Minggu, 30 Juni 2013

KABAR DUKA

Ahmad Farid Tuasikal *
Radar Mojokerto, 2 Juni 2013

Teruntuk sahabatku Fahrudin Nasrulloh yang telah kembali kepangkuan Alloh SWT pada hari kamis, tanggal 30 Mei 2013

Hujan telah redah. Namun kilat yang menyambar-nyambar di sela gerimis tipis-tipis seakan langit telah resah. Kilat yang menyala ketika senja menyentuh bibir langit magrib kian menggariskan kilatan-kilatan cahaya yang penuh akan pertanda. Entah pertanda akan ada bencana atau pertanda suatu duka.
“Ini hari kamis”. Kata sahabatku yang tadi siang dengan tiba-tiba menghampiriku. Yang sehari sebelumnya aku menuliskan pesan padanya di dinding facebooknya dengan menulis ulang pembuka buku yang pernah ia berikan padaku. Buku yang usang namun penuh isi yang tidak pernah usang meski dimakan zaman. Buku itu berjudul “Yang Asing Yang Terasing” diterjemahkan dari The Book of Strangers karangan Ian Dallas, Terbitan Victor Gollancz Ltd., 1972. Pembuka buku itu diawali dengan dua paragraf yang membuat kita tercengang meski hanya beberapa detik berlalu. Dua paragraf itu berjudul:

“ K I A M A T ”

… Hening lama. Setelah itu Si Hamoud memegang lenganku dan berkata, “Ada sebuah kisah tentang hari kiamat—bakal seperti apa peristiwa itu. Berjuta-juta penduduk bumi tenggelam dalam kebodohan, kebiadaban dan kegilaan. Di salah satu mega-kota raksasa, yang gemuruh oleh ledakan yang menyembur ke segala penjuru, dua sosok wanita rentah layu, pengemis-pengemis yang terlupakan, merayap di sebuah sudut menyaksikan pemandangan mengerikan yang berlansung tiada henti. Satu dari kedua wanita itu menoleh kepada yang lain, kemudian berucap, ‘Mengerikan. Lihat mereka. Lihat diri kita semua. Aku sama sekali tidak habis pikir. Mengapa? Mengapa ciptaan megah ini, bumi ini, berjuta-juta manusia ini sengsara? Apa arti semua ini? Pernakah ada orang yang tahu?’ ”.

… “Hening lama. Setelah itu wanita yang satu lagi memegang lengan sahabatnya sembari berkata, ‘Aku ingat, dahulu ketika aku masih gadis, ada seseorang lelaki aneh datang ke kota kami, mengemis. Pakaiannya compang-camping seperti pakaian kita, dan dia mengenakan peci lancip. Masih segar dalam ingatanku kedamaian yang terpancar di kedua matanya tatkala dia meletakkan tangannya di atas lenganku, seraya berbisik, Laa ilaaha illallaah.’ “.

Aku tulis ini semua karena aku begitu merindukannya, rindu canda-candanya yang begitu mengusik dan menggelitik hatiku. Entah apa lagi yang membuatku rindu padanya, yang aku rasa adalah kedamaian ketika aku bertemu dengannya. Mungkin ini buah dari pertemanan dan persahabatan yang di jalin dengan apa adanya.

Kembali lagi pada hari berikutnya setelah aku tulis pesan itu. Yaitu hari ini, hari kamis kata sahabatku siang tadi. Aku masih begitu mengingatnya pertemuan yang begitu singkat tadi. Saat berjumpa siang tadi, sahabatku menceritakan kegelisahan setelah membaca pesan dariku. Sehingga dia dengan kegelisahannya menghampiriku dengan tiba-tiba seperti hujan sore tadi yang tanpa aku duga kedatangannya. Aku sangat terharu dan lebur dalam batu kerinduanku.

Siang itu di Pendopo Alun-Alun Kota tempatku mencari nafkah, kita berdua saling canda dan tertawa ria melepas kerinduan-kerinduan kita. Di sela obrolan panjang tak bermuara dia bertanya padaku “apa kamu tahu siapa lelaki yang mengenakan peci lancip dalam pesan yang kamu tulis untukku itu?”. Aku diam lalu bersuara pelan “dalam imajinasiku ketika membaca kalimat itu, aku menduganya, bahwa dia adalah Nabi Muhammad SAW”. “kau salah teman, lelaki berpeci lancip itu adalah Jibril. Malaikat Jibril”. Katanya. “Aku terdiam. Keramaian kota yang seketika hening di hati, pikiran, rasa dan imajinasiku siang itu menyatu membuatku berkeringat, seperti Nabi Muhammad yang pertama kali bertemu dengan Malaikat Jibril”.

Nabi Muhammad saja bergetar dan berkeringat. Apalagi aku yang hanya mendengar namanya saja. “Duh Gusti. Ampuni aku”.

Dalam kebisuan antara aku dan sahabatku, aku tiba-tiba ingat tentang seorang teman. Seorang teman yang hanya mungkin bisa di hitung jari ketika aku bertatap muka dengannya. Namun saat itu, wajahnya begitu tersenyum dalam ingatanku. Aku bercerita pada sahabatku, tentang seorang kawanku itu. “Oh ya mas,…aku punya seorang teman cerpenis, yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit”. “Memang dia sedang sakit apa sampai harus dirawat di rumah sakit”. Tanya sahabatku. “sudah beberapa bulan dan minggu ini dia selalu cuci darah setiap minggunya”. Jawabku. “dan tidak tahu kenapa aku tiba-tiba mengingatnya”. “Semoga saja kawanku ini segera sembuh dan memperoleh yang terbaik untuknya menurut kehendak-NYA ya mas?”. “Amin” jawab sahabatku.

Petir semakin jelas mengkilap membela langit malam. Gerimis tipis yang tak henti-henti berganti hujan bertambah deras sekali. Lebih deras dari yang pertama tadi. Lebih menyambar-nyambar lidah kilat-kilat petir itu. Aku semakin gelisah. Meski kerinduanku pada sahabatku tadi sudah terobati, ada yang tidak biasa dengan perasaan ini. Ada yang menggelisah dalam kegelisahan malam ini. Entah apa? Aku sendiri masih tak tahu apa-apa. Yang aku tahu hanya hujan dan sambaran kilat ini. Aku tak tahu ada apa di balik semua ini.

Meski sejak kecil aku megenal petir atau kilat-kilat itu, tapi yang aku rasa saat ini, pada hari kamis ini, pada malam ini, ini begitu asing bagiku, bagi perasaanku saat ini. Meski malam semakin larut, mataku belum selarut semen putih yang telah tersiram air. Lalu kering dan padat menyatu seperti pertemuan kedua bulu mataku pada tiap malam-malam yang lalu.

Kuputuskan untuk membaca buku. Karena biasanya ketika aku sulit untuk tidur dan menghilankan gelisah dan gunda gulana dalam hati, membaca buku membuatku bisa mengawali tuk tidur dan menghilangkan semua gelisah itu. Tiba-tiba tanganku mengambil buku Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III. Dan anehnya lagi yang membuat gelisahku semakin menjadi, ketika aku buka buku itu secara langsung, terbukalah halaman 76. Cerpen dengan judul Anggorok dan Anggodot karya Fahrudin Nasrullah (Jombang Jawa Timur). Aku semakin gelisah. Karena nama itu, nama seorang kawan yang aku ceritakan pada sahabatku tadi siang tentang sakitnya. Dengan perasaan gelisah dan hujan yang tak kunjung reda. Aku mencoba membacanya. Beberapa halaman telah aku baca dan aku terusik dengan kalimat

“Sampai di pucuk malam yang hening, diterangi jejeran lilin dan oncor, mereka demikian hikmat mendengarkan kisah-kisah memukau tapi merasa mengelam dari Hoa Tsing:

Tak bakal ada kejahatan yang lahir jika seseorang terus pandangi api lilin itu. Hingga kegelapan enggan bersekutu dengan warna hitam. Ia lalui jalan setapak di mana segala yang jahat tanpa sangka bersigap meringkus kesadarannya. Lewat sepasang mata aneh, di kedalaman mata Arcasoma, yang ada di tanganku ini, hawa gaib apapun bisa menyusupi Ruh”.

Aku tak mampu meneruskan membacanya. Karena kata hening, hawa gaib, menyusupi Ruh, telah benar-benar menyusup dalam suasana ini. Suasana malam, suasana kamis dan suasana hatiku yang gelisah ini.

Mataku mulai layu. Kedip tak tertib mulai mengerdip kedua pasang bulu mataku. Handphone yang ada disamping lengan kananku bergetar. Seorang sahabat yang tadi siang mengobati rinduku menelponku malam itu. “halo Mas,…ada apa?” “Aku juga masih rindu karena pertemuan tadi begitu singkat”. Kataku. “Ya aku juga”. Katanya. “Oh ya siapa tadi seorang temanmu yang kau ceritakan padaku tadi siang?”, siapa namanya! “Nasrulloh”. “Ya ya nama lengkapnya Fahrudin Nasrulloh”. Jawabku. “Memang kenapa Mas dengan dia temanku?”. “Aku tadi dapat kabar dari seorang temanku yang juga teman dari temanmu itu. Dia mengabarkan kalau Fahrudin Nasrulloh yang kau ceritakan tadi telah kembali ke Sang Pencipta, kembali Kepangkuan Alloh SWT”.

Aku terdiam dan dalam hati ada hening yang menyusup lagi “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Kegelisahanku terjawab sudah hingga telpon dari sahabatku barusan terputus dengan sendirinya. Aku masih terdiam dengan kenangan senyum di wajahnya. Aku masih terdiam dengan cerpennya menghujam benakku. Aku masih terdiam dengan keheningan malam yang dia ajarkan barusan. Aku masih terdiam dengan kekagumanku padanya. Menulis cerpen terakhirnya dengan tinta merah darah-darahnya menceritakan akan kepergiannya. Aku masih terdiam dengan suara petir dan hujan ketika hawa gaib menulis ceritanya sendiri. Aku masih terdiam semoga suara petir tadi adalah suara lelaki berpeci lancip yang membisikkan Laa ilaaha illallaah di teliga dan kalbumu yang penuh rindu dan penuh syahdu.

…hening malam itu dan suara hujan berganti suara malam…
Dan aku pun masih terdiam…

Desaku Kemiri, Kamis, 30 Mei 2013. 00:00

*) Ahmad Farid Tuasikal, lahir di mojokerto, 24 oktober 1984. karyanya berupa esai, puisi, cerpen pernah termuat di surat kabar radar mojokerto. surabaya post, seputar indonesia (sindo), dan kompas jatim. puisinya termuat juga dalam antologi bersama, seperti; jejak sunyi tsunami terbitan pusat bahasa jakarta, termuat dalam antologi malsasa (malam sastra surabaya), 2005, 2007, 2009. antologi penyair mutakhir jilid iii dewan sastra jatim, antologi 15 penyair jatim “manifesto illusionisme”, antologi candhi penyair se-sidoarjo, antologi pesta penyair 2010, antologi matinya seorang koruptor 2010, dan termuat juga dalam antologi bersama “temu sastrawan indonesia atau yang lebih di kenal dengan TSI III Tanjung Pinang 2010. antologi penyair mojokerto 2011. Antologi tunggal pertamanya “sepenggal puisi” yang memuat dua kumpulan puisi senyum rel kian jauh dan suara-suara surga. Di penghujung akhir tahun 2012 menerbitkan antologi tunggalnya yang kedua “episode siapa lagi”. Sekarang bekerja dan menjadi staf di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Sejak Tahun 2003.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir