Kamis, 07 Oktober 2010

Mual

Gde Artawan
http://www.balipost.com/

Tiga bulan terakhir ini aku merasakan kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Aku merasa mual. Sungguh. Tidak lantaran kondisiku yang agak terkuras setelah menjadi pengantin baru, bukan pula lantaran Leny — wanita kampung biasa-biasa saja yang kini jadi istriku — hamil, tidak. Rasa mual ini menghantamku secara membabibuta tanpa aku diberi penjelasan yang komprehensif, paling tidak secara nalar dapat dirunut sebab musababnya.

TERKADANG aku pasrah dengan kondisi yang kau derita tanpa mencoba mencari latar belakang penyebabnya. Terkadang aku percaya bahwa kodrat bisa seenaknya menari-nari di tengah kebingunganku membaca gelagatnya. Tapi dalam rentang waktu yang tidak jauh berselang, aku berontak terhadap kondisi yang menerpaku: mual. Aku berontak dengan mencoba kemampuan inteligenku mencari tahu penyebab aku mual dan mencoba mencari penawar agar rasa mual itu bisa hilang.

Aku tak gampang menyerah. Untuk persoalan mual ini, kecuali sikap menyerahku pada Leny yang akhirnya mampu menutup perjalanan malang melintang petualanganku sebagai bajingan perempuan. Aku tantang setiap oknum yang mengalirkan rasa mual itu ke tubuhku. Oknum itu mungkin alam, mungkin manusia, atau kekuatan supranatural sekalipun. Aku tantang jika ternyata ada latar belakang atau kepentingan apapun yang mendasari dihujamkannya rasa mual itu ke tubuhku.

Jika ada konfigurasi terstruktur hingga rasa mual itu dengan sukses masuk ke tubuhku, aku tantang agar konfigurasi itu skalanya dimaksimalkan dan ditingkatkan lagi kadar mual yang menderaku. Hasilnya tetap nihil. Aku berada pada jalur yang dilematis. Saat aku pasrah, rasa mual itu makin menjadi-jadi menggelayuti perutku; ketika aku berontak, rasa mual itu tetap saja dengan keperkasaannya menunjukkan sikap arogan bahwa dia tak tergoyahkan apalagi terkalahkan. Aku mual.

Mula-mula aku merasa mual dengan lingkungan rumahku. Setiap aku melihat pepohonan perutku terasa mual ingin muntah. Aku tak tahu penyebabnya mengapa setiap kali aku melihat pepohonan perutku muat. Semula aku berpikir barangkali letak pepohonan yang menimbulkan kesan monoton perlu dilakukan penataan ulang, atau semacam reaksi represif dari pepohonan itu dalam wujud protes agar dilakukan reorganisasi menyeluruh. Aku mencoba menata ulang pepohonan di halaman rumah, semacam mutasi lokal. Aku atur letaknya, sebagian aku tata, aku kurangi, aku lakukan pergantian wadah: tanaman yang semula ada dalam pot aku pindahkan ke tanah pekarangan, sebaliknya pepohonan yang bisa aku pindahkan ke dalam pot aku tempatkan dalam pot.

Hasilnya tetap nihil, aku tetap mual. Selanjutnya aku babat habis pepohonan di halaman rumah. Kepada istriku yang terbengong-bengong melihat tindakanku membabat pepohonan, kujelaskan bahwa untuk terbebas dari rasa mual yang menyerangku aku harus membabat habis pepohonan di halaman rumah. Istriku cukup bijaksana memaklumi sikapku. Paling tidak dia tidak mengajukan keberatan atas tanaman yang sangat dicintainya berserakan menjadi patahan dahan, ranting, dan daun-daunnya. Aku sempat teringat penyair Umbu Landu Paranggi yang menyitir perkataan almarhum Reneng, ”mencintai pepohonan berarti kita sehat”. Sekarang aku sakit, bang Umbu. Melihat pepohonan aku mual, makanya aku babat habis pepohonan di halaman rumah agar aku bisa merdeka dari rasa mual. Tapi tetap saja rasa mual itu menderaku.

Rasa mualku kian menjadi-jadi. Makin hari makin menjalar pada objek dan sasaran yang lain. Jika semula aku hanya mual pada pepohonan, episode selanjutnya aku mual pada aktivitias yang lain, membaca koran misalnya. Setiap kali aku membaca koran, aku merasa mual. Aku merasa mual membaca berita tentang negeri Indonesia yang menunjukkan prestasi sangat lumayan di peringkat negara terkorup. Hampir-hampir di depan umum aku muntah ketika baca koran yang memberitakan hasil temuan BPK tentang APBN 2002 yang mengalami kebocoran sampai 62,9 trilyun rupiah. Aku juga merasa mual membaca situasi politik yang carut-marut, kondisi ekonomi, kondisi sosio-kultural, sampai-sampai kehidupan religiusnya yang mengalami degradasi. Aku juga mual mendengar berita melalui media elektronik. Aku merasa mual memirsa adegan di televisi saat mahasiswa digebuki aparat kepolisian ketika melakukan demo, padahal tahun 2003 dicanangkan sebagai tahun tanpa kekerasan.

Aku lari, lari menghindar dari sajian informasi media cetak dan elektronik. Aku takut kalau rasa mual itu pada akhirnya membuat aku menjadi sakit dan tak berdaya. Aku datangi kawan-kawan lama, kawan-kawan seniman yang sering aku ajak bicara soal keindahan, bicara tentang kenikmatan kata yang merasuk ke hati memberi kesegaran luar biasa. Aku dahaga siraman kreatif air kesenian yang menyebabkan aku segar, bebas dari rasa mual dan menjadi manusia sehat, manusia penuh ketenangan tanpa diperbudak dan dijajah rasa mual berkepanjangan. Aku harap dengan menjumpai mereka muncul inspirasi baru agar aku bisa kembali kreatif mencipta, paling tidak terbebas dari rasa mual.

Malam itu kebetulan ada undangan salah seorang rekan seniman baca cerpen. Aku ingin memberi suasana baru bagi perjalanan berkesenianku. Aku ajak istri untuk datang menyaksikan acara baca cerpen itu — selama ini aku tak pernah melakukannya. Aku bayangkan dahaga akan cipratan air kesenian dan bertemu rekan-rekan lama akan membuatku menjadi segara bebas dari rasa mual.

”Setelah kita kehilangan pepohonan, kita masih punya kesenian, Leny,” kataku pada istriku ketika ia bertanya ke mana tujuan kami malam itu.

Aku terhenyak di depan pagar halaman tempat acara baca cerpen dilaksanakan. Istriku dengan segera memaklumi kondisiku.

”Mual, Pa?”

Bukannya cipratan air segar kesenian yang menyiramku, tapi semacam air limbah yang tak jelas unsur-unsurnya dan membuat aku terhempas ke dalam rasa mual seperti sediakala. Ah, aku tak menyerah, barangkali itu semacam hembusan angin jahat yang mencoba menggoyahkan spirit apresiasiku pada peristiwa kesenian. Rasa mual aku anggap menjadi semacam provokator yang ingin memisahkan aku dari dunia yang sempat menafasiku. Aku menyeret langkah memasuki aula disertai istriku. Aku mengambil posisi duduk yang strategis dimana aku bisa menonton peristiwa kesenian malam itu.

Acara belum dimulai, tetapi rasa mual itu makin menjadi-jadi. Aku merasa mual melihat rekan-rekan yang bergaya sibuk mempersiapkan acara. Aku merasa seakan-akan berada dalam sebuah pasar dimana ada transaksi jual beli, paling tidak jual beli pengakuan untuk tetap disebut sebagai seniman, walaupun sudah tak berkarya lagi. Hampir satu jam aku bertahan dengan rasa mual — hampir-hampir berubah menjadi muntah, acara kesenin yang kutunggu-tunggu belum dimulai. Jika pun muncul dialog yang mengawali acara malam itu, bagiku tak lebih hanya klangenan semata, penuh basa-basi ekspose masa lalu dalam lingkaran pertemanan: tak ada substansi yang menyangkut peristiwa kesenian yang memberikan sinergi untuk membuat aku bisa bertahan di aula itu.

Kecenderungan untuk ngomong lebih dominan daripada keinginan untuk mendengar. Substansi dari acara malam itu sesungguhnya adalah mendengar rekan baca cerpen, tidak saling silang berbicara menggelindingkan teori sepotong-sepotong tentang sastra yang sebenarnya telah diberi ruang sangat terhormat di luar ruang kesenian malam itu. Kesempatan emasku untuk bisa mendengar telah dirampas rekan-rekan malam itu. Kesempatan untuk bisa merasuk ke dalam ”dunia” rekaan yang terakumulasi dalam cerpen yang akan dibaca seorang rekan telah terang-terangan dirampok oleh orang-orang yang petantang petenteng bergaya pegiat kesenian. Ini menambah kualitas rasa mualku. Sebelum rasa mual berevolusi menjadi muntahan isi perutku, aku seret istriku untuk pulang, sekalipun hujan turun cukup deras. ”Pulang?” istriku hanya sekadar meminta ketegaran sikapku. ”Kita tidak lagi memiliki kesenian, Leny! Mereka telah membabat habis areal kesenian kita,” jawabku tegas.

Tanpa penjelasan apapun istriku cukup bijaksana untuk mengikuti kemauanku.
Aku pulang didera hujan dan rasa mual yang menjadi-jadi. Di rumah aku tak kuasa menahan rasa mual yang sangat tidak mengenakkan. Aku berusaha muntah agar sedikit terbebas dari rasa mual, hasilnya tetap nihil. Esoknya aku pergi ke dokter. Aku terkejut ketika dokter mengatakan aku tak apa-apa. Dengan tenang dokter mengatakan kalau aku sehat walafiat. Bah, aku mulai curiga ternyata rasa mual yang menderaku telah memiliki jaringan yang cukup luas. Ia bisa mengakses relasi dengan dokter, sehingga dengan tanpa beban sedikitpun dokter mengatakan kalau aku sehat walafiat. Dokter telah mengkhianati kemanusiaanku, paling tidak mengkhianati keberadaan yang sesungguhnya. Diagnosa yang mengarah pada simpulan aku sehat memberi kontribusi yang sangat signifikan bagi kualitas rasa mualku.

Ya, Tuhan aku mual sementara orang mulai tak mempercayaiku. Aku mulai curiga pada setiap orang yang kujumpai. Jangan-jangan telah terjadi konfigurasi tingkat tinggi yang menjerembabkan aku ke jurang rasa mual yang lebih dalam. Aku hampir saja melaporkan hal ini ke polisi. Kemanusiaanku terancam. Rasa mual telah menyebarkan perasaan tak enak, hingga secara pidana dapat dituntut di muka hukum. Ini membuat aku menjadi semacam barang rongsokan yang tak memiliki daya untuk melakukan apa saja. Aku menjadi manusia yang tak produktif.

Aku tambah terkejut ketika istriku merespon agak keras keinginanku untuk lapor polisi. Dan kami sempat bersitegang, istriku menganggap niatku lapor polisi sebagai tindakan konyol. Bah, ternyata rasa mual itu telah mempengaruhi istriku dan bersama-sama dokter istriku telah berkolaborasi untuk menampik kondisi realku tentang rasa mual. Harga diriku terhempas, keberanian istriku untuk menentangku kuanggap sebagai isyarat mulai kehilangan kesetiaan, kehilangan komitmen untuk menjadi teman hidup terbaik suka dan duka. Jika aku lapor polisi, akupun sangsi jangan-jangan polisi pun berkolaborasi dengan dokter dan istriku untuk sama-sama menyatakan aku sehat-sehat saja. Aku mulai merasa mual pada dokter, polisi dan istriku.

Aku berharap datang pada tokoh spiritual atau ke paranormal sekalipun. Dalam teropong mata batin, dalam teropong secara niskala tentu akan diperoleh jawaban yang menyejukkan tentang si mual tersebut. Tapi, aku mulai didera sikap krisis kepercayaan kepada siapa saja. Keinginan itu aku bunuh diam-diam.

Malam tilem kaulu — saat bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus, yang dikenal dengan bulan gelap penuh — aku merasakan hatiku gelap gulita bercampur dengan rasa mual yang luar biasa. Di kamar aku sendiri tertelungkup lalu rebah dan berguling-guling. Istriku sudah tujuh hari pulang ke Sudaji karena aku agak keras memarahinya saat kami bersitegang. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing, tubuhku gemetaran dan tulang-tulangku serasa rontok. Aku sempat berpikir jika ternyata rasa mual itu tidak saja berkolaborasi dengan dokter, istriku, polisi, tetapi sudah berkolaborasi dengan penyakit penyakit yang lain.

Aku mengerang memanggil-manggil istriku, kenapa ia tidak ada di sampingku ketika aku butuh seseorang yang bisa mendengar eranganku. Aku berguling-guling menahan rasa mual dan rasa sakit yang lain. Kolaborasi rasa mual dan rasa sakit yang lain membuat aku merasa telah kehilangan kesejatian tubuh. Aku melihat samar-samar sesosok tubuh lelaki hampir separuh baya berperawakan gemuk, agak pendek, berguling-guling mengerang kesakitan. Dalam erangannya muncul suara seakan-akan ia memanggil-manggil sesuatu. Dari berguling-guling kulihat ia mangambil posisi duduk bersila, sama-sama pula kedua tangannya mengambil posisi mudra, lalu tercakup jadi satu di atas ubun-ubun.

Lama-kelamaan aku seperti mengenali sosok tubuh yang duduk bersila sambil mengerang itu. Aku dan sosok yang kukenali itu mengerang secara bersama-sama, duduk dalam posisi yang sana. Cakupan tangan menembus langit-langir kamar, langit jagat raya semesta. Erangan yang muncul secara bersama-sama dengan irama, tempo, nada, diction yang sama seakan musik hening yang menembus kepekatan tilem kaulu. Di tengah kepekatan malam itu, aku secara samar-samar bisa mengenali wajah sosok lelaki separuh baya itu.

”Beli Gede?” sosok tubuh di depanku seakan bertanya ragu.

Di tengah campuran rasa mual dan rasa sakit yang menjadi-jadi, aku mengangguk, dan tiba-tiba kami bisa tersenyum. Lalu begitu senyuman telah menggumpal banyak, meledaklah jadi tawa lantang. Ya, kami sama-sama tertawa di tengah di tengah kepekatan malam tilem kaulu, di tengah kebersamaan didera rasa mual dan sakit yang tak jelas kapan berkesudahan. Kami terus tertawa, tertawa, menertawakan diri masing-masing.

Maret 2003

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir