Selasa, 08 Maret 2011

Rafilus tak jatuh dari langit

Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

“APA yang hendak diceritakan novel Rafilus?” Ini pertanyaan budayawan Umar Kayam di depan pengunjung di ruang Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki, Sabtu pekan lalu. Didampingi moderator Salim Said serta Nirwan Dewanto sebagai pembahas, Kayam, dengan suara getar, membacakan makalahnya Rafilus Budi Darma. Komite sastra Dewan Kesenian Jakarta juga mengajukan Umar Junus dan Faruk H.T. untuk mendiskusikan karya-karya Ahmad Tohari.

Usai mengutip bagian yang dianggapnya menarik, kemudian satu per satu Kayam menelanjangi tokoh Rafilus, dan mengasumsikan si narator Tiwar adalah alter-ego Budi Darma. Seperti dalam karya Budi Darma yang lain, tokoh-tokoh dalam Rafilus memang aneh. Ada Rafilus yang awalnya mengesankan Tiwar sebagai sosok tak terbentuk dari daging, tapi besi. Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang dipoles. Dan pada waktu berjabatan tangan dengannya, tangan Tiwar terasa akan berantakan.

Ada Pawestri, pacar Tiwar, yang menurut Kayam neurotic dan punya kelainan perilaku seks. Hobinya jatuh cinta pada lelaki pincang dan gigi mrongos, bermata juling, atau kepala botak. Lebih gila, di malam hari Pawestri sering membayangkan dirinya bergiliran digarap banyak lelaki. Menghadapi serentetan keanehan, baik tokoh maupun alur ceritanya, Kayam mempertanyakan novel kedua Budi Darma ini sekadar deretan biografi. Bila biografi, pastilah biografi-biografi yang aneh strukturnya.

Menurut Kayam, biografi punya alur dan struktur jelas. Tapi Rafilus lantas berkembang menjadi novel “antiplot”, bahkan mungkin “antistruktur” atau “anticerita”. Karena itu, ia menyimpulkan unsur-unsur inilah yang menyebabkan novel Budi Darma dikategorikan “absurd”. Lalu Kayam (juga seorang cerpenis) memaparkan lahirnya kesenian absurd di Eropa sejak Frans Kafka — sebelum Perang Dunia I — dan teater absurd Beckett, Ionesco dan Genet, yang menetas usai Perang Dunia II. Ia mengacu pula pada absurditas menurut yang didefinisikan Martin Esslin. Malah, Albert Camus dalam berbagai esei dan novelnya disebutnya sebagai pelopor sastra absurd.

Kemudian, Kayam mempertanyakan karya absurd Budi Darma, apakah didukung kondisi absurd di Eropa Barat. Dan khusus Rafilus, apakah juga didukung pandangan dunia yang pesimistis tentang kondisi kemanusiaan di negeri kita atau dunia umumnya. Akhirnya, Kayam menutup makalahnya: “Sudah sampaikah karya sastra absurd di negeri kita pada kesimpulan absurditas kondisi yang kontemporer?” Atau, mungkinkah karya sastra absurd di negeri kita baru exercise di permukaan kehidupan kontemporer kita? Samakah ini dengan “musik rock Indonesia” dan “fashion Indonesia”? Tutur Kayam kepada TEMPO, ia hanya mempertanyakan apakah unsur pesimisme di Indonesia cukup beralasan melahirkan karya absurd.

Tapi menurut Nirwan Dewanto, sastra absurd di Indonesia sudah lama ada, sejak cerpen Museum karya Asrul Sani diterbitkan di tahun ’50-an. “Yang disebut karya sastra absurd karena cara mereka melihat dunia di sekelilingnya dan cara berekspresinya berbeda dengan yang realistis. Kedua, karakterisasi dibebaskan tanpa beban sosial, hingga secara ekstrem karakter dalam cerita sudah sama dengan ide,” ujarnya. Penyair muda ini bahkan menganggap bahasa dan pengungkapannya tak dapat dipertahankan lagi karena tanpa mampu menyingkapkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, kata Dewanto, bahasa dan teknik absurditas sudah bangkrut. Contohnya, Putu Wijaya yang dulu menulis prosa absurd baru saja melahirkan novel Perang, yang kelihatan menandai kebangkrutan penulisan absurd di Indonesia. Kesimpulan Dewanto membangkitkan semangat sastrawan Satyagraha Hoerip. “Apakah absurditas bukan realitas kita sekarang? Baca Kompas hari ini. Ada berita menunjukkan realitas kita tidak memerlukan logika,” tuturnya.

Menurut Hoerip, berita tentang realitas sosial-politik di Indonesia tak berbeda dengan cerpen Budi Darma berjudul Kritikus Adinan — seorang yang tak tahu kenapa diadili, dan diletakkan di kamar terasing, tanpa ia tahu sebabnya. Menurut Hoerip, realitas di Indonesia justru lebih absurd dari cerita-cerita Budi Darma. Kayam menjawab, “Realitas sosial yang absurd semacam ini jika diceritakan dengan teknik absurd justru menjadi lucu.” Dan biasanya, realitas absurd akan “bermakna” kalau penulis mengekspresikan dengan konvensional dan linier.

Sedangkan Sapardi Djoko Damono, secara terpisah, mengatakan ada kerancuan dalam terminologi absurdisme. Karya Budi Darma, Putu Wijaya, dan Iwan Simatupang janganlah dilihat dengan kaca mata absurditas Barat. Absurditas bisa lahir di mana-mana dalam kondisi pesimistis pengarang terhadap lingkungannya. Penyair dan dosen Fakultas Sastra UI ini menganggap, jika karya Budi Darma atau Putu Wijaya diukur seperti didefinisikan Martin Esslin, tentu tak cocok. Kita berjarak dengan soal nuklir atau perang besar. Rafilus serta karya Budi Darma yang lainnya itu ekspresi absurditas keseharian di Indonesia, yang terdiri dari upacara-upacara. Dan Budi Darma pernah menyatakan, karya sastra adalah abstraksi kehidupan. Pengarang yang baru saja menyelesaikan novelnya Ny. Talis di Bloomington ini berpendapat, “Mereka (karya sastra — Red.) lahir dari realita. Pada hakikatnya, semuanya itu tidak mungkin jatuh dari langit.”

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir