Senin, 27 September 2010

Ma’iyah: Kepemimpinan Bani Syari’at

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Sepeninggal bapak pluralisme (KH. Abdurrahman Wahid), para sejarawan mulai me-nganalisa rumusan pemikiran baru. Rumusan baru itu ditarik berdasarkan gelombang waktu yang mengalami padatan momental. Dimana warna kepemimpinan yang berhasil dan membuat nama besar kerajaan, ditandai dengan lahirnya sosok pemimpin dari kalangan bawah.

Kebesaran Majapahit sesungguhnya bukan pengaruh nama raja-raja yang sedang bertahta, melainkan karena konsep kepemimpinan seorang patih gajah Mada. Karir politik dan militer Gajah Mada berwal sejak pemerintahan Prabu Jaya Negara (1309-1328). Kedudukannya di Majapahit terus melejit sampai era kepemimpinan Jaya Wisnu Wardhani (1328-1360).

Menurut kitab Usana Jawa yang dipercaya orang Bali, Gajah Mada adalah putra Bali yang tak berayah-ibu. Ia terpancar dari dalam buah kelapa, jelmaan Sang Hyang Narayana. Gajah Mada diperkirakan lahir awal abad 14, yakni tahun 1300 M. sebab tahun 1321 ia sudah diangkat menjadi Mahapatih dan meninggal tahun 1364. Menurut sebagian cerita, Gajah Mada lahir di pedesaan sungai Brantas yang mengalir di antara Gunung Kawi dan Gunung Arjuno.

Sebagaimana Majapahit, Singosari juga menjadi kerajaan besar saat dipimpin oleh Ken Arok yang lahir dari kaum proletarian.

Munculnya kerajaan Mataram di alas Mantaok (daerah Yogyakarta) juga dipimpin oleh dinasti ploretarian anak cucu Ki Gede Pemanahan. Pada tahun 1575 Ki Gede Pemanahan sendiri hanyalah sesepuh masyarakat desa. Pola kepemimpinannya merombak dogma dan konvensi feodal, terbukti berpengaruh terhadap kepesatan kerajaan secara universal.

Keterangan yang menunjukkan bahwa dinasti Mataram keturunan petani di katakan oleh Trunojoyo saat perang dengan anak turunan Mataram saat pemerintahan Amangkurat II (1677-1703). “Raja Mataram iku diumpamakake’ tebu : pucuke maneh yen lagi, senajan bongkote ing biyen yo adhem ayem bae, sebab raja trahing wong tetanen, angur maculo bae bari angon sapi”(Mainsma, 1941).

Sebutan “Ki Gede/Ki Ageng” dan bukan “Raden” menunjukkan dari kelas bawah. Perombakan yang dilakukan oleh pemimpin dari kalangan petani lebih bersifat pluralistik yang membongkar sistem sentralistik. Sistem sentralistik dinilai hanyalah bilik kamar mandi kaum feodal untuk ber-ekstase onani. Penandaan perombakan diawali dengan merubah tatakrama bahasa. Saat Jaka Tingkir (Raja Pajang 1568 dengan gelar Sultan Hadiwijaya) menantang Arya Penangsang (Adi Pati Jipang). Dalam surat tantangan itu Jaka Tingkir menuliskan kata “Kakang” di depan nama Arya Penangsang. Padahal Arya Penangsang lebih tinggi derajatnya karena keturunan asli Demak, sedangkan Jaka Tingkir hanyalah menantu Demak.

Dalam tatanan teologi Islam ada beberapa pendapat yang memposisikan hubungan antara makhluk dengan Alloh di dasarkan pada fase nilai. Nilai terendah disebut hubungan (abadah) syari’at, niali ke II hubungan secara hakikat, dan nilai ke III hubungan ma’rifat. Penilaian semacam ini tepat jika yang menilai tingkatan itu adalah Alloh sendiri sebagai hak prerogatif Tuhan. Tetapi jika yang menilai manusia, hanyalah sebagai sarana pengkotaan nilai antara dirinya yang harus dijunjung dengan kaum rendah.

Syari’at adalah aturan riel yang harus dijalani hamba dalam mengabdi pada Alloh: syahadat, sholat, zakat, puasa, haji. Syari’at harus dilakukan secara nyata yang menyangkut syarat dan rukunnya. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali membedakan tingkatan syari’at dan hakikat. Puasanya orang-orang syariat adalah tidak makan dan minum. Puasanya orang-orang hakikat adalah zuhud (menjahui dunia). Puasanya orang ma’rifat adalah percintaan terus menerus dengan Alloh. Dari sini jelas bahwa yang dimaksud “Bani Syari’at” adalah orang-orang yang mengerjakan sesuatu secara nyata.

Cak Nun dan Totok Rahajo dalam pengajian Padhang mBulan tangal 26 Juli 2010 mengungkap bahwa posisi syari’at, hakikat, ma’rifat adalah satu kesatuan yang tidak bisa lepas. Ketiganya merupakan aransemen nilai yang berkesinambungan untuk memperbaiki nilai pada tiap-tiap hamba. Toto Raharjo menjelaskan contoh konkrit dalam menjalankan syari’at. Untuk menjalankan partai misalnya, harus dipenuhi hukum/ketentuan syari’atnya: anggaran dasar, anggaran rumah tangga, ketua dan angotanya.

Selama ini yang dilakukan orang-orang Maiyah adalah kontribusi riel terhadap permasalahan sosial, agama dan negara, dan bukan hanya pengajian semata. Secara pribadi, Cak Nun mencontohkan perihal perilaku syari’at dalam rumah tangganya. Bahwa dalam persoalan kecil berumah tangga, Cak Nun harus menyuci baju, nyapu, bersih-bersih rumah sendiri, tidak harus menyuruh istri dan anak. Namun hal demikian disyukuri Cak Nun sebagai nikmat, sebab banyak kalangan pejabat dan orang-orang yang sudah terkenal, justru tidak mampu melampaui masa-masa mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Sejauh ini para presiden di Indonesia adalah orang-orang yang sejak kecil menghuni rumah kebesaran orang tuanya atau institusinya. Keseharian mereka tidak pernah terlibat langsung dengan permasalahan-permasalahan dasar yang terjadi di masyarakat. Mereka tidak mengetahui betul berapa harga cabe, garam, dan trasi, yang tiap harga kebutuhan pokok itu harus didapat masyarakat dengan bekerja keras seharian. Ketidaktahuan para presiden tentang kebutuhan masyarakat secara detail ini mempengaruhi presiden ketika menggulirkan transaksi-transaksi pasar berskala besar. Semisal monopoli, oligopoli, pasar bebas dan lain sebagainya, seringkali tidak berpihak pada ekonomi rakyat.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir