Jumat, 14 Januari 2011

Tentang Seseorang yang Tiba-Tiba Ingin Jadi Cerpenis

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

#1

Sudah lima dukun ia datangi tetapi kelima-limanya mengaku pikun setiap ia bertanya bagaimana cara cepat menjadi cerpenis. Tidak, sebenarnya dukun kelima malah tertawa-tawa, mengolok-ngolok sambil memamerkan gigi-giginya yang kuning—tidak pernah digosok. “Oi bujang, ngapo la kau tanyoke hal cak itu. Kau tu la punyo penis. Ngapo masih nak jadi cerpenis? Ia cuma bisa terperangah mendengarkan pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, padahal dukun ini ngakunya lulusan S1 sebuah perguruan tinggi negeri sampai ijazah kelulusannya dibingkai di ruang tamu dengan pigura beremas sepuh. Mungkin biar pelanggannya makin yakin dialah dukun terhebat di negeri ini, satu-satunya dukun bergelar sarjana. Perguruan tinggi negeri pula.

Sakum mulai kehabisan akal. Tinggal seminggu tenggang waktu yang diberikan Maemunah, gadis dari desa tetangga yang dicintainya itu, untuk membuatkannya sebuah cerpen sebagai mahar jika Sakum mau mengawininya. Apalah Maemunah itu, padahal sudah mau diberikan segala yang Sakum punya sebagai pembuktian cintanya. Tapi, Maemunah malah minta dibuatkan cerpen!

#2

Mak Ida yang memang sangat sayang dengan Sakum mulai meratapi nasib anaknya itu. Mak Ida ingat, dulu ia pernah punya pacar seorang cerpenis. Itu dulu sekali, waktu Mak Ida masih perawan. Siapa yang tidak jatuh cinta pada cerpenis? Bang Benny namanya, seorang cerpenis yang tulisannya sudah merambah nusantara. Banyak perempuan sebayanya yang juga tergila-gila pada Bang Benny. Tapi tak disangka-sangka, Bang Benny malah menyatakan cinta pada Mak Ida. Bertahun mereka berpacaran sampai suatu saat Mak Ida menuntut pernikahan. Tidak elok pacaran terlalu lama. Nanti bisa jadi fitnah. Tapi, Bang Benny menggeleng—mengatakan tidak. Ia tidak mau terkurung dalam sebuah ikatan, apalagi pernikahan. Ia takut cintanya pada kata-kata akan luntur setelah menikah. Makanya ia tak mau menikah. Dan setelah itu, Bang Benny menghilang entah ke mana.
Karena itulah, Mak Ida tidak pernah mengajari Sakum menulis cerpen. Jangankan mengajari, setiap ada yang berbau cerpen, Sakum dilarang dekat-dekat. Mak Ida, bahkan, pernah menghujat guru bahasa Indonesia Sakum yang mewajibkan muridnya menulis cerpen sebagai syarat kenaikan kelas. Sakum menurut saja. Ia tidak pernah membantah Mak Ida. Dan tidak pernah tahu, hal-hal yang berbau cerpen akan menyakiti hati Mak Ida.

Tapi sekarang Mak Ida mulai menyesal. Ia tidak mau Sakum, yang sangat ia sayang itu, akan juga merasakan sakit hati, seperti yang ia rasakan dulu.

#3

“Kum, sudah makan kau?”

Sakum tampak malas-malasan menjawab, “Belum, Mak.”

“Makanlah, Nak. Gek kau sakit…”

Mak Ida berusaha membujuk Sakum yang sudah beberapa hari ini sangat malas makan nasi. Kerjaannya hanya mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Atau duduk di teras, memandangi langit sambil sesekali bergumam pelan. Gumam yang sangat getir.

Oh dek Maemunah, apalah yang kurang dari Abang
Akan kuberikan semua surga, bahkan jantungku, untukmu
Tapi apalah daya abang, yang tidak bisa membuat cerpen

Lama-lama Mak Ida juga turut menangis di dalam kamar. Menangisi Sakum. Menangisi Bang Benny yang sudah meninggalkannya pergi.

#4

Sakum tidak pernah bertanya, kenapa Maemunah menghendaki cerpen sebagai mahar pernikahannya? Sakum juga tidak pernah tahu bahwa Maemunah sesungguhnya juga mencintai Sakum. Sakum, anak Mak Ida, seorang pemuda yang tekun bekerja. Meski Sakum sudah ditinggal mati ayahnya sejak balita, itu tidak mengurangi kehormatannya sebagai laki-laki. Sudah sebuah perternakan ayam potong ia kembangkan, omsetnya jutaan. Untuk seseorang muda di sebuah lingkungan yang penduduknya mayoritas petani, Sakum sudah sangat luar biasa. Sakum juga sangat tampan. Badannya pun kekar. Jika dibanding-bandingkan, Sakum tak kalah lah sama artis-artis ibukota semacam Saiful Jamil atau Sutan Jorghi. Apalagi Sakum terkenal pandai berpuisi, pandai menyanyi, pun pandai bela diri. Tak ada yang kurang darinya.

Senang hati Maemunah saat Sakum melamarnya tiba-tiba. Akan tetapi, adalah wasiat ibunya yang menghendaki Maemunah menikah dengan seorang cerpenis.

#5

Tiba-tiba Mak Ida sudah berdiri di depan pintu kamar Sakum. Ia mengetuk pintu dua kali. “Ini Mamak, Nak. Bukakan pintu, ada yang Mamak mau bicarakan.”
Sakum membukakan pintu. Matanya tampak merah, tidak tidur semalaman memikirkan kata-kata untuk cerpennya yang tak mulai-mulai.

“Kum, dengarkan Mamak…”

Mak Ida mulai terisak. Sakum tampak kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa Mamaknya tiba-tiba jadi begini.

“Carilah Bang Benny, secepatnya, waktumu tinggal tujuh hari kan?”

“Bang Benny? Siapa itu, Mak?”

“Cerpenis handal.”

“Cerpenis handal?”

“Iya, cukuplah itu yang kautahu.”

“Aku harus mencarinya ke mana, Mak?”

“Dia selalu berada di arah senja. Setelah sampai di kota, pasti kau akan mendengar namanya. Tak ada yang tak kenal dia.”

“Apa dia mau mengajariku, Mak?”

“Tenang saja. Dia pasti mau. Sebutlah kau anak Mak Ida, dia pasti akan mengajarimu.”
Sakum percaya. Malam itu juga ia berangkat ke arah kota. Ke arah senja yang baru saja terbenam.

#6

Matahari terbit, Sakum baru sampai di kota. Sisa-sisa keletihan tampak di wajahnya. Perjalanan jauh semalam membuat ia lapar. Ia pun berjalan pelan menyusuri pasar kota yang sesak dengan keramaian. Mencari makanan buat perutnya yang sudah keroncongan itu. Sakum pun memilih satu tempat, sambil mencoba mencari informasi tentang bang Benny.

“Mang, tahu tentang bang Benny?” Sakum memulai pembicaraan dengan pria tiga puluhan di depannya. Mang Juhai namanya.

“Bang Benny yang cerpenis handal itu?”

“Iya…”

“Tentu, siapa yang tak tahu dia!”

“Jadi, Mang Juhai tahu dia ada di mana?”

“Tidak. Tapi dia selalu berada di arah senja. Nanti, begitu senja tiba, carilah tempat yang paling dapat melihat senja. Konon, ia akan berada di sana. Aku juga tak begitu mengerti. Tetapi seperti itulah keadaannya.” Jawab Mang Juhai sambil mengipasi dagangannya untuk mengusir lalat-lalat yang mendekat. “Ngomong-ngomong kenapa kau mencarinya? Apa kau juga mau jadi cerpenis?”

Sakum menganggukkan kepala. “Kenapa Mang Juhai bisa tahu?”

“Kau bukan yang pertama, Nak.”

“Bukan yang pertama?”

“Ya, sudah beratus-ratus bujang sepertimu mencarinya. Semua bilang ingin jadi cerpenis. Ada yang bilang kalau jadi cerpenis bisa jadi kaya raya. Ada juga yang bilang semua wanita akan takluk di kaki cerpenis. Aku tak percaya.”

“Mang Juhai tidak percaya?”

“Ya, bagiku usaha halal macam inilah yang patut dipercaya. Buktinya aku sudah punya istri punya anak. Bisalah buat makan sehari-hari. Sedang Bang Benny, yang kau cari-cari itu, belum kawin-kawin juga!”

Sakum sebenarnya juga tidak pernah terpikir untuk menjadi cerpenis kalau Maemunah itu tak meminta cerpen sebagai maharnya. Maklum, Sakum sudah cinta mati sama Maemunah. Sakum jadi ingat, ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Maemunah. Saat itu, Sakum sedang mengantar ayam ke pasar desa sebelah. Tak disangka Maemunah sedang berbelanja berdua dengan temannya. Apatah takdir atau entah, hati Sakum berdegup tak karuan. Beribu salam dan puisi ia kirimkan buat Maemunah. Tetapi ketika hatinya sudah bulat hendak melamar Maemunah, Maemunah malah minta dibuatkan cerpen. Terpaksalah kini ia mencari bang Benny. Satu-satunya harapan. Apalagi waktu tinggal enam hari lagi.

Sakum terus berjalan mencari arah senja. Ia hanya bisa percaya pada kata hatinya. Percaya bahwa cintanya pada Maemunah akan menuntunnya ke bang Benny.

Hari sudah mulai gelap. Arah senja telah membuatnya memilih arah Lubuk Parau, Lubuk Kesunyian, begitu daerah ini terkenal. Tidak ada siapa-siapa di sana selain surai-surai pohon tua yang kelihatan angker. Tapi Sakum tidak takut. Keinginannya tidak surut. Sampai ia melihat sosok berambut putih sedang mendekam di atas batu, melihat senja yang baru akan terbenam.

La i la, demit mendemit, setan sesetan, mati kau mati kau!

“Aku bukan setan. Toh kalau aku setan, serapahmu tadi salah, Kawan. Setan sudah mati.”

Sakum masih ketakutan, “Jadi siapa kau ini?”

“Aku? Bang Benny, yang kau cari-cari,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.

Bukannya damai, Sakum malah tambah ketakutan melihat senyumnya yang lebih mirip seringai itu. Sakum masih terpaku di tempatnya. Dan sosok yang mengaku bang Benny itu beranjak dari dekamnya. “Hei kau, kau mau jadi cerpenis kan? Apa yang membuatmu yakin aku akan mengajarimu untuk menjadi cerpenis?”

“Aa…Aku anaknya Mak Ida. Mamakku bilang kau pasti akan mengajariku kalau aku bilang kepada kau, aku anaknya Mak Ida.”

“Mak Ida? Mak Ida dari desa Petani di Ujung Gerong? Kau anaknya?”

“Iya.”

“Hmm, apa Mak Ida juga cerita tentang resiko menjadi cerpenis?”

“Resiko?”

“Sebenarnya tidak bisa disebut resiko, tapi mungkin lebih tepat sebagai peringatan.”

“Peringatan?”

“Ya. Seorang cerpenis tak akan bisa menikah?!”

“Apa?! Tapi aku mau jadi cerpenis untuk bisa menikahi Maemunah.”

“Aku tak peduli,” jawab bang Benny enteng.

“Aku juga tak peduli. Pokoknya kau harus ajari aku!” Sakum ngotot minta diajari jadi cerpenis. Akhirnya bang Benny pun bersedia. “Baiklah, tapi ingat aku sudah memperingatkan kau.”

Sakum pun disuruh duduk bersila di atas batu yang tadi didekami bang Benny. Ia pun disuruh memejamkan mata. Konsentrasi. Dan tidak makan nasi selama empat hari empat malam. Sakum menyanggupi semua syarat itu, demi cintanya pada Maemunah.

#7

Tapa Sakum sudah selesai. Tulang-tulang rahang di pipinya tampak menonjol sebab ia sudah tidak makan nasi selama empat hari empat malam. Tapi bang Benny kadang menyuguhinya dengan kopi dan kue-kue saji yang biasa dipersembahkan penduduk desa kepada yang dianggap penghuni Lubuk Parau. Bang Benny mencurinya diam-diam, dan penduduk percaya bahwa penunggu Lubuk Parau telah menerima sesaji dari mereka itu.

“Bang, apa aku sudah sakti kini? Sudah bisa membuat cerpen?” Tanya Sakum penasaran.

“Nantilah itu, kau tes sendiri. Sekarang masih belum boleh.”
Bang Benny tampak merapikan rambutnya yang sudah memutih itu. Walaupun rambutnya putih, ia masih tampak muda. Sakum tak habis pikir, bagaimana Mak Ida dan bang Benny bisa saling tahu. Mamaknya sudah tua begitu, sementara bang Benny seperti pemuda berumur tigapuluhan, yang lagi matang-matangnya sebagai lelaki.

“Hei, aku belum memberitahumu satu rahasia lagi,” ujar bang Benny.

“Rahasia apa itu, Bang?” Tanya sakum yang makin penasaran.

“Kau tidak bisa tua,” jawab bang Benny serius.

“Maksud abang, aku akan tetap muda? Selamanya?”

Bang Benny menganggukan kepala. Sakum, entah bahagia entah berduka, malah tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

#8

Sakum bertambah heran, bang Benny mengikutinya pulang kampung. Mau ketemu Mak Idah sekaligus penasaran dengan Maemunah yang membuatnya jatuh cinta, akunya. Sakum terpaksa percaya. Toh, ia tidak bisa menolak keinginan gurunya itu.

Sampai di desa, waktu yang dijanjikan tepat di hari terakhir. Sakum langsung datang menemui Maemunah, diikuti bang Benny tentunya.

“Wahai Maemunah yang Abang Sakum Cinta, Abang datang dengan membawa gembira. Abang akan membuatkanmu cerpen! Hari ini, di sini juga!” teriak Sakum dengan semangat-semangatnya. Maemunah yang melongok dari jendela tiba-tiba berlari turun dari rumah panggungnya. Sakum sumringah. Pasti Maemunah akan memeluknya.

Tapi perkiraan Sakum meleset. Maemunah malah memeluk bang Benny.

“Ayah? Kau ayahku ‘kan? Kau bang Benny, kekasih dari Mak Subah, ibuku?” Maemunah tampak penuh rindu. Sakum bingung sendiri dengan keadaan ini.

Sementara bang Benny cuma tersenyum. Sebenarnya bang Benny sendiri lupa tentang pernah ia meninggalkan benih di perut Mak Subah, dulu ketika ia masih muda, dan hobi bergonta-ganti wanita. Tapi tak ada wanita yang dinikahinya karena ia merasa mencintai semua wanitanya itu. Kalau ia pilih salah satu, pasti yang lain akan cemburu. Kalau ia nikahi semuanya, ia merasa tak sanggup mengurusnya. Jadi, bang Benny memutuskan pergi. Mencari senja—cinta yang ia anggap sejati.

“Oh, kau guruku, dan kau mertuaku kini. Takdir yang sempurna kan, bang?”

Sakum tambah sumringah. Sementara Maemunah masih memeluk tubuh bang Benny, menuntaskan kerinduannya pada ayah kandungnya yang hanya ia tahu dari wasiat yang ditinggalkan Mak Subah.

Akan tetapi, kondisi itu tidak berlangsung lama. Terdengar tiba-tiba teriakan kemarahan, “Hentikan! Hentikan! Tidak ada pernikahan antara Sakum dengan Maemunah!”

Ternyata Mak Ida. Matanya merah. Marah. Sakum yang tadi sumringah menjadi heran tak karuan. “Mak, Mak, ada apa?”

“Kau tahu, Kum… siapa bang Benny ini?” Mak Ida berapi-api.

“Tahu, Mak. Dia guruku. Dia calon mertuaku…”

“Dia juga ayah kandungmu!” sergah Mak Idah dengan cinta yang sepertinya patah. Sementara Sakum menatap bang Benny tak percaya. Begitupun Maemunah.

“Sudah kuperingatkan, bukan?” senyum bang Benny yang lebih mirip seringai itu.

Sakum membalikkan badannya. Ia tertunduk. Tanpa seorang pun yang tahu, matanya tiba-tiba berubah. Menjadi senja.

(2009)

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir