Sabtu, 03 September 2011

Misteri Syahrazad dan Matinya Para Pendongeng

Faisal Kamandobat
http://senimana.com/

PADA malam kelabu di masa kanak-kanak, ketika hantu-hantu dalam khayalan kita bermain layaknya badut-badut yang menyeramkan, kita sering meminta bantuan ibu kita untuk mengusir hantu-hantu itu. Ibu kita tak akan mengmbil tindakan gila dengan memberi anaknya sebuah kapak, tetapi memberi kata-kata yang disusun dalam dongeng yang penuh jebakan. Hantu-hantu itu pun lari terbirit-birit, takut pada kata-kata ibu kita; kata-kata murni yang menyimpan tenaga luar biasa, nyaris sama dahsyatnya dengan bom atom bikinan ilmuwan eksentrik yang beruntung.

Kata-kata dalam dongeng, itulah rahasia di balik kecerdikan Aladdin menyelamatkan diri dari muslihat penyihir jahat, senjata rahasia Syahrazad selamat dari ancaman Syahjehan, dan mantra misterius yang membuat unta milik Ali Bhaba bisa bersikap sama bijaknya dengan seorang filsuf yang menyamar menjadi seekor binatang. Dalam kantuk yang berat kita terus memikirkan kata-kata hebat dari Kisah 1001 Malam itu. Begitu dongeng berhenti ibu kita segera melepas bermacam fantasi dari alam pikirannya, keluar dari alam dongeng yang baru dikisahkannya, sambil mengusap wajah kita dengan khidmatnya.

Kata-kata seorang pendongeng memang tidak mampu mengubah mineral menjadi anggur, tapi mampu mengubah perasaan dan pikiran manusia. Komunikasi yang dibangun melalui dongeng tidak hanya sanggup mengusir hantu-hantu pengancam akal murni seorang bocah, tetapi mampu membentuk karakter, wawasan dan kosmos secara kreatif, pada diri narator dan pendengarnya. Terciptalah sebuah evolusi kesadaran yang dicipta melalui aktivitas berbahasa yang konstitutif dalam tinjauan fenomenologis dan komunikatif menurut bidang performasi-artistik.

Kejutan besar dalam model komunikasi dongeng adalah tiadanya gangguan walau seberapa besar kejutan dihadirkan: dongeng, yang merupakan genre sastra paling radikal dalam mengolah realitas berdasarkan fantasi, mampu menghadirkan efek dramatik melalui bahasa literer yang alamiah, nyaris setingkat dengan bahasa sehari-hari. Sifat dongeng ini membuka peluang bagi manusia dengan intensi sastra terbatas seperti ibu kita untuk menjadi seorang kreator bahasa yang elegan dan independen,karena bekerja di luar pengawasan badan estetika bernama kritikus sastra.

Kita boleh menuduh ia, ibu kita sang pendongeng, tidak orisinal karena menggubah dongengnya dari Kisah 1001 Malam. Namun itu keliru, karena menggubah adalah pekerjaan yang sarat kretivitas, baik bahasa maupun interpretasi. Di samping itu, kerja mendongeng ibu kita menunjukan posisi kreatifnya yang lain, yaitu sebagai Promotheus yang mencuri api-sastra dari tungku peradaban untuk menerangi nalar anak-anaknya yang masih dungu, sekaligus sebagai penyambung satu peradaban dengan peradaban lain dan penghubung dunia masa-lalu dengan masa-kini dalam bentuk pengalaman lingustik yang kongkret. Bila dunia sastra modern menyingkirkan para pendongeng sebagai Promotheus-nya, ia akan kehilangan akses dan investasi kultural yang besar dan strategis.

Terlebih sifat tekstual sastra modern, yang terbentuk sejak mesin-cetak Guttenberg, membuat ia semakin dibatasi abjad dan kertas sehingga pasif dalam berkomunikasi dengan pembaca, personal dan terutama kolektif. Hubungan semacam itu tidak terjadi pada dongeng, di mana narator dan pendengar dapat berkomunikasi dan membentuk cerita secara langsung dan bersama-sama. Dengan duduk dan diteruskan sebagai dongeng, karya sastra akan membentuk diskursus yang langsung berhubungan dengan nilai-nilai historis dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian menjadi media pengangkat dan penyaring nilai-nilai tersebut. Sastra sejati tidak berhenti sebagai teks di atas kertas, karena hakikat sastra adalah membaca dan menulis dengan menghadirkan alam subjektif (personal) ke dalam alam objektif (sosial) melalui kerja permainan berbahasa, agar makna-makna tidak membeku dalam kungkungan kuasa normativitas yang menahan gerak Heraklian dinamika manusia.

Pola komunikasi dongeng semakin terbuka untuk dihadirkan dalam konteks sosial kekinian, di mana gagasan dominan di ruang publik dikuasai aparatus ekonomi dan politik, dan bahasa telah menjadi agen penyebarannya yang paling progresif. Setiap kata, baik di pikiran maupun yang lidah kita, adalah instrumen pereduksi kesadaran dari gagasan dominan itu. Dongeng memang tidak mampu mengubah dunia sekuat rekayasa sosial para pemimpin politik, namun setidaknya dapat membuka kemungkinan dialog dengan nilai-nilai yang telah dibunuh dan makna-makna yang telah menjadi fosil atau abu. Dongeng menghidupkan spirit berbahasa yang telah mati, yang jika diolah kembali berdasarkan prespektif yang canggih bukan mustahil akan menghasilkan formula baru dalam cara kita memandang dan membentuk dunia.

Maka biarkan ibu kita menjadi pendongeng, menjadi aktris, menjadi seniman karakter dan bahasa. Dongeng adalah drama yang dipentaskan bukan di atas panggung, tapi di atas kehidupan. Seperti drama, terlibat dalam dongeng mengangkat posisi kita ke alam transenden, di mana nilai-nilai yang mengikat kita dapat diteliti, diubah dan diperankan. Dongeng tak ubahnya laboratorium manusia di mana impian, gagasan, dan karakter diobservasi di kamar bedah imajiner, kemudian diterapkan dan dilepas kembali ke habitatnya di alam nyata.

Dongeng, menyebut salah satu buah terbaiknya, dapat ditemui pada Kisah 1001 Malam. Kebudayaan Arab yang berkembang melalui pola hidup nomaden di padang pasir amat membutuhkan bahasa sebagai sumber kekuatan mental bertahan hidup. Penyair dan pendongeng memiliki posisi sentral di dalamnya (bahkan dalam kronik sejarah disebutkan terdapat sebuah suku yang seluruh anggotanya adalah penyair). Melampaui fungsinya sebagai pelecut semangat mengembara dan perang antar suku, mereka memiliki peran politik, estetika, spiritual, bahkan mistis. Sebuah kebudayaan di mana realitas dan imajinasi menyatu dalam bahasa dan mengental dalam kognisi, afeksi dan aksi di lapangan historis.

Sumber-sumber energi dan inspirasi dari geo-budaya yang muncul di masa kemudian hadir sebagai formula penyegar bahasa dengan filosofi dan spritualitas. Agama Yahudi dan Kristen yang telah hidup lama di Arab patut disebut sumbangannya, diteruskan agama Islam yang dibawa seorang nabi dari golongan Arab tulen sehingga berhasil menjadi sumber energi dan inspirasi yang relatif dominan. Pada saat yang sama komunikasi budaya antar suku, agama, dan geografi memberi sumbangan unik yang tidak kecil, yang cita-rasanya dapat kita rasakan sampai hari ini.

Di atas landasan yang luas dan kokoh itulah Kisah 1001 Malam lahir, tumbuh dan berkembang. Dengan sumber yang berlimpah ia memiliki banyak kemungkinan untuk terus dieksplorasi, di mana setiap pendongeng memiliki kebebasan memberi sentuhan variasi, baik pada bahasa (style) maupun isi (content). Sedang pola hidup nomaden padang pasir, yang meniscayakan mobilitas sosial terus-menerus, menjadi mesin penyebarannya yang efektif sekaligus menyatukan bangsa Arab berdasarkan spirit berbahasa yang kuat.

Satu hal yang sering menjadi pusat perhatian dalam dongeng legendaries ini adalah siapakah yang mencipta dongeng-dongeng yang dikisahkan Syahrazad kepada Syahjehan selama seribu satu malam. Padahal “misteri Syahrazad” ini ibarat “lubang hitam” yang membidani kelahiran dan pertumbuhan dongeng monumental ini secara terus-menerus, di mana dengan menihilkan klaim kreator atasnya berarti dongeng ini membuka kesempatan kepada siapa saja untuk menjadi kreatornya, pendongengnya, dengan memberi sentuhan kreartif atasnya. Jadi, bila Nietzsche pernah menulis bahwa setiap orang adalah filsuf menurut kapasitasnya masing-masing, Kisah 1001 Malam mengatakan bahwa setiap orang adalah pendongeng menurut ukuranya masing-masing.

Bagi akal literar pengemar teka-teki, “misteri Syahrazad” setidaknya mengandung dua hal yang petut dicurigai. Pertama, hubungan penuh jebakan antara Syahrazad dan Syahjehan, antara Syahjehan dengan Syahrarar (yang hendak membunuhnya namun selalu gagal karena Syahjehan selalu terjaga di malam hari untuk mendengar dongeng-dongeng Syahrazad), dan Syahrazad dan dongeng-dongengnya.

Masing-masing hubungan itu membuka kemungkinan dalam bermain-main plot demi menghasilkan struktur cerita yang kuat dan canggih. Dan plot tak sekedar plot itu sendiri. Plot mengandaikan aktus manusia dalam menjalani berbagai peristiwa, yang di dalamnya terdapat hubungan dengan waktu, baik waktu astronomis-kosmis maupun historis-antropologis. Pertemuan dua model waktu ini, ditambah kedalaman dalam mengeksplorasi psikologi para tokoh cerita, akan menghasilkan ruang eksperimen yang luas dalam kerja kreatif para pendongeng.

Kedua, hubungan pendongeng (narator) dengan dongengnya. Hubungan ini polarisasinya ditentukan oleh faktor idealis di mana pendongeng biasa menyusupkan sebentuk gagasan kepada pendengarnya. Gagasan itu dapat dihasilkan misalnya dengan membuka hubungan literer dengan tradisi intelektual dan spirit di luar dongeng itu sendiri. Maka bukan sesuatu yang muskil jika seorang teolog menjadikan keselamatan Syahrazad sebagai ilustrasi campur-tangan Tuhan terhadap hidup-matinya segala-sesuatu, atau seorang penguasa menjadikannya untuk menunjukkan adanya legitimasi ilahiat terhadap kekuasannya. Hubungan yang sama dapat dilakukan seorang astronom, filsuf, mistikus, atau seorang pecinta yang gigih.

“Misteri Syahrazad” seakan hendak mengatakan bahwa dengan ketrampilan bercerita kelas satu, ditambah kegilaan berkhayal dalam dosis yang tepat, kehidupan seseorang pendongeng, mengingat bobot dan spektrumnya, adalah sebuah potret spesifik yang menarik untuk diolah dalam tradisi dan cita-rasa sastra modern. Dan inilah yang dilakukan oleh Salman Rushdie dalam Haroun and The sea of Stories dan Naguib Mahfouz dalam Alfu Laila wa Laila wa al-Nahr.

Namun Kisah 1001 Malam, yang lahir dari kebudayaan Arab, mungkin tidak menarik bagi seorang esensialis kepala batu, yang mempercayai keaslian budaya suatu bangsa dengan mengabaikan hubungan saling mempengaruhi dengan budaya bangsa lain. Namun tak seorang pun dapat mengingkari kekuatan literer dan komunikasinya, baik antara narator dan pendengarnya, manusia dan dunianya, maupun bangsa dan kebudayaannya.

Dan hilangnya kekuatan komunikasi itulah yang membuat kita tak bisa menyelamatkan Serat Centhini dari kesadaran orang Jawa sekarang, La Galigo dari kesadaran orang Sulawesi kini, atau Ramayana dan Mahabrata ketika para dalang semakin kalah pamor dari Doraemon dan Tom and Jerry. Sebelum semua itu menjadi fosil dari praktek politisasi budaya yang orientasinya kelewat ekonomistik, pada dasarnya kita telah ikut melenyapkannya sejauh bahasa yang membentuk dunia kita tetap dibiarkan kehilangan konsentrasi historis dan fenomenologis terhadap dunia yang secara kosmik belum terakses bahasa Indonesia, namun secara praktis menjadi bagian sehari-hari kita; singkatnya, semua itu ada, namun tidak lagi hidup dalam batin kita, karena substansinya tak lagi terakses bahasa yang membentuk kesadaran kita.

Dan “misteri Syahrazad” adalah permaian bahasa yang dapat dijadikan cermin atau bahkan terapi untuk mengolah berbagai fosil nilai dan makna dalam kebudayaan kita, setidaknya agar kita tidak bersikap mentah terhadap nilai-nilai dan makna-makna itu. Siapa pun terikat komitmen untuk mengolah fosil-fosil itu, karena setiap orang pada-dasarnya adalah “ibu” yang melahirkan bahasa –media untuk mendongeng, tanda eksistensi humaniora, dan layar pengungkap dunia di mana manusia hidup dan mati.

26 April 2011
Sumber: http://senimana.com/berita-171-dongeng–kehidupan-kita.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir