Sabtu, 28 Februari 2009

Cerita dari Zaman yang Merana

Judul buku : Senarai Batanghari
Penulis : Bunga Rampai Temu Sastrawan Indonesia
Cetakan : 1, Juli 2008
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi
Tebal : 135 Halaman
Peresensi : Susilowati
http://www.lampungpost.com/

KETIKA sastra disebut sebagai anak kandung realitas, berarti setiap karya yang lahir tidak bisa lepas dari kondisi sosial. Hal ini tergambar pada cerita-cerita yang terkumpul dalam Senarai Batanghari. Kegelisahan pengarang dengan kegalauan zaman terungkap pada sebagian cerita.

Karentile, cerpen Joni Ariadinata yang menjadi judul keempat dalam kumpulan cerpen ini, menyuguhkan kegelisahan kaum intelektual pada realitas sosial Indonesia. Tokoh-tokohnya para intelektual yang tidak hanya piawai berdiskusi, tetapi sekaligus mereka menjadi kaum yang "diuntungkan" dengan carut-marutnya kondisi sosial yang ada. Karena dari masalah itu, ide-ide mereka untuk menulis dan berceracau terus mengalir hingga mendatangkan proyek-proyek yang menopang gaya hidup mewah mereka. Kegelisahan itu terkesan sebagai kamuflase yang semakin menandaskan kemunafikan sempurna pada zaman ini.

Joni Ariadinata meramu dengan piawai ironisme kehidupan di negeri ini, bagaimana kaum intelektual begitu terpisah dengan realitas sosoal. Simbol-simbol warteg-kafe, menjadi penanda jauhnya jurang pemisah kaum menengah dan pinggiran di negeri ini.

Kaum intelektual yang identik dengan kafe dan kaum pinggiran yang hidup pada titik nadir persoalan identik dengan warteg atau bahkan tidak makan. Rakyat kecil bukan hanya kesusahan mencari kerja, melainkan untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan karena naiknya harga BBM. Putus asa dan perilaku kriminal menjadi pilihan dari orang-orang pinggiran.

Keriuhan pemasalahan sosial makin sempurna dengan penghancuran kafe yang dilakukan segerombolan orang atas nama agama. Dalam cerpen ini, pengarang meracik dengan apik kompleksitas masalah, selain gaya cerita yang beragam, membuat cerpen ini menonjol dari yang lain.

Cerpen lain yang juga berangkat dari ironisme realitas sosial adalah Tamu, karya Hamsad Rangkuti. Cerpen ini menceritakan kesibukan penduduk di kawasan lereng Gunung Lawu menyambut kedatangan Bupati Karang Anyar Hj. Riana Iriani untuk memulai panen buah naga. Bagaimana rakyat kecil begitu sibuk mempersiapkan kedatangannya yang hanya sejenak.

Segala ruah dipersiapkan, dari makanan hingga perlengkapan tetabuhan tradisioal untuk membangun kesan asri dan meyakinkan daerah yang akan diorbitkan sebagai daerah wisata itu. Ternyata, keriuhan para penduduk ini sangat tidak sebanding dengan kenyataan. Karena Bupati tidak datang dengan "hati". Sang Bupati nan cantik itu khawatir tertusuk duri saat diminta memulai memanen buah naga yang pohonnya penuh duri.

Sang ajudan pun berjanji akan menyediakan pohon yang sudah dibersihkan dari duri saat kulit putihnya hendak memetik. Kalau idealnya pejabat adalah pelayan rakyat, dalam cerpen Tamu, pengarang dengan tandas menggambarkan kondisi yang sebenarnya, bagaiman pun rakyat adalah para pelayan dari keagungan sang pejabat.

Hal ini dikuatkan bagaimana pengarang menggambarkan sang Bupati tak lebih dari artis yang berada dalam skenario protokoler karena kepentingan proyek. Dia harus bersusah payah menghapal apa yang akan diucapkan ketika kamera membidiknya.

Rakyat kecil sudah cukup senang melihat kehadirannya. Cerpen ini lebih menyerupai traveling ke kaki Gunung Lawu dibanding sebuah cerita. Tapi dengan halus mengangkat kepura-puraan masyarakat ketika menyambut seorang pejabat. Mengada-adakan yang tidak ada, seolah ini adalah negeri yang aman-makmur sejahtera untuk menyenangkan sang pejabat.

Pada cerpen Payung yang ditulis Melina K. Tansri, lebih lugu memaparkan realitas sosial, bagaimana sang tokoh, Uning, terharu sekaligus sedih dengan ketulusan anaknya yang masih kecil harus menyewakan payung, demi menyambut kelahiran adiknya. Anak kecil yang seharusnya polos bermain harus ikut merasakan kesulitan ekonomi. Permasalahan ekonomi menjadi ruh pada cerpen ini. Tapi wong cilik, terbiasa menyikapinya dengan arif, sebagaimana digambarkan sang pengarang.

Selain tema sosial, beberapa cerpen lain mengangkat persoalan cinta dan peselingkuhan, di antaranya cerpen Atik Sulistiowati; Secangkir Kopi Penuh Dusta. Bercerita tentang seorang perempuan yang bertemu dengan lelaki masa lalunya. Mereka dipertemukan dalam kehambaran keluarga masing-masing. Yang membawa mereka dalam perselingkuhan. Sang tokoh harus merana saat laki-laki yang menyanjungnya dan mampu mempersembahkan kebahagian dengan begitu saja meninggalkannya.

Tinggallah dia mengenang masa lalu sambil duduk ditemani secangkir kopi yang dulu dinikmati berdua. Nestapa akhirnya milik perempuan, meskipun sang tokoh adalah seorang aktivis tegar, tetapi harus luluh dalam kedukaan ketika cinta meninggalkannya.

Tema serupa tapi tak sama di jumpai dalam cerpen Episteme karya Linda Harahap. Menguarai hubungan segitiga dari seorang lelaki yang melakukan poligami. Lukisan Angsa karya Fakhrunas M.A. Jabbar juga mengangkat tema cinta. Sedang tema cinta yang mengambil setting pedalaman Jambi muncul dalam kisah Melangun karya Purhendi.

Mengisahkan seorang antropolog dari Australia yang melakukan penelitian pada suku anak dalam di Jambi. Hutan Jambi mempertemukannya dengan anak kepala suku yang menghantarkannya pada hubungan terlarang. Upacara adat pernikahan dilangsungkan antara kedua insan berbeda bangsa juga peradaban saat diketahui Meliang, anak sang kepala suku itu hamil.

Namun, kenyataan pahit terjadi saat demontrasi besar-berasan, para mahasiswa dan aktivis LSM protes pada kehadiran para peneliti Australia dan kerusakan hutan. Keluarga Meliang harus melangun, mencari tempat baru untuk mencari kehidupan. Meliang terpisah dengan Steve yang sedang mengandung. Ini satu-satunya cerpen yang mengisahkan kehidupan anak dalam. Menjadi warna tersendiri pada Senarai Batanghari yang memang membawa kearifan lokal Jambi.

Secara umum Senarai Batanghari mengusug tema-tema realis, beberapa tema realis magis tampak pada cerpen Anjing Penjaga Puri karya Kurnia Efendy, Randu karya Kusprihyanto Namma, Monolog Angin karya Ratna Dewi, Malaikat Tanah Asal karya Triyanto Tiwikromo, kumpulan cerpen ini ditutup dengan Serau karya Yupnical Saketi.

Cerpen-cerpen dalam Senarai Batanghari secara umum tidak hirau dengan estetika. Hingga pencapaian estetika bahasa tidak dapat dibilang "wah", selain ada kesan terburu-buru dalam penerbitan. Hal ini terlihat pada cerpen Hamsad Rangkuti, Tamu, yang banyak terjadi kesalahan penulisan tiap kata. Meksi secara umum cerita-cerita dalam cerpen ini mengalir, tapi tidak ada pencapaian "beda" untuk ukuran bunga rampai temu sastrawan Indonesia.

Tapi bagaimanapun ini adalah usaha maksimal yang layak mendapat apresiasi dari para pembaca.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir