Jumat, 06 Februari 2009

Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

USAI Idul Fitri 2007 lalu Pemrov DKI Jakarta kembali merazia kaum urban baru, seakan menegaskan lagi "ketertutupan" Jakarta bagi mereka. Tetapi bagi kaum pengarang hal itu kini tidak penting-penting amat. Mau terbuka atau tertutup Jakarta bukan lagi yang memiliki fasilitas terlengkap dan oleh karena itu harus diserbu. Dunia telah berubah. Juga Tanah Air, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi.

Dua puluh lima tahun yang silam pada Temu Sastra '82 di TIM Jakarta, sastrawan Gerson Poyk mengungkapkan motivasi perpindahan kaum pengarang Indonesia ke kota besar. Antara lain, untuk mengembangkan "bakat alam" yang dimiliki akibat "pendidikan formal yang tersendat-sendat", juga karena "tidak adanya perpustakaan" di daerah atau di tanah kelahiran. Kacaunya pendidikan, tak adanya perpustakaan, dan sulitnya komunikasi terutama dengan sesama sastrawan berpengaruh terhadap pengembangan kepengarangan.

Gerson tidak berlebihan, namun ia tentu bicara tentang pengarang segenerasi, juga sebelum dia. Dan kita pun tahu situasi kondisi Tanah Air masa generasi itu. Negeri belum lama merdeka, setelah terjajah lama. Ekonomi payah. Sekolah, terlebih-lebih perguruan tinggi terbatas jumlahnya. Yang memadai memang ada di kota-kota besar terutama di ibu kota negara, Jakarta.

Di Jakarta, sejak lama ada penerbit buku, koran, majalah, yang besar-besar. Juga majalah-majalah sastra atau kebudayaan. Setelah kemerdekaan kedutaan-kedutaan negara sahabat bermunculan dan perpustakaannya bisa pula dimanfaatkan untuk melongok dunia menyibak cakrawala. Sekolah maupun perguruan tinggi (untuk yang ingin melanjutkan pendidikan yang tersendat), tersedia. Tahun 1968, oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dibangun Taman Ismail Marzuki, dan kaum seniman bahagia karena punya tempat untuk berkreasi, berdiskusi, berkumpul; tadinya terpencar dan terpopuler di Senen, sebagaimana Malioboro di Yogyakarta. Hingga akhir dekade 1980 TIM seperti barometer berkesenian di Tanah Air; ada kebanggaan tampil di sana, seolah seseorang sudah ditahbiskan sebagai seniman/sastrawan nasional.

Namun, satu-dua dekade terakhir para sastrawan merasa tidak perlu lagi pindah ke kota besar, bahkan Jakarta sekalipun; justru banyak yang menetap di kota kecil bukan ibu kota provinsi. Sebutlah Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Banyumas; Beni Setia di Caruban; Zawawi Imron di Sumenep; Gus TF Sakai dan Iyut Fitra di Payakumbuh; Acep Zamzam Noer di Tasikmalaya; Hardho Sayoko SPB di Kedungalar, Ngawi; Sunaryono Basuki KS di Singaraja, Bali; Mardi Luhung di Gresik, Jawa Timur serta banyak lagi lainnya. Semua sehat saja, baik saja, mampu menjaga kreativitas dengan apik. Atau pinjam istilah Gerson Poyk, mengembangkan bakat yang dimiliki.

Perubahan sikap itu tersebab banyak hal, tapi utama akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik dibanding zaman generasi Gerson Poyk. Dan, lebih penting lagi, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi luar biasa di tingkat global, yang juga melanda Tanah Air. Di mana pun orang sekarang bermukim tidak akan terpencil. Telepon seluler menghubungkan manusia satu sama lain. Televisi, komputer, internet, atau entah apa lagi membuka akses semua rupa informasi, tak kecuali yang ada di pojok-pojok dunia terjauh sekalipun. Sekat-sekat dunia telah rubuh. Dunia terbuka, menyatu. Menganga.

Ekonomi yang lebih baik daripada era '50-an dan '60-an juga melahirkan penerbit lebih banyak, bank lebih banyak, di samping sekolah-perguruan tinggi yang bertebaran di seantero Tanah Air. Toko buku di mana-mana. Satu-dua dekade lalu kita cuma memiliki majalah sastra-kebudayaan Horison serta Basis sesudah Budaya Jaya pun tidak terbit lagi di awal 1980-an. Selain Horison, Basis, belakangan muncul Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Cerpen serta sederetan lainnya di berbagai daerah.

Sementara itu koran serta majalah yang memuat esai, sajak, cerpen makin banyak. Beredar hingga pintu rumah. Mengirim karya lebih praktis, mudah, lewat e-mail, atau tak perlu ke pos. Begitu pula honor, tiap saat bisa dipantau atau diambil lewat ATM berbagai bank yang juga bertebaran di mana-mana, tak hanya di kota besar apalagi Jakarta tok.

Semua itu berkah, sudah tentu. Selain bebas stres akibat macet dan banjir Jakarta yang parah, honor mungkin terasa lebih sedap oleh pengarang karena biaya hidup di kota kecil atau di kampung relatif rendah. Lebih mendasar lagi, fokus. Dapat lebih konsentrasi mengkaji diri di tengah dunia seperti ini, menyigi ke putih-tulang pelbagai aspek negeri dewek, lantaran energi tidak hilang lenyap menguap dihisap hiruk-pikuk kota besar yang pengap.

Walhasil, ke depan, ada harapan kita tidak sekadar figuran di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga. Tak hanya konsumen. Ada harapan akan lahir karya-karya yang ikut bicara di percaturan dunia, beraroma Nusantara, sebagaimana karya pengarang asal India yang sekarang berkibar tidak ubahnya bendera. Bukankah dunia yang terbuka juga menyeragamkan dan orang rindu yang khas, yang spesifik? (Eh, jangan-jangan karena itu penyair Afrizal Malna meninggalkan Jakarta tinggal di Solo atau Yogya, agar dekat-dekat dengan roh Tanah Air; Ajip Rosidi memilih menetap dekat Borobudur, tak di Jakarta atau di Bandung setelah merantau lama di Jepang; atau Wisran Hadi yang balik lagi ke Padang dan tetap tidak guyah untuk tergoda hengkang ke kota lebih besar sebutlah Jakarta selesai mengajar di Kualalumpur.)

Tetapi agaknya memang ada yang hilang di tengah-tengah dunia seperti sekarang. Sebagaimana lazimnya teknologi, teknologi informasi serta komunikasi canggih dewasa ini juga tidak bebas dari karakternya yang cenderung menyendirikan manusia, termasuk kita, para pengarang. Komunikasi langsung yang heboh bergairah tergantikan komunikasi senyap lewat pesan-singkat, internet, telepon seluler. Dan kita pun kehilangan raut wajah, ekspresi, gerak tangan kawan bicara, yang kadang menggetarkan gelas kopi di meja. Dan tidak pula bisa serentak kita lakukan dengan banyak kawan, sewaktu rindu bertukar cerita perkara anak-cucu yang lucu maupun pergulatan-pergulatan kreatif dalam mengarang.

Malangnya, lembaga-lembaga berkompeten semisal Dewan Kesenian Jakarta kini pun tidak lagi menyelenggarakan pertemuan sastrawan bagai tempo dulu. Bahkan Wisma Seni di TIM telah digusur. Di atasnya berdiri gedung megah, modern, dingin. Padahal, di kamar-kamar wisma itulah terjadi pertemuan sastrawan se-Indonesia yang sesungguhnya, melalui percakapan-percakapan intens-manusiawi hingga larut hari.

Apa buat. Itu memang cerita lain lagi. Sekarang zaman berubah dan kita berada di tengah-tengah dunia yang terbuka, menganga, dengan coraknya yang sangat beda dengan dua puluh lima atau puluhan tahun yang silam. Walau tempo-tempo, memang terasa aneh atawa ganjil. ***

*) Pengarang dan wartawan.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir