Jumat, 21 Oktober 2011

Perang Bubat yang Lain

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

PERANG itu konon terjadi tahun 1357 Masehi, di sebuah tempat bernama Bubat. Ketika itu, Raja Galuh Prabu Maharaja Linggabuana datang membawa putrinya yang cantik, Dyah Pitaloka Citraresmi. Kedatangan raja Sunda beserta rombongan adalah untuk menikahkan putrinya dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Kedatangan rombongan dari Kerajaan Galuh itu oleh Mahapatih Gajah Mada ternyata dimaknai lain. Bukan untuk perkawinan, melainkan penyerahan putri Dyah Pitaloka untuk diperistri Hayam Wuruk sebagai tanda bahwa kerajaan Sunda Galuh mengakui kekuasaan Majapahit.

Kontan saja ambisi politik Gajah Mada ini menyakiti harga diri Prabu Maharaja Linggabuana. Mereka menolak keinginan Gajah Mada dan siap bertempur sampai mati. Dan itu akhirnya terjadi. Gajah Mada dan pasukannya mengepung Bubat, tempat rombongan kerajaan Sunda Galuh berkemah. Karena rombongan kerajaan Sunda Galuh datang bukan untuk berperang, mereka kalah telak. Tapi demi harga diri, pasukan Sunda Galuh bertempur sampai mati. Termasuk Prabu Maharaja Linggabuana dan putrinya Dyah Pitaloka.

Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan Perang Bubat. Perang dan peristiwa tragis yang jejaknya sampai hari ini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda. Ingatan yang konon pula menjadi semacam duri dalam hubungan antara etnis Sunda-Jawa. Dan Gajah Mada dianggap sebagai biang keladinya. Maka, menyebut Perang Bubat, terutama bagi kebanyakan orang Sunda, adalah menyebut nama Gajah Mada. Seorang antagonis yang licik dan ambisius. Dialah yang menyebabkan kematian Prabu Maharaja Linggabuana dan Dyah Pitaloka.

Lalu bagaimana ketika imajinasi kolektif ihwal Perang Bubat itu hadir dari sudut pandang narasi yang lain, ketika ternyata perang itu disebut menyimpan kisah cinta antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka? Juga disebutkan bahwa Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka sesungguhnya tidaklah gugur di Bubat, dan latar belakang Gajah Mada yang berasal dari Banten serta keturunan Cina. Pada masa mudanya ia bernama Ramada dan pernah berbakti di Kerajaan Sunda Kawali. Lalu narasi itu juga mengatakan bagaimana perang dan peristiwa tragis itu terjadi semata-mata bukanlah karena ambisi politik Gajah Mada, melainkan karena intrik politik di kalangan istana.

Inilah narasi lain ihwal Perang Bubat yang diangkat Aan Merdeka Permana dalam novelnya “Perang Bubat” yang diterbitkan Penerbit Qanita. Sejak cetakan pertama Maret hingga Juni 2009 novel ini telah memasuki cetakan ke-2. Tafsir narasi yang dilakukan oleh Aan ini tak hanya menyebal dari narasi “resmi” tentang Perang Bubat seperti yang termaktub dalam berbagai sumber sejarah tradisional, sebutlah, Pararaton, Carita Parahyangan, Kidung Sunda, atau Kidung Sundayana . Tapi juga amat berlainan dengan novel yang bertutur atau berlatar belakang Perang Bubat, seperti, “Gajah Mada” karya Langit Kresna Hariadi atau “Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit” karya Hermawan Aksan.

Ketaklaziman ini bukannya tidak disadari oleh Aan Merdeka Permana. Berbeda dengan para pengarang lainnya yang menulis novel yang berkonteks sejarah lewat berbagai riset dan pembacaan berbagai referensi, Aan Merdeka Permana menulis “Perang Bubat” mendasar pada sumber lisan sejumlah orang dalam perjalanannya dari Bandung Selatan, Garut, hingga ke Bubat di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

“Bahwa kisah ini bertolak belakang dengan “babon sejarah”, tentu tak perlu dirisaukan benar sebab ‘data’ yang saya temukan tak memiliki bukti otentik seperti yang diisyaratkan ahli sejarah. Lagi pula, pengarang menyusunnya dalam kisah fiksi semata, mungkin hanya untuk sekadar tampil beda dengan kisah-kisah yang bersumber dari catatan resmi. Jadi, pembaca harus ingat: “Ini bukan novel sejarah!” tutur Aan Merdeka Permana dalam pengantarnya.

**

MESKI menyebut bahwa yang ditulisnya bukanlah novel sejarah, tapi tak urung novel ini dianggap kontroversial. Bisa saja novel ini mengidentifikasi dirinya sebagai karya fiksi, namun karena ia bertutur tentang peristiwa yang ada dalam berbagai sumber tertulis dan kadung telah menjadi bagian utuh dalam imajinasi kolektif masyarakat, soalnya bukan sekadar ingin tampil beda. Penyimpangan yang dilakukan mau tak menimbulkan sejumlah risiko.

Inilah yang mengemuka ketika novel “Perang Bubat” didiskusikan di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Rabu (27/5) kerja sama Pusat Data Redaksi HU “PR” dan Penerbit Qanita. Menghadirkan pembicara Prof. Jakob Sumardjo dan Aan Merdeka Permana, diskusi memang berkonsentrasi pada ketaklaziman dalam novel itu.

Jika Perang Bubat hendak dibaca sebagai sejarah, tentu saja itu terbuka pada berbagai tafsir dan sudut pandang. Hanya saja, setiap tafsir dan sudut pandang memerlukan argumen yang merujuk pada data dan referensi yang jelas. Bukan pada sembarang cerita lisan yang tidak mendasar, meski itu mengelak untuk disebut sebagai novel sejarah dan melulu hanya sebagai fiksi. Fiksi yang berlatar peristiwa sejarah agaknya masih bisa dipahami, tapi fiksi yang mencampur-baurkan peristiwa sejarah di dalamnya akan jadi menyesatkan.

Inilah yang dipertanyakan oleh Tendy Somantri tentang kebebasan imajinasi pengarang di hadapan peristiwa sejarah dengan berbagai rujukan data yang tersedia seperti perang Bubat. Terhadap pernyataan itu, Jakob Sumardjo memandang bahwa kebebasan pengarang dalam penulisan fiksi sejarah haruslah tetap mendasar pada data-data sejarah. “Menulis fiksi sejarah haruslah dibarengi dengan pembacaan literatur sejarah itu sendiri. Kalau novel ini terbit di tengah masyarakat yang memahami sejarah, novel ini tidak akan dibeli. Tapi dalam masyarakat yang tunasejarah, novel ini akan laku. Tanggung jawab menulis novel yang berhubungan dengan sejarah itu berat”, ujar Jakob Sumardjo.

Jakob menghadapkan novel “Perang Bubat” ini dengan apa yang termaktub dalam Kidung Sunda. Dan ia melihat ketidaklaziman novel tersebut. Bukan hanya soal latar-belakang timbulnya konflik atau identitas Gajah Mada, tapi juga pada sejumlah adegan yang dianggapnya janggal. Misalnya, adegan ketika Ramada (Gajah Mada) bertemu dengan Dyah Pitaloka di tepi kolam di sebuah taman. Merujuk pada arsitektur ruang istana seperti termaktub dalam Kidung Sunda dan cerita pantun, dalam pandangan Jakob Sumardjo hal ini mustahil terjadi. Sebab, ada sembilan pintu yang harus dilewati oleh siapa pun yang hendak bertemu dengan raja dan keluarganya.

“Penggambaran ini memberi kesan istana Galuh itu kecil. Gajah Mada dapat langsung naik kuda masuk ke istana. Keraton-keraton tua di Indonesia selalu digambarkan memiliki halaman yang luas dan berpagar secara berlapis. Itulah sebabnya pantun-pantun Sunda menggambarkan istana Sunda sebagai masuk melewati sembilan pintu dan keluar tujuh pintu, dengan dua pintu belakang yang merupakan daerah terlarang kecuali keluarga raja sendiri,” tutur Jakob Sumardjo.

Demikian pula ketika ia mengurai latar belakang Gajah Mada yang dalam novel itu disebut-sebut berasal dari Banten dan pernah mengabdi di istana Galuh, peristiwa di mana ia dan Dyah Pitaloka saling jatuh cinta. Jika dalam novel itu dikisahkan Ramada (Gajah Mada) bertemu Dyah Pitaloka sekitar tahun 1350, maka dalam sumber resmi pada tahun-tahun itu Gajah Mada telah menjabat mahapatih.

Jakob Sumardjo juga memeriksa kemungkinan mengapa dalam novel itu Gajah Mada disebut turunan Banten dan Cina. “Penulis novel ini menciptakan wajah baru Gajah Mada yang bernama Ma Hong Foe alias Ramada alias Basundewa Mada yang berdarah Cina. Mengapa dalam novel ini Gajah Mada berdarah Sunda Cina? Mungkin terinspirasi ‘patung Gajah Mada’ yang sudah menjadi mitos nasionalisme dengan wajah gemuk, tembem, dan bermata sipit. Patung itu sebenarnya adalah tafsir Muhamad Yamin ketika menemukan patung terakota di Trowulan,” kata Jakob Sumardjo. ”

Lepas dari kritik Jakob Sumardjo, Aan Merdeka Permana menjelaskan bahwa ketaklaziman perang Bubat dalam novelnya itu sesungguhnya menyodorkan gagasan yang tidak melulu mengarah pada perdebatan ihwal karya fiksi di hadapan data sejarah. Tapi kehendak untuk melihat sudut pandang lain dari latar-belakang konflik yang melatarbelakanginya, sehingga peristiwa perang Bubat tidak melulu kemudian hanya menghadapkan sentimen etinis antara Sunda-Jawa yang memprihatinkan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/perang-bubat-yang-lain.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir