Selasa, 08 Maret 2011

Heh, Ada Apa dengan Petani???

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Manusia memang manusia yang dari kata “menungso” (bahasa Jawa) yang artinya “menus-menus ngongso” atau manusia-manusia yang keinginannya banyak. Karena saking banyaknya itulah dikatakan sebagai “ngongso”. dalam perjalanan hidup, saya menemui suatu pengalaman yang cukup menarik. Perihal menjadi petani, yang konon, saat ini sudah berkurang jumlahnya karena berbagai macam faktor. Di antaranya, lahan pertanian sudah menyempit dan hidup menjadi petani tidak menguntungkan. Akantetapi, dari dua faktor utama tersebut, faktor kedua yang paling mempengaruhi berkurangnya kaum tani.

Menjadi petani, sudah bekerja kasar yang melelahkan juga tidak banyak memberikan penghasilan. Hidup di zaman sekarang, dari aspek-aspek primer sampai sekunder membutuhkan biaya hidup yang mahal. Misalnya, kebutuhan biaya pendidikan yang setiap hari mengalami kenaikan. Atau, untuk urusan makan pun, manusia seperti sudah kewalahan dalam menghadapi setiap kebutuhan hidup.

Tapi, sebentar, kita perlu mengingat bahwa sebanarnya menjadi seorang petani pun, seperti Bapak saya, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana bisa? Ya tentu saja, karena kebutuhan hidup manusia adalah kebutuhan yang menunjang kelangsungan hidup itu sendiri, misalnya saja untuk makan sehari-hari. Kaum tani, banyak yang tidak perlu membeli bahan pokok kebutuhan keseharian mereka. Bahkan, ketika orang-orang di kota yang bekerja di kantoran mengeluhkan harga cabai yang melangit, buktinya petani yang penghasilannya pas-pasan tetap anteng-anteng saja. Eh, kok justru para politisi mengisukan revolusi dan kekacauan sosial ekonomi hanya karena harga cabai yang melangit. Memangnya, manusia makan cabai untuk kenyang?

Jelas tidak!

Kembali ke masalah mencukupi kebutuhan, bahwa penghasilan petani yang sedikit itu cukup-cukup saja buat makan dan bertahan hidup. Kata Dhimas Gathuk, yang juga kata Kangmas Gathak, begini: “Sebenarnya, penghasilan sekecil apa pun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tidak akan cukup, walau menjadi Presiden sekalipun, kalau digunakan untuk mencukupi keinginan hidup.”

Saya pun lalu bertanya pada dua saudara tua dan muda itu, mereka pun dalam cekikian, menjawab, “Lha bagaimana tidak, kalau Presiden saja mengeluh gajinya tidak naik-naik, itu tandanya kalau gaji Presiden yang lengkap dengan semua tunjangan itu tidak cukup untuk memenuhi keinginan hidup Presiden. Hayo, bener tidak?”

Saya pun mengangguk-anggukkan kepala. Memang ada benarnya seperti itu. kebutuhan primer manusia, mencakup tiga hal yaitu: sandang, pangan, papan, yang kini ditambahi dengan pendidikan. Eh, kok ada-ada saja, masalah kesehatan masuk ke dalam kebutuhan yang dipokok-pokokkan. Apa setiap manusia itu berharap sakit, sehingga kesehatan masuk ke dalam ranah kebutuhan primer itu?

Kalau kebutuhan manusia yang paling mendasar ya makan, selain itu menjadi kebutuhan sekunder dan tersier. Saya sendiri saja, baju hanya ada beberapa potong, dan semuanya tidak dipakai berganti-ganti. Kebutuhan secara mendasar selain makan, menurut saya tidak ada lagi. Lalu, kenapa ya banyak orang yang mengatakan kalau menjadi petani tidak menguntungkan karena kebutuhan hidup tidak tercukupi? Alasannya apa?

“Itu sebabnya, tidak ada lowongan pekerjaan menjadi petani.” Sahut Dhimas Gathuk begitu saja sambil menepuki pundak yang pegal sehabis kerja seharis di sawah.

Saya sendiri kadang bingung, setiap orang ditanya mimpi hidupnya, banyak yang mengatakan mejadi dokterlah, menjadi sastrawan lah, menjadi insinyur lah, atau apa saja, selain di dalamnya menjadi petani. Kenapa coba tidak ada yang mau bercita-cita menjadi petani? Sedangkan sampai hari ini, petani seolah menjadi lahan pekerjaan yang karena faktor tidak ada pekerjaan lain yang lebih layak.

Membahas masalah ini, saya menjadi ingat dengan bagaimana dulu Ibu saya menasehati, “Le, yang penting kamu sekolah. Harus lebih tinggi dari Bapak dan Ibu. Kalau pun menjadi petani, setidaknya sudah sarjana.” Nah, begitu ibu mengatakan kalau seenggaknya menjadi sarjana walau pun petani, karena memiliki nilai yang berbeda.

Diam-diam, Kangmas Gathak yang tempo hari guru mengajinya ditangkap Densus 88 anti-teror masuk ke dalam dan membukai Hadistnya Al-Bukhari. Kita maklum saja, Kangmas Gathak itu santri yang mencoba melihat permasalahan dunia dengan berbagai kitab yang ada.

“Nah, ini” ucapnya karena sudah ketemu, “Diriwayatkan dari Anas r.a., bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda: ‘Siapapun dari salah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, kemudian (tumbuh dan berbuah) lalu buahnya dimakan oleh manusia atau hewan, maka itu bernilai sedekah yang diberikannya’.”

“Lha, itu!” sahut Dhimas Gathuk bersemangat.

Membaca hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari tersebut, saya tertegun sejenak. Dalam Islam, Allah sudah mengatakan kebaikan menjadi seorang petani. Bahwa katika menanam dan memanen, manusia atau hewan yang memakan hasil pertanian itu, seorang petani sudah bersedekah. Saya pikir, bahwa Bapak saya seumur hidup bersedekah, walau belum menjadi haji. Saya membayangkan, seumur hidup bersekedah, lalu bagaimana amalannya nanti di surga?

Ah, masih jauh dari perkiraan saat saya membicarakan masalah kebutuhan primer, sekunder dan tersier namun membicarakan surga. Coba saja di surga manusia juga sama dengan di dunia, dia masih harus bekerja, pastinya tidak ada orang yang mau menjadi petani walau pun itu di surga.

Saya sedikit prihatin dan khawatir, siapa yang akan menanam nanti? Siapa yang akan menyediakan beras, gandum, buah, dan seabrek hasil pertanian kalau para petani sudah habis?

“Coba kalau di surga, tidak perlu ada petani.” Ucap Dhimas Gathuk yang menambahi dalam senyuman lucu.

“Sebentar,” Kangmas Gathak kembali menyela sambil masih memegangi hadist itu. “Dari Abu Hurairah r.a.”

“Hadist Al-Bukhari lagi, Kang?” sahut Dhimas Gathuk pada saudara tuanya.

“Iya. Seperti ini: Rasulullah SAW pernah bersabda ketika seorang Arab Baduwi di hadapan beliau: ‘Seorang penghuni surga memohon izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah kamu sudah berada dalam kesenangan yang kamu inginkan?” orang itu menjawab, “Ya, tapi saya ingin bercocok tanam”. Rasulullah SAW lalu melanjutkan: Setelah Allah mengizinkannya, ia segera menabur benih, lalu tumbuh dan berbuah dengan cepat. Tanaman-tanaman itu tinggi besar seperti gunung. Kemudian Allah berfirman, “Hai anak Adam! Ambil dan petiklah, rupanya kamu tidak merasa kenyang juga”. Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut orang Arab Baduwi itu berkata: “Demi Allah, orang-orang yang anda ceritakan tersebut adalah orang-orang Quraisy dan Anshar, karena merekalah para petani, sedangkan kami bukan petani. Rasulullah SAW tersenyum.”

“Lha, terus pesan moralnya apa, Kang?” sahut Dhimas Gathuk menimpali.

Saya menganggukkan kepala. Padahal, pertanyaan itu yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada saudara tua saya itu.

“Hem, apa ya Dhi?” dia merenung, “Mungkin karena spesialnya petani yang makan dari jerih payahnya sendiri, karena itu Allah memberikan tempat bagi mereka untuk terus menanam dan memanen.”

Nah, seperti ini. Petani menanam di surga, karena mungkin saja sebentar lagi petani di dunia akan kehabisan lahan, dan karena juga tidak mau yang menjadi petani. Dan hanya di surga saja, kelak petani dapat kita temui.

“Semoga ada kiriman beras dari surga!” sahut Dhimas Gathuk pelan dalam kepala mengangguk menahan kantuk.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 27 Februari 2011.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir