Sabtu, 21 September 2019

Surat dari Jember: Apakah Ia Sedang Menyusun Biografi Baru, Afrizal?

Dwi Pranoto *

Kini ia telah menjadi ingatan yang tak mungkin sepenuhnya teringat: di tempat percakapan yang setengah malu-malu untuk memenuhi dirinya dengan asap rokok itu suara yang keluar dari mulutnya jelas sekali mengisyaratkan kalau telah terlatih atau terbiasa mengatasi kegentingan di penjelang khalayak. Ia bergerak rileks; slow motion nyaris. Tapi tubuh kurus yang terbalut jaket putih yang sesekali dibukanya memberi kesan tak sanggup menutupi bocornya kecemasan. Ia duga, mungkin juga berkeras pastikan, sudah tidak ada lagi yang bisa diyakini kini.
Lembaga-lembaga (sosial) begitu berbahaya dan buas. Sebagaimana kota yang dengan agresif telah direbut oleh spanduk-spanduk dan baliho-baliho reklame, tubuh telah ditundukkan oleh kata-kata  dimana ideologi mengeram di dalamnya sebagai lembaga-lembaga yang menyusun identitas untuk dirinya melalui luka-luka yang ditakiknya. Seperti kota yang mengasingkan, ia tak lagi mengenali dirinya. Sebagaimana Borges dalam Borges dan Aku, sebagian dirinya terperangkap dalam buku-buku. Borges menggambarkan hubungan antara Borges dan Borges di dalam buku begini; Aku suka jam pasir, peta-peta, tipografi abad sembilan belas, rasa kopi dan prosa Stevenson; ia berbagi kesenangan-kesenangan ini, namun dengan suatu cara yang percuma  mengubahnya menjadi atribut-atribut seorang aktor. Dalam semacam pengantar buku mengenai teater yang ia tulis ia berkata kalau penulisnya sudah ‘mati’. Namun frasa-frasa yang menghambur dari mulutnya petang itu, tentang tubuh yang diagresi dan menjadi medan pertempuran kekuasaan dari luar, membawa kembali semua persoalan dalam puisi-puisi yang pernah ditulisnya, tentu dengan keberanian lain.   

Ia, bagaimanapun harus dibayangkan terpisah dari tubuhnya, menggigil di suatu tempat sambil menatap tubuh luka keranjangnya. Namun perih berabad itu ternyata juga memeras kuyup ketakutannya sampai temali. Saat itulah ia tahu harus merebut kembali tubuhnya. Menelentangkan tubuh di atas meja operasi untuk,menginvestigasi masa lalu. Menyembuhkan luka-luka seperti sefrasa kalimat surat yang ditulis Rosa ketika duduk di kursi kereta api yang berlari dalam sebuah film mengenai tentara yang menyerbu lembaga pendidikan dan memporak-poradakan tradisinya; Siapa yang mengajari ibu untuk mengusap air mata? Tidak ada cara lain kecuali menghapus narasi-narasi besar, mengusir kampung halaman dari tubuh. Namun, sepi rupanya bukan sesuatu yang bisa sungguh-sungguh ditanggungkan. Sebagaimana Helene Cixous, ia lantas menyusun biografi baru dari suara tubuhnya yang didengar; suara gemeretak tulang, suara pori-pori kulit yang membesar saat hari panas dan mengerut ketika hari dingin, desir darah dalam pembuluh dan teriakan-teriakan tubuh yang barangkali hanya bisa tertangkap orang lain saat mereka menatap mayat.  Tidak ada lagi ibu dan bapak di dalamnya, mereka mati bersama kampung halaman yang terusir. Masturbasi sungguh merupakan aktivitas seksual paling simbolik dalam kondisi ini (tapi hasrat yang muncul tiba-tiba di tengah kerja kepengarangannya, mungkin tak mudah dikenali sebagai seks, oleh sebab itu ia katakan masturbasi tak ada hubungannya dengan seks). Karena masturbasi murni imajiner. Tidak ada obyek pengganti cinta pertama di situ, puting susu ibu; tak juga manifestasi cemburu tehadap bapak; seolah penindasan atas hasrat inses itu menghadapi jalan buntu untuk menemui obyek pengganti. Belaka ia dan tubuhnya; permainan orgy kesendirian.

Ataukan ini suatu tanda penyerahan total? Keputusasaan yang membawanya pada masa kini abadi; menghapus sekuen waktu. Karena sejarah ia bayangkan telah ditikam berkali hingga benar-benar mati oleh percepatan, perubahan mutlak. Tidak ada tubuh yang membusuk dimanapun namun bau bangkai berpusar sengit meruapi kilau lestari dunia yang nirwaktu.       

Jika benar sudah tak ada lagi yang layak atau mampu diperjuangkan mestinya ia mati, memilih terbakar habis daripada padam perlahan seperti Kurt. Atau setidaknya seperti Lenin yang meminta racun sebab tahu tubuhnya tak lagi berguna. Tapi rupanya ia lebih membayangkan diri sebagai Mishima yang tak hendak menjadi Mishima yang menuntaskan tandas-tandas biografi samurainya dalam seppuku setelah roda modernitas menggilas dan membusukkannya. Atau barangkali ia mau menjadi orang muda teruna dalam imajinasi Borges di umur delapan puluh lima tahun; Jika aku dapat hidup lagi – aku akan coba kerja telanjang kaki pada permulaan musim semi hingga penghabisan musim rontok. Tak hanya kerja telanjang kaki, ia kerja telanjang bulat.

Ia ingin merasuki tubuhnya atau ia merasuki tubuhnya, membentuk subyektifitas murni yang sungguh-sungguh material. Hei, bukankah otentisitas pribadi ini cita-cita modernitas, jika tak semulai awalnya setidaknya tahun 60-an telah membekaskan jejak yang kuat dan dalam; alangkah perlawanan-perlawanan sengit seni garda depan masa itu terhadap modernisme klasik beserta lembaga-lembaga sosial mapan telah melahirkan karya-karya yang kurang ajar, penuh skandal. Bersama itu kegemparan teriakan manifesto-manifesto anti seni atau kematian seni, permusuhan terhadap lembaga-lembaga dan selera umum dan kutukan-kutukan anti perang terdengar. Seni bergegas meninggalkan keindahan yang telah menghuni pasar guna menuju sublimitas, menuju dunia dalam pandangan individu; menuju keunikan-keunikan pribadi; gaya seibarat baju basah yang menunjukan lekuk tubuh. Pembayangan masa depan pada masa itu adalah ancaman keruntuhan menara Babel yang bakal mengasingkan individu sebagai pulau-pulau bahasa yang terpisah. Namun, setengah abad kemudian, jika tahun 60-an kita jadikan tapal awal, kita masih bisa saling bercakap. Bahasa tak pernah menjadi sangat pribadi hingga membuat relasi komunikasi menjadi mustahil tanpa kamus.

Hari ini, ketika pasca modern menggulung semua permukaan bumi – di pelosok-pelosok terpencil pasca modern muncul sebagai imaji-imaji bersama televisi dan telepon seluler – tahun 60-an masih menaungkan bayangannya . Tapi tanpa kegemparan lagi, tekhnologi reproduksi telah menjinakkan dan komodifikasi telah memindahkannya ke pasar. Ada yang dilucuti dalam reproduksi dan komodofikasi itu; politik! Boleh dikatakan pasca modern adalah modernisme 60-an tanpa politik. Sebagaimana ia lebih memilih menggunakan kata ‘pertemuan’ daripada ‘negosiasi’ untuk menyifati dialog dalam relasi komunikasi.               

Masih gerimis ketika ia memasuki mobil setelah sedikit menyisakan kopi di cangkir. Ah, kepala yang gersang itu membuat lehernya tampak lebih jenjang dari yang seharusnya. Berboncengan aku pulang ke rumah. Di sepanjang jalan yang membuat kami basah, bahkan sampai saat surat ini aku ketik, masih aku mengira ia pasti sulit memahami tanggapanku yang membingungkan dalam forum penuh asap rokok itu. Masih terngiang seloroh yang ia katakan menjelang aku menuntaskan tanggapanku, ‘Pidato’.                 
***

*) Dwi Pranoto adalah penggiat sastra dan pemerhati budaya yang concern dengan pemikiran-pemikiran kritis.
http://lepasparagraf1.blogspot.com/2011/05/surat-dari-jember-apakah-ia-sedang.html

Tidak ada komentar:

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir