Minggu, 28 Agustus 2011

Memoar Ventje Sumual Merevisi Sejarah Indonesia

Yuyu AN Krisna *
http://www.sinarharapan.co.id/

MEMBACA Memoar Ventje HN Sumual setebal 706 halaman, kita hanyut dalam gelombang kehidupan seorang laki-laki Minahasa yang begitu peduli akan nasib bangsa ini, bangsa Indonesia. Berbagai gerakan demi kemajuan bangsa ini dilakukan oleh perwira pejuang, politikus, pengusaha, tokoh sosial yang lahir di Remboken, Minahasa, Sulawesi Utara, 11 Juni 1923 ini.

Menurut sejarawan Prof Salim Said, buku ini mengungkapkan begitu banyak fakta dan kata yang selama ini tidak diketahui para sejarawan, apalagi masyarakat umum.

Salah satunya, serangan umum 1 Maret 1949, ternyata adalah gagasan Ventje Sumual. Pada 12 Februari 1948, Soeharto meminta Ventje Sumual menjumpainya di Desa Semaken, Kulon Progo. Ventje diantar oleh utusan Soeharto, Letkol Soedarto. Ternyata rapat rahasia itu hanya mereka bertiga. Hal 89. Tanpa membuang waktu, Soeharto langsung mengajak ke pokok rapat. Strategi ke depan. Sambil mengevaluasi langkah-langkah yang sudah dan sedang dilaksanakan. Ke depan, sesuai strategi umum perang gerilya, tentu saja mengenai serangan umum lagi. Itu memang sudah digariskan. Sudah merupakan teori umum dalam perang gerilya.

Langsung saya ajukan usul, “Pak Harto, kita kan sudah beberapa kali melakukakan serangan umum, tapi semuanya pada malam hari. Bagaimana kalau kita lakukan pada siang hari, supaya lebih mendapat perhatian luas. Supaya diberitakan koran-koran. Berita-berita dalam koran selama ini hanya menguntungkan Belanda.”

Soehato setuju. “Itu baik. Serang pada waktu siang,” katanya sambil mengangguk-angguk….

Catatan lain dari buku ini, saat pemimpin belum memikirkan tentang otonomi daerah, Ventje Sumual sudah berapi-api memperjuangkannya secara nyata. Oleh karena itu, terbentuklah Perjuangan Semesta atau PERMESTA 2 Maret 1957 dan Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia, PRRI, pada 10 Februari 1958, yang oleh sementara kalangan dinilai sebagai langkah keliru. Namun, waktu telah membuktikan bahwa “kekeliruan” yang dilakukan Ventje Sumual dan kawan-kawan saat itu adalah tindakan benar.

Ventje Sumual selalu berpikir jauh ke depan. Bukan sekadar berpikir, tetapi merealisasikannya, walaupun dia harus ditangkap dan mendekam dalam bui. Setiap perjuangan pasti ada korban.

Memoar Ventje Sumual ini memberikan penjelasan secara tuntas sekaligus merevisi sejarah Indonesia. Kalau sebelumnya masyarakat hanya mendapat penjelasan apa yang telah terjadi di Indonesia secara tersamar dan “takut-takut”, buku ini mengungkapkan secara transparan dan terus terang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada bangsa ini di masa lalu. Melengkapi dan meluruskan sejarah Indonesia yang bengkok. Menerangi ruang-ruang gelap di panggung sejarah kita. Demikian dikemukakan sejarawan Prof Salim Said dalam acara peluncuran dan bedah buku Memoar Ventje HN Sumual, 13 Juli lalu di auditorium Arsip Nasional Indonesia, Jakarta.

Banyak orang heran saat Permesta diproklamasikan oleh Ventje Sumual dan 50 kawannya pada 2 Maret 1957 di Makassar, karena selama ini Ventje Sumual mempunyai kedekatan dengan Presiden Soekarno. Tetapi, tindakan itu dilakukan karena dia sangat mencintai Bung Karno dan bangsa Indonesia.

Ventje melihat ada suatu proses yang membahayakan sedang terjadi di negara ini. Presiden Sukarno dan pemerintah pusat saat itu hanya sibuk dengan gelora politik dan komunis mulai mendapat angin. Sementara itu, rakyat di daerah ditelantarkan. Permesta maupun PRRI adalah bentuk protes atau peringatan dari seorang anak kepada Bapak yang mulai berjalan “sempoyongan” keluar prinsip-prinsip demokrasi.

Jauh sebelum Presiden RI saat ini SBY memikirkan demokrasi, Putra Minahasa ini sudah jauh melangkah dalam perbuatan nyata. Situasi Indonesia pada saat itu mengkhawatirkan. Para pemimpin dan penguasa negara ini juga sudah memikirkan dan merencanakan bagaimana mengembalikan Soekarno dan pemerintah pusat yang mulai “mabuk kekuasaan” kepada tujuan semula Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tercatat ada pertemuan rahasia antara Soeharto-Gatot Subroto-Sumual. Wakil Presiden Moh Hatta pernah mengemukakan hal ini pada Des Alwi. Banyak yang membahas, banyak yang memikirkan. Tetapi, Ventje Sumual berani bertindak mengambil risiko.

Beberapa bulan sesudah Ventje memproklamasikan Permesta dan institusi TT-VII dilikuidasi, Nasution masih menawarkan jabatan di Mabes Angkatan Darat. Tetapi, Ventje tidak menggubrisnya. Ia merasa saat ini sudah berada di garis perjuangan yang benar dan lebih penting daripada urusan jabatan.

Tak lama setelah Permesta, terbentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, sebagai hasil pertemuan dari para perwira dan negarawan di Sungai Dareh. Syafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai Perdana Menteri dan Ventje Sumual sebagi Kepala Staf Angkatan Darat. PRRI mengeluarkan ultimatum Kemerdekaan Negara dan Bangsa untuk seluruh rakyat RI.

Dari bedah buku tersebut sejarawan Prof Herlina Lubis mengemukakan sosok Ventje Sumual paling tidak setuju dengan usulan tokoh PRRI Syafruddin Prawiranegara, bahwa mereka yang membangkang sebaiknya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. “Saya tidak pernah turun dari pangkuan Ibu Pertiwi,” kata Ventje.

Keluar dari bui, Ventje pernah ditawari berbagai jabatan penting baik dalam pemerintahan maupun militer, namun dia lebih memilih pengabdian lewat dunia usaha dan sosial kemasyarakatan. “Saya mau membayar utang saya pada bangsa ini lewat pembangunan,” kata Ventje saat itu pada pemuda Theo Sambuaga, tokoh pemuda dan mantan menteri.

Ventje juga memelopori dan mengembangkan Lembaga Perkreditan Rakyat untuk menanggulangi masalah ketimpangan pembangunan antardaerah. Perhatiannya pada lingkungan begitu besar dengan memprogramkan penanaman pohon seho atau aren di Sulawesi Utara.

Catatan ini hanya sebagian kecil dari begitu banyak karya nyata Ventje HN Sumual semasa hidupnya. Tokoh yang terkenal dengan falsafah “Baku Beling Pande” ini tutup usia pada 28 Maret 2010 di Jakarta. Memoar ini merupakan hasil kerja keras para editor Eddy AF Lapian, Frieke FH Ruata dan BE Matindas.

*) Peresensi adalah wartawan senior.
Judul Buku: Memoar–Ventje HN Sumual
Penulis: Eddy AF Lapian, Frieke FH Ruata, BE Matindas
Penerbit: Bina Insani, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 706 halaman

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/memoar-ventje-sumual-merevisi-sejarah-indonesia/

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir