Minggu, 19 Oktober 2008

BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY SETIAWAN*

Sutejo

Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Meskipun lelaki ini mengaku bahwa menulis cerita pendek mulanya hanya untuk mengisi kejenuhan. Lama-lama keterusan. Bahkan, menjadi profesi dan tumpuan hidup (MataBaca, 2005:9). Kedua, dunia cerpen lebih menjanjikan. Ketiga, dalam menekuni kepenulisan dia berawal dari puisi. Keempat, karena “kebutuhan hidup” dia mencoba banyak menulis berbagai tulisan dari esai sastra, resensi buku, hingga cerpen.

Untuk ini, jika kita mau belajar dari pengalaman Isbedy Stiawan ini maka beragam hal menarik berikut penting direnungkan. Pertama, menulis puisi tidaklah dapat diremehkan. Pengalaman Isebedy ini menunjukkan bahwa dunia puisi merupakan pintu kepenulisannya. Artinya, memang menulis puisi pada awalnya menekankan pada ”kemenarikan kata dan larik”, maka memasuki dunia cerpen misalnya, tentu bukan persoalan yang susah. Para penyair yang juga menulis cerpen ini banyak seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sutardji Calzaum Bahri, Tjahjono Widianto, dan sebagainya. Pengalaman awal kepenulisan lewat puisi ini mengingatkan apa yang dialami oleh Azyumardi Azra sebelum kemudian terjebak pada kepenulisan ilmiah.

Dengan begitu, menulis puisi misalnya, jika dikondisikan sejak usia SMA akan menjadi pentu tergalinya bakat kepenulisan. Setelah itu, maka hal kedua yang dapat diambil adalah “bahwa bakat hanyalah memberikan ruang potensi”. Setelah itu, keterpaksaan akan terpenuhi kebutuhan hidup itulah yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Kebutuhan hidup, karena itu, akan mampu melahirkan etos usaha (berkarya) yang luar biasa. Hasilnya, memang tidak tanggung. Belajar dari kasus cerpen Isbedy misalnya, dia bilang, kalau dimuat di Koran dia dapat honor, dikumpulkan menjadi buku kemudian dia dapat honor juga. Sebuah penerimaan ganda yang hal itu relatif berbeda di bandingkan dengan dunia puisi.

Sekadar pemaknaan, bahwa kepenyairan sebagai pintu kepenulisan barangkali dapat dirasionalkan seperti ini. Bahwa penyair sangat dipengaruhi oleh imajinasi awalnya sebelum alir lewat kata berirama dan bermakna. Imajinasi pada prosesnya akan mengingatkan pesan sufistik Einstein yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sumber segala ilmu kepenulisan tampaknya memang imajinasi. Di situlah kemudian mengalir dalam beragam bentuk tulisan setelah terjadi pematangan pada satu bidang tulisan. Ini wajar karena memang dunia kepenulisan sesungguhnya dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Meminjam bahasa Abdul Hadi WM, hakikat kepenulisan dan substansi kehidupan adalah sesuatu yang komprehensif berkelindan antarsatu dengan yang lainnya. Bukan parsialisasi bidang yang hanya alirkan kejengahan dan kebimbangan.

Ketiga, bahwa kebermulaan dari iseng memang dapat melahirkan keberuntungan. Pengalaman Isebedy dalam mengisi “ruang beku” kepenyairan dengan menulis cerpen justru mengukuhkannya namanya yang kian meroket. Pada tahun 2005 saja misalnya, dia menerbitkan empat kumpulan cerpen yang menarik. Salah satunya adalah Kau Jadi Ikan. Isbedy Setiawan ini melengkapi tradisi penulis murni sebagaimana halnya Hamsad Rangkuti. Di sinilah, maka (berangkat dari pengalaman Isbedy) pintu-pintu genre tulisan lainnya ternyata hampir otomatis dapat ditulisnya. Pertanyaannya adalah apakah semua penulis (utamanya pemula) dapat melakukan seperti halnya Isbedy ini. Tentu jawabnya tidak. Semuanya tergantung pada proses pelakuan hidup penulis sendiri. Pesan tersirat dari perjalanan Isbedy ini adalah kelurusan dan etos yang tak henti berkarya. Kejenuhan berkarya dapat dialirkan pada hal lain yang juga bermakna.

Jika kita meminjam rumus sukses menulis A.A. Navis, maka terjumpailah bahwa bakat alam itu hanya berandil 20 persen saja sedangkan lainnya berupa etos, keuletan, dan kreativitas. Sebuah alarm yang senantiasanya mengingatkan bahwa menulis bukanlah turunan, tetapi sebuah upaya, sebuah ghirah, sebuah semangat yang berkobar-kobar. Menyala seperti gunung api yang siap mengalirkan panas dalam laku liku sungai kepenulisan di bawahnya.

Meski belum seberuntung Hamsad yang mendapatkan bonus Khatulistiwa Award, tetapi etos dan karyanya adalah jawaban atas bagaimana sebaiknya menjadi manusia. Sebagaimana disindirkan Hardjono WS bahwa ciri manusia adalah menulis kalau tidak menulis bukan manusia mendapatkan justifikasi alami karena kalau tidak menulis kebutuhan hidupnya jadi terganggu.

Jika kita pelajar, mahasiswa, atau guru misalnya, yang mau berkaca pada cermin personal Isbedy ini, maka rasa malu akan hinggap sepenuh waktu. Ketidakpastian hidupnya berubah motivasi karya yang luar biasa. Andaikan guru-guru kita, mahasiswa, dan siswa kita melakukannya, sebuah harapan luar biasa dapat dipuja. Mudah-mudahan pengalaman Isebedy demikian akan menjadi inspirasi kita manakala memutuskan jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Tunggu apalagi?
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir