Senin, 20 Februari 2012

Matinya Tukang Kritik dan Menanti Kelahiran Kritikus Baru (Tanggapan untuk George dan Zulfikar)

Damar Juniarto
http://www.kompasiana.com/damdubidudam

Bertentangan dengan apa yang diharapkan banyak pihak, kritikus justru telah lama mati sehingga karya-karya yang ada seolah berjalan tanpa kritik. Sebenarnya siapa yang berkepentingan atas kelahiran kritikus baru di tengah derasnya arus produktivitas karya, baik melalui media cetak maupun digital, kalau bukan kita?

ADA kegelisahan dalam jagat menulis di sekitar kita. Kegelisahan itu menyangkut banyak hal. Salah satunya, seperti yang diucapkan Sapardi Djoko Damono dalam rangkaian acara Bienal Sastra Internasional Utan Kayu-Salihara 2011 yang diselenggarakan di bulan Oktober 2011, adalah ketidakmampuan fakultas sastra melahirkan kritikus. Dia mempertanyakan kembali fungsi fakultas sastra, apakah sebagai pencetak sastrawan atau pencetak ahli sastra. Timbulnya pertanyaan ini didasari atas pengalaman dan pengamatannya bahwa selama ini fakultas sastra sangat jarang menghasilkan alumni yang mumpuni di bidangnya.

Kegelisahan Sapardi Djoko Damono bukan kegelisahan personal. Ada Acep Iwan Saidi juga yang merasakan hal yang sama. Lalu Damhuri Muhammad menyuarakan hal yang sama. Juga almarhum Asep Sambodja. Bahkan Saut Situmorang sempat berujar kecewa di Parade Obrolan 10 Karya di Yogyakarta Mei 2011 lalu, “Di Indonesia, tidak ada persoalan dengan karya kreatif untuk sastra. Sangat banyak karya sastra yang dihasilkan. Namun, tidak ada kritik sastra. Yang ada hanya tukang komentar!” Hanya tukang komentar… sedih betul ya!

Kemudian pada saat saya membaca opini George Soedarsono Esthu dan kemudian dibalas oleh Zulfikar Akbar di Kompasiana, saya tertarik untuk mengajukan satu hipotesa bahwa kegelisahan ini sebenarnya sudah menyebar rata dan perlu mendapat perhatian kita. Mengapa kita berkepentingan untuk memiliki kritikus sastra? Pertama-tama, karena kritikus akan menunjukkan hal-hal yang bernilai atau tidak bernilai dari suatu karya. Kritikus akan menunjukkan hal-hal yang baru dalam suatu karya, hal-hal apa saja yang belum digarap, dan dengan sendirinya kritiknya itu akan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan kualitas sebuah karya. Kedua, kritikus membantu untuk menerangkan apa saja yang ada di dalam suatu karya. Stilistika, telaah isi hingga nilai ekstrinsik suatu karya biasanya akan dibeberkan kepada publik sehingga publik bisa menikmati keindahan karya yang tersaji. Ketiga, kritikus akan membantu mengembangkan ilmu secara keseluruhan. Itu sebabnya kritik karya itu sama pentingnya dengan teori dan sejarah.

Matinya Tukang Kritik?

Jika George Soedarsono Esthu mengatakan dengan “Sepeninggal H.B. Jassin, kritikus sastra praktis sudah mati”, maka mari kita telusuri kebenarannya. Dimana akar masalah matinya tukang kritik ini? Acep Iwan Saidi menuding penyebabnya ada di dalam institusi akademik kita sendiri. Ia mengatakan bahwa dunia akademik saat melakukan analisis terhadap karya seringkali begitu kaku, kering, sehingga hasilnya tampak mengambang atau tidak membumi. Dunia akademik hanya sekedar membedah dan memisah-misahkan satu bagian dari bagian lain, seperti layaknya pembedahan terhadap tubuh manusia yang biasa dilakukan dalam dunia kedokteran. Lebih jauh dia berpendapat bahwa penyajian dosen yang tidak menarik menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa sastra tidak tertarik pada dunia sastra, yang pada gilirannya dunia sastra ditinggalkan, tak banyak yang berkarya dan juga sedikit yang menjadi kritikus. Rupanya ini akar mula kematian kritik, yaitu pada tidak berfungsinya dunia akademik yang secara ideal untuk memproduksi kritikus-kritikus yang handal. Padahal menurut Acep Iwan Saidi, para akademisi sastra inilah yang kritiknya paling bisa dipertanggungjawabkan.

Lalu jika dunia akademik tidak bisa diandalkan, kepada siapa kita berpaling? Sejarah mencatat, kritikus bukan semata lahir dari institusi pendidikan seperti fakultas sastra. H.B. Jassin yang disebut-sebut George Soedarsono Esthu, bukan berasal dari kalangan kritikus “sekolahan”. Legitimasi H.B. Jassin sebagai kritikus diraih karena ia memegang posisi sebagai redaktur sastra pada berbagai majalah budaya dan sastra di Indonesia, antara lain: Pandji Poestaka, Mimbar Indonesia, Zenith, Sastra, Bahasa dan Budaya, Horison, dan lain-lain. Itu artinya para redaktur budaya di berbagai media, terutama media sastra, harus berperan senagai kritikus, atau sebaliknya, kritikus sastra sebaiknya menjadi redaktur budaya di media massa. Saini K.M., misalnya, dapat disebut sebagai kritikus sastra yang handal juga. Tetapi di kemudian hari, legitimasi para redaktur ini sepertinya melemah. Mereka tidak dapat lagi memenarakan seseorang seperti laiknya H.B. Jassin mempopulerkan Chairil Anwar. Saya bahkan merasa kesulitan untuk mengingat satu nama redaktur yang dapat didaulat memiliki reputasi kuat sebagai kritikus. Namun matinya tukang kritik barangkali sebuah hiperbola dari situasi yang tanpa ujung ini karena masih ada nama Kris Budiman, Hudan Hidayat, Arif B Prasetyo, Maman S Mahayana, Nirwan Dewanto, dan lain-lain. Tapi itu merupakan pendapat pribadi semata.

Kalau kemudian banyak orang menyayangkan para pengarang sendiri yang mendaulat diri sebagai kritikus dan dinilai apa yang dilakukan tak lebih dari memuji-muji karya teman dan menjatuhkan karya-karya dari mereka yang dianggap bukan sekutu, saya hanya bisa mengatakan bahwa itulah kenyataan yang harus kita hadapi dengan kepala dingin.

Belajar dari Kirkus Review

Lalu apa yang tersisa bagi kita? H.B. Jassin pernah berkata, “Seorang kritikus adalah manusia biasa.” Saya memaknainya sebagai upaya H.B. Jassin untuk tidak mengkotakkan kritikus sebagai hal yang sulit dicapai. “Seorang kritikus adalah manusia biasa”, benar demikian, dan saya tambahkan rumusannya demikian, “pertama-tama ia membaca, lalu kemudian membuat penilaian yang komprehensif, berimbang, memiliki dasar logika yang kuat yang diperkuat dengan teori, atas suatu karya.” Dengan rumusan ini, saya dapat melihat kepada siapa sebenarnya kita bisa berharap.

Gagasan ini mungkin perlu dibaca dulu, kemudian sama-sama kita kritisi. Gagasannya demikian: jadikanlah pembaca sebagai kritikus karya.

Siapakah pembaca yang dapat menjadi kritikus? Pembaca yang mana? Apa dasarnya? Marilah kita berkenalan dengan Kirkus Reviews (http://www.kirkusreviews.com). Kirkus Review adalah sebuah “gilda” pembaca yang didirikan sejak tahun 1933. Istilah “gilda” itu saya ciptakan sendiri, karena mereka “bekerja terus-menerus” setiap tahun untuk menghasilkan tak kurang dari 5.000 ulasan buku fiksi, non-fiksi, buku anak-anak, indie, puisi, dan lainnya. Ulasan di dalam Kirkus Reviews bukan sekedar komentar, karena ulasan mereka ini didasarkan pada kemampuan dan pengalaman si pengulas. Apa yang disampaikan dalam ulasan betul-betul kritik dan begitu besarnya pengaruh kritik ini dapat membuat penerbit menunda pemasaran karya tertentu dan memperbaiki naskah, atau bila dipuji, akan membuat hati penulisnya bungah gembira.

Siapakah pembaca di Indonesia yang dapat ditempa untuk menjadi kritikus sehandal Kirkus Reviews? Saya menyodorkan sejumlah nama pengulas yang sekarang ini bergabung dalam kelompok yang disebut Blogger Buku Indonesia. Sebanyak 117 pengulas sudah berkumpul dan memulai aktivitas yang saya ramalkan dapat berujung lebih dari sekedar “menuliskan komentar” tetapi pada saatnya, sesuai dengan kematangan usia, akan menjelma menjadi kritik karya yang kuat. Aktivitas mereka sudah terdeteksi lewat serangkaian kegiatan seperti mengulas satu karya dalam perspektif yang beragam, sesuai latar belakang pengulasnya: wartawan, penerjemah, akuntan, karyawan dan lainnya. Kiprah mereka dapat diikuti di aggregat http://blogbukuindonesia.blogspot.com

Tentu saja, gagasan ini masih berupa benih. Tetapi saya memilih untuk memikirkan benih dan berpikir suatu saat nanti kita akan menuai hasilnya, ketimbang meratapi kematian tukang kritik terus-menerus dan berharap Godot datang di tepian hari. Masa depan harus dipersiapkan, diupayakan karena jalannya masih panjang. Saya tak sabar menanti masa depan yang seperti itu.

28 December 2011
Dijumput dari: http://bahasa.kompasiana.com/2011/12/28/matinya-tukang-kritik-dan-menanti-kelahiran-kritikus-baru-tanggapan-untuk-george-dan-zulfikar/

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir