Kamis, 06 Oktober 2011

Matinya Bahasa Sunda

Acep Iwan Saidi*
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007

Ketika esai ini ditulis, di tangan saya ada 25 eksemplar Majalah Sunda Cupumanik (edisi 18/2005-edisi 43/2007). Majalah ini, sejak edisi 16/2005, menyediakan sebuah rubrik ”Kandaga Basa” yang isinya berupa babasan jeung paribasa. Ruang yang disediakan untuk rubrik ini dua halaman, setiap edisi diisi rata-rata 15-20 paribasa dan selalu diberi nomor dalam kurung setelah judul rubriknya. Karena yang ada pada saya mulai edisi 18, rubrik ”Kandaga Basa”-nya bernomor edisi (3).

Membaca dan menyimak rubrik ini segera akan terkesan pada kita bahwa betapa cergas dan kreatifnya orang Sunda masa lalu dalam berbahasa. Cergas sebab mereka tangkas dan terampil menangkap pengalaman hidup dan memformulasikannya lewat bahasa. Kreatif sebab bahasa yang diformulasikannya bukan bahasa biasa, melainkan penuh dengan metafora, efektif, dan selalu mempertimbangkan hukum bunyi sehingga rangkaian ungkapannya tidak hanya bernas secara substansial, tetapi juga estetik dalam segi bentuk.

Perhatikan babasan dan paribasa berikut, “kajeun kendor dapon ngagembol, cara anjing tutung buntut, ngindung ka waktu ngabapa ka mangsa, ambek nyedek tanaga midek, nulak cangkeng dina kelek, inggis batan maut hinis rempan batan mesat gobang, dan ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk.” Lupakanlah makna ungkapan-ungkapan itu, perhatikan diksinya yang ketat, dan dengarkan bunyinya yang merdu. Tanpa tahu maknanya, segera akan muncul kesan betapa bahasa ungkap itu tertata dengan rapi. Musikalisasi bunyinya juga terdengar harmonis.

Pada tataran filosofis, ungkapan-ungkapan itu jelas menunjukkan sebuah formulasi atas pengalaman prareflektif. Di situ bahasa tidak sekadar sarana pendeskripsi realitas, tetapi juga abstraksi dari pengalaman, bahasa yang telah memergoki pengalaman dan dengan tangkas menangkapnya. Mari periksa peribahasa berikut, “Piit ngendeuk-ngendeuk pasir, cecendet mande kiara.” Ini jelas sebuah abstraksi atas perilaku manusia yang tidak pernah mengukur kemampuan dan kualitas dirinya. Ia menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diraihnya. Tampak terang kepada kita, di situ bahasa telah memiliki rohnya sendiri. Ia masuk ke ruang transenden, wilayah yang kita anggap tak terbahasakan sebab kita selalu menganggap bahasa sebatas sarana untuk mendeskripsikan realitas belaka. Silakan juga periksa beberapa babasan dan paribasa lain seperti, “Milih-milih rabi, mindah-mindah basa, cul dogdog tinggal igel, caina herang laukna beunang, dan adat ka kurung ku iga.”

Formulasi bahasa semacam itu tidak mungkin lahir tanpa sebuah studi yang intens — apa dan bagaimanapun metodologinya. Kita tahu bahwa jejak penciptanya sulit ditelusuri. Ungkapan-ungkapan itu adalah produk masyarakat lisan. Ia diciptakan oleh penutur-penutur yang tidak perlu coretan nama diri di atas karangannya. Ia anonim. Namun, siapa pun penciptanya, ia pastilah seorang ahli bahasa yang menggauli bahasa sampai ke ruang-ruang paling gelap. Ia tidak menjadikan bahasa sebagai objek, ia tidak mengambil jarak dengan bahasa. Dirinya sendiri kiranya telah menjelma bahasa itu sendiri.

Tapi mengapa kini bahasa Sunda itu mati?

Persoalannya kemudian, apakah para penutur bahasa Sunda sekarang bisa melakukan hal yang sama? Apakah para sarjana sastra Sunda yang sering merasa sok modern mampu memformulasikan pengalaman dalam bahasa yang demikian? Ketimbang mendapat jawaban menggembirakan, sebuah berita menyedihkan justru diturunkan harian ini beberapa waktu lalu. “Penutur bahasa Sunda di Kota Bandung Hanya Tersisa 30%”, demikian tajuk berita tersebut (“PR”, 15/2/2007). Penutur yang 30% itu, katanya, terbatas pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan tahun 2010 tidak ada lagi urang Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Menyakitkan. Jika bahasanya hilang, bisa dipastikan budayanya pun lesap.

Kenapa nasib buruk demikian mesti menimpa bahasa Sunda? Gugun Gunadi, sarjana Sastra Sunda dan Staf Pengajar Fakultas Sastra Unpad, menyerang dengan jurus agak culas. Ia bilang bahwa tragedi itu terjadi akibat kesalahan ibu-ibu muda dan Dinas Pendidikan. Ibu-ibu muda tidak mau mengajari anaknya berbahasa Sunda. Dinas Pendidikan tidak mau memberlakukan bahasa Sunda sebagai bahasa pengajaran di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

Wow, jika saya berada pada posisi dua pihak tersebut, saya akan segera bertanya, apa pula yang Anda lakukan sebagai sarjana sastra Sunda? Apa ikhtiar Unpad (c.q. Jurusan sastra Sunda!) dalam mengatasi masalah tersebut? Bukankah sejauh ini Anda dan kawan-kawan hanya bersembunyi di sebuah ruang eksklusif bernama kampus? Mana karya Anda yang menunjukkan jerih payah untuk memasyarakatkan bahasa Sunda yang bisa dicerna publik: Buku? Hasil penelitian? Karya ilmiah? Bukankah Anda orang akademis yang mestinya bisa bekerja secara metodologis? Anda, saya kira, tidak diajari untuk hanya bisa menyalahkan orang lain. Anda pasti diajari untuk bertanggung jawab pada keilmuan Anda.

Tak sekadar soal bahasa

Persoalan bahasa tidak bisa diselesaikan dengan cara sederhana lewat pelajaran yang diberikan seorang ibu kepada anaknya atau lewat kurikulum yang diwajibkan pemerintah sebagaimana disinyalir Gugun. Tidak ada jaminan bahasa Sunda akan lestari jika dua hal itu dilakukan. Ketika melihat gejala ibu-ibu muda tidak mau mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya dan Dinas Pendidikan tak mau memberlakukan kurikulum, Gugun mestinya bertanya mengapa hal itu terjadi, bukan lantas menunjuk hidung mereka. Jika pertanyaan tersebut tak segera mendapat jawab, sebagai akademisi, hal yang mesti dilakukan tentulah melakukan riset yang serius, penelitian dedikatif yang tidak hanya demi kepentingan projek. Menuduh adalah cermin berpikir pragmatis, yang, tentu saja, tidak sehat dimiliki seorang akademisi.

Saya sendiri berasumsi bahwa bahasa Sunda kian menghampiri kematiannya karena ada banyak faktor yang membuat orang Sunda berjarak dengannya. Bahasa, kata Bronislav Malinowsky, lahir karena pengalaman badaniah” (Halliday, 1985: 10). Pengalaman badaniah adalah interaksi keseharian yang melibatkan banyak hal di samping manusia sendiri sebagai pelibat utamanya. Dalam interaksi ada ruang, waktu, dan benda-benda yang bergerak di dalamnya. Sekelompok orang yang berinteraksi di sebuah ruang dan waktu yang penuh dengan benda teknologi, misalnya, memungkinkan lahirnya ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang berkaitan dengan teknologi tersebut. Dari situ akan lahir bahasa ragam teknologi. Tidak mungkin lahir bahasa ragam sastra, politik, dan lain-lain di luar ranah teknologi.

Beranalogi pada contoh ekstrem tersebut, tentu tidak mungkin lahir dan/atau lestari bahasa Sunda jika ruang dan waktu tempat orang Sunda berinteraksi dipenuhi benda dan pemikiran yang menjauhkan mereka dari alam kesundaan itu sendiri. Akan sia-sia seorang ibu mengajarkan bahasa Sunda jika yang ada di dalam rumahnya bukan benda-benda yang mengingatkan mereka pada kesundaan, jika pola pikir mereka tidak nyunda. Omong kosong rasanya jika kita berkoar-koar kepada seluruh warga Sunda agar menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian. Kita hanya melihat bahasa sebatas alat yang dengan itu berharap bisa mendeskripsikan dan merepresentasikan realitas. Padahal, sebagaimana Malinowsky, bahasa adalah pengalaman keseharian itu sendiri. Bahasa adalah inti dari aktivitas. Bahasa diproduksi oleh aktivitas dan penanda-penanda yang melingkunginya. Maka, bagaimana bisa bahasa Sunda mendeskripsikan dan merepresentasikan aktivitas orang lain, dalam penanda orang lain pula.

Demikian juga soal kurikulum pendidikan bahasa Sunda. Mubazir kiranya kurikulum bahasa Sunda diberlakukan jika kelas dipenuhi benda dan model atau metodologi pengajaran asing. Bisa saja seorang murid mencapai nilai bagus dalam pelajaran, tetapi ia segera akan melupakannya setelah pelajaran itu lewat. Hal ini dimungkinkan terjadi sebab sang murid belajar bahasa Sunda sebatas kewajiban, selebihnya mengejar kelulusan. Kurikulum bahasa Sunda, dengan begitu, paling banter hanya akan bisa memenuhi syarat formal, tidak substansial. Sekolah akhirnya hanya mengajarkan kepura-puraan.

Lantas, bagaimana cara mencegah atau paling tidak memperlambat usia bahasa Sunda jika dalam realitas keseharian kita justru berjauhan dengan benda-benda dan pandangan hidup kesundaan sedemikian? Tentu jawabannya tidak cukup berteriak-teriak bahwa bahasa Sunda akan mati, apalagi dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Jawabannya, hemat saya, adalah berkarya. Tingkatkan terus karya-karya yang berkaitan dengan kesundaan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Contohlah strategi McDonald. Makanan ini eksis antara lain karena ia hadir nyaris di setiap sudut kota di seluruh dunia. Ingat juga bagaimana pada suatu masa yang telah lewat tari jaipongan menjadi demikian populer. Tarian ini eksis antara lain karena frekuensi kemunculannya yang luar biasa, baik dalam bentuk pentas maupun rekaman musiknya. Mari kita kepung orang Sunda dengan karya, bukan dengan umpatan. Para sarjana Sunda, Unpad, Unpas, dan pihak-pihak yang mendompleng pada kesundaan, berkaryalah! Meneliti, menulis, terbitkan minimal 1.000 buku, 1.000 jurnal, dan sekian ribu tulisan di media dalam setahun! Jangan beralasan hal ini tidak mungkin dilakukan. Kita hanya baru bisa hidup kalau mau bekerja keras, bukan? Jangan juga berkilah tidak ada dana! Unpad, misalnya, wow, kaya banget!

Kembali ke soal peribahasa di atas, orang Sunda terutama para sarjana sastra Sunda mestinya malu pada para karuhun. Mereka hidup dalam tradisi lisan yang kental. Mereka sering kita anggap sebagai terbelakang. Tapi, nyatanya mereka justru jauh lebih cerdas dari kita. Mereka mampu mengabstraksikan perilakunya dalam formulasi bahasa yang estetik dan bergizi. Lihatlah, sampai edisi terakhir Cupumanik yang saya baca hingga tulisan ini dibuat, tak ada satu pun peribahasa yang diciptakan oleh orang Sunda modern. Seluruhnya telah saya kenali sejak sebelum mengenal bangku sekolah dasar. Ah, saya jadi curiga pada model studi bahasa Sunda di perguruan tinggi. Jangan-jangan mereka telah menempatkan bahasa sebagai objek yang mati belaka. Jangan-jangan mereka hanya mengintip bahasa dalam jarak karena alasan objektivitas ilmiah. Jangan-jangan mereka pun mengilmiahkan bahasa Sunda dengan hukum-hukum yang diadopsi dari pola-pola bahasa asing sebagaimana dilakukan banyak pakar bahasa Indonesia terhadap bahasa nasional itu. Jika demikian halnya, pantaslah kalau kini bahasa Sunda melangkah kian cepat saja ke liang lahatnya!
___________________
*) Acep Iwan Saidi, Dosen pada Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Desain dan Budaya Visual FSRD ITB. Pernah kuliah Sastra dan Bahasa (S-1). Sedang menyusun buku Tata Bahasa Baku-Hantam Bahasa Indonesia.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/02/matinya-bahasa-sunda.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir