Jumat, 21 Oktober 2011

Paul Celan, Candu dan Ingatan

Sulaiman Djaya*
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

Sang kata, pada siapa kau pamit,
menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu
di sini-tangkai, kalbu, bunga -
di sana telah lama jadi tamu
dan tak bakal lagi menyentuhmu

(Paul Celan, “Die Feste Burg”).

DALAM esainya Schibboleth pour Paul Celan Jacques Derrida memandang Paul Celan sebagai penyair dengan bahasa yang tercabik-cabik. Bahasa yang berkubang di antara luka dan ingatan. Akan tetapi, bagi saya, sajak-sajak Celan adalah tangis bisu melankoli. Campuran antara dendam, rasa bersalah, dan penyesalan diri yang tak berkesudahan. Kenangan dan ingatan sebagai hantu yang terus-menerus hadir, memabukkan, dan menyakitkan layaknya candu.

Celan adalah korban, ketika identitas dilekatkan pada tubuh. Tubuh yang didefinisikan secara politis dan rasis, tubuh yang telah ditandai “cap bakar” (“Brandmal”): “Tak lagi kita tidur, sebab terbaring di detik kemurungan, dan kita rentang jarum jam seolah ranting, dan ia melenting kembali, mencambuk sang waktu hingga berdarah”.

Sajak tersebut sepenuhnya surealistis, meski Celan sendiri menolak penyebutan “surealis” untuk sajak-sajaknya, sebab metafor yang dibangun dan teknik pengalihan yang dilakukan untuk menggambarkan sebuah pengalaman atau pun peristiwa demikian “sureal”. Sajak-sajaknya lebih mengedepankan fantasi dan pelukisan suasana batin, mirip upaya transendensi, yang dengan itu pula kita bisa menilai keunikan dan kelebihan sajak-sajak Celan dari penyair-penyair Jerman yang lainnya, semisal Goethe dan Brecht.

Dua kutipan yang diambil dari dua sajak yang berjudul “Mandorla” dan “Tenebrae” tersebut adalah ekspresi kemarahan dan gugatan.

Akan tetapi, Derrida punya pendapat lain. Sajak-sajak Celan menurutnya adalah ingatan tentang ingatan itu sendiri. Sebentuk penghapusan diri. Sejenis tujuan yang lahir dan lenyap, diri sebagai setitik jejak samar dalam sejarah. Karena bagi Derrida, ingatan itu sendiri adalah kekaburan, seperti candu yang membuat seseorang mabuk dan limbung. Ingatan adalah tanda yang tidak dapat dibaca dan dijelaskan, karena didasarkan pada kehilangan. Ingatan adalah candu yang memabukkan.

Ingatan dan kenangan yang memabukkan seperti candu tersebut adalah juga ingatan yang muram. Yang bila meminjam istilahnya Agus R. Sarjono, seperti ketika seseorang “berada di tengah gelap musim dingin” yang indah dan menggigil.

Kemuraman sajak-sajak Celan yang mengental sekaligus indah tersebut setidak-tidaknya terasa juga dalam salah-satu sajaknya yang berjudul “Die Feste Burg”: “Kutahu rumah paling malam dari segala rumah: suatu mata yang jauh lebih dalam dari matamu mengintai di situ. Di atapnya berkibar benderaderita yang lebar: bahan hijaunya -tak kau tahu kau lah yang menenunnya, juga terbang demikian tinggi, seolah bukan kau tenun sendiri. Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.

**

TEMA yang ingin dilukiskan dalam “Die Feste Burg” sesungguhnya tidak berbeda dengan “Espenbaum”. Sajak itu masih bercerita ihwal kenangan dan ingatan seseorang yang telah tiada. Seseorang yang juga telah menjadi korban “cap bakar”. Begitu juga di sisi lain, seperti yang telah dipaparkan oleh Berthold Damshauser, tema-tema yang ingin disampaikan, diceritakan, dan diungkapkan oleh Celan sebenarnya tidak jauh dari tema dan cerita yang ada dalam sajak “Brandmal”, “Tenebrae”, “Mandorla”, “Todesfuge”, dan “Corona”.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sajak-sajak Celan adalah partita elegi dan nyanyian penghiburan diri tentang kematian dan ingatan atau pun kenangan tentang kematian itu sendiri. Tentang orang-orang yang dikorbankan. Lima sajak tersebut menurut saya cukup mewakili semua sajak yang ada dalam buku kumpulan Candu Dan Ingatan, terjemahan dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia yang dikerjakan Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono.

Dari itu semua, apa yang ingin disampaikan secara tersirat oleh sajak-sajak Celan tak lain adalah sejarah, pengorbanan, perjanjian, dan penebusan, yang adalah juga tema-tema penting dalam Judaisme. Dan Celan sendiri sebagai penyairnya berkubang dalam tema-tema tersebut.

Namun, Celan bukan hanya korban dari politik rasisme dan rasisme politik dalam sejarah kelam totalitarianisme modern, ia adalah korban “trauma” yang tak mendapatkan obatnya. Sajak-sajak yang ditulisnya merupakan usaha tanpa henti untuk melakukan “penyembuhan luka batin” akibat terlampau tenggelam dalam “candu-ingatan” yang kadung menjelma “kegilaan melankolik” dan paranoia amat parah.

Dalam “Todesfuge”, dendam dan amarah tersebut menjelma kehendak untuk membuka sisi barbar sebuah politik dan kekuasaan yang telah menjadi “mesin kepatuhan” dan “pelayan” kesemena-menaan Hitler sang diktator yang oleh Celan disebut sebagai “Sang Maut” yang tak lain adalah “Maestro dari Jerman”: “Susu hitam dinihari kami reguk saat senja, kami reguk siang dan pagi, kami reguk malam, kami reguk dan reguk, kami gali kuburan di udara, di sana orang berbaring tak berdesakan. Seseorang lelaki tinggal di rumah, ia bermain dengan ular, ia menulis, ia menulis ke Jerman kala senja tiba rambutmu kencana Margarete, ia menulisnya dan berjalan keluar, dan bintang berkerlip ia bersuit memanggil herdernya, ia bersuit memanggil Yahudinya, dan menyuruhnya menggali kuburan di tanah, ia perintah kami ayo mainkan irama dansa”.

**

Sementara itu, dari sisi biografis, kehidupan Celan merupakan ikhtiar pelarian tanpa henti yang bila meminjam frasenya Berthold Damshauser, sebagai seorang “yatim piatu abadi”. Ia selalu merasa diri sebagai orang asing yang tak punya negara. Mirip nasib yang juga dialami oleh penyair Jerman lainnya, Heinrich Heine.

Celan adalah seseorang yang terpenjara dalam spiral ingatan akan masa silam yang memabukkan. Usahanya untuk menghilangkan trauma dengan menulis sajak justru semakin menguatkan ingatan akan peristiwa dan pengalamannya di masa silam.

Celan, yang bila kita kembali mengafirmasi jalan pikirnya Derrida, adalah kasus ekstrem sebuah korban dari trauma dan kekerasan yang jatuh dalam kekerasan lainnya, penghancuran diri, dan penghapusan diri. Dengan bunuh diri, Celan melakukan “holocaust” terhadap dirinya sendiri. Karena ia percaya, hanya kematian dan pelenyapan diri yang akan mengakhiri penderitaan batin dan kegilaannya akibat candu-ingatan.***
________________
*) Sulaiman Djaya, Penggiat Kubah Budaya Serang dan Forum Mahasiswa Ciputat.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/paul-celan-candu-dan-ingatan.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir