Selasa, 08 Maret 2011

Menanti Cerpen Indonesia versi Yogya

Marwanto
http://www.kr.co.id/

SEPERTI dimuat rubrik ini (MP No 16 th 58 minggu III Juli 2005), beberapa waktu lalu sejumlah kreator dan pengamat sastra di Yogyakarta di antaranya: Jony Ariadinata, Saut Situmorang, Raudal Tanjung Banua, Gunawan Maryanto dan Bambang Agung kembali melakukan kegiatan penilaian terhadap cerpen-cerpen yang pernah dimuat harian Kompas selama 2004. Kegiatan yang bertajuk Cerpen Pilihan Kompas 2005 versi Yogyakarta itu sebenarnya untuk yang kedua kali, setelah sebelumnya kegiatan serupa dilakukan pada tahun 2004.

Pada Cerpen Pilihan Kompas versi Yogya tahun lalu, para kreator dan pengamat sastra menghasilkan penilaian yang berbeda sama sekali dengan cerpen terbaik versi para juri tim Kompas. Hal ini sempat memberi kesan bahwa apa yang dilakukan oleh para kreator Yogya itu cuma sekadar asal beda (antitesa) dengan apa yang dilakukan oleh tim juri Kompas. Memang, penjurian yang dilakukan tim Kompas sendiri selama ini tidak menetapkan kriteria yang jelas tentang cerpen yang dianggap terbaik. Sehingga wajar jika berbagai pihak sering merasa ‘geram’ pada tradisi penjurian di Kompas.

Namun kecurigaan terhadap para kreator di Yogya bahwa apa yang mereka lakukan sekadar memberi antitesa sedikit berkurang dengan hasil Cerpen Pilihan Kompas versi Yogya tahun ini. Seperti kita ketahui, meski para kreator di Yogya itu tak menetapkan adanya cerpen terbaik yang dimuat oleh Kompas selama tahun 2004, namun mereka menetapkan lima ‘cerpen baik’, yang salah satunya (yakni: Rt 03 Rw 22, Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana karya Kuntowijoyo), menjadi cerpen terbaik versi tim juri Kompas.

Hal tersebut sedikit banyak memberi kesan bahwa yang dilakukan oleh kreator di Yogya itu tak sekadar menyodorkan cerpen berbeda dari pilihan tim juri Kompas. Lebih dari itu, lewat Cerpen Pilihan Kompas 2005 versi Yogyakarta ini para kreator itu telah menyodorkan sebuah paradigma penilaian dan memberi wacana lain dalam memandang nilai serta kualitas sebuah cerpen.

Para kreator di Yogya itu seakan bilang kalau memang tidak ada cerpen terbaik, mengapa harus dipaksakan memunculkan yang terbaik? Apakah setiap periode tertentu (katakanlah setahun) harus dicari cerpen terbaik? Untuk apa sebenarnya dipaksakan memunculkan sebuah cerpen terbaik? Untuk kepentingan memberi judul buku kah? Atau memberi hadiah bagi cerpenis yang terpilih? Atau untuk kepentingan lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kiranya perlu dilontarkan ke Kompas, sebab meski dalam pengantar buku kumpulan cerpennya mereka acap kali menyebut bahwa di antara cerpen-cerpen yang dipilih itu tak beda jauh kualitasnya, tetap saja imej publik melihat cerpen terbaik adalah yang dipilih dan dijadikan judul sehingga otomatis memiliki beberapa kelebihan dari cerpen yang terpilih tapi tidak terbaik. Konsekuensi psikologis selanjutnya adalah cerpenis yang cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik, sudah tentu akan mempunyai kedudukan yang ‘beda’ dengan cerpenis lain yang karyanya dimuat di buku tersebut.

Simak saja pada Cerpen Pilihan Kompas 2003 yang menetapkan “Waktu Nayla” karya Jenar Mahesa Ayu sebagai cerpen terbaik. Sejak itu nama Jenar langsung melambung sebagai salah satu cerpenis papan atas Indonesia. Padahal dalam pengantarnya juri menyebut pada dasarnya cerpen-cerpen yang termuat dalam Cerpen Pilihan Kompas 2003 tak ada yang istimewa. Dari sini kemudian layak untuk dipertanyakan apakah tiap tahunnya Kompas memang hendak membaptis seorang cerpenis?

Tak dipungkiri lagi, akhir-akhir ini Kompas sering dicap sebagai barometer cerpen kontemporer di Indonesia. I Nyoman Darma Putra dalam pengantar Waktu Nayla, Cerpen Pilihan Kompas 2003, menyebut Kompas sebagai salah satu barometer pertumbuhan cerpen Indonesia mutakhir. Menurutnya, banyak mahasiswa Australia yang melakukan studi dan penelitian tentang cerpen Indonesia menggunakan referensi cerpen yang pernah dimuat Kompas.

Bergesernya peran pemetaan sastra di tanah air dari majalah ke koran, telah berimbas pula pada bergeser- nya pandangan bahwa karya sastra yang bagus (berkualitas) tidak harus yang dimuat di majalah sastra prestisius semacam Kisah, Sastra, dan Horison. Sebab tak sedikit karya sastra yang bagus justru ditemukan di koran, bahkan koran yang kurang menasional.

Satyagraha Hoerip pernah mencatat, cerpen bermutu sastra tinggi karya Budi Suniasunarsa berjudul ‘Orang Asing’ dimuat di Minggu Indonesia Raya. Lalu cerpen Sitor Situmorang yang sangat indah, ‘Perjamuan Kudus’ dimuat Warta Dunia Minggu edisi Januari 1964. Sementara menurut Nirwan Dewanto, harian Bali Post sering memuat puisi yang lebih berbobot dari media lain (Republika, 6/10/1994). Dari fakta ini, lanjut Satyagraha, dapat disimpulkan bahwa tidak setiap karya sastra yang dimuat oleh media prestisius pasti terjamin mutu sastranya.

Tentu kita maklum, setiap redaktur media massa sering menemui banyak kendala (baik itu berupa ‘teknis’ maupun ‘selera estetis’) ketika hendak meloloskan sebuah karya sastra untuk dimuat. Namun ketika kendala itu adalah sesuatu yang di luar dua hal itu, misalnya kendala ‘humanis’ (baca: ewuh pekewuh atau cuma karena kedekatan terhadap sosok sastrawan tertentu) sehingga bisa menyebabkan karya sastra yang bermutu rendah diloloskan dimuat, maka inilah sesungguhnya yang membuat kita prihatin.

Dan keprihatinan (sekaligus kecurigaan) terhadap hal semacam inilah yang pernah digugat oleh para sastrawan (daerah khususnya) secara besar-besaran sekitar sepuluh tahun lampau. Gugatan terhadap peran media massa (koran) itu mulai dari masalah pentasbihan media terhadap eksistensi sastrawan (perkemahan penyair di Tegal, Agustus 1994), kolaborasi redaktur budaya dengan sejumlah sastrawan (temu penyair di ASTI Bandung, September 1994), sampai seruan beberapa sastrawan di Malang untuk tidak melihat koran sebagai kiblat utama perkembangan kesusastraan di tanah air (September 1994).

Saya kira, gugatan semacam itu dapat kita maklumi. Namun di sisi lain godaan terhadap redaktur koran yang acap kali ‘bermain mata’ dengan bebrapa sastrawan sehingga sering menggunakan pertimbangan ‘humanis’ untuk meloloskan sebuah karya sastra adalah juga hal manusiawi. Salah satu alasannya adalah meminjam pendapat Bakdi Soemanto (Republika, 6/10/ 1994), bagaimanapun seorang redaktur budaya juga akan mempertimbangkan aspek meningkatkan tiras, dengan hanya memuat karya sastra yang sudah dikenal masyarakat. Mereka tak mau mengambil risiko dengan memuat karya sastra pemula.

Dan Kompas, sebagai salah satu koran besar di Indonesia, saya kira tak luput dari godaan semacam ini. Namun apakah para redaktur di Kompas itu bisa menghindar atau tidak dari godaan ini, kita memang tak tahu persis.

Akhirnya, sudah saatnya bagi teman-teman kreator dan pengamat sastra di Yogya pada waktu-waktu mendatang untuk memilih cerpen terbaik (di negeri ini) tak hanya bersumber dari Kompas saja. Mungkin dua atau tiga koran berskala nasional ditambah beberapa koran daerah dapat digunakan sebagai referensi untuk mencari cerpen terbaik di negeri ini setiap tahunnya. Tentu ini ‘proyek besar’ yang membutuhkan cukup banyak biaya, waktu, tenaga dan mungkin melibatkan lebih banyak lagi para pengamat sastra. Tapi, siapa takut?

*) Marwanto, Pecinta sastra, tinggal di Kulonprogo.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir