Selasa, 02 November 2010

Melodrama Berkalung Gender

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

SAAT novel Abidah el-Khalieqy [AeK], Perempuan Berkalung Surban [PBS], difilmkan dan siap direlease di bioskop-bioskop Indonesia baru-baru ini, saya merasa tertantang untuk menyaksikan sejauh mana ide resolusi jenderiah AeK itu bisa tergali. Kenapa? Karena, pada dasarnya, novel PBS ini bertumpu di cerita melodrama wanita pesantren salafiah kecil di pedesaan Sundoro [baca: tak lebih dari 100 km dari Yogyakarta, PBS hlm 39], yang dikungkung ajaran fiqih yang bersumber penafsiran Hadis dan Qur’an yang teramat bersipat patriarki, dan kemudian tercerahkan karena berkemauan mengubah persepsi fiqihiah itu - dengan bantuan seorang ustad modern berpendidikan Gontor, al-Azhar Kairo dan universitas sekuler Berlin.

Ada aspek melodrama yang sesuai dengan selera sinematografi Indonesia, malah sangat melodramatik idealistik karena kisah si tokoh perempuan [Annisa] itu dimulai dari masa kecilnya di desa yang lugu dan berbumbu cinta platonik pada sang paman -yang ikatan muhrimnya amat lemah -, diselingi pernikahan muda yang penuh dengan kekerasan rumah tangga yang meningkat sampai pada level teror psikologik karena ia dimadu dan istri kedua masuk ke rumahnya - hingga secara platonik ia terus berzinah dengan kekasih masa kecilnya -, dan ditutup dengan perceraian berdasarkan hak wali atas anak yang disia-siakan suami - dengan puncak kebahagiaan kuliah, jadi si aktipis jender berbasis agama, dan single parent karena suami idamana direngutkan cemburu suami pertama. Lengkap dan potensial berkelimpahan air mata.

Amat kaya dramatik meski kekuatan utama novel itu adalah penjajaran kasus-kasus jender [baca: kodrat keperempuanan yang dikekalkan secara sosial dan budaya demi keuntungan kaum lelaki]. Di masa kecil, yang menempatkan anak lelaki sebagai mahluk merdeka tanpa tanggung jawab sebelum tahap baliq dicapai dan perempuan yang harus terkurung di rumah dan latihan pengabdian di dapur; lantas meningkat jadi inklusifisme perempuan tak boleh ke mana-mana karena di luar rumah itu ada bahaya lelaki non-muhrim yang jahat yang tak mampu direduksi oleh pemakaian jilbab; dan ditutup oleh kutukan hanya bisa pasrah saat menerima dominasi lelaki asing [suami] yang tiba-tiba jadi berhak penuh memperlakukannya sebagai punggawa dapur dan obyek pemuasan seksual sepihak. Dan dengan bagaimana upaya pembebasan, sebagai individu yang dikutuk pernikahan syahwatiah itu, tergantung dari kemauan walinya untuk memperjuangkan haknya sebagai manusia utuh. Jadi tidak heran kalau PBS ini disponsori Yayasan Kesejahteraan Fatayat [YKT] Yogyakarta, Ford Foundation dan Yayasan Galang.

* * *

HAKEKAT novel PBS itu dakwah dan bukan cerita melodramatik - yang akan fenomenal sebagai genre hiburan terkini saat dieksploitasi dalam gaya film Bernafas dalam Lumpur. Tapi apa Hanung Brahmantio dan pihak produser mau mengkristalkan yang verbal itu demi menunjukkan gejala kemunculannya kesadaran baru di kalangan santri wanita, yang bahkan hanya berpendidikan salafiah pesantren pinggiran? Yang menandaskan kalau pendidikan sekuler di satu sisi, dan buku serta ilmu non-Islamiah yang mungkin berbasis dari ajaran dan penulis non-Islami dan bahkan nonagamawi itu amat dibutuhkan untuk membentuk manusia baru, yang lebih cerdas, lebih toleran dan lebih Islami. Meski mengembangkan aspek humanitas dengan basis kebudayaan Arabik dari semanajung Arab dan pesisir utara Afrika bukan hal yang mustahil. Ada spirit counter culture bagi model humanisasi yang terlalu Amerikanistik westrenis - dan dicurigai sebagai penyeragaman dan reduksi budaya lokal oleh penganut postmo.

Tapi mungkinkah aspek counter itu dieksplisitkan dalam film PBS? Bagaimana logisnya ide progresif kaum postmo itu akan terus terantuk oleh tradisi yang tertanam lama. Jadi bukan kebetulan ketika dengan sadar AeK memulai novelnya dari milieu pesantren salafiah kecil di pinggiran, dari anak perempuan kiai kampung yang harus ditundukkan oleh penentuan pola jender model kampung, dari anak perempuan yang baru lulus SD yang dipaksa melayani nafsu lulusan PT dalam ikatan pernikahan yang dipaksakan pihak orang tua si lelaki sebagai tamba ati bagi anak kiai kampung lain - yang murshal. Tapi mungkinkah kemurnian jadi obat kesesatan syahwat yang dimulai dari kegemaran sang mertua mengoleksi gambar porno? Tapi mungkinkah kekanakan tanpa prasangka bocah lulusan SD bisa menghadapi syahwat lelaki gorila-yang legal karena ada ikatan perlawinan-? Adakah keberanian terus terang mengkomunikasikan kekerasan seksual dalam RT itu, yang sah menurut acuan pernikahan dan wajar dalam logika patriarki, bisa dianggap heroisme dan bukan ketidakmampuan istri menerapkan acuan fiqih yang mengajarkan pengabdian dan pasrah?

Ada pontensi clash. Ada potensi benturan antara Islam tradisional, yang dengan sadar menutup diri dari tafsir modern tentang subordinasi wanita di kerajaan patriarki; dengan Islam modernis, yang menempatkan perempuan sebagai sesama yang sejajar dan sederajat - sehingga mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menentukan kapan menikah dan dengan siapa, kapan ingin bercinta dengan suami dan punya anak dengan mempertimbangkan semua aspek kebutuhan individualistik. Itu pasti dianggap ide liberal yang teramat wanitasentris, yang harus segera dipatahkan sebagai bias ilusi ego dengan senantiasa merujuk kitab kuning klasik, dan sekaligus menempatkan para penyokong dan pengamalnya sebagai alien yang datang dari khazanah budaya Barat - teracuni buku dan film dan Barat yang tak berguna karena tak merujuk Qur’an [lihat, PBS hlm 82, yang menutup diskusi tentang bolehnya inisiatif berhubungan dari pihak istri karena semua wanita disosialisasikan menunggu secara jenderiah, dan tergantung dari selera lelaki yang secara kultur jenderiah tak suka wanita agresif].

* * *

MUNGKIN film PBS dianggap pantas untuk jadi counter culture film Ayat-Ayat Cinta - sebagai teks PBS lebih dulu terbit, 2001. Tapi melodramanya AAC bertumpu pola sinatria lelananging jagat, Arjuna versi Islam, yang senantiasa menahan diri dan tapa ngrame di tengah godaan banyak perempuan dan cobaan berat. Mencocoki selera patriarki yang kuat tertanam pada benak lelaki dan perempuan Indonesia. Sedang PBS bertumpu pada pada spirit Srikandi dan Arimbi. Di mana Srikandi berorientasi kepada usaha jadi sama perkasanya dengan lelaki, dalam tata berkelahi - meski kemudian ia memilih subordinan di bawah Arjuna -, sementara Arimbi berorientasi kepada jadi usaha untuk lebih yang pasrah mengabdi sehingga ujud raksasa bermetamorfasa jadi istri ideal. Dengan kata lain, PBS itu bertumpu pada upaya seorang Annisa, alter ego AeK, jadi Srikandi sementara lingkungan mengharuskan jadi Arimbi. Bagi beberapa pihak terlihat wajar - karena akhirnya ia tetap subordinan di bawah Arjuna, di bawah lek Khudori - tapi bagi sebagian pihak tetap terasa saru melabrak tabu.

Lantas bagaimana film PBS mensiasati itu? Kita curiga, yang dieksploitasi cuma aspek melodramatik, kemasan cerita dan bukan ide gendernya - padahal itu hakekat novel PBS, kontroversi dakwah yang mengganggu ketentraman dituntun fiqih yang telah mengakar jadi tradisi berkeluarga di desa. Di titik ini, semoga film PBS ini lebih mendorong banyak pihak membaca novel PBS seperti film AADC memicu gandrung baca skenario biografi Chairil Anwar versi Syumanjaya, Biantang Jalang. Semoga.***

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir