Rabu, 11 Juli 2012

Pancasila Belum Selesai

Bandung Mawardi
Lampung Post, 8 Juni 20011

Pancasila adalah sesuatu yang penting dalam konstruksi dan biografi Indonesia. Soekarno pada 1 Juni 1945 memberikan pidato panjang mengenai Pancasila untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Dr. Radjiman Wediodiningrat dalam sidang BPUPKI: “Negara Indonesia yang akan kita bentuk apa dasarnya?” Peristiwa pidato Soekarno itu lantas dipahami sebagai Hari Kelahiran Pancasila.
Peringatan itu mengandung kontroversi karena perbedaan tafsir dan kepentingan. Muhammad Yamin mengakui dia pun memberikan jawaban tapi disanggah Mohammad Hatta (1978 dan 1980). Sanggahan Hatta berdasarkan kesaksian pada sidang BPUPKI dan pembacaan-tafsir kritis atas buku Muhammad Yamin (1959). Kontroversi itu pada masa Orde Baru melibatkan Nugroho Notosusanto (1981) yang menggugat kesahihan Pancasila dari Soekarno. Tafsir dan pemikiran Nugroho Notosusanto diamini Orde Baru karena kentara memusuhi Soekarno dan Orde Lama.

Kontroversi mengenai Pancasila juga terjadi dalam tafsir dan realisasi antara Soekarno (Orde Lama) dengan Soeharto (Orde Baru). Pancasila mengalami nasib berbeda dalam dua rezim kekuasaan dengan kecenderungan dan kepentingan yang berbeda. Peringatan Hari Kelahiran Pancasila khas dan identik dengan Soekarno. Peringatan itu ditinggalkan Soeharto dengan mengganti dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila dalam pengertian tafsir Soekarno adalah senjata melawan imperalisme. Pancasila bagi Soeharto adalah senjata melawan komunisme. Hari ini rakyat Indonesia mewarisi Pancasila dalam pengertian Soekarno dan Soeharto yang terkadang sama, mirip, atau bertentangan.

Soekarno mengisahkan latar belakang penemuan dan perumusan Pancasila dalam buku autobiografi susunan Cindy Adams, dengan judul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1966). Inilah kisah mistis mengenai Soekarno dan Pancasila: “Di Pulau Bunga yang sepi tak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.”

Kisah mistis menjadi eksplisit dalam pidato Soekarno yang mengacu pada biografi diri Indonesia dengan acuan pemikiran dari Barat. Soekarno dengan lugas mengusulkan lima prinsip sebagai weltanschauung negara Indonesia. Lima prinsip itu adalah Pancasila yang secara substansial bisa dipahami sebagai Trisila (sosial-nasionalisme, sosial-demokrasi, dan ketuhanan) dan Ekasila (gotong-royong).

Pemikiran Soekarno itu dianalisis Mohammad Hatta (1978) dengan memberi konklusi bahwa Pancasila terdiri atas fundamen politik dan fundamen moral (etik-agama). Dua fundamen itu mencirikan representasi Indonesia secara historis dan empiris. Hatta memahami bahwa Pancasila yang diajukan patut menjadi kontrak rakyat Indonesia dengan pamrih untuk persatuan dan kesatuan. Sartono Kartodirdjo (1994) pun memahami bahwa basis substansial dari Pancasila adalah religi politik. Pemahaman itu menimbulkan istilah lain dari Soeharto yang menyebutkan bahwa Pancasila itu mengacu pada basis kekeluargaan dan religius (sosialistis religius).

Persoalan penting mengenai Pancasila dalam biografi politik Indonesia adalah perannya sebagai ideologi. Soekarno menghendaki Pancasila sebagai ideologi nasional progresif yang dimaksudkan untuk pemenuhan pamrih kekuasaan Orde Lama dan realisasi nasionalisme Indonesia. Ideologisasi Pancasila dari Soekarno itu dijelaskan dalam pidato peringatan Kelahiran Pancasila pada 1 Juni 1964 yang mengacu pada tiga pokok pengertian: (1) Pancasila sebagai pemerasan kesatuan jiwa Indonesia; (2) Pancasila sebagai manifestasi persatuan bangsa dan wilayah Indonesia; dan (3) Pancasila sebagai weltanschauung bangsa Indonesia dalam penghidupan nasional dan internasional. Soekarno dalam ideologisasi Pancasila memiliki kontroversi-kontroversi yang identik dengan pemikiran politik dan sistem demokrasi.

Soekarno menafsirkan dan merealisasikan Pancasila dalam kondisi politik tak menentu. Kondisi itu memungkinkan Soekarno memahami Pancasila dalam perspektif yang mungkin kontradiktif mengenai politik, HAM, demokrasi, kebudayaan, hukum, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Pergolakan politik 1965 menjadi babak penting peralihan otoritas terhadap Pancasila dari Soekarno ke Soeharto. Ideologisasi Pancasila yang dilakukan Soeharto massif dan sistematik. Hal itu menimbulkan risiko bahwa ada kepentingan untuk meninggalkan peran Soekarno dan merevisi tafsir Pancasila pada masa Orde Lama. Pancasila dalam otoritas Soeharto seakan sesuatu yang dilahirkan kembali dan melupakan ada jejak sejarah.

Soeharto tekun untuk menginstruksikan rakyat agar menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup. Instruksi itu politis dan dijalankan dengan perangkat sistem, birokrasi, dan konstitusi. Pancasila menjadi proyek besar Soeharto dengan ambisi melampaui proyek Soekarno. Soeharto dalam kalimat retoris dan puitis mengatakan: “Pancasila bagi kita adalah masalah hidup matinya bangsa Indonesia.” Pengakuan dan obsesi Soeharto: “Kita tidak akan memerosotkan Pancasila hanya menjadi semboyan kosong atau bahan propaganda murah.” Proyek Soeharto atas Pancasila itu termuat dalam buku Pandangan Soeharto tentang Pancasila (1976).

Proyek besar Soeharto yang berhasil adalah indoktrinasi P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang disahkan dengan Tap MPR No 11/MPR/1978. P-4 seakan menjadi “kitab suci” rakyat Indonesia untuk menerima, percaya, dan mengamalkan Pancasila dalam pelbagai sisi kehidupan. Soeharto menjalankan proyek itu dengan sistem dan kontrol ketat. Penataran P-4 diadakan dengan intensif dan instruktif. Pengadaan buku-buku mengenai Pancasila melimpah. Pancasila menjadi materi pelajaran dengan sebutan Pendidikan Moral Pancasila. Lembaga Negara dibentuk untuk menjalankan dan mengontrol indoktrinasi Pancasila melalui BP-7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Proyek besar itu menimbulkan risiko bahwa realisasi Pancasila adalah urusan kekuasaan dan kurang terbuka dengan perbedaan tafsir atau kritik. Pancasila pada masa kekuasaan Soeharto adalah sakralitas politik yang ampuh. Pemahaman atas Pancasila sebagai ideologi terbuka dan multitafsir susah dibuktikan pada masa Orde Baru. Pancasila mirip “agama” yang dikonstruksi penguasa dengan kepentingan untuk legitimasi dan kelanggengan kekuasaan. Proyek itu berhenti pada tahun 1998 karena Soeharto selesai sebagai presiden. Pancasila mulai memasuki babak peralihan untuk konstruksi yang berbeda.

Gugatan dan pesimisme terhadap Pancasila pasca-Orde Baru mulai muncul karena kondisi politik dan tuntutan perubahan. Pancasila mulai ditafsirkan kembali dalam suatu tegangan optimisme dan pesimisme. Kritik dan gugatan keras susah menemukan jawaban: Orde Baru tak sanggup merealisasikan Pancasila dalam kepentingan demokrasi, partai politik, HAM, keadilan sosial, hukum, dan lain-lain. Pertanyaan kritis: Pancasila masihkah patut menjadi ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia? Arief Budiman (2002) memberikan komentar: “Pancasila itu pakaian yang longgar sekali untuk bisa dipakai siapa saja. Pancasila semacam all size ideology atau all fit ideology.” Barangkali sampai hari ini Pancasila belum selesai dibaca, ditafsirkan, dan direalisasikan. Begitu.
***

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir