Kamis, 09 Juni 2011

Bidadari Tak Pernah Pulang Pagi

Hilal Ahmad
http://oase.kompas.com/

Ayah bilang, setiap istri adalah bidadari. Tapi ayah tidak pernah menjelaskan, bahwa bidadari tak pernah pulang pagi.
**

Aku memandangi Arale, putriku yang masih berusia 10 bulan. Wajahnya nampak lucu. Matanya yang lentik sesekali mengedip ke arahku. Gadis kecilku ini baru saja terdiam setelah 15 menit lalu menangis hebat karena lapar.

Mulut mungilnya baru terdiam setelah menyedot susu formula yang kubuatkan dan kutaruh dalm dot botol. Jam dinding yang mengantung tepat di sebelah lemari di kamarku, menunjukkan pukul 11.45 WIB. Sebentar lagi tengah malam. Dan aku hanya berdua dengan Arale buah hatiku. Dan istriku, entah. Aku tak tahu ia berada di mana.

Mataku sangat berat. Dan sepertinya sudah sulit untuk diajak kompromi, pun untuk membuka lima menit saja. Padahal Arale masih asyik mengajakku bermain.

Tidak seharusnya aku begini. Besok pagi aku harus menghadapi setumpuk tugas kantor yang seharusnya kuselesaikan malam ini. Tapi Arale? Harus kuserahkan pada siapa?

Bukan aku tidak percaya untuk memberikan pengasuhan Arale pada orang lain. Tapi aku akan lebih bahagia jika menemani Arale selepas pulang kerja. Pengasuh Arale hanya bekerja sejak pagi sampai sore hari.

Tak perlu menanyakan kemana Ibunya. Karena itu akan membuatku sakit. Menorehkan luka mendalam.
***

Sore itu, aku baru saja mengganti pakaian kerjaku dengan baju santai.
“Aku pulang larut lagi malam ini Man!”

Itu suara istriku. Ia tengah meminta persetujuanku untuk pulang larut malam ini. Oh, bukan. Ia hanya memberitahuku. Atau itu hanya sebagai gertakan bahwa ia akan bekerja hingga larut pada malam ini.

Entahlah, aku enggan meladeninya. Dan untuk entah yang ke berapa kali, aku hanya mengagguk. Entah tanda setuju atau pasrah. Itulah diriku yang dipenuhi kata entah.

Dan tak lama setelah ia melontarkan kalimat itu, ia melenggok di depanku dengan busana yang aduhai. Gaun yang ia kenakan memiliki model dengan potongan leher yang amat rendah, tak berlengan, dan rok sepuluh senti di atas paha. Cukup glamor seperti artis dangdut yang ditanggap di kampung-kampung. Belum lagi parfumnya yang menyengat.

Aku tak berani bertanya ia akan pergi kemana malam ini. Karena aku yakin jawaban yang kudapat pasti sama, pertengkaran. Dan itu sungguh tidak berhasil mengorek apa yang ia lakukan setiap keluar malam.

Hanya kalimat pedas yang kuterima. “Aku kan melakukan ini untuk Arale juga. Kamu bayangkan Man, kalau aku hidup mengandalkan gajimu yang pas-pasan itu, tidak mungkin Arale dapat minum susu formula dan punya pakaian bagus. Lalu siapa yang menggaji si Rokayah buat menjaga anak kamu itu!”

Kalimat itu memang terlontar tiga bulan lalu. Saat aku mulai curiga perubahan sikap istriku yang kerap pulang malam setelah ia mengaku diterima bekerja. Tapi rasa sakit yang ditimbulkan, masih membekas sampai sekarang.

Kalau tahu begitu, menyesal aku mengizinkannya bekerja. Tapi ia juga benar, jika mengandalkan gajiku yang hanya pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa pengiriman, akankah kebutuhan Arale terpenuhi. Mampukah aku membayar Rokayah untuk menjaga Arale saat aku bekerja.

Kepalaku berdenyut. Sebelum migrainku kumat, aku langsung berlari ke kotak obat. Nihil. Aku lupa membeli obat migraine yang biasa kusimpan di kotak persediaan. Belum sempat aku berpikir banyak, saat melewati kamarku Arale menangis keras.

Tak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali aku dan Arale. Rokayah, sejak 20 menit lalu pulang ke rumahnya yang berada di desa tetangga. Sedangkan istriku, baru saja berlalu. Hanya jejak parfumnya saja yang tertinggal.

Ingin rasanya aku menggapai Arale, namun migarin ini semakin menjadi. Kepalaku berdenyut semakin keras. Jantungku berdetak lebih kencang, seakan dua kali lebih keras memompa darah ke semua organ tubuhku. Selanjutnya, aku tak ingat apa-apa. Terakhir kali aku ingat, badanku bergedebum jatuh ke lantai.
***

Saat mataku terbuka, kudapati diriku di atas ranjang bersprei biru. Aku berada di kamarku yang hanya berukuran 4×4 m2. Belum sempat benakku menjawab siapa yang menolongku berbaring ke tempat tidur, suara Rokayah langsung terdengar di telinga.

“Maaf Pak, tadi saya balik lagi ke sini ada barang saya yang tertinggal. Eh taunya liat bapak lagi pingsan deket meja makan. Arale juga nangis. Jadi, saya temenin dulu Arale sampai Bapak bangun.”

Aku hanya mengangguk pelan dan mendengarkan cerita Rokayah. Ya Tuhan, terimakasih telah memberi penyelamat lain. Seharusnya ini adalah tugas bidadariku yang menjaga dan memperhatikan aku dan Arale. Aku mengambil nafas panajng dan menghembuskan nafas berat.

Tak terasa air mataku meleleh. Sebelum Rokayah menyadari, aku langsung mengelapnya kasar.
“Saya tidak apa-apa. Kalau kamu pulang, lebih baik sekarang. Sebelum terlalu malam,” ujarku seraya melirik jam dinding yang menujukkan pukul delapan malam.

Rumah Rokayah berada di Kasemen, kampung sebelah di mana aku tinggal yakni Unyur. Meski jalur rumah kami berada di Jalan Raya Banten Lama, tapi angkutan tidak berkeliaran 24 jam. Dan cukup sulit mencari angkutan umum seperti angkot di atas jam 9 malam. Dan akhirnya Rokayah pamit. Tinggal aku dan Arale.

Malam ini, meski aku sangat letih, aku tetap mengerjakan tugas tambahan, menggantikan Rokayah saat malam. Dan mungkin hingga pagi hari. Karena bidadariku itu baru datang sebelum kokok ayam berbunyi menyambut matahari.

Dan saat ia datang, bukan harum surgawi yang dibawanya. Kadang parfum pria dan bau rokok yang tercium. Dan bahkan bau alkohol kerap terendus dari bibirnya yang mungil.

Terkadang aku merutuki takdir sebagai suami yang bertugas ganda sebagai istri.
***

Aku terjaga saat Arale merengek minta diganti celana. Gadis kecilku ini senantiasa menjadi pelipur lara dan peredam duka. Pun saat pagi buta bidadariku itu pulang ke rumahku. Tentu saja dengan muka masam.

Dan aku enggan melontarkan sepatah katapun. Saat tubuhnya ambruk di ruang tamu sebelum ia berganti baju, aku masih tanpa suara. Saat Arale kembali merengek lagi dan aku membuatkan susu, aku masih bisu.

Bisu memang bukan sifatku. Dulu, Ayahku selalu mengabulkan apa saja yang kuminta. Saat di bangku sekolah dasar, guruku pun selalu kewalahan menjawab lusinan pertanyaan yang menurutnya hanya untuk anak di bangku SMA. Tapi kebiasaan itu terkikis sudah sejak kehadiran bidadari dan gadis kecilku.

Aku masih sangat ingat kalimat yang dilontarkan Ayah dua hari sebelum aku menikah.
“Rumah tangga bukan hanya menyatukan dua cinta, tapi dua ego. Jika setiap hari diisi dengan benci dan amarah, maka tak adalagi cinta. Yang tersisa hanya puing-puing kehancuran masa depan buah hati kita.”

Aku meresapi benar kalimat itu. Ayahku memang lihai dalam urusan ini. Sejak Ibu pergi meninggalkan kami dengan alasan sudah tidak ada lagi kecocokan, Ayah dengan sabar mendidikku hingga aku mandiri.

Ia pun termasuk tipe pria yang luar biasa. Di saat para pria lain sibuk berselingkuh di balik istri, Ayahku yang duda tetap konsisten dan tidak mau menikah lagi. Ia selalu berujar, seorang yang pandai tentu tidak akan jatuh pada lubang yang sama.

Aku masih mengingat Ayah saat kulihat gadis kecilku tertidur lelap. Haruskah kuputuskan sesuatu. Meninggalkan bidadari yang selalu datang pagi hari demi menjaga perasaanku yang kian hari kian terluka. Lalu jawaban apa yang kuberikan, jika Arale bertanya kemana dan mengapa Ibunya pergi dan meninggalkannya denganku.

Lagipula, akankah aku kuat seperti Ayah, tidak akan menikah lagi. Masih banyak beribu tanya lain yang bergumpal di kepalaku. Sebelum tanya itu bertambah, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku dan mengambil wudhu, menenangkan diri dan berkeluh kesah kepada sang kuasa.
***

Aku siap menyantap menu sarapan pagi saat wanita yang dengan terpaksa kupanggil istri itu membuka mata. Aku mengacuhkannya. Pun saat ia mendekatiku dan maracau beberapa kata.

Dia masih mabuk, batinku. Parahnya dia memanggilku dengan nama lain. Aku yang sejak tadi mencoba menenangkan hatiku, tak mampu lagi mengontrol emosi.

Tanpa kuasa, kucekik lehernya dan kuhempaskan ia ke lantai. Ia mengaduh, serupa bidadari kehilangan nyali. Wangi surgawinya lenyap begitu saja. Hawa neraka menyergap melalui tatapan mata yang menyalang. Aku siap menghadapi ini semua.

Rokayah kuperintahkan untuk membawa Arale pergi ke rumah tetangga.

Aku masih membisu dengan tatapan kaku. Kutatap sosok wanita yang kunikahi dua tahun lalu. Tak ada belas kasihan sedikitpun. Karena sejak pertama biduk rumah tangga ini kurajut, ia nampak tidak peduli.

Hampir setiap malam, sejak malam pengantin, ia merutuki pernikahan ini. Ia menganggapnya sebagai pernikahan sial dan pembawa bencana. Lalu, saat kutanya mengapa ia mau menikah denganku. Dengan lantang ia menjawab, karena mengikuti perintah orangtuanya. Ia pun mengatakan, aku adalah dewa yang dapat mengubah perangai buruknya. Sejak pertengkaran itu, aku tak lagi banyak tanya. Pun saat ia mengaku, mengandung anakku.

Aku semakin bisu, dimulai tiga bulan lalu. Tepat saat ia mengungkit tentang penghasilanku. Dan dengan alasan itu, ia memiliki tiket emas untuk kembali menggeluti dunia malam yang sebelumnya akrab dengan kehidupannya sebelum menikahiku.

Lagi-lagi aku mengenang pernikahanku yang berwajah buram. Aku berniat melangkah menuju pintu keluar.
“Kau selalu bisu, setiap aku melakukan sesuatu!” erangnya. Tubuhnya yang lunglai beranjak berdiri.
“Lalu, apa yang kau mau?” ujarku tanpa membalikkan badan.
“Kau mau aku jadi pembantumu yang menunggui anakmu, sedang kau pergi entah kemana?” aku mulai bersuara banyak. Dua puluh empat bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk berdiam diri. Maafkan aku Ayah, jika suatu saat kau mengetahui perihal ini.
“Ini anak kita Herman!”

Aku membuang muka. “Bukan! Ini anakmu dan aku pembantumu.” Ujarku tanpa intonasi.
“Tapi kau suamiku!” ujarnya bersikeras.

Aku membalik tubuh dan menghampirinya. “Suami! Bisa kau jelaskan di mana kau posisikan aku sebagai suami.”

Ia terdiam.

Sebisa mungkin aku menahan diri. Seperti saat aku melihat video mesum yang diperlihatkan teman sekantorku, berisi dua pria dan seorang wanita tanpa busana. Setiap erangan yang terdengar, sangat menyakitkan. Karena wanita dalam video itu berwajah seperti bidadariku.

Ia masih terdiam.
“Suami bukanlah seseorang yang kau tempatkan sebagai guling anakmu dan robot pembuat susu saat malam ketika ia lelah karena bekerja seharian. Suami pun bukan seseorang yang hanya bisa menghirup parfum sisa setelah istrinya dipakai puluhan orang di jalanan.”
“Cukup Herman!”
“Sudahlah Maria. Aku sudah tahu semua. Juga dengan Arale. Kalau kau keberatan mengasuhnya, biar aku yang merawatnya!”
“Apa maksudmu Herman…” kulihat sang bidadari mendekatiku dengan wajah kusut. Saat ia mendekat dan hendak memelukku, aku memberi jarak.
“Dua tahun waktu yang cukup untuk kebersamaan kita Maria. Terimakasih untuk semuanya.”

Aku melangkah pergi. Meninggalkan bidadari yang tersedu di belakangku.

Aku enggan mencari tahu, apa makna isakan itu. Bahagiakah ia, atau wujud penyesalan. Lagi-lagi entah. Yang kutahu, aku sangat bahagia setelah melihat Arale yang langsung tergelak menatapku saat keluar dari rumah.

Ia memnag bukan darah dagingku, karena seorang pria dua hari lalu mengatakan bahwa Arale adalah anaknya. Dan aku tahu itu karena aku masih sangat ingat, sejak dua tahun lalu, saat memulai mengganti statusku sebagai seorang suami, aku tahu tak akan pernah bisa memberikan keturunan pada Maria.

Aku merasa puas dengan keputusan ini. Sejenak kulupakan wajah Ayah yang tenang di alam sana. Ini hidupku Ayah, dan aku berhak menentukan arah kemana aku melangkah. Selamat tinggal bidadariku. Aku takkan menantimu lagi saat malam berganti pagi. (*)

Serang, 050410

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir