Kamis, 23 Oktober 2008

TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I - CXXVII

Nurel Javissyarqi*

Waktu semakin padat ditempuh, menuju puncak kabut cahaya,
namun hari-harimu, masih saja mengeja satuan-satuan aksara (XVIII: I).

Ia malu sebelum batu-batu itu kau duduki,
maka singgahlah di kedung, agar bertemu ketenangan ulung (XVIII: II).

Angin menyapumu berpusaran menyisiri perjalanan
dan gendang wengi memberi tetembangan (XVIII: III).

Pagi hari terlahir dirawat bayu keheningan pucuk rerumputan,
lentik mata elok mengatup, membuka seluruh pandangan (XVIII: IV).

Ruh menawan persinggahan, memendarkan cahaya ke tanah,
hawa kemarau menderu-melanda, dan lapisan air tumpah (XVIII: V).

Siapa memalsukan pengelanaan, akan hampa dalam persidangan,
disebutlah buih centang perenang, itu ruang belum dikenali (XVIII: VI).

Burung gereja bersarang di tiang rapuh penjajah (XVIII: VII).

Tiada daun-daun menyanyi, rintik mendekati kelayuan, menginjak
tanah kelahiran masa, mengabadikan rukuk pengisian hikmah (XVIII: VIII).

Suara-suara diharumi bayu melintasi tangkai, goyangan kelopak-kelopak
bunga yang mempercepat putaran doa, hingga tandas kasih setia (XVIII: IX).

Berhamburan bunga-bunga ke sudut ruang sembahyang,
dan semua berkendara perbuatan masing-masing (XVIII: X).

Menggerakkan jiwa, mengerami makna setia (XVIII: XI).

Batu-batu memecah urat nadi, langkah kaki ke pabukitan,
kemasyhuran tertimbang hasrat, menuangkan kendi dalam perjalanan,
ditariknya busur panah, dari ibunda lengkingan suka duka (XVIII: XII).

Jika ada siasat peperangan jelas menekan, tersimpan nafas botol tua diasingkan,
sedangkan tangan-tangan menggapai langit hujan membumi serengkuh
keikhlasan senyum sejati, mesti di tengah sahara berkasih damai (XVIII: XIII).

Kidungan rindu menundukkan wajah ke tanah,
gemerincing mataair mensucikan jiwa-jiwa (XVIII: XIV).

Yang belum dewasa ke mana perginya, apakah bersembunyi atau berlari?
Bukannya lebih segar menari laksana rerumputan menyanyikan pagi (XVIII: XV).

Tidakkah alunan terpenjara dalam jeruji kecewa,
maka lewatilah batas jalan itu (XVIII: XVI).

Saat memandangi telaga, wajahnya tumpah rasa malu,
itu air terlepas dari daun talas pecah setujuh (XVIII: XVII).

Wanita memotong telinga jaman yang sekiranya tuli,
lewat tarian palet di kanvas sakit (XVIII: XVIII).

Jangan putuskan pita suaramu sebelum pecahkan kaca purba, berilah
ruh ke udara, yang nantinya diterima selaksa anak didik semesta (XVIII: XIX).

Burung bangau memutari candi hinggap ke titik stupa, lawatannya
mempelajari prosesi sejarah, keringat mendidih kemuliaannya terjaga (XVIII: XX).

Bersamanya tak memusingkan, lagi jernih sudah endapan penyadaran,
yang kusut dibasuh kedewasaan, tersingkaplah tabir alam (XVIII: XXI).

Kebimbangan awan lepas berhujan deras, tarian dedaunan bambu
memupus, menyusuri lengkungan senjamu (XVIII: XXII).

Melihat permainan di pantai tak lebih ribuan ombak letih,
terasa dangkal kegilaan (XVIII: XXIII).

Ada kepakan serius merenungkan gelisah, berpusaran angin
meningkat ke pucuk landasan, lantas melesat (XVIII: XXIV).

Rupa lembing terlempar ke sasaran, terbukanya kesadaran
arus sungai mengalir, tidak menuju hutan keangkuhan (XVIII: XXV).

Apakah melewati kakimu? Bawalah berita dedaun gugur,
reranting mengikuti keyakinanmu yang santun (XVIII: XXVI).

Yang berbeban kasih, jangan hentikan hasratmu menghancurkan kulit
sebelum menetasnya bidadari dari telur burung onta (XVIII: XXVII).

Ingatlah, rayuan terkuat berasal dari hawa rindu paling memikat,
kau sungguh menanti kehadiran dekapan mesra (XVIII: XXVIII).

Puncak ketakutanmu terpejamnya mata, padahal berkedip
saja, bayangan hilang mengikuti petir sambaran tekat (XVIII: XXIX).

Jangan campakkan nyawamu oleh ayunan mengusik kesadaran terhimpit,
terjerembab rekahan lemah, oleh gerimis mendekati sebelum-sesudah (XVIII: XXX).

Dan pepucuk daun tahu perubahan lewat bayu pemikiran (XVIII: XXXI).

Bangunkan ladang rayu menghibur, pelayananmu sungguh (XVIII: XXXII).

Naikilah puncak kesabaran sebelum senja menghampiri dahan akasia,
mentari senja tertusuk duri serupa lebah madu di sarang waktu (XVIII: XXXIII).

Tidakkah senja dan fajar selalu tampak menawan di setiap jaman?
Letihmu penuh makna, seperti mata elang sekental kopi (XVIII: XXXIV).

Hakikat mengerami rahim, pulas di sempalan iga, lelap terjaga tabah,
disentak gelisah menggubah gundah, memasuki selubung rahasia (XVIII: XXXV).

Kasihnya menyingkap tirai-tirai kesadaran,
berbicara ikat tali merindu panggilan (XVIII: XXXVI).

Senyum memukau diammu bergolak, lumut terkelupas perjalanan batu,
sebelum nyawa terlupa nalar waktu arus usiamu (XVIII: XXXVII).

Buah manis sunyi di pohonnya, menanti gugur ke sungai pertemuan,
doa belumlah terobati, kasihnya masih setia menanti (XVIII: XXXVIII).

Pagi memanggil diri, seuntai rambut bidadari lembayung mewangi,
kidung-kidungan suci mengisahkan persetubuhan sejati (XVIII: XXXIX).

Purnama melepas gaunnya di malam lelap, pada akhirnya
perjamuan melewati tarian awan memahat hikayat (XVIII: XL).

Berendam dalam sendang, senandung warna menerobos cahaya,
rambut cemara mengabarkan letak tujuan,
mengikuti kemungkinan datang atau menanti (XVIII: XLI).

Air terjun menghancurkan batu, lelah menggenang mengaliri pesawahan,
pada lumbung padi tidak luput kenangan dalam ruyung renungan (XVIII: XLII).

Kala endapan kecil menggugah bayangan besar tertikam rindu teramat
jauh, langkah-langkah tidak terusik meski oleh kelembutan (XVIII: XLIII).

Genggaman niat mampu mendapati pegangan, pasir dihamburkan dari
guci penyimpanan, tetapi kenapa, kau seberat mulut beracun wanita (XVIII: XLIV).

Lantas siapa membisikkan kata-kata, hanya si lemah puas lupa tujuan,
pekat awan mengendorkan jiwanya, padahal warna pelangi di lentera (TIII: XLV).

Jangan tiup sampai padam, biarkan sumbu temaram sekarat
yang cahayanya mendekati daun pintu fajar (XVIII: XLVI).

Sungguh nikmati bibir pelajar mengulum sukma ke titian jagat semesta (XVIII: XLVII).

Putri angin menarikan lengkungan bambu menjulang iramanya ke telinga
perindu, kejernihan pantulan telaga mengendalikan cermin mata (XVIII: XLVIII).

Ajak sayap nuranimu mengepak terbang, sejauh hasrat menembusi akibat
menanggung kesadaran, meski kabut nasib tak segamblang siang (XVIII: XLIX).

Gema suara malammu menjauh dari tapakan dingin di bukit dulu,
membaca alamat langit seiring beban di pundak kasih setia bersuci (XVIII: L).

Dengarlah tembang puja dalam kalbu pernah terlahir (XVIII: LI).

Singgahlah di arus pembersihan, berharap selembut salju nurani,
lihatlah pemuda melupakan masa, di jalan mentari mengunjungi ketulusan,
bimbang bersaksi, kepada malam-malam pahit meletihkanmu (XVIII: LII).

Kepada siang merawat kesadaran ujung jemari memancarkan daya bening
menyusuri pertemuan, serupa memetik mangga di kebun berbeda (XVIII: LIII).

Di ketinggian desir angin silih berganti, bala tentara menaiki turangga,
namun kenapa kalian malah nyenyak, melampaui ketaksadaran (XVIII: LIV).

Saat terbangun telah di puncak gunung lebat pohon, dan
pantulan bayangan membicarakan kalbu seorang (XVIII: LV).

Begitu tentram selepas keluh kesah menghujamkan
kalbu terlempar impian, pulih dalam pelukan malam (XVIII: LVI).

Kantuk di tengah langkah tak terhitung, sejauh awan melarut
menyeringai pagutan fajar, memberi salam cerecah burung manyar,
dedaun bambu berembun ditiup barongan sewu (XVIII: LVII).

Jangan cukup puas ketika ia membagi-bagikan penilaian,
alam menuangkan perasaan meleburkan debu ke udara (XVIII: LVIII).

Angin mengembarakan daun-daun menuju pelosok senja,
menuruti lengking kasih sayangmu menyingkap leher jenjang wanita,
tersentuh kesungguhan tercurah melewati letih tentunya (XVIII: LIX).

Lahirnya bocah penuhi rindu purnama,
seperti kehendak memetik lintang, atas tangan kesadaran pertama (XVIII: LX).

Mulanya rumput di tanah gersang di bawahnya awan bergerak
memberi perhatian, yang terdiam sanggup berhitung penciuman (XVIII: LXI).

Wahai orang-orang diberkati, bergolaklah dalam tungku matahari, warna
pusaran keluar warangka, kilatan nalar setepis runcing bibir wanita (XVIII: LXII).

Kau anggap senja matang bara, rekat pandanganmu menghampiri sepi,
ayunkan pedang lagi santap daging musuhmu kelalaian (XVIII: LXIII).

Burung-burung pemakan bangkai serupa gemintang,
dan tapakan kuda para prajurit, menghancurkan gelisa (XVIII: LXIV).

Di padang ilalang pertempuran, lengkingan pecah di sisi gelap tercela,
mengundang awan terluka, pedih hujan badai dirasa kembara (XVIII: LXV).

Kemarau panjang melanda, ceceran airmata para janda melegenda,
terlindas tubuh seruling gembala patah tak bersuara (XVIII: LXVI).

Menetasnya telor burung onta bersambut musim pergantian,
sebuah takdir jaman berubah disertai angin penanda (XVIII: LXVII).

Tinta hitam mengalirkan hikayat
pada tanjung bukit karang pertikaian gelombang (XVIII: LXVIII).

Lagi-lagi memperluas kekuasaan, beranjak dewasa menguak kerahasiaan,
lantas ilmu pengetahuan hilang buas, yang tertinggal kearifan (XVIII: LXIX).

Kasihnya mengunjungi para prajurit bersenjatakan pana berapi,
melesatkan sorot mata membius, cahaya hidup meletup kesatria (XVIII: LXX).

Ketajaman tubuh lelaki berkulit tembaga, matang oleh kilatan senjakala,
dan malam menghangatkan selaput daging batang pohon, ditariknya bayu
remaja, berpegangan keheningan mendekati ketinggian (XVIII: LXXI).

Amis darah dibasuh kembang tujuh rupa, persembahkan lahir bathin
gelisah, berharap terkumpul dalam kesucian kehendak hayat (XVIII: LXXII).

Beginikah di dalam lesung, laksana sapi di jerami berasap-asap,
segala doa ke langit peluh, ialah berpasrah satu-satunya (XVIII: LXXIII).

Menjatuhkan bebijian di kebun, kaki-kaki menyeret langkah,
ia terhuyung batin memekarkan padma di tengah telaga (XVIII: LXXIV).

Bebatuan bermandi air gunung, dedaun terhanyut gelora rahasia, ia
percepat hisapan waktu, melilitnya perut di negeri kejujuran (XVIII: LXXV).

Sampai pada langit biru, awan meninggalkan bekasnya memupus,
lalu kabut menurunkan senja di beranda pebukitan barisan (XVIII: LXXVI).

Kelambu malam ramai dipadati penari lampu, berdiam ketentraman
menatap, sirna keraguan di kedalaman dada mendekap erat (XVIII: LXXVII).

Kepakkan kelelawar segaris bulan terlihat, kau dianugrahi pesonanya,
batang mereranting gugur daun, bertunas di musim hujan (XVIII: LXXVIII).

Alam bersalam bayangan menanti terbukanya tabir bathin kasih,
tergugah di sepanjang sabda mengusung panggilan malam (XVIII: LXXIX).

Kau tunggu kelebatan mengendap mimpi, tidakkah terkenang pertemuan awal,
saat bersama tubuh melayang dihinggapi kasmaram (XVIII: LXXX).

Ombak menuju pantai dalam kantuk ibu menggendongmu, ayunan dipeluk
damai, kelembutan kalbu bertambah akrab, keluh tajam kenangan (XVIII: LXXXI).

Berjiwa bangga ketololan, letak keangkuhan di tempat, menyambungnya tak
teramat tepat nyautnya, unsur panasnya sekuat lidah ular menjilat (XVIII: LXXXII).

Persinggahan ini kian bermakna, meski tiada hirau angin belerang melewat,
tarikan nafas kelegaan dari beban rindu bau kembang, keganjilan jalan kembara,
dan masa-masa memasuki musim berwarna (XVIII: LXXXIII).

Pertemuanmu sayap-sayap jiwa mengepak,
selaksa ombak menyatu beku pada perbincangan pesisir (XVIII: LXXXIV).

Tiba-tiba airmata setia tak terduga menggenang, kenanglah
luapan kasih segenap sedu-sedan ketegasan (XVIII: LXXXV).

Meloncati bebatuan di jalan berlawanan,
kerikil bernyanyi, kaki berdarah, tersandung tersadar ikatan (XVIII: LXXXVI).

Para petani menuntun aliran sungai ke persinggahan damai,
ini bermukimnya lautmu percantik kerinduan langit (XVIII: LXXXVII).

Tiupan bayu seruling menuju tebing mengajak tetumbuhan, merambati
lereng kemuning, ondak-ondakkan pesawahan padi pekerti (XVIII: LXXXVIII).

Inikah tingkatan waktu merawat senandung Keilahian?
Adakah jalan lebih indah merengkuh pengetahuan? (XVIII: LXXXIX).

Membaca ikatan tak terusir badai lupa, umbi-umbian dalam karung
dipikul petani, berkeringat diseka selepas bayu berkawan awan (XVIII: XC).

Langit ditatapnya, mentari menyayat kulit punggungnya,
menempa rambut ikalmu mengeringkan luka hatimu (XVIII: XCI).

Peliharalah nafas sedekah bumi melempar jala-jala angin pantai
pada karang terjal, sebelum akhirnya senang bathin berserah (XVIII: XCII).

Hawa bengi menarik kenangan, menyusuri hening kampung sahaja,
menanti hujan gerimis membangunkan kesadaran gelisa (XVIII: XCIII).

Udara pagi terlintasi benderang mentari menghangatkan sendi,
pori-pori terseka telapak wangi merindingkan urat nadi (XVIII: XCIV).

Anggur tumpahkan nurani atas cengkeraman gelisah dirasuki wedi,
bahagia tercuri, terlanjur berkata-kata jujur terasa jatuh (XVIII: XCV).

Tudung kantuk lesung dihinggapi dahaga menuang kegundahan,
berlayar jauh ke pulau matahari, tak binasa tiada ingkar janji (XVIII: XCVI).

Tinggalkan udara bebas ke sangkar kecil, kekang di hati terjerat kasih (XVIII: XCVII).

Tetembangan gemintang pada lengkungan bulan sabit di jemarimu, semut
di tepian cawan meminum takut tercebur, keluar bibir kehausan (XVIII: XCVIII).

Dia berjalan di atas kertas menyilaukan pandang mencari kelahiran,
awan berhias putih membiru langit mengendap terbang (XVIII: XCIX).

Kepadamu bayu bertemu dedahan mengurai jiwa-jiwa,
tereja merpati terbang menelusup ke sarang teduh (XVIII: C).

Memberi waktu hirup, kepulan di cawan mega
setajam pena mengupas badan debu, menaruh bimbang bersemayam (XVIII: CI).

Angin mendukung aliran sungai, rintihan ombak ke tepian pantai,
menghempaskan awan menerjang jiwa-jiwa (XVIII: CII).

Ia ciptakan kata-kata dari untaian buih berpisah, tinggal menggantung
akhirnya dilupa, dan karang tertegun untuk apa berkata-kata? (XVIII: CIII).

Tumbuh di celah batu, berharap cahaya hangat selepas ditidurkan wengi,
berpancaran daun, embun gugur kabut terbang, berkendara jaman (XVIII: CIV).

Menambah tebal asal tujuan, berhimpun pekat terdukung bayu sekutu,
sukma menyeberangi laut temaram, denting mengaduk kendang (XVIII: CV).

Darah cinta tumpah menghujam, serat bambu menelusupi dagingmu,
kegetiran melanda tungku, berlidah api membakar nadi renungan (XVIII: CVI).

Tunggulah lelehan gunung api, menumpahkan lahar nalar keringkan
pohon, dan taburan gemintang mengenal bulan tersingkap (XVIII: CVII).

Bening cermin hening berkisah kegandrungan
antara malam melarutkan cahaya siang (XVIII: CVIII).

Bersunyi diketeduhan awan di saat hatimu tidurkan bayangan,
dan kutinggalkan catatan ini dalam alam suci kenangan (XVIII: CIX).

Laba-laba dipaksa melempar benang hujan, terik tertelan pandang
melingkari titik keyakinan bayang, dan cahaya mengartikan getaran (XVIII: CX).

Gerak sayap kekupu dirasuki harum kembang mengepak ke taman,
melayang, melepaskan sunyi pelahan-lahan, mengawang hening kabut gontai
sekapas randu, dalam pembaringan rindu musim-musim kemarau (XVIII: CXI).

Dikepul bayu ringan bergerak ke hadirat grafitasi, letak rerumputan basah
embun kesegaran, merambati purnama menerangi wengi berkesan (XVIII: CXII).

Kunang-kunang bercakap mata di kecup gelap terdalam, aduhai penyita
pandangan, nyala bergerak terjerat rasa segenap, bersemedi di ruang khusyuk,
menghitung reranting pada dedahan menggapai muasal (XVIII: CXIII).

Kucuran airmata melewati kesedihan genting kediaman,
meresap ke lemah basah, kejatuhannya ditampung bejana (XVIII: CXIV).

Saatnya turun kemurahan ragu, menuang lantaran
kesegaran hilang, maka aduklah lelah pada cangkir penentu (XVIII: CXV).

Masa dikenyam bibir menawan kesungguhan mengulum senyuman,
langit menyamudra, siapa turun tersedu di tengah angin rindu,
terdorong nurani berlayar merantau (XVIII: CXVI).

Bengi mendekati gelap,
bersimpan sunyi bayangan menyatu segelas pecah pekat (XVIII: CXVII).

Persekutuan tumpah, coretan berkayu lidi bertinta wedang kopi,
ketika menyepakati tumpukan batu menjelma dinding candi (XVIII: CXVIII).

Hening kuyup panasnya melepuh, digiring musim sepatah kata hidup
bertahan, mengambil tubuh membumikan usia jaman (XVIII: CXIX).

Melepas keseharian biasa mengunjungi tempat purba,
demi suaranya kasih sayang tiada pupus sia-sia (XVIII: CXX).

Panggilan kesunyian dikejar mabuk anggur moyang,
setua mimpi tersisa nyata dari harapan putus-asa (XVIII: CXXI).

Lepasnya kata-kata berkumandang sedari jeruji jemari,
mengumpulkan lintang meninggalkan jerat impian (XVIII: CXXII).

Kidungan mesra perdengarkan bait setia, mulanya meniti tembang
lalu bersinggah pada tapakan hening bunga berduri,
tempat kekal duka murni (XVIII: CXXIII).

Terimalah kesetiaan menemani pada perburuan melelahkan,
menuju gunungan wayang sampai blencong matahari (XVIII: CXXIV).

Hutangmu kapan dipenuhi? Jangan mengeja janji berharap bantuan,
belajarlah menempuh niat, keriangan menyertai bening jiwa (XVIII: CXXV).

Cepatlah agar debu beterbangan, yang perberat itu hantu murung,
maka fahamilah langkah demi titik keterjagaan (XVIII: CXXVI).

Pembebas keraguan sambil malu, tetaplah setia melantunkan tembang
hening, walau terenggut rayu di pembaringan, tiada berubah (XVIII: CXXVII).
------------------

*) Pengelana asal desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir