Rabu, 16 Maret 2011

Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Tahun 1930-an, para sastrawan mampu menghasilkan pemikiran visioner. Pemikiran hasil perdebatan dengan melibatkan beragam pandangan. Bersandar pada realitas saat itu, para sastrawan memandang jauh untuk memberi arah serta gambaran kondisional sastra ke depan. Sampai kini, suara-suara dari perdebatan tersebut masih menggema.

Awal tahun 1990-an, para sastrawan juga terlibat dengan berbagai spekulasi tentang masa depan sastra. Perdebatan yang berasal dari imbas pemikiran posmodern. Walau tidak terlalu berpijak pada realitas konkret di Indonesia, tema perdebatan meluas hingga mampu memberi alternatif masa depan sastra kita.

Sayangnya, pada sepuluh tahun terakhir, sastrawan-sastrawan kita tampak kesulitan mencari tema besar yang merangsang munculnya kompleksitas pemikiran. Esai-esai di media massa hanya berkutat pada tema-tema fragmentaris. Daya jangkaunya pun hanya bergaung dalam satu atau dua tahun. Tidak mampu memberi inspirasi terhadap disiplin ilmu lain di luar sastra.

Bersandar dari situasional ini, ranah sastra membutuhkan perdebatan yang melambung jauh. Tidak saja bersandar pada kondisi sastra saat ini, perdebatan melibatkan kondisi kesusastraan jauh di masa silam. Orientasinya pun di arahkan jauh ke depan. Tidak hanya untuk kepentingan satu atau lima tahun ke depan, visi yang usung melompat hingga ke puluhan tahun mendatang. Misalnya, memperdebatkan kondisi kesusastraan 25 tahun ke depan.

Lompatan jauh ke depan ini penting digagas untuk memberi ruang bagi fantasi, prediksi, dan utopia. Pemberian ruang-ruang tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran yang segar (fresh) dan inspiratif. Tentu saja tetap bersandar pada realitas sekarang. Pun juga, perdebatan melibatkan jejak-jejak peristiwa maupun perkembangan yang telah diraih dalam sejarah kesusastraan Indonesia selama ini.

Memprediksi kondisi kesusastran Indonesia 25 tahun ke depan membutuhkan pertimbangan teknologi. Sejarah sastra di tanah air mencatat, teknologi memiliki pengaruh besar terhadap publikasi karya sastra. Sastrawan tidak perlu membuat pertemuan langsung dengan masyarakat untuk menyiarkan hasil ciptaannya. Penerbitan buku, majalah, dan koran sudah mampu menggantikan pertemuan yang bersifat tradisi lisan tersebut. Bahkan tidak hanya sekadar publikasi, media massa mampu membentuk konstruksi teks. Utamanya bentuk prosa.

Cerpen Indonesia saat ini lebih dikenal melalui format cerpen koran, luasnya kurang lebih antara 6-8 halaman. Di luar jumlah itu, cerpen menjadi terasa terlalu pendek atau terlalu panjang. Padahal pada zaman Idrus, cerpen bisa sangat panjang. Semisal pada cerpen cerdas berjudul Surabaya.

Koran juga berpengaruh besar dalam melegitimasi ketokohan sastrawan. Mayoritas tokoh sastra Indonesia saat ini mempublikasikan karya dan pemikirannya lewat koran. Dua puluh lima tahun ke depan, keberadaan koran masih belum jelas. Ke depan, masyarakat membutuhkan distribusi berita secara cepat dan berharga murah. Koran tidak belum mampu memenuhi dua syarat tersebut. Pertama, koran menjual berita yang telah basi. Peristiwa hari ini dijual besuk. Bandingkan dengan portal berita (internet), peristiwa hari ini langsung disajikan hari ini pula. Koran juga belum mampu menggratiskan berita. Orang harus membeli untuk bisa mendapatkan beberapa lembar kertas yang biasa disebut koran itu. Bandingkan dengan televisi. Masyarakat sudah dijejali beragam berita tanpa harus kehilangan uang.

Dua kendala ini membuat bentuk koran menjadi tidak efektif dan kurang ramah lingkungan. Keberadaan koran pun diragukan mampu bertahan dalam 25 tahun ke depan. Imbasnya, keberadaan tradisi sastra koran turut diragukan. Imbas lainnya, sastrawan butuh media lain untuk membangun ketokohannya. Entah melalui internet maupun even-even tingkat nasional.

Keberadaan internet dan even pun sebenarnya masih mencemaskan. Internet dikenal sangat demokratis. Setiap orang berhak menayangkan hasil karyanya tanpa ada kurasi yang ketat. Media internet semacam fecebook dan lain-lain memang tidak butuh kurator. Komentar-komentar yang dilontarkan pun jarang yang metodis dan memakai pendekatan standar. Mayoritas berupa pujian sebagai bentuk perhormatan atas pertemanan. Begitu pula dengan keberadaan even nasional. Ke depan, hubungan antara pribadi sastrawan dengan dunia luar semakin terbuka. Bebepergian ke luar negeri pun bakal semakin mudah dan murah. Bisa jadi, sastrawan lebih suka menulis karya sastra berbahasa Inggris dan meluncurkan karyanya ke Manchester atau Singapura daripada Jakarta. Kualitas even di Jakarta, barangkali, menjadi sama nilainya dengan acara pertemuan sastra di tingkat kabupaten.

Rapuhnya batas-batas negara ini tentu erat kaitannya dengan sektor ekonomi. Awal tahun ini, setahap demi setahap, Indonesia mulai memasuki perdagangan bebas. Produk-produk luar negeri mulai merambah ke tanah air. Kondisi ini semakin lama akan semakin memuncak. Apakah ada jaminan bahwa nantinya karya sastra Indonesia mampu memproteksi dirinya sendiri? Jika jawabannya, tidak, maka rak-rak toko buku bakal semakin dijejali dengan karya sastra asing.

Problem paling serius mungkin terjadi pada sektor bahasa. Kemampuan bahasa Indonesia untuk terus bertahan sangat diragukan. Perdagangan bebas dan menipisnya jarak antarbangsa membutuhkan satu bahasa yang sama. Peluang ini paling dimiliki oleh bahasa Inggris. Faktanya, mayoritas keluarga kelas menengah-atas lebih memilih membiasakan anaknya berbicara memakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Akhirnya anak-anak pun lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Ketika anak-anak ini besar dan menulis sastra, sangat mungkin, mereka lebih memilih menuangkan gagasannya dalam bahasa Inggris. Jika zaman itu telah tiba, sastra Indonesia mungkin telah kesepian. Sastrawan kita akan berbondong-bondong meninggalkan bahasa Indonesia dan berpindah menulis dalam bahasa Inggris. Situasi tampaknya bergerak alamiah dan sulit untuk dihindari. Sama seperti perpindahan dari sastra berbahasa daerah ke sastra berbahasa Indonesia. Sikap yang perlu diantisipasi, jangan sampai sastrawan ke depan memperlakukan sejarah sastra secara semena-mena. Saat ini misalnya, sastrawan modern Indonesia seakan memutus hubungan dari sastra tradisional. Seakan-akan, sastra modern Indonesia hanya hasil adopsi dari sastra Barat.

Merujuk ke sejarah kesusastraan Indonesia, perubahan besar selalu terjadi dalam kurun 25 tahun. Kurun pertama adalah tahun 1910 hingga 1935. Periode ini ditandai dengan migrasi sastrawan-sastrawan Melayu menjadi ikon sastra Indonesia. Para kritikus lantas menyebut periode ini sebagai awal tradisi sastra modern Indonesia. Kurun kedua adalah tahun 1935 hingga tahun 1960. Pada periode ini, jejak sastra Melayu semakin sirna. Bahasa Indonesia mulai menemukan bentuk konkret. Sastrawan mempergunakan bahasa Indonesia secara verbal sehingga muncul karya berstruktur terbuka semacam puisi Chairil Anwar dan cerpen Idrus. Sastrawan luar etnis Melayu juga mulai bermunculan.

Kurun ketiga adalah tahun 1960 hingga tahun 1985. Periode ini merupakan puncak kesusastraan Indonesia. Beragam eksplorasi dilakukan, beragam tema diusung, dan beragam bentuk karya sastra dipamerkan. Hasilnya berupa karya Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Sutardji, dan lain sebagainya. Kurun keempat adalah tahun 1985 hingga tahun 2010. Periode ini ditandai dengan perubahan persepsi atas bahasa yang dilakukan Afrizal Malna dan Ayu Utami. Keduanya mengusung wacana posmodernisme ke dalam khazanah sastra Indonesia. Kurun terakhir adalah tahun 2010 hingga 2035. Pada kurun terakhir inilah, sastra Indonesia bisa jadi bakal bermigrasi dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Walau bakal berganti bahasa, sastra akan tetap berkutat pada tema-tema laten. Semisal cinta, religiusitas, seks, perasaan-perasaan selalu terancam, kesunyian, kesepian, pengkhianatan, ataupun kerinduan. Itu artinya, personalitas dan kultur keindonesiaan belum akan hilang. Karya sastra tetap akan mengungkapkan persoalan-persoalan di sekitar sastrawannya. Idiom-idiom berasal dari gejala dan fakta setempat. Dimungkinkan, bakal muncul sastra berbahasa Inggris dengan karakter Indonesia.

Hanya saja, kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa dibayangkan sama persis dengan kondisi saat ini. Pasti terjadi perubahan sosial. Kehidupan di perkotaan, semisal Jakarta atau Surabaya saat ini, bakal menggejala di berbagai pelosok negeri. Imbasnya, pergaulan bertetangga yang intim seperti di desa semakin sulit ditemukan. Spirit gotong royong pelahan tapi pasti akan pudar. Kita tahu, di kota, seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau tempat kerja. Di luar jam itu, orang kota lebih memilih kumpul dengan teman sesama hobi. Semisal hobi olahraga, touring, komunitas penggemar burung, maupun komunitas kesenian. Ke depan, media internet juga akan semakin menyita waktu. Saat ini saja, orang ngobrol sambil membuka jejaring sosial. Kehidupan semacam itu dimungkinkan pola hidup orang di masa depan berbeda jauh dengan kehiudupan masyarakat sekarang. Bila struktur novel mengandaikan struktur masyarakat, konsekuensinya, perubahan dalam masyarakat juga berpengaruh besar terhadap struktur teks.

Sementara itu di ranah politik, ideologi yang bersifat kebangsaan dimungkinkan kian melemah. Kepercayaan orang terhadap partai berideologi keras pun lama kelamaan sirna. Masyaakat akan semakin pragmatis. Bahkan di beberapa negara Eropa, partai berhaluan kiri tidak lagi getol menyuarakan pertentangan kelas seperti yang didengungkan Karl Marx. Partai kiri lebih fokus pada tema-tema layanan publik dan lingkungan. Sebuah langkah cerdas, sebab, layanan publik dan problem lingkungan memang lebih menyentuh terhadap persoalan konkret masyarakat sekarang. Tema ini pula yang getol diunggahkan sastrawan Itali Calvino. Pilihan tema keras semacam yang dituliskan Pramodya Ananta Toer dalam novel Dia yang Menyerah bisa jadi tidak diproduksi lagi pada 25 tahun ke depan. Atau justru sebaliknya, jarak antara negara miskin dengan negara kaya kian melebar, jarak antara kelas atas dengan kelas bawah semakin menganga. Jika memang itu yang terjadi, mau tidak mau, ingin tidak ingin, sastra realisme sosial bakal tergulir secara alamiah. Kita tidak tahu pasti.

Yang pasti, sastra Indonesia ke depan tidak bisa menghindar dari kemutlakan sastra dunia. Batas antarbangsa pelahan sirna, hubungan antarwarga negera semakin dimudahkan, dan bahasa mengerucut pada satu bahasa tunggal. Ini semua musti dihadapi dan disiapkan sejak sekarang.

**Pernah dimuat di Harian Sinar Harapan, Sabtu (21 Agustus 2010)

** Tulisan ini sebenarnya adalah TOR yang saya siapkan untuk Talk Show “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan” dalam Festival Seni Surabaya (FSS) 2010, tanggal 9 November 2010 di Balai Pemuda Surabaya. Talk show rencananya menghadirkan narasumber: Budi Darma, S Yoga, Afrizal Malna, Nirwan Dewanto. Panelis: Mardi Luhung, Ayu Sutarto, Kris Budiman, Tjahjono Widianto. Naskah dari narasumber rencananya juga akan dibukukan. Adapun FSS secara keseluruhan akan digelar tanggal 6-14 November 2010.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir