Selasa, 31 Mei 2011

Potret Pemain Sepak Bola sebagai si Malin Kundang *

Sunlie Thomas Alexander **
Lampung Post 11 Juli 2010

APA artinya sebuah bangsa, juga Tanah Air? Sedalam apa pula makna darah yang mengalir dalam tubuh?

Di Provence, Agustus 1944, Said Otmari berjongkok dan meraup segenggam rumput kering. Diendusnya bau rumput itu, lalu mendekatkan ke hidung Messaoud. "Tidak seperti kampung halaman," kata dia sambil menatap rekan seperjuangannya. Tak jelas ekspresi wajah Messaoud tatkala menjawab, "Tidak. Tanah Prancis memang lebih baik."

Itulah salah satu adegan dalam Indigenes (versi Inggris: Days of Glory)-- sebuah film nominasi Oscar dan pemenang Festival Cannes arahan Rachid Bouchared yang diangkat dari kisah nyata Perang Dunia II.

Said, serdadu bertubuh pendek itu berkukuh memenuhi seruan bergabung dengan 7th Algerian Tirailleur Regiment, kendati ibunya tak mengizinkan. Sebelumnya, kakeknya juga pergi mengikuti panggilan serupa dan tak pernah kembali. Untuk menghadapi Nazi-Jerman, tercatat lebih dari 130 ribu orang direkrut Prancis menjadi prajurit dan 90 persennya muslim. Mereka berasal dari berbagai tanah jajahan Prancis di Afrika: Aljazair, Tunisia, Maroko, Chad, Afrika Tengah, Gabon, dan Kongo.

Seperti apa sebetulnya perasaan mereka yang harus mati untuk sebuah negeri asing yang tak mereka kenal? Apa yang dipikirkan para serdadu dari Afrika itu ketika berbaris melantunkan lagu kebangsaan Prancis dengan penuh gelora? Entahlah, kita tak tahu.

Toh, lebih dari 60 tahun setelah Said dan rekan-rekannya gugur demi "tanah Prancis tercinta", dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan hari-hari ini, kita pun kembali disergap pertanyaan serupa tatkala menyaksikan Franck Ribery dan kawan-kawan berbaris di lapangan hijau menyanyikan lagu yang sama. Ya, setelah enam dasawarsa, sejarah seolah berulang dalam bentuk yang berbeda, di "medan pertempuran" yang berlainan.

Jika semasa Perang Dunia II, Prancis--yang jadi bulan-bulanan Jerman dan dicaplok wilayahnya dalam sekejap--mau tak mau harus merekrut prajurit dari negeri-negeri jajahannya di benua Afrika lantaran tak punya armada militer cukup besar menghadapi Nazi dan malu cuma berharap bantuan sekutu, apakah kini mereka juga tak memiliki pemain asli cukup mumpuni sehingga mesti memakai begitu banyak pemain naturalisasi yang kebanyakan berasal dari tanah Afrika?

Dari 32 kontestan peserta Piala Dunia 2010, Timnas Prancis memang negara terbanyak menggunakan tenaga naturalisasi. Paling tidak tercatat sekitar 13 pemain naturalisasi memperkuat Les Bleus di Afrika Selatan. Hal ini notabene merupakan ulangan empat tahun silam di Jerman.

Nasionalisme Malin Kundang

TENTU siapa pun bebas memilih menjadi warga negara manapun atas nama kebebasan, hak asasi, penghidupan layak, dan olahraga di era globalisasi ini. Toh, naturalisasi legal dan sah di mata hukum. Sebab itu, kendati mereka adalah para Malin Kundang yang memilih melupakan ibu pertiwi, mereka takkan dikutuk sebagai pengkhianat. Di sinilah, walau patriotisme senantiasa diuji di lapangan, sepak bola adalah soal profesionalitas yang membuat nasionalisme ternyata bisa begitu lentur. Tengok saja, bagaimana keprofesionalan seorang pelatih seperti Guus Hidink--meski tak berganti warga negara--membawa Rusia hingga ke semifinal Piala Eropa 2008 tanpa canggung menjungkalkan timnas negaranya di babak perempat final.

"Saya takkan menyerah meski sadar Brasil adalah tanah kelahiran kami. Kami adalah pemain profesional dan akan bersikap seperti itu saat menghadapi Brasil," demikian ujar Deco pemain Portugal berdarah Negeri Samba. Bahkan Jerman, biang rasisme dalam Perang Dunia II, kini tak segan menaturalisasi pemain-pemain berbakat dari bangsa lain semata-mata demi kepentingan sepak bola. Di Tim Panzer itu sekarang minimal ada delapan pemain naturalisasi, termasuk pemain kulit hitam Jerome Boateng dari Ghana. Miroslav Klose contohnya, mengaku memilih jadi pasukan Der Panzer lantaran Jerman memiliki reputasi lebih baik, meskipun Timnas Polandia (negeri kelahirannya) ingin menggaetnya.

Sekarang, adakah sepak bola telah sungguh-sungguh melenyapkan rasisme, superioritas, dan eksklusivisme sempit tersebut?

Mungkin belum. Pada Piala Dunia 1998, konon para politikus fanatik sempat menyerang Aime Jacquet karena dianggap memberi tempat terlalu luas kepada pemain imigran di Timnas Prancis. Menurut mereka, orang Prancis asli lebih berhak memperkuat Les Bleus karena hanya merekalah yang mengerti apa itu membela tanah air. Kendati kemudian terbukti berkat jasa dan prestasi para pemain keturunan imigran dan naturalisasi, Prancis bisa menjuarai Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000 dan runner up Piala Dunia 2006. Dan tentu saja semua tahu, Zinedine Zidane, bintang besar andalan Prancis, pemain terbaik 2006, adalah keturunan Aljazair.

Said, Kopral Abdelkadir, Yassir, Messaoud jelas punya cita-cita ketika berjuang di bawah bendera Prancis. Mulai dari harapan bisa beranjak dari jurang kemiskinan, meniti karier dalam kemiliteran, sampai menikah dengan gadis Marseille. “Tanah Prancis memang lebih baik,” kata Messaoud, lelaki Aljazair yang gugur di perbatasan Jerman itu.

Untuk ini, seperti kata Adonis--yang dikutip Goenawan Mohamad--pengertian tanah air bukan lagi dalam scope geografis, melainkan dalam kaitannya dengan hakikat kemanusiaan: sebuah tanah air adalah tempat menumbuhkan kehormatan. Meminjam Ali bin Abu Thalib, Adonis menyatakan: "Tak ada negeri yang lebih patut bagimu ketimbang negeri lain. Tanah utama adalah yang melahirkan kamu dengan baik." Dengan demikian, bagi legiun asing itu sebuah tanah air adalah sebuah masa depan yang dicitakan.

Maka Abdelkadir pun mencoba percaya pada perwira tinggi yang mengatakan kepadanya bahwa seluruh Prancis akan menyaksikan dan menghargai mereka. "Ada apa dengan kalian? Tidakkah kalian mengerti? Apa yang kita lakukan hari ini, menentukan pandangan orang-orang Prancis terhadap kita!" katanya ketika kawan-kawannya yang tersisa menolak maju saat empat orang tewas dan Sersan Roger Martinez terluka parah oleh ranjau darat di sebuah kawasan hutan bersalju Alsace. Ia juga menolak selebaran Nazi dalam bahasa Arab yang berisi ajakan menyeberang.

Ah, di kala negara-negara dengan akar rasisme panjang seperti Jerman, Prancis, Italia berlomba-lomba menaturalisasi pemain asing dan meletakkan harapan di bahu para keturunan imigran, tiba-tiba saya menjadi teringat pada nasib Hendrawan, Alan Budikusuma, dan Susi Susanti yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di berbagai turnamen bulu tangkis kancah internasional. Tetapi saat mengurus paspor, mereka masih saja diminta menunjukkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) yang notabene telah dicabut lewat Keppres No. 56/ 1996. Padahal ketika itu Alan dan Susi harus mewakili Indonesia menjadi pembawa obor Olimpiade Athena Yunani…

Ada apa dengan negeri ini? Lebih rasiskah dari negara-negara Eropa bekas imperialis? Entahlah.

* Judul tulisan ini terinspirasi judul buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad, Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972).
** Cerpenis dan Periset Parikesit Institute Yogyakarta
Sumber: http://kklampost.blogspot.com/2010/07/potret-pemain-sepak-bola-sebagai-si.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir