Kamis, 09 Juni 2011

MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS

Maman S. Mahayana *

Minggu waktu duha. SMS seperti hujan. Aku baru saja menikmati gelombang ombak dalam gelas: sebuah tanggapan dari orang tak dikenal atas tulisanku di Media Indonesia Minggu. Ia cukup lihai cari popularitas dengan memanfaatkan ide pihak lain. Tak ada informasi baru di sana. Kulihat burung pipit lahap mengisap bunga benalu. Sebuah SMS masuk lagi: “Itu pseudo!” Mungkin, pikirku sambil mengingat sejumlah artikel Lekra awal tahun 1965-an.

Telepon berdering. Anakku berteriak, “Ayah, dari Payakumbuh!”
Aku bergegas. Menarik gagang telepon. O, Gus tf Sakai! Sastrawan Minang yang sangat santun ini menanyakan kiriman karya terbarunya, Tiga Cinta, Ibu; sebuah novel tipis yang di sana-sini tersembul semangat eksperimentasi. Rupanya, Sakai masih sangat setia pada kegelisahan kulturalnya, seperti juga tampak dari sejumlah cerpennya. Minang memang sarat problem. Dan ia memanfaatkan kekayaan kulturalnya lantaran ia bernafas dan hidup di situ. Aku memahami penolakannya untuk berselingkuh dengan kultur lain. Maka, mengertilah kini jika ia, dulu, tidak ikut tergoda gadis Jawa, keturunan Madura, yang mengganggunya di Cipayung. Sakai terlalu setia pada anak-istri beserta ninik-mamak dan tanah leluhurnya.

Boleh jadi itulah representasi orang Minang. Lihat saja Darman Moenir–Bako, Yusrizal—“Sang Pengeluh” yang cintanya pada tanah leluhur dilakukan lewat ‘otokritik’, seperti yang juga diperlihatkan Navis. Setidaknya, mereka tak dapat melepaskan diri dari kegelisahan kulturalnya. Kesetiaan mengusung sesuatu yang diketahuinya benar, penting artinya agar tempatnya sebagai sastrawan yang berpribadi tak tergoyahkan. Itu pula yang terjadi pada diri Wisran Hadi—Puti Bungsu atau Chairul Harun–Warisan. Minangkabau seperti tiada habisnya melahirkan sastrawan sejak awal kesusastraan negeri ini dibangun.

Dunia Minang itu kini seolah menyeretku untuk mengenang beberapa peristiwa di Riau: Pulau Penyengat, Pekanbaru, Rempang, Batam, Karimun, dan Dumai. Darah Raja Ali Haji yang meresap pada Idrus Tintin, BM Syam, Ediruslan, Taufik Ikram Jamil, Hoesnizar Hood, Syaukani Al Karim, Samson Rambah Pasir, dan sederet panjang nama lain, kubayangkan laksana lulur penebar semangat. Juga tidak lupa Sutardji Calzoum Bachri yang membuat monumen lewat mantra. Mereka, sastrawan Melayu itu, sadar betul pada tradisi. Mereka juga tidak dapat menyembunyikan luka sejarah. Dalam Sumpah Pemuda, bahasanya diikhlaskan menjadi bahasa Indonesia. Dan mereka selama bertahun-tahun sekadar menjadi penonton saat minyak diangkuti dan pulau belukar dibuat perumahan mewah orang-orang Jakarta. Salahkah jika kini mereka mengusung sejarah masa lalunya yang terluka, kekayaan kulturnya yang telah mengurat-daging, dan coba mentransformasikan kisah-kisah lama yang tercecer? “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,” begitu teriak Hang Jebat.
***

Seekor kecoa melintas. Ia seperti mengeluarkan nazis. Ada cipratan tengik. Dan menempel di sebuah artikel yang baru saja kubaca.

***
Seperti biasa, Hudan Hidayat datang dengan sepenggal besi di tangan kanan dan provokasi di tangan kiri. “Itu tak adil, Kang,” ujarnya, “Masa menilai cerpen dengan kira-kira.” Dalam beberapa hal, aku setuju pernyataannya. Tulisan itu cukup banyak menebar syakwasangka: saya kira. Jangan-jangan penulisnya punya kelainan. Kukatakan juga, “Orang Sakit-mu telah berganti kelamin dan ngaku-ngaku jadi pengamat.” Hudan diam. Gerahamnya gemeletuk. Sastrawan asal Palembang ini terkadang memang agak meletup-letup: temperamental. Dan sungguh, semangatnya menyita pesona. Lebih mengagumkan lagi, ia piawai mengolah problem psikologis menjadi kekuatan karakterisasi tokoh-tokoh fiksinya. Itulah argumen yang melandasi pandanganku bahwa fiksionalisasi “Orang Sakit” potensial mengangkat problem psikologis dibandingkan kecenderungan sufistik “Khidir”. Tentu itu tidak berarti ada larangan untuk memasuki wilayah lain. Kegamangan “Orang Sakit” menunjukkan arus kuat peristiwa pikiran dan trauma psikis berjalin-kelindan dengan tindakan fisik. Sementara tafsirnya mengenai keangkuhan Musa dan kesucian Khidir, terkesan sekadar mencetak rangkaian peristiwa transformatif, dan bukan simbol-simbol sufistik sebagaimana yang dibangun para sastrawan sufi.

Apa maknanya bagi Hudan? Pendalaman peristiwa merupakan keniscayaan dan pengungkapan makna di balik peristiwa mesti menjadi sasaran tematisnya. Tanpa itu, ia akan terjebak pada peristiwa artifisial. Sekadar usul, gagasan ini bisa saja menjadi bahan renungannya atau bisa pula langsung masuk keranjang sampah. Mereka yang mengaku wakil rakyat di DPR saja menyediakan begitu banyak keranjang sampah, apa salahnya sastrawan kita melakukan hal yang sama. Tokh, Tuhan pun tak melarang orang bersaran.

Kami terlibat diskusi panjang tentang peta cerpen Indonesia dan keikutsertaan dalam Jurnal Cerpen yang dirintis Joni Ariadinata. Maka, tak terhindarkan, ada semacam daftar nama yang muncul di sana. Kukatakan, Joni Ariadinata mulai berani melebarkan sayapnya pada nafas sufistik. Periksa saja Air Kaldera-nya. Di sana, ada masjid yang kosong, penduduk pemuja demit, lelaki bergamis, kopral dan serdadu palsu, Jembatan Langit sampai Tuan Presiden. Ironinya kokoh; kadangkala sangat paradoksal. Joni masih menyimpan kekuatan dahsyat lantaran persahabatannya dengan dunia gaib. Oleh karena itu, meski dalam Air Kaldera, usahanya menyemaikan simbolisme –dalam hal tertentu– masih terfokus pada peristiwa dan bukan makna di sebaliknya, ia tidak bakal kehabisan lahan jika ia tak menghentikan eksplorasinya pada kekayaan folklor sekelilingnya. Lihat saja, betapa Arifin C. Noer –sampai akhir hayatnya– tiada henti menggali folklor.

Sehelai daun kering jatuh. Geraknya melayang ringan. Angin seperti menyangga untuk bertahan pada tamparan sinar matahari. Aku terpesona. Mendadak ingat Danarto yang menafsir Al-Fatihah, Ayat Kursi dan dua ayat Al-Imran jadi lempengan-lempengan cahaya. Sangat inspiratif, meski polanya menyerupai “Setangkai Melati di Sayap Jibril.” Cerita dibiarkan mengalir entah ke mana, tetapi di dalamnya menyeruak makna-makna. Dalam soal makna, “Rembulan di dasar Kolam” lebih simbolik. Terasa, konsep Ibu di sana lebih hidup dan berjiwa. Simbolisme semacam ini mengingatkan pada Kuntowijoyo “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Tarik-menarik pengaruh antara Kakek—Aku—Ayah—membawa tokoh Aku memandang tokoh Ibu. Tokoh-tokohnya sangat simbolik dan merepresentasikan ideologi tertentu.
***

Makna! Inilah substansi sebuah cerita. Dapatkah kita menangkapnya pada karya-karya populer atau kisah-kisah telenovela selain obral hiburan dan iming-iming hadiah? Itulah tuntutan yang di dalam kerangka cultural studies dimasukkan dalam kotak high culture untuk membedakannya dengan popular culture. Mereka yang memilih masuk ke wilayah high culture dihadapkan pada sejumlah konsekuensi. Catatan kritis terhadapnya mesti disikapi secara arif, sebab itu merupakan salah satu bentuk apresiasi, bukan caci-maki. Apresiasi memancar dari sebuah prestasi yang mampu melahirkan nilai-makna. Tanpa itu, percumalah melakukan apresiasi, sebab bakal sia-sia menemukan nilai-makna.

Makna agaknya mustahil mengkristal tanpa proses. Itulah sebabnya kukatakan, eksplorasi kultur etnik merupakan peluang. Ia menjanjikan lahan yang sangat berlimpah. Oka Rusmini (Bali), Gus tf Sakai (Minang), Taufik Ikram Jamil (Melayu), Yanusa (Jawa) adalah beberapa contoh yang telah memanfaatkan kultur etniknya dengan sangat cerdas. Ingat juga Umar Kayam, Linus Suryadi, Darman Moenir, Korrie Layun Rampan, Zawawi Imron, Tohari, dan sederet nama lain yang berlimpah. Proses persenggamaannya dengan sosio-kultural yang mengelilingnya, telah berhasil disuguhkan dalam berbagai kisah yang penuh kristal makna. Memang itu pilihan. Tetapi, begitu memilih, di depannya terhampar konsekuensi. Jadi, jika konsekuensinya menggenggam kristal makna, wajar saja mereka memilih itu. Lalu, apa yang harus dipenjara jika memilih hakikatnya sebuah kebebasan.

Tengoklah Abidah El-Khalieqy. Dalam Menari di Atas Gunting, ia telah memilih narasi-imajinatif, dan bukan narasi atas peristiwa an sich. Maka yang muncul kemudian adalah sebuah pengembaraan imajinatif yang mengingatkan kita pada Javid Namah-Iqbal. Ia memang lebih leluasa mempermainkan ruang dan waktu. Tokoh-tokoh yang merepresentasikan ideologi tertentu bisa ditarik ke masa kini, masa lalu atau masa datang. Tentu saja itupun bukan tanpa risiko. Kita dibawa pada deretan nama yang beberapa di antaranya memaksa kita membuka catatan sejarah atau lembaran ensikopledi. Dalam hal itulah, tidak jarang, sentuh estetik (aesthetic contact) kita, menghadapi hingar; terganggu.

“Manusia akan terus-menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Atau ini, atau itu. Dan memilih salah satu di antaranya adalah sebuah putusan bebas. Dan putusan itu hanya akan bermakna jika ia telah melakukan pilihan.” Begitulah sebagian gagasan Kierkegaard tentang kebebasan manusia untuk memilih. Abidah telah memilih jalurnya sendiri, sama dengan Agus Noor, Shoim Anwar, Kurnia, Ratna Indraswari Ibrahim, Herlino Soleman, atau siapa pun yang namanya sering kita jumpai di hari Minggu. Keberadaan mereka itu, justru tidak sekadar membentuk warna-warna pelangi, melainkan ruh keindonesiaan yang hakikatnya bersumber dari heterogenitas. Maka, tidak dapat lain, memetakan cerpen (atau kultur) Indonesia, hendaknya tak terjerat pada satu nama.

Masih ingatkah tragedi percintaan Fuyuko dan Husen dalam Gairah untuk Hidup dan untuk Mati-Nasyah Djamin? Itulah novel Indonesia pertama yang secara mendalam menghadapkan harakiri dalam persepsi kultur Jepang dengan bunuh diri menurut konsep Islam. Sebuah konflik kultural telah disajikan Djamin dengan sangat memikat. Maka, jika kini hadir Herlino Soleman mengangkat Koinobori, tidakkah itu merupakan sumbangan penting untuk melihat kultur dan masyarakat Indonesia dalam pandangan Jepang atau sebaliknya? Tidakkah ia menyentuh persoalan kultural: konsep keberanian dan keringat dilihat dari persepsi dua kultur yang berbeda? Sebuah sentuhan kultural yang terasa sedap. Lalu, mengapa pula ia mesti dilarang? Ingat saja ketika Sitor Situmorang merasa gamang dalam Salju di Paris atau Umar Kayam dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan? Tidakkah itu juga berkaitan dengan problem kultural?
***

Hudan Hidayat pergi ke entah. Pasti aku akan rindu pada provokasi dan sepotong besi yang setia menemaninya. Kapan pula Joni datang membawa kisah-kisah gaibnya. Atau Sakai dan Jamil yang tak bakal tergoda melakukan perselingkuhan kultural. Mereka suka sekali memberi banyak PR. Sungguh aku dijerat rindu. Hanya Jamal D. Rahman yang tahu, betapa persenyawaan kultural sering sangat menggelisahkan.

Minggu yang cerah. Seorang perempuan, masih agak muda, memasuki halaman rumahku. Tangannya menenteng sebuah map kertas yang lusuh-kucel. Sesudah melepas salam, ia menerangkan bahwa dirinya diutus oleh sebuah yayasan yatim-piatu untuk mencari dana pembangunan pondokan yayasan itu. Ia juga menyodorkan secarik kertas identitas yang tak jelas. Jangan-jangan itu juga nama samaran, pikirku. Buru-buru aku membuang prasangka buruk. Ah, jika saja anak-anak yatim itu bersekolah dan dididik dengan baik, sangat mungkin –jika benar—dari yayasan itu akan lahir sastrawan besar atau minimal penulis yang baik yang tentu saja tidak sekadar ngaku-ngaku penulis.

Istriku datang menimbrung. Keduanya terlibat pembicaraan entah apa. Kemudian ia masuk, membungkus sesuatu, meraup beberapa keping recehan, dan menyerahkannya kepada perempuan itu. Sambil merapikan rambutnya yang agak kusut, ia membungkuk, menyampaikan terima kasih dan salam. Aku berharap, semoga itu bukan penipuan.

Kembali aku sibuk dengan koran-koran. Ah, kemana pula koran yang tadi kubaca. Kutanya istriku. Ia tampak menyesal. Koran itu telah dipakainya membungkus nasi untuk perempuan tadi. Baru kali ini aku tidak merasa kehilangan sesuatu. “Sudahlah,” kataku sambil mengenang ombak dalam gelas.
***

_____________________
*) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir