Jumat, 21 Oktober 2011

Kritik Sastra ‘Postmodern’: Kontra Estetika

Yosi M. Giri*
Lampung Post, 24 Mei 2009

SEBUAH karya sastra, dalam wujud apa pun memiliki kandungan yang selalu dibalut oleh unsur-unsur estetis. Tak peduli, siapa pun penulisnya, karya sastra akan dihadapkan pada muatan seni yang ditawarkan secara eksplisit atau sembunyi-sembunyi (implisit).

Di samping itu, unsur imajinatif dan keberbagaian tafsir adalah ciri yang melekat dan pastinya akan selalu ada. Jika tidak ada unsur-unsur fiktif inilah justru karya sastra patut dipertanyakan kesahihannya.

Sekitar tahun 1969, Goenawan Mohamad bersama Arief Budiman memperkenalkan metode Ganzheit, sebuah metode pembacaan terhadap karya sastra berkaitan dengan keberagaman makna sebagai produk penafsiran. Ketegasan akan tidak adanya makna tunggal pada suatu karya sejalan dengan Deskonstruksi Deridda, di sisi lain juga mempergunakan latar sosial seorang sastrawan sebagai grand naratif dalam pembacaan.

Seorang pengarang yang oleh peneliti sastra sufi Abdul Wachid B.S. disebut-sebut sebagai teks besar juga memiliki keterkaitan makna dengan produk kreatif yang berupa teks tertulis. Saat ia berhadapan dengan karya-karya Mustofa A. Bisri, misalnya, ia tidak mengambil kesimpulan dengan menutup satu mata kanan atau kiri. Ia tetap memosisikan teks sebagai otonomi yang kemunculannya berada di luar kekuatan pengarang. Hal ini memiliki kedekatan analisis dengan kajian Sigmund Freud tentang “ketaksadaran” seorang pengarang saat dirinya mengalami ketegangan yang kemudian disublimasikan dalam teks-teks naratif.

Kritik sastra, selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini justru memunculkan pertanyaan, apakah yang sebenarnya tengah dikaji oleh para pemerhati sastra kita hari ini? Masing-masing justru mengedepankan praktik propagandis yang oleh Gramsci dikatakan sebagai afirmasi kekuasaan literer dalam upaya merebut hegemoni massa.

Saat hak-hak minoritas sastra dibelenggu secara geografis, dominasi kelompok intelektual sastra justru mengalami fase “ngambang”. Mereka tak ubahnya kelompok-kelompok penyerang yang di tahun 1960-an meriah oleh Lekra dan Manikebu. Bersamanya pula, praktek kritik yang menyimpang terhadap laku menyerang pribadi seseorang atau pengarang terus saja diramaikan dan diamini (seolah-olah) sebagai bentuk penilaian yang sah dalam kesusastraan Indonesia.

Ketiadaan kritik sastra yang lebih memerhatikan nilai estetika dan kandungan isi ini tentu saja akan memberikan nilai-nilai yang tidak lebih dari penilaian yang didasarkan atas kekuasaan dan otoritas yang dilegitimasi oleh siapa yang berkuasa hari ini. Termasuk juga di dalamnya estetika, di mana Victor Shklovsky sebagai penganut formalisme dan lanjutan kaum Futuris, yang menyatakan bahwa seni adalah untuk memberikan penginderaan benda-benda sebagaimana dirasakan, dan bukan sebagaimana benda-benda itu diketahui.

Dalam pengertian ini, objektivitas tidak lebih penting daripada variasi persepsi terhadap karya itu sendiri. Demi kejelasan, sepenggal sajak berikut dapat dimaklumi jika ada ribuan tafsir tentangnya: Malam Lebaran//bulan di atas kuburan. Puisi ini ditulis Sitor Situmorang dalam kesadarannya akan fenomena alam saat ia hendak berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Puisi ini menjadi salah satu sumber kontroversi di majalah Zenith kala itu.

Genre lain, yakni cerpen Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin juga sempat memurubkan ketegangan dari pihak komunitas agama terbesar di kepulauan Nusantara, yakni Islam dan kelompok seniman yang secara sadar mendasarkan ideologinya pada “seni untuk seni”. Seni yang tetap mengandung imajinasi pengarang terlepas dari tendensi atau unsur propaganda apa pun.

Tahun 1980, seorang profesor sastra berkebangsaan Belanda, A. Teeuw, menerbitkan buku kritik sajak berjudul Tergantung pada Kata, yang berisi tentang 10 kupasan sajak Indonesia modern. Pembacaan tersebut dia lakukan dari tahun 1977 sampai 1978. Selama kurang lebih satu tahun, A. Teeuw melakukan pembacaan, memilih, dan menilai secara komprehensif bagaimana perkembangan puisi modern di Indonesia. Kehendak untuk melakukan penilaian itu didasari pula oleh ungkapan Goenawan Mohammad bait terakhir dalam sajak Pada Sebuah Pantai: Interlude: mencoba memberi harga pada sesuatu yang sia-sia.

Rumusan ini merupakan ketegasan bagi pembaca karya sastra, bahwa dunia yang mungkin (imajiner) masih dapat diberi penilaian dengan harga apresiasi yang total. Totalitas tersebut hanya dapat dilakukan jika pembacaan dan penilaian itu dikembalikan pada hakikat karya sastra, di mana kandungan makna dan konsep estetis itu perlu “direbut” agar “sesuatu yang sia-sia” itu menghadirkan nilai bagi kehidupan (realitas).

Dengan demikian, jelas bahwa kritik sastra yang dilakukan bukan kritik impresionistik yang dominan dengan langkah-langkah kerja subjektif belaka. Di saat koran-koran lain enggan menghadirkan ulasan-ulasan karya sastra meskipun kerja tersebut penting bagi infus perkembangan sastra. Minggu Pagi sebagai koran lokal dengan label “Enteng Berisi” memberikan ruang untuk apresiasi sastra tersebut. Upaya yang cukup membanggakan bagi para kritikus sastra dalam mengapresiasi karya-karya sastra masa kini.

Dalam buku Berkenalan dengan Puisi karangan Suminto A. Sayuti, pada bagian lampiran dikutip ulasan-ulasan sajak yang pernah ia lakukan dan pernah diterbitkan di Minggu Pagi. Salah satu sajak itu milik Raudal Tanjung Banua, yang kini aktif mengelola Rumah Lebah dan menerbitkan Jurnal Puisi di Yogyakarta. Disadari atau tidak, upaya menyediakan ruang kerja menganalisis karya sastra ini masih merupakan hal yang minim dilakukan oleh media massa.

Jika persoalannya adalah pada orientasi pembaca sebagai objek pemasaran tulisan. Maka pertanyaannya, apakah karya-karya sastra mutakhir seperti sekarang ini tidak membutuhkan kerja analisis dari para kritikus? Lalu bagaimana cita-cita para pekerja sastra yang “berharap-harap cemas” akan hadirnya kritikus sewibawa H.B. Jassin, jika ruang untuk bagi lahirnya kritikus saja tidak ada? Lalu bagaimana pula pembaca (masyarakat) mengetahui kualitas dan pesan yang dikandung karya sastra masa kini tanpa bantuan dari pembaca ahli (kritikus sastra)?

Inilah persoalan-persoalan kritik sastra postmodern, yang sering tersandung pada kup antarkomunitas dan masalah-masalah personal yang tidak lebih dari kritik karakter kemanusiaan. Dan wilayah ini jelas tidak masuk dalam rangka pengejawantahan hakikat karya sastra. Oleh karena itu, kepedulian media massa terhadap kritik sastra yang lebih objektif dan mendekatkan karya sastra pada masyarakat masih dibutuhkan demi kemajuan sastra dan budaya pada umumnya.
________________
*) Yosi M. Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/esai-kritik-sastra-postmodern-kontra.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir