Jumat, 01 Juni 2012

Budi Utomo dan Jawa

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Budi Utomo adalah sejarah adab dan bahasa Jawa. Nama Budi Utomo muncul dalam percakapan intim antara Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo. Mereka bergairah membicarakan soal pendidikan-pengajaran di Hindia Belanda. Wahidin Soedirohoesodo berpamitan pada para pelajar STOVIA. Tokoh fenomenal itu ingin melanjutkan perjalanan ke Banten demi mewartakan misi pengumpulan dana pendidikan.
Soetomo memberi tanggapan dalam bahasa Jawa halus: Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami (Itu suatu perbuatan baik dan menundjukkan keutamaan budi). Ungkapan ”budi utami” itu diusulkan oleh Soeradji untuk dipakai sebagai nama perkumpulan mereka (Imam Supardi, Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perjuangannja, 1951: 28). Ungkapan itu dalam masyarakat Jawa juga terbaca sebagai ”budi utomo”. Kita pun mengenal nama Budi Utomo sebagai titik penting sejarah politik di negeri terjajah.

Sejarah bahasa turut membentuk makna Budi Utomo. Komunikasi ke kaum priayi dan rakyat biasa menggunakan bahasa Jawa. Soetomo (1934) dalam buku Kenang-kenangan: Beberapa Poengeoten Kisah Penghidoepan Orang jang Bersangkoetan dengan Penghidoepan Diri Saja menjelaskan: ”Soeradji adalah seorang moerid di antara kita jang pandai pengetahoeannja di dalam bahasa Djawa, sehingga karenanja, ia jang mendjadi perantaraan kita dengan saoedara-saoedara jang hanja dengan bahasa itoelah maka mereka itoe dapat diambil hatinja, soepaja dapat dipengaroehi oleh gelombang moeda jang ada dalam roh Boedi Oetomo itu.”

Budi Utomo memang mempertemukan elite terpelajar dan kaum priayi. Bahasa Jawa menjadi penentu ikhtiar mereka untuk mengabarkan ”kemadjoean” dan menggerakkan misi pendidikan-kultural.  Soetomo adalah tokoh kunci di Budi Utomo. Sosok ini representasi pribadi Jawa dan ”manusia baru”. Kejawaan mengental melalui pendidikan di keluarga dan interaksi di kalangan priayi Jawa.

Konstruksi diri sebagai manusia baru merupakan konsekuensi dari model pendidikan kolonial. Soetomo pun membentuk diri dengan bahasa Jawa dan Belanda. Bahasa adalah urusan identitas dan strategi menggerakkan ide-ide di awal abad XX saat Hindia Belanda mendapati embusan modernitas. Soetomo dan Budi Utomo memberi narasi pelik tentang makna bahasa.

Kaum elite terpelajar memang identik dengan bahasa Belanda. Bahasa penjajah ini menjadi modal takziah pengetahuan dan pembentukan identitas kemodernan. Kefasihan bahasa menentukan harga diri intelektualitas dan kesanggupan mengucap nasib di negeri terjajah. Bahasa Belanda mengandung gairah untuk perubahan. Makna bahasa Belanda berbeda dengan polemik kaum elite terpelajar tentang bahasa Jawa. Relasi bahasa Jawa dan pergerakan politik modern mengesankan dilema.

Para tokoh Budi Utomo turut menggagas Congres voor Javaansch Cultuurontwikkeling (1918) di Solo. Agenda semaian kebudayaan Jawa diselenggarakan dengan suguhan tulisan-tulisan berbahasa Belanda. Percakapan para pemikir Jawa juga kerap menggunakan bahasa Belanda. Bahasa Jawa memang masih diagungkan kendati mengalami keterpencilan politik.

Makna Budi Utomo dan nasionalisme Jawa justru menjadi sasaran kritik. Tirtodanoedjo dari Djawa-Dipa mengusulkan bahwa demokratisasi bahasa Jawa merupakan misi penting ketimbang nasionalisme Jawa (Shiraishi, 1986). Bahasa masih menjadi urusan pelik di Budi Utomo dan kaum pergerakan radikal.

Diskursus

Budi Utomo adalah diskursus Jawa di jalan kemodernan. Sanggahan atas pengentalan Jawa di Budi Utomo diajukan Tjipto Mangoenkoesoemo selaku pengurus. Sang revolusioner ini tak menampik Jawa tapi menginginkan ada agenda kemodernan demi martabat manusia di negeri terjajah. Tjitpo mengakui diri sebagai Jawa tanpa harus mematut diri dalam angan Jawa silam, kolot, kaku. Jawa mesti bergairah menapaki abad XX.

Budi Utomo justru memperlambat takdir perubahan alias ”kemadjoean”. Pemaknaan Jawa di tubuh Budi Utomo adalah ”dunia keraton-feodalistis” dan ”kaki tangan kolonialisme Belanda”. Jawa bagi Tjipto Mangoenkoesoemo mesti menggairahkan politik (Balfas, 1952).

Kritik pedas Tjipto Mangoenkoesoemo mengabarkan tentang perdebatan sengit soal Jawa dalam narasi politik, adab, identitas, bahasa, sejak pendirian Budi Utomo. Penggalan sejarah itu luput dari mata kita saat rezim Orde Lama dan Orde Baru mengakui secara politis bahwa 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangoenan Nasional atau Hari Kebangkitan Nasional. Diskursus Jawa seolah menjelang punah.

Selebrasi mengingat Budi Utomo di abad XXI mungkin terus mengaburkan makna Jawa. Kita memang bisa membuat perbandingan dengan masa silam. Soetomo dan para penggerak Budi Utomo memang mengurusi Jawa menggunakan adonan nostalgia-klasik dan penampilan Barat. Mereka menguak dan mengumumkan keagungan adab Jawa dalam godaan nalar-imajinasi modern.

Mereka fasih berbahasa Belanda dan mengenakan pakaian Barat untuk ”melantunkan” Jawa sebagai pijakan hidup. Mereka tumbuh di institusi pendidikan kolonial tapi mendamba Jawa lama terus mengalir di zaman ”kemadjoean”. Kontradiksi makna Jawa itu semakin mengental di abad XX saat dunia bergerak memusat ke pencerabutan akar identitas kultural. Jawa di abad XXI tentu memerlukan kelenturan dan adaptif melampaui strategi ala Budi Utomo.

Bahasa Jawa memang sempat mencuat dalam agenda pendidikan-kultural Budi Utomo. Ikhtiar itu rancu saat elite dan kaum terpelajar di Budi Utomo cenderung memilih bahasa Belanda untuk mengucap-menulis pelbagai ide. Bahasa sebagai lambaran adab Jawa perlahan terabaikan saat arus pergerakan nasionalisme menemukan dan membentuk ulang bahasa Indonesia untuk seruan politik dan identitas. Budi Utomo dan Jawa semakin lirih.

Kesan itu tampak saat Ki Hadjar Dewantara (1936) mengajukan usulan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar di jagat pendidikan di Jawa. Afirmasi dan sebaran bahasa Jawa bisa melanggengkan identitas Jawa tapi tak ingkar atas kemodernan. Tokoh ini turut membesarkan Budi Utomo tapi tak betah menganut misi kolot dari kalangan tua dan moderat. Keputusan meninggalkan Budi Utomo justru memberi gairah mendefinisikan Jawa dengan progresif dan konstruktif.

Kita memperingati Budi Utomo tak sekadar sulut nasionalisme dan pembesaran makna (politik) Indonesia. Sejarah Budi Utomo sejak mula adalah sejarah adab dan bahasa. Pemaknaan Jawa di awal abad XX dalam naungan nilai-nilai kepriayian dan nalar-imajinasi Barat menimbulkan sengatan atas pribadi Jawa di zaman modern.

Budi Utomo mengingatkan narasi biografi pribadi Jawa saat ingin mendefinisikan Jawa di mata kolonial dan rakyat. Sejarah itu bakal jadi ingatan kita untuk menafsirkan ulang Jawa di abad XXI. Jawa tentu tak mesti mengartikan kesilaman-kekunoan. Jawa mesti terus bergerak menapaki masa depan dengan kontradiksi dan kerancuan.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir