Jumat, 10 September 2010

Lebaran di dalam Buku

Haris Priyatna
http://www.infoanda.com/Republika

Lebaran adalah drama. Sebuah drama yang kolosal. Betapa tidak? Saat Lebaran, orang-orang berusaha bersenang-senang dengan pakaian baru warna-warni dan hidangan aneka rupa. Tiba-tiba saja semua orang menjadi ramah dan saling meminta maaf.

Mereka pun berduyun-duyun meninggalkan kota-kota dalam arak-arakan panjang menuju kampung halaman agar bisa merayakan Lebaran bersama sanak famili. Di balik keriuhan ini, biasanya tersimpan kisah-kisah menarik dan tak jarang mengharukan. Barangkali inilah sebabnya almarhum Umar Kayam kerap menulis cerita berlatar Lebaran.

Umar Kayam — yang terkenal akan buku-bukunya seperti Mangan Ora Mangan Kumpul dan Para Priyayi — bahkan telah menghasilkan sebuah buku kumpulan cerpen yang seluruhnya bertema Lebaran. Cerpen-cerpen Lebaran ini umumnya memotret kepiluan-kepiluan pada hari-hari sebelum dan sesudah Lebaran.

Dalam cerpen Menjelang Lebaran, misalnya, Umar Kayam bercerita tentang suami-istri Kamil dan Sri yang akibat sang suami terkena PHK tidak jadi mudik Lebaran. Mereka juga terpaksa memberhentikan pembantu mereka yang sudah dianggap keluarga sendiri. Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen Derabat (1999).

Dalam cerpen Lebaran Ini, Saya Harus Pulang, Umar Kayam mengisahkan seorang pembantu yang mendambakan pulang mudik Lebaran. Nem, sang pembantu, bagaikan laron menerjang nyala pelita, ia tahu kepulangannya ke kampung sama sekali tak menjanjikan kesentosaan pada masa tua, dan bahkan kemiskinan dan kenistaan disadarinya akan menghadang karena harta bendanya sudah habis dijual maupun dijarah, toh ia tetap bersikukuh pulang. Cerpen ini terdapat dalam buku kumpulan cerpen Dua Tengkorak Kepala (2000).

Dalam cerpen Lebaran di Karet, di Karet …, tokoh Is adalah mantan diplomat yang hidup sendirian setelah istrinya meninggal dunia dan anak-anaknya hidup di negeri-negeri utara. Lebaran bagi Is hanya tinggal kenangan dan kesendirian. Ketika tiba hari Lebaran, Is kesepian. Dia lalu mengeluarkan mobilnya dan mengarah ke … pekuburan Karet. Cerpen ini juga termuat dalam buku kumpulan cerpen Mata yang Indah (2001).

Selain Umar Kayam, masih dalam suasana lebaran ini, saya teringat Emha Ainun Nadjib. Ada satu buku Cak Nun yang memuat tulisan-tulisannya seputar Lebaran. Buku kumpulan esai itu berjudul Tuhan pun Berpuasa. Dalam pengantar penerbitnya, dijelaskan bahwa buku ini memang khusus berisi topik-topik puasa dan Idul Fitri. Di dalamnya, ada satu bagian khusus yang membahas Lebaran berjudul Seandainya Allah pun Berlebaran.

Emha adalah salah satu penulis yang saya sukai. Saya mengoleksi banyak bukunya, dari Markesot Bertutur sampai Doa Mohon Kutukan. Menurut Kuntowijoyo, karya-karya sastra Emha dilandasi kesadaran keagamaannya. Tulisan-tulisannya kerap berbicara dengan metafora. Kalaupun Cak Nun membuat analisis-analisis tentang realitas kehidupan yang ada sekarang, dia melakukannya melalui metafora-metafora. Ini justru yang membuat menarik. Sebab, tulisan-tulisan yang hanya menggunakan analisis ilmiah akan terasa kering.

Dalam esai berjudul Ultra Lebaran, Mega Idul Fitri, Giga Takbir, Cak Nun menggambarkan betapa banyak orang sesungguhnya tengah melupakan Allah saat mereka sedang merayakan Lebaran, bahkan saat sedang menyelenggarakan pawai takbiran. Kata Emha, mereka menyembunyikan Allah di balik punggung mereka masing-masing. Mereka sangat sibuk dengan keindahan suara mereka sendiri, mereka sangat asyik dengan kesenian Lebaran mereka sendiri.

Cak Nun lalu mengungkapkan fenomena penyelenggaraan Takbir Akbar yang justru untuk soal-soal selain Allahu Akbar, umpamanya untuk rangkaian rekruitmen politik, lobi bisnis, atau pengagungan eksistensi diri sendiri. Tidak ada buktinya bahwa mereka sungguh-sungguh ber-Allahu Akbar. Tidak ada indikator budayanya, tanda ekonomi dan politiknya, serta perwujudan hukumnya. Mereka menyangka bahwa Allah sedemikian remehnya sehingga cukup dirayu dengan ucapan, lagu, gendang, dan lampu gemerlap.

Cak Nun juga menyoroti orang-orang yang pada saat Ramadhan dan Lebaran mengenakan pakaian yang sehari-hari hampir tak pernah mereka kenakan. Mereka melantunkan syair-syair yang tidak menjadi pedoman kehidupan mereka. Mereka menyongsong Idul Fitri dengan berpakaian ketidakaslian, sehingga yang berlaku jangan-jangan adalah justru Tarkul Fitri [tark al-fitr]: meninggalkan keaslian. Memang, ujar Emha, kita patut merasa bersyukur karena masih untung mereka tampil seperti itu. Tapi, menurutnya, itu seperti mensyukuri kemunafikan.

Dalam esai yang berjudul Halal dan Kemuliaan Mempersatukan Fitri Kita, Emha dengan keras menyindir para pemimpin. Dia menyatakan bahwa semestinya, di hari-hari Idul Fitri, seorang pemimpin tidak duduk di kursi dan menunggu ummat atau rakyat (dan bawahan) datang sowan untuk menyampaikan permohonan maaf. Karena, berdasarkan logika yang paling elementer pun seharusnya sang pemimpin yang beranjak, berdiri, berjalan menghampiri mereka untuk merintih-rintih minta maaf.

Menurut Emha, dalam kedudukan sebagai pemimpin, peluang untuk bersalah berjuta-juta kali lipat dibanding orang-orang yang dipimpin. Sebagai pemimpin, ia memanggul beban, amanat, dan kepercayaan yang berton-ton lebih berat dibanding beban orang kebanyakan.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir