Minggu, 28 Agustus 2011

Roman Kehidupan Kusni Kasdut

S.I. Poeradisastra
http://tempointeraktif.com/
KUSNI KASDUT
Oleh: Parakitri
Penerbit: P.T. Gramedia, Jakarta, 1979, 318 halaman, 18 x 11 cm.

REVOLUSI meruntuhkan sistem nilai lama dan menyusun sistem nilai baru. Revolusi yang sungguh-sungguh serba besar penuh kepahlawanan dan diliputi romantik. Hanya sedikit orang merenung mempertanyakan segala sesuatu dalam revolusi itu. Kebanyakan bertindak, larut tanpa bentuk di dalamnya, dan menggagau-gagau mencari identitas yang terus terlepas.

Seorang di antara pencari itu adalah Kusni, yang kemudian meng-Kasdut-kan dirinya. Revolusi pun menyusun kembali antar hubungan para pesertanya, menurut pola demokratik menuju persamaan martabat.

Seorang anak kaum miskin, seperti almarhum Mayor Dullah dari Surabaya (yang gugur di Ambon ketika menumpas RMS), dapat beristrikan seorang gadis tamatan HBS lima tahun.

Di dalam tataan sosial pra-revolusi jelas itu mustahil. Demikian pula Kusni, seorang anak yatim keluarga petani miskin. Tanpa revolusi, mustahil dia dapat beristrikan seorang gadis Indo dari keluarga menengah, sekali pun telah diindonesiakan sebagai Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih (Parakitri menulisnya Eddy Ningsih).

Padahal golongan Indo pra-revolusi hanya berada sedikit di bawah puncak piramid sosial- yang diduduki kaum Belanda totok. Di penjara, Kusni masih tetap mengidap trauma asal sosialnya yang terpijak-pijak: kelahirannya yang separuh sah dan kemiskinan keluarganya yang menghantuinya terus. Tak pelak lagi kompleks rendah diri merupakan warisan kelahirannya.

Keberhasilannya selama bergejolaknya revolusi menekan kompleks tersebut. Sesudah revolusi kompleks itu menyembul lagi ke permukaan. Sementara itu Kusni mencintai, mengagumi, bahkan memuja Edhiningsih. Itu melahirkan keinginan memanjakan istri tersebut.

Malangnya ia ditolak masuk TNI. Pertama, karena tak resmi terdaftar dalam salah satu kesatuan. Kedua, cacat pada kaki kirinya, akibat tembakan Belanda. Dengan kegagalan itu dan kegagalan mencari pekerjaan yang sepadan dengan martabatnya yang baru, terbentuklah rasa telah diperlakukan tak adil. Seperti ampas tebu yang dicampakkan ke keranjang sampah setelah manisnya habis disesap.

Ini menimbulkan obsesi untuk merebut sendiri keadilan dengan sepucuk pistol di tangan, untuk membenarkan diri memperoleh rezeki yang tak halal. Terlebih lagi baginya membiarkan istri dan anak terlantar, melukai rasa kehormatannya, dan memperdalam rasa rendah dirinya.

Demikianlah kegagalan sosial ekonomi dan keterdamparan psikologi telah mengantarnya memasuki dunia hitam. Dan sebetulnya ia tak sendiri. Masih banyak Kusni-kusni lain. Seorang di antaranya Bir Ali yang tertembak pada pertengahan tahun 60-an.

Semasa revolusi mereka ditugaskan melakukan hal-hal, yang waktu itu, dianggap perbuatan kepahlawanan. Tapi selewat revolusi terpaksa dinilai kembali sebagai tindak pidana. Cerita duka demikian memang bisa didengar di mana pun -setelah sebuah revolusi usai.

Memang revolusi merupakan penjungkir-balikan segala nilai. Dan Kusni? Dengan segala keramahan Usman, Mulyadi dan Abu Bakar mengundangnya masuk, bahkan memberikan posisi memimpin kepadanya.

Kebetulan, ia memang dilahirkan dengan garisah (instink) memimpin. Dan seperti buah terlarang, hal itu memang manis dan membuat ketagihan. Seperti pula seorang morfinis Kusni tak dapat berhenti. Jeweran kuping seorang yang dikasihi dan dihormatinya, Subagio pun tak mempan.

Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi, membuatnya memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan yang sah. Hanya untuk menghindari penangkapanlah ia membunuh -kalau menurut anggapannya telah terlalu terpaksa.

Ia bukan seorang pembunuh pathologik seperti Eddie Sampak dari Cianjur. Ia tak pernah terperosok ke dalam homoseksulitas seperti Henky Tupanwael. Minggatnya dari penjara, boleh dianggap karena obsesi: kengeriannya disekap.

Sebenarnya di relung hatinya masih mengerlip seberkas cahaya. Itu bisa dilihat dari usahanya menyelamatkan dua orang plonco dunia kejahatan, Roi dan Yoji, dari kehancuran total.

Kusni berhasil menyelamatkan mereka. Juga, kelakuannya sebagai napi cukup baik. Ia tak pernah berkelahi dengan sesama napi, dan kalau tak terpaksa tak pernah melawan petugas.

Dan buku tentang Kusni ini telah ditulis Parakitri dengan sentuhan ajaib. Ia telah menulis suatu roman kehidupan yang baik. Berpegang pada fakta hingga detil-detilnya -sejauh itu dapat ditelusuri kembali — sekaligus memberikan daya-citra pada hal-hal yang gelap- dalam kerangka konsistensi logika dan psikologi, tentu.

Dapat diduga, dalam beberapa kali wawancaranya, mustahil Parakitri dapat dengan tuntas menguras segala detik kehidupan tokohnya. Karena itu darinya diminta kekuatan citra.

Sebab, betapa pun roman itu tanggungjawab terakhir ada pada Parakitri -bukan Kusni. Dan Parakitri berhasil bukan saja menyajikan roman yang lancar gaya bahasa dan jalan kisahnya, melainkan juga gigantik, kepahlawanan dan romantik revolusi.

Menghindari kronologi yang mengundang kejemuan, penulis menggunakan teknik kilas balik (flash backs) cukup hidup. Dewi Justitia Barangkali buku Parakitri ini memberikan snapshots revolusi yang lebih cermat-realistik, dibanding Surabaya-nya Idroes. Tapi kedua buku itu memang lahir di zaman yang berbeda.

Agaknya Dewi Justitia (dewi keadilan) yang menggiurkan itu sekali-sekali perlu minta sesajen. Dan Kusni dituntut sebagai sesajen oleh Sang Dewi Hukuman seumur hidup terlalu ringan bagi seorang napi kaliber Kusni. Apakah setelah Kusni ditembak masyarakat menjadi lebih baik dan lebih aman, itu soal lain.

Menjelang akhir tahun 1949 saya mondar-mandir dari pangkalan saya di Kawi Selatan ke Kota Malang. Operasi gerilya terpaksa diteruskan di kota-kota pendudukan, setelah gencatan senjata selalu dilanggar Belanda. Ketika itu saya sempat bertemu dua atau tiga kali dengan Kusni -ketika itu lebih dikenal sebagai Si Kancil.

Ia memang dikenal berani dan banyak akal. Setelah awal 1950 Kusni tak terdengar lagi beritanya, sampai ia menjadi berita dalam peristiwa pembunuhan Ali Badjened -saya lihat potretnya terpacak di surat kabar.

Kesan saya ketika bertemu di masa perjuangan dulu itu ia seorang pemuda yang simpatik, ramah, tapi sangat pendiam. Ia seorang anak revolusi yang baik ketika itu.

Menyedihkan, sang Ibu tak membekalinya dengan japa mantra kekebalan, hingga ia terjerumus dalam sisi yang gelap. Betapa pun catatan kejahatannya, almarhum Kusni lebih saya hormati ketimbang tuan-tuan Quisling yang kini menikmati buah manis. Memang sejarah penuh ironi!

08 Maret 1980
Sumber: http://202.158.52.214/id/arsip/1980/03/08/BK/mbm.19800308.BK51822.id.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir