Rabu, 15 Oktober 2008

Menimbang Diponegoro dalam Fiksi

Grathia Pitaloka
12 Okto 2008, Jurnal Nasional

Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.

Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. "Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia," kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10).

Bagi lelaki yang memiliki nama asli Japi Tambajong ini, mengerjakan Pangeran Diponegoro bukanlah kali pertama ia menulis novel sejarah. Sebelumnya pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945 ini telah menghasilkan tiga karya fiksi berlatar sejarah. Tapi untuk menulis novel Pangeran Diponegoro, Remy mesti rela bolak-balik ke Belanda demi mengumpulkan data-data yang berserak. "Kadang saya suka gregetan kalau menemukan fakta baru, tetapi buku sudah dicetak," ujar pria yang memulai karier sebagai wartawan ini.

Sudah dua jilid novel tentang Pangeran Diponegoro yang Remy selesaikan. Keduanya baru bercerita tentang masa kecil pangeran yang memiliki nama asli Ontowiryo ini. "Diponegoro kecil amat menyukai wayang, Kumbakarna adalah tokoh yang dikaguminya. Ia amat terkesan dengan sosok raksasa yang hingga akhir hayat tetap membela tanah airnya," tutur Remy.

Pangeran Diponegoro lahir dari pasangan Raden Mas Suroyo dan RA Mangkarawati garwa selir dari RM Suroyo. Sejak kecil Pangeran Diponegoro tidak diasuh kedua orangtuanya, melainkan dengan nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri dari Hamengkubuwono I.

Ratu Ageng tidak membesarkan Pangeran Diponegoro di Keraton Mataram, melainkan membangun puri sendiri di Tegalrejo. Di sanalah ia dididik berbagai macam ilmu terutama ilmu agama Islam di Perdikan Mlangi.

Sejak kecil Pangeran Diponegoro telah diberi petuah oleh Ratu Ageng tentang kekejian bangsa Belanda terhadap rakyat Jawa. Karena itu sedari kecil rasa kebencian terhadap bangsa penjajah telah tertanam dalam benak pangeran yang kerap menggunakan sorban ini.

Pangeran Diponegoro tumbuh sebagai sosok lelaki yang memiliki integritas diri yang kuat. Pernah suatu ketika seorang warga Tegalrejo dibunuh Belanda karena tidak mau membayar pajak. Pangeran Diponegoro nekad menguburkan mayat tersebut, meski hal itu dilarang oleh Belanda. Kejadian tersebut kemudian menyulut perselisihan dengan Belanda.

Remy kini tengah mempersiapkan novel Pangeran Diponegoro jilid ketiga. Di sanalah sastrawan yang juga piawai melukis ini mulai bertutur mengenai konsep kebangsaan Pangeran Diponegoro sebagai orang yang berbudaya Jawa.

Kecintaan Pangeran Diponegoro terhadap Indonesia akan digambarkan secara detail oleh Remy dalam novelnya. "Ada bagian di mana Diponegoro meyingkirkan orang yang tak memberikan kontribusi apa-apa bagi perjuangannya," ujar Remy.

Novel yang dikerjakan dalam kurum waktu satu bulan itu, merupakan gabungan antara data historis dan imajinasi. Tentu kepiawaian Remy memadukan kedua unsur tersebut tak perlu dipertanyakan lagi. Ia sudah membuktikannya dalam Ca Bau Kan, Parijs van Java serta Kembang Jepun. "Imajinasi memiliki kekuatan untuk menghidupkan fakta sejarah yang semula kering kerontang," kata pria yang menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi itu.

Lelaki yang menguasai banyak bahasa ini memcontohkan, adegan di mana Pangeran Diponegoro memukul Danurejo. Pemukulan itu merupakan fakta, tetapi bagaimana Pangeran Diponegoro memukul, bagian mana yang terkena serta bagaimana respons Danurejo adalah hasil imajinasi Remy.

Menurut Remy, di sanalah kecerdasan penulis untuk membentuk sebuah kontiniuitas diuji. "Fiksi berfungsi membuat fakta sejarah menjadi untaian kata-kata naratif dan memiliki kontiniuitas menjadi enak untuk dibaca," kata Remy.

Remy mengatakan, novel Pangeran Diponegoro yang ditulisnya berbeda dengan novel sejarah tentang Gajah Mada ataupun Ken Arok. Menurutnya, buah karyanya berdasarkan pada data serta dokumen sejarah, sementara novel Gajah Mada maupun Ken Arok seratus persen imajinasi. "Merajut fakta-fakta sejarah merupakan kesulitan tersendiri bagi saya," ujar Remy.

Bukan hanya Remy yang mencoba membuat membaca sejarah menjadi menyenangkan dan menyulapnya dalam bentuk novel. YB Mangunwijaya pernah menulis tentang sosok Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dalam novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. "Novel tersebut mempengaruhi pendapat orang terhadap Sjahrir, padahal belum tentu sosok Sjahrir di dunia nyata sama dengan di dalam novel," kata sastrawan Budi Darma.

Dalam novel tersebut, Mangunwijaya dengan bahasa yang indah berhasil melukiskan situasi periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan. Semangat zaman yang menginginkan perubahan dapat dirasakan langsung oleh pembaca. "Sejarah dalam arti sebenarnya sering kali dilupakan, orang lebih condong membaca karya sastra," ujar pria kelahiran Rembang, 25 April 1937 ini.

Ia memberikan contoh, ketika hendak mengingat kembali fenomena kawin paksa yang terjadi pada tahun 1920-an, orang tidak akan membuka-buka dokumen tentang kawin paksa atau data statistik pada tahun itu. Mereka akan memilih membaca karya-karya Balai Pustaka. "Oleh sebab itu karya sastra sering dianggap sebagai bukti otentik meskipun itu hanya imajinasi belaka," ujar Budi.

Nama Tirtoadisoerjo pun tak akan muncul kepermukaan, sekiranya Pramoedya Ananta Toer tak menulis novel Bumi Manusia. Novel buah karya pria kelahiran Blora ini sesungguhnya merupakan cerita fiksi, namun keberadaannya saat ini kerap dianggap sebagai fakta sejarah. "Fakta mengenai kebangkitan pers dalam novel Bumi Manusia memang ada benarnya, tetapi lebih banyak fiksinya," kata Budi.

Begitu pula ketika hendak menguak fakta tentang kerja paksa pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan, orang lebih suka membaca novel Pramoedya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ketimbang membuka setumpuk dokumen sejarah berbau apek.

Dalam novel yang ditulis mengalir tanpa pembagian bab ini, Pramoedya menjabarkan betapa kerja paksa pembangunan jalan tersebut memakan begitu banyak korban. Bahkan ia mengkategorikannya sebagai genosida. Pramoedya mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, serta 39 kota yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos lengkap dengan dampak sosial yang terjadi karena pembangunan jalan.

Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. "Sastra itu meski tidak menggambarkan realita sesusungguhnya, namun dapat disebut sebagai dokumen sejarah sekunder," kata Budi.

Budi mengatakan, kekuatan sebuah karya sastra mempengaruhi bisa atau tidaknya ia diperlakukan sebagai sebuah sejarah. "Semakin kuat dan semakin bagus unsur imajinasi pengarang dalam sebuah karya, maka ia akan semakin diperlakukan sebagai sebuah fakta sejarah," ujar penulis kumpulan cerpen Orang-Orang Blomingtoon.

Untuk novel berlatar sejarah Budi mencungkan dua jempol buat karya-karya Pramoedya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada pengarang yang mampu membangun imajinasi seperti Pramoedya meniupkan ruh pada sosok Minke yang notebene merupakan prototipe dari Tirtoadisoerjo.

Dalam novelnya Pramoedya membangun sebuah panggung fiksi yang hidup dan memikat. Singkatnya, Pramoedya mampu menggelitik benak pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang ada selama ini. "Pramoedya menggambarkan dengan sempurna kebangkitan yang terjadi pada tahun 1920-an," kata mantan rektor IKIP Surabaya.

Sementara pada novel-novel lain, Budi merasa penulisnya kurang mendalami semangat kepahlawanannya. Padahal, ketika seorang penulis mengangkat tema kepahlawanan dalam karya sastra ia harus menyerap semangat jaman serta semangat juang pada masa itu. ""Jika kurang mendalami maka pahlawan yang diangkat akan tampak berupa latar belakang ketimbang tokoh yang menonjol," ujar ayah tiga orang anak ini.

Novel-novel berlatar sejarah tak hanya bermanfaat pembaca awam, namun juga untuk para peneliti. Misalnya saja, Benedict Anderson yang menggunakan novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menggambarkan situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme di Filipina. Novel tersebut menjadi latar belakang karya monumentalnya, Immagined Communities.

Dalam studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern.

Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.

Remy menyayangkan minimnya minat pengarang untuk menulis novel berlatar belakang sejarah. Menurut dia, hal itu disebabkan masih minimnya minat pembaca pada novel genre ini.

Belum lagi keterbatasan bahasa para pengarang muda, padahal litelatur sejarah rata-rata berbahasa Belanda. "Tapi saya melihat ada harapan regenerasi pengarang novel sejarah, saya melihat pengarang muda ES Ito punya kemampuan itu," ujar pria berambut putih ini.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir