Selasa, 25 Januari 2011

Pulang

Riri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Pulang ke desa minggu ini harus kujalani dengan naik bus. Ayah yang biasanya jemput ada urusan penting tak bisa di tinggalkan. Aku harus rela menggunakan fasilitas transportasi kota yang paling utama itu. Menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam di dalam bus beraroma khas penumpang. Peluh dan keringat dari tubuh mereka, aroma parfum dan minyak wangi yang mereka pakai, juga bau barang-barang bawaan. Di tambah penumpang yang berdesak-desakan, tak memberi sedikit celah untuk udara berganti.

Seperti biasa ketika aku pulang, aku hanya akan mendapati hal tak berkesan dalam perjalanan. Aku duduk dekat jendela, kepala bersadar di jok kursi, mata memandang keluar jendela. Di luar tampak kesibukan masing-masing orang kota. Kali ini aku pulang naik bus, namun kadang dengan sepeda motor bersama ayah, atau naik mobil bareng keluarga budhe. Dan semua biasa saja, tak ada yang berkesan, tak ada yang kuanggap menyenangkan.

Tiap perjalanan pulang aku lebih suka memperhatikan jalan dan orang-orang di luar. Di dalam mobil aku tak begitu menggubris apa yang di bicarakan keluarga budhe, di bus sampai tak dengarkan kondektur yang minta ongkos perjalanan, di sepeda motor tak pedulikan ayah yang bertanya kabar. Meskipun aku sering melakukan perjalanan seperti ini. Seperti orang desa yang pertama kali ke kota. Sebenarnya rumahku memang berada di sebuah desa di kaki gunung lawu. Keinginan ayah menyekolahkan aku di sekolah yang bagus meski jauh, membuat aku harus tinggal bersama keluarga budhe di kota dan bisa pulang ke rumah tiap akhir pekan.

Siang ini langit tak seperti biasanya, sinar terang matahari terhalang awan hitam yang menebal. Tampaknya akan turun hujan. Beruntung aku ada dalam bus meskipun sesak. Karena nanti aku tak akan kehujanan.

Minggu kemarin aku pulang di jemput ayah melewati jalan yang sama dipayungi terik matahari. Kendaraan terus berlalu lalang, tak peduli pada panas matahari, asap kendaraan, juga debu-debu kendaraan dan kota yang membuat mata merah. Adalah hal-hal menyebalkan yang selalu kudapatkan jika bersepeda. Salah satu penyebab lapisan azon makin bolong dan menaikkan suhu panas bumi. Akibatnya es di kedua kutub bumi meleleh, menambah lautan makin luas dan luas daratan berkurang.

“Ngapunten mbak, ongkos!”, suara kondektur bus meminta ongkos, menyadarkan dari alam khayalku. Aku mengambil empat lembar seribuan dari dalam dompet.

“Matesih”, kuserahkan pada kondektur itu dengan senyum bersalah dan malu.

Aku kembali melihat keluar. Akhir-akhir ini hujan mulai sering turun, padahal sekarang bulan Juli. Menurut perkiraan dan pembagian musim, bukan waktu musim hujan untuk Indonesia. Harusnya masih kemarau. Entahlah, sekarang musim dan cuaca tak lagi bisa di perkirakan. Musim hujan jadi kemarau, dan begitu juga sebaliknya kemarau jadi hujan.

Menurut pakar agama, itu karena orang Indonesia banyak dosa lalu Tuhan marah menurunkan bencana. Adanya banjir yang melanda salah satu negara bagian Eropa, pendapat orang barat, merupakan tanda-tanda akan berlangsungnya perubahan musim. Aku sendiri tak tahu. Yang aku tahu alam mulai berubah, perubahan tanpa permintaan, tanpa kesadaran manusia dan tanpa tanggapan.

Di luar awan hitam makin tebal, seperti peringatan pada manusia bahwa hujan akan turun deras dan lama. Beberapa pedagang di pinggir jalan mulai memasukkan barang dagangan. Orang-orang mempercepat langkah untuk lekas sampai tujuan tanpa kehujanan. Dan aku beruntung berada di bus, sebab andaikan bersepeda motor dan menggunakan mantel aku belum tentu terhindar dari percikan air dan tak akan bisa perhatikan jalan dengan nyaman.

Beberapa wilayah kering yang kehujanan akan merasa senang dengan air yang berlimpah dari langit. Tanaman di ladang, sawah, dan kebun akan tersirami tanpa bersusah payah mencarikan air. Namun hujan yang mengguyur deras terus menerus di sertai angin kencang, bisa juga merugikan. Merusak padi siap panen, melongsorkan tanah miring diatas pemukiman penduduk, juga banjir besar. Kesemuanya menjatuhkan korban harta maupun jiwa. Bila musim hujan inginnya panas agar jemuran cepat kering. Jika yang berlangsung musim kemarau, inginnya cepat hujan supaya tak kepanasan dan gerah. Namun apapun yang berlangsung manusia hanya bisa berkomentar.

Pertanda hujan akhirnya terbukti, hujan langsung mengguyur deras. Jalan seketika basah. Disambut orang-orang dengan berlarian mencari tempat berteduh, pengendara sepeda motor berhenti untuk memakai mantel. Hujan berangin kencang siang ini disertai juga petir yang berkilatan dan suara halilintar beradu. Di depan sebuah toko yang sudah tutup, berdiri dua orang laki-laki dan perempuan. Terpisah tak terlalu jauh. Tiba-tiba suara halilintar menyambar keras. Aku jadi membayangkan, andai si cewek kaget mendengar halilintar lalu reflek memeluk si cowok. Mungkin si cewek akan memerah malu dan cowok tersenyum senang, atau malah cewek marah-marah meyalahkan cowok memanfaatkan kesempatan. Aku tersenyum geli membayangkannya.

Lampu merah menyala, bus berhenti. Di luar sana, ada beberapa bocah membawa botol minuman berisi deterjen bubuk. Lalu tanpa disuruh, di semprotkan ke kaca depan mobil yang berhenti. Pembersih kaca mobil otomatis bergerak membersihkan. Sementara bocah tadi mendekati kaca samping pengendara, menengadahkan tangan. Mengharapkan receh jatuh ke tangan atau lambaian tangan tanda tak ada. Mereka semua hanya bocah usia SD. Berpakaian lusuh dan basah kuyup menawarkan jasa, menembus hujan untuk beberapa receh uang. Bukankah mereka tanggungan pemerintah?. Mendapat jaminan keselamatan, kesehatan dan hidup dari pemerintah. Tapi, mengapa mereka ada di jalan saat hujan deras?, bukan di rumah berlindung pada selimut?. Hanya sekedar janji manis pada aturan tertulis dari mulut besar pemerintah, bukan suatu usaha untuk membuktikannya.

Dari balik kaca bus kota, aku melihat semuanya, hal yang mungkin sudah menjadi rutinitas. Semua berhasil menarik perhatianku. Mereka yang berbicara lantang meski aku tak dengar, duduk diam melamun, asyik dengan hp, atau kepolosan anak kecil yang sedang bermain. Mereka yang mengendarai sepeda motor, mobil, atau hanya bertumpu pada kedua kaki untuk menapaki jalan beraspal. Kesibukan yang kutemukan di manapun. Kepentingan masing-masing dengan barang-barang di tangan atau pikiran di tempatnya.

Pikiranku melayang pada bangsaku, tanah airku yang sedang berkembang untuk menjadi negara maju. Menempuh berbagai cara supaya di kenal sebagai negara hebat. Mengonsumsi berbagai barang-barang import, bukan menciptakan hal dan barang baru, untuk menambah devisa negara. Di tiap lamuananku tentang Indonesia, muncul semangat besar untuk mengubahnya, bermimpi bisa memajukan Indonesia. Menjadi negara adidaya dengan produksinya. Alam yang lestari, majunya pendidikan dan industri, serta social budaya yang terbina baik. Membangun pabrik barang elektronik sendiri yang lebih maju dari bangsa lain dan mempunyai cabang di mana-mana. Tapi aku akan memajukan pendidikan terlebih dahulu, karena nasib bangsa selanjutnya ada di tangan kepolosan anak-anak sekarang. Bermimpi.

Hanya mimpi mustahil dan harapan kosong. Semangatku selalu saja hilang tiap aku perhatikan jalan. Kejadian demi kejadian tanpa tanggapan. Beku tiada ekspresi, hati kesal sambil mengumpat berkomentar. Ada pikiran berontak pada semua kebijakan, ketidaksetujuan dari persetujuan, dan penuntutan atas penindasan. Semua harapan untuk perubahan berujung kecewa mendalam. Karena semua akan terus tersimpan dalam lemari khayal, imajinasi tak kesampaian. Tambahan pada dokumen peristiwa dan rasa jengkel untuk keramaian kota, polusi dari asap kendaraan, mencemari bumi dan udara, yang terus saja ada. Kota dengan kesibukan tanpa henti siang dan malam. Tanpa udara segar pagi yang memberi semangat untuk menyambut hari.

Sejujurnya aku lebih senang tinggal di desa. Kealamian bisa kutemukan di tiap sudutnya. Hijau daun, kerumunan pohon menjulang tinggi, warna-warni bunga mekar, sungai jernih yang mengalir deras, juga keramahan penduduknya. Alasan yang tetap tak bisa membuat aku tinggal di desa, ayah terlalu keras kepala. Namun, berhasil memberiku semangat pulang. Juga hasrat besar untuk menjaga kelestariannya. Tetap alami dengan hawa dingin tiap pagi, dengan keceriaan anak gunung tiap bulan purnama, kecipak air sungai, pemandangan elok pedesaan. Kerinduan menyeruak bersama hembusan nafas berat.

Kebanggaan yang akan selalu kubawa kemanapun. Desa tempatku tumbuh besar, tempat aku mendapatkan pelajaran tentang arti perjuangan, kebersamaan, kesedihan, dan keceriaan. Segala macam hal desa adalah kebanggan tersendiri dalam diriku dan tak akan pernah hilang. Meski tiada kepastian tempatku berpijak, akan selalu ada bayangan tentangnya. Keyakinan untuk kembali.

Aku menarik nafas, mencoba menghirup kealamian dari sepanjang perjalanan. Bus merangkak pada jalan menanjak naik. Jalan raya utama menuju terminal Karang pandan. Suasana pegunungan mulai terasa, dingin menembus kaca bus. Hujan diluar masih tercurah lumayan deras. Lelah yang kuderita selama perjalanan tersembuhkan oleh sambutan kealamian. Bus berhenti di terminal Karang pandan, untuk menarik perhatian orang dengan jasa tumpangan. Tak lama bus kembali berjalan menuruni jalan yang sama, kemudian berbelok keselatan menuju tempat perhentian terakhir. Pohon-pohon di sekitar jalan masih basah air hujan.

Perbedaan kota dan desa di sepanjang jalan sangat terasa. Keramaian Solo yang mungkin terjadi siang malam dengan jalan desa yang berkelok dan jarang kendaraan. Solo sudah begitu ramai apalagi kota besar lainnya. Andai kota-kota besar Indonesia masih alami dengan kesegaran, apa yang akan terjadi?. Mungkin Indonesia akan jadi negara paling alami di dunia, mungkin juga dunia akan berkata ‘Indonesia primitif’. Mimpi!. Tapi kalau semua mau, bisa saja. Indonesia alami tapi pendidikan masyarakatnya terjamin, kaya hasil ekspor alam, serta maju dalam bidang apapun dan tetap seimbang.

Bus bekelak-kelok mengikuti jalan pegunungan. Penumpang ikut bergerak ke kanan dan kekiri. Aku terjepit tubuh langsing seseorang yang duduk disampingku sejak dari Solo tadi. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“Sorry mbak, soale jalane ya kayak gitu, Aku sering berharap lho kalau ono perbesaran jalan supaya lebih gedhe dan nggak berkelok koyo itu, aku paling sebel lewat sini”. Aku hanya bisa tersenyum pada perempuan itu. Tampaknya perempuan kota.

“Kalau nggak terpaksa, aku nggak mau lewat sini, naik bus ini. Seharusnya pemerintah potongi aja pohonnya, di jual untuk buat jalan pintas dan perbarui bus agar lebih gampang atau buat apalah yang maju biar gampang.”

Aku tetap tersenyum menanggapi ucapannya, meski hatiku berontak. Baru saja aku berpikir melestarikan alam, ternyata orang di sampingku berpikir beda jauh. Bus berhenti di terminal Matesih, perempuan tadi turun setelah nerocos entah apa dari tadi padaku. Aku masih memikirkan kata-kata awalnya, aku melamun sejak naik bus hingga tak tahu bahwa ada orang berpikiran lain denganku. Hujan sudah tak terlalu deras, ada kubangan-kubangan air di depan, juga tetesan sisa air hujan. Aku melangkah pulang kedesa, untuk melepas kerinduan bercengkrama dengan alam. Tentang semua khayalanku, mungkin tidak ya?.(khoko_ir@yahoo.com).

Matesih, 06 Juli ’07 / 22.59
Untuk semua mimpi menjelma kenyataan

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir