Jumat, 10 September 2010

Alquran dan Hermeneutika Inklusif

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.co.id/

NUZULUL Quran adalah hari di mana kalam Tuhan turun ke bumi melalui Nabi Muhammad yang berperan sebagai mediator. Sebuah proses yang ajaib; firman Tuhan yang gaib dan transenden menjelma ke dalam bentuk imanen, yakni teks yang berisi kalimat sakral dan memiliki nilai sastrawi yang amat tinggi.

Alquran ada untuk manusia. Memang ia adalah sebentuk teks yang menempati posisi tertinggi dalam hierarki teks-teks pedoman umat Islam. Tapi, posisinya yang tinggi tidaklah bersifat eksklusif, melainkan inklusif. Alquran sangat terbuka untuk berbagai corak pemaknaan dan penafsiran.

Selama ini sudah banyak muncul kegelisahan yang menyatakan bahwa akar problema terbesar dari kemunduran peradaban Islam berkaitan dengan bagaimana umat Islam berhubungan dengan kitab sucinya itu. Alquran sering diposisikan secara eksklusif, tidak sembarang tangan dan pikiran boleh menyentuh dan menafsirinya.

Meminjam istilah Zuhairi Misrawi (2003), umat Islam cenderung berhadapan dengan Alquran secara monolog dan bukan dialog. Akibatnya, mayoritas umat Islam merasa cukup qurani dengan cara melafalkan dan menghafal Alquran saja. Dalam hal mengaplikasikan ajaran Alquran, umat Islam cenderung tekstualis dan skripturalistik semata. Monologisme itulah yang mempersempit pintu pemaknaan Alquran. Sebab, keterpakuan terhadap teks membuat manusia miskin akan pengalaman metateks atau miskin pemahaman makna transenden di balik teks.

Maka, kontekstualisasi penafsiran Alquran menjadi hal terpenting yang perlu terus dilakukan dan diperbarui tanpa henti sejalan dengan gerak realitas kultur yang juga rentan dengan perubahan. Tradisi hermeneutika Alquran yang dinamis, kreatif, dan membebaskan merupakan sarana utama untuk itu. Dan, kejumudan peradaban Islam dalam segala segmennya itu merupakan manifestasi kejumudan tradisi hermeneutika Alquran.

Golongan kaum muslim tertentu yang bersikap tertutup terhadap pembaruan tafsir Alquran biasanya cenderung fanatik terhadap tradisi tafsir Alquran periode awal, tradisi para sahabat, imam, dan ulama terdahulu. Padahal, dari dulu pun polemik ushul fiqih -yang tidak lain merupakan diskursus filosofis hermeneutika Alquran- sering terjadi. Konflik hermeneutika merupakan sebuah keniscayaan dalam kesejarahan Alquran sebagai poros sejarah umat Islam, dan suatu kenaifan apabila umat Islam justru menolak perbedaan (ikhtilaf) dalam mazhab-mazhab penafsiran. Bukankah Nabi sendiri bersabda bahwa perbedaan adalah rahmat karena di dalamnya terkandung hikmah.

Alquran Kauniyah

Barangkali yang selalu lupa untuk disadari oleh umat Islam, Alquran adalah bagian dari kebudayaan manusia. Ada semacam ketidaksadaran kolektif tertentu dalam diri umat Islam untuk takut melihat Alquran sebagai suatu bentuk imanen dalam kehidupan berbudaya kita. Alquran rasanya harus selalu terpisah dari kehidupan duniawi yang hiruk pikuk dan banal. Padahal, Alquran tidak mengambang di angkasa. Ia ada dalam hiruk pikuk kehidupan sosial kita yang pahit dan cadas. Ia ada dalam setiap sudut semesta. Bahkan, ia ada dalam kegelapan.

Alquran bukanlah semata ayat-ayat qauliyah sebagaimana yang tertuang dalam teks (scriptura) kitabnya. Alquran adalah ayat-ayat semesta. Bagi kaum ilmuwan sains alam (natuur wizkunde), anasir alam semesta adalah Alquran. Bagi kaum ilmuwan sosial, realitas masyarakat dan kebudayaan adalah Alquran yang harus senantiasa dibaca dan disikapi dengan bijak. Demikian seterusnya.

Bila kita kembali melihat sejarah Nuzulul Quran, tampaklah umat Islam saat itu mengalami pencerahan dengan datangnya sebuah kitab yang mampu menjawab pelbagai problematika umat. Alquran telah menjadi teks yang memetakan persoalan sosial umat muslim Arab secara objektif, sekaligus memberikan solusi serta nilai idealitas yang perlu dicapai masyarakat ke depan. Alquran menjadi das sollen bagi kebudayaan masyarakat saat itu.

Di situlah kita bisa melihat bahwa ayat qauliyah, ayat kauniyah, dan realitas kultur manusia secara ontologis merupakan suatu kesatuan siklikal yang saling melengkapi satu sama lain. Memang, di antara ketiganya terdapat paradoks yang kelam. Namun, justru di situlah tugas manusia sebagai khalifatullah untuk selalu bergerak mengharmonisasikan ketiganya.

Merayakan Tafsir

Agama adalah akal, dan tidak ada agama bagi yang tak berakal. Manusia dalam fitrahnya merupakan makhluk yang berakal. Akal berarti kesadaran inteligensia manusia yang termanifestasi dalam bentuk kognisi dan mental. Dalam membaca Alquran, mental dan kognisi bergerak aktif. Maka, tentunya tepat bila setiap tindak pembacaan teks dimaknai sebagai penafsiran. Membaca adalah ”menuliskan ulang” dalam bahasa mental dan bahasa pikir sang pembaca (Komaruddin Hidayat: 2003). Karena itu, salah satu fitrah manusia adalah ”the interpreter being”, makhluk penafsir.

Yang menjadi problematika tradisi tafsir dalam umat Islam adalah tugas penafsiran sering dihegemoni oleh kelas elite semata. Mufasir merupakan kelas sosial elite yang juga sering bersifat eksklusif. Padahal, pada konteks sejarah, kelas mufasir terbentuk karena kebutuhan sosial saat itu yang menuntut demikian. Jumlah masyarakat yang awam akan Alquran dan ilmu pengetahuan sangatlah banyak sehingga menuntut adanya pengorganisasian terhadap kelompok mujtahid-mufasir. Dengan begitu, mereka lebih mudah dalam mendistribusikan pengetahuan kepada umat.

Namun, di zaman yang sudah canggih dalam segi teknologi, informasi, serta ilmu pengetahuan ini, masyarakatnya juga cerdas. Karena itu, setiap orang harus diberi kebebasan dan hak untuk melakukan penafsiran personalnya atas Alquran. Sebab, setiap orang adalah mujtahid bagi dirinya sendiri.

Jangan khawatir akan munculnya sekte-sekte yang melenceng. Sebab, dengan strategi dialogis yang baik dan efektif, hal-hal yang dikhawatirkan itu akan bisa diselesaikan dengan tuntas. Apalagi, semakin hegemonik kelas mufasir mainstream dan semakin gencar represi terhadap hak menafsir, kesesatan justru akan semakin banyak bermunculan. Sudah saatnya kita mereformasi posisi kelas mufasir dalam tubuh masyarakat kita hingga dia menempati posisi yang demokratis dan mencerdaskan.

Kiranya, Nuzulul Quran menjadi momen yang tepat bagi masing-masing individu umat untuk merayakan kedekatan dengan Alquran secara personal itu. (*)

*) Esais, studi di Prodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir