Sabtu, 19 Januari 2013

Budaya Tanpa Arah

POLEMIK NUMERA
Wannofri Samry
Harian Haluan, 11 Maret 2012

Sebagaimana polemik me­ngenai Kongres Kebudayaan Minangkabau beberapa bulan lampau, sesungguhnya juga tidak ada menariknya me­mperbincangkan Numera, karena ia hanya kegiatan biasa, paling-paling kumpul-kumpul para aktivis sastra, selepas itu habis.
Dalam iklim demokrasi memang hak setiap orang dan kelompok untuk membuat kegiatan, apa pun bentuknya. Justru yang menarik adalah membaca fenomena di balik polemik Numera (Nusantara Melayu Raya) ini. Kenapa polemik ini terjadi? Darman Moenir (DM) memulai polemik (Harian Haluan 6/2 2012) ini tentu mempunyai alasan.

Cara pandang DM, yang sudah puluhan tahun menulis sastra dan berkiprah di media massa, tentulah berbeda dengan Romi Zarman dan Muhammad Subhan, dua sastrawan muda Sumatera Barat yang begitu potensial. Mungkin DM memandang dari sisi struktural (sosial, politik dan budaya) yang selalu saja menggejala.

Pertanyaan mendasar mungkin muncul kenapa acara Numera ini muncul dari seorang para birokrat? Ap­akah begitu dalam cinta para birokrat ter­hadap keb­u­daya­an? Per­tan­yaan ini tentu bisa direnungkan ketika kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemerintah, birokrat kita selama ini, hampir tidak mempedulikan kebudayaan (seni, sastra, artefak pem­ikiran dan lain-lain). Lihatlah, begitu banyak bukti-bukti sejarah dan budaya kita tidak dipedulikan. Begitu banyak hasil karya sastra kita tidak dijaga dan tidak dikumpulkan?

Begitu banyak naskah-naskah kita yang terlepas keluar negeri dan tidak dir­isaukan. Penulis tidak mau me­ngatakan naskah-naskah dan benda kebudayaan ini dicuri, sebab orang asing mengambilnya secara syah, hanya pemerintah saja yang tidak peduli, kalaupun peduli, hanya dengan setengah hati. In­i terjadi sejak dulu sampai kini.

­Pertanyaan lain adalah, apa­kah acara Numera ini mengajak para sastrawan secara terbuka? Sehingga para sastrawan itu akan mendesain acara itu dengan baik? Sas­trawan seperti Darman Mo­enir, Raudha Thaib, Rusli Marzuki Saria, Harris Effendi Thahar, Yusrizal KW term­asuk Romi Zarman dan Muh­ammad Subhan (sekadar menyebut beberapa nama) pasti akan bisa diajak ber­unding bersama apabila memang “kita” ingin meni­ngkatkan sastra dan budaya. Artinya acara sastra mesti sepenuhnya melibatkan satr­awan, jika memang pem­erintah ingin menjadi pembina kegiatan sastra ataupun ke­bud­ayaan. Nyatanya kegi­atan ini digodok oleh pemerintah dan mengajak sedikit sast­rawan. Jika para sas­trawan ini diserahkan mengurus diri mereka dengan fasilatornya pemerintah, tentulah kegiatan ini akan mempunyai visi yang kuat buat “strategi kebu­dayaan kita” ke depan.

Strategi Kebudayan?

Pertanyaan penting bagi penggagas Numera dan pem­eri­ntah, penulis sebutkan pemerintah karena gagasan ini juga melibatkan Dinas Pariwisata Kota Padang, apakah ini salah satu strategi kebudayaan atau politik? Kalau stretegi kebudayaan, apakah strategi kebudayaan ini ditujukan ke dalam (lokal) apakah keluar? Kalau diha­dapkan kepada negara luar tentulah ia membaurkan dengan strategi kebudayaan politik kita? Kalaulah acara ini bahagian strategi kebu­dayaan “internal”, me­mpe­rkuat ke dalam sastra kon­temporer yang berkembang di Sumatera Barat, mungkin tidak efektif, apalah yang kita dapatkan dari acara semacam itu? Kalau ia sebagai strtaegi politik yang berbasis keb­udayaan, tentulah tujuan kita jelas. Sejauh ini mungkin ini belum dijelaskan, mau apa dengan Numera? Apakah kepentingan acara ini?

Selentingan terdengar bahwa ini adalah satu strategi pari­wisata, artinya menggu­nakan sastra sebagai komo­ditas wisata, ini bisa terjadi, tetapi kalau hanya mem­anfaatkan satu acara ini saja itu pun tidak efektif. Jika Pemerintah ingin membangun wisata dengan berbasis kebu­dayaan maka pemerintah mestilah terlebih dahulu merawat dan menge­mbangkan ke­bud­ayaa­nnya.

Sementara kenyataannya benda-benda kebudayaan kita, karya sastra klasik dan mo­deren kita raib entah ke mana. Justru penulis menemui kekayaan hasil sastra dan artefak kebudayaan kita di Malaysia, menurut penulis bukan karena dicuri tetapi karena keberadaban pe­meri­ntah Malaysia terh­adap ke­budaya­an melebihi keberad­aban pemerintah kita. Jadi kalau ingin mengangkat keb­udayaan sebagai komoditi pemerintah, semestinya didah­ului juga dengan mem­bina dan merawat ke­budayaan.

Pertanyaan lagi, apakah tidak sebaiknya mem­ber­dayak­an lembaga kesenian dan kebudayaan, sekaligus para para seniman-bud­a­yawan-nya untuk kegi­atan-kegiatan semacama Numera ini? Kita mempunyai Dewan Kesenian Sumatera Barat dan pemerintah me­mpuny­ai Unit Pela­k­sa­naTek­nis Taman Bud­aya. Dua lem­baga ini mestilah lebih dib­erdayakan dan dif­okuskan untuk kegatan se-budaya ke depan.

Maka, sebagai aka­demisi dan pecinta seni-budaya, penulis merasa ber­terima kasih juga kepada negara jiran Mal­aysia, di sana penulis m­enemukan kembali hasil kebud­ayaan (buku lama, seni-sastra, naskah, majalah, surat kabar), yang di Indonesia sudah hilang entah kemana. Patutlah belajar, intropeksi dan memulai dari sekarang untuk strategi keb­udayaan kita ke depan. Kalau tidak kita akan kehilangan kek­ayaan kebudayaan yang sangat berharga itu.

Dijumput dari: http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=13324:budaya-tanpa-arah&catid=41:kultur&Itemid=193

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damsh√§user Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir