Kamis, 05 Agustus 2010

Bahasa yang ‘Diimani’ dan yang Terkapar

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Sastra adalah ruang penciptaan, eksplorasi, dan pembunuhan bahasa. Kodrat ini memungkinkan penulis dan pembaca mengalami bahasa dengan perbedaan ideologi, etnis, agama, atau latar sosial-kultural. Bahasa dalam sastra memberi dan meminta untuk menentukan posisi diri dalam belantara wacana dan proses pembentukan atau keruntuhan negara.

RELASI bahasa dan negara ini lahir belakangan tapi lekas menjadi patokan. Bahasa pun menjadi ekspresi harga diri atau martabat. Sastra menanggung beban itu kendati bakal muncul sekian dilema dan kontradiksi dalam pengalaman bahasa di negeri multikultural.

Sastra dengan bahasa Indonesia di negeri ini seperti biografi kesakitan. Biografi ini kerap mengandung luka politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kultural karena sejarah panjang pembentukan bahasa Indonesia. Bahasa ini lahir dari keriuhan wacana dan praktek kolonialisme. Pembacaan sejarah bahasa memang meletihkan karena terletak jauh di ujung ingatan ketimbang sejarah pembentukan negara. Bahasa Indonesia dalam urusan ini masih remang-remang karena memerlukan sorotan atas peran sastra dan jurnalistik sejak akhir abad XIX. Benih-benih pembentukan bahasa Indonesia disemaikan dengan pertentangan, kompromi, atau konsensus.

Penghormatan atas sejarah bahasa memang kurang terasakan ketimbang kegandrungan mengurusi sejarah Indonesia sebagai negara-bangsa. Hal ini membuat pelacakan identitas kultural, pengenalan diri, dan afirmasi atas multikulturalisme kurang bisa direalisasi secara utuh. Bahasa Indonesia justru mendekam di gudang tua atau disembunyikan di bawah ranjang. Kondisi ini tidak terselamatkan oleh pengajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia dan program-progam penyuluhan. Bahasa Indonesia justru mengalami pembatuan dan kurang memiliki greget untuk pembaruan.

Sejarah

Afirmasi dan antusiasme untuk mengurusi sejarah bahasa Indonesia membuat orang sadar atas biografi Indonesia dalam tautan-tautan konstruktif. Bur Rasuanto (1981) mengungkapkan bahwa memahami Indonesia tidak bakal sahih jika sekadar dimulai sejak 1945 dalam peristiwa Proklamasi. Rasuanto justru mengatakan, “Indonesia tidak lahir melalui perang-perang gerilya. Indonesia lahir lewat sajak-sajak, lewat novel-novel, lewat tulisan-tulisan Bung Karno, lewat karya-karya musik, lewat ciptaan-ciptaan Wage Supratman, lewat tulisan-tulisan (Muhammad) Yamin dan lain-lain—itu Indonesia. Kalau saya berbicara demikian, yang saya maksud sebenarnya adalah kebudayaan Indonesia. Ekspresi formal pertama Indonesia itu adalah bahasa Indonesia. Indonesia pertama-tama lahir bukan sebagai bangsa, apalagi sebagai negara, melainkan sebagai kebudayaan.”

Kesadaran Indonesia melalui kepemilikan pengetahuan fondasi dalam bentuk ekspresi kultural memang kurang digandrungi. Indonesia terlalu sesak dengan sorotan-sorotan politik tapi abai dengan eksistensi negara oleh topangan dari pelbagai ekspresi kultural melalui olah bahasa. Peran bahasa dalam hal ini merupakan kunci dari pewartaan dan pembentukan konsep. Olah bahasa dalam sastra atau jurnalistik pun lekas menyebar untuk proses pembuatan konsensus atas nama nasionalisme, kemelayuan, atau Indonesia. Takdir bahasa ini pun memberi arti besar untuk afirmasi imajinasi bangsa dan utopia Indonesia sejak awal abad XX karena peran kalangan sastrawan, jurnalis, dan intelektual. Bahasa Indonesia lahir dan tumbuh untuk ikut menentukan Indonesia.

Bahasa dalam otoritas kepengarangan di Indonesia merupakan sambungan dan penentuan jalan berbeda untuk mengatakan Indonesia dan lain-lain. Pembacaan atas kontribusi pengarang dalam memerkarakan bahasa Indoensia memang memerlukan intensitas. Perhatian ini tak mungkin sekadar diarahkan pada stilistika, linguistik, atau diacukan pada pembakuan baik dan benar. Produksi teks-teks sastra adalah produksi bahasa tapi masih memerlukan mekanisme lanjutan dari interaksi dengan pembaca. Pemunculan makna dan imajinasi atas Indonesia bergantung pada intimitas dan permainan otoritas penulis atau pembaca.

Peran bahasa Indonesia dalam naungan politik memang telah terasakan sejak pemberlakuan pelbagai kebijakan masa kolonial sampai hari ini. Kebijakan-kebijakan politik mengandung potensi untuk menghidupi, mengembangkan, dan mematikan kodrat bahasa atau jalan takdir para pengarang untuk ikut mengonstruksi Indonesia. Politik seperti jadi tuan tapi kerap lupa diri dan mau menang sendiri. Inilah ironi bahasa Indonesia dalam ketidakberesan melakonkan politik dengan adab dan keterbukaan tanpa trompet kematian. Suara keras dari politik kadang membungkam pengarang dan produksi teks sastra. Bahasa Indonesia dalam olah estetika itu menjelma musuh untuk dibasmi atas nama konstitusi, hantu keresahan sosial, atau momok untuk stabilitas politik.

‘Keimanan’

Barangkali kasus Joseph Brodsky bisa dijadikan contoh atas kepemilikan bahasa ketimbang tunduk dengan imperatif politik. Peraih Nobel Sastra 1987 dari Rusia ini memilih meninggalkan negara tapi dengan puja atas kepemilikan bahasa. Pilihan ini seperti takdir hidup dalam teror kematian. Brodsky dalam sebuah surat untuk Brezhnev menulis: “Bahasa lebih tua dan penting ketimbang negara. Saya merupakan bagian dari bahasa Rusia. Walaupun saya kehilangan kewarganegaraan Uni Soviet, saya tak akan pernah berhenti menjadi penyair Rusia. Saya rasa saya akan kembali suatu saat kelak.”

Kasus dilematis Brodsky itu mungkin pelik untuk dimengerti dalam kepentingan menempatkan posisi para pengarang di Indonesia dalam memandang bahasa dan negara. Brodksy adalah korban politik tapi tak mati karena memunculkan heroisme bahasa. Kesadaran historis bahasa adalah awal ketimbang negara tentu menjadi modal untuk kompetensi menyuarakan pelbagai hal dengan “keimanan” bahasa untuk proyek pembaruan tapi bukan pembatuan atas nama politik. Ekspresi kultural melalui bahasa mengantarkan pada kesadaran eksistensial dan keberanian memberi kritik atas teror negara.

Nasib bahasa Indonesia jelas tidak sama dengan nasib bahasa Rusia. Peran pengarang Rusia memang telah mendapati ujian zaman untuk bisa mendapati pengakuan dunia sebagai jalan masuk membaca dan menilai zaman. Peran itu belum tampak dalam progresivitas sastra di Indonesia karena masih terjadi kerepotan dalam produksi bahasa dan pemahaman atas peran bahasa Indonesia dalam “rezim bahasa global.” Pemahaman belum tamat atas bahasa Indonesia lekas digoda dengan candu atas bahasa-bahasa asing untuk pamor atau mengurusi ekonomi dan politik. Bahasa Indonesia pun terkapar di rumah sendiri dengan perawatan kuno karena tak sanggup membuka pintu rumah. Bahasa Indonesia bisa masuk angin. Begitu.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Tidak ada komentar:

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir