Rabu, 10 Desember 2008

Nasionalisme Sastra Pinggiran

Damhuri Muhammad
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Politik kolonial jelas membias dalam geliat pertumbuhan sastra Indonesia. Gejala ini tampak kentara, sejak berdirinya Balai Pustaka (1918) sebagai lembaga penerbitan Belanda yang bukan saja "memperalat" sastra, tapi juga "mengendalikan" gerak-geriknya agar tak menjadi ancaman laten.

DA. Rinkes (direktur pertama Balai Pustaka) seperti dikutip Maman S. Mahayana (2001), mencatat tiga kriteria yang digunakan Balai Pustaka dalam menyensor naskah-naskah yang akan diterbitkan, yaitu tidak antikolonial, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan tertentu, dan tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Akibatnya, lahirlah sastra elitis, tak menyinggung masalah perbedaan etnis dan yang paling muntlak adalah terlarang mengembuskan semangat kebangsaan.

Pemerintah kolonial tak henti-henti berupaya membendung pengaruh bacaan non-Balai Pustaka. Diusungnya sejumlah istilah peyoratif yang meminggirkan proses kreatif para pengarang di luar pagar Balai Pustaka. Karya-karya mereka diklaim sebagai "bacaan liar", berbahaya, dan menyesatkan.

Sentimentalisme D. A. Rinkes (1923) menyebut mereka "saudagar kitab jang kurang sutji hatinja." Untuk menyediakan bacaan sastra (yang "tidak liar") bagi bumi putera, pada 1918, Balai Pustaka menerbitkan Tjerita Si Djamin dan Si Djohan (saduran dari Jan Smees karya J. Van Maurik). Dua tahun kemudian, terbitlah roman Azab dan Sengsara (1920), karya Merari Siregar, disusul Siti Nurbaja (1922) karya Marah Rusli.

Tetapi, "bacaan-bacaan liar" justru makin liar menyuarakan etos perlawanan terhadap Belanda. Buah karya para pengarang yang "membangkang" itu serupa api dalam sekam, yang di permukaan panasnya tak terasa, tapi di kedalaman timbunan sekam, gejolaknya tiada kunjung padam.

Ironisnya, sejarah sastra kita tidak mencatat gejolak perlawanan itu (dalam batas-batas tertentu ada kesengajaan untuk menghapus jejaknya). Padahal, sepak terjang sastra pinggiran ini berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan paling awal. Jangan-jangan keterceceran ini juga bagian dari kepentingan tertentu untuk mengukuhkan bahwa sejarah sastra Indonesia modern lahir sejak Balai Pustaka tegak berdiri?

Siswa-siswa sekolah dewasa ini merasa asing dengan teks-teks sastra karya para pengarang pribumi seperti Hikajat Siti Mariah (1912 ) karya Haji Moekti, Njai Permana (1912) karya RM. Tirto Adhi Soerjo, Hikajat Kadiroen (1924) karya Semaoen, dan Studen Hidjo (1919) karya M. M. Kartodikromo. Begitu juga karya-karya pengarang Tionghoa peranakan, seperti Oey Se (1903) karya Thio Tjien Boen, Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, Tjerita si Riboet (1917) karya Tam Boen Kim, Nyai Marsina (1923) karya Numa, Boenga Roos Dari Tjikembang (1927) karya Kweek Tek Hoaij, Itu Bidadari dari Rawa Pening (1929) karya Madame d`Eden Lovely, dan Njai Isah (1931) karya Sie Liplap.

Roman Njai Permana berkisah perihal seorang mantri polisi berwatak serakah. Menghalalkan segala tipu muslihat untuk menguasai kepemilikan tanah pada saat rakyat sedang terpuruk dalam kemiskinan dan ancaman kelaparan. Sementara itu, Hikajat Kadiroen menceritakan seorang pegawai negeri (Tjitro) yang semula mengabdi pada pemerintah Belanda, lalu berhenti dari pekerjaannya dan bergabung dalam aktivitas politik sebagai bentuk perlawanan. Semaoen menunjukkan bagaimana persinggungan dengan realitas objektif menjadi awal dari kesadaran kritis di kalangan menengah terpelajar (Agus Hernawan, 2004).

Hasrat melawan "bacaan-bacaan liar" berbeda dengan produk-produk Balai Pustaka yang mengawal para pengarangnya agar tidak kebablasan memperlihatkan watak kekuasaan kolonial. Maka, yang terbaca adalah sikap apatis dan pasrah pada nasib. Dalam banyak roman, yang tergambar hanyalah perwatakan hitam dan putih, "kebaikan" selalu mengalahkan "kejahatan". Tetapi, yang "baik" itu selalu tokoh kolonial atau setidaknya prokolonial. Watak kolonial dicitrakan sebagai orang sabar dan bijak, sementara yang "jahat" selalu pribumi seperti Datuk Maringgih (tokoh zalim, tidak taat pajak, dan membangkang) dalam Siti Nurbaja.

Selain pencitraan yang merendahkan sastra non-Balai Pustaka, pemerintah kolonial juga memarginalkan peranan bahasa Melayu sebagai media ekspresi sastra perlawanan dengan pemisahan dikotomik antara Melayu Tinggi dan Melayu Rendah (Melayu Pasar). Bahasa Melayu tinggi adalah bahasa Melayu baku yang dikembangkan oleh guru-guru Melayu, utamanya yang bekerja di Balai Pustaka. Ditegaskan bahwa bahasa Melayu Tinggi (Melayu Balai Pustaka) inilah yang kemudian menjadi asal Bahasa Indonesia (A. Teeuw, 1972).

Sementara bahasa Melayu Pasar adalah bahasa yang berkembang di kalangan rakyat dan penerbitan swasta milik orang-orang Tionghoa peranakan (Hindia Bergerak, Sinar Hindia, Oetoesan Hindia, dan Persatoean Hindia) dan Indo Eropa sebagai "bukan bahasa" dan tidak patut digunakan (Hilmal Farid, 1996).

Pola pemisahan ini bertolak belakang dengan egalitarianisme dan inklusivisme bahasa Melayu. Di sini, lagi-lagi ada agenda tersembunyi yang hendak dilakukan pemerintah kolonial (melalui Balai Pustaka). Mereka memperlakukan bahasa Melayu dalam jenjang hierarkis, kasta-kasta, dan derajat bertingkat-tingkat.

Perumusan tata bahasa Melayu Tinggi yang dipelopori C.A Van Ophuijsen telah menempatkan peradaban tanah jajahan dalam tata pandang universalitas Barat (Ariel Heryanto, 1989). Ada gelagat hendak menguasai bahasa untuk memperkokoh dominasi dan kekuatan. "Language is also a medium of domination and power," kata Jurgen Habermas (1967).

Geliat sastra pinggiran ini juga dilatarbelakangi oleh corak karya sastra pengarang-pengarang Belanda yang menggambarkan masyarakat pribumi dalam image yang berderajat rendah (malas, bodoh, dan kampungan). Salah satunya terlihat pada kejelian G. Francis dalam Njai Dasima, seperti dicatat Saifur Rohman (2002). Nyai Dasima adalah gundik Edward (Belanda totok). Kebahagiaan mereka terusik oleh seorang pribumi berstatus kiai. Diceritakan, kiai itu berhasil membujuk Nyai Dasima agar memeluk Islam. Dengan piawai, pengarang menuturkan bahwa seorang Muslimah tidak boleh bersuami orang Belanda. Maka, Nyai Dasima harus melepaskan diri dari Edward. Tetapi, kiai yang kemudian menikahi Nyai Dasima (setelah lari dari Edward) ternyata berniat jahat, ingin menguasai harta Nyai Dasima. Setelah jatuh miskin, Nyai Dasima dibunuh, mayatnya dibuang ke sungai yang mengalir sampai ke belakang rumah Edward. Edward menemukan mayat Nyai Dasima yang sudah membusuk. Pribumi digambarkan secara berjarak oleh pengarang sebagai pembohong, licik, dan penipu.

Berangkat dari model penggambaran distortif ini, para pengarang pribumi (juga pengarang Tionghoa peranakan) membangun budaya tanding untuk mengembalikan dan menempatkan etos masyarakat terjajah pada maqom yang lebih bermartabat. Di titik ini, sastra dilawan dan dipatahkan dengan sastra pula. Amat disayangkan, geliat sastra pinggiran sebagai "juru bicara zaman" di saat keadaban bumi putera sedang terimpit di bawah hegemoni kolonial dilupakan dalam sejarah sastra kita? Menghapus jejak sastra pinggiran sama saja dengan mengakui bahwa sastra Indonesia bermula sejak berdirinya Balai Pustaka yang berwatak kolonial itu. ***

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir