Selasa, 22 Februari 2011

“Ada kalanya saya marah begitu keras dan adakalanya saya mendekapnya demikian erat!”

Bincang-bincang dengan Wijang Wharek
Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku menyusuri jalan terjauh dibanding selama ini yang pernah kutempuh. Jalan besar dan panjang dengan berbagai kendaraan lalu lalang di kanan kiri. Tubuhku masih agak sakit namun janji adalah janji, aku meneguhkan diri untuk berlanjut, jadwal yang mundur 1-2 jam malah membuatku lebih leluasa menaiki kendaraan. Melewati stadion Manahan di Kota Solo dan terus melaju hingga resort terbesar di Solo, Lor In, motor berbelok sebentar ke belakang kantor Bulog menjemput esais kita, Bandung Mawardi, dibelakang motor saya ternyata Poetri telah melaju dengan pelan, sendiri.

Bertiga kami menembus kota menuju barat, melalui Kertasuro, menuju Delanggu, tempat di mana profil kita kali ini tinggal. Dia adalah Wijang Jati Riyanto, nama beken penyair ini: Wijang Wharek Al Ma’uti, siapapun seniman yang bersentuhan dengan Taman Budaya Jawa Tengah/TBS di Kota Solo pasti mengenalnya. Sosoknya gagah, tinggi besar, rambut beriak dan panjang, kulitnya liat kecoklatan, tampang murah senyum dan juga kadang dingin -terutama ketika sedang menatap aksi di panggung Teater Arena.

Menuju rumahnya bagai menemukan oase karena sungguh begitu nyaman. Memangku jalan yang sepi, diseberangnya sawah begitu membentang, ada hutan bambu nampak di kejauhan, dan selokan berair bening dan sesekali bergemiricik menambah lokasi berikut rumahnya terasa damai, khas desa, dan sejuk.

Apalagi bangunan di sisi kiri rumah berupa pendhapa jadi menambah kesan lapang dan longgar, mirip pendapa TBS dalam ukuran yang lebih kecil. Sedangkan sisi kanan adalah rumah tinggal dengan kontur yang dibuat sedikit naik turun, permainan lantai keramik yang berbeda warna, posisi ruangan, gambar-gambar, termasuk pigura-foto kartunis Nasirun Purwokartun, juga ragam foto pernikahan Pak Wijang menawarkan aroma rumah seniman yang kental.

Sambil makan siang dengan menu yang beragam: pecel, sayur bobor, selirang pisang, kopi, teh, gorengan, air putih, wah lengkap, dan maknyus kami mengobrol ngalor ngidul, dan sejurus kemudian telah kususul dengan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Sebagai konfirmasi dari tulisan Mas Leak (Sosiawan Leak) bahwa pangkat belakang nama anda pemberian dari Sutarji Calzoum Bahri, benarkah? (dalam edisi Pawon terakhir keliru tertulis WS. Rendra)
Waktu itu saya diundang di TIM membacakan puisi yang judulnya lupa, disitu ada syair, ada kata maut, tapi kuucapkan dengan tekanan ma’ut gitu yang terasa sangat eksplosif mungkin ya di telinga para audience saat itu juga diantaranya Sutarji itu. Ma’ut, ma’ut, gitu jadinya kok bunyinya mantap tenan. Sedangkan Warek itu karena dulu saya suka sekali nongkrong di warung depan tepi jalan raya delanggu yang ramai, saya langganan disitu, warungnya bergaris-garis gitu, lorek-lorek, makanya digeser sedikit jadi warek, mantap kan. Dijadikan satu Wijang Warek Al Mauti. Bunyi di telinga jadi terasa magis, sangar, dan kuat!

Selain puisi pernahkah Mas Wijang menulis prosa?

Satu-satunya cerpen saya menjadi pemenang lomba di FKIP UNS, juara dua apa tiga ya, yang kemudian dimuat di Koran lokal Semarak, di Bengkulu.

Sedangkan novel, hahahaha (semua tertawa), novel saya berjudul: Nyanyian Kabut, Fragmen Perjalanan Cinta Seorang Seniman, yang picisan, hihihi.

Mas Wijang memanggil Mbak Nurni, istrinya, untuk mengambil manuskrip novel itu. Lalu berturut-turut kami: Bandung, Poetri, dan aku membolak-balik sekilas novel itu yang terasa nyamleng karena masih diketik dengan mesin ketik manual dengan judul besar-besar dari rugos! Huahahaha.

Kabut berkata: sudah menjadi takdir judulnya Nyanyian Kabut, eeee, takdirnya bertemu dan berkawan dengan Kabut (sapaan Bandung Mawardi) benar! Haha

Bisa ceritakan proses kreatif Mas Wijang, awal-awalnya?

Sejak akhir tahun 70-an, saya menggeluti dunia kesenian dengan berdeklamasi, bernyanyi dan bermain sandiwara di panggung-panggung acara kampung. Juga menyukai nonton film bioskop, pertunjukan kethoprak tobong dan wayang kulit purwa yang ada di kampung, bahkan sering menonton pertunjukan wayang sampai ke desa tetangga.

Ketika SMA sering menulis puisi untuk dideklamasikan pada acara-acara yang diselenggarakan di kampung. Selepas SMA, setelah menganggur dan kuliah setahun di Teknik Sipil UTP, mulailah tumbuh pemberontakan di diriku dan kuanggap dunia kesenian adalah wilayah merdeka yang bisa mewadahi gelora jiwa seni yang menggebu-gebu dan tak terbendung lagi. Akhirnya, aku pindah kuliah dan memilih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra dan Filsafat, jurusan Sastra Indonesia UNS Solo 1984.

Mas Wijang mengaku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang keras. Kudu tertib, ora neko-neko, dan kudu mriyayeni. Maklum, konon Eyang-nya masih keturunan “darah biru”. Jadi, segalanya serba diatur dan apabila melakukan sesuatu harus perfect. Salah sedikit saja pasti dipala/dipukul. Bahkan, pilihannya untuk berpenampilan seniman dan gondrong sampai membuatnya ‘terusir’ dari rumah dan memilih kos di sekitar UNS.

Pas kuliah jiwa berkesenian lebih berkembang, ya?

Sejak di UNS saya mulai aktif menyaksikan pertunjukan sastra dan teater yang digelar di Solo juga mengikuti berbagai diskusi dan sarasehan. Semua demi menambah wawasan. Saat itu juga mulai doyan membaca buku-buku apa saja, terutama sastra, budaya, filsafat, dan politik, serta bergaul dengan berbagai kalangan seniman, budayawan dan networker kebudayaan.

Saya terlibat menggagas lahirnya beberapa kelompok kesenian seperti TESA-UNS (1987), Forum Penyair Muda Surakarta (1989), Forum Penyair Surakarta (1991), Kelompok Revitalisasi Sastra Pedalaman (1993), Forum Penyair Jawa Tengah (1993), Forum Sastra Bengkulu (1993), Himpunan Pengarang Indonesia Aksara cabang Bengkulu (1994), Paguyuban Seniman Kreatif Bengkulu (1996), dan penerbitan buletin Pawon Sastra Surakarta (2007).

Pak Wijang, Kabut/Bandung Mawardi, Ridho Al Qodri, Poetri Hati Ningsih, Joko Sumantri, dan saya (Han Gagas) saat di Wisma Seni TBS melahirkan nama untuk sebuah buletin di Solo yang hingga kini terus berlanjut yaitu Pawon, yang sekarang dikoordinatori oleh Yudhi Herwibowo.

Sejarah karya-karya Mas Wijang?

Puisi, cerpen, esai, dan reportase budaya pernah dimuat di media massa antara lain: Republika, Swadesi, Warta Pramuka, Mitra, Suara Merdeka, Wawasan, Kompas Jawa Tengah, Bernas, Minggu Pagi, Semarak, Bengkulu Pos, Haluan, Taruna Baru, dan Riau Pos.
Sedang puisi-puisi pernah dibukukan dalam antologi bersama, seperti Dua Potret (FS UNS, 1987), Upacara Kamar (FKIP UNS, 1989), Pertemuan Pertama (Forum Penyair Muda Surakarta, 1989), Ekstase dalam Sketsa (Forum Penyair Muda Surakarta, 1991), Gelar Syair Mengalir (Unit Seni & Film, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1991), Mozaik 2 (Forum Penyair Surakarta, 1991), Panorama Dunia Keranda (Forum Penyair Surakarta, 1991), Temu Penyair dan Parade Puisi se Jawa Tengah (1993), Pesta Penyair Jawa Tengah (Forum Penyair Jawa Tengah, 1993), Kicau Kepodang 2 –Penyair Jawa Tengah- (Taman Budaya Jawa Tengah, 1993), Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP, 1993), Riak 3 (Forum Penyair Bengkulu, 1993), Monolog (Forum Sastra Bengkulu, 1994), Pusaran Waktu (Bengkel Puisi Jambi, 1995), Tabur Bunga Penyair Indonesia (Lingkar Sastra Blitar, 1995), Bunga Rampai Dialog Budaya Parade Karya se Sumatera Jawa (Taman Budaya Bengkulu, 1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Jawa Tengah, 1995), Besurek (Taman Budaya Bengkulu, 1996), Puisi –Antologi Puisi Penyair se Sumatera- (Taman Budaya Jambi, 1996), Dari Bumi Lada –Temu Penyair Sumatera, Jawa, dan Bali- (Dewan Kesenian Lampung, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Puisi-puisi Dari Pulau Andalas (Taman Budaya Lampung, 1999), Ekstase Dzikir Putih –Aku Mabuk Engkau- dan Obituary Sebuah Negeri Tanpa Kemerdekaan (manuskrip tunggal, Forum Sastra Bengkulu, 1999), 18 Penyair Jawa Tengah: Proses Kreatif dan Karyanya (Taman Budaya Jawa Tengah, 2005), Tanah Pilih (Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi, 2008), dan Kenduri Puisi (Ombak, 2008).

Aktivitas diluar menulis puisi?

Saya beberapa kali menjadi pembicara dalam diskusi sastra, juri lomba baca puisi dan cipta sastra. Beberapa kali juara lomba baca puisi di berbagai kota. Selain itu, pernah menggeluti dunia teater dan terlibat dalam pementasan Dukun Tiban (1980), Samadi (1985), Dokter Gadungan (Moliere, 1988), Oemar Khayam (Harold Lamb, 1988), teatrikalisasi cerpen Maria (Putu Wijaya, 1988), Bom Waktu (N. Riantiarno, 1989), Gandrung Kecepit (1989), Klilip ing Medhang Kamulan (Wiswakarman, 1989), teatrikalisasi puisi Nyanyian Angsa (WS Rendra, 1990), Akal Bulus Scapin (Moliere, 1990), Oedipus di Kolonus (Sophokles, 1991), musikalisasi puisi Ekstase Dzikir Putih (Wijang Wharek AM, 1991 dan 1993), teatrikalisasi novel Masyithah (Rosihan Anwar, 1994), Airmata Gugat –kolaborasi puisi tari- (Wijang WAM, Intan HS, Iwan Gunawan, 1996), Kosong (Edi Ahmad, 1999), Neng-Nong (M. Udaya Syamsuddin, 1999), Sayembara Putri Gading Cempaka (Agus Setyanto, 1999), Song of Sang –kolaborasi puitik- (Wijang WAM, Sosiawan Leak, Max Baihaqi, Tria Vita Hendrajaya, 2004), pentas Novel “Wajah Sebuah Vagina” karya Naning Pranoto (alih teks Wijang WAM, 2005), pentas novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari (alih teks Wijang WAM, 2006).

Dalam catatan yang diberikan Mas Wijang pada saya masih banyak seabreg aktivitas berkeseniannya dibanding keterangan di atas.

Yang paling membanggakan?

Diundang DKJ dalam Mimbar Penyair Abad 21 tahun 1996. Kedua, diundang Perkampungan Penulis Melayu Serumpun (Daik Lingga, Kepri, 1999) yang diikuti oleh peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.

Wijang Warek Al’Mauti juga membidani lahirnya gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman bersama Kusprihyanto Namma, Triyanto, dan Sosiawan Leak. Gerakan ini di dukung oleh Halim HD –seorang networker kebudayaan- sehingga membesar dan begitu banyak mendapat tanggapan baik dari dalam negeri bahkan juga para pakar luar negeri, yang juga menelitinya. Gerakan yang dimulai dari Solo ini merupakan perwujudan kegelisahan terhadap pusat sastra baik dari segi kota maupun media yang sering menghambat penulis baru.
Wijang menikah dengan Nurni dan dikaruniani dua orang putra bernama Raja Demokrat Sinar Jagad dan Raja Mahasakti Surya Bumi.
“Ada kalanya saya marah begitu keras dan ada kalanya saya mendekapnya demikian erat!” Ujar Mas Wijang ketika menyatakan perasaannya dalam mendidik anak-anaknya.

Setelah panjang lebar kami mengobrol, karena waktu yang menjelang sore akhirnya kami pamit pulang. Mbak Nurni yang berdarah minang menyilakan kami dengan lembut dan ramah begitu pula Mas Wijang mengantar kami hingga beranda dan tepi jalan. Kami bertiga menembus jalan desa lalu menyusur jalan menggilas jalur Solo-Jogja lagi.

Han Gagas, 28 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir