Senin, 22 November 2010

Belajar dari Korea dan Hongaria

Cecep Syamsul Hari
http://cetak.kompas.com/

Tiga tahun lalu ketika saya menjadi sastrawan tamu di Korea dan pada hari ketiga saya tinggal sebagai sastrawan tamu di Hongaria, saya teringat kepada Harry Aveling yang selama tiga dekade setia menerjemahkan puisi-puisi para penyair Indonesia dari berbagai generasi ke dalam bahasa Inggris. Salah satu bukunya yang dikenal luas dan belum begitu lama diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia, Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), banyak dirujuk para penulis buku antologi puisi di berbagai belahan dunia, antara lain dirujuk Tina Chang (salah seorang penyair Amerika Serikat kontemporer) yang menjadikannya sebagai salah satu sumber referensi ketika memilih enam penyair Indonesia untuk dimasukkan ke dalam bukunya yang banyak diperbincangkan sepanjang tahun 2008 di Eropa dan Amerika, Language for a New Century: Contemporary Poetry from the Middle East, Asia, and Beyond (New York: W.W. Norton & Company, 2008).

Di samping Harry Aveling, saya teringat pula pada kesetiaan, untuk menyebut beberapa nama: A Teeuw, Berthold Damshauser, John McGlynn, dan Maxwell Lane. A Teeuw berjasa memperkenalkan para penyair Indonesia era 1940-an hingga 1970-an kepada khususnya publik Eropa. Begitu pula Berthold Damshauser yang telah menyerahkan dirinya dengan tabah menjadi ”sahabat tradisional” para penyair Indonesia dari masa Ramadhan KH hingga Agus R Sarjono. McGlynn antara lain menerjemahkan buku antologi puisi prestisius para perempuan penyair Indonesia, A Taste of Betel and Lime, dan menerjemahkan novel karya Ismail Marahimin, And the War is Over, yang sejauh ini pada hemat saya merupakan novel yang paling berhasil mengangkat latar masa pendudukan Jepang di Indonesia. Sedangkan kepada Maxwell Lane kita patut berterima kasih karena terjemahannya yang gigih atas tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Para penerjemah di atas bekerja semata-mata berdasarkan kecintaan terhadap sastra Indonesia. Mereka bekerja sendiri-sendiri dan mencari sumber-sumber pendanaan dan penerbitan sendiri-sendiri juga. Di Indonesia, hingga saat ini tidak ada lembaga khusus (yang didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia) yang memfasilitasi para penerjemah asing untuk sementara waktu tinggal di Indonesia dan bekerja menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

Sungguh ironis, kesadaran untuk membawa sastra Indonesia ke dunia (yang lebih luas) justru datangnya dari para penerjemah asing yang mencintai kesusastraan Indonesia itu, dan bukan berasal dari kebijakan Pemerintah Indonesia sendiri. Sudah saatnya kini Pemerintah Indonesia secara fundamental, sistematis, dan visioner memikirkan untuk mendirikan lembaga khusus yang memfasilitasi penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam berbagai bahasa asing, katakanlah semacam Pusat Penerjemahan Sastra Indonesia. Untuk masalah ini, sekurang-kurangnya kita dapat belajar dari dua lembaga penerjemahan di Korea dan Hongaria, yaitu Korean Literature Translation Institute (KLTI) dan Magyar Forditohaz.

Pusat penerjemahan
KLTI didirikan pada Maret 2001 dengan dukungan pendanaan sepenuhnya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Korea. Tujuan utama pendirian KLTI adalah untuk mempromosikan dan menyebarkan karya-karya sastra Korea ke seluruh dunia. KLTI mendesain program-program strategis yang dapat membantu menumbuhkan apresiasi masyarakat dunia terhadap kesusastraan Korea yang pada gilirannya dapat menjembatani pemahaman kultural negara-negara lain atas kebudayaan Korea dan sebaliknya. KLTI juga menjalankan program-program teknis yang dapat memudahkan para pembaca non-Korea dengan cepat mengakses karya-karya sastra Korea melalui karya-karya terjemahan. Oleh sebab itu, sejak didirikan, KLTI mendukung kerja penerjemahan dan penerbitan karya sastra Korea ke dalam sebanyak-banyaknya bahasa asing.

Dalam bahasa Indonesia sejauh ini telah terbit dua buku karya sastra Korea yang merupakan buah dari program KLTI, yaitu kumpulan cerita pendek Laut dan Kupu-kupu hasil terjemahan Koh Young Hun dan Tommy Christomy; dan kumpulan sajak Puisi buat Rakyat Indonesia hasil terjemahan Chung Young-Rim. Prof Koh dan Prof Chun adalah guru besar dan peneliti sastra Indonesia di Hankuk University, Seoul. Sementara itu, Tommy Christomy adalah pengajar di Universitas Indonesia yang juga pernah lima tahun mengajar di Hankuk University.

Dalam sebuah perbincangan terpisah dengan saya tiga tahun lalu, baik Prof Koh maupun Prof Chun berharap bahwa akan ada suatu masa ketika karya-karya sastra Korea dapat secara intensif diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan luas dibaca masyarakat Indonesia. Ini memang seiring sejalan dengan moto KLTI, ”bringing literature to the world”. Sejak KLTI didirikan hingga saat ini telah ratusan karya sastra Korea diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

Sementara itu, sejak dibuka pada Januari 1998, Magyar Forditohaz (Hungarian Translators House) telah menjadi tuan rumah bagi banyak peneliti, sastrawan, dan penerjemah dari berbagai negara yang datang untuk melakukan kerja penelitian maupun kerja penerjemahan atas karya sastra Hongaria. Di samping itu, Magyar Forditohaz juga memberikan dukungan sama kuatnya untuk kerja penelitian dan penerjemahan di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Magyar Forditohaz berada di kota kecil yang merupakan salah satu tujuan wisata utama di Hongaria, yaitu di Balatonfüred. Kota yang tenang ini terletak 125 kilometer dari Budapest dan sepelemparan batu jaraknya dari tepi danau terbesar di Eropa, Balaton. Pada mulanya, Magyar Forditohaz merupakan vila yang dibangun di abad ke-19, sebagai penghormatan atas pengarang Gabor Liptak. Di Magyar Forditohaz terdapat lebih kurang 3.000 buku referensi berbagai bahasa dan perlengkapan kerja yang lebih dari memadai bagi para peneliti, sastrawan, maupun penerjemah yang tinggal dan bekerja (untuk paling lama dua bulan) di tempat itu.

Berbeda dengan KLTI yang mendasarkan seluruh sumber pendanaannya dari Pemerintah Korea, Magyar Forditohaz selain mendapat dukungan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Hongaria juga memperoleh dukungan dari banyak lembaga swasta dan perorangan. Karena peran Magyar Forditohaz inilah sepuluh tahun terakhir karya-karya sastra Hongaria telah mulai luas diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional dan/atau Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sudah harus mulai memikirkan secara strategis untuk membawa kesusastraan Indonesia ke dunia (yang lebih luas). Perlu segera dipikirkan berdirinya Pusat Penerjemahan Sastra Indonesia, atau apa pun namanya, yang memfasilitasi para peneliti, sastrawan, dan penerjemah dari berbagai negara (dan dari dalam negeri sendiri) untuk melakukan kerja penelitian dan kerja penerjemahan atas kesusastraan Indonesia. Kita dapat belajar banyak dari KLTI maupun Magyar Forditohaz.

Semakin banyak karya sastra Indonesia diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, karya sastra Indonesia akan semakin dikenal luas pula. Dan pada gilirannya, akan semakin jelas pula manifestasi identitas kebangsaan kita di tengah pergaulan peradaban dunia. ***

*) Penyair Menulis dari Magyar Forditohaz, Balatonfüred, Hongaria.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir