut putih ini.
12 Okto 2008, Jurnal Nasional
Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.
Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. "Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia," kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10).
Bagi lelaki yang memiliki nama asli Japi Tambajong ini, mengerjakan Pangeran Diponegoro bukanlah kali pertama ia menulis novel sejarah. Sebelumnya pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945 ini telah menghasilkan tiga karya fiksi berlatar sejarah. Tapi untuk menulis novel Pangeran Diponegoro, Remy mesti rela bolak-balik ke Belanda demi mengumpulkan data-data yang berserak. "Kadang saya suka gregetan kalau menemukan fakta baru, tetapi buku sudah dicetak," ujar pria yang memulai karier sebagai wartawan ini.
Sudah dua jilid novel tentang Pangeran Diponegoro yang Remy selesaikan. Keduanya baru bercerita tentang masa kecil pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini. "Diponegoro kecil amat menyukai wayang, Kumbakarna adalah tokoh yang dikaguminya. Ia amat terkesan dengan sosok raksasa yang hingga akhir hayat tetap membela tanah airnya," tutur Remy.
Pangeran Diponegoro lahir dari pasangan Raden Mas Suroyo dan RA Mangkarawati garwa selir dari RM Suroyo. Sejak kecil Pangeran Diponegoro tidak diasuh kedua orangtuanya, melainkan dengan nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri dari Hamengkubuwono I.
Ratu Ageng tidak membesarkan Pangeran Diponegoro di Keraton Mataram, melainkan membangun puri sendiri di Tegalrejo. Di sanalah ia dididik berbagai macam ilmu terutama ilmu agama Islam di Perdikan Mlangi.
Sejak kecil Pangeran Diponegoro telah diberi petuah oleh Ratu Ageng tentang kekejian bangsa Belanda terhadap rakyat Jawa. Karena itu sedari kecil rasa kebencian terhadap bangsa penjajah telah tertanam dalam benak pangeran yang kerap menggunakan sorban ini.
Pangeran Diponegoro tumbuh sebagai sosok lelaki yang memiliki integritas diri yang kuat. Pernah suatu ketika seorang warga Tegalrejo dibunuh Belanda karena tidak mau membayar pajak. Pangeran Diponegoro nekad menguburkan mayat tersebut, meski hal itu dilarang oleh Belanda. Kejadian tersebut kemudian menyulut perselisihan dengan Belanda.
Remy kini tengah mempersiapkan novel Pangeran Diponegoro jilid ketiga. Di sanalah sastrawan yang juga piawai melukis ini mulai bertutur mengenai konsep kebangsaan Pangeran Diponegoro sebagai orang yang berbudaya Jawa.
Kecintaan Pangeran Diponegoro terhadap Indonesia akan digambarkan secara detail oleh Remy dalam novelnya. "Ada bagian di mana Diponegoro meyingkirkan orang yang tak memberikan kontribusi apa-apa bagi perjuangannya," ujar Remy.
Novel yang dikerjakan dalam kurum waktu satu bulan itu, merupakan gabungan antara data historis dan imajinasi. Tentu kepiawaian Remy memadukan kedua unsur tersebut tak perlu dipertanyakan lagi. Ia sudah membuktikannya dalam Ca Bau Kan, Parijs van Java serta Kembang Jepun. "Imajinasi memiliki kekuatan untuk menghidupkan fakta sejarah yang semula kering kerontang," kata pria yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi itu.
Lelaki yang menguasai banyak bahasa ini memcontohkan, adegan di mana Pangeran Diponegoro memukul Danurejo. Pemukulan itu merupakan fakta, tetapi bagaimana Pangeran Diponegoro memukul, bagian mana yang terkena serta bagaimana respons Danurejo adalah hasil imajinasi Remy.
Menurut Remy, di sanalah kecerdasan penulis untuk membentuk sebuah kontiniuitas diuji. "Fiksi berfungsi membuat fakta sejarah menjadi untaian kata-kata naratif dan memiliki kontiniuitas menjadi enak untuk dibaca," kata Remy.
Remy mengatakan, novel Pangeran Diponegoro yang ditulisnya berbeda dengan novel sejarah tentang Gajah Mada ataupun Ken Arok. Menurutnya, buah karyanya berdasarkan pada data serta dokumen sejarah, sementara novel Gajah Mada maupun Ken Arok seratus persen imajinasi. "Merajut fakta-fakta sejarah merupakan kesulitan tersendiri bagi saya," ujar Remy.
Bukan hanya Remy yang mencoba membuat membaca sejarah menjadi menyenangkan dan menyulapnya dalam bentuk novel. YB Mangunwijaya pernah menulis tentang sosok Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dalam novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. "Novel tersebut mempengaruhi pendapat orang terhadap Sjahrir, padahal belum tentu sosok Sjahrir di dunia nyata sama dengan di dalam novel," kata sastrawan Budi Darma.
Dalam novel tersebut, Mangunwijaya dengan bahasa yang indah berhasil melukiskan situasi periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan. Semangat zaman yang menginginkan perubahan dapat dirasakan langsung oleh pembaca. "Sejarah dalam arti sebenarnya sering kali dilupakan, orang lebih condong membaca karya sastra," ujar pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 ini.
Ia memberikan contoh, ketika hendak mengingat kembali fenomena kawin paksa yang terjadi pada tahun 1920-an, orang tidak akan membuka-buka dokumen tentang kawin paksa atau data statistik pada tahun itu. Mereka akan memilih membaca karya-karya Balai Pustaka. "Oleh sebab itu karya sastra sering dianggap sebagai bukti otentik meskipun itu hanya imajinasi belaka," ujar Budi.
Nama Tirtoadisoerjo pun tak akan muncul kepermukaan, sekiranya Pramoedya Ananta Toer tak menulis novel Bumi Manusia. Novel buah karya pria kelahiran Blora ini sesungguhnya merupakan cerita fiksi, namun keberadaannya saat ini kerap dianggap sebagai fakta sejarah. "Fakta mengenai kebangkitan pers dalam novel Bumi Manusia memang ada benarnya, tetapi lebih banyak fiksinya," kata Budi.
Begitu pula ketika hendak menguak fakta tentang kerja paksa pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan, orang lebih suka membaca novel Pramoedya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ketimbang membuka setumpuk dokumen sejarah berbau apek.
Dalam novel yang ditulis mengalir tanpa pembagian bab ini, Pramoedya menjabarkan betapa kerja paksa pembangunan jalan tersebut memakan begitu banyak korban. Bahkan ia mengkategorikannya sebagai genosida. Pramoedya mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, serta 39 kota yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos lengkap dengan dampak sosial yang terjadi karena pembangunan jalan.
Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. "Sastra itu meski tidak menggambarkan realita sesusungguhnya, namun dapat disebut sebagai dokumen sejarah sekunder," kata Budi.
Budi mengatakan, kekuatan sebuah karya sastra mempengaruhi bisa atau tidaknya ia diperlakukan sebagai sebuah sejarah. "Semakin kuat dan semakin bagus unsur imajinasi pengarang dalam sebuah karya, maka ia akan semakin diperlakukan sebagai sebuah fakta sejarah," ujar penulis kumpulan cerpen Orang-Orang Blomingtoon.
Untuk novel berlatar sejarah Budi mencungkan dua jempol buat karya-karya Pramoedya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada pengarang yang mampu membangun imajinasi seperti Pramoedya meniupkan ruh pada sosok Minke yang notebene merupakan prototipe dari Tirtoadisoerjo.
Dalam novelnya Pramoedya membangun sebuah panggung fiksi yang hidup dan memikat. Singkatnya, Pramoedya mampu menggelitik benak pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang ada selama ini. "Pramoedya menggambarkan dengan sempurna kebangkitan yang terjadi pada tahun 1920-an," kata mantan rektor IKIP Surabaya.
Sementara pada novel-novel lain, Budi merasa penulisnya kurang mendalami semangat kepahlawanannya. Padahal, ketika seorang penulis mengangkat tema kepahlawanan dalam karya sastra ia harus menyerap semangat jaman serta semangat juang pada masa itu. ""Jika kurang mendalami maka pahlawan yang diangkat akan tampak berupa latar belakang ketimbang tokoh yang menonjol," ujar ayah tiga orang anak ini.
Novel-novel berlatar sejarah tak hanya bermanfaat pembaca awam, namun juga untuk para peneliti. Misalnya saja, Benedict Anderson yang menggunakan novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menggambarkan situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme di Filipina. Novel tersebut menjadi latar belakang karya monumentalnya, Immagined Communities.
Dalam studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern.
Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.
Remy menyayangkan minimnya minat pengarang untuk menulis novel berlatar belakang sejarah. Menurut dia, hal itu disebabkan masih minimnya minat pembaca pada novel genre ini.
Belum lagi keterbatasan bahasa para pengarang muda, padahal litelatur sejarah rata-rata berbahasa Belanda. "Tapi saya melihat ada harapan regenerasi pengarang novel sejarah, saya melihat pengarang muda ES Ito punya kemampuan itu," ujar pria berambut putih ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Musthafa
A Rodhi Murtadho
A Wahyu Kristianto
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Zakky Zulhazmi
A.J. Susmana
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Wachid BS
Abdullah al-Mustofa
Abdullah Khusairi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimanyu
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Maulani
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adrian Ramdani
Ady Amar
Afrizal Malna
Agnes Rita Sulistyawati
Aguk Irawan Mn
Agus R. Sarjono
Agus Riadi
Agus Subiyakto
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahm Soleh
Ahmad Farid Tuasikal
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Luthfi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadie Thaha
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rasyid
AJ Susmana
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander Aur
Alexander G.B.
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Rif’an
Aliela
Alimuddin
Alit S. Rini
Alunk Estohank
Ami Herman
Amich Alhumami
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminudin TH Siregar
Ammilya Rostika Sari
An. Ismanto
Anaz
Andaru Ratnasari
Andhi Setyo Wibowo
Andhika Prayoga
Andong Buku #3
Andrenaline Katarsis
Andri Cahyadi
Angela
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anton Sudibyo
Anton Wahyudi
Anwar Holid
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Arie MP Tamba
Arif Hidayat
Arif Zulkifli
Arti Bumi Intaran
Asarpin
Asep Sambodja
Asvi Warman Adam
Awalludin GD Mualif
Ayu Utami
Azyumardi Azra
Babe Derwan
Bagja Hidayat
Balada
Bandung Mawardi
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benni Setiawan
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Bernadette Lilia Nova
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Bhakti Hariani
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budi Winarto
Buku Kritik Sastra
Buldanul Khuri
Bustan Basir Maras
Camelia Mafaza
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Choirul Rikzqa
D. Dudu A.R
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Delvi Yandra
Denny JA
Denny Mizhar
Dewi Anggraeni
Dian Basuki
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dian Yanuardy
Diana AV Sasa
Dinar Rahayu
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Warsidi
Edy Firmansyah
EH Kartanegara
Eka Alam Sari
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Emil Amir
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
F. Budi Hardiman
Fadly Rahman
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fani Ayudea
Fariz al-Nizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatkhul Aziz
Felix K. Nesi
Film
Fitri Yani
Franditya Utomo
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Garna Raditya
Gde Artawan
Geger Riyanto
Gendhotwukir
George Soedarsono Esthu
Gerakan Surah Buku (GSB)
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Tri Atmojo
H. Supriono Muslich
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim H.D.
Hamberan Syahbana
Hamidah Abdurrachman
Han Gagas
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Hasan Aspahani
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Helvy Tiana Rosa
Helwatin Najwa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendriyo Widi Ismanto
Hepi Andi Bastoni
Heri Latief
Heri Listianto
Herry Firyansyah
Heru Untung Leksono
Hikmat Darmawan
Hilal Ahmad
Hilyatul Auliya
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husnun N Djuraid
I Nyoman Suaka
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilenk Rembulan
Ilham khoiri
Imam Jazuli
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santosa
Imelda
Imron Arlado
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Margareta
Indra Darmawan
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Insaf Albert Tarigan
Intan Hs
Isbedy Stiawan ZS
Ismail Amin
Ismi Wahid
Ivan Haris
Iwan Gunadi
Jacob Sumardjo
Jafar Fakhrurozi
Jajang R Kawentar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean-Marie Gustave Le Clezio
JJ. Kusni
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Julika Hasanah
Julizar Kasiri
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kadir Ruslan
Kartika Candra
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Ketut Yuliarsa
KH. Ma'ruf Amin
Khaerudin
Khalil Zuhdy Lawna
Kholilul Rohman Ahmad
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Krisandi Dewi
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kuswinarto
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lenah Susianty
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liston P. Siregar
Liza Wahyuninto
M Shoim Anwar
M. Arman A.Z.
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Harya Ramdhoni
M. Kasim
M. Latief
M. Wildan Habibi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria hartiningsih
Maria Serenada Sinurat
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Marsus Banjarbarat
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masriadi
Mawar Kusuma Wulan
Max Arifin
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Mezra E. Pellondou
Micky Hidayat
Mihar Harahap
Misbahus Surur
Moh Samsul Arifin
Moh. Syafari Firdaus
Mohamad Asrori Mulky
Mohammad Afifuddin
Mohammad Fadlul Rahman
Muh Kholid A.S.
Muh. Muhlisin
Muhajir Arifin
Muhamad Sulhanudin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Azka Fahriza
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhidin M. Dahlan
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naskah Teater
Nezar Patria
Nina Setyawati
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noor H. Dee
Noval Maliki
Nunuy Nurhayati
Nur Haryanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurudin
Octavio Paz
Oliviaks
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pamusuk Eneste
Panda MT Siallagan
Pandu Jakasurya
PDS H.B. Jassin
Philipus Parera
Pradewi Tri Chatami
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R Sutandya Yudha Khaidar
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmadi Usman
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rahmat Sutandya Yudhanto
Raihul Fadjri
Rainer Maria Rilke
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridha al Qadri
Ridwan Munawwar
Rikobidik
Riri
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rizky Andriati Pohan
Robert Frost
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Romi Febriyanto Saputro
Rosihan Anwar
RR Miranda
Rudy Policarpus
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S.I. Poeradisastra
S.W. Teofani
Sabam Siagian
Sabrank Suparno
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra
Sastra Gerilyawan
Sastri Sunarti
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra
SelaSastra ke #24
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Subhan SD
Suci Ayu Latifah
Sulaiman Djaya
Sulistiyo Suparno
Sunaryo Broto
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunudyantoro
Suriali Andi Kustomo
Suryadi
Suryansyah
Suryanto Sastroatmodjo
Susi Ivvaty
Susianna
Susilowati
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Bahri
Syam Sdp
Syarif Hidayatullah
Tajuddin Noor Ganie
Tammalele
Tan Malaka
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Trianton
Tengsoe Tjahjono
Th Pudjo Widijanto
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tiya Hapitiawati
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Joko Susilo
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi
Umar Kayam
Undri
Uniawati
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Vyan Tashwirul Afkar
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyudin
Wannofri Samry
Warung Boenga Ketjil
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Web Warouw
Wijang Wharek
Wiko Antoni
Wina Bojonegoro
Wira Apri Pratiwi
Wiratmo Soekito
Wishnubroto Widarso
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Wing King
WS Rendra
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yosi M. Giri
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Yuyu AN Krisna
Zaki Zubaidi
Zalfeni Wimra
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhaenal Fanani
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Zulhasril Nasir